Rumus Sederhana Memperbaiki Keuangan Rumah-Tangga

Bagi kebanyakan orang satu-satunya jalan memperbaiki keuangan rumah-tangga adalah dengan menambah pemasukan. Cara yang langsung terlintas di kepala begitu dengar ‘nambah pemasukan’ biasanya mencari pekerjaan atau mencari modal untuk memulai usaha.

Yang harus kita pahami dulu:

Bertambahnya pemasukan tidak akan memperbaiki keuangan bila masalahnya ada di kesalahan pengelolaan atau tidak adanya pengelolaan.

Pengelolaan di sini bukan sekedar memastikan uang keluar tidak melebihi uang masuk. Aku sendiri baru paham setelah belajar keuangan [ini penafsiranku untuk wahyu “Bacalah!”: lakukan dengan ilmu]. Akan jadi jelas setelah rumus sederhana memperbaiki keuangan yang kumaksud kuuraikan satu demi satu.

Kita mulai dengan rumusnya dulu:

  1. Punya penghasilan tetap
  2. Mempertahankan biaya hidup rendah
  3. Mencari uang tambahan
  4. Berinvestasi

Sederhana kan? Kalau merasa ini pengetahuan umum yang semua orang juga tahu, baca dulu uraianku untuk No.1.

Langkah#1: Punya Penghasilan Tetap

Di 3 tahun pertama setelah menikah aku-suami sama-sama bekerja. Penghasilan kami berdua selama 2011-14 nggak selisih jauh dari penghasilan suamiku sekarang tapi kenapa waktu itu keuangan kami habis nggak jadi apa-apa?

Karena kita tidak diajari melihat penghasilan sebagai sarana mencapai tujuan, pengelolaannya biasanya tidak berangkat dari tujuan keuangan yang spesifik.

Karena berangkatnya tanpa tujuan, jadinya ya nggak sampai ke mana-mana.

Kurasa sama aja lah di sepenjuru tanah air Indonesia ini yang anak-anaknya dituntut patuh pada orang tua, kita diajari untuk menjalani hidup, bukan merencanakan hidup. Sekolah, bekerja dan berkeluarga kupahami sebagai kewajiban; tugasnya orang hidup.

Dengan mindset yang seperti itu: kerja, dapat uang, gugur kewajiban. Begitu juga dengan mengelola penghasilan: dapat bayaran, bayar tagihan, membeli kebutuhan, asal bisa nyisihkan, gugur kewajiban. Buat sebagian orang seperti suamiku: dapat gaji, bayar tagihan, membeli kebutuhan, ada rizki lebih buat beli keinginan, biarpun nggak pernah bisa nyisihkan asal nggak punya hutang, kalau toh hutang pokoknya bisa melunasi, gugur kewajiban.

Kalau tujuannya adalah memperbaiki keuangan, kita harus melihat penghasilan sebagai (salah satu) sarana mencapai satu atau lebih tujuan yang spesifik. Bisa punya rumah, punya mobil, nguliahkan anak dan naik haji bukan tujuan yang spesifik.

“Naruh DP rumah tipe 36 di perumahan umum di Sidoarjo paling lambat di akhir tahun ke-5 pernikahan” baru bisa disebut spesifik.

Apa yang disebut dengan mengelola penghasilan adalah segala macam pengaturan yang memungkinkan tercapainya tujuan itu. Diterapkan ke diriku begitu menikah 2011 dulu jadinya seperti ini:

Aku harus siap dana 75 juta di tahun ke-5. Setelah mantenan, dari uang Jamsostek suami yang cair karena dia mengundurkan diri, kami punya 10 juta di rekening. Kurang 65 juta. Dengan deadline 5 tahun berarti harus nyisihkan 1,1 juta per bulannya. Disimpan di rekening yang bisa ditarik sewaktu-waktu, gampang jebol. Disetor secara manual, mesti kepakai. Dalam 5 tahun harga rumah pasti naik, nilai uang tunai pasti turun. Jadi selain harus disimpan di rekening terpisah dan didebet otomatis dari gaji suami, perlu kucari rekening tabungan yang memastikan nilainya nggak turun. Maka pilihannya: reksadana atau tabungan berjangka.

Berikutnya.

Untuk memastikan 1,1 juta per bulan itu nggak terpakai untuk yang lain-lain yang juga penting tapi bukan DP rumah, aku harus punya dana darurat. Reparasi motor, ganti kacamata yang pecah, biaya dokter dan obat kan nggak bisa ditunda apalagi dihilangkan. Harus ada dana sejuta yang bisa ditarik sewaktu-waktu. Lebih dari sejuta sepertinya kelewat ambisius buatku waktu itu. Kalau uang sejuta ini terpakai untuk keperluan darurat, harus segera dikembalikan supaya jumlahnya selalu sejuta. Maka di bulan pertama nyisihkan 1 juta buat dana darurat dulu. Bulan berikutnya baru mulai program nabung 1,1 juta buat DP rumah.

Berikutnya.

Karena kerjaku freelance, penghasilanku tiap bulan nggak tetap jumlahnya. Uang lembur suami juga nggak tetap. Maka penting sekali membuat anggaran bulanan berdasarkan angka rata-rata penghasilan kami per bulan. Kalau pakai patokan angka terendah, digencet. Kalau pakai angka tertinggi, mbleset. Kalau penghasilan kita nggak sama per bulannya, membuat anggaran bulan X berdasarkan penghasilan yang masuk di bulan X adalah salah satu kesalahan pengelolaan. Jumlah yang bisa kita sisihkan saat dapat banyak akhirnya terpakai buat nutup defisit pada saat dapat sedikit.

Ketemu lah penghasilanku+suami di angka rata-rata 4,5 juta per bulan. Dikurangi tabungan DP rumah 1,1 juta, sisa 3,4 juta. Dikurangi asuransi jiwaku dan suami, sisa 2,7 juta. Dikurangi 500 ribu untuk bantu-bantu orang tua, sisa 2,2 juta. Itu yang harus kucukupkan untuk makan, bensin, listrik, air, pulsa, iuran RT, kebutuhan bulanan, kebutuhan ngajar seperti fotokopi, buwuhan, termasuk nyicil 400 ribu per bulan buat memperpanjang sewa rumah petak tahun depannya.

Berikutnya.

Cukup nggak 2,2 juta untuk meng-cover semua itu? Cukup. Tapi: harus masak tiap hari, kerja bawa bekal makan siang, berhenti njajan dan makan di luar, belanja bulanan nggak lebih dari 200 ribu, nyuci baju sendiri bukan di laundry kiloan, nyambangi mertua di Probolinggo naik bis, berhenti dari Toastmaster Internasional yang iuran keanggotaannya US$5 per bulan tapi dibayar setiap 6 bulan yang tiap selesai meeting kita makan-makan di mal belum tiket speech contest dan trainingnya serta pengorbanan-pengorbanan lain yang kepanjangan aja kalau kutulis di sini semuanya.

Berikutnya.

Sanggup nggak melakukan semua itu? Nggak sanggup.

Maka pilihanku dua:

Pilihan#1: menurunkan tujuan “bisa naruh DP rumah tipe 36 di perumahan umum di Sidoarjo paling lambat di akhir tahun ke-5 pernikahan” jadi “rumah bersubsidi tipe berapapun di pinggiran Gresik yang kebeli dengan DP <50 juta” atau memundurkan deadline-nya jadi 10 tahun misalnya.

Pilihan#2: menambah penghasilan supaya pengelolaan di atas bisa kujalankan dengan sesedikit mungkin pengorbanan. Suka nggak suka harus naikkan tarif mengajar privat atau nambah jam ngajar.

Mau ambil Pilihan#1 atau 2, waktu/tenaga/pikiran/uang betul-betul bekerja untuk mencapai tujuan. Bukan sekedar bisa menabung yang akhirnya selalu jebol sebelum sampai ke angka 3 juta seperti yang terjadi padaku. Nggak ada lagi cerita nggak punya apa-apa setelah 5 tahun berumah-tangga.

Begitu tujuan DP rumah tercapai, tetapkan tujuan berikutnya. Ketemu kendala, atasi. Nggak bisa ngatasi, revisi tujuannya atau ganti tujuannya sekalian. Selalu siap bikin penyesuaian dan perubahan. Kalau tujuan jangka panjang terasa berat, tetapkan tujuan jangka pendek misal menyisihkan 250 ribu per bulan buat biaya lebaran supaya THR bisa dialokasikan untuk men-top up tabungan DP rumah. Kalau itu masih terlalu muluk: nggak usah berusaha nyisihkan penghasilan tapi begitu dapat uang arisan entah itu arisan RT/arisan koperasi/arisan tempat kerja suami/arisan keluarga, langsung pakai untuk kebutuhan yang bukan kebutuhan sehari-hari. Tujuan keuangannya cuma tidak memakai uang arisan buat bayar hutang, makan, kebutuhan bulanan atau bela-beli menyenangkan hati. Itu aja dulu.

Mengelola penghasilan berdasarkan tujuan jangka panjang ngasih rambu dan petunjuk yang sangat jelas tiap kali ada yang harus kita lakukan, yang harus kita rubah, sebelum semuanya terlambat. Aku misalnya, andai pengelolaan seperti ini kuterapkan begitu menikah, ada orang-orang yang harus kujauhi dari dulu-dulu karena high-maintenance. Demi mempertahankan hubungan baik dengan orang-orang ini harus siap biaya yang nggak sedikit kalau diukur dari penghasilanku-suami. Mereka sama sekali nggak bermaksud merugikanku tapi itulah yang terjadi. Juga langsung ketahuan di tahun pertama pernikahan kalau dengan bertahan sebagai guru freelance di kursusan lokal aku nggak bisa mempertahankan status sosial-ekonomi kelas menengah yang kudapat dari bapak setelah bersuami.

Kebanyakan orang nggak punya cara lain selain mengandalkan bekerja dan gaji untuk mapan. Jalur-jalur menuju kemapanan seperti jadi PNS lalu menjabat, berjodoh dengan orang kaya, terpilih jadi wakil rakyat, mendadak ngetop dan kebanjiran order/pekerjaan karena acara TV atau video viral di You Tube kan bukan untuk kebanyakan orang. Jadi belajarlah membuat pilihan yang kita ambil setiap hari dan tiap gajian berdasarkan tujuan keuangan jangka panjang yang kita tetapkan sendiri.

Tanpa terus-menerus menetapkan tujuan yang spesifik dan kerja keras putar otak mengatur penghasilan demi mencapai tujuan-tujuan itu, punya penghasilan tetap akhirnya habis buat nutup biaya hidup, nggak bisa memperbaiki keuangan, meski jumlahnya ditambah.

Langkah#2: Mempertahankan Biaya Hidup Rendah

Ada orang-orang yang jangankan bisa mempertahankan biaya hidup yang rendah, mempertahankan biaya hidupnya di angka yang sama pun nggak bisa. Mau dapat sedikit atau banyak tetap aja lebih besar pasak daripada tiang. Atau: banyak-sedikit pasti habis. Nggak usah berusaha paham. Ini aja yang harus kita tahu:

Makin kita nggak suka dengan aturan/kekangan/batasan, makin sulit juga bikin perencanaan. Makin tergantung kita sama penilaian orang, makin kita nggak punya kendali atas uang kita.

Mempertahankan biaya hidup rendah bukan semata-mata soal kemampuan berhemat. Juga bukan tentang qona’ah; sifat gampang merasa cukup. Menurutku biaya hidup yang lebih rendah dari penghasilan adalah hasil perkawinan antara kemampuan kepemimpinan dan kemampuan berpikir kreatif. Kalau ada yang memahami kemampuan kepemimpinan sebagai bisa memerintah orang lain, tolong dikoreksi dulu. Kepemimpinan adalah satu set skill. Iya, memberi perintah salah satu di antaranya. Skill kepemimpinan yang kumaksud di sini:

  • membuat rencana
  • mengatasi kendala dan masalah yang muncul selama menjalankan rencana (di sebelah sini kemampuan berpikir kreatif main)
  • mengevaluasi hasil pelaksanaan rencana

Anggaran adalah rencana. Mau itu anggaran yang sangat terperinci yang disertai pembukuan setiap receh uang keluar atau anggaran yang sangat longgar modal catatan mental, kita nggak akan bisa memperbaiki keuangan tanpa rutin membuat anggaran setiap bulannya. Titik. Anggaran ini yang ngasih tahu uang kita mau diapakan. Tanpa anggaran, uang nggak punya kendali. Yang aku baru paham: anggaran dibuat bukan untuk sekedar membatasi pengeluaran rutin harian/mingguan/bulanan seperti uang belanja, listrik-air-pulsa, uang bensin, uang jajan anak.

Anggaran dibuat untuk memastikan penghasilan kita bisa membiayai segala sesuatu yang sekiranya perlu untuk kehidupan manusia yang bermartabat di sepanjang hidup kita.

  1. makan layak tiga kali sehari termasuk menjamu tamu
  2. pakaian yang pantas untuk sehari-hari/kerja/bepergian/kondangan
  3. rumah yang kokoh yang jumlah kamarnya cukup sehingga tempat tidur orang tua nggak campur dengan anak-anak, tempat tidur anak laki-laki nggak campur dengan anak perempuan
  4. kendaraan yang bisa diandalkan nggak bolak-balik masuk bengkel atau minimal punya cukup uang untuk bepergian dengan sarana transportasi umum termasuk bepergian ke luar kota
  5. pergi ke dokter dan membeli obat termasuk opname di rumah sakit untuk penyakit-penyakit yang jelas-jelas ada obatnya
  6. merawat dan membesarkan anak menjadi manusia sehat dan kuat
  7. membekali anak dengan kemampuan dan keahlian di bidang yang menjadi keunggulannya untuk kehidupan masa dewasanya
  8. mengadakan pesta pernikahan yang pantas untuk anak terutama anak perempuan
  9. tidak mengandalkan belas kasihan orang demi bisa makan di masa pensiun
  10. mencari nafkah, berkerabat dan bertetangga di tengah-tengah orang-orang yang sepaham dan sederajat dengan kita

Dengan mengingat 10 kebutuhan itu, anggaran jadi alat yang wajib ada. Kita bisa hidup tanpa anggaran. Malah gampang. Begitu dapat gaji bayar semua tagihan, sisanya bagi buat makan, bensin dan apapun yang jadi kebutuhan bulan itu. Ada sisa ya syukur, nggak ada sisa ya sudah yang penting sehat. Masalahnya: dengan cara ini penghasilan bulan itu habis di bulan itu juga. Biaya-biaya yang pasti munculnya tapi nanti-nanti nggak kita hitung.

Yang dimaksud dengan mempertahankan biaya hidup yang rendah adalah kemampuan untuk hidup dari SISA penghasilan SETELAH dikurangi tabungan untuk pengadaan rumah, dana kesehatan, dana pendidikan tinggi dan dana pensiun.

Itu minimal bagi kelas menengah non-PNS. Jadi kitanya yang harus fleksibel menyesuaikan biaya hidup dengan uang sisa nyicil-nyicil kesejahteraan jangka panjang; 5 tahun libur makan daging kecuali di Hari Raya demi bisa nabung buat DP rumah. Jangan dibalik; kesejahteraan jangka panjang yang disuruh fleksibel menyesuaikan dengan biaya hidup; 5 tahun nunda-nunda buka tabungan berjangka buat ngumpulkan DP rumah karena ndulukan smartphone dan paket data.

Dengan pengelolaan “biaya hidup sehari-hari yang harus fleksibel, bukan tujuan jangka panjangnya” kakiku betul-betul diikat ke bumi. Nggak berani pingin macam-macam. Meski malu ngeluarkan iPhone 4.0-ku yang dah retak, cuil, navigation key-nya rusak di sekolah ponakan yang sekolah Islam elit waktu nggantikan adikku lihat presentasi anaknya, selama masih bisa dipakai telepon dan SMS, aku nggak akan ganti smartphone.

Langkah#3: Mencari Uang Tambahan

“Kan, nambah penghasilan juga kan ujung-ujungnya!”

Sabar dulu.

Setelah kita bisa mempertahankan biaya hidup yang rendah –hidup dari sisa— uang receh yang bertebaran di seluruh rumah pun jadi uang tambahan. Jadi yang kumaksud di sini bukan pemasukan rutin.

Yang kumaksud dengan mencari uang tambahan adalah menguangkan yang kita punya atau yang memang rutin kita kerjakan.

Sebelum aku masuk ke contoh, perlu kujabarkan dulu kenapa uang tambahan perlu untuk memperbaiki keuangan.

Hidup dari sisa itu sulit, soro, berat. Kalau gaya hidup hemat itu gampang, bank dan lembaga pembiayaan lain pada bubar, barang/jasa non-primer pada nggak laku, usaha yang memproduksi barang/jasa high-end pada tutup. Intinya adalah: hukum dunia, nafsu manusia dan sistem hidup di jaman kita ini bekerja menentang gaya hidup hemat. Jangan ditanya berapa kali dalam seminggu aku merasa sangat down. Capek aja lah pokoknya. Rasanya pingin lari ke puncak gunung dan hidup dari daun-daunan seperti kambing supaya nggak pusing mikir kebutuhan yang nggak habis-habis. Satu belum ketutup sudah nambah lagi lima. Uang tambahan meringankan beban. Kita jadi lebih tahan. Juga lebih termotivasi untuk bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian.

Efeknya mungkin lebih bersifat psikologis. Pernah nggak ngalami nggak pegang uang sama sekali terus tiba-tiba nemu 3 amplop buwuhan mantenan yang ketlisut beberapa bulan setelah resepsi yang total isinya 250 ribu? Aku pernah. Bisa membayangkan rasanya? Seperti itulah efek uang tambahan. Efek yang nggak akan kita dapat dari uang gaji meski 10 kali lipatnya. Karena uang gaji sudah kita antisipasi jauh-jauh hari. Atau malah sudah habis sebelum terima. Jadi yang harus kita perhatikan di sini bukan jumlahnya tapi cara dapatnya. Karena itu jangan samakan dengan bekerja atau memulai usaha.

Kuulangi lagi yang sudah kutulis di atas:

Menguangkan yang kita punya atau yang rutin kita kerjakan.

Ini konsep mencari uang yang baru kutahu setelah jadi IRT. Dulu aku tahunya: cari uang ya kerja. Yang bisa kucontohkan di sini yang sudah kupraktekkan sendiri adalah menjual barang nganggur dan menyewakan rumah di akhir pekan. Ini yang kumaksud dengan menguangkan yang kita punya. Tapi yang membuatku sangat tertarik adalah menjual produk signature –produk khas kita— lewat akun Instagram dan menjual e-book/program/kursus lewat blog. Yang ada di kepalaku bukan toko online tapi lebih ke:

Menyajikan kerja rutin kita (entah itu karena hobi atau kepepet) sedemikian rupa di Instagram/blog untuk menarik banyak follower lalu menjual satu atau lebih produk yang berkaitan dengan kerja rutin kita itu tadi.

Bingung?

Contoh paling sukses mungkin bisa dilihat di Ratu DIY @baby_dinata yang followernya >70k. Kita pakai contoh yang lebih membumi. Coba ikuti akun Mbak Endah @kazuhirodimas. Mbak Endah ini bisa ngumpulkan belasan ribu follower dari caranya ngatur pemanfaatan ruang dan mendekor rumah tipe 21 sambil jualan stiker, pot lalu rak gantung. Jualan nggak jualan, punya akun Instagram atau nggak, Mbak Endah kan harus tetap putar otak untuk pengaturan ruang dan mendekor rumah mungilnya. Ini yang kumaksud dengan menguangkan yang rutin kita kerjakan.

Soal menjual e-book/program/kursus lewat blog kita lewati aja lah. Belum berani mikir sampai ke sana. Butuh kerja keras. Apalagi di negara kita yang belum akrab dengan produk online. Butuh modal nggak sedikit juga karena resource-nya harus kita bayar dalam dolar Amerika.

Langkah#4: Berinvestasi

Sampailah kita di langkah yang paling sulit sekaligus paling mampu memperbaiki keuangan. Sulit karena keuangan UMR nggak sanggup berinvestasi dalam nominal puluhan juta sementara unit-unit usaha yang bisa ngasih keuntungan/bagi hasil juga pasti nggak mau ngelola investasi “uang receh”.

Kujelaskan dulu apa yang kumaksud dengan investasi di sini.

Tanah dan rumah adalah investasi. Emas juga investasi. Segala bentuk uang keluar yang akan kembali ke kita dalam jumlah yang lebih besar dari yang kita keluarkan tapi tidak segera dan/atau tidak sekaligus adalah investasi. Perawatan kulit dan biaya belanja baju serta kelengkapannya adalah investasi kalau bisa bikin seorang gadis dari kelas bawah dikejar-kejar laki-laki kelas atas untuk diperistri.

Bukan investasi seperti ini yang kumaksud.

Tanah dan emas memang nilainya akan terus naik tapi nggak ngasih pemasukan rutin. Deposito ngasih pemasukan rutin hanya kalau jumlahnya milyaran. Ini juga aku paham baru-baru ini aja:

Seluas apapun tanah, sebanyak apapun rumah dan emas-emasan, kalau kita NGGAK BISA MENCUKUPKAN PEMASUKAN RUTIN UNTUK PENGELUARAN RUTIN DAN PENGELUARAN NON-RUTIN TAPI PASTI, cepat atau lambat semua aset pasti habis terjual.

image

Aku sendiri masih cari-cari skema investasi yang terjangkau keuangan UMR tapi tingkat return-nya cukup tinggi, bisa dijagakno kalau orang Jawa bilang untuk membiayai paling tidak pendidikan tinggi anak dan masa pensiun.

image

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s