6 Tip Mengisi Lemari Dan Mengelolanya Untuk Berhemat Di Belanja Baju

Siapa coba yang nggak pingin punya baju-baju bagus? Wajar lah kalau perasaan kita yang sembilan njerit lihat teman yang meski ngunggah selfie hampir tiap hari bajunya nggak pernah sama. Apapun yang dia pakai jatuhnya Gaya Tur Keren aja. Sementara kita, tiap kali ada kondangan, stressnya sudah sejak dua minggu sebelum Hari-H; merasa nggak punya baju…

Nggak tahu ini asalnya dari mana. Mungkin karena di umur 42 ini sudah tahu persis pakaian dan warna apa yang pantes buatku, merasa sudah jauh lebih pandai dalam urusan bela-beli dan pilah-pilih dibanding gadis dulu, akhir-akhir ini sering terlintas untuk meng-upgrade penampilan. Yakin aja dengan pengetahuanku sekarang b-i-s-a punya isi lemari yang lebih mantesi dibanding semasa gadis dengan biaya yang jauh lebih rendah pula.

Meski nggak pernah merasa atau dicap modis sejak masih sering cangkruk dengan Patih Gajah Mada, tampilan gadisku jauh lebih “ngangkat” dibanding sekarang. Memang sih dulu lumayan langsing, dapat baju yang mantesi nggak sesulit sekarang setelah bobotku naik 25 kiloan… Tapi banyak juga kulihat ibu-ibu gendut yang penampilannya menarik. Cuma mereka sepertinya belanja bajunya ping bolak-balik. Sebulan bisa lebih dari sekali. Nggak seperti aku gini yang belum tentu setahun sekali.

Karena hobiku mikir, dari situ lanjut ke cari-cari cara: apa yang bisa kulakukan untuk memperbaiki penampilan tanpa setiap bulan harus menyiapkan anggaran khusus beli-beli baju dan perlengkapannya.

Berikut yang bisa kurumuskan. Sebagian cara mengisi lemari dan pengelolaannya yang kupraktekkan semasa gadis. Sebagiannya lagi temuan relatif baru berkenaan tip belanja baju.

Tip#1: Di lemari, simpan h-a-n-y-a baju yang pantas dan nyaman dipakai

Semua baju yang:

  • kebesaran dan kekecilan
  • kepanjangan atau cingkrang
  • jatuhnya nggak bagus
  • warnanya nggak mantesi di kulit
  • warnanya sudah sangat pudar atau dekil
  • panas karena terlalu tebal
  • malu makainya karena terlalu tipis
  • modelnya nggak mantesi
  • modelnya sangat ketinggalan jaman
  • modelnya menonjolkan kekurangan fisik
  • robeknya nggak bisa dijahit, bolongnya nggak bisa ditutupi
  • nggak pernah kita pakai karena nggak ada pasangannya

Simpan di tempat lain. Punyaku habis kubagi-bagi dan kujual. Jangan takut lihat isi lemari berkurang sampai 3/4-nya. Lebih baik cuma punya dua setel baju tapi ekstra mantesi daripada punya 20 setel tapi nggak ada satu pun yang ngangkat penampilan. Kondisi lemari terseleksi ketat seperti ini menempa kita membeli dan mengumpulkan hanya yang membaguskan penampilan.

Tip: Ingat-ingat prinsip hidup ‘ngisi lemari bukan buat banyak-banyakan tapi buat pantes-pantesan’.

Tip#2: Beli dan pakai baju dengan mengingat tiga fungsi

Setelah memastikan lemari isinya hanya yang mantesi di kulit dan badan, jadi gampang untuk strategis dalam berbelanja baju dan memanfaatkan isi lemari. Ingat, tujuan kita adalah demi feel good about ourselves di hadapan orang lain, jadi perhatikan tiga fungsi ini ketika membeli juga ketika memakai:

  • Fungsi#1: pakaian bepergian yang harus sangat diperhatikan seperti bertamu ke rumah seseorang yang kedudukannya di atas kita, acara di hotel berbintang, kondangan mewah
  • Fungsi#2: pakaian bepergian yang harus diperhatikan seperti ke mal, bank, acara sekolah anak, bertamu ke rumah rekan kerja suami, kondangan kelas rata-rata
  • Fungsi#3: pakaian yang mantesi untuk terima tamu atau pergi ke sekitaran rumah seperti minimarket atau bertamu ke tetangga dekat

Isi lemari IRT mestinya komposisinya seperti piramida, makin ke bawah fungsinya, makin banyak jumlahnya. Nggak tahu lagi dengan anggota dewan atau artis yang umurnya habis di luar rumah. Upayakan minimal punya satu setel untuk Fungsi#1 dan 2, lebih dari satu setel untuk Fungsi#3. Kalau anggaran terbatas, bisa disiasati dengan beli satu bawahan aja tapi bedakan atasan dan kerudungnya. Untuk Fungsi#1 dan #2 tambahkan aksesoris di luar sepatu/sandal dan tas.

Demi menghindari punya terlalu banyak baju di fungsi yang nggak terlalu sering kita lakukan, tata pakaian di lemari berdasarkan fungsinya. Dengan cara ini, kita selalu punya gambaran menyeluruh tentang berapa setel yang kita punya untuk masing-masing fungsi. Ini info yang sangat berharga saat bela-beli. Tanpa gambaran besar ini, sebagian orang mungkin selalu membeli pakaian yang cuma bisa dipakai buat ke sekitaran rumah. Sebagian lagi tiap beli mesti beli yang cuma bisa dipakai ke kondangan mewah. Hasilnya: bolak-balik kena serangan perasaan nggak punya baju. Tiap kali ada kondangan, beli baju. Mau kedatangan tamu penting, beli baju. Tiap Lebaran, beli baju.

Yang paling penting adalah tidak memakai pakaian yang kita siapkan untuk kondangan mewah ke mal. Sekali kita turunkan fungsi sebuah baju, nilai istimewanya ikut turun. Ada kondangan mewah berikutnya, kita dah merasa nggak punya baju.

Tip: Menghemat belanja baju lebih gampang kalau koleksi kita didominasi baju 2-3 potong. Yang hanya memakai baju satu potong seperti abaya, coba ikuti akun bellealyahya. Meski baju dan kerudungnya modelnya itu-itu aja, dia terlihat stylish.

Tip#3: Hanya membeli yang “nyambung” dengan yang lain

Yang paling bagus adalah punya “blueprint” penampilan; gambaran besar yang cukup spesifik tentang penampilan yang kita inginkan dan tahu betul baju-baju seperti apa yang bisa ngasih tampilan yang kita inginkan itu. Apa tampilan profesional yang chic? Tampilan yang praktis, ringkas, bebas-gerak, bebas ribet? Tampilan K-Pop? Tampilan lady-like yang anggun? Tampilan etnis mungkin? Begitu kita tahu gaya berpakaian yang kita inginkan, jadi gampang membangun koleksi baju-aksesoris yang membentuk satu kesatuan yang saling melengkapi. Nggak ada lagi cerita baju nggak kepakai karena nggak ada pasangannya.

Cara lain yang lebih gampang dari punya blueprint adalah menetapkan satu warna signature lalu 2-3 warna penunjang dan membatasi diri hanya membeli baju-kelengkapannya di warna-warna itu saja. Warna signature adalah warna yang sangat kita sukai. Lebih bagus kalau juga bikin kulit terlihat bersih dan/atau badan terlihat kurusan. Mulai dengan membangun main piece dalam warna signature ini. Warna signature coklat misalnya; celana panjang coklat, rok coklat, abaya coklat, tunik coklat, blus coklat, kerudung coklat, aksesoris coklat dan seterusnya. Dalam gradasi coklat yang berbeda-beda tentunya. Jangan coklat susu semua. Lalu lengkapi koleksi main piece ini dengan baju-aksesoris dalam 2-3 warna yang meng-complement coklat seperti kuning kunyit, merah muda dan tembaga/emas.

Di umur kepala empat mestinya kita sudah tahu gaya berpakaian yang “ngangkat” tampilan kita. Pengetahuan tentang apa-apa yang mantesi di kita ini sangat membantu kerja berhemat di penampilan.

Tip: Kalau masih belum tahu atau belum punya gaya berpakaian, coba cari 1-2 panutan berpenampilan di Instagram atau Pinterest. Bisa karena gaya berpakaiannya sangat kita suka (yang kita suka di badannya orang belum tentu mantesi di badan kita lho ya; jadi berhati-hati lah dalam memilih), tapi yang lebih baik adalah karena umur, postur tubuh dan warna kulit si panutan ini kurang-lebih sama dengan kita. “Baca” pola berpakaiannya atau tiru aja mentah-mentah kalau malas mikir.

Membangun koleksi baju dengan patokan satu gaya berpakaian tertentu mengijinkan kita tetap “berpenampilan” tanpa harus beli baju baru tiap bulan.

Tip#4: Setia dengan gaya dan warna-warna elegan

Di antara semua gaya berpakaian, yang paling ramah dompet ya gaya elegan. Pertama, gaya ini mengedepankan kesederhanaan. Untuk dapat satu look nggak perlu banyak piece jadi yang dibeli juga relatif lebih sedikit dibanding misalnya dengan gaya K-Pop yang kebanyakan printhilan. Kedua, ini gaya yang paling tahan sama ujian waktu. Baju dan aksesoris bergaya elegan tetap sedap dipandang meski yang makai cucu kita yang hidupnya sudah di beda jaman. Tapi yang paling kusuka, ini gaya berpakaian yang mantesi di semua umur dan semua bentuk badan. Jadi mereka yang memang cenderung ke gaya ini bisa kupastikan belanja baju dan perlengkapannya sudah hemat dengan sendirinya.

Tip: Yang berkerudung sepertiku, yang ruang gerak bergayanya dalam berpakaian relatif terbatas, gaya elegan bisa ditunjukkan dengan pilihan warna dan hiasan. Minimalkan embellishment di pakaian, minimalkan motif, minimalkan warna (dari kepala sampai kaki 1-2 warna saja) dan minimalkan aksesoris.

Tip#5: Belanja baju di 2-3 tempat saja

Kecuali kalau kita punya bakat serius dalam desain fashion seperti New Darlings, makin banyak dan berbeda-beda tempat beli baju, makin semburat juga isi lemari. Sulit dapat tampilan yang bisa konsisten “ngangkat” penampilan kita kalau isi lemari acak-semburat biarpun isinya banyak. Juga jangan berharap bisa ngumpulkan satu gaya berpakaian tertentu dengan cara belanja baju dari berbagai mal/toko/merk di seluruh Indonesia. Kecuali itu tadi: yang punya bakat luar biasa dalam desain fashion.

Satu toko atau satu merk biasanya mengusung satu gaya tertentu. Masuk lah ke satu toko/outlet merk tertentu lalu lihat keseluruhan bajunya. Kalau yang kita lihat secara garis besar nggak sesuai dengan blueprint berpenampilan kita, nggak perlu lagi lihat satu demi satu baju yang dipajang. Kenapa? Kemungkinan besar kita akan nemu paling nggak satu baju yang kita suka di toko mana pun itu, tapi cara belanja seperti ini kerjanya menentang Tip#2 dan terutama Tip#3.

Kita nggak lagi mengingat fungsi, juga cenderung lupa me“nyambung”kan baju yang lagi kita pilih-pilih ini dengan isi lemari. Kerja kita milih-milih bukan lagi berdasarkan isi lemari, bukan berdasarkan blueprint tampilan yang kita inginkan tapi berdasarkan isi toko itu. Hasilnya: kemungkinan besar yang kita pilih nggak nyambung dengan baju-baju kita yang lain sehingga nggak bisa dipadu-padankan.

Tip#6: Tetapkan 2-3 set sepatu-tas-arloji dan 2-3 set perhiasan

Aksesoris (sepatu, tas, arloji dan perhiasan) yang kita beli dan pakai dengan seksama, bikin isi lemari kelihatan lebih banyak dari yang sebenarnya. Aksesoris ini yang bisa menghasilkan tampilan yang berbeda-beda tanpa perlu gonta-ganti baju.

Bukan berarti harus punya 2-3 pasang sepatu, 2-3 tas, 2-3 arloji dan puluhan perhiasan. Sepatu, tas dan arloji dalam warna yang sama atau dalam warna yang saling meng-complement (yang bagus disandingkan), akan mengangkat penampilan kita, bikin penampilan kita jadi utuh. Efek ini nggak kita dapat dari sepatu hitam, tas oranye dan arloji emas. Juga bisa ngangkat baju lho. Arloji dan sepatu berwarna atau beraksen tembaga bikin baju-baju berwarna coklat terlihat mewah. Jadi yang harus diperhatikan itu keseragaman warna dalam satu set dan perpaduan warna antar 2-3 set yang kita punya, bukan jumlahnya.

Sebelum mulai berburu dan beli-beli kelengkapan baju, tetapkan dulu 2-3 set warna aksesoris. Lengkapi dulu satu set warna sebelum beli set warna berikutnya. Kalau yang sudah ada sepatu hitam, uang di tangan hanya cukup untuk beli tas, belilah tas hitam. Begitu uangnya ada, beli arloji hitam. Atau perak yang bagus disandingkan dengan hitam. Kesempatan berikutnya datang, mulai nyicil sepatu-tas-arloji warna lain. Bedakan modelnya. Jangan punya tas warna hitam, coklat dan putih tapi modelnya tas tote semua.

Cara mencicil strategis seperti ini juga berlaku untuk perhiasan. Tentukan dulu bahan dan warna apa yang paling meng-complement warna signature kita dan gaya berpakaian kita. Aku yang sangat menyukai gaya elegan dan warna coklat misalnya, mungkin bisa mulai dengan mengumpulkan satu set perhiasan yang terbuat dari bahan logam berwarna tembaga. Pertama bros yang pasti kepakai, menyusul berturut-turut gelang, cincin dan mungkin kalung berantai panjang. Setelah itu mulai mencicil satu set perhiasan dari mutiara imitasi. Setelah itu baru mencicil satu set perhiasan bergaya etnis karena meski nggak sangat nge-fans ke gaya etnis, warna-warna alami perhiasan etnis serasi dengan isi lemari yang didominasi coklat.

Tip: Baju-baju berwarna polos tanpa motif tanpa embellishment paling mengakomodasi permainan aksesoris. Perhiasan emas misalnya. Cincin-gelang-bros emas sederhana terlihat istimewa di baju-kerudung warna lembut monokromatis (satu warna) seperti coklat Cappucino/semu merah muda/biru langit. Lengkapi dengan clutch-sepatu-arloji beraksen emas. Dengan cara ini kita nggak perlu pakai gelang emas sampai ke siku atau liontin emas sebesar gembok pagar untuk “nunjukkan” emas-emasan kita.

“Mencuri” Gaya Belle al Yahya & New Darlings

Ini mungkin cara berhemat belanja baju yang paling efisien: mencontek gayanya orang-orang fashionable yang nggak didikte tren. Foto-foto yang kutaruh di sini kuambil dari dua akun fashion favoritku. Dua-duanya punya ribuan foto tapi sama-sama susah nemu dua baju yang dipakai lebih dari sekali. Aku kadang mikir itu baju apa tisu?? Sekali pakai..

Seperti yang sudah kubilang di atas, lemari yang isinya baju 2-3 potong menghasilkan look yang jauh lebih bervariasi dibanding yang isinya didominasi baju satu potong seperti abaya. Karena itu baju-baju Belle kelihatan itu-itu aja, nggak seberagam baju-baju New Darlings yang sebetulnya juga itu-itu aja begitu kita bisa membaca polanya. Coba kurumuskan gaya berpakaian mereka di sini. Yang sekiranya bisa bantu-bantu menghemat belanja baju tapi tetap bisa feel good about ourselves di depan orang banyak.

Belle:

  • Main piece-nya adalah abaya yang melebar ke bawah, baju kurung, celana kulot dipasangkan dengan blus lebar menutup panggul, tanpa renda/bordir/manik/sulaman, dalam warna-warna polos yang lembut.
  • Main piece tadi seringnya dipadukan dengan kerudung yang juga polosan tanpa embellishment tanpa motif, berwarna sama, senada atau kontras dengan baju
  • Untuk kesempatan istimewa baru lah mengandalkan baju ber-embellished
  • Mengandalkan satu gaya berkerudung untuk berbagai kesempatan tapi yang memang betul-betul mantesi di dia (apa karena orangnya memang cantik ya??)
  • Tanpa aksesoris, tasnya pun cenderung bermodel sama

Menurutku yang bikin Belle tampil gaya justru minimalis dan polosannya itu; dari kepala sampai kaki paling banyak dua warna, warna polos tanpa motif, tanpa embellishment, tanpa aksesoris. Baju dan gaya berkerudungnya yang itu-itu saja dikompensasi oleh pilihan warna-warna lembut dan padu-padan monokromatis atau kontras sekalian.

Terus-terang aja kesulitan merumuskan gayanya New Darlings. Ini yang bisa ku”baca”:

  • Main pieces-nya banyak tapi punya satu persamaan penting: ngepas di badan dan nyantai. Antara lain: jins dan celana panjang waist-line, rok pendek, celana pendek, kulot 3/4, pull-over, kaos, blus, kemeja, turtle-neck dan sweater dalam warna-warna dasar polos seperti biru denim, hitam dan coklat
  • Untuk kesempatan istimewa baru biasanya memakai yang selain itu: gaun dari bahan kain yang halus
  • Sepatu dan tasnya dalam berbagai model tapi juga berciri nyantai, didominasi warna coklat dan hitam. Ngefans sekali sama tas dan sepatu berbahan kulit yang warnanya coklat.
  • Aksesorisnya mengandalkan topi lebar dan topi baret, rambut (sejauh ini dia punya empat macam hair-do), kacamata besar, kacamata hitam bulat, tas dan sepatu. Kadang scarf pendek gaya koboi atau kalung berantai panjang. Nggak seperti kebanyakan perempuan yang bingung di cincin-gelang-anting-kalung.

Bisa kusimpulkan bahwa makin mandiri kita dari tren/mainstream berpakaian, ditambah makin konsisten kita dalam berpenampilan, makin gaya juga orang lihatnya. Baju-bajunya New Darlings ini sepertinya hasil adaptasi gaya berpakaian tahun 70-an dan 90-an. Nggak kelihatan aneh karena nggak ditiru mentah-mentah. Dia ambil karakteristik utamanya aja dan konsisten di situ: nyantai dan ngepas badan. Tas dan sepatunya juga konsisten nyantainya. Keunggulannya menurutku di penggunaan aksesorisnya. Aksesoris yang dia pakai cuma beberapa macam tapi nggak umum–4 macam hair do, 2 macam topi, 2 macam kacamata, scarf pendek atau kalung panjang, tas kulit coklat dan sepatu tanpa hak. Dia pilih hanya aksesoris yang menonjolkan kelebihan fisiknya (salah satunya rambutnya) dan yang menonjolkan baju-bajunya yang nyantai dan ngepas badan lalu konsisten di yang cuma beberapa macam itu.

Berikut kesimpulan terakhirku untuk bisa gaya tanpa habis-habisan di belanja baju dan kelengkapannya.

Satu: Tahu betul model baju yang mantesi di kita. Batasi diri di 2-3 model/setel baju tapi yang sungguhan mantesi.

Dua: Batasi pemilihan warna dan motif. Konsisten di warna-warna lembut polosan justru lebih gaya daripada punya baju dalam berbagai warna. Kalau nggak suka polosan, konsisten di motif kembang-kembang aja atau garis-garis aja atau polkadot aja justru lebih gaya daripada punya segala rupa motif.

Tiga: Batasi penggunaan aksesoris tapi jangan pernah keluar rumah tanpanya. Tiga sampai empat macam aksesoris aja tapi cari yang ekstra mantesinya di kita. Bisa karena menonjolkan kelebihan fisik kita, bisa karena menonjolkan model baju yang mantesi di kita, bisa karena menonjolkan warna signature kita. Lebih bagus kalau nggak umum. Aksesoris itu-itu aja tapi nggak umum malah lebih gaya daripada ganti-ganti ikut tren.

Kata kuncinya ada di memilih, membatasi diri dan konsisten.

Aku tahu nggak semua IRT merasa sangat lemah di departemen penampilan ini tapi kurasa ini isu umum. Yang punya anak masih kecil cari waktu buat mandi aja susah. Menjaga bentuk dan bobot tubuh apalagi. Padahal agak sulit loh menghormati perempuan yang nggak menghormati dirinya sendiri. Orang akan lihat level self-respect itu pertama kali di cara seorang perempuan mempresentasikan dirinya.

Kalau ada yang punya cara menghemat belanja baju yang nggak kusebut di sini tolong tulis di comment. Mungkin bisa kupraktekkan.

image

7 Comments Add yours

  1. dewiadikara says:

    Kalau saya meminimalisir menggunakan daster, semua daster saya hibahkan sisanya cm 2-3potong daster yang mudah pakai dan bagus, dipakai cuma untuk ke teras, didalam rumah cuma pakai tanktop sama celana pendek hehehe.. tujuannya juga supaya sadar perut kalau makan kekenyangan, kan kalau pakai celana seret diperut😁
    Baju pergi semua dieksekusi yang suami ga cocok pas kita pakai, buat apa disimpan. Hehehe.. salam kenal mbak

    1. Rinda says:

      Iya ya, aku nggak pernah kepikiran untuk nyeleksi bajuku berdasarkan keserasian dengan baju-baju suami. Boleh tuh caranya, Mbak Dewi! Karena baju-baju yang well-coordinated antara suami-istri-anak ngangkat penampilan sekeluarga loh. Well-coordinated loh ya, bukan baju seragam seperti batik sarimbit. Kalau seragaman di mataku kesannya malah, apa ya, males? Nggak kreatif? Membosankan? Iya deh, itu sepertinya yang paling menggambarkan: membosankan.

      1. dewiadikara says:

        Hihihiih.. klo sering kembaran ga seru ya, paling main warna aja kembarannya😁

  2. Reyne Raea says:

    Sukaaa baca tipsnya mbaaa..
    Saya mau langsung otewe lemari abis ini, mau buang baju yang bikin sesek lemari, bikin emosi karena mau ambil baju jadi sulit saking sesaknya hahahah.
    Cuman ada beberapa yang saya keep, ga sesuai dengan tipsnya.
    kayak, baju yang cingkrang.
    Dulu saya bete pakai baju kayak gitu, tapi lama2 kok saya jadi suka, lucu aja gitu.
    dan ternyata lucky me, sekarang lagi booming baju kayak gitu dan saya ga jadi aneh sendiri lagi serta ga perlu beli baju lagi.
    Ada juga yang tipis, mau dibuang tapi rasanya masih bisa modis kalau dikasih daleman yang sedikit berani modelnya hehehe.
    kayaknya yang bakal dibuang adalah yang sempit, yang ga pernah dipakai, meski sayang juga kalau dibuang, tapi bisa nih di jual aja kali ya semacam preloved gitu hehehe.
    Kalau saya emanf pecinta model baju yang nyaman di hati.
    Mau orang bilang aneh dan gak pantas juga gak peduli.
    Gak tau kenapa, selera saya kok bertolak belakang ama banyak orang hahaha

    1. Rinda says:

      Sebetulnya gaya klasik-elegan juga bukan seleranya banyak orang sih. Cenderung bikin bosen karena elemen fun-nya kurang sekali, nggak ngasih ruang utk mengekspresikan diri, aturannya banyak, terasa mengekang. Kelebihannya ya nggak berbatas waktu, nggak berbatas umur n nggak berbatas tempatnya itu. Rendah-biayanya dari situ.

  3. wauuu ,., keren juga ini tips. ada nga tokoh murah untuk beli baju ??

    1. Rinda says:

      Mestinya ada tapi aku nggak punya nama-nama tokonya. Caraku berhemat di belanja baju bukan dengan membeli yang murah. Kebalikannya malah: beli yang mutunya terbaik yang sanggup kita beli (supaya awet dan jatuhnya di badan bagus) tapi batasi isi lemari, batasi jumlah baju dan kelengkapannya. Supaya nggak nampak seperti orang susah meski baju sedikit: batasi warnanya, beli baju-baju yang bisa dipadu-padankan, punya koleksi aksesoris.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s