No Spending Freeze: Skill-nya IRT

Secara keuangan ada dua tipe kepribadian di dunia ini: spender dan saver. Satu suka membelanjakan uangnya, yang satu suka menyimpan uangnya.

Kemampuan menyimpan uang seorang saver salah satunya ada di kemampuan memaksimalkan yang sudah ada. Bisa jadi karena uangnya memang nggak ada tapi untuk orang-orang berkepribadian saver seringnya karena mereka lebih mendulukan kebutuhan atau tujuan yang biayanya besar.

Di postingan ini akan kuceritakan salah satu project Ngirit Enterprise untuk ngasih gambaran lebih konkret tentang tidak membelanjakan uang yang kalau dilakukan secara terus-menerus bisa memperbesar porsi yang bisa kita sisihkan dari gaji suami.

Solusi Wadah Pringles

Aku ngoleksi barang-barang bekas nggak terpakai yang sama kebanyakan orang mungkin dibuang. Dua yang paling banyak jumlahnya: kertas dan wadah. Karena rumah yang kutinggali sudah kecil disewakan pula, koleksi sampah dan peralatan kerajinan ala kadarnya seperti gunting dan selotip bolak-balik kusimpan di kardus dan container plastik tertutup lalu kutata di garasi terbuka samping rumah.

IMG_6122

Memang ada beberapa barang dari garasi terbuka itu yang sudah menghilang sebelumnya. Kejadian barang hilang yang terakhir yang bikin hampir nangis; gunting paling bagus, selotip bolak-balik dan isolasi yang masih 99% yang kusimpan di kardus amblast. Sadarnya pas lagi butuh! Gimana nggak bikin mata mbrabak. Butuh selotip bolak-balik di Pacet ya harus ke Indomaret, jalan kaki pulang-pergi 1 km. Berangkat jalannya turun, pulang nanjak. Bisa naik ojek yang masih tetangga tapi ongkos ngojeknya lebih mahal daripada harga selotipnya. Demi menghindari nangis berok-berok di kemudian hari, kuputuskan memasukkan koleksi sampahku ke kamar belakang.

Setelah perabotannya ditata-ulang, koleksiku ku-declutter untuk ngurangi jumlahnya, bisa juga koleksi sampahku masuk meski kamar yang kufungsikan sebagai gudang itu jadi makin sesak. Semua koleksi kertas masuk container plastik tertutup lalu kutumpuk di satu sisi tembok. Peralatan dan koleksi non kertas kutata di meja. Supaya meja bisa buat kerja, nggak penuh barang, mejanya harus ber-rak.

Orang berkepribadian spender mungkin langsung beli rak. Biar lebih hemat beli rak plastik murah seperti rak bumbu dapur. Kurasa kalau waktu itu uangnya ada aku juga akan beli rak tapi bukan rak murah plastik. Rak bagus sekalian atau rak tempel tembok. Kuhitung sebagai investasi; barang modal buka toko rumahan suatu hari nanti. Kalau dipenuhi rak, gudang bisa buat majang dagangan.

Pikiran kusetel di mode Basic. Rak kan cuma butuh permukaan dan penyangga. Di sini lah salah satu keuntungan punya barang sedikit; kita jadi tahu semua barang yang kita punya termasuk lempengan kayu bekas dipan dapat nemu di gudang di rumah ibuku. Untuk penyangganya langsung kepikiran kaleng biskuit yang relatif kokoh. Sayangnya cuma ada satu. Mikir-mikir lagi, ingat wadah Pringles yang aku juga ingat punya 7 biji. Kekuatan menyangga 2×3 wadah Pringles yang diikat satu cukup kalau cuma buat barang-barang ringan.

IMG_8630

Supaya meja ini muat lebih banyak barang, bagian kakinya kututup dengan dua lempeng kayu bekas dipan yang sama. Barang yang nggak terlalu sering dipakai (mesin jahit dan printer termasuk kertas buat nge-print dan tintanya) kusimpan di situ. Biar nggak perlu cari-cari lagi pas butuh atau lupa punya. Meja kualasi dengan taplak rajut alm ibuku yang lebar supaya jejalan barangnya nggak kelihatan. Taplak rajutnya kualasi lagi dengan kain sarung Bali yang dibelikan ibuku bertahun-tahun lalu; nutup warna taplak rajutnya yang sudah dekil, banyak noda.

IMG_8627

Tinggal mikir wadah untuk mengorganisasi koleksi sampah non-kertas di “rak”. Selama ini sebagian sudah kusimpan di wadah-wadah plastik yang tutupnya hilang yang kukumpulkan dari rumah ibuku. Bisa aja pakai wadah-wadah itu. Hanya saja, seni memanfaatkan barang bekas ada di kemampuan kita menyamarkan hawa bekasnya; gimana caranya supaya nggak cuma fungsional tapi juga enak dilihat.

Hawa bekasnya kan di plastiknya yang sudah pada buram, menguning dan beret-beret. Minta dilapis-ulang. Pilihanku: cat Pylox, wallpaper, kertas kado atau kain. Kucoret pilihan yang harus beli. Sisa wallpaper dan kain. Kupilih kain karena motifnya lebih bagus timbang motif wallpaper murah RRC yang kupunya. Kainnya dapat dari daster murah yang robek-robeknya sudah nggak ketolong; jahit, robek, jahit, robek, tapi warnanya masih seperti baru. Umur pemakaiannya nggak sampai 3 bulan. Karena itu nggak kujadikan gombal.

IMG_8631

Melapisi wadah plastik dengan kain ternyata nggak sesulit yang kukira. Sengaja nggak seluruh permukaan wadah kulapisi lem. Selain lemnya nggak cukup juga supaya gampang ngelupas kainnya. Begitu uangnya ada, semua wadah organizer di gudang akan kusemprot dengan cat Pylox dalam satu warna yang sama supaya seluruh ruangan kelihatan kohesif; jauh lebih sedap dipandang, nggak acak-semburat seperti sekarang. Juga bisa bikin ruang terlihat lebih lapang.

Wadah-wadah ini kutata di permukaan lempengan kayu dan di bawahnya, nyimpan stok kerajinan tangan seperti manik, kain flanel, kain perca, peralatan jahit dan peralatan basic kerajinan tangan (gunting, cutter, lem).

IMG_8625

Masalah terpecahkan tanpa bantuan uang.

Non-Spending Freeze sebagai ketrampilan hidup

Satu setengah tahun ini ketrampilan non-spending freeze-ku terasah berkat uang belanja yang mepet [“Dalam kesulitan ada kemudahan”]. Mulainya karena terpaksa; libur belanja/njajan selama seminggu sebelum gajian, hidup dari isi kulkas, karena uang di tangan sudah habis tapi malu tiap akhir bulan harus hutang toko kelontong tetangga. Lama-lama nggak ngeluarkan uang selama seminggu jadi gampang buatku, nggak butuh usaha.

Untuk menjadi sebuah ketrampilan hidup, non-spending freeze bukan lagi karena uangnya nggak ada. Dan jangan mengorbankan hidup layak semata-mata demi mengumpulkan sebanyak-banyaknya uang. Mau spender atau saver, non-spending freeze dilakukan demi mencapai tujuan keuangan yang spesifik; sebaiknya tujuan jangka pendek. Mungkin demi melunasi hutang lebih cepat; buat nambah-nambah tabungan liburan ke luar negeri pun boleh. Yang terpenting: tanggal mulai dan tanggal berakhirnya non-spending freeze ini kita sendiri yang tentukan. Bukan karena kantong kering, saldo nol.

Konkretnya gimana? Suamiku yang tipe spender misalnya, harus latihan punya tujuan keuangan yang spesifik. Juga harus mencoba cara-cara kreatif menikmati hidup yang butuh sedikit uang atau nggak butuh uang sama sekali. Aku sudah relatif berhasil di bidang ini. Yang masih harus kulatih adalah membatasi jangka waktunya (nggak terus-terusan) dan menggunakan uang yang bisa kukumpulkan untuk tujuan jangka pendek. Aku nyaris terobsesi dengan tujuan jangka panjang. Harus berhenti bertahun-tahun nggak beli baju dan pelembab wajah demi tabungan. Tujuan yang lebih baik: nggak keluar uang seminggu aja dalam setiap bulan selama 2-3 bulan untuk beli pelembab. Jadi bukan beli pelembab dengan uang belanja bulan ini, lalu 3 minggu sebelum gajian non-spending freeze, karena uang belanja sudah habis!

Teknik Non-Spending Freeze

Pertama, tetapkan tujuan dan jangka waktunya. Aku misalnya, non-spending freeze selama 2 minggu buat beli pelembab Oil of Olay yang efeknya ajaib di kulit POM bensinku.

Kedua, pikirkan semua pengeluaran rutin kita selama jangka waktu non-spending freeze itu. Kalau perlu tulis. Dalam kasusku laundry bedcover dan sprei, ongkos Mbak Dama ngojek bawa Rafi ke Posyandu, urunan 10 ribuan buat peringatan Nuzulul Qur’an, arisan 20 ribuan seminggu dan yang paling banyak belanja buat makan dan camilanku-Rafi.

Ketiga, hilangkan pengeluaran yang bisa dihilangkan. Untuk yang nggak bisa dihilangkan, tunda. Yang nggak bisa ditunda atau dihilangkan, pikirkan rencana/alternatif untuk memenuhinya tanpa mengeluarkan uang. Bedcover dan sprei cuci sendiri dengan mesin cuci. Aku yang bawa Rafi ke Posyandu, jalan kaki. Bikin rencana menu buat 2 minggu modal bahan yang ada di kulkas, dapur dan pekarangan. Belanjanya hanya untuk bahan tambahan (nggak sulit kok dengan 9 Standar Kerja Dapur Untuk Menghemat Waktu & Uang). Arisan dan iuran Nuzulul Qur’an yang tetap harus keluar karena nggak bisa dihilangkan atau ditunda.

Keempat, jalankan rencana kita. Putar otak cari cara melewati 2 minggu itu tanpa mengeluarkan uang selain iuran Nuzulul Qur’an dan arisan mingguan. Minyak goreng habis, makan lauk panggangan. Lauk habis, bikin nasi gurih, makan dengan kerupuk. Harus ke kelurahan, jalan kaki, nggak ngojek. Sabun habis yang aku bingung harus gimana. Mandi dengan sabun cuci piring?

Iya, memang terasa konyol dan menyengsarakan diri sendiri. Lebih-lebih bagi mereka yang nggak pernah ngelakoni. It actually IS fun! Pada umumnya blog gaya hidup hemat Barat bikin No Spending Freeze Challenge. Ada satu yang sangat populer sayangnya nggak kucatat nama blognya. Dia bikin No spending freeze challenge selama sebulan penuh setiap Januari! Dipilih Januari karena pada umumnya orang Barat habis-habisan di Desember saat perayaan Natal. Seperti Lebaran di kita. Jadi bulan berikutnya dipakai menembus batas ngirit biar imbang.

Sungguh-sungguh menguji (dan mengasah) kemampuan kita membuat rencana, mengantisipasi, mencari alternatif dan pengganti, memax-out rumah dan yang ada di rumah, bikin skala prioritas dan seabrek skill lain yang bikin aku berani bilang no spending freeze adalah ketrampilan hidup yang sangat berharga.

Ini ketrampilan pertama yang sangat kuanjurkan bagi IRT yang tadinya punya penghasilan sendiri dari bekerja di luar rumah untuk dipelajari (dengan cara dipraktekkan) sebelum atau sambil berusaha mencari uang tambahan dari rumah.

Aku paham-sepaham-pahamnya keinginan rata-rata IRT punya penghasilan. Itu mungkin satu-satunya yang ada di pikiran kita saat bicara soal memperbaiki keuangan. Hidup dengan satu penghasilan di jaman kita yang matre dan komersial ini memang bikin tidur nggak nyenyak makan nggak enak. Masalahnya, punya penghasilan dari rumah nggak gampang.

Selama ngajar Bahasa Inggris, dapat uang 50 ribu itu gampang buatku. Tapi begitu jadi IRT, ya Allah, jangankan 50 ribu, cari 10 ribu aja suliiit. Aku nggak bisa disuruh kulak’an baju terus ndatangi tetangga-tetangga buat nawarkan dagangan. Juga nggak bisa bikin kue atau nasi kotak terus promosi ke arisan RT, merintis usaha terima pesanan. Buka les-lesan juga harus cari murid kan? Betul-betul nggak nyaman dengan direct selling. Transisi dari dicari-cari orang karena keahlian bahasa Inggrisku ke mencari-cari orang yang mau beli barang nganggurku di bulan-bulan pertama sungguh menyiksa batin.

Ketika kita bukan seseorang yang passionate di dagang, tidak pula tumbuh-besar di lingkungan wirausaha (sepertiku yang keluarga besar dan tetangga didominasi PNS), butuh waktu buat nemu usaha rumahan yang tepat. Masih ditambah lagi waktu untuk membangun usaha rumahan itu dari tebak-tebak berhadiah ke impas ke untung. Harus menyiapkan waktu yang bisa jadi makan tahunan untuk learning by doing, trial and error. Karena itu penting sekali tidak menghadapkan wajah kita ke uangnya, ke penghasilannya.

Di tahun-tahun pertama kita mungkin harus kerja bakti belajar skill baru, membuat produk, membangun basis pelanggan; mbabat alas lah. Memulai usaha rumahan nggak sama dengan cari kerja. Kultur kewirausahaan sangat berbeda dengan kultur karyawan. Jadi bersabarlah. Terutama kalau anak-anak masih kecil-kecil dan lengket ke mamanya. Tanpa Mbak Dama blog ini harus kugeletakkan dulu. Tapi bukan berarti nggak ada yang bisa kita lakukan sekarang untuk membuka jalan punya penghasilan sendiri nanti saat anak-anak sudah lebih mandiri.

Salah satunya adalah meningkatkan kemampuan mengelola penghasilan yang ada sekarang ini.

Ketika penghasilan berkurang separuh lalu waktu/pikiran/tenaga kita habiskan untuk mengganti penghasilan yang hilang tadi, rasa aman baru kita dapat setelah penghasilan kembali ke angka semula; 100%. Tapi ketika penghasilan berkurang separuh lalu waktu/pikiran/energi kita habiskan untuk mengelola yang 50% ini dengan cara-cara yang lebih baik dibanding ketika penghasilan masih 100%, bisa balik ke 75% aja sudah terasa longgar.

Here’s to smart struggle, Pretty Mama!

image

2 Comments Add yours

  1. annelesmana says:

    mbak.. suka banget sama artikel-artikelmu di blog ini, sementara baru 2 artikel sih yang aku baca tapi suka semua, dan kayaknya yang lain-lain juga menarik dan bermanfaat jg. Btw tinggal di Pacet ya? Kyana lmyn deket ya kalau dari Pandaan, jadi pengen kenal langsung, hehe..
    dari artikel ini kyana aku masih jadi si spender bukan saver.
    kalau aku sejak beberapa tahun yang lalu baca bukunya Prita Ghozie sudah mulai sadar utk bikin budgeting, paling dari situ aku mulai mengelompok-kelompokkan kebutuhan, cm sayang kurang disiplin aja. Kadang pos yang ini kepake utk pos lain yg kurang penting, padahal kalau stick with it bakalan bisa saving bnyk.
    Dan suka banget quotes terakhir, longgar kalo kita bisa mengendalikan uang yang kita punya! noted mbak! makasih banyak

    1. Rinda says:

      Hampir 25 tahun aku hidup di Sidoarjo, tetangganya Surabaya. Oktober 2016 pindah ke rumah warisan di Pacet. Biar berhenti ngontrak.

      Rumahku nggak ada nomornya, di Jl. Raya Air Panas, persis di sebelah Masjid Nurul Iman. Kalau ke Sumber Air Panas Pacet pasti ngelewati.

      Sejak dulu pun aku sudah tahu dan bikin budget, Anne, tapi nggak pernah nggak over-budget sampai akhirnya aku nyerah. Sejak di Pacet ini mulai bikin budget lagi tiap bulan tapi fungsinya cuma utk memastikan semua kewajiban terbayar, bukan untuk mengoptimalkan penghasilan atau mencapai tujuan-tujuan keuangan.

      Sekarang aku berani bilang: untuk efektif, budgeting nggak bisa cuma mengandalkan disiplin diri. Karena itu lah selama 5 tahun pertama penghasilanku-suami nggak jadi apa-apa meskipun rajin bikin budget..

Leave a Reply to Rinda Cancel reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s