10 Tip Menghemat Uang Belanja

Gaji suami yang kupegang sebetulnya 1 juta. Separuhnya buat ART paruh waktu. Teorinya 500 ribu peganganku itu buat belanja bulanan selain popok dan susu, sembako, lauk-pauk dan gas. Prakteknya nggak bisa kaku gitu. Rafi harus ke dokter atau beli obat penurun panas ya kuambilkan dari peganganku. Urunan buat masjid juga dari uang yang kupegang. Begitupun masih bisa ikut arisan 20 ribu seminggu.

Aku tahu banyak IRT yang kerja otaknya harus lebih keras dariku. Mbak Dama harus mutar jumlah yang sama buat makan 3 orang. Aku? Yang harus kukasih makan cuma mulutku. Kecuali hari Minggu. Ketambahan suami kadang plus ponakan. Rafi masih sangat sedikit makannya. Tapi mengingat gadisku dulu biasa pegang 2-4 jutaan sebulan, makan ikut orang tua, bisa mencukupkan 500 ribu kucatat sebagai salah satu prestasi keuanganku.

Empat-lima bulan pertama dompetku kosong seminggu kadang 2 minggu sebelum suami gajian. Terpaksa hutang ke toko kelontong tetangga untuk kebutuhan dapur. Pelan-pelan aku belajar. Ternyata ada ilmunya. Sebagian yang kutulis di sini mungkin pengetahuan umum. Ada beberapa yang kalau nggak ngalami sendiri aku juga pasti mbatin, “Masa sih?”

Sampai beberapa bulan lalu, tujuanku menyegerakan lunasnya hutang yang harus kami cicil 750 ribu per bulan adalah demi menambah anggaran belanja. Tapi sekarang, saat 750 ribu itu sudah di tangan, 5 bulan lebih cepat, aku nggak minta uang belanjaku yang 500 ribu itu dinaikkan. Yakin aja cukup.

Aku sendiri takjub..

Langsung aja. Kumulai dari yang sepertinya belum jadi pengetahuan umum.

Cara#10: Bangun Kehidupan Kreatif

Ada yang sangat membebaskan dalam membuat dan mencipta yang nggak akan kita dapatkan dari membeli. Proses kreatif membuat pikiran dan tangan kita sangat sibuk sampai-sampai bisa menghilangkan keinginan beli-beli, njajan, makan di luar dan jalan-jalan. Kehidupan kreatif kubangun di sekitar kebutuhan rumah tangga. Contoh: bikin bungkus dan hiasan kado dari kertas sampah-sisa, masak enak modal apa yang ada di kulkas, madu-madankan baju dan perabotan.

Sejak aku bisa mengintegrasikan kerja rumah tanggaku, feedku di Instagram dan postingan blog ini dalam satu tema yang solid, di pikiranku nggak ada ruang kosong buat mikir dompet yang isinya sisa lembaran dua ribuan atau smartphone yang dah bejat atau kulkas yang kosong-melompong. Setrika sambil bawa buku catatan. Nyatat ide sambil nunggu setrika panas.

Nggak harus bisa nulis dan punya blog. Juga nggak harus kerajinan tangan. Tapi sepertinya memang harus membuat dan mencipta sesuatu yang menjawab kebutuhan atau memecahkan masalah. Bisa dijual misalnya. Bukan cuma sekedar penyaluran hobi.

Kelihatannya kehidupan kreatif ini yang bisa membuat hidup dengan anggaran mepet bisa jadi ketrampilan, bukan keterpaksaan.

Cara#9: Buat Sentra Penyimpanan Barang Nganggur

Kalau belum pernah melakukan yang namanya declutter, harus coba. Jangan membayangkan proses yang ruwet. Saat lagi setrika, baju-baju yang kekecilan atau nggak mantesi jangan dimasukkan lemari. Lebih bagus kalau mau menganggarkan waktu khusus. Keluarkan semua isi lemari. Yang lebih dari 1-2 tahun nggak terpakai, pisahkan. Lakukan hal yang sama ke rak piring, rak buku; semua tempat penyimpanan harta benda.

Ini yang kulakukan: semua barang yang bisa kusisihkan kutata di satu ruangan. Kupastikan semua terlihat mata. Nggak kusimpan di kardus atau wadah tertutup. Sembari menata kusortir antara:

  1. yang kusedekahkan,
  2. yang cukup bagus untuk dijual atau jadi hadiah.

Golongan kedua ini biasanya barang baru atau bagus tapi nggak kupakai. Contoh: baju yang bikin gendutku menculek-culek mata. Aku bisa dapat 100-150 ribu dari menjual barang-barang ini di Shopee. Kalau ada saudara datang, kucarikan sesuatu dari ruangan ini yang bisa kubawakan buat oleh-oleh. Barang baru/bagus yang nggak kupakai nggak kueman-eman.

Sentra penyimpanan membantuku menguangkan barang nganggur sekaligus menekan biaya oleh-oleh dan buah tangan.

Cara#8: Tata Rumah Jadi Sanctuary

Yang kuusahakan dengan cara-cara berhematku adalah gimana supaya nggak terasa terlalu berat. Makan dengan nasi dan abon setiap hari memang hemat, tapi berat. Begitu juga dengan menghilangkan anggaran rekreasi ketika 24/7 harus kita habiskan di rumah yang sempit dan gelap. Lakukan apa yang perlu dan bisa kita lakukan demi ruang hidup yang menyenangkan.

Nggak usah mikir ganti cat atau perabotan. Coba lakukan hal sederhana ini: mengedit rumah. Kurangi perabotan. Aku sudah melakukannya di 3 rumah dan efeknya luar biasa. Hanya dengan ngurangi perabotan dan menata ulang yang tersisa. Dapurku jadi lapang, mbetahkan, begitu rak piringnya kusingkirkan.

Teruskan dengan mengurangi barang di permukaan. Entah itu lantai, meja atau rak. Makin sedikit makin bagus.

Setelah itu coba harmoniskan warna kain sprei, taplak, korden, sarung bantal sofa. Nggak harus sama, serasikan. Lebih bagus lagi kalau bisa serasi dengan warna tembok dan lantai.

Terakhir, masukkan tanaman. Sirih-sirihan gampang sekali membiakkannya. Tahan banting juga. Kalau nggak suka repotnya melihara tanaman hidup, petik aja daun-daunan di sekitar rumah. Ranting kering bagus juga buat pajangan.

Sebisa mungkin bikin rumah sedap di mata. Dengan begitu menghabiskan seluruh waktu kita di rumah, puasa rekreasi, nggak terasa berat.

Cara#7: Berhenti Nonton Tivi

Aku bersaksi ini sangat membantu. Aku nggak tahu dengan tivi kabel yang bebas iklan. Yang jelas semua saluran tivi yang bisa kita tonton gratisan punya “harga”, ada biayanya.

Acara jalan-jalan dan acara makan-makan di tivi bikin aku stres. Bukan karena bikin aku pingin tapi karena aku khawatir Rafi jadi kuper gara-gara mamanya nggak punya anggaran traveling dan wisata kuliner. Kalau nggak kuat, tahu pasti tujuanku berhemat, bisa-bisa kuabaikan tujuan jangka panjangku (memastikan kami punya cukup dana –bukan uang hutang— untuk pendidikan tinggi Rafi) demi tujuan-tujuan jangka pendek seperti mengajak Rafi jalan-jalan dan makan di luar setiap minggu yang sama sekali nggak menjamin bikin Rafi tumbuh jadi pribadi berwawasan luas.

Makin banyak iklannya, makin sulit menetapkan standar kita sendiri akan cukup. Terasa kurang aja. Tiap 15 menit dikasih tahu ada smartphone yang lebih pintar. Nggak mungkin nggak mbandingkan dengan yang ada di tangan. Menabung buat dana darurat turun prioritas karena merasa smartphone baru lebih darurat.

Belum iklan “uang kecil”; iklan barang-barang konsumen nggak penting yang bisa dibeli di minimarket dengan uang 10-20 ribu. Aku bukan penggemar es krim. Nggak tahan juga nggak beli setelah lihat iklan Magnum. Malam-malam lihat iklan bakmi mewah. Noleh ke suami, “Beli, Mas.”

Bukan uangnya yang jadi soal, tapi kecenderungan tivi melatih kita membuat kuputusan berdasar impulse.

Anggaran mepet –gaya hidup hemat secara keseluruhan sih— nggak mengakomodasi mode pengambilan keputusan yang seperti itu. Semua keputusan membelanjakan uang, sekecil apapun itu, harus berdasar perhitungan, demi mencapai tujuan keuangan yang kita pikir masak-masak. Bukan demi nuruti pingin apalagi yang dadakan.

Cara#6: Optimalkan Uang Receh

Postingan 2000-an kata tentang ini bisa dilihat di sini. Ringkasnya, ada 3 hal yang bisa kita lakukan untuk memastikan uang receh ikut bantu-bantu mencukupkan uang belanja yang mepet. Mulai dengan mengumpulkan koin 500 dan 1000-an di dompet khusus koin (kalau banyak), bawa kemana kita pergi. Kedua, selalu siapkan beberapa keping pecahan 100 dan 200-an di dompet. Ketiga, sebisa mungkin memasukkan uang receh saat membayar. Misal: yang harus kita bayar 47.500, serahkan pecahan 50 ribu dan 2.500. Kalau bisa nggenapkan recehnya sampai 7.500 supaya kembalian genap 10 ribu malah lebih bagus. Percayalah, yang nyusuk’i juga lebih senang.

Kalau itu terasa sangat merepotkan, kumpulkan saja koin sampai jumlahnya cukup banyak. Standarku 10-20 ribu. Lalu habiskan dalam sehari. Buat bayar parkir dan tol misalnya. Yang IRT sepertiku bisa bawa itu semua koin ke tukang sayur langganan. Pakai untuk membayar belanjaan. Penjual eceran senang dibayar dengan uang receh.

Cara#5: Bikin Camilan Sendiri

Meski anggaran makan harus ditekan habis-habisan, selama dapur kita rajin menghasilkan camilan dan minuman, hidup nggak berasa digencet. Ini ketrampilan yang sangat berharga. Makin bagus kita di departemen ini, makin leluasa juga kita memangkas biaya di sana-sini tanpa bikin sekeluarga merasa sengsara. Ketersediaan camilan bikin rumah tangga berasa makmur meski menu makan sehari-hari mutar di tempe-tahu-telur-pindang-sayap ayam-rempelo ati.

Yang kumaksud dengan makin bagus di sini bukan makin jago baking atau makin banyak perbendaharaan resep camilan.

Kuncinya ada di peka dan rajin. Peka sama camilan-minuman favorit keluarga lantas rajin bikinnya.

Tiap kali (=tiap hari) ponakan datang ke rumah kontrakan semasa masih di Surabaya, kubuatkan Milo atau teh hangat, kusajikan dengan 3-4 potong biskuit. Suamiku senang sekali tomat. Tomat digerus dengan uleg-uleg di mangkok, ditambah gula, dikasih air lalu dibiarkan dingin di kulkas sudah jadi minuman istimewa saat pulang kerja. Ketrampilan kubangun di camilan-minuman yang bisa kubikin dengan rajin karena murah dan cepat, bukan di yang menunjukkan betapa hebatnya aku di dapur.

Cara#4: Eat Through Your Fridge

Selain kebiasaan-kebiasaan berkenaan dengan makan yang akan kurinci setelah ini, ada satu cara berkenaan dengan masak yang membuat masak sendiri punya andil utama dalam ketrampilan berhemat. Harus kutegaskan bahwa cara ini hanya bisa diterapkan di keluarga yang makannya nggak rewel. Jadi saranku latih anak untuk makan apa yang ada di meja sedini mungkin. Baiknya juga jadi pertimbangan saat memilih suami.

Kalau selama ini masak berdasar keinginan hati atau pesanan suami/anak, coba masak berdasar bahan yang tersedia di kulkas. Bukannya nggak boleh belanja. Satu-dua kali seminggu aku masih harus beli bahan di warung mracang Mbak Ari. Tapi setiap kali belanja, selalu menginventaris isi kulkas dulu, melihat apa yang bisa kuhasilkan dari bahan yang ada. Belanja hanya untuk membeli bahan pelengkap. Contoh: di kulkas ada santan kara, bumbu pecel, telur, sop-sopan dan timun. Bisa buat Kare Telur-Tahu, Cap Jay, Bakwan, Telur Dadar dan Pecel Timun. Tinggal belanja tahu dan bumbu Machmudah buat kare; kembang kol, sawi dan rempelo ati buat Cap Jay; mungkin tepung terigu dan tepung beras buat bakwan. Itu sudah cukup buat makan dan camilanku 3-4 hari.

Cara ini juga memastikan bahan masakan pemberian saudara atau Mbak Dama bantu-bantu ngurangi uang belanja. Setiap kali datang ke rumahku sepupuku Mbak Titik pasti bawa bahan mentah yang bikin kulkas penuh. Mbak Dama punya kebun sayur kecil-kecilan di depan rumahnya. Aku ikut ngerasakan panen terong, kacang panjang dan buncis.

Selalu habiskan isi kulkas, jangan ada yang terbuang.

Cara#3: Masak Sendiri

Ini poin yang paling andil mencukupkan anggaran belanja yang mepet.

Jangan salah, nggak semua masak sendiri otomatis sama dengan menghemat.

Mereka yang:

  • tiap makan lauk dan sayurnya harus ganti,
  • nggak mau makan masakan kemarin,
  • menganggap yang selain daging-dagingan dan ikan-ikanan bukan lauk,
  • suka bereksperimen coba-coba berbagai resep masakan,
  • suka masak besar buat dibagi-bagi atau jamuan makan,
  • kalau masak harus dalam jumlah banyak,
  • harus makan yang sedang diinginkannya saat itu,
  • nggak suka masakan rumahan,

harus membalik kebiasaan dan kecenderungannya itu sebelum bisa berhemat besar dengan masak sendiri.

Juga nggak harus jagoan masak. Pengalaman mengajarkanku bahwa enak itu sesungguhnya preferensi individu terhadap bahan makanan dan tipe bumbu tertentu; sangat subyektif. Suamiku suka sekali daging, kecap dan gurihnya saus tiram. Masakan apapun, selama ada tiga itu atau salah satunya, di lidahnya jatuhnya enak aja. Aku juga nggak berharap dia suka masakanku kalau itu biasa dimasak ibunya. Yang jadi patokannya yang duluan kena lidahnya. Jadi berhentilah aku masak masakan Jawa dan sambel-sambelan. Nggak akan pernah bisa pas.

Cara#2: Berhenti Belanja Bulanan

Ini cara yang bisa membuatku berhenti ngutang di toko kelontong tetangga. Belanja bulanan kuganti dengan membeli hanya kalau persediaan habis, sebanyak yang kubutuhkan atau secukup uang yang ada di tangan, bukan buat sebulan. Belinya di toko kelontong dekat rumah meski dengan selisih harga 500 atau 1000 rupiah per item. Cara ini memastikan di dompetku selalu ada uang. Kalau belanjanya sebulan sekali, uang di tangan langsung berkurang banyak. Minyak goreng pasti ambil yang dua literan karena jatuhnya lebih murah dari yang seliter. Kecap ambil yang kantong besar padahal belum tentu seminggu sekali masak yang butuh kecap. Hasilnya: di minggu ketiga punya persediaan minyak goreng dan kecap tapi nggak punya 20 ribu buat beli gas.

Dan berhenti belanja di minimarket atau supermarket. Dua tempat itu paling bisa membuyarkan tekad ibu-ibu. Berangkat niatnya beli sabun dan odol masing-masing satu. Pulangnya bawa sabun yang lagi promosi ‘beli dua gratis satu’, saos sambal, saos tomat, tepung bakwan, odol, biskuit dan sebotol besar Coke demi nggenapkan belanjaan jadi 40 ribu demi nebus minyak goreng 2 liter dengan harga 19 ribu. Kalau kita lihat dari harga normal memang lebih murah, tapi yang lebih murah itu nggak lantas pasti menguntungkan pembeli.

Yang menguntungkan kita sesungguhnya yang bisa mempertahankan uang tetap di dompet.

Cara#1: Menurunkan Standar

Aku sempat akrab dengan istri pemilik merk air mineral kompetitor Aqua. Dari kedekatan kami aku belajar bahwa ternyata merk-merk nggak dikenal (karena iklannya nggak habis-habisan terutama di tivi) bisa matok harga jual yang lebih rendah dengan standar mutu yang persis sama. Biaya iklan yang dibebankan ke kita bisa sampai 30% dari harga yang kita bayar.

Jadi menurunkan standar nggak serta-merta berarti menurunkan mutu.

Yang pertama kulakukan adalah pindah ke merk-merk yang iklannya nggak habis-habisan. Kurasa bukan rahasia kalau produk-produk Wings adalah produk pesaing merk-merk yang mendominasi pasar. Perusahaan itu menghasilkan produk yang mutunya sama dengan harga lebih rendah.

Yang kedua adalah mencari produk usaha kecil/rumahan. Kalau mau trial & error, bisa nemu produk unggulan yang jauh lebih baik dari buatan pabrik. Aku lebih suka belanja di toko kue kering nggak bermerk yang dijual per ons itu. Nemu biskuit andalan yang –paling nggak di lidahku— jauh lebih mantap dibanding Oreo. Berpuluh tahun makan dengan beras cap Raja Tawon. Di Surabaya nggak nemu beras yang lebih murah tapi sama enaknya. Di Pacet ada. Merk nggak dikenal, nggak dijual di Indomaret atau Alfamart. Per 5 kg bisa selisih 15 ribu dengan Raja Tawon.

Yang ketiga adalah mengganti jenis atau kemasannya. Teh daun lebih murah dibanding teh celup. Sabun batangan lebih murah dibanding sabun cair. Deterjen bubuk lebih murah dibanding deterjen cair. Susu dalam kotak kertas lebih murah dibanding yang dikemas dalam kaleng. Produk yang dikemas dalam sachet jatuhnya lebih murah dibanding yang dikemas dalam botol atau kantong kiloan (kurasa karena makainya secara nggak langsung dijatah).

Yang keempat adalah menghilangkan kebutuhan akan produk non-esensial. Namanya juga non-esensial, nggak ada pun nggak apa. Misal: tanpa kondisioner kita tetap bisa keramas selama shamponya ada. Contoh lain: cairan pelembut dan pewangi pakaian, cairan pelicin setrikaan dan krimer. Atau yang bisa digantikan oleh produk primer. Seperti sabun cuci piring. Bisa digantikan deterjen atau sabun colek.

image

Aku yakin banyak perempuan yang ingin berhenti kerja tapi mikir 7 kali karena takut penghasilan suami nggak cukup. Menggantungkan hidup keluarga ke satu penghasilan memang bikin gamang. Kalau bukan karena terpaksa mungkin nggak akan kulakukan. Sama gamangnya dengan saat kita ingin berhenti kerja demi merintis usaha. Penghasilan pasti berkurang tanpa jaminan bisa balik ke angka yang kita lepaskan itu tadi. Aku sendiri, meski hampir tiap bulan ada uang masuk dari berbagai pintu, jumlahnya tetap Belanda masih jauh dari penghasilanku sewaktu masih kerja dengan kekuatan 1000 tenaga kuda. Maksudku sebelum berumah tangga.

Kalau bisa konsisten melakukan cara-cara yang kutulis di atas, jangan takut sengsara atau nggak bisa makan meski uang di tangan berkurang lebih dari separuhnya.

Yang punya cara lain yang aku nggak tahu tolong tulis di comment. Mungkin bisa kucoba. Atau yang ingin tahu kenapa aku mempekerjakan ART padahal anak baru satu, boleh juga tulis di comment.

Semoga bermanfaat.

 

18 thoughts on “10 Tip Menghemat Uang Belanja

  1. Dari awal membaca aku memang paling penasaran adalah kenapa mba mempekerjakan ART? Hehehe
    Terima kasih mba..

    1. Yang heran pasti banyak, Endah. Kadang terlintas juga buat mberhentikan Mbak Dama supaya gajinya bisa buat yang lain. Tapi aku tahu kemampuan fisikku. Tanpa Mbak Dama, waktu dan tenagaku habis buat momong Rafi. Nggak ada tenaga buat masak dan cuci-setrika. Akhirnya gaji Mbak Dama habis juga buat makan di luar dan biaya laundry kiloan. Seperti waktu aku masih kerja dulu.

      Belum stresnya. Aku stres hebat lihat rumah kotor dan berantakan. Kebutuhanku akan rapi sepertinya sudah masuk level kelainan. Nah, kalau dah stres, sebulan paling nggak sekali harus ke dokter. Adaaa aja. Seperti waktu aku masih kerja dulu.

      Jadi kalau dipikir-pikir, penghasilanku semasa masih kerja (dan dah nikah) dulu habis buat makan di luar, laundry kiloan sama dokter+obat.

      Makasih ya dah mampir dan komen. Selalu kutunggu feedback dari siapapun itu. Bobot content sebuah blog sangat ditentukan oleh feedback yang diterimanya.

    1. Kalau terasa seperti harus mbobol tembok, mending cari jalan mutar, Mi. Memang butuh waktu lebih lama tapi nggak menguras energi. Gaya hidup hemat baiknya diperlakukan sebagai lari marathon, bukan lari 100 m. Harus pintar-pintar menghemat tenaga biar sanggup lari lama.

      Aku sering judeg pingin ngamuk lihat suami yang nggak pernah bisa nabung dari uang yang dipegangnya. Berapapun pasti habis buat kebutuhan hariannya. Dapat uang agak banyak dikit seperti bonus gitu yang dipikir, “Dibelikan apa ya enaknya?” Menabung nggak pernah terlintas di kepalanya.

      Ngamuk atau ngasih kuliah harian cuma bikin capek. Jadi dengan uang belanjaku itu aku nabung. Kupastikan dia tahu. Soal ikhtiarku ini bisa merubah dia apa nggak kuserahkan ke Allah. Kalau toh nggak merubah apapun paling nggak aku jadi punya tabungan. Siapa tahu bisa jadi e-book “Cara Menabung Dari Uang Belanja 500 Ribu”, kujual 10 ribuan dan dibeli penduduk sak-Indonesia dan sekitarnya!

      Nggak dapat suami pandai menabung diganti kaya-raya dari nulis e-book tentang berhemat.

      Aamiin, aamiin, aamiin..

  2. Baru sempat mampir blok nya mb…tips nya membantu sekali bagi IRT tulen tapi mgkn kedepannya agak lebih sepesifik lagi…misal nya belanja 100 rb utk makan 1 minggu kira2 dapat lauk dan sayur serta cemilan apa aja..klo di masak jadi masakan apa aja..klo perlu skalian daftar msakan nya hehehe.utk diriku lagi mencoba menerapkn konsep ini tp blm berhasil cs masih tergoda yg gk perlu perlu…seharusy bisa.tp mkn ini cocok utk yg gk ada anak kecil nya.

    1. Masukan seperti ini yang kutunggu-tunggu, Mbak Endang.

      Ini Mbak Endangkayys di Instagram bukan?

      Meski nggak langsung kubalas di sini, masukan Mbak Endang kucatat secara khusus. Kuputuskan untuk bikin project #dapur500k. Jadi tiap hari selama 25 Nop-25 Des akan ku-posting apa yang kumasak dan kumakan setiap hari di Instagram. Termasuk cara-cara baru dan lama yang kupakai yang bisa memangkas waktu dan biaya masak. Aku dapat banyak tip dari funcheaporfree.com yang pingin kupraktekkan. Setelah genap sebulan akan kubuat laporannya untuk blog.

      Project ini lebih untuk meningkatkan skill masakku sih, Mbak Endang, tapi bisa ngasih gambaran menu apa yang bisa kudapat dengan uang belanja 500k.

      Makasih ya, Mbak Endang. Kutunggu masukan lainnya..

  3. Aku termasuk yg suka ngabisin isi kulkas baru belanja,Mbak. Tp soal belanja bulanan masih aja. Kayanya beberapa tips mau dicoba nih.

    Oya, soal berhenti kerja kalo boleh tau kenapa ya mbak? Soalnya kalo ga salah,bilangnya terpaksa. Dijawab kalo memang ga ganggu privacy aja mbak 😉

    Saya baru tau blognya dan saya baca satu per satu nih. Mungkin udah ada postingan ttg itu tp sayanya blom nyampe hehee…

    Keep sharing, Mbak.
    I love it!

    1. Aku ini kan freelance, Alma. Aku dapat murid atau nggak, dicari orang atau nggak, sangat tergantung sama hasil kerjaku. Betul-betul harus bisa men-deliver result. Butuh fokus penuh kalau nggak mau dikomplain orang. Kelas-kelas yang kuambil tingkat kesulitannya tinggi: TOEFL prep, in-company training dan Bahasa Inggris untuk kebutuhan khusus. Masih ambil murid anak sekolah tapi cuma 1-2 orang. Akibatnya jam kerjaku panjang dan wilayah operasiku luas, harus keliling. Butuh stamina. Gadis dulu bisa bangun tidur langsung berangkat, pulang langsung tidur, setiap hari. Setelah bersuami kan nggak bisa seperti itu. Aku nggak bisa disuruh multitasking dan paling takut dikomplain.

    1. Aku pun masih belajar. Blog ini bisa dibilang berfungsi sebagai katalis; mempercepat proses belajarnya. Selama niat kita untuk kebaikan rumah tangga kita: Kita pasti bisa!

      Makasih ya dah mampir..

  4. jatuh cinta sama blognya mba rinda. salam kenal mbak 🙂
    Saya ibu satu anak yg lagi pengen tobat dr kebiasaan makan di luar.

    1. Makasih, Mbak Rosa, karena ada juga yang muntah-muntah baca blogku. Sepuluh tahun lalu aku pun nggak akan percaya bakal nulis apa yang kutulis di sini. Sebetulnya aku bukan tipe sharer; lebih suka nyimpan masalahku sendiri. Tapi ketika segala sesuatunya menjadi sangat berat ditanggung sendiri, menulis sangat membantu menjernihkan pikiran. Apalagi kalau yang kita tulis bisa jadi manfaat buat orang lain. Wah, penyejuk jiwa..

  5. Aku beberapa kali buka blog ini, balik lagi kesini, balik lagi kesini, balik lagi kesini, tapi baru kali ini ninggalin jejak. Hehe
    Tips-tipsnya bermanfaat, Mbak. Keep sharing ya 🙂
    Aku bulan ini sudah membuktikan kalau belanja di toko lokal pakai produk standar menghemat banyak anggaran belanja. Frekuensi belanja kebutuhan dapur kubagi per 15 hari, tiap belanja max 300rb. Awalnya aku kira bakalan kurang. Tapi ternyata nggak. Karena belinya dlm jumlah kecil sesuai kebutuhan.
    Oh iya Mbak, aku tunggu lho e-book nya.😁

    1. Hebat! Salut! Aku ikut senang dengarnya meski itu bukan uangku, Mbak Zulaeha 🙂 Kabar-kabar seperti ini yang kutunggu-tunggu. Termasuk komen-komen yang nunjukkan kelemahan. Atau yang minta contoh konkret atau penjelasan lebih dalam. Aku jadi tahu seberapa praktis, seberapa applicable dan seberapa efektif tip dan solusi yang kubagi di sini bagi rumah tangga orang lain. Sumber semangatku belajar, menguji-coba dan nge-share ya dari situ (mengingat blog ini secara langsung nggak langsung belum bisa kujadikan uang). Follower segitu-segitu aja nggak nambah-nambah. Traffic-nya kadang bisa 100 views sehari, kadang 10 nggak nyampe. Jadi komen-komen seperti ini sungguhan memompa semangat dan membesarkan hatiku.

      Makasiiih ya, Mbak Zulaeha!

    1. Cobalah untuk jeli, Tika.

      Semua rumah-tangga dan IRT punya “senjata rahasianya” sendiri-sendiri. Maksudku gini, kita semua punya kesempatan ngembangkan cara kita sendiri, yang sangat efektif-efisien di rumah-tangga kita.

      Cobalah nengok ke “dalam”, ke dalam rumah-tanggamu sendiri, ke dalam dirimu sendiri. Amati caramu menjalankan rumah tanggamu. Pilih satu yang bisa kamu kembangkan.

      Ngamatinya jangan dengan membandingkan diri dengan IRT yang kamu pandang lebih darimu. Bandingkan dengan dirimu di awal nikah atau semasa gadis. Lantas bandingkan dengan IRT di sekitarmu: ibu, adik, ipar, tetangga.

      Buat daftarmu sendiri, Tika. Bukan untuk saingan denganku tapi untuk mengembangkan kemampuanmu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s