Seni Hidup Ngontrak

Lima tahun berumah-tangga, ngontrak tiga rumah yang berbeda. Yang pertama rumah petak di kawasan pemukiman padat yang jarak tempuhnya cuma 10-15 menit dari pusat kota dengan motor. Yang kedua ngontrak rumah separuh di kawasan kampung di pinggir kali. Yang ketiga rumah 3 kamar di perumahan kelas menengah di Sidoarjo, nggak jauh dari rumah kontrakan kedua. Cukup berpengalaman lah ya.

Hidup ngontrak memang nggak menakjubkan. Jarang sekali ada yang bisa ngontrak rumah yang sama sampai bertahun-tahun. Kenaikan harga sewa kadang bisa bikin tekanan darah naik. Adikku ngontrak rumah tipe 36 di perumahan kelas menengah di pinggiran kota selama setahun seharga 16 juta. Setelah setahun, pinginnya nambah setahun lagi. Yang punya rumah naikkan harga sewa jadi 17 juta.

Naik sejuta dalam setahun!

Karena itu pada umumnya “kontraktor” harus cari rumah kontrakan baru setiap 2-4 tahun. Itu artinya harus keliling cari rumah kontrakan kosong yang biaya sewanya cocok, ngepak seisi rumah, boyongan, membongkar pak-pakan, menatanya lagi; mbayangkannya aja capek. Butuh paling cepat 3 bulan sebelum rumah dan rutinitas harian keluarga bisa betul-betul mulus lagi. Aku butuh setahunan. Itu belum menghitung proses penyesuaian diri dengan lingkungan tetangga baru. Nggak menakjubkan mungkin bukan kata yang tepat. Repot pangkat tiga sepertinya lebih pas.

Tapi: bukan berarti nggak ada keuntungannya.

Mempertahankan harta benda di tingkat minimal. Segala kerepotan tadi sungguh-sungguh menghilangkan nafsu kumpul-kumpul barang. Melatih urat syaraf yang namanya Make-Do, yaitu memanfaatkan apa yang sudah ada demi menghindari membeli. Nggak perlu lah sendok-garpu selusin untuk bisa makan sekeluarga beranggota 4 orang. Enam sendok cukup. Dan orang Indonesia bisa hidup tanpa garpu. Hanya perlu menambah siasat: cuci segera setelah dipakai untuk memastikan selalu ada sendok bersih. Kalau ada tamu lebih dari 6 orang dan kita harus nyiapkan makan? Hidangkan masakan yang di restoran hotel pun dimakan dengan tangan seperti Nasi Penyet. Kalau betul-betul butuh sendok-garpu lebih? Pinjam tetangga sebelah. Sambil kenalan.

Menciptakan sistem packing dan unpacking. Tanpa sistem, kita bisa gila sendiri. Bayangkan malam pertama tidur di rumah kontrakan. Tengah malam pada bangun karena jadi banca’an nyamuk. Kita punya obat nyamuk bakar, oles, elektrik dan semprot tapi nggak ingat disimpan di kardus yang mana. Harus bongkar dulu. Belum tahu medan, belum tahu dimana minimarket 24 jam terdekat (kalau ada). Apa harus membangunkan tetangga buat nanya? Belum besoknya. Baju suami buat kerja, baju anak-anak sekolah, botol susu si bayi dan popoknya. Essential seperti ini harus dipacking terpisah agar bisa di-unpack duluan. Almarhum ibuku ngajari: barang dapur untuk masak cepat dan peralatan makan seperlunya harus dipacking terpisah supaya bisa secepatnya masak untuk makan sehari-hari. Belum tentu warung makan gampang dicari di lingkungan rumah baru. Mungkin ada yang punya sistem packing-unpacking yang bisa mangkas waktu menata rumah baru menjadi 3 hari saja?

Ternyata ada! Sarah Titus punya cara memangkas acara menata rumah baru jadi 2 hari saja! Jenius. Bisa dibaca lengkapnya di sini. Top tip-nya: kemas semua barang esensial sekeluarga seperti baju dan perlengkapan mandi untuk 5 hari di satu koper. Yang punya anak bayi berarti ketambahan popok dan perlengkapan nyusunya.

Terlatih “membaca” lingkungan. Ini besar sekali manfaatnya saat memilih rumah untuk dibeli. Setelah hidup mengontrak di tiga lokasi berbeda selama hampir 5 tahun, aku jadi tahu cara cepat mengukur daya dukung sebuah lingkungan bagi gaya hidup hematku. Pergilah ke pasar terdekat. Cari penjual daging ayam. Lihat apa yang pertama kali habis. Kalau ceker, kepala dan jeroan maka lingkungan itu berbiaya hidup rendah. Kita bisa sangat berhemat di belanja sehari-hari. Kekurangan lingkungan seperti ini biasanya: bukan tempat yang prospektif untuk mengembangkan usaha rumahan kecuali yang keunggulan kompetitifnya di harga jual yang sangat murah. Gimana dengan lingkungan pemukiman yang nggak ada usaha rumahannya? Mahal.

Pada prinsipnya, semua bisa jadi manfaat bila kita mau banyak repot dan berpikir sedikit lebih dalam.

(Foto cover: House to Home)

2 Comments Add yours

  1. azwaribro says:

    sorry mau nanya, itu 5 tahun ngontrak apa enggak ada cibiran dari mulut rekan, saudara, atau siapalah. kenapa enggak ngambil perumahan aja? pengen inspirasi lebih dari hidup ngontrak. hihihi

    terimakasih Kak

    1. Rinda says:

      Nggak ada. Cuma dari pihak keluargaku memang pada mengasihani (meski yang ngomong langsung di depanku cuma satu orang) karena standar hidupku kan kelihatan sekali anjlok sejak nikah mengingat bapakku kolonel polisi yang punya rumah lebih dari satu sementara aku anaknya ngontrak rumah petak.

      Kurasa nggak ada yang mencibir karena aku pribadi murah hati yang sederhana dan extremely apa adanya. Itu nyortir orang di sekelilingku dengan sendirinya. Mereka yang menilai orang dari keuangan atau harta-bendanya nggak akan mau dekat-dekat aku.

      Dari pengalaman hidupku ngontrak, ini yang bisa kupastikan: kalau penampilan kita sekeluarga dan interior rumah kita bagus, di atas rata-rata, one-of-a-kind –nggak sekedar rapi dan bersih– kita ngontrak seumur hidup pun orang nggak akan kebanyakan mulut. Ingat-ingat aja ini: manusia mikir dengan mata.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s