6 Prinsip Menabung Efektif

Yang terus-terusan menabung tapi uangnya nggak pernah bisa ngumpul, ngacung?

Aku cari teman.

Capek kan? I’m a saver. Sejak belum kerja pun, kalau dikasih uang Ayah atau saudara, kusimpan. Herannya, meski selalu bisa menyisihkan sebagian dari uang yang kudapat, nggak pernah bisa ngumpul. Makin sulit setelah berumah-tangga. Awal bulan nyisihkan, akhir bulan terpakai. Bulan ini nyisihkan, bulan depan terpakai. Sebelum kita sampai di titik putus asa lalu menyerah dan memutuskan hidup bagai batang pisang kintir di kali yang penting sehat uang bisa dicari, mari kita review beberapa prinsip menabung dulu. Menyisihkan sebagian dari penghasilan itu hukumnya wajib begitu berumah-tangga.

Prinsip#1: Sisihkan dulu baru belanjakan

Jangan menunggu sisa gaji di akhir bulan untuk ditabungkan. Kalau masih lajang aja penghasilan nggak pernah bisa nyisa apalagi setelah berumah-tangga? Biaya yang harus kita tanggung bertambah secara berpangkat setelah berumah-tangga; ngontrak rumah, melahirkan, motor rusak, genteng bocor dan sebuku telepon jadul biaya lain. Yang harus dilatih adalah menyisihkan sebagian gaji begitu terima lalu hidup dari sisanya.

Ini bukan soal berapa penghasilan kita. Gini aja lah gampangnya: Saat ini suami kerja dengan gaji 3 juta sebulan. Tanpa geledhek tanpa mendung suami di-PHK. Langsung dapat pekerjaan lain tapi gajinya 2 juta. Nggak ada pilihan yang lebih baik sementara biaya hidup keluar terus jadi pekerjaan itu diambil juga dengan terpaksa. Apa bulan depan ada yang mati gara-gara penghasilan berkurang sepertiga? Secara alamiah manusia akan menyesuaikan diri. Apa bedanya dengan bergaji 3 juta lalu sejutanya buat ditabung? Yang satu melakukannya dengan sengaja demi memperbaiki keadaan, yang satu dipaksa keadaan demi bertahan hidup. Ini soal keberanian membuat pilihan.

Mulai lah dari jumlah yang kecil tapi butuh komitmen jangka panjang misalnya 100 ribu per bulan untuk ditransfer ke rekening tabungan berjangka 10 tahun. Setelah setahun atau mungkin kurang dari itu kita bahkan nggak sadar penghasilan kita nggak utuh, minus 100 ribu. Setelah 3 tahun atau mungkin kurang dari itu kita bahkan nggak ingat punya tabungan berjangka.

Aturan Emas: Jangan membelanjakan gaji –untuk belanja bulanan sekalipun– sebelum bikin anggaran tertulis yang meliputi (i) semua setoran tabungan, (ii) semua tagihan di bulan itu dan (iii) semua biaya yang harus kita tutup di bulan itu.

Prinsip#2: Anggaran rumah-tangga sudah memperhitungkan semua biaya yang sifatnya pasti

Sebelum membuat anggaran rumah-tangga, kita harus punya daftar semua pengeluaran yang sifatnya pasti dalam 5 kategori berikut: harian, mingguan, bulanan, tahunan, di atas 1 tahun. Yang hidup dari gaji cenderung hanya menghitung biaya yang keluarnya rutin tiap hari/minggu/bulan seperti makan, bensin, tagihan listrik & air. Tiga macam pengeluaran ini biasanya luput dari perhitungan:

  1. Pengeluaran setahun satu sampai beberapa kali seperti pajak
  2. Pengeluaran banyak kali dalam setahun tapi nggak bisa dipastikan kapannya dan besarnya seperti buwuh
  3. Pengeluaran satu sampai beberapa kali seumur hidup seperti mantu

Coba lah mencatat semua uang keluar paling sedikit selama 3 bulan berturut-turut. Pasti kaget-kaget sendiri. Di play groupnya Azka pernah dalam sebulan sampai enam pesta ultah. Adik iparku harus nyiapkan enam kado yang nggak mungkin aja satu sepuluh ribuan. Kakak iparku tinggal di lingkungan saudara yang tiap bulan gantian bikin slametan. Tiap ada yang slametan harus nyumbang jajan atau air mineral. Aku sendiri, hampir tiap bulan ada perbaikan kecil seperti ganti lampu/keran/gagang pintu/pipa air. Tanpa memperhitungkan biaya-biaya ini, meski kecil, anggaran yang kita buat pasti keteteran, pasti defisit. Ke mana lagi kalau bukan nithili tabungan?

Pastikan kita memasukkan semua biaya yang sifatnya pasti walaupun nggak rutin tiap hari/bulan dalam anggaran belanja rumah-tangga supaya tabungan nggak bolak-balik jebol. Lebih baik menabung sedikit tapi terus bertambah daripada menabung banyak tapi nggak nambah-nambah. Bahkan ketika dengan cara mencicil sekalipun gaji nggak cukup untuk menanggung semua pengeluaran di daftar kita, punya gambaran utuh-tertulis akan s-e-m-u-a biaya yang jadi kewajiban rumah tangga kita menyulitkan membelanjakan uang tanpa perhitungan. Dapat rizki nomplok seperti warisan nggak lantas lepas kendali beli ini-itu karena alam bawah sadar akan mengingatkan dana DP rumah yang nggak ketutup oleh gaji.

Aturan Emas: Gaji bulan ini bukan cuma buat kebutuhan bulan ini. Dia harus ikut menanggung biaya di bulan-bulan lain yang bisa kita pastikan datangnya yang nggak bisa ditanggung sendirian oleh gaji di bulan ketika biaya itu harus kita tutup.

Prinsip#3: Pisah rekening tabungan dari rekening gaji

Kalau hanya memperhitungkan biaya pasti harian-mingguan-bulanan, aku bisa bikin anggaran belanja + allowance orang tua + setoran asuransi + cicilan hutang dengan total 5 juta lebih sedikit. Jadi andai gaji suami plus uang lembur dapat 6 juta, yang ditarik hanya 5 juta lebih sedikit itu tadi, sisanya yang sejuta kurang sedikit tetap di rekening gaji. Maksudnya buat ditabung. Apa saldonya nambah terus? Nggak. Adaaa aja. Uang bensin kurang, tarik; uang belanja kurang, tarik; paket data habis, tarik; saudara datang, tarik.

Pertama, anggaran yang kubuat terlalu mepet, nggak memperhitungkan biaya sosial dan pelayanan kesehatan mengingat Rafi punya alergi yang butuh penanganan spesialis anak.

Kedua, karena tinggal ke ATM, aku-suami cenderung menggampangkan. Kita merasa itu uang-uang kita sendiri ini, nggak hutang, nggak nyolong. Mengurangi tabungan terasa jadi lebih masuk akal ketika demi kesejahteraan keluarga yang seharusnya kami lakukan adalah mengurangi bepergian dengan mobil, mengurangi jam online yang nggak produktif, lebih kreatif dalam menjamu saudara yang berkunjung sekaligus menyiapkan buah tangannya, nggak menggunakan uang belanja untuk selain makan dan seterusnya.

Jadi bagi mereka yang gajinya ditransfer, penting sekali memisahkan rekening tabungan dari rekening gaji. Buka rekening lain di bank yang sama untuk memanfaatkan layanan auto debet, tanpa ATM. Ini berlaku umum: manusia lebih berat membelanjakan uang tunai daripada membelanjakan kartu kredit. Mestinya ada penjelasan ilmiahnya. Sama juga: kita lebih enteng melepas uang yang nggak mampir ke tangan kita. Yang gajinya diserahkan tunai, cari cara menyisihkan sebagian gaji buat tabungan begitu gajian. Masih jadi sekretaris dulu aku ambil arisan yang dikoordinasi kakak teman kerja. Begitu terima gaji, uang arisan langsung kutitipkan teman kerjaku itu, nggak sampai ikut aku pulang.

Aturan Emas: Dalam anggaran bulanan selalu siapkan dana untuk biaya yang keluarnya tidak rutin-tidak tetap setiap hari/minggu/bulan tapi dalam setahun pasti ada. Khususnya yang dalam setahun berkali-kali (contoh: biaya buwuh). Simpan dana ini di rekening dana talangan, tarik bila dibutuhkan. Pisahkan semua tabungan khususnya yang disiapkan untuk kebutuhan sekali sampai beberapa kali dalam seumur hidup (contoh: dana DP rumah) dari rekening gaji dan rekening dana talangan (di Instagram kusebut Rekening Kas Rumah Tangga).

Prinsip#4: Menabung untuk tujuan keuangan yang spesifik

Suatu hari aku, suami dan keluarganya pingin jalan-jalan. Pergi lah gitu aja kami naik mobil. Setelah sejam nyusur jalan tanpa arah tanpa tujuan Bapak yang tua dan lemah karena stroke mengeluh capek dan panas. Ibu yang juga tua dan lemah minta pulang. Senang nggak, capek iya.

Jalan-jalan yang hasilnya cuma capek seperti itu sebetulnya bisa dihindari. Cukup dengan melakukan satu langkah ini: sebelum berangkat tentukan dulu mau jalan-jalan ke mana dan mau ngapain. Ingat bahwa tujuan utamanya adalah menyenangkan Bapak-Ibu. Ke mana dan ngapainnya ya yang memastikan Bapak-Ibu senang. Apa mau putar-putar kota aja, bernostalgia keliling ke tempat-tempat penting di masa lalunya Bapak-Ibu? Apa mau berhenti makan? Atau beli makanan kesukaannya Bapak-Ibu buat dimakan di rumah? Kalau mau jalan-jalan ke luar area kota apa bisa perjalanan pulang-perginya nggak makan lebih dari 1 jam mengingat kondisi Bapak-Ibu?

Sembari menetapkan mau ke mana dan mau ngapain ini secara nggak langsung memperhitungkan faktor-faktor yang bisa mengagalkan pencapaian tujuan menyenangkan Bapak-Ibu tadi. Begitu juga dengan menabung. Menabung buat apa: buat pajak mobil yang jatuh tempo 6 bulan lagi supaya nggak bingung cari hutangan pas jatuh tempo nanti? Buat naruh DP rumah paling lama 3 tahun lagi sebelum si Kakak masuk sekolah karena setelah anak sekolah menabung pasti jadi makin sulit? Atau buat modal usaha? Dari situ kita tahu berapa yang harus kita sisihkan dari gaji dan baiknya disimpan di mana. Dana pajak mobil yang harus ngumpul dalam 6 bulan nggak perlu buka rekening baru di bank, buat DP rumah dan modal usaha yang butuh tahunan ngumpulkannya baiknya taruh di tabungan emas supaya nilainya nggak berkurang karena inflasi atau di tabungan berjangka yang nggak bisa kita tarik semau kita dan seterusnya.

Bukan cuma itu, menetapkan satu tujuan spesifik untuk setiap upaya menyisihkan penghasilan juga memastikan tabungan nggak terpakai untuk yang bukan tujuannya. Ketika kita tahu 300 ribu yang kita sisihkan tiap bulan ini buat pajak mobil yang harus kita bayar 6 bulan lagi, mau makai buat beli oven pasti mikir, “Kalau ini kupakai lantas pajak mobil harus diambilkan dari uang apa???” Jadi relatif lebih berat untuk butuh, tarik, butuh, tarik, butuh, tarik. Kita “dipaksa” memprioritas-ulang kebutuhan paling nggak sampai dana pajak mobil ngumpul. Baking-nya dengan wajan Teflon dulu sampai pajak ketutup.

Jadi ini mungkin prinsip menabung yang paling pengaruh ke bisa ngumpul-nggaknya uang. Ketika kita menabung hanya karena terbiasa dan suka menabung, meski selalu punya uang di rekening, cenderung tidak memperbaiki keuangan.

Aturan Emas: Satu rekening hanya untuk satu tujuan keuangan. Rekening di sini bukan cuma berarti rekening tabungan di bank. Misal: dana DP rumah di tabungan emas, dana beli mobil di tabungan berjangka 1-3 tahun, dana pensiun di asuransi jiwa, dana pendidikan tinggi di asuransi pendidikan (atau tanah sawah), dana Lebaran di simpanan sukarela koperasi dan seterusnya.

Prinsip#5: Siapkan dana darurat

Ini yang aku baru tahu. Aku sendiri heran kenapa nggak kepikiran dari dulu-dulu.

Langsung, singkat dan padat: gimana kita bisa berharap tabungan bisa ngumpul sampai banyak kalau kita nggak punya dana khusus untuk keadaan darurat yang nggak bisa kita tunda apalagi hilangkan?

Selama 7 tahun menikah, nggak terhitung berapa kali Mioku akinya mendadak mati, bannya mendadak pecah. Kalau nggak diganti, motor nggak bisa dipakai, aku-suami nggak bisa kerja. Suami kejatuhan barang berat di kepalanya. Nggak sampai pingsan tapi takut setengah mati. Kubawa ke RS untuk di-scan biar tenang hatinya. Biayanya 700 ribuan dan nggak ditanggung perusahaan karena kami nggak pakai BPJS. Bapak yang pensiun tanpa penghasilan kena stroke dan harus opname. Setiap kali Rafi harus ke spesialis anak karena alerginya harus siap 400-500 ribu belum bensinnya dan sederet panjang keadaan darurat lain yang butuh biaya.

Aku nggak mencatat pengeluaran-pengeluaran darurat seperti ini tapi kalau direkap dalam setahun, terjawab sudah kenapa usaha kerasku menabung bak mengisi ember bolong-bolong.

Dana darurat ini harus ada. Nggak cuma itu: menabung untuk dana darurat harus didulukan sebelum kita menabung buat yang lain. Masih ada lagi: jangan dipakai untuk yang tidak darurat. Tapi yang paling penting: begitu dana darurat terpakai, atur ulang semua program menabung demi memulihkan dana darurat kembali ke angka semula. Jadi dana darurat ini jumlahnya selalu tetap. Empat itu yang akan memastikan tabungan nggak bolak-balik jebol sebelum waktunya.

Soal berapa yang harus kita siapkan untuk dana darurat, saran ahli keuangan:

Dana darurat = 6 sampai 12 x biaya hidup per bulan

Saran ini didasarkan pada situasi terburuk yaitu kehilangan penghasilan karena kehilangan pekerjaan atau pencari nafkah meninggal dunia. Tenggang 6-12 bulan itu dihitung sebagai waktu untuk mendapatkan penghasilan baru. Dave Ramsey menyarankan 3-6 bulan gaji.

Meski omongan tentang dana darurat ini kutebalkan dan kugarisbawahi sendiri, jujur belum bisa kupraktekkan. Aku merasa sangat kesulitan.

Kita hidup di masyarakat yang menjunjung tinggi nilai-nilai sosial, yang asing sama asuransi dan dana pensiun mandiri. Biaya sosial kita sangat besar, yang kita hitung sebagai keluarga bukan cuma diri sendiri-pasangan-anak tapi mencakup semua keturunannya kakek-nenek. Hajatan kelas gang setahun sekali seperti yasinan atau arisan paling nggak buat 25 orang. Itu belum ultah, syukuran berangkat umrah/haji, mantu, lahiran, tahlilan dan sebagainya. Jadi aku nggak mau membebani diri sendiri. Prinsip dana daruratnya aja yang kuambil, angkanya nggak.

Berikut jalan tengahku:

Buka rekening dana talangan yang terpisah dari rekening gaji dan dari rekening tabungan. Kunamakan rekening dana talangan karena tugasnya menutup kebutuhan darurat seperti berobat + kebutuhan darurat perbaikan kendaraan dan peralatan rumah-tangga yang kita tidak bisa hidup tanpanya + perbaikan kecil rumah seperti ganti lampu atau engsel pintu + iuran-iuran yang sifatnya wajib dan jumlahnya besar seperti iuran paving jalan perumahan + biaya sosial. Semua kebutuhan yang tidak rutin tidak tetap tapi nggak bisa kutunda atau kuhindari kuserahkan ke rekening dana talangan ini. Jadi pemahaman daruratnya kuluaskan sendiri.

Berapa yang harus kita siapkan untuk dana talangan bagiku tergantung tingkat penghasilan kita dan sebanyak apa pengeluaran darurat kita. Yang penghasilannya di bawah 3 juta sebulan baiknya nggak terlalu ambisius. Bisa punya dana talangan 500 ribu menurutku sudah hebat. Yang paling baik adalah merekap pengeluaran darurat kita selama setahun. Kalau itu terlalu banyak, pakai saja angka tertinggi pengeluaran darurat yang pernah kita tanggung. Dalam kasusku selama 7 tahun menikah: 2,5 juta. Jadi dana talangan 3 juta sudah sangat membantu rumah-tanggaku.

Aturan Emas: Orang tua bukan Dana Darurat. Rumah yang kita tinggali juga bukan Dana Darurat. Dana Darurat harus diambilkan dari penghasilan. Kalau nggak cukup? Jawabannya cuma tiga: kalau bukan gaya hidup kita yang harus turun atau harta-benda harus dikurangi ya berarti penghasilan yang harus naik.

Prinsip#6: Manfaatkan “rekening-rekening” informal untuk menabung

Ini prinsip menabung yang baru kucoba setelah pindah ke Pacet. Sepertinya sangat efektif untuk menyisihkan pemasukan sampingan yang jumlahnya kecil, nggak tetap dan nggak pasti.

Setelah berhenti ngajar aku masih mendatangkan uang tapi jumlahnya kecil, rata-rata di bawah 500 ribu, belum tentu tiap bulan dapat. Pengalamanku mengajarkan uang masuk kecil-nggak-tetap biasanya nggak jadi apa-apa, cenderung habis untuk acara “blow-out”; efek dari harus mengencangkan ikat pinggang karena gaji suami yang di atas kertas sudah habis bahkan sebelum uangnya sampai di tangan kita.

Setelah hampir 7 tahun berumah-tangga aku sudah ada dalam posisi di mana uang receh yang kukumpulkan dari kembalian, dari suami, dari yang berceceran di sepenjuru rumah bisa jadi lauk seminggu. Prinsip pemanfaatan uang receh ini kuterapkan ke uang masuk <500 ribu yang nggak bisa kupastikan datangnya itu: kumpulkan dulu dengan catatan jangan dikumpulkan di dompet, jangan dikumpulkan di rekening ber-ATM. Karena itu rekening di sub-judul kutulis dalam tanda kutip. Lebih bagus kalau uangnya nggak lewat tangan kita. Kujelaskan dengan contoh aja biar gamblang.

Contoh#1: Aku kan tinggal di kawasan wisata. Rumah kusewakan di akhir pekan. Nggak laris-manis. Rata-rata dalam sebulan sehari disewa. Itu artinya uang masuk 500-800 ribu kotor; belum dikurangi bagi hasil dengan Pak Kamto yang mendatangkan penyewa, upah Mbak Dama membersihkan rumah setelah tamu check-out, biaya kamar hotelku (kalau serumah disewa aku harus ngungsi ke hotel melati dekat rumah), potong rumput dan laundry. Kalau uang itu aku yang pegang, berani taruhan pasti habis paling lama 2 minggu setelah terima. Kemungkinan besar buat makan, paket data dan jalan-jalan. Jadi apa yang kulakukan? Uang kukumpulkan di Pak Kamto. Setelah setahun baru kupecah. Karena sekali dapat di atas 2 juta, secara otomatis terpakai bukan buat makan, paket data dan jalan-jalan tapi untuk kebutuhan-kebutuhan besar seperti uang kas untuk perawatan rumah, beli matras, sangu umrah dan biaya pengesahan pengadilan adopsi Rafi.

Contoh#2: Waktu masih aktif jualan di Shopee, uang hasil penjualan ditransfer secara otomatis ke rekeningku 3 hari setelah pembeli mengkonfirmasi barang diterima. Waktu itu uang nggak bisa ngumpul di rekening karena rekeningku itu ber-ATM. Sekarang Shopee sudah merubah pengaturannya untuk transfer uang dari pembeli ini. Tidak lagi secara otomatis. Kita harus minta secara manual. Kalau kita nggak minta maka sama Shopee uang hasil penjualan disimpan di Dompet Shopee. It’s a great arrangement! Ini salah satu alasanku tetap mempertahankan akun tokoku di Shopee. Begitu modal dan barangnya ada aku pingin jualan lagi. Meski sebulan omset kita <100 ribu, kalau kita kumpulkan di Dompet Shopee sampai setahun, bisa buat kebutuhan selain belanja sehari-hari.

Contoh#3: Ini mungkin “rekening” tabungan yang adanya cuma di kampung. Kutaruh di sini untuk ngasih gambaran lebih luas tentang apa yang kumaksud dengan “rekening informal”. Tiap kali ada tetangga hajatan, bulekku akan menawarkan “setoran” berupa kebutuhan hajatan ke yang punya hajat. Bisa beras, daging, ayam atau telur; tergantung kesepakatan. Nah, “setoran” ini akan ditarik kalau bulekku punya hajatan. Jadi kalau setorannya daging 2 kg, nariknya juga daging 2 kg, meskipun itu 10 tahun kemudian ketika harga daging sudah naik hampir 200%. Ini cara Lek Ni menabung untuk dana mantu anak ragilnya.

Contoh#4: Kalau nggak punya akses untuk “rekening-rekening” yang kusebut di atas, masih ada arisan dan koperasi. Cari arisan yang tujuannya bukan mempererat tali kasih-sayang tapi memang buat nabung. Arisan nabung ini biasanya nggak punya pertemuan tatap muka, pesertanya mungkin nggak saling kenal dan bandar/kolektor megang peran kunci. Jadi sebaiknya cari di lingkungan tetangga dan kerja untuk mengurangi resiko uang kita dibawa lari. Yang paling aman yang pesertanya sesama IRT, jumlah tarikannya kecil dan tarikannya harian/mingguan. Ini orang-orang yang nggak diakomodasi oleh bank jadi ikut arisan memang niat buat nabung. Yang kerja di perusahaan kemungkinan besar jadi anggota koperasi. Manfaatkan rekening kita di koperasi dengan terus menambah saldo simpanan sukarela.

Aturan Emas: Salurkan satu sumber uang masuk kecil-nggak tetap-nggak pasti ke satu “rekening” informal.

Ketika semua cara nabung gagal, fokus lah di prinsip menabung yang terakhir. Hampir setiap bulan aku bisa menyisihkan paling nggak 300 ribu dari uang gaji. Uang ini nggak pernah bisa ngumpul. Umurnya nggak bisa lebih dari 3 bulan. Yang bisa ngumpul justru yang “setorannya” sedikit-sedikit: arisan 20 ribuan per minggu yang kutitipkan Mbak Dama dan 250 ribuan per bulan di Pak Kamto.

Capek gali saldo tutup saldo tabungan sepertiku? Then, Let’s do this! Kita lihat hasilnya setelah setahun.

image

2 thoughts on “6 Prinsip Menabung Efektif

    1. Buka akun di Shopee mestinya nggak sulit. Seingatku masukkan alamat hanya saat sign-up, saat buka akun. Tapi aku buka akun memang sudah 2 tahun lalu. Shopee punya banyak peraturan baru. Coba kutanyakan ke teman yang baru buka toko Shopee.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s