4 Pedoman Berinvestasi Bagi Keuangan UMR

Yang bikin tugas-tugas Kelas Matrikulasi Institut Ibu Profesional (IIP) sangat sulit bagiku adalah keyakinan pribadi akan pentingnya perempuan memberdayakan diri dengan punya penghasilan. Kemandirian finansialku pribadi sudah nggak penting sekarang. Makin dikejar, hati makin ciut. Wajahku menghadap ke kemandirian finansial sebagai keluarga, kemandirian finansial rumah-tanggaku. Kerja nggak kerja perempuan baiknya berkontribusi dalam keuangan rumah-tangganya.

Ada 4 kerja yang dari hasil pengamatanku sejak umur belasan tahun bisa dilakukan seorang IRT demi bisa berkontribusi luar biasa dalam hal keuangan:

  1. Mengoperasikan rumah-tangganya dengan biaya <50% penghasilan suami
  2. Menabung dengan cara menyisihkan uang belanja untuk kebutuhan selain belanja
  3. Mencari cara-cara rendah biaya untuk semua yang perlu dibiayai rumah-tangganya seperti pakaian, interior & dekorasi rumah, peralatan rumah-tangga, pendidikan anak, layanan medis & obat-obatan, rekreasi & hiburan, segala macam hajatan dan biaya sosial lain
  4. Mencari uang tambahan dari rumah

Tolong bedakan 4 kerja ini dengan nriman/qona’ah. Yang satu kerja, butuh kemampuan, butuh ikhtiar. Yang satu lagi sifat, bawaan lahir.

Bisa sangat bagus di salah satu dari empat itu aja sudah sangat mempengaruhi keuangan. Yang kuusahakan sejauh ini baru sedikit-sedikit dari empat-empatnya. Nggak ada yang luar biasa jadi nggak ada juga dari yang sudah kulakukan selama ini yang bisa “ngangkat” keuangan rumah tanggaku. But, everything builds over time. Yang harus kupelihara adalah konsistensi melakukan yang sedikit-sedikit itu tadi sambil terus menaikkan tingkat kesulitannya. Hasilnya kita lihat saja nanti. Sekarang dapurku mungkin baru bisa ngendalikan makan dan jajan di luar. Dalam 3 tahun semoga bisa menghasilkan hantaran yang susah dicari tandingannya dan acara makan-makan prasmanan murah-berkesan untuk tetangga, teman dan kerabat.

Aamiin…

Yang sebetulnya ingin kugarap secara serius dalam jangka panjang adalah kerja No.4. Mungkin karena butuh merasa setara dengan teman sekolah/kuliah yang punya penghasilan sendiri dari karir. Tapi pengalaman hidup 42 tahun menempaku untuk fleksibel. Kalau memang dalam beberapa tahun ini kerja No.1 atau No.2 atau No.3 lebih ngasih hasil, ya lebih baik memusatkan energi-waktu-uang di situ.

Atau mungkin juga karena sebab-sebab genetis.

Sejak aku kecil bapakku yang perwira polisi selalu punya usaha sampingan yang dijalankan orang. Mulai dari punya truk dan angkot, pertambangan kapur skala kecil, jual pasir, jual-beli mobil bekas sampai ladang tebu. Aku tahu persis nggak sekali-dua Ayah naruh modal di usaha orang lain. Ayah juga lebih suka merupakan uangnya dengan tanah atau rumah daripada dengan produk keuangan seperti deposito, reksadana atau asuransi.

Meski nggak disuruh atau diajari, akhirnya anaknya tumbuh besar dengan keyakinan bahwa yang harus diupayakan pertama kali adalah penghasilan tetap. Setelah berpenghasilan tetap, jangan merasa kewajiban dah gugur. Meski sedikit, kelola penghasilan tetap tadi demi bisa membiayai usaha sampingan dan/atau investasi. Hanya saja bedanya dengan Ayah, yang paling baik dalam pandanganku adalah berpenghasilan tetap dari keahlian.

Maka:

Begitu punya penghasilan, 800 ribu sebulan di awal 2001 sampai pertengahan 2002, sudah nyisihkan 200 ribu sebulan. Niatku nabung buat berinvestasi. Naruh modal 1 juta ke teman yang mau buka warung pecel di depan rumahnya. Begitu ngajar di kursusan nggak terkenal tahun 2004 dan ada kesempatan naruh modal di cabang baru, kutaruh 1 juta lalu nambah 1,5 juta tanpa pikir panjang. Sepanjang 2007-2011 berusaha ngumpulkan uang untuk buka kursus Bahasa Inggris sendiri. Persis sebelum menikah ditawari teman naruh modal di cabang franchise kursusan Bahasa Inggris yang akan dia kelola. Kutaruh 20 juta. Di tahun ke-2 pernikahan, suami naruh 3 juta di usaha jual-beli temannya.

Nggak ada yang ngasih hasil (kecuali 1 juta dan 1,5 juta yang kutanam di kursusan pertama tempatku ngajar) apalagi menaikkan pendapatan.

Postingan ini bukan tentang bagaimana cari uang tambahan dengan berinvestasi. Aku tahu apa. Tapi bisa lah membagi 4 pelajaran penting tentang berinvestasi yang semoga bisa menghindarkan orang lain dari kesalahan yang kulakukan. Terutama orang-orang yang sama keuangan UMR-nya denganku. Penting sekali untuk tidak melakukan 4 kesalahan di bawah ini.

Kenapa?

Keuangan UMR nggak punya uang nganggur. Untuk bisa berinvestasi harus kuat ngencangkan ikat pinggang dan tega mencekik leher sendiri. Jadi kalau investasi nggak balik, akibatnya bisa langsung memukul kehidupan sehari-hari. Jangan samakan dengan kelas menengah-atas. Kalau toh investasi hilang, yang terpukul saldo rekening bank.

4 Pedoman Berinvestasi Bagi Keuangan UMR

Pelajaran#1: Jangan menaruh modal di usaha yang belum jalan kecuali kalau tujuan kita beramal

Lebih-lebih kalau motif si calon pengusaha memulai usaha adalah untuk menghidupi keluarganya. Silakan kalau mau berinvestasi di usaha model kepepet seperti ini tapi pastikan niat kita beramal, membantu kerabat atau saudara seiman yang sedang kesulitan. Jangan nunggu-nunggu bagi hasilnya.

Ini bukan soal pribadi jujur nggak jujur. Ini soal kedaruratan. Kalau seseorang memulai usaha semata-mata supaya keluarganya bisa makan, begitu usaha itu menghasilkan uang masuk, pasti langsung dibelanjakan buat makan. Jangan kaget kalau modal yang kita tanam akhirnya dah kepakai buat makan bahkan sebelum mendatangkan uang masuk.

Carilah usaha yang sudah berjalan beberapa waktu atau calon pengusaha yang hidupnya dibiayai oleh sumber uang masuk lain; yang keluarganya makan atau nggak makan tidak ditentukan oleh usaha yang jalan aja belum.

Pelajaran#2: Jangan menaruh modal di usaha yang tidak punya pembukuan dan rekening tersendiri

Usaha yang bisa berkembang hanya yang memisahkan antara keuangan usaha dengan keuangan pribadi/rumah-tangga. Meskipun itu usaha kecil rumahan yang omzetnya nggak sampai sejuta sebulan. Baik dalam hal pembukuan maupun dalam hal penyimpanan uang.

Nggak perlu pembukuan yang butuh gelar sarjana akunting untuk bisa baca. Neraca dua kolom yang menunjukkan aliran uang keluar-masuk dah cukup. Juga nggak harus ditunjukkan dengan dua rekening di dua bank yang berbeda. Dua dompet yang terpisah sudah cukup efektif bagi orang-orang yang amanah dan paham prinsip-prinsip dasar keuangan. Jadi ingat selalu pembukuan aja nggak cukup. Meskipun pembukuannya sangat rapi, kalau secara fisik uang usaha nggak dipisah dari uang pribadi, jangan kaget kalau di atas kertas ada hasil, tapi begitu waktunya bagi hasil, uangnya nggak ada.

Seprospektif apapun kelihatannya sebuah investasi, sejujur apapun si pengusaha, jangan pernah menanamkan uang di usaha yang nggak punya pembukuan, yang penanggung-jawabnya nggak mau repot memisahkan penyimpanan uang usaha dari uangnya pribadi terutama uang rumah tangganya.

Pelajaran#3: Hindari berinvestasi di usaha yang modalnya habis untuk yang tidak berupa

Nggak ada investasi yang pasti untung. Yang ada: investasi beresiko rendah. Selain mencari investasi yang resiko ruginya rendah, hal lain yang bisa kita lakukan adalah menghindari usaha yang sebagian besar modal harus dihabiskan untuk membiayai yang tidak berupa. Hindari juga usaha yang nilai aset dan barang modalnya terjun bebas. Yang paling aman usaha jual-beli; modal habis untuk barang dagangan. Contoh: jual-beli motor dan mobil bekas.

Kita pakai contoh kursusan franchise yang dijalankan temanku untuk gambaran tentang usaha yang modalnya habis buat yang tidak berupa.

65% dari modal yang 70-sekian juta terpakai untuk beli hak franchise 5 tahun, kontrak tempat selama 2 tahun, ngecat dan perbaikan kontrakan (banyak yang rusak; atap dapur aja bolong). 35%-nya buat peralatan seperti kursi, whiteboard, AC bekas, rak dan meja front desk. Peralatan ini kerjanya sangat keras, yang makai anak-anak, bisa dibayangkan sendiri gimana rupanya setelah 4 tahun. Begitu usaha tutup, semua uang yang ditaruh untuk tempat, baik itu kontrak, cat maupun perbaikannya, hilang. Begitu juga dengan uang yang keluar untuk beli hak franchise. Ya gimana lagi, 65% dari modal memang nggak berupa. Sementara kondisi peralatan sudah nggak layak jual setelah kerja berat selama 4 tahun.

Pelajaran#4: Jangan berinvestasi sebelum punya dana darurat dan naruh DP rumah.

Ibaratnya gini: kita nggak bisa ngumpulkan emas sebelum perut terisi, badan tertutup kain supaya nggak kedinginan atau disengat teriknya matahari dan punya tempat untuk pulang beristirahat. Pendapatan harus terlebih dahulu dipekerjakan untuk memberikan kehidupan yang layak sebelum dipekerjakan untuk membangun kekayaan.

Kehidupan yang bisa membangun kekayaan adalah kehidupan yang nggak perlu hutang untuk menolong dirinya sendiri. Entah itu karena adanya kebutuhan mendesak yang nggak terduga atau karena aliran uang masuk mendadak berhenti (karena sakit atau kehilangan pekerjaan).

Di jaman modern ini, yang hampir semua harus beli/bayar, buat nggak nahan pipis di tempat umum aja harus bayar, ada-tidaknya dana darurat langsung mempengaruhi kualitas hidup. Kita nggak bisa memastikan suami nggak akan di-PHK, motor nggak akan dicuri, kompor gas nggak akan rusak, atap rumah nggak akan ambles (khususnya yang rumahnya murah, dibangunkan developer, pembeli nggak bisa mengontrol standar kelayakan material yang dipakai). Ketika kita punya uang nganggur yang memang kita siapkan untuk hal-hal darurat seperti ini, memang kita nggak akan jadi kaya atau kelihatan kaya seperti kalau uang nganggur itu kita investasikan (dan untung!) atau buat DP mobil, tapi hidup jadi nggak gampang oleng. Kita nggak dijadikan bola ping-pong oleh keadaan.

Dana darurat memaksimalkan kendali kita atas uang kita.

Juga jangan berharap bisa kaya kalau nggak bisa beli rumah. Ini mungkin nggak berlaku di negara-negara industri maju yang dihitung dalam jangka panjang pun ngontrak rumah/apartemen tetap bisa lebih murah daripada beli (karena faktor pajak, tingginya harga tanah dan tingginya biaya hidup). Karena itu jangan berpikir tentang investasi sebelum bisa menyisihkan penghasilan untuk dana darurat, DP rumah dan cicilannya.

Bisa dapat uang tanpa harus kerja memang sangat menggiurkan. Lebih-lebih bagi keuangan UMR yang tidak disiapkan supaya kelas pekerja bisa menikmati hidup apalagi bisa kaya. Selain setia pada investasi yang beresiko rendah, pastikan dulu keuangan sehari-hari nggak akan limbung kalau investasi kita merugi, yaitu dengan punya dana darurat dan tinggal di rumah sendiri, yang untuk membayar cicilannya nggak bergantung pada bagi hasil dari investasi.

Bukan fotoku. Kucomot dari Pinterest. Yang kulihat di foto ini mengingatkanku untuk mengkonsentrasikan kemampuan berinvestasi di membangun skill dan mengumpulkan barang yang relatif bisa kuuangkan tanpa kerja direct selling.

Mau penghasilan turah-turah atau pun ngepas, investasi itu syarat bagi kemakmuran bersama. Makin makmur sebuah masyarakat, makin tinggi juga tingkat tabungan dan investasinya. Tapi belajar dari semua pengalamanku dengan investasi dan keuangan UMR, menurutku yang paling baik adalah berpikiran terbuka soal investasi ini. Jangan terpaku pada pengertian sempit ‘mengeluarkan sejumlah uang untuk mendatangkan uang yang lebih banyak tanpa bekerja’.

Luaskan pandangan ke segala sesuatu yang akan mendatangkan keuntungan bagi kita dalam satu dan lain cara hanya saja tidak segera saat itu dan/atau tidak sekaligus, dengan sedikit atau tanpa bekerja.

Invest in Yourself

Kalau sudah jelas jalannya seperti aku dan suami gini, apes ping bolak-balik, yang paling menguntungkan adalah berinvestasi ke diri sendiri. Kendalikan keinginan berinvestasi karena tergiur kisah sukses orang/teman/saudara yang untung besar dari investasinya. Jangan berinvestasi hanya karena ingin meniru kisah sukses orang. Jangan menjadikan kisah sukses orang patokan untuk memutuskan berinvestasi ini atau berinvestasi itu. Jangan menelan mentah-mentah janji manis orang yang akan mutar uang kita. Jangan mengandalkan sifat jujur orang lain.

Keputusan berinvestasi haruslah dituntun oleh perencanaan keuangan yang solid di pihak kita, informasi yang cukup tentang investasi yang kita pilih dan rekam-jejak tak bercela di pihak yang menjalankan investasi.

Harus steril dari kembang-kembang seperti pikiran positif, janji manis, prasangka baik, kepepet butuh uang atau pertemanan.

Toh investasi bukan satu-satunya jalan. Kalau selama ini nggak berhasil dengan investasi, masih ada jalan lain menuju uang tambahan:

  • Usaha rumahan
  • Toko rumahan
  • Toko online
  • Membangun follower lalu menyediakan jasa endorse
  • Pekerjaan part-time yang dikerjakan dari rumah
  • Pekerjaan freelance yang dikerjakan dari rumah
  • Penghasilan pasif dari menyewakan tanah/rumah/kamar/bangunan lain, menulis buku, membuat program atau kursus online,

Ada banyak. Yang belum ketulis di daftar di atas, boleh ditambahkan di Comment. Cari kekuatan kita lalu fokuskan energi, waktu dan uang di situ. Itulah yang kulakukan dua tahunan ini.

Berikut adalah pertanyaan-pertanyaan yang menurutku sangat membantu memutuskan haruskah berinvestasi di diri sendiri, di usaha sendiri atau di usaha franchise/usaha milik orang lain/usaha yang dijalankan orang lain:

  • Dalam sejarah hidup kita, apa yang paling teratur mendatangkan uang dan terus berkembang? Gaji/honor/komisi atau usaha/dagang atau dividen/bagi hasil?
  • Dalam sejarah hidup kita, mana yang hasilnya paling kelihatan bagi kekayaan, yang berupa, yang nggak habis bagai asap? Gaji/honor/komisi atau usaha/dagang atau dividen/bagi hasil?
  • Dalam sejarah hidup kita, apa sebab pertama orang datang mencari kita? Jasa yang hanya butuh waktu-tenaga, jasa yang butuh keahlian, barang (buatan sendiri maupun buatan orang) atau uang besar/business insight?

Kalau jawabannya bukan dividen/bagi hasil/uang besar/business insight (jawabannya orang kebanyakan karena investor is a rare breed), maka yang jelas-jelas menguntungkan adalah berinvestasi di diri sendiri. Bisa dengan:

  1. melanjutkan pendidikan
  2. mengambil sertifikasi
  3. menambah dan mengasah skill dengan kursus dan pelatihan
  4. memperluas jaringan kerja
  5. meng-upgrade rumah dan penampilan
  6. membeli peralatan dan aplikasi yang menambah produktifitas dan kualitas kerja
  7. berlangganan layanan yang menambah produktifitas dan kualitas kerja
  8. aktif di organisasi atau komunitas

Delapan yang kusebutkan itu juga berlaku untuk IRT. Bedanya dengan pekerja karir, kalau pekerja karir mengharapkan return berupa kenaikan tarif/honor/gaji atau promosi jabatan, maka yang disebut ‘return’ bagi IRT adalah sanggup menjawab tantangan terbesar rumah-tangganya. Kalau tantangan terbesarnya rumah kecil di lingkungan padat, hasil investasinya mestinya berupa rumah asri yang pengelolaan ruangnya sangat efisien. Kalau anak-anak berkebutuhan khusus, mestinya berupa manusia dewasa yang mandiri dan manfaat. Kalau gaya hidup yang sangat sibuk dan terburu-buru, mestinya berupa pengelolaan waktu yang efisien. Kalau keuangan yang pas-pasan, mestinya ya berupa pengelolaan yang lebih pintar. Setiap rumah tangga punya tantangannya sendiri-sendiri.

Yang ingin kukatakan adalah:

Dalam hidup ini selalu ada yang namanya The Next Best Thing.

image

2 Comments Add yours

  1. Wisnu syita says:

    Memang tak mudah berinvestasi dalam posisi pas2an seperti ini, ada tantangan tersendiri, kuncinya adalah komitmen kita sendiri, jangan goyah, jangan mudah tergoda, ke 4 prinsip yg mb rinda tulis diatas, hampir semua sudah kulakukan, keuangan jadi membaik meski berjalan lambat, tetaplah pada komitmen, hasilnya meski lambat, suatu hari pasti bermanfaat

    1. Rinda Sukma says:

      Aku cari yang agak cepat dikit gitu lho, Mbak. Nggak ada ya.. Memang harus commit, konsisten dan sabar.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s