4 Langkah Sederhana Membuat Anggaran Rumah Tangga

Enam bulan belakangan ini sering dapat pertanyaan sulit tentang budgeting dari pembaca di Instagram. Salah satu yang paling sulit adalah gimana bikin anggaran rumah tangga untuk gaji <10 juta yang separuhnya kepotong cicilan rumah dan cicilan hutang. Bukan hanya supaya sisa gaji cukup sampai gajian berikutnya tapi juga supaya hutang bisa lunas lebih cepat.

Pertama-tama, apakah itu mungkin?

Mungkinnya mungkin. Selama setahun gaji suamiku yang rata-rata 5,5 juta kepotong 2,65 juta untuk 2 cicilan hutang dan 2 setoran polis asuransi. Alhamdulillah bisa. Dua-dua hutang bisa lunas lebih cepat. Tapi harus kutekankan di sini: pemasukan rumah tanggaku bukan cuma gaji. Suamiku dapat ceperan. Aku menjual barang-barang nganggurku. Sesekali dapat terjemahan. Dalam setahun bisa dapat 2-4 juta dari adik ipar. Juga ada uang masuk dari nyewakan rumah.

Aku nggak nyimpan catatan aliran uang masuk nggak tetap ini karena jumlahnya kecil (selain yang kudapat dari adik). Selain ceperan suami, nggak tiap bulan dapat. 90% pemasukan selain gaji habis untuk pengeluaran sehari-hari yang icrit-icrit tapi adaaa aja. Karena itu aku berani bilang pegangan <1 juta untuk pengeluaran sehari-hari selama sebulan sangat “menyengsarakan” bagi kelas menengah kota.

Andai harus mengandalkan hanya gaji suami, apa masih bisa?

Bisa, dengan berbagai pengorbanan yang berat (bagiku). Diantaranya melepas mobil, memberhentikan Mbak Dama dan mengandalkan dokter umum Pacet untuk masalah alergi Rafi, bukan spesialis anak di Surabaya.

Maka dari itu, bisa nggak bisanya sesungguhnya lebih banyak ditentukan oleh kesanggupan kita berkorban daripada ada-nggaknya uang tambahan atau kecakapan kita bikin anggaran.

Yang mengantar kita pada pertanyaan berikutnya: lalu buat apa anggaran?

Anggaran memang bukan faktor yang secara langsung menentukan keberhasilan mencukupkan sisa gaji untuk hidup + mempercepat pelunasan hutang. Tapi tetap aja instrumental dalam menuntun kita menentukan pengorbanan yang perlu atau memilih pengorbanan yang konsekwensinya sanggup kita tanggung. Karena aku nggak sanggup mengorbankan Mbak Dama, uang belanjaku yang harus kukorbankan. Itu satu-satunya pos yang masih bisa ditekan. Anggaran juga membantu kita “mutar” uang supaya nggak perlu gali lubang tutup lubang.

Gini:

Selama setahun itu gaji suamiku bisa dibilang sudah habis bahkan sebelum terima. Nggak bisa nyisihkan jaga-jaga untuk biaya berobat Rafi atau ganti lampu depan mobil yang mati misalnya. Di saat-saat butuh seperti itu anggaran yang menolong. Bisa kutentukan satu pos yang bisa kutunda pembayarannya, uangnya bisa kupakai dulu. Yang kupilih biasanya setoran asuransi karena waktu tenggangnya lumayan lama dan nggak ada denda atau bunga berbunga seperti cicilan hutang terutama hutang kartu kredit. Selalu kupilih setoran asuransiku yang lebih kecil, 300 ribu. Yang perlu kulakukan hanya memastikan yang terpakai nggak lebih dari 300 ribu dan segera mengganti setoran asuransi yang terpakai tadi secepatnya dengan uang apapun yang bisa kudapat asal halal. Sebisa mungkin nggak nunggu gaji bulan depannya. Karena itu kupilih setoran asuransiku yang lebih kecil, lebih enteng nutupnya.

Tanpa anggaran sangat sulit mengenali “pilihan” selain hutang ketika keuangan kita sempit.

Di postingan ini aku akan mencoba menjawab pertanyaan pembacaku tadi dengan langkah demi langkah menyusun anggaran yang bisa membantu kita hidup dari gaji <10 juta yang berkurang sampai separuh akibat cicilan. Yang akan kutulis ini merupakan gabungan antara Rencana Keuangan Hemat ala Koboi yang kupraktekkan sendiri dan Sistem Budgeting Satu Amplop-nya Jordan dari Fun, Cheap or Free.

Langkah#1: List down semua kewajiban pembayaran

Yaitu semua kewajiban yang ada tanggal jatuh temponya. Yang kita dikenai sanksi berupa denda atau bunga atau sita atau penalti bila pembayarannya melewati tanggal jatuh tempo. Urut mulai dari yang sanksinya paling berat dan/atau yang nominalnya paling besar. Dalam kasusku, selama setahun bersejarah itu jadinya seperti ini:

Cicilan Hutang FIF 1,175 juta
Cicilan Hutang Penggadaian 750 ribu
Asuransi Jiwa Suami 400 ribu
Asuransi Jiwaku 300 ribu
Total: 2,65 juta

Urutan ini menunjukkan prioritasnya. Andai karena satu dan lain hal nggak bisa membayar empat-empatnya sekaligus, urutan ini yang akan membantuku memutuskan mana yang harus kubayar dulu. Ada 2,5 juta misalnya, kudulukan kewajiban 1, 2 dan 3. Andai ada 1,5 juta, kubayarkan kewajiban 1 dan 4.

Aturan emasnya adalah segera penuhi kewajiban. Jangan ditaruh di dompet atau rekening. Jangan nunggu ngumpul. Langsung keluarkan. Segera menghabiskan 1,5 juta untuk kewajiban 1 dan 4 jauh lebih baik daripada membayar hanya kewajiban 1, sisa 425 ribu-nya kita simpan, nunggu ngumpul 700 ribu buat setoran asuransi biar nggak bolak-balik ke ATM.

No!

Bagi mereka yang orang tuanya nggak punya penghasilan, kusarankan untuk memasukkan uang bulanan orang tua di sebelah sini. Taruh paling atas. Tetapkan angka yang sama setiap bulan yang sekiranya cukup minimal untuk makan dan bayar tagihan listrik-air. Rundingkan dengan saudara sekandung kalau ada; bisa urunan. Kalau orang tua punya penghasilan, secara finansial nggak bergantung ke anak-anaknya, atau kalau saudara-saudara sekandung mapan, jangan ragu untuk berterus-terang, meminta pengertian, kita nggak ngasih dulu sampai paling nggak salah satu hutang lunas.

Langkah#2: List down semua yang perlu untuk mencari nafkah

Yaitu semua yang tanpanya berarti nggak ada uang masuk. Tiap profesi punya tuntutannya sendiri-sendiri. Operator forklift seperti suamiku nggak butuh beli baju kerja atau kelengkapannya sekali sebulan. Seragam disediakan perusahaan. Sepatunya juga. Di lingkungan kerjanya kemeja batik <50 ribu sudah pantes buat baju bebas hari Sabtu. Masukkan hanya yang esensial, yang betul-betul perlu. Dalam kasus suamiku yang kerjanya di lain kota jadinya seperti ini:

Kos
Makan
Bensin

Guru Bahasa Inggris lepas yang spesialisasinya TOEFL, Conversation dan in-House Training kurasa nggak (terlalu) butuh make-up dan modis. Butuhnya itu fasih dan alat bantu ngajar. Esensial kerjanya mungkin:

Bensin
Buku, CD dan Alat Bantu Lain
Fotokopi
Peralatan Kantor & Tulis
Pulsa & Paket Data
Cicilan Laptop
Makan Siang

Peringatan: andai laptop yang lagi kita cicil itu bukan kebutuhan kerja, jangan masukkan di sebelah sini apalagi di sebelah Kewajiban Pembayaran. Belakangkan.

Tanpa bermaksud merendahkan pekerjaan IRT, dan tolong diingat kita bicara soal penghasilan <10 juta yang sisa separuh, hati-hati dengan pengeluaran yang secara umum dipandang lazim seperti pulsa dan paket data. Unless you’re making money with it, cut it down or cut it off. Atau paling tidak jangan langsung beli di depan buat sebulan begitu gajian. Atur di Langkah#4.

Kita. Harus. Mendulukan. Makan.

Yang punya anak usia sekolah, masukkan pengeluaran yang sifatnya wajib (kalau nggak dibayar/dibeli nggak bisa sekolah) di sebelah sini. Yang terlintas di kepalaku SPP dan jasa antar-jemput. Kalau kita sendiri yang antar-jemput, biaya bensinnya atur di Langkah#4. Begitu juga dengan uang jajan dan pengeluaran kecil lain seperti alat tulis atau beli hadiah untuk teman yang merayakan ulang tahunnya di sekolah. Itu semua atur di Langkah#4.

Yang mengirim anaknya ke sekolah swasta kelas menengah, biaya sekolahnya pasti nggak hanya SPP dan transport. Akan tetapi, sekolah seperti itu bukan untuk penghasilan <10 juta terutama non-PNS yang harus menyiapkan dana pensiunnya sendiri. Yang lebih menghormati penghasilan <10 juta: sekolah negeri dekat rumah.

Langkah#3: Buat daftar semua kewajiban pembayaran untuk mengoperasikan rumah tangga

Yaitu semua pengeluaran bulanan yang kita butuhkan untuk memfungsikan rumah seperti tagihan PLN dan PDAM, iuran sampah, iuran RT dan gaji ART kalau ada. Berusahalah untuk membatasi diri hanya di kebutuhan-kebutuhan primer.

Dalam kasusku di setahun bersejarah itu, jadinya seperti ini:

Listrik 250-300 ribu
Air 40 ribu
Iuran Sampah 5 ribu
Gaji Mbak Dama 500 ribu
(SUSU-POPOK RAFI 750 ribu)
Total: 2,45-2,5 juta

Susu-popok harusnya masuk di Langkah#4. Dalam kasusku masuk sebelah sini karena beli di Surabaya jauh lebih murah daripada beli di Pacet. Karena tokonya jauh dari tempat kos suami meski sama-sama Surabayanya, beli sekaligus buat sebulan jatuhnya lebih hemat bensin dan waktu.

Di langkah ini, setelah dikurangi biaya operasional rumah tangga yang nominalnya relatif tetap dan keluarnya sekali sebulan, kalau sisanya kurang dari sejuta, kembali lah ke atas, review lagi semua pengeluaran dari atas: pos pengeluaran mana yang bisa kita hilangkan? Mungkin uang makan siang suami bisa diganti bawa bekal dari rumah. Pertimbangkan untuk berhenti langganan koneksi internet/TV kabel/koran atau melepas salah satu motor atau smartphone. Untuk keluarga 2 anak kelas menengah di kota, berat mencukupkan <1 juta buat pengeluaran sehari-hari selama sebulan. Lebih-lebih bila IRT atau ART-nya nggak pandai masak.

Gini:

Ketika kita hanya terima separuh gaji yang saat utuh pun nominalnya <10 juta, kita nggak akan bisa bertahan apalagi melunasi hutang lebih cepat hanya dengan memangkas/mengurangi uang keluar di setiap pos pengeluaran. Mau nggak mau harus ada pos pengeluaran yang dihilangkan. Aku berhenti belanja bulanan, berhenti minum air isi ulang ganti minum air keran (direbus dulu), hidup tanpa mobil tanpa motor ke mana-mana nunggu suami pulang. Ada begitu banyak pengorbanan yang nggak mungkin aja kutulis semua di sini. Di samping itu, ada beberapa pos pengeluaran yang kualihkan ke uang masuk selain gaji. Makan dan bensin suami kualihkan ke ceperannya. Tagihan air dan pungutan sampah kualihkan ke pemasukan dari menyewakan rumah di akhir pekan.

Langkah#4: Kendalikan semua pengeluaran lainnya dengan anggaran mingguan

Yaitu semua pengeluaran yang sifatnya pilihan/sukarela atau yang sifatnya harus tapi keluarnya sedikit-sedikit. Pikirkan pengeluaran yang larinya ke tukang sayur, warung, usaha rumahan di sekitar kita, minimarket, pasar, rumah makan, toko, supermarket, mal, penjual jasa seperti tukang cukur dan perorangan di sekeliling kita seperti teman/saudara/kerabat/tetangga. Bukan cuma yang habis dimakan-minum tapi juga yang habis dipakai seperti toiletries, popok, pembalut, kosmetik, produk pembersih rumah; yang nggak habis dipakai tapi rusak/worn-out seperti mainan, baju, sepatu, kaos kaki, pecah-belah; dan kebutuhan untuk perbaikan kecil di sekitar rumah seperti ganti lampu. Pengeluaran sedekah, sumbangan, buwuh, bezuk, takziyah, oleh-oleh dan hadiah atur juga di sebelah sini. Bensin/tol/parkir/tiket/karcis selain untuk kebutuhan kerja/menghasilkan uang masukkan sebelah sini. Pendeknya semua pengeluaran nominal kecil yang kita lakukan setiap hari atau berkali-kali dalam sebulan yang bisa diecer atau dikencangkendorkan.

Nggak mungkin semua yang kusebutkan tadi bisa dibiayai sisa gaji dalam kasus penghasilan <10 juta kepotong separuh buat cicilan. Budgeting di Langkah#4 ini bukan cara untuk memastikan semua yang kita butuh ketutup. Budgeting membantu kita memastikan sisa gaji cukup buat makan sampai gajian berikutnya yaitu dengan cara memilah pengeluaran menjadi makan/esensial dan non-makan lalu membatasi lajunya uang keluar per minggu. Bisa dengan sistem budgeting satu amplop Jordan yang sangat praktis dan sederhana. Yang kutulis di sini sudah kusesuaikan dengan konteksku. Jadi nggak sama persis dengan versi aslinya. Kalau ingin tahu versi aslinya dan penjelasan yang lebih utuh tentang sistem ini dari Jordan sendiri, lihat videonya di sini.

Sistem Satu Amplop

Nggak harus amplop. Selembar kertas bisa. Jordan pakai amplop kurasa karena ini modifikasinya untuk Sistem Amplop yang selalu disebut-sebut oleh ahli keuangan personal.

Tekniknya gini:

Satu: Ambil satu amplop atau selembar kertas dan satu pensil atau pulpen.

Dua: Buat 2 kolom di amplop tadi. Kolom kanan untuk pengeluaran makan-&-esensial (contoh: sembako, gas, lauk-pauk, susu-popok), kolom kiri untuk semua pengeluaran lainnya (contoh: bensin, pulsa, paket data, jajan/mainan/baju anak, sumbangan, buwuh dll). Lalu bagi 2 kolom tadi jadi 4 baris. Satu baris untuk mencatat semua pengeluaran selama satu minggu.

Tiga: Bagi sisa gaji jadi 4. Satu bagian untuk jatah semua pengeluaran selama seminggu. Misal sisa gaji 500 ribu, jatah mingguannya jadi 125 ribu. Lalu bagi lagi 125 ribu itu jadi dua, satu jatahnya makan-&-esensial, satu lagi jatah semua pengeluaran selain makan-&-esensial. Yang untuk makan harusnya lebih besar. Mungkin 100/25 ribu atau 75/50 ribu. Makin lama kita akan makin pandai matok angka yang pas buat rumah tangga kita. Setelah setahun aku bisa mencukupkan 75 ribu buat makan. Belum bisa 75 ribu buat makan enak loh ya. Baru di level bisa makan.

Empat: Taruh amplop/kertas plus pensil/pulpen dalam dompet supaya ikut kemana pun kita pergi.

Lima: Setiap kali keluar uang, catat di amplop/kertas tadi. Langsung catat di tempat, jangan nunggu nanti malam atau sampai di rumah. Nggak perlu dirinci uang keluar ini tadi buat apa. Tujuan kita bukan bikin catatan untuk melacak pengeluaran. Tulis saja nominalnya di tempatnya masing-masing. Uang keluar buat belanja sayur-lauk di hari pertama setelah gajian mestinya tertulis di baris paling atas kolom kanan. Makan di luar di hari minggu ke-4 setelah gajian mestinya tertulis di baris paling bawah kolom kiri. Lalu kurangkan sehingga kita selalu tahu jatah uang minggu itu sisa berapa.

Enam: Begitu uang buat seminggu habis, berhentilah mengeluarkan uang. Kalau memang perlu, kita bisa pakai jatah kolom kiri untuk kolom kanan (dan sebaliknya) selama itu dari minggu yang sama. Tapi berusahalah sekeras mungkin agar uang jatah minggu depan nggak kepakai untuk pengeluaran minggu ini. When it’s gone, it’s gone.

Bagian terakhir ini yang paling sulit, yang budgeting sudah nggak bisa apa-apa. Sekarang sepenuhnya tergantung kemauan-kesanggupan kita berkorban.

Dan berpikir kreatif:

1. Mencari berbagai cara men-stretch belanjaan. Semua cara yang kupakai bisa dilihat di sini dan di sini.
2. Mutar otak nutup butuh tanpa mengeluarkan uang. Yang kulakukan bisa dibaca di sini dan di sini.

Dua itu yang langsung nggak langsung membantuku melunasi hutang lebih cepat.

Konkretnya gini:

Kemampuanku berpikir kreatif mengurangi ketergantunganku ke uang. Nggak dikit-dikit beli. Juga memberiku kesanggupan lebih untuk berkorban; lebih tahan bersakit-sakit. Sehingga begitu ada uang lebih seperti THR atau dikasih adik tadi, langsung kusalurkan ke hutang, nggak pakai nunggu jatuh tempo, nggak pakai nunggu bulan depan. Begitu ada, langsung setor, ada, setor.

Belajar dari pengalamanku, kusarankan untuk tidak berusaha melunasi hutang lebih cepat dengan cara menyisihkan penghasilan sedikit demi sedikit, dikumpulkan di tabungan (apalagi rekening ber-ATM), nunggu jumlahnya cukup buat nutup sisa hutang dengan sekali setor.

Ada memang lembaga-lembaga pembiayaan yang cenderung mempersulit pelunasan lebih cepat. Karena itu aku suka Penggadaian. Mereka “mendorong” pelunasan lebih cepat. Mau cicilan bulan kemarin kita tambah 25 ribu, bulan ini kita tambah 100 ribu, bulan depan langsung 3 kali cicilan, bulan depannya lagi setor tiap minggu, mereka terima. Makin cepat lunas, makin besar potongan bunganya. Manfaatkan kemudahan itu.

Kalau memang hanya bisa dilunasi dengan sekali tutup (atau harus menabung untuk tujuan lain), carilah bentuk tabungan yang nggak gampang ditarik. Beda-beda di tiap orang. Aku misalnya, uang yang kusisihkan lebih “awet” kalau kurupakan emas atau arisan. Di orang lain mungkin tabungan berjangka. Find one that works best for us. Itu kuncinya.

Sejujurnya aku nggak bisa mengendalikan uang keluar per minggu seperti yang disuruh Sistem Satu Amplopnya Jordan tapi aku bisa nggak mengeluarkan uang begitu dompet kosong. Maka yang efektif untukku bukan seperti yang kutulis di Langkah#4.

Yang efektif untukku:

  1. Ngepaskan uang di dompet.
  2. Nyisihkan (sedikit) dengan bantuan arisan mingguan.
  3. Tidak menyisakan sepeser pun di rekening gaji suami.
  4. Begitu ada uang masuk yang nominalnya di atas sejuta dalam sekali terima (nggak sedikit-sedikit), langsung kusalurkan ke cicilan hutang di Penggadaian.

Hutang satu lagi kututup setelah 1,5 tahun nyicil dengan sekaligus menutup sisa cicilan 6 bulan berikutnya. Alhamdulillah dapat uang hasil penjualan sawah almarhum orang tua. Jadi iya, separuh memang faktor keberuntungan. Tapi tolong diingat separuhnya lagi tetap karena faktor pengelolaan.

Setelah 1,5 tahun aku menjadi sangat terlatih membuat prioritas. Ketika dapat uang warisan itu ada begitu banyak kebutuhan lain. Pasak teras keropos dimakan rayap, dua-dua bak mandi bocor, genteng dapur bocor, tetesan airnya mulai ngerusak plafon, iPhone 4.0-ku harus kuikat karet gelang karena menganga, navigation key-nya sudah setahunan nggak bisa dipakai, mobil penyok di tiga tempat, laptopku-printer sama-sama nggak bisa dipakai, TV layar datar tinggalan ibuku bejat, yang kami tonton TV-nggak datar-remote-nya rusak punya adik ipar dan sederet panjang kebutuhan-keinginan lain yang aku dengan tegas bisa bilang, “Tunggu sampai hutang lunas!”

Jadi: kalau semua yang kutulis di sini secara teknis terasa sangat berat, cobalah untuk fokus di prinsip-prinsipnya, urusan teknisnya serahkan ke apa yang efektif di kita. Teruslah mencoba, teruslah mencari.

Buat IRT yang juga sedang (atau ingin mulai) berjuang memperbaiki keuangan rumah tangganya tanpa kembali bekerja, cari aku di Instagram. Kita bisa saling menguatkan dan berbagi ide. Dalam segala bentuk perjuangan kita butuh orang-orang yang like-minded dan/atau senasib-sepenanggungan.

2 Comments Add yours

  1. Inge says:

    Halo mba Rinda. Keseluruhan tulisan di blog mba berguna sekali. Kalau saya butuh masukan ide dari mba (tanpa melalui instagram, karena saya sedang tidak aktifkan sementara), saya bisa hubungi dimana ya mba? Terima kasih. Salam.

    1. Rinda says:

      Dalam sehari aku nge-cek email beberapa kali. Ke mz_newconcept@yahoo.com aja.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s