Gudang Toko: Sistem Penyimpanan Untuk Berhemat

Terkumpul total 1,7 jutaan sejak kamar belakang yang selama ini jadi tempat menggeletakkan barang-barang nganggur kugarap jadi gudang yang punya tatanan. ‘Bisa’ harus kutulis dalam kurung. Takutku ada yang menyimpulkan cuma butuh barang nganggur dan sebuah ruangan. Yang paling penting itu mindset.

Hukum 1-3 Tahun

Uang lebih bermanfaat daripada barang nganggur. Aku nggak bilang uang lebih bermanfaat daripada barang lho ya. Pisau dapur yang harganya nggak sampai 10 ribu pastinya lebih bermanfaat daripada uang tunai sejuta dolar saat lagi tersesat di gunung. Aku bilang lebih bermanfaat daripada barang nganggur.

Barang yang nggak sekalipun terpakai selama 1-3 tahun terakhir.

Untuk orang-orang sepertiku patokannya bisa 3 tahun. Rumahku kecil, isinya sedikit, aku hapal semuanya. Jadi kalau sampai 3 tahun nggak kepakai itu bukan karena lupa punya. Mereka yang barangnya banyak (jadi nggak mungkin hapal semuanya) dan sebagian besarnya nggak kelihatan mata (disimpan dalam laci, dalam lemari, dalam rak tertutup, dalam container, dalam kardus, dalam gudang yang belum tentu setahun sekali didatangi), nggak perlu nunggu 3 tahun. Buat orang-orang seperti ini patokan setahun dah cukup.

Apa itu Hukum 1-3 Tahun?

Barang yang nggak sekali pun kita pakai selama 1-3 tahun, meski kita eman-eman sampai 100 tahun lagi, tetap nggak akan kepakai. Karena kita lupa kalau punya atau nggak ingat nyimpannya di mana.

Tanpa sistem penyimpanan yang dirancang khusus, percayalah, sebanyak apapun barang milik kita, yang kepakai itu-itu aja.

Jangan mengkerut dulu. Aku juga nggak bisa kalau harus melepas semua barang nganggurku. Di situ kita bisa pakai prinsip kerja decluttering Marie Kondo. Dia mengijinkan kita nggandholi barang nganggur asal memenuhi dua syarat berikut:

  1. Menyentuh dan melihat barang itu bikin hati senang. Kuulangi lagi: bikin hati senang, bukan bikin kita mengenang masa lalu, bukan bikin kita ingat gimana perjuangan nabung buat bisa beli itu barang, bukan bikin kita ingat harganya yang mahal takut nggak sanggup beli lagi. Itu emotional attachment, bukan joy. Cara mbedakannya gampang. Seandainya kita lihat barang yang persis seperti itu di rumahnya orang dan menyentuhnya, apa hati kita akan tetap senang? Kalau iya, itu joy. Kalau jawabnya nggak, itu emotional attachment.
  2. Sebisa mungkin semua barang yang bikin hati senang diletakkan di tempat yang kelihatan mata. Kelihatan mata setiap hari lebih bagus. Yang disimpan di tempat tertutup seperti laci sebisa mungkin hanya yang rutin kita pakai. Ini akan membuat kita sangat peka terhadap efek yang ditimbulkan barang ke psiko kita. Seiring waktu akan menumpulkan nafsu kepemilikan. Melepas barang jadi nggak terasa memilukan.

Selesai dengan mindset, baru bisa ngomong soal teknis.

Gudang yang kumaksud di sini bukan ruang sempit yang gelap, tanpa jendela/ventilasi, rumah tikus-kecoak. Ruang yang dijadikan gudang sama bapakku di rumah warisanku sudah jadi kamar mandi. Tadinya aku ngotot nggak pakai gudang. Harga sewa rumah 2 kamar pastinya selisih dengan rumah 3 kamar. Ternyata nggak bisa. Harus ada ruang khusus guna menyimpan barang-barang pribadi dan mengamankan barang-barang yang sekiranya bisa bikin tangan tamu-tamu penyewa jadi panjang.

Pilihan jatuh ke kamar belakang yang punya dua pintu. Aku bisa masuk ke kamar itu ngambil barang saat rumah lagi disewa tanpa mengganggu para tamu.

image
Sebelum: semua ditaruh gitu aja
image
Sesudah: sentra penyimpanan koleksi wadah dan kertas persis di sebelah luar gudang (kelihatan pintunya?)

Setelah 9 bulanan jadi sentra barang nganggur, meski beberapa kali dibersihkan dan ditata ulang, tetap aja bikin agak malu tiap ada orang cari vila datang untuk lihat-lihat. Mereka yang nilik dapur pasti lihat ruangan ini. Makin nggak tahan setelah pulang umrah; pulang bawa dua koper barang yang ternyata nggak terpakai di sana dan/atau nggak akan kupakai lagi di sini. Belum oleh-olehnya.

So I set out to work:

menata kamar belakang yang selama ini jadi gudang-tak-bertatanan menjadi sentra penyimpanan ala toko.

Yang ada di kepalaku waktu itu adalah ruangan yang bisa membantuku menghabiskan barang nganggurku dengan cara diuangkan, dibonuskan atau dihadiahkan seperti yang kulakukan dua tahunan lalu di kamar atas rumah kontrakan.

5 Langkah Dasar Declutter to Organize

Lima langkah pertama akan kuuraikan singkat aja. Uraian panjang-lebar bisa dibaca di postinganku yang ini.

  1. Keluarkan semua barang kecil dari ruangan. Semuanya. Sembari memilah antara yang dibuang, disedekahkan dan disimpan.
  2. Segera buang yang ingin dibuang dan segera salurkan yang ingin disedekahkan.
  3. Kumpulkan semua barang yang ingin kita simpan di ruangan lain sembari menyortirnya per kategori; tas sendiri, pakaian sendiri, buku sendiri.
  4. Tata perabotan di ruangan dengan mengingat prinsip kerja “semua bisa kelihatan mata, ngambilnya gampang”. Minimal bisa ngecek dengan sekali tilik, nggak perlu bongkar-bongkar.
  5. Kembalikan barang-barang kecil ke ruangannya per kategori ke tempat-tempat yang sudah ditunjuk. Jadi jangan masukkan barang dapur sebelum semua perlengkapan bayi dapat tempat.

4 Kunci Memproduktifkan Gudang

Yang ingin kuuraikan panjang-lebar di sini adalah cara-cara baru yang nggak kepikiran di project-project organizing sebelumnya.

Kunci#1: Menata barang seperti di toko yaitu dipajang

Prinsip penataan toko adalah semua kelihatan mata. Karena itu mereka memakai rak, yang bisa memajang banyak. Yang nggak terlihat mata hanya barang stok.

Selain rak, perabotan yang digunakan biasanya meja. Meja ini umumnya diletakkan di tengah (bukan dimepetkan tembok) supaya pembeli bisa mendekatinya dari 4 sisi. Kalau dimepetkan tembok, biasanya ditambah rak kecil di bagian yang mepet dengan tembok tadi untuk “mengangkat” barang-barang yang posisinya paling jauh dari jangkauan tangan. Aku juga jadi ingat meja-meja keranjang yang isinya barang obralan yang bisa diudhal-adhul tangan di Matahari.

Dengan menggunakan prinsip-prinsip penataan itu, koleksi keranjang plastikku (kukumpulkan dari rumah ibuku) kutata di atas dipan.

image
Sebelum: segala macam barang nganggur asal taruh
image
Sesudah (tahap 1): keranjang untuk memastikan barang bisa di-udhal-adhul tanpa membuatnya berantakan
image
Sesudah (tahap 2): satu keranjang untuk satu kategori barang

Rak t-i-d-a-k kujejali barang. Kutata satu demi satu, memastikan semuanya terlihat mata. Rak besi yang terbuka kuposisikan di tengah ruangan supaya bisa didekati dari dua sisi jadi barang bisa ditata dalam dua shaf; memaksimalkan fungsi memajangnya.

image
Sebelum: rak dijejali barang, campur aduk
image
Sesudah: barang di rak ditata satu demi satu, semuanya masuk dalam satu kategori besar oleh-oleh umrah

Meja sengaja kubiarkan kosong; menyediakan ruang untuk kerja bungkus-bungkus. Juga merangkap sebagai collecting point sementara untuk barang masuk terutama makanan yang nggak perlu masuk kulkas sebelum kuputuskan langsung dikonsumsi sendiri, dikasihkan orang atau disimpan dulu.

image
Sebelum: sama seperti yang lain; penuh dan campur-aduk
image
Sesudah: meja sengaja kosong untuk menyimpan sementara barang masuk kemudian dipilah dicarikan tempat permanen atau langsung didistribusikan

Kolong dipan bisa dimanfaatkan untuk menyimpan dengan bantuan container, keranjang atau kardus. Aku pakai tiga koper. Dua koper kuisi dengan barang yang nggak kujual. Satu koper kuisi hanya dengan barang perlengkapan umrah.

Menyimpan semua barang dalam satu kategori yang sama di satu tempat tertutup adalah cara untuk memastikan kita nggak akan lupa. Kupilih perlengkapan umrah yang kusimpan di tempat tertutup karena peluangnya kecil sekali ada yang datang dan kebetulan cari perlengkapan umrah preloved. Nggak mungkin juga kujadikan hadiah/oleh-oleh. Peluang terbesarnya di Shopee. Dan aku benar. Laku diborong hanya beberapa hari setelah ku-listing.

Kunci#2: Memperlakukan setiap barang layaknya barang dagangan

Kuhabiskan sehari untuk menyetrika semua baju lalu sehari lagi untuk memasukkan setiap item ke plastik. Plastiknya nggak beli karena Aturan Lebih-Dari-3-Dalam-Sekali-Waktu yang kuterapkan sejak berhenti kerja. Aturan yang membuatku mengumpulkan semua yang bisa jadi banyak dalam waktu singkat contohnya bungkus plastik baju baru dan bungkus plastik undangan manten. Kupilih yang nggak kusut.

Semua kutilik satu-satu untuk mencari cacatnya. Benang-benang yang menjulur kugunting, yang kancingnya lepas kujahit, yang berdebu kulap, yang kotor kucuci atau kubersihkan dengan lap basah. Kupastikan semua item dalam kondisi terbaik yang mungkin sebelum kumasukkan dalam plastik. Plastik-plastik yang dah nggak bisa di-seal karena lemnya dah loyo kurekat dengan selotip.

Berapa orang yang mau bersusah-payah seperti itu demi barang nganggur? Aku melihatnya sebagai investasi.

Suatu hari ada orang datang ke rumah untuk lihat-lihat. Dia punya acara di vila sebelah dan mencari vila untuk tempat menginap para juri. Ketika dia lihat dapur (melewati pintu Gudang Produktifku yang terbuka jadi dia bisa sekilas lihat dalamnya) spontan tanya, “Ibu jualan tha?”

Pertanyaan itu yang memicu serangkaian transaksi dalam jangka waktu 2 mingguan yang totalnya menghasilkan hampir 1,5 juta.

Kunci#3: Menyimpan semua barang hadiah/pemberian/oleh-oleh dan stok kebutuhan bulanan di ruangan yang sama dengan barang nganggur

Pernah menghitung berapa total uang keluar untuk biaya sosial? Maksudku pengeluaran untuk buwuh/sumbangan saat ada saudara/teman/tetangga yang manten, melahirkan, diopname, meninggal, sunatan dan ulang tahun. Kalau menganut norma berkunjung di keluargaku maka harus menghitung juga pengeluaran untuk buah tangan saat berkunjung dan membekali tamu yang datang dengan buah tangan juga atau uang ketika mereka pamit pulang. Gudang toko membantuku mengelola pemberian berupa barang dari siapapun untuk mengurangi uang yang harus kukeluarkan untuk biaya-biaya tadi.

Ini caraku:

Di gudang kusiapkan satu spot untuk sembako, makanan yang nggak harus masuk kulkas (misal: jajanan kering, sirup dan hasil bumi seperti kentang) dan kebutuhan bulanan seperti toiletries, susu dan popok Rafi.

Termasuk barang baru dapat dikasih yang tidak kupakai karena satu-lain alasan.

Semua barang itu –entah dikasih adik yang kebanjiran barang di rumahnya, dikasih saudara/teman yang datang ke rumah, dikasih saudara yang rumahnya kami/suami datangi, suami dapat dari tempat/teman kerja atau yang kami beli sendiri— ngumpul di sini.

Begitu dengar ada tetangga meninggal, yang pertama kulakukan adalah melihat apa yang kupunya. Cukup dengan masuk ke ruangan ini, nge-cek spot logistik. Selama ini nggak pernah sampai harus beli. Selalu ada gula, minyak atau mi yang terkumpul dari berbagai sumber.

Begitu juga kalau ada teman/saudara yang datang. Biasanya selama mengobrol, otakku mencari-cari petunjuk soal sesuatu yang ada di gudang yang bisa mereka gunakan.

Suatu kali teman datang dengan suaminya. Setelah mengobrol lama, mereka mau pulang, tiba-tiba aja tanya soal korden. Kutawarkan lah rel korden, pengait dan tali pengikatnya (aku hapal isi gudangku).

Minggu lalu Mbak Titik datang. Saat lagi ngobrol santai dia berkomentar soal nyamuk yang nggak ada seekor pun di Pacet. Dia mengeluh di rumahnya ada peternakan nyamuk. Kukeluarkan alat pembakar elektrik obat nyamuk cair yang aku ada dua. Sekalian kutawarkan baju yang bikin gendutku menculek-culek mata dan se-bal besar tisu yang sepertinya nggak akan kupakai karena aku lebih suka pakai air, kain atau kanebo untuk melakukan apa yang biasanya dilakukan orang dengan tisu.

Di akhir atau pertengahan bulan aku akan mencari beberapa item yang bisa kukasihkan Mbak Dama. Kuutamakan sembako. Kalau nggak ada, jajanan. Kalau nggak ada, toiletries. Tergantung apa yang lagi ada banyak. Atau sedikit-sedikit dari tiga itu. Kalau semuanya lagi kosong, kucarikan barang pecah-belah seperti piring hadiah deterjen atau mangkok oleh-oleh pulang haji tetangga (barang pecah-belah tinggalan ibuku sudah lebih dari cukup, semua barang dapur yang dapat dikasih atau gratisan kuhitung sebagai barang nganggur).

Kunci#4: Menyiapkan paper bag, kantong plastik atau segala sesuatu yang perlu untuk kemasan di ruang yang sama atau di dekatnya

Ini mungkin kedengaran sangat aneh tapi cara ini sungguh-sungguh mengkondisikan otakku untuk memanfaatkan isi gudang sebesar-besarnya. Otakku jadi merasa punya “toko”. Aku jadi sangat terlatih menutup butuh tanpa membeli.

Pada saat reuni kecil-kecilan teman SMA, semua datang membawa jajanan dan minuman. Banyak yang nggak termakan. Aku baru sadar setelah semua pulang, setelah mengumpulkan semuanya di meja di gudang.

Besoknya unjung-unjung ke rumah budhe dan sepupu. Sisa jajan kemarin lebih dari cukup untuk buah tangan tapi nggak mungkin kuserahkan dengan wadah aslinya karena beberapa sudah nggak utuh.

Kucari wadah bertudung untuk kue dan kertas doily (aku nggak pernah membuang wadah dan kertas bagus), kupotong-potong cake yang sudah nggak utuh tadi lalu kutata di wadah bertudung yang kualasi doily. Kutata 3 macam cake per wadahnya supaya kelihatan manis sekaligus “memenuhkan” wadahnya, kelihatan banyak. Minuman ringannya kumasukkan paper bag.

Ketika kita memberikan sesuatu sebagai hadiah, ada dua yang harus diperhatikan: barangnya dan kemasannya. Lebih-lebih kalau yang kita berikan itu bukan barang baru. Memusatkan penyimpanan paper bag, tas plastik dan wadah di gudang sangat membantuku menghasilkan buah tangan yang layak tanpa bela-beli, memudahkan orang yang memborong, juga memudahkanku mengemas barang untuk dikirim via kurir.

Kuncinya Di Pengelolaan

Ibuku dan adikku adalah tipe orang yang dikaruniai keluasan rizki berupa barang hadiah. Ibuku menjadikan satu kamar khusus untuk menyimpan barang pemberian berupa makanan selama bapakku ditugaskan di Bali. Kenapa akhirnya banyak yang mubadzir karena kadaluwarsa dan nggak bisa mengurangi pengeluaran malah sebaliknya? Karena tujuannya cuma nyimpan bukan nyimpan buat dikelola. Untuk mengelola harus ada sistem; sebuah kesatuan yang dibentuk oleh cara, aturan dan alat:

  • semua harus terlihat mata, jangan ada yang tersimpan di wadah tertutup karena makanan umurnya pendek
  • yang kadaluwarsanya hitungan hari harus disendirikan, diposisikan di titik yang langsung terlihat mata begitu buka pintu
  • makin jauh dari pintu, makin lama tanggal kadaluwarsanya
  • menyendirikan yang bisa “diputar”, yaitu yang bisa dihadiahkan ke bawahan/kerabat/tetangga/tamu atau mungkin atasan
  • menyendirikan yang bisa disuguhkan ke tamu
  • menyiapkan stok wadah (keranjang, paper bag, kardus), label berperekat dan spidol di ruang itu. Begitu ada barang masuk yang nggak ingin dikonsumsi sendiri/nggak bisa “diputar”/nggak cukup pantas disuguhkan ke tamu, langsung pilah-pilah dalam kardus, dilabeli (ini untuk apa, itu untuk siapa) untuk segera didistribusikan. Jangan nunggu ruangan penuh baru dibagi-bagi.

Kalau harus kusimpulkan: bukan soal berapa banyak yang kita punya. Ini soal seberapa pandai kita mengelola yang ada.

image

5 thoughts on “Gudang Toko: Sistem Penyimpanan Untuk Berhemat

  1. Wah, boleh bagi tips cara jual barang bekas (preloved) yang bisa menaikkan nilai jual barang mba? Saya juga kepikiran untuk jual barang yang saya tidak butuh dan tidak pakai lagi tapi masih layak jual. Mungkin ada tips untuk jual online mba. Terima kasih mba. Tetap menulis ya 🙂

    1. Dari pengalamanku, tiga ini yang bisa nambah nilai jual barang preloved. Urutannya sesuai kontribusinya ke nilai jual. Makin atas, makin pengaruh.

      1. Para pembeli kita adalah orang-orang yang lihat kita sebagai panutan/ideal. Yang mereka lihat bukan barangnya, tapi siapa kita. Tas misalnya. Untuk bisa dapat harga tinggi, yang beli harus seseorang yang kagum sama penampilanku. Jadi yang dia beli sesungguhnya bukan tasnya tapi gayaku berpenampilan dan seleraku.

      2. Yang kita jual banyak dan punya benang merah, nggak acak-semburat. Prinsipnya barang-barang yg mau kita uangkan ini kita taruh dalam satu konteks. Bayangkan tas yang persis sama di dua akun garage sale yang berbeda. Yang satu barangnya 100-an item dan semuanya barang fashion perempuan umur 20-an bermodel lady-like didominasi warna polos coklat, putih dan pink. Satu lagi barangnya 15, segala ada; satu meja sudut, satu panci, satu celana jins, satu gamis, satu novel teenlite, dsbnya. Akun mana yg bisa bikin orang mau mbayar harga lebih tinggi?

      3. Mau repot dan keluar modal buat mempermak/merubah tampilan barang. Aku punya tas yang lucu tapi pitanya guede, bikin jelek. Kalau kucopot pitanya, ganti plat logam warna tembaga atau emas lalu ditambah gandulan tassle panjang dari kulit di kait resletingnya + scarf putih yg bisa diikatkan ke tali tas buat pemanis, lain dah harganya kan.
      .
      Mau banting harga atau tahan harga, foto harus bagus. Yg bebas dari aturan foto harus bagus (dan bisa dapat harga tinggi tanpa 3 kerja di atas) hanya barang-barang branded khususnya barang fashion dan perlengkapan bayi-anak dan barang koleksi/vintage.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s