Bungkus Kado Dari Kalender: Tutorial

Aku suka ngasih hadiah. Juga suka bikin orang merasa istimewa. Tetap dengan prinsip rendah biaya. Kesimpulanku, untuk urusan kado/buah tangan/oleh-oleh/suvenir pada intinya kita punya tiga pilihan:

  1. Ngasih barang mahal dikemas mahal
  2. Ngasih barang murah dikemas unik-kreatif (bisa jadi lebih mahal timbang harga barangnya)
  3. Ngasih barang murah dikemas murah

Atau:

Sekalian ngasih barang yang nggak bisa ditandingi orang seperti pejabat yang kapan hari masuk berita karena mantu. Bukan hajatan mantunya yang jadi berita tapi suvenirnya: iPod.

Pilihanku pastinya No.2 walau dalam situasi tertentu lebih baik ambil pilihan No.3. Andalanku adalah bikin kemasan unik-kreatif sendiri. Itu makan waktu. Harus mikir dan cari ide buat desainnya. Semua kugarap tangan yang cuma dua. Bikin jari-jari kram, punggung melengkung. Makan 2 hari bikin bungkus kado dari kertas nasi bungkus. Dapat cuma 9. Nggak kebayang akibatnya di jari dan punggung kalau harus nyiapkan ratusan.

Pulang umroh kemarin bikin 4 desain bungkus untuk ngemas oleh-oleh (beli di Pasar Gresik dan Pasar Kapasan). Empat karena beda barang, beda ukuran juga. Seperti kerudung segiempat dan pouch yang nggak muat dalam kardus susu SGM yang kulapisi kertas nasi bungkus. Kebetulan ada stok amplop yang kubuat dari kalender bekas.

Tip#1: Jangan buang kalender dinding dari bahan kertas tebal. Langsung jadikan amplop tanpa nunggu butuh. Taruh permukaan yang polos di sebelah luar. Bisa nggantikan amplop coklat berukuran besar.

Tinggal cari cara memaniskan amplop putih polosan tadi. Kuputuskan untuk pakai gift tag. Cara paling gampang bikin bungkus dari kertas polosan tampil istimewa. Jadinya seperti ini.

image

Rasanya nggak perlu ngomong banyak soal cara bikin amplopnya. Bisa pakai cara masing-masing. Mungkin yang harus kutuliskan di sini bahan-bahannya supaya nggak ada yang ragu kalau ini betulan murah.

Sampah Yang Jadi Bahan

image

  1. Amplop ukuran folio (kubuat dari kalender dinding berbahan kertas tebal)
  2. Kertas bermotif (kupakai kertas alas lemarinya ponakan)
  3. Kertas cantik berbahan tebal (kupakai kartu hias dari undangan mantenanku)
  4. Dua macam kembang (satu kubuat dari amplop angpao cacat produksi, satu dari selendang dan kain jaring ibuku, satu lagi dari hiasan kerudung yang seumur-umurnya yang >10 tahun cuma sekali kupakai)
  5. Pita (kupretheli dari parcel Lebaran 2016)
  6. Tali bangunan (yang ini aku beli)
  7. Ranting kering (kupilih yang bertangkai banyak)

Cara bikinnya kupasrahkan ke foto aja karena bukan bungkusnya yang ingin kuangkat.

 

Tip#2: Selama tidak harus melekat kuat, lebih baik gunakan selotip bolak-balik daripada lem. Hasilnya lebih rapi, pengerjaannya lebih cepat.

Yang ingin kuangkat di pos ini adalah konsep gift tag. Tahu kan tag yang nempel di barang toko? Jokonya suamiku dulu tag barang baru yang dia beli atau dikasih orang dia koleksi. Info nggak relevan tapi menarik. Sama aja, gift tag juga potongan kertas yang diikatkan tapi diikatkan (atau disematkan dengan penjepit jemuran dari kayu atau penjepit kertas) ke kado. Fungsinya mempermanis kado sekaligus ndongkrak mood si penerima dengan tulisan seperti “Hello” atau “With my whole heart”. Yang agak jengah dengan dikit-dikit Bahasa Inggris mungkin bisa pakai “Emak Hebat”. Kalau kesulitan mbayangkannya, langsung aja ke Thurston Post, akun toko Etsy di Instagram spesialis gift tag.

Langsung jatuh hati dengan konsep gift tag ini karena efek istimewanya dramatis. Di mataku justru lebih bagus dipasangkan dengan kertas polosan daripada dengan kertas kado. Susah cari kertas kado yang sesuai seleraku. Ke mana harus cari kertas kado polkadot atau garis-garis? Mataku lebih ridha sama kertas minyak dan kertas sampul buku anak SD itu. Jadi segala ide yang bikin kertas polosan jadi layak kado langsung kusahut. Ini percobaan pertamaku bikin gift tag.

image

Hasilnya lumayan buat percobaan pertama. Tapi coba kupecah prinsip-prinsip estetika gift tag yang dibuat Rebecca, yang punya Thurston Post. Pingin bikin lagi, yang lebih bagus.

View this post on Instagram

Hope your weekend is nothing short of epic! xo

A post shared by Rebecca Luminarias (@thurston_post) on

Terdiri dari dua bagian besar: rangka dan pernik. Rangkanya dibuat dari 4 benda beda bahan/tekstur/bentuk/motif yang ditempel tumpuk. Di sini dia pakai kertas wadah cupcake+kartu polkadot+doily+kain brokat. Perniknya yang banyak. Juga beda bahan/tekstur/bentuk. Di sini ada 9! Dua macam gambar kembang, tangkai berdaun, pita emas, kertas label, cut-out hati, cut-out kata “epic”, pita dari benang dan jepitan jemuran yang dikasih glitter. Banyaknya..

Kucobanya. Modal kertas sampah-sisa di Bank Kertasku.

Beberapa minggu kemudian..

image

Belum bisa semanis garapan Rebecca. Nggak apa. Aku dah senang. Ada peningkatan dibanding gift tag percobaan pertama. Semua kuambil dari koleksi sampahku. Yang beli cuma lem dan tali bangunan. Kertas berulir yang paling bawah itu lapisan dalam kertas kardus. Dapatnya nggak sengaja. Sisa-sisa kardus waktu boyongan ke Pacet setahun lalu kutaruh di garasi yang terbuka. Pacet ini lembabnya luar biasa di musim hujan. Saking lembabnya, kardus-kardus tadi ngelupas!

Tip#3: Simpan semua kertas dan kain yang bertekstur darimana pun sumbernya.

Meski nggak teryakinkan aku akan berasumsi ada yang pingin tahu bahan dan cara bikinnya.

image

Senang aja lihat segala yang asimetris. Di mataku lebih menarik timbang penataan yang centered. Nggak tahu dapat ide darimana, setelah jadi, ingat punya sisa cat warna tembaga. Pakai kuas cat tembok kupoleskan ke sisi kosong di samping doily. Nggak suka dengan hasilnya. Untuk media kertas pakai aja cat air atau mungkin cat poster. Jangan cat tembok, jangan pakai kuas cat tembok juga.

Sampailah kita di pertanyaan penting: terus ini buat apa?

Hari Minggu kemarin sepupu datang ke rumah. Nggak sengaja lihat hasil kerjaku bikin tag dan gift tag. Sama seperti semua orang lain yang lihat kerajinan sampahku, ngajukan pertanyaan “Buat apa?”. Kujawab jujur, aku nggak tahu. Sejak berhenti kerja hampir 3 tahun ini, begitu dapat ide yang nggak bisa dijadwal datangnya itu, tanganku langsung kerja. Nggak nunggu butuh. Jadi nggak tahu buat apa.

Dah lama terpikir untuk mulai menjual kerajinan sampahku. Kalau belum kelakon juga sampai sekarang itu karena kendalanya terlalu banyak. Pertama: dijual gitu aja nggak akan laku. Demand untuk hiasan kado nggak tinggi di masyarakat kita. Harus kujual dalam paket siap pakai, dengan kertas kado/paper bag/amplopnya sekalian, bukan cuma hiasannya. Kendala yang mengantarkanku ke kendala kedua: orang kita nggak akan beli bungkus kado plus hiasannya dalam hitungan jari. Pasarnya kan suvenir ultah, mantenan dan hajatan lain yang butuh dalam jumlah besar. Nggak bisa dipenuhi sama kerajinan sampahku yang modal garapan tangan. Ini produk yang masuk dalam kategori Labor of Love: yang cari nggak banyak, harganya murah, padahal produksinya sulit dan makan waktu.

Kecuali..

Kalau aku bisa menghasilkan produk signature, yang sangat khas, nggak pasaran, yang sangat mempermudah urusan mengemas kado dan suvenir (dalam jumlah kecil seperti suvenir ultah anak).

image

Ini amplop yang isinya beberapa keping CD. Tinggal masukkan gitu aja, gulung ujungnya, ikat amplop dengan tali bangunan, gift tag cukup diselipkan di tali.

Gimana?

Aku betul-betul butuh masukan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s