9 Standar Kerja Dapur Untuk Menghemat Waktu & Uang

Kalau merasa harus berjuang untuk mendapatkan sesuatu, coba cari seseorang yang sepertinya nggak perlu bersusah-payah untuk mendapatkan yang harus kita kejar-kejar itu. Lalu perhatikan kebiasaan dan standarnya. Tiru. Ambil yang bisa kita ambil.

Kalau ingin hasil yang berbeda, kebiasaan dan standar kita harus diganti-rubah dulu. Itu sunnatullah.

Meski bisa menekan uang belanja dari 1,5 jutaan di tahun-tahun pertama menikah ke sekarang 500 ribuan, dapurku bikin lemes:

  • makan masakan yang sama paling nggak 2 hari berturut-turut
  • dalam sebulan seminggunya makan Nasi Dadar dan mi instan
  • masakanku itu-itu aja

Demi kesejahteraan rumah-tanggaku, selama 26 Nopember-25 Desember kemarin menggarap Project Dapur 500k, fokus di kerja dapur, menerapkan tip-tip menghemat waktu masak dan uang belanja yang kukumpulkan dari blog-blog favoritku.

Hasilnya?

Sungguhan menghemat waktu!

Soal hemat uangnya, nggak menculek-culek mata memang. Penghematan terbesar tetap dari hanya membeli yang perlu dan berhenti makan di luar yang sudah kujalani hampir setahun ini. Tapi kalau dilihat dari macam masakan yang bisa kuhasilkan dengan jumlah uang belanja yang sama: luar biasa! Bulan kemarin adalah bulan termakmur dalam sejarah hidup sejak berumah-tangga. Banca’an ping bolak-balik.

Aku sudah merasakan sendiri manfaat dari yang akan kutulis di sini: sembilan standar do-able yang ternyata besar sekali pengaruhnya ke waktu yang kuhabiskan di dapur dan ke upaya menekan nafsu makan-njajan di luar tanpa harus menaikkan anggaran belanja.

9 Standar Kerja Dapur Untuk Menghemat Waktu dan Uang

Standar#1: Organisasi isi kulkas dan pantry

Menyimpan asal rapi ternyata nggak cukup. Yang kita butuhkan sistem penyimpanan yang memangkas waktu mikir harus masak apa dan kumpul-kumpul bahannya.

Yang kulakukan adalah mengelompokkan bahan yang kusimpan di kulkas per masakan.

Kupakai baskom-baskom plastik terbuka yang biasanya jadi wadah nasi berkatan. Satu baskom, satu masakan. Nggak perlu maksa semua bahan untuk masakan itu harus ada di satu baskom kalau memang nggak memungkinkan. Tahu Isi misalnya, yang ada di baskom cukup tahunya, sayurannya di kantong plastik di laci bawah, tepungnya di toples di luar kulkas. Kalau berencana bikin dua macam masakan tahu, kubagi tahunya di dua baskom. Asal tiap baskom bisa jadi reminder masakan-masakan apa yang sudah ada sebagian atau semua bahannya, dengan sekali buka kulkas bisa langsung kuputuskan mau masak apa dan harus belanja apa.

TIP: Hindari menyimpan dalam tas kresek hitam.

Penyimpanan di pantry bisa lebih longgar. Yang penting semua bahan masakan yang nggak bisa atau nggak perlu masuk kulkas seperti sembako, kentang, stok bawang dll terkonsentrasi di satu tempat. Lebih bagus kalau bahan bikin kue sendiri, minuman sendiri, stok sembako sendiri dstnya. Butuh apa-apa tinggal ambil. Ngumpulkan bahan masakan nggak perlu mondar-mandir atau mikir lama gara-gara ingat kalau punya tapi lupa naruh di mana.

Kulkas dan pantry yang terorganisasi memfasilitasi perencanaan menu berdasarkan bahan yang sudah ada.

Standar#2: Selalu browsing resep lalu tulis yang bisa kita masak berdasar bahan yang ada sebelum belanja

Kuusahakan belanja 1-2 kali saja seminggu. Paling nggak dalam kasusku yang hampir nggak pernah keluar rumah, makin jarang belanja, makin sedikit juga uang keluar. Sebelum ini yang kulakukan adalah belanja bahan-bahan murah dalam jumlah banyak sekaligus. Ternyata ada cara yang lebih bagus, yaitu merencanakan mau masak apa buat 3-7 hari ke depan sebelum pergi belanja. Nggak ada lagi bolak-balik ke warung atau membeli yang akhirnya nggak kemasak. Untuk lebih menekan uang keluar, bikin rencana mau masak apa ini selalu kumulai dari bahan yang sudah ada di kulkas atau dapur.

TIP: Ketika lihat bahan acak atau sisa di kulkas, pikirkan masakan yang meng-highlight bahan-bahan itu. Kunyit keriput misalnya, jadi highlight di Nasi Kuning.

Yang baru kulakukan adalah mikir mau masak apa dengan bantuan Cookpad dan situs-situs masak Barat. Mikirnya bukan lagi 5-10 menit sebelum belanja, modal resep yang ada di kepala.

Dua-tiga hari sebelum belanja sudah mulai cari resep untuk bahan yang ada di kulkas atau yang selalu kubeli karena murah seperti sop-sopan.

Browsing resep kulakukan malam sebelum tidur dan setelah shalat Subuh. Intens memang. Nggak berhenti di situ, apa aja yang akan kumasak itu kutulis di kertas lalu kutempel di kulkas. Resep yang kudapat selain dari Cookpad kusalin lalu kutempel di kulkas sekalian.

Ini kerja yang me-wipe out waktu mikir dan pada saat yang sama memastikan yang kumasak nggak itu-itu aja walau belanjaanku tetap itu-itu aja (tolong diingat anggaran belanjaku nggak naik).

Standar#3: Manfaatkan bahan nggak beli atau murah untuk praktek resep baru

Selain karena kerjaku yang lambat, hampir nggak pernah praktek resep baru terutama kue karena bahan-bahannya pasti membengkakkan uang belanja. Kan belum tentu jadinya enak. Di tanganku malah belum tentu jadinya bisa dimakan. Anggaran untuk coba-coba resep harus dipisahkan dari anggaran makan.

Itu sebelum kenal Cookpad. Sebelum tahu ada resep bolu tanpa mentega, tanpa telur, tanpa susu, tanpa mixer, tanpa oven! Sebelum tahu ada olahan timun selain lalapan. Cookpad menyediakan begitu banyak resep untuk bahan masakan murah yang biasa kubeli seperti tahu, rempelo-ati, sayap ayam dan pindang.

Maka yang kulakukan adalah mencoba resep yang bahan-bahannya memang biasa ada di belanjaanku atau yang sebagian bahannya kudapat gratis.

Entah itu dikasih Mbak Dama/saudara/tetangga atau tinggalannya penyewa. Aku jadi sangat terlatih dalam hal ini.

TIP: Dengan membandingkan 12 resep di halaman pertama resep tertentu di Cookpad, kita bisa pilih resep yang paling ekonomis. Perhatikan jumlah hasil jadi resep. Cari yang jadinya nggak terlalu banyak atau bikin separuh resep saja.

Suatu hari lupa menyalakan magic com ke mode Cook. Baru sadar 24 jam kemudian ketika air sudah kering, nasi belum tanak, nggak bisa dimakan. Kuambil sebagai kesempatan praktek bikin Bubur Ayam. Kupakai kuah kaldu sop yang kubekukan, ayam ungkepan di kulkas, sisa kacang dari praktek Sayur Asem Jakarta (kacang panjangnya dikasih Mbak Titik) dan praktek Sambal Bawang gagal (cabe rawitnya juga dikasih Mbak Titik) yang ngendon di freezer beberapa hari. Kunyit untuk kuah kuningnya pun nggak beli.

Standar#4: Selalu proses belanjaan sebelum masuk kulkas

Ini mungkin standar dapur yang merubah hidupku. Daftar menu yang kutempel di kulkas jadi pedomanku berbelanja sekaligus pedoman memproses belanjaan sepulang belanja. Nggak pernah lagi kegelundungkan gitu aja dengan tas kreseknya ke dalam kulkas.

Yang kuusahakan adalah menyimpan belanjaan di kulkas dalam keadaan siap masak.

TIP: Terapkan ini terutama ke masakan-masakan yang bikin wajan dan/atau panci harus naik kompor lebih dari sekali.

Ayam misalnya, langsung kuungkep kalau rencananya digoreng. Ayam Kecap, kusimpan dalam keadaan sudah direbus dengan garam dan bawang putih. Sama dengan rempelo-ati. Ayam Goreng Tepung, sudah didiamkan dengan merica, garam dan perasan jeruk nipis. Tempe sudah kupotong-potong, kusimpan dalam rendaman bumbu. Begitu juga tahu. Daun ketela karet yang rencana kukuah santan, kusimpan dalam keadaan sudah direbus dan dicincang. Pindang yang rencana kubumbu merah sudah digoreng dan dibuang tulangnya. Bawang merah-putih sudah terkupas.

Standar#5: Banyakkan jumlah masakan untuk dibekukan sebagian atau disimpan di kulkas dalam keadaan siap makan atau siap goreng

Ini ide alien di dapur IRT kita yang rata-rata ngebul tiap hari. Aku diam aja lihat suamiku tertawa lihat Sop, Sayur Asem Jakarta dan Manisa Kuah Santan kubekukan. Laki-laki mana tahu masak satu macam masakan sepanci lebih hemat waktu dan biaya dibanding masak dua macam masakan yang bahannya beda, proses pengolahannya beda, meskipun jumlahnya masing-masing cuma seperempat panci.

Dari dulu memang kuhindari masak sedikit-sedikit demi memangkas waktu di dapur. Itu salah satu alasan kumakan masakan yang sama paling nggak 2 hari berturut-turut. Kadang sampai 4 hari. Pokoknya nggak masak sebelum yang ada habis.

Dengan membekukan sebagian masakan bisa ganti-ganti menu tanpa menambah belanjaan, tanpa masak setiap hari, hanya mengulang-ulang dengan jeda.

Yang beku-beku ini kusimpan sampai bahan mentah di kulkas habis kumasak atau kumakan. Ini memastikan nggak ada bahan mentah yang terbuang karena busuk.

TIP: Bekukan dalam wadah tertutup kedap udara. Bagi satu masakan dalam beberapa wadah untuk memastikan yang sudah keluar freezer nggak masuk lagi.

Kujamin rasa nggak berubah dengan dibekukan. Suamiku nggak bisa membedakan masakan hasil pemanasan ulang dan yang baru masak. Sudah kucoba masakan berkuah kaldu maupun santan. Yang belum kucoba cuma sayur tumisan. Untuk menghindari sayur yang kelembek’an karena dipanasi, di proses masak pertama, kompor kumatikan begitu kuah mendidih. Jadi sayurannya masih setengah matang.

TIP: Banyakkan kuah terutama kuah kaldu dan santan lalu bekukan lebihan kuah ini dalam satu wadah tertutup terpisah. Besok-besok bisa diisi dengan sayuran lain, tinggal cemplung-cemplung selagi dipanaskan.

Standar#6: Simpan kaldu untuk masakan non-ayam/daging

Sebelum-sebelum ini air kaldu kuhabiskan untuk masakan ayam dan dagingnya itu sendiri. Kalau kuungkep atau kurebus hanya dengan garam dan bawang putih, kubiarkan di atas kompor sampai airnya hampir kering. Maksudku biar kaldunya meresap. Percaya lah, daging dan ayam masih enak tanpa kungkum di air kaldunya.

Sekarang setiap merencanakan masak ayam atau daging kumasukkan juga 1-2 masakan lain yang bisa memanfaatkan kaldunya.

Kupilih bahan murah seperti tahu. Semur Tahu contohnya, rasanya sangat istimewa kalau dimasak dengan kaldu.

TIP: Rebus ayam dan daging agak lama (standar ibuku untuk daging adalah direbus dua kali dalam 2×24 jam sebelum diolah). Gunakan api kecil sampai air menyusut. Bekukan kaldu daging di cetakan es. Kaldu ayam yang lebih kental biasanya kutaruh di kulkas, nggak kubekukan, kupakai paling lama 3 hari setelahnya.

Standar#7: Suwir, cincang dan potong kecil-kecil

Nggak tahu di mana penjelasan ilmiahnya:

makin kecil potongan bahan masakan, makin banyak jadinya.

Begitu juga sebaliknya. Selain sayap, ayam sekarang selalu kuolah dalam bentuk suwir atau potongan kecil. Daging juga dalam bentuk suwir, potongan kecil tipis atau giling. Pindang tongkol dan salem juga kuolah dalam bentuk suwir. Waktu yang kuhabiskan untuk menyuwir dan memotong-motong terbayar dengan umur masakan yang cukup buat makan 2-4 hari. Lagipula sayuran, buah dan semua bahan mentah lain yang diolah dalam potongan-potongan sekali gigit tampil lebih manis di piring saji dibanding yang ukurannya besar-besar.

TIP: Kecil atau tipiskan potongan ayam, daging dan ikan tapi banyakkan bumbunya.

Standar#8: Turun ke dapur setiap hari

Jangan nunggu lapar, jangan nunggu butuh. Ini yang memastikan yang kumasak nggak itu-itu saja selain (i) mem-browsing resep lalu (ii) menuliskan rencana menu sebelum belanja. Turun ke dapur setiap hari ini yang akhirnya merubah nasibku di hari Minggu: tua di dapur (hari suami di rumah, kadang diinapi keponakan atau kedatangan tamu).

Tapi turun ke dapur di sini bukan untuk makan hari itu. Turun ke dapur setiap hari di sini untuk mencicil pengerjaan rencana menu.

Mungkin harus lebih kujelaskan soal perencanaan menuku.

Isi rencana menuku bukan hari ini makan masakan ini, besok makan masakan itu dan seterusnya. Isinya:

  • Apa saja masakan dan jajanan yang bisa kubuat dari yang sudah ada (sisa belanjaan sebelumnya, dapat dikasih dan tinggalan penyewa) meskipun itu bahan acak remeh-temeh seperti Bubur Kacang Ijo yang kuah santannya dah habis.
  • Apa yang bisa kubuat dari yang ada di pekarangan rumah, yaitu sereh, buah-daun pepaya dan daun ketela karet.
  • Apa yang bisa kubuat dari yang pasti kubeli tiap belanja, yaitu tahu, telur dan sop-sopan.

Jadi pada hakikatnya bahan-bahan di dapurku mutar di situ-situ saja, resepnya yang beda-beda. Soal hari itu aku makan apa tergantung masakan beku apa yang ada di kulkas atau apa yang bahan-bahannya sudah siap di kulkas, yang untuk membuatnya siap saji nggak butuh lebih dari 15 menit, tinggal cemplang-cemplung ke kuah atau minyak panas. Nggak pernah lagi masak dalam keadaan lapar, nggak pernah lagi masak dari nol (belanja lalu kupas-potong-rajang-cuci sambung nguleg/membumbui baru naik kompor), nggak pernah lagi semua yang kumakan hari itu kumasak di hari yang sama.

Kita pakai contoh konkret aja lah biar gamblang. Dikasih tempe dan kentang sama adik ipar. Di rencana menuku jadi Tempe Goreng Tepung, Kering Tempe, Donat Kentang dan Lumpia Kentang. Begitu pulang belanja tempe kuiris-iris korek api. Yang buat Tempe Goreng Tepung langsung kubuat adonan tepungnya sekalian. Goreng secukupnya untuk makan hari itu, sisanya simpan dalam kulkas. Yang buat Kering Tempe kusimpan di kulkas dalam rendaman air berbumbu. Besoknya goreng tempenya sambil bikin isian lumpia kentang. Besoknya lagi baru bikin Kering Tempenya buat makan Nasi kuning dua hari setelahnya. Besoknya bikin Lumpia Kentang, simpan di kulkas, goreng secukupnya tiap mau nyamil. Besoknya bikin Donat Kentang tanpa menunggu Lumpia Kentangnya habis dulu. Tiap-tiap masakan sengaja kubuat agak banyak supaya nggak habis dalam sehari. Dengan bantuan kulkas setiap masakan cukup untuk paling nggak 2 hari.

Kecuali hari belanja (yang bisa menghabiskan 2-4 jam untuk memproses belanjaan sebelum simpan di kulkas), hari-hari berikutnya tetap turun ke dapur tapi nggak lebih dari sejam, menyelesaikan yang ada di rencana menu sedikit-sedikit, dicicil.

TIP: Terapkan 3 standar berikut bersama-sama untuk berhemat besar di waktu: (i) menuliskan rencana menu (ii) memproses belanjaan sebelum disimpan di kulkas (iii) membanyakkan porsi masakan untuk dibekukan atau disimpan di kulkas

Standar#9: Jangan ada yang terbuang

Sedikit lagi aku sampai di level master untuk standar yang satu ini. Mungkin karena sifatku yang anti-mubazir. Mungkin juga karena sangat terlatih mencari jalan keluar. Aku bukan hanya memastikan yang kubeli atau yang dikasih orang nggak sampai terbuang karena busuk atau kadaluwarsa. Yang sudah kemasak pun kupastikan nggak ada yang terbuang walaupun rasanya nggak enak atau malah gagal.

TIP: Bahan-bahan yang jumlah dan macamnya kita punya banyak simpan per kategori. Kategori-kategori yang kita butuhkan untuk satu fungsi yang sama letakkan berdekatan. Baking powder, baking soda, emulsifier, ragi instan, pewarna makanan, essence dan bahan tambahan lainnya kelompokkan di satu tempat. Dekatkan dengan tepung, susu, mentega, coklat blok, keju dll. Tata berdasar tanggal kadaluwarsanya. Atau: semua bahan dari kategori apapun yang sudah dekat tanggal kadaluwarsanya kumpulkan di satu wadah, letakkan dekat kompor atau tempat lain yang terlihat mata setiap hari.

Memastikan yang sudah kemasak nggak ada yang terbuang bisa kita lakukan dengan 2 cara:

  1. Menguasai tipe-tipe masakan “semua” masuk untuk memanfaatkan remah-serpihan dan bahan-bahan sisa. Favoritku: semua yang berbasis adonan tepung seperti rupa-rupa bakwan dan bolu, oseng-oseng seperti Mi Goreng dan Nasi Goreng. Yang ingin kukuasai: Fritatta dan Cassarole.
  2. Merubah masakan yang nggak habis, yang gagal atau yang nggak enak jadi masakan lain. Contoh epik mungkin hasil praktek Tempe Bacemku. Begitu jadi, dimakan gitu aja, nggak enak. Besoknya kugoreng, masih nggak enak. Besoknya kupanggang lalu kutusuk sate, tetap nggak enak. Akhirnya besoknya kuremas-remas jadi butiran-butiran kecil lalu kutumis dengan bumbu tumis andalan. Baru kemakan. Setelah beberapa hari masih ada sisa sedikit. Kucemplungkan telur. Kudadar. Tamat.
IMG_8139
Pepaya kuning dari pekarangan yang nggak laku karena nggak manis dan layu karena berhari-hari diam di kulkas dalam keadaan terkupas-terpotong-potong: haluskan dengan garpu, diamkan dengan gula 15-30 menit, siram air lalu kucur dengan perasan jeruk nipis. Jadi Air Pepaya. Tamat.

Setiap dapur punya rahasia. Dapurnya IRT yang masakannya itu-itu aja sekalipun. Yang punya rahasia dapur yang sekiranya bermanfaat untuk mereka yang harus jungkir-balik demi bisa masak enak atau demi bisa menghemat uang belanja tolong share di comment. Nggak sedikit yang datang ke blogku ini karena merasa menjadi IRT, harus bertanggung-jawab atas pekerjaan rumah-tangga dan mengatur uang belanja sulit 5-i. Suliiiiit. Seperti aku sendiri yang sampai sekarang nggak bisa bikin anakku makan. Yang bisa Mbak Dama. Oh, well..

image

8 Comments Add yours

  1. Array says:

    Saya save postingannya, Mbak. Inspiratif sekali. Makasiiiih 🙂

    1. Rinda Sukma says:

      Sama-sama, Mbak Array. Aku senang sekali tiap ada yang merasa dapat manfaat dari tulisanku (yang makin hari makin panjang ini). Kutunggu kabar hasil prakteknya ya, Mbak. Mungkin ada yang harus kurevisi..

  2. Alma Wahdie says:

    Bagian ngabisin belanjaan baeu belanja lagi udah jadi kebiasaanku, Mbak.

    Tinggal bagian merencanakan menu masakan ini nih. Siiip deh postingannya 😉

    Bismillah praktek. Yosh!

    1. Rinda Sukma says:

      Sip! Alma pasti bisa!

      Aku mulai agak menyesal sekarang kenapa nggak belajar masak, nggak serius belajar keuangan, nggak belajar running a house secara mendalam sejak gadis dulu. Karena ternyata menguasai semua itu nggak akan rugi bahkan meskipun kita nggak dibayar..

  3. di rumah saya, paling sering ada nasi sisa. Setelah berburu resep ternyata nasi sisa bisa dibuat kudapan yaitu apem, cireng, bahkan pempek dari nasi sisa dengan isian apa saja yang ada dikulkas. Ada udang ya diisi udang, ada kates muda juga oke untuk isian.
    Maksih untuk tulisannya, mba sangat menginspirasi…

    1. Rinda Sukma says:

      Iya kah, Mbak Anit?? Aku baru tahu kalau nasi sisa bisa jadi macam-macam penganan. Aku tahunya cuma Nasi Goreng sama Bakwan Nasi yang diajarkan Mbak Endah Kazuhirodimas di Instagram. Lihat di Cookpad kah, Mbak?

  4. rizqillahzaen says:

    Aq praktek masak tiap hari mbak. Gak mudah, tp gk bs bilang sulit klo punya goal dapur 500k yeayyyyyy!!!! Dikit2 tak rapiin. Tengkiyu………….

  5. rizqillahzaen says:

    Sudah kupraktekkan yg masak tiap hari mabk. Susah memang tp gak bs bilang sulit klo punya goal dapur 500k. Masih ngoprek sana sini. Tengkyu……!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s