Bermedsos Demi Mengangkat Derajat: Proposal Untuk IRT

Sejak berhenti kerja, bisa kurasakan perbedaan ekspektasi, perbedaan perlakuan rata-rata orang, ke perempuan yang keluar rumah cari uang dengan yang di rumah saja. Aku sering dengar Biar dia aja. Dia yang nggak ngapa-ngapain untuk merujuk seorang IRT. Apalagi IRT sepertiku yang mempekerjakan ART padahal anak baru satu. Nggak ada harganya dibanding perempuan dua anak yang bekerja, nggak punya ART pula.

Semasa ngajar belum tentu sebulan sekali kutengok akun Facebook. Belum tentu dua tahun sekali update status meski bisa sekali menghasilkan feed mainstream. Masa itu keluar-masuk kampus, hotel dan perusahaan; ketemu banyak orang asing dan orang penting. Anehnya kebutuhannya nggak ada. Blast. Pengakuan dan perasaan berharga puas kudapat dari bekerja. Setelah jadi IRT baru tolah-toleh. Dari nggak tertarik berbalik jadi butuh.

Tujuan awal aktif ber-Facebook adalah woro-woro ke 500-an orang Friend kalau aku punya blog. Cari pembaca. Lalu pelan tapi pasti, hidupku yang nilainya terasa terus merosot sejak berhenti kerja diambil-alih Facebook. Seharian cuma men-scroll News Feed sambil menunggu-nunggu postingan harianku di-like dan dikomentari seperti perawan desa nunggu-nunggu dilamar. Seperti itu selama berbulan-bulan. Sampai masa kontrak rumah habis separuh, sisa setahun. Rasanya seperti dicubit tang, disadarkan: like dan comment Facebook nggak bisa buat mbayar kontrak rumah.

Tuntutan menghasilkan uang memaksaku meninjau ulang caraku bermedsos. Yang tadinya demi sebanyak-banyaknya like dan comment jadi demi dapat pembeli. Sejak “kuliah terapan” di Instagram per Oktober 2015 demi jual barang nganggur yang numpuk di rumah kontrakan, aku belajar tiga hal penting:

  1. Jualan bukan satu-satunya cara mempekerjakan medsos.
  2. Dengan mindset dan cara yang tepat, medsos bisa bikin pekerjaan rumah tangga yang (bagiku) sangat monoton itu lebih bermakna.
  3. Pengakuan dan penghargaan justru makin gampang kita dapat –dan makin signifikan— kalau mata kita nggak lengket di layar smartphone.

Soal jualan online. Aku sendiri sudah merasakan pertolongan medsos untuk dapat uang meski bukan uang besar. Sangat kusarankan belajar jualan yang halus. Jangan News Feed kita bombardir dengan foto barang dagangan, foto asal jepret, tiap nge-pos 117 orang teman kita tag, captionnya copy-paste, sama semua sejak 2 tahun lalu. Akun jualan favoritku punya satu persamaan besar. Macam postingan mereka nggak melulu barang dagangan tapi dikemas sedemikian rupa sehingga mengangkat apapun itu yang mereka jual. Coba cekidot Jendela Si Kecil. Kalau tertarik belajar tentang jualan cantik, kurekomendasikan untuk ngikuti Etsy Success dan The Shop Files di Instagram.

Bagi yang nggak tertarik jualan online apalagi jualan kerudung karena takut suaminya disiram air keras:

TIGA CARA LAIN MEMPEKERJAKAN MEDSOS

Cara#1: Medsos Sebagai Sumber Daya

Aku bukan Jenius Kerumahtanggaan. Keahlian domestikku di beberapa departemen terlalu memprihatinkan. Hasil cucianku –dengan mesin cuci sekalipun– berbau karena tanganku nggak cukup kuat meras. Gitu juga dengan hasil kerjaku ngepel. Meski obat pelnya sudah kubanyakkan. Karena itu tadi, tanganku nggak cukup kuat meras pel-pelan. Dua masalah itu bisa kuatasi dengan mendelegasikannya ke ART paruh-waktu. Sayangnya lagi, masalahku bukan cuma dua itu.

Kita mulai dari masalah yang langsung mempengaruhi keuangan rumah tangga: kemampuan masak yang kadang-kadang. Kadang-kadang nggak bisa dimakan. Lalu masalah kelungsuran begitu banyak barang tinggalan orang tua dan barang bekas saudara. Tanpa pengetahuan desain tingkat dasar rumahku pasti nampak gudang, sesak dengan barang tua dan bekas. Masalah lain masih banyak tapi masalah terbesarku adalah keuangan yang pas-pasan cenderung kurang sejak berumah-tangga. Mau nggak mau harus belajar masak, belajar dekor, belajar berhemat. Meski terlahir dengan DNA hemat, pengetahuan dan kemampuanku berhemat ternyata masih belum cukup mumpuni untuk bisa mengoptimalkan keuangan UMR.

Facebook dan Instagram adalah sumber daya yang memungkinkanku belajar ketrampilan domestik secara mandiri. Kucari page Facebook dan akun Instagram yang ngasih ide-ide sederhana sehari-hari siap praktek, kukumpulkan dan –ini yang paling penting– kupraktekkan. Nggak kutimbun di Timeline. Aku rajin bersih-bersih. Resep masakan yang sudah kupraktekkan kuhapus. Juga rajin nge-klik link artikel/postingan blog tentang project DIY. Yang sekiranya cukup sederhana untuk kupraktekkan, ku-share dengan setelan Only Me. Foto-foto desain interior yang mancep di hati kusimpan di hp. Malamnya kupelajari. Apanya yang bikin one-of-a-kind. Apa yang bisa kutiru. Prinsip desain apa yang bisa “kucuri” dari foto itu.

View this post on Instagram

Teras sempit bisa tetap gaya: . 1) Cat tembok rumah dan plafon putih aja. . 2) Lantainya yg diwarna dan motifkan. Itu bukan ubin. Kalau nggak salah lantai plesteran yg dimotif dg teknik stencil. . 3) Jangan beli perabotan yg satu set. Biar nggak semburat cari kursi teras yg sama-sama rotannya atau besinya atau plastiknya. Jangan yg dari kayu. Terasa 'berat' di mata, bikin ruang sempit terasa 'penuh'. Bikin tampak seperti satu set dg nyamakan kain pelapis busa dudukan dan bantal kursinya. Cari motif yg nggak biasa untuk kain pelapisnya, yg warnanya kontras dg lantai. . 4) Mejanya beda material, beda warna. . 5) Kasih tanaman. Foto dari BHG. Ini bukan teras rumahku. Cari cara low-cost mbaguskan rumah bisa menyelamatkan IRT dari lubang yg kukasih nama 'Minder Soro'. Yg nggak percaya boleh coba. . #blogngirit #bloggayahiduphemat #bloggerperempuan #emak2blogger #emakirit #emakpintar #baitijannati #kerjairt #kerjarumahtangga #manajemenlungsuran

A post shared by Keuangan IRT (@rindasukma_) on

Apapun itu yang ingin kupelajari, selalu bisa kutemukan paling nggak satu akun/page yang berfungsi jadi sumber daya. Yang kumaksud “sumber daya” di sini bisa karena akun Instagram atau page Facebook itu:

  1. Men-share foto-foto yang bisa kujadikan model atau contoh. Bisa dibilang aku berhutang budi ke page Facebook majalah Country Living dan Country Style.
  2. Menyediakan artikel tip & tutorial yang mudah dipahami dan dipraktekkan. Untuk artikel tip belum nemu yang lebih bagus dari Fun, Cheap or Free; untuk tutorial –meski sulit kupraktekkan karena butuh alat dan skill tukang— belum nemu yang lebih bagus dari The Painted Hive. Bagus karena mereka berdua menyumberkan artikel tip dan tutorialnya dari pengalaman pribadi dan project-project DIY membaguskan rumah sendiri.
  3. Menyediakan informasi tentang buku dan link ke situs lain untuk bahan pembelajaran lebih lanjut. Belum lama ini nemu situs The Ontreprener. Sebagian besar linknya –seperti kebanyakan situs pada umumnya— mbawa kita mutar-mutar di situs itu sendiri tapi dapat juga beberapa link ke situs lain termasuk ke salah satu e-book gratis yang bagus buat mereka yang sedang merintis usaha.
  4. Menawarkan newsletter/e-book/kursus/program gratis yang bermutu. Favoritku sejauh ini adalah newsletter majalah Better Homes & Gardens, kursus gratis Blogging 101 dari WordPress dan Product Creation Masterclass dari ConvertKit.

Ada satu lagi sebetulnya: akun/page/situs yang menawarkan sumber daya komunitas seperti Institut Ibu Profesional (IIP). Kepribadianku yang soliter mencegahku mengoptimalkan sumber daya yang satu ini. Ikut dua programnya, dua kali juga di-DO.

Yang harus kutekankan adalah kebanyakan akun/page yang membangun dirinya menjadi sumber daya ditulis dalam Bahasa Inggris. Ada juga yang berbahasa Indonesia tapi pada umumnya nggak semurah-hati, se-otentik dan sekaliber sumber-sumber berbahasa Inggris. Sejauh ini baru nemu satu sumber daya berbahasa Indonesia yang se-level dengan yang berbahasa Inggris: Rumah Inspirasi.

Begitu banyak yang kudapat dari para sumber daya ini sampai nggak tahu harus mulai dari mana. Dari >5 juta yang kukumpulkan dari menjual barang nganggur padahal jualan sangat sulit buatku? Pujian yang kuterima dari kanan-kiri tentang penataanku di rumah kontrakan dan rumah warisan? Kerajinan yang kubuat dari kertas sampah dan sisa? Atau 100-an follower yang kudapat dalam 3 hari setelah Instagram mem-feature salah satu postinganku di menu Photo para pengguna yang suka tema hemat?

Yang ingin kukatakan adalah: nggak ada yang salah dengan memanfaatkan medsos untuk menyambung silaturahim dengan orang-orang dari masa lalu, bercanda, mbanyol atau mungkin membangun ikatan batin yang menguatkan antar sesama IRT yang paham betul “the struggle of emak-emak”. Meski nggak kuanjurkan, juga sah-sah aja medsos jadi media perekam prestasi atau mengekspresikan diri. Tapi kalau bermedsos bisa meningkatkan mutu kerja IRT kita, kenapa nggak? Toh cukup dengan memilih apa yang tampil di News Feed atau Photo dengan seksama.

Entah ini pengetahuan umum atau bukan. Facebook bekerja dengan hukum logaritma. Aku nggak bisa menjelaskan teknisnya karena otakku nggak bisa mengaitkan sinus-cosinus-tangen dengan update status. Yang kualami sendiri adalah kebiasaanku:

  • mencari, me-like dan mem-follow page dan akun Instagram yang digarap serius
  • men-share postingan yang membantuku belajar masak, desain dan berhemat
  • meng-klik atau menyimpan link artikel blog/situs,

direspon oleh logaritma FB/IG dengan terus merekomendasikan page/artikel/akun serupa. Jadi like jangan sembarang like, share jangan sembarang share. Belajar lah selektif demi News Feed yang bermutu. Batasi diri hanya di yang menaikkan mutu hidup. Selain selektif dengan like dan share, kubiasakan diri berkomentar hanya kalau perlu bertanya, memuji, menyepakati, menjawab pertanyaan atau ngasih informasi tambahan. Kalau like-reaction-comment-share-follow kita tujukan hanya untuk manfaat, maka News Feed/Photo yang kita dapat juga hanya manfaat. Sesederhana itu.

Cara#2: Medsos Sebagai Creative Outlet

Ada dua “makin” yang menjamin setiap postingan kita banjir like dan comment. Makin No.1: makin aktif nge-like dan mengomentari akun makin banyak orang. Makin No.2: makin pandai menyajikan hidup kita sebagai hidup impian banyak orang.

Makin No.1 kurasa cukup dijelaskan dirinya sendiri.

Pernah heran lihat akun medsos perempuan cantik non-selebriti bisa punya ratusan ribu follower padahal modalnya cuma selfie? Aku sering. Bukan karena dia bisa ngumpulkan ratusan ribu follower tanpa perlu bersusah-payah, tapi karena dia bisa punya ribuan foto dan nggak ada sepasang pun yang bajunya sama. Soal gampangnya dia dapat follower bisa kujelaskan. Semua perempuan punya impian jadi cantik, semua laki-laki punya impian beristri cantik. Si Cantik Non-Selebriti Yang Baju-Bajunya Sekali Pakai ini punya apa yang cuma bisa dimimpikan banyak orang. Makin sulit tergapai mimpi itu, makin effortless juga mendulang like, comment dan follower.

Kita-kita yang kalau dilihat dari selfie di medsos seolah kerudungnya cuma satu karena yang dipakai yang kuning kunyit itu lagi, yang kuning kunyit itu lagi, jangan berkecil hati. Hidup biasa-biasa saja cenderung bukan impian banyak orang, wajah berpori-pori sebesar saringan santan, kelebihan lemak tubuh setara lima karung beras Cap Raja Tawon lima kiloan justru jadi berkah: nggak ngasih aku pilihan lain selain jadi kreatif dengan foto, dengan caption, dengan jenis postingan. Blak-blakan aja, aku mau postinganku banjir like dan komentar, tapi nggak bisa menerapkan Makin No.1 karena pribadi penyendiri sepertiku harus ngoyo untuk jadi ramah tur lucu di medsos yang sangat ringan.

Yang merasa dirinya nggak kreatif: kreatif bukan soal bakat. Ini soal latihan, kebiasaan dan kebutuhan. Kita biasa dengan yang seperti apa. Latihan curhat atau latihan men-deliver pesan? Biasa asal-asalan atau biasa memberi yang terbaik? Butuh perhatian atau butuh penghargaan? Menyampaikan pesan, memberi yang terbaik dan penghargaan harus dengan kerja ekstra. Itu yang kumaksud dengan kreatif.

Waktu kembali aktif berfacebook, aku heran lihat foto-foto teman yang ada teks dan stikernya. “Gimana cara bikinnya?” batinku. Sampai Mei 2015 belum pernah dengar yang namanya Photogrid. Juga heran lihat postingan yang fotonya lebih dari satu. “Gimana nyusunnya?” batinku. #JugaNggakPahamKenapaPadaNulisGini. Aku bahkan nggak tahu “japri” itu apa! Nol puthul lah pendeknya. Tapi dalam waktu setahun, setelah foto-foto demi update status jadi kegiatan harian, mulai bisa kuhasilkan foto-foto bagus modal kamera hp. Nggak perlu ilmu fotografi tingkat mahir. Cukup dengan mau mencoba-coba:

  • mengambil gambar dari sudut yang berbeda-beda,
  • di spot yang berbeda-beda di sekeliling rumah,
  • di waktu yang berbeda-beda,
  • pakai latar yang berbeda-beda,
  • main-main dengan filter dan teks Photogrid,
  • pakai prop dari barang-barang yang ada di rumah.

Setelah 2 tahun ada teman tanya, “Kamu pakai apa untuk ambil foto?”

Dia tanya karena “agak” nggak percaya modalku kamera smartphone. ”Agak” karena dia tahu keuanganku (yang sama sekali nggak berusaha kututup-tutupi di medsos) nggak sanggup beli kamera Nikon.

Satu-satu pujian mulai kudengar. Pertama atas foto-fotoku. Lalu captionku yang makan paling nggak satu jam; setengah jam buat mikir, setengah jamnya lagi buat ngetik dan ngedit. Lalu kelihaianku “nyambungkan” foto dengan caption. Sepertinya beberapa postinganku bikin beberapa orang hampir nangis. Kalau kita mau, caption bukan cuma rangkaian kata-kata kosong. Kata-kata yang ditulis dengan kesungguhan punya kekuatan menyentuh hati orang. Dalam kasusku, tulisan-tulisan pendekku untuk status Facebook dan caption Instagram memulai rangkaian peristiwa yang secara keseluruhan merubah pikiranku tentang IRT dan keseharianku sebagai IRT.

Karir Nggak Sama Dengan Atau Harus Kerja Berbayar

Sebelum kita masuk ke cara mempekerjakan medsos yang terakhir sekaligus yang paling berdampak, kita luruskan dulu pemahaman orang kebanyakan akan “karir”.

Anggap aja kita punya karir cemerlang, apa yang akan jadi tema feed kita? Project besar, meeting, kunjungan dinas, promosi naik jabatan, orang-orang penting yang kita temui, beli mobil dan rumah dari hasil kerja; semua yg bisa bikin bangga. Mungkin diselingi dengan postingan liburan keluarga yang butuh paspor. Semua jenis postingan yang nggak bisa dihasilkan IRT karena kita nggak punya karir. Betul?

S-a-l-a-h.

Gini. Singkirkan muatan finansial dalam karir. Orang-orang macam apa yang karirnya bak roket meluncur tegak lurus ke atas?

Yang punya kemampuan mumpuni di bidangnya, yang bisa memecahkan masalah orang-orang di atasnya, yang jadi nilai bagi lembaganya. Maka semua orang bisa punya karir. Apalagi IRT yg jelas-jelas kerja hanya saja nggak dibayar. Punya Barisan Belakang (ART dan supir) sekalipun, ada kerja manajemen atau mungkin kerja humas yang harus dilakukan seorang IRT istri pejabat publik atau elit organisasi.

Lantas apa bidang kerja IRT? Dunia domestik sesungguhnya adalah keluarga besar berbagai bidang ilmu mentereng di levelnya yang paling nyata dan sehari-hari; keuangan, manajemen, parenting, nutrisi, penataan ruang, kesehatan, psikologi; teruskan sendiri.

Masalah orang-orang di atasnya? Masalahnya masyarakat, masalahnya orang banyak.

Lembaganya? Rumah tangganya –rumahnya, suaminya, anak2nya dan semua yang hidup di bawah atap rumahnya.

Kalau harus kupadatkan: karir seorang IRT adalah menggunakan keunggulan domestiknya untuk memecahkan masalah orang banyak. Ini alasanku menggarap tema gaya hidup hemat. Aku ingin membangun karir IRT-ku dari menemukan dan membangun cara-cara hidup bermutu meski penghasilan suami kejar-kejaran dengan kebutuhan. Itu bukan cuma masalahku. Itu masalah klasik rumah tangga berpenghasilan satu <10 juta. Mustahil membangun karir IRT-ku tanpa medsos. Nggak ada yang bisa terbangun dan berkembang tanpa feedback. Esensi dari karir adalah perkembangan yang dapat pengakuan. Medsos lah yang menyediakan feedback dan pengakuan itu.

Cara#3: Medsos Sebagai Portofolio

Kalau memang niat membangun karir dari kerja IRT, jangan membangun feed mengandalkan opini pribadi, modal merangkai kata apalagi dijadikan media curhat. Jangan oh jangan. IRT harus membuktikan dampaknya dulu baru bisa mengharapkan pengakuan. Pengakuan datang dari kemampuan seorang IRT menjadi nilai. Kemampuan menjadi nilai datang dari dampak yang kita hasilkan dari kerja rumah tangga kita. Pengakuan datang dari kerja kita, bukan opini kita, sebagus apapun opini itu. Jadi fokus lah pada apa yang bisa kita lakukan, bukan apa yang kita pikirkan atau rasakan. Orientasi bertindak dan bekerja ini yang biasanya absen dari akun IRT.

Mungkin sejauh ini yang terlintas di kepala tentang portofolio IRT cuma tiga. Kalau bukan foto-foto masakan lalu bagi-bagi resep, dekorasi rumah shabby atau rumah vintage juga bukan, berarti ya DIY pajangan dan pernik rumah. Akun yang menampilkan ribuan selfie pemiliknya dalam berbagai model dan warna busana syar’i nggak kugolongkan sebagai portofolio. Itu portofolionya seorang model. Modeling nggak masuk dalam bidang kerumahtanggaan.

Seperti yang sudah kubilang, rumah tangga adalah tempat “turun” dan bertemunya berbagai bidang ilmu mentereng. Masak dan dekorasi hanya dua dari sekian banyak. Dengan orientasi bertindak dan bekerja, masak dan dekorasi itu tadi bisa digarap lagi, dinaikkan ke level yang lebih tinggi yang namanya level memecahkan masalah orang lain. Lebih bagus lagi kalau masalahnya orang banyak.

Soal masak, ijinkan aku menggunakan acara tivi untuk mengilustrasikan apa yang kumaksud dengan portofolio. Rachael Ray Show adalah acara masak yang menampilkan resep-resep siap santap dalam 30 menit. Jadi waktu yang dihabiskan untuk potong-potong bahan, memproses, lalu menyajikannya di piring, butuh nggak lebih dari 30 menit. Acara ini dibangun dari masalah orang banyak di Amerika Serikat, yaitu malas atau nggak bisa masak. Gaya hidup mereka ditopang oleh makanan beku/fast food yang miskin zat nutrisi dan makan di luar/layanan delivery yang boros. Tanpa dua itu ambruk; separuh populasi AS bisa-bisa mati kelaparan. Si Rachael menunjukkan bahwa masak sendiri sesungguhnya sama sekali nggak sulit dan nggak pakai ribet.

Soal gaya dekorasi shabby. Yang kupahami tentang gaya interior Shabby Chic beda sekali dengan yang kulihat semliwer di Instagram. Rachel Ashwell yang secara umum dipandang sebagai perumus gaya ini mempopulerkan interior yang mengandalkan perabotan dan barang yang dia beli dari pasar loak –shabby— jadi chic. Bukan sekedar memenuhi rumah dengan warna putih dan motif kembang-kembang. Bisa sekali fanatisme ke gaya Shabby jadi portofolio. Kalau akun kita bisa membagi ide dan cara punya rumah sedap-dipandang modal perabotan bekas yang dipermak dengan DIY.

Untuk bisa mencapai tingkat memecahkan masalah memang butuh keunggulan di paling nggak satu bidang domestik. Nggak percaya kalau ada yang mengklaim nggak bisa apa-apa di bidang kerumahtanggaan. Nggak bisa masak bukan berarti nggak bisa apa-apa. Cari keunggulan di bidang domestik dengan menyimak –kalau perlu mencatat– komentar orang. Sejak gadis ibuku dah muji kerja beres-beres dan bersih-bersihku. Setelah ibuku meninggal baru ketahuan kelebihanku nata rumah dan barang. Waktu ibuku masih hidup kemampuan itu terpendam karena ibuku paling nggak bisa lihat barangnya dipindah-pindah apalagi di-declutter. Gunung Krakatau meletus. Tujuh kali berturut-turut.

Semua perempuan punya paling nggak satu keunggulan di bidang domestik atau yang bisa diterapkan di bidang domestik. Ya bandingannya jangan perempuan sekabupaten. Lihat di ruang lingkup keluarga. Apa kelebihan kita dibanding ibu, adik, mbak, ibu mertua, ipar, sepupu. Pujian apa yang berulang kita dengar. Belanja satu kali seminggu 100 ribu dan sanggup nyukupkan itu belanjaan buat makan sekeluarga selama 7 hari bisa jadi ilmu berharga bagi ibu-ibu yang nggak bisa masak kalau nggak belanja tiap hari. Hal-hal remeh-temeh yang sepertinya gampang dan alami buat kita bisa jadi sangat sulit buat orang lain.

Itu bank postingan yang kusebut portofolio.

Begitu aku memfungsikan medsos sebagai portofolio kerja rumah tanggaku, nggak perlu menahan diri untuk nggak ngepos luapan emosi. Bisa dibilang itu terjadi dengan sendirinya. Jadi sangat peka sama postingan-postingan yang nggak bawa dampak. Mau itu dari diri sendiri atau punyanya orang lain. Nggak terhitung sudah postinganku yang kuhapus karena nggak bermutu. Juga akun yang ku-unfollow karena nggak bermutu.

Yang ajaib adalah: hidupku sehari-hari jadi punya arah, nggak cuma sekedar bertahan dari satu hari ke hari berikutnya seperti setahun pertama berhenti ngajar. Jadi punya tujuan saat melek di pagi hari. Sibuk bikin rencana di saat-saat ngeloni Rafi malamnya. Berpikir mencari apa yg sudah kulakukan HARI ITU yang bisa kulestarikan atau mungkin kukembangkan karena memecahkan satu masalah rumah tangga UMR. Seperti gimana aku ngelola baju lungsuran dan hadiah buat Rafi untuk memastikan anakku selalu terlihat keren tanpa harus rutin nyiapkan anggaran beli baju baru. Dengan makin tingginya jam terbang, mulai kucatat ide-ide postingan yang nggak bisa difoto, seperti mindset baruku soal menabung yang menyembuhkanku dari stres menahun, merasa nggak becus ngelola uang gara-gara tabungan bolak-balik jebol nggak pernah bisa ngumpul.

View this post on Instagram

Hemat aja nggak cukup. Maksudku hemat yg nggak punya tujuan. Mindset hemat-demi-nabung berhasil waktu aku gadis. Kewajibanku cuma cicilan motor dan nggaji Mbak Tin. Setelah nikah keambregan kewajiban. Hasilnya: nyisihkan, dikumpulkan, jebol, nyisihkan lagi, dikumpulkan lagi, jebol lagi. . Dua tahunan lalu mindset itu kukoreksi jadi hemat-demi-mencapai-minimal-satu-tujuan-keuangan-yg-spesifik. Setahun lalu tujuanku menaikkan harga sewa rumah dg nambah kamar dan nge-renov teras. Dah naik dari 500k ke 700k/malam. Sekarang tujuanku nutup hutang yg kupakai modal naikkan harga sewa itu tadi lebih cepat dari perjanjian kredit. . Hemat itu soro. Kalau tabungan sering jebol, hasil kerja berhemat jangan diukur dari berapa banyak yg bisa kita kumpulkan. Strez. Ganti: berapa banyak tujuan keuangan yg bisa kita capai. Mulai dari yg kecil dulu seperti liburan ke Jogja misalnya. Lalu naikkan tujuan keuangan berikutnya. Makin banyak yg bisa kita capai, makin besar daya tahan bersoro-soro demi berhemat. 75 juta buat DP rumah terlalu sulit? Turunkan jadi 20 juta buat beli tanah kavling. . #blogngirit #bloggayahidup #emakblogger #emakpintar #bloggerperempuan #kerjaIRT #kerjarumahtangga #baitijannati

A post shared by Keuangan IRT (@rindasukma_) on

Berhenti curhat di medsos ternyata nggak sulit kalau pikiran kita sibuk. Ajaibnya: begitu pikiran kita sibuk demi kebaikan rumah tangga kita dan rumah tangga orang-orang lain yang punya masalah sama, semua yang kita lakukan termasuk “main hp” jadi “mata uang”.

MENGANGKAT DERAJAT DENGAN MEDSOS

Sejak berhenti kerja jujur minder soro berhadapan dan gumbul dengan perempuan bekerja yang bagus di bidangnya. Apalagi yang tampilannya profesional, ngomongnya fasih. Hati rasanya ciut. Meski apa yang kulakukan dengan medsos sejauh ini belum bisa mengembalikan kepercayaan diri, kesungguhanku menjadikan medsos sebagai portofolio menunjukkan beberapa pintu menuju keahlian. Pengalaman hidupku mengajarkan bahwa keahlian adalah obat minder yang paling mujarab.

Pintu menuju keahlian yang ada di catatan mentalku: gaya hidup hemat yang jatuhnya nggak pelit atau murahan, mencetak generasi unggul, rumah idaman modal barang bekas dan DIY, usaha rumahan sedikit-modal; masih banyak bidang garapan lain. Dari akun beberapa teman sesama IRT yang kuikuti di Instagram bisa kulihat mereka bisa dan sedang membangun akunnya menjadi portofolio urban farming @wisnu_syita, green living @sk.ulfath, “semua bisa masak” @silminaulfah.

Mungkin butuh 10 tahun sebelum bisa lihat hasil kerjaku mempekerjakan medsos. Yang harus kutegaskan di sini, yang kumaksud dengan “mata uang” –hasil mempekerjakan medsos– tolong jangan cuma diartikan ratusan ribu follower atau uang yang kita hasilkan per bulan dari endorsement dan jualan. Sejujurnya aku bukan orang yang tepat untuk bicara soal menguangkan medsos. Ideku lebih tentang meningkatkan mutu hidup sebagai IRT.

Ketika kita:

  • memfokuskan kerja rumah tangga untuk memecahkan masalah kita sendiri yang juga jadi masalahnya orang banyak,
  • memfokuskan waktu dan energi bermedsos untuk membagi solusi yang kita temukan dan apa yang kita pelajari,
  • merespon feedback yang kita dapat dari komentar di postingan medsos dengan tulisan yang lebih dalam seperti postingan blog,
  • bikin project uji-coba ide sendiri atau ide orang lain lalu mengevaluasi hasilnya,
  • membuat tutorial yang gampang diikuti dan yang mendorong orang praktek,
  • mengembangkan postingan-postingan di medsos menjadi e-book atau program online yang gampang dimengerti dan diterapkan

maka hasil yang pertama kali kita rasakan adalah mulai terurainya masalah di rumah tangga kita yang jadi sumber kerja medsos itu tadi.

Ini belum genap setahun sejak akun Rumah Barang Tinggalan di Instagram kugarap ulang dari akun garage sale jadi akun portofolio gaya hidup hemat. Salah satu hutangku bisa kuselesaikan 5 bulan sebelum jatuh tempo. Tapi yang sangat berharga bagiku saat ini adalah a sense of purpose.

Sejak bapak lalu ibuku meninggal di tahun yang sama dalam selisih waktu kurang dari 5 bulan lalu kuputuskan berhenti bekerja karena untuk bisa menghasilkan uang guru Bahasa Inggris lepas sepertiku harus menunjukkan komitmen dan kerja lahir-batin yang semakin hari menjadi semakin sulit begitu berumah-tangga, hidupku berasa seperti layang-layang putus. Hidup tanpa arah dan tujuan. Otak mandeg. Jadi sering melakukan kesalahan-kesalahan tolol karena pikiran yang kosong. Contoh: salah belok padahal itu jalan pulang di perumahan yang sudah kutinggali selama hampir 25 tahun. Atau pergi ke dapur sambil bawa gelas untuk ambil air minum dari kulkas tapi jadinya minum air keran (PDAM Surabaya) di dekat kulkas…

Sekarang pikiranku sangat sibuk. Setrika pun bawa catatan. Ide project DIY, ide postingan blog bermunculan. Nggak ada menit yang terbuang. Saat momong Rafi pikiranku mutar memikirkan cara memastikan dia dapat pendidikan terbaik tanpa harus pindah ke Surabaya. Menimbang-nimbang kelebihan dan kekurangan homeschool. Mentalku mencatat solusi selain homeschool yang butuh penelitian lebih dalam. Setiap postingan entah itu di Instagram atau blog selalu memulai rangkaian peristiwa yang menunjukkan solusi untuk masalahku sendiri. Menurutku itu –adanya a sense of purpose— satu syarat yang harus kita penuhi sebelum bisa membangun hidup yang mengangkat derajat, IRT atau bukan.

Terus-terang aku merasa sangat terganggu dengan stigma IRT “nggak ngapa-ngapain”. Merasa pengakuan dan penghargaan untuk IRT dari suami, anak (begitu mereka kenal kekuatan uang), keluarga besar dan masyarakat kita sangat nggak memadai. Kalau ada IRT yang nggak butuh pengakuan, itu rizkinya. Aku butuh. Tapi sibuk mengeluh, beropini dan bikin statement di medsos nggak akan menghasilkan apapun kecuali meneguhkan tidak signifikannya seorang IRT seperti kita. Kalau merasa sama sepertiku:

Berhentilah bermedsos tanpa tujuan, tanpa ilmu.

image

2 Comments Add yours

  1. wisnu syita says:

    tulisanmu sangat menginspirasi banyak orang miss rinda, medsos bukan hanya selfi, di situ banyak ilmu menanti

    1. Rinda Sukma says:

      Makasih, Mbak. Mbak salah satu inspirasi urban farming-ku. Pingin punya kebun sayur seperti punyanya Mbak gitu..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s