Memperbaiki Keuangan Dengan Anggaran Lebih Besar Pasak Daripada Tiang

Meski dari dulu bukan perempuan boros, aku sendiri baru tahu setelah nikah, untuk mengelola keuangan rumah tangga ternyata nggak cukup hanya dengan menjadi pribadi hemat. Akan lebih mudah kalau kita pribadi hemat memang tapi ternyata nggak cukup. Ada basic keuangan yang harus kita penuhi dulu. Antara lain: bisa dan biasa melakukan segala sesuatu dengan tujuan.

Sebelum mulai bicara panjang lebar soal budgeting untuk memperbaiki keuangan, mungkin perlu kuluruskan dulu apa yang kumaksud dengan ‘memperbaiki keuangan’.

Yang ada di kepalaku adalah menghindari situasi menahun yang membuatku lumpuh psikologis:

  1. Tabungan bolak-balik jebol
  2. Harus mengandalkan hutang untuk biaya-biaya di atas 3 juta
  3. Terlalu banyak uang keluar yang di luar perkiraan/perencanaan
  4. Jangankan punya aset, barang konsumtif seperti TV aja nggak punya
  5. Sangat mengekang diri dari kebutuhan pribadi seperti belanja baju dan acara senang-senang seperti jalan dan makan di luar

FYI, sejak nikah sudah bikin budget tapi dengan prinsip-prinsip yang sangat berbeda dibanding budgetingku setelah bebas hutang sekarang ini. Tolong dipelajari dulu budget baruku yang jadi dasar postingan ini di sini sebelum melanjutkan membaca supaya omonganku nggak terasa ngglambyar.

(Catatan: angka-angka yang tidak kusebutkan di sini kuhapus dari file demi menghindari saling membanding-bandingkan yang tidak perlu. Lupakan angka-angkanya, fokus saja di prinsip-prinsip budgeting-nya.)

Perbedaan yang sangat mencolok dengan budgetingku dulu adalah sekarang yang kumasukkan bukan cuma pengeluaran di bulan itu tapi semua pengeluaran yang bisa kupastikan datangnya dalam jangka waktu setahun ke depan. Pengeluaran-pengeluaran besar dalam setahun adalah tanggung-jawab bersama penghasilan 12 bulan. Selama itu bisa kupastikan datangnya, meski persisnya kapan uangnya harus kukeluarkan nggak bisa kupastikan sekarang, kumasukkan anggaran.

Contoh: mobil warisan yang dipakai suamiku keluaran 2004, motorku yang juga dia pakai keluaran 2008. Makin tua, makin mahal biaya perbaikannya. Dalam setahun PASTI harus masuk bengkel paling nggak sekali. Begitu juga dengan biaya rutin tahunan seperti pajak mobil yang jatuh tempo bulan Nopember. Bisa aja kupasrahkan ke gaji bulan Nopember tapi itu jelas akan merugikan pos pengeluaran lain; anggaran makan harus dipotong separuh. Aku harus mengganti mindset “yang datangnya nanti dipikir nanti” atau “nanti kan ada rejeki”. Kalau kita tahu datangnya itu pasti, maka harus dipikir (=direncanakan dan disiapkan) sejak sekarang. Tunjukkan ikhtiar.

Perbedaan kedua adalah kumasukkannya cita-cita besar yang penting dan perlu bagiku pribadi meski itu terasa sangat “pungguk merindukan bulan”. Di antaranya menguliahkan Rafi, naik haji dan punya uang nganggur 10 juta untuk dana darurat. Aku nggak peduli harus nabung puluhan tahun. Yang paling penting adalah kita ambil beberapa langkah lebih maju dari sekedar niat.

Tabungan Emas Penggadaian kusiapkan untuk cita-cita “pungguk merindukan bulan ini”. Meski kuanggarkan 1,5 juta per bulan untuk biaya kuliah+dana darurat+naik haji, prakteknya nggak mungkin bisa setor sejumlah itu setiap bulannya. Nggak apa, asal bisa ajeg setor, meski cuma 50 ribu, sudah bagus. Di dunia ini ada Faktor X yang nggak bisa dijelaskan dengan hitung-hitungan di atas kertas tapi seringnya nggak akan menghampiri orang yang prinsip hidupnya “nanti kalau ada rizki”. Kuatnya niat ditunjukkan oleh kesungguhan berikhtiar.

Perbedaan ketiga, setelah 7 tahun berumah-tangga, aku sudah sangat kenal diriku sendiri dan suami. Aku tahu biaya-biaya apa yang nggak mungkin kami hilangkan (sebagian pernah dicoba dan gagal mutlak). Entah karena nggak mau, nggak tega atau malu. Contoh: aku nggak bisa menghilangkan biaya sosial. Titik. Juga tahu biaya-biaya apa yang nggak mungkin kami tekan/kurangi angkanya (sama; sebagian pernah dicoba dan gagal mutlak). Contohnya masih sama: biaya sosial. Meski amplopnya tanpa nama, nggak sanggup ngasih buwuhan <100 ribu ke orang-orang yang kami kenal baik. Jadi pos-pos pengeluaran dan angka-angka di Master-Budget ini punya pondasi yang kokoh, didasarkan pada pengalaman trial & error selama 7 tahun. Dulu angka-angkanya lebih berupa ambisi daripada pemahaman akan kemampuan diri dan ekspektasi lingkungan sosial.

Perbedaan terakhir adalah menugaskan satu orang untuk satu pos biaya dan satu rekening untuk satu pos tabungan. Itu sama pentingnya dengan menetapkan angka anggarannya. Dulu semua pos pengeluaran aku seorang yang in-charge. Rekening tabungan ada dua tapi nggak kukasih tujuan keuangan yang spesifik. Satu rekening gaji suami yang dapat-tarik-dapat-tarik, semua uang yang bisa kusisihkan kutaruh di rekening tabunganku. Ternyata, berdasar pengalamanku setelah pisah kota dengan suami, mengendalikan uang keluar jadi lebih mudah bila yang bertanggung-jawab nggak cuma satu orang.

Khusus tabungan, idealnya adalah satu rekening untuk satu tujuan keuangan. Jadi yang lebih baik sebetulnya memisahkan rekening tabungan haji dari tabungan pendidikan dari dana darurat. Dalam kasusku kujadikan satu karena:

  • setorannya kecil
  • belum tentu tiap bulan bisa setor

Konyol aja punya 3 rekening tabungan tapi saldo nggak nambah-nambah malah kemakan biaya administrasi.

Sampai lah kita di pertanyaan besarnya.

Untuk menunaikan Master-Budget ini butuh pemasukan 8,5 juta lebih sedikit sebulan. Gaji pokok suami 3,5 juta tapi tiap bulannya selalu dapat lebih karena uang makan dan uang lembur. Kalau dirata-rata sebulan dapat 5,5 juta. Ada 6 bulanan ini dapat hampir atau di atas 6 juta karena di tempat kerjanya lagi ada proyek yang minta jam lembur sampai jam 1-2 pagi. Nggak tahu proyek ini berapa lama tapi begitu selesai ya balik ke angka rata-rata 5,5 juta per bulan tadi.

Pertanyaan besarnya adalah: bagaimana anggaran yang lebih besar dari gaji seperti yang kubuat ini bisa memperbaiki keuangan?

Penjelasan#1: Ngasih Yang Namanya Sense Of Control Atas Uang Keluar

Nggak mungkin aja memperbaiki keuangan kalau kita nggak punya kendali atas uang keluar. Entah itu karena faktor-faktor yang adanya di dalam diri kita seperti sifat hedonis/konsumtif/ja’im atau faktor-faktor yang adanya di luar diri kita seperti suami atau mertua yang terlalu ngatur. Kurasa soal ini nggak perlu dijelaskan lagi.

Yang aku sendiri baru-baru ini aja tahu: ada porsi psikologis yang lumayan besar dalam sense of control.

Ketika s-e-t-i-a-p bulan selama bertahun-tahun s-e-l-a-l-u ada pengeluaran yang nggak kita perkirakan/rencanakan, cepat atau lambat kita akan sampai di Titik Pasif. Titik di mana kita berhenti berikhtiar karena merasa semua jerih payah menekan pengeluaran demi menambah porsi penghasilan yang bisa kita sisihkan nggak ada gunanya.

Walaupun nggak semua pos pengeluaran di Master-Budget bisa didanai uang gaji, hanya dengan punya gambaran terperinci tentang biaya-biaya yang harus kusiapkan dalam setahun sudah sangat membantu. Anggap aja manajemen ekspektasi; kenaikan saldo tabungan dan bertambahnya aset-harta benda jadi lebih realistis, nggak mbleset ping bolak-balik.

Konkretnya gini, kecewanya nggak terlalu dalam kalau tabungan harus berkurang banyak demi servis motor dan mobil karena saldo salah satu tabungan memang kusiapkan salah satunya untuk itu. Juga nggak sangat mangkel tur pusing saat dalam sebulan sampai ada 5 undangan manten, 1 tetangga melahirkan, 2 saudara masuk rumah sakit. Kan 300 ribu per bulan memang kusiapkan untuk itu. Kalau toh kurang, nggak sepusing kalau kita sama sekali nggak menganggarkan biaya sosial setiap bulannya.

Prinsipnya adalah: pastikan kita memasukkan semua biaya yang nggak mungkin kita hilangkan dalam anggaran. Bahkan meskipun uangnya nggak ada. Kalau punya orang tua/mertua yang sakit-sakitan misalnya, masukkan pos biaya RS khusus orang tua walaupun nggak setiap bulan masuk RS, walaupun mereka punya rekening Askes atau BPJS. Uang yang harus kita keluarkan karena orang tua yang sakit-sakitan bukan cuma untuk biaya RS tapi juga biaya dokter dan obat ketika nggak perlu opname, biaya bolak-balik mudik, biaya makan yang pasti bengkak karena harus sering makan beli dan masih banyak lagi. Dengan cara ini minimal kita nggak merasa dibebani oleh orang tua/mertua yang bertahun-tahun sudah menafkahi.

Penjelasan#2: Memastikan Pemasukan Tidak-Tetap-Tidak-Pasti Bekerja Sebesar-Besarnya Bagi Kesejahteraan Keluarga

Yang kumaksud di sini uang masuk seperti lebihan gaji dari lembur/insentif/bonus, uang tambahan, uang hadiah dan uang warisan. Ini mungkin nggak berlaku di semua rumah tangga. Kurasa ada rumah tangga yang pemasukannya hanya dari gaji/upah/honor. Tapi aku yakin banyak orang yang punya pemasukan selain gaji. Bahkan suamiku yang kerja dengan ijazah STM pun punya pemasukan nggak-tetap-nggak-pasti yang nggak bisa dipandang remeh. Itu belum pemasukan nggak-tetap-nggak-pasti dariku yang suamiku sendiri sering heran.

Kalau kuhitung-hitung, total uang masuk tidak-tetap-tidak-pasti selama hampir 7 tahun berumah-tangga dariku maupun dari suami bikin shock. Shock karena nggak jadi apa-apa. Tanpa menghitung uang warisan pun mestinya bisa jadi rumah. Nyatanya habis buat nambal defisit biaya rumah tangga, senang-senang belanja, jalan-jalan, makan di luar dan bagi-bagi..

Soal defisit biaya rumah tangga, dengan memasukkan semua biaya yang sifatnya pasti mau itu rutin atau nggak, kita bisa memastikan anggaran belanja rumah tangga yang meliputi biaya hidup, biaya sosial, biaya pendidikan (di luar biaya kuliah loh ini), biaya kesehatan dan biaya senang-senang nggak sampai menghabis-tandaskan penghasilan. Harus ada seporsi yang kita siapkan untuk kebutuhan jangka panjang dan keadaan darurat. Ya ini ini biang anggaran belanja rumah tangga bolak-balik defisit: 100% penghasilan habis hanya untuk yang rutin, pasti dan sekarang.

Mustahil memperbaiki keuangan tanpa memperhitungkan biaya nggak rutin dan kebutuhan jangka panjang. Nah, ketika pemasukan kita ngepas, ketika sangat sulit untuk menekan belanja rumah tangga ke maksimal 70% gaji, pemasukan tidak-tetap-tidak-pasti ini bisa kita optimalkan untuk mendanai keadaan darurat dan kebutuhan jangka panjang. Mungkin di sebelah sini ini anggaran lebih besar pasak daripada tiang ngasih kontribusi terbesarnya.

Dengan satu catatan penting: harus berhenti mengandalkan pemasukan nggak-tetap-nggak-pasti untuk nyenangkan hati yaitu belanja retail therapy, jalan-jalan, makan di luar dan bagi-bagi rizki.

Statistik mengkonfirmasi bahwa mayoritas orang menggunakan uang masuk tidak-tetap-tidak-pastinya untuk blow-out; senang-senang bela-beli menyenangkan nafsu konsumtif. Jadi ini kecenderungan yang alamiah sepertinya.

Ada cara yang lebih baik daripada menggunakan pemasukan nggak-tetap-nggak-pasti untuk blow-out.

Kita nggak bisa menghilangkan kebutuhan rekreasi (dan dalam kasus rumah tanggaku, kebutuhan bagi-bagi rizki) tanpa jadi burn-out [capek lalu mandeg di tengah jalan] atau menanggung resiko menjadi counter-productive dalam jangka panjang (salah satunya anak jadi anti gaya hidup hemat). Bisa ditekan tapi baiknya jangan dihilangkan. Yang lebih baik adalah memasukkan biaya rekreasi dalam anggaran bulanan sehingga paling nggak sebagiannya menjadi tanggungan gaji. Kenapa? Supaya kebutuhan untuk ini bisa kita atur, angka yang keluar bisa kita kendalikan. Merutinkannya adalah cara terbaik untuk mengendalikan segala sesuatu. Jadi lebih baik anggarkan Uang Senang-Senang meski cuma 100 ribu setiap bulan daripada mati-matian mengekang diri dari menyenangkan diri dan keluarga tapi pas dapat uang lebih, kalap.

Dengan anggaran yang lebih besar dari penghasilan pastinya ada pos-pos pengeluaran yang merana, kosong, nggak bisa ditanggung gaji. Tapi dengan membuatnya menjadi tertulis dengan Master-Budget, pos-pos “merana” dan pos-pos “pungguk merindukan bulan” ini akan tertanam di kepala. Maka setiap kali dapat pemasukan tidak-tetap tidak-pasti, yang pertama kali kupikirkan adalah pos-pos yang harus kugeletakkan tiap bulannya karena uangnya nggak ada ini, bukan lagi senang-senang. Paling jelek seperti ini: sebagian buat apa yang kutetapkan di anggaran, sisanya baru buat terserah apa. Nggak sampai semua habis nggak jadi apa-apa.

Penjelasan#3: Ngasih gambaran tentang seberapa mahal gaya hidup keseharian dan harta benda kita

Yang secara satuan tidak terlihat mahal bisa jadi sangat mahal bila kita masukkan dalam sebuah perhitungan menyeluruh. Semua harta benda yang tidak menghasilkan uang adalah beban bagi penghasilan karena mereka butuh biaya operasional, pemeliharaan dan perbaikan.

Tiap kali makan di luar mungkin kita merasa sudah cari yang paling murah; yang per orangnya nggak lebih dari 25 ribu. Tapi setelah kita hitung biaya makan sebulan dan ternyata tembus separuh penghasilan, cuma keluar 25 ribu tiap kali makan di luar berarti mahal. Kecuali 2 motor yang kita punya menghasilkan uang atau paling tidak jadi alat bantu menghasilkan uang, sesungguhnya punya 2 motor tidak bikin kita lebih kaya daripada punya 1 motor. Lebih mahal iya. Dua motor berarti 2 kali biaya pajak, perawatan dan perbaikan kan?

Dilihat dari kacamata Master-Budget, rumah Pacet ini mahal sekali. Biayanya bukan cuma listrik-air-pajak-iuran RT-PBB-perbaikan kecil seperti ganti lampu. Ada potong rumput, ada perbaikan pipa air, per 10-20 tahun harus ngganti pasak-pasak kayu saking lembabnya udara, biaya nembok tanah untuk menghindari longsor, harus sering mengganti dan menata ulang genteng karena curah hujan yang begitu tinggi, masalah jamur, lumut, belum rembesan airnya yang di mana-mana.

Kalau nggak disewakan, aku-Rafi tinggal di Pacet sementara suami ngekos di Surabaya adalah keputusan tolol untuk rumah tangga yang penghasilannya nggak sampai 10 juta. Dan kalau sampai 5 tahun dari sekarang pemasukan sewanya masih segini-segini aja, suami masih kerja di Surabaya dan aku bisa punya sumber penghasilan selain sewa rumah ini, yang mensejahterakan keluarga adalah menjual rumah ini untuk dibelikan rumah di pinggiran Sidoarjo.

Pendek kata, punya gambaran menyeluruh akan semua yang menjadi tanggung jawab keuangan rumah tangga kita sekarang dan nanti, menetapkan cita-cita keuangan yang penting bagi kita dan keluarga, berarti menunjukkan apa yang bisa dan harus kita lakukan setiap hari dan setiap bulannya demi:

  • menekan pos-pos pengeluaran yang kontribusinya sedikit bagi kesejahteraan keluarga
  • menghilangkan pos-pos pengeluaran yang kontribusinya nihil bagi kesejahteraan keluarga
  • menyetor jumlah kecil tapi ajeg ke rekening tabungan tertentu untuk cita-cita yang butuh biaya besar

Yang kita lakukan setiap hari dan setiap bulannya jadi intentional, punya tujuan, nggak cuma nuruti kata hati dan kata orang. Jadi gampang mengambil keputusan seperti nggak beli rumah di daerah ini karena sangat berat di biaya transport pulang-pergi kerja atau memindahkan sekolah 3 anak demi nekan biaya transport. Jadi cepat mengenali penyesuaian-penyesuaian yang perlu seperti membawa bekal makan siang dari rumah atau membatasi diri di tahu, telur, tempe, pindang, ikan asin, rempelo ati dan sayap ayam untuk lauk-pauk sehari-hari dan sebagainya.

Master-Budget ibaratnya menculek mataku dengan biaya perawatan dan perbaikan mobil. Rasanya seperti diteriaki dengan corong di telinga, “Jual itu mobil!” Aku sudah mulai memasukkan wacana menjual mobil ini dalam obrolan dengan suami meski aku sendiri berat kalau harus naik bis tiap kali harus ke Surabaya dan ke rumah mertua di Probolinggo. Sudah juga menyuruh suami menjual motor karena dia berat ke mobil lebih daripada aku. Pikirku kalau memang nggak bisa melepas mobil, paling nggak kita tekan biaya pemeliharaan-perbaikan-pajak kendaraan dengan melepas motor.

Yang ingin kukatakan adalah: kita jadi sangat ekstra hati-hati menjalani keseharian. Pengeluaran yang tadinya kita anggap biasa dan sudah semestinya bisa jadi nggak penting, nggak perlu, buang-buang uang begitu kita lihat di atas kertas dengan kacamata anggaran lebih besar pasak daripada tiang.

Penjelasan#4: Memungkinkan Upaya Memangkas Dan Menekan Biaya Dengan Perencanaan Dan Persiapan Seksama

Semua upaya berhemat bertumpu di dua pilar: perencanaan dan pengaturan. Kalau nggak percaya, coba perhatikan kebiasaan orang-orang yang sangat boros. Dari pengamatanku sehari-hari, bisa kusimpulkan bahwa makin boros seseorang biasanya makin nggak suka sama segala bentuk pengaturan. Biasanya juga makin spontan dan/atau impulsif dalam melakukan segala sesuatu. Dan sebaliknya.

Maka ketika kita punya gambaran 99% akurat tentang semua uang keluar dalam jangka waktu setahun, kita bisa bikin perencanaan jauh-jauh hari demi menekan biayanya dan/atau mendanainya. Contoh paling gampang: biaya Lebaran.

THR suamiku 3,5 jutaan. Setelah merekap semua biaya yang kami keluarkan berkenaan dengan Lebaran berdasar pengalaman 7 kali Lebaran, ketahuan kenapa selama ini (kecuali 2016) selalu defisit. Lha, butuhnya hampir 5 juta. Jadi dari sekarang bisa kucicil demi nutup 1,5 juta sisanya.

Aku tahu ini sangat ambisius tapi yang ingin kuusahakan adalah membiayai Lebaran dengan uang gaji supaya THR bisa kualokasikan untuk tabungan haji/pendidikan/dana darurat. Belum bisa kuterapkan di Lebaran ini tapi tetap kutulis. Master-budget ini rencanaku sekaligus doa.

Perencanaan dan pengaturan lain adalah yang berkenaan dengan belanja baju, jajan suguhan dan oleh-oleh mudik. Makin banyak waktu yang kita punya, makin memfasilitasi yang namanya “buy less but choose well”. Dari sekarang bisa kusiapkan paling nggak 2 kostum buat sekeluarga dari apa yang sudah ada di lemari. Mungkin cuma perlu nambah kerudung untukku, celana panjang untuk Rafi dan kemeja untuk suami. Dengan begitu beli baju Lebarannya, nanti sebelum Ramadhan (kuhindari acara bela-beli setelah dapat THR untuk menghindari rayuan maut diskon), cukup satu orang satu setel, tapi pas Lebarannya sendiri siap 3 kostum keluarga. Jajan bisa ku-list dari sekarang; yang nggak tipikal Lebaran tapi semua suka. Bisa tes rasa rupa-rupa jajanan di toko snack tanpa merk di pasar untuk menghasilkan meja suguhan yang nggak mahal tapi nagih. Bisa cari cara meng-incorporate jajanan favorit sehari-hari seperti wafer Richeese dan biskuit kelapa Roma tanpa ngasih kesan nyonya rumahnya pelit atau males.

Penjelasan#5: Jadi Sangat Berhati-hati Menepis Kesempatan Menghasilkan Uang

Ini mungkin juga nggak berlaku di semua rumah-tangga atau di semua orang. Paling tidak dalam kasus mantan pekerja bermodal keahlian sepertiku, yang meski mendeklarasikan berhenti ngajar tahun 2014, masih ada aja tawaran ngajar. Gitu juga dengan permintaan nerjemahkan. Ada yang kuambil tapi sebagian besar kutolak. Alasannya macam-macam meski secara umum adalah karena aku nggak suka melakukan segala sesuatu setengah-setengah. Ngajar seperti dulu sekalian atau tidak sama sekali. Itu alasan idealis yang terasa konyol setelah lihat angka-angka di Master-Budgetku.

Aku bukannya bilang sekarang nggak akan nolak s-e-m-u-a tawaran ngajar lho ya. Karena banyak sekali yang bisa kulakukan dulu yang nggak bisa kulakukan sekarang karena tenaganya nggak ada. Tapi paling nggak, di gudang produktifku ada beberapa barang yang orang mau beli tapi nggak kukasih karena aku berat ngelepasnya. Lebih dari 50 botol beling yang kugeret ke sana-ke mari sejak masih di Surabaya juga bisa jadi uang.

Jadi dalam kasusku yang punya keahlian (meski nggak setajam dulu), punya pengalaman jualan online, punya rumah yang disewakan, anggaran lebih besar pasak daripada tiang membantuku mengambil keputusan yang lebih pintar ketika ada peluang menghasilkan uang sekecil apapun itu.

Nggak cuma modal idealisme atau nuruti perasaan. Kadang nuruti males ribet. Sering karena takut dikomplain.

konsep building time
Maaf, nggak bisa ngasih kredit ke pemilik foto. Nggak kucatat hari itu. Kudapat dari Pinterest.

Kalau ada yang tanya bisakah aku mematuhi Master-Budget ini? Jawabannya kemungkinan besar nggak. Sampai hari ini pun masih over-budget di setiap pos pengeluaran, masih under-budget di setiap setoran tabungan. Bulan ini aja, setoran tabungan yang di awal bulan kutetapkan 2,75 juta melorot jadi 1,3 juta di minggu kedua. Melorot lagi jadi 1,05 juta. Per hari ini defisit 2 juta…

Kurasa angka-angka yang kutetapkan masih kelewat ambisius. Masih harus dikoreksi di sana-sini sambil terus mencari cara yang efektif untuk bisa on-budget.

Maksudku selain cara yang sudah terbukti efektif yaitu uang untuk over-budget memang kita tiadakan dengan cara mengalihkan setoran tabungan ke mencicil hutang modal atau barang modal seperti yang kulakoni 1,5 tahun ini sebagaimana yang kuuraikan di Rencana Keuangan Hemat ala Koboi.

Sebagai catatan akhir, harus kuingatkan, meski secara keseluruhan anggaran ini lebih besar pasak daripada tiang, kurang-lebih 25%-nya adalah setoran tabungan.

Tolong jangan lihat diriku sebagai seseorang yang lebih tahu tentang keuangan. Postingan ini 2 mingguan kugeletakkan, jarang posting di Instagram, gara-gara stres hebat. Ya bayangkan aja, dari perkiraan surplus 2,75 juta, realisasinya defisit 2 juta. Sangat sulit untuk tidak mempertanyakan kredibilitasku menulis tentang keuangan rumah tangga.

Tolong lihat blog ini dan akun Rumah Barang Tinggalan di Instagram sebagai rekaman perjalanan seorang IRT yang sedang berjuang memperbaiki keuangan rumah tangganya. Sembari berjuang akan kubagi semua yang kupelajari. Aku pandai mem-break down; membuat yang rumit jadi kelihatan sederhana. Hanya itu yang bisa kujanjikan.

Bagaimana aku ngatur penghasilan bulanan berpedomankan Master-Budget ini, ide dan upayaku untuk stay on budget, updates dan segala sesuatu yang belum kepikiran sekarang tapi kurasa perlu kubagi (budgeting ini perjuangan panjang..), kusimpan untuk Stories dan postingan Instagram.

image

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s