4 Jalan Pintas Budgeting

(Foto cover dari bhg.com)

Kita butuh catatan terperinci aliran uang keluar (uang masuk juga) sebelum bisa memperbaiki keuangan. Terutama bila pilihannya adalah memperbaiki keuangan tanpa menambah penghasilan. Paling nggak catatan uang keluar-masuk selama 3 bulan terakhir. Lebih bagus kalau bisa 12 bulan terakhir.

Angka-angka di catatan itu yang akan membantu kita membuat keputusan-keputusan besar dan kecil. Misal: haruskah pindah tempat kerja atau malah lebih baik berhenti kerja sekalian karena gaji bisa dibilang habis untuk biaya transport dan mempekerjakan pengasuh anak. Atau mengidentifikasi pengeluaran-pengeluaran non-primer harian seperti beli gorengan sambil jalan-jalan sore yang kelihatannya nggak seberapa tapi kalau ditotal sebulannya cukup buat token listrik 2 minggu.

Angka-angka itu juga yang memungkinkan kita membuat budget yang realistis, yang bisa ditaati, yang nggak bolak-balik menembus batas gara-gara angka-angkanya kelewat ambisius mencekik leher. Anggaran yang sungguhan bisa memaksimalkan penghasilan hanyalah yang bisa menghasilkan kepatuhan yang konsisten.

Akan tetapi:

Yang harus kita sadari, pembukuan terperinci dan rapi seperti itu nggak sama dengan budgeting. Fungsi pembukuan bukan untuk mengatur-kendalikan pengeluaran. Jadi kalau berpikir dengan mencatat setiap receh uang keluar lantas hemat akan terjadi dengan sendirinya, bersiap-siaplah stres.

Jangan khawatir. Ada juga kok orang-orang yang nggak punya pembukuan rapi toh tetap bisa mengelola penghasilannya dengan baik.

Bermodal Ilmu Titen, berikut ku-round up 4 jalan pintas bikin anggaran yang sungguhan bisa mengelola gaji tanpa harus mencatat setiap receh uang keluar.

Jalan Pintas#1: Dua Dompet

Beli dua dompet (satu dompet sebetulnya bisa asal kendali diri kuat). Idenya sederhana: uang gaji jangan dimasukkan dompet semua, jangan ikut kemana pun kita pergi.

Begitu gajian langsung bagi dalam dua porsi. Seporsi untuk pengeluaran yang sifatnya tetap atau kita sendiri yang membuatnya jadi tetap, seporsi lagi untuk pengeluaran yang relatif bisa kita kencang-kendorkan.

Mana pengeluaran relatif tetap, mana yang relatif bisa ditarik-ulur bisa jadi menakjubkan beda-bedanya di tiap orang. Aku misalnya, bisa makan dari 500 ribu sebulan tapi nggak akan sanggup buwuh kurang dari 50 ribu per orang. Meski undangan manten ada 10 di bulan itu, ya tetap siap paling sedikit 500 ribu karena khusus teman dan kerabat nggak sanggup aja ngasih kurang dari 100 ribu.

Berapa porsi gaji untuk yang bisa ditarik-ulur, berapa porsi gaji untuk yang tetap, tergantung banyak faktor. Prinsipnya adalah realistis, sadar diri. Ini mungkin bisa jadi patokan: makin banyak pengeluaran konsumtif yang bisa kita kencang-kendorkan, makin banyak pengeluaran investasi dan tabungan yang bisa kita jadikan tetap, makin sip.

Sisihkan pengeluaran-pengeluaran tetap di depan. Masukkan di satu dompet. Simpan di tempat yang nggak kelihatan mata. Jangan ditaruh dalam tas. Dengan begitu uang yang ada dalam dompet yang kita bawa kesana-kemari betul-betul uang yang bisa dibelanjakan.

Jalan Pintas#2: Dua Penghasilan

Usahakan punya dua penghasilan. Yang satu harus gaji tetap, satunya boleh honor atau penghasilan nggak-tetap lain tapi harus kita terima tiap bulan.

Pakai gaji untuk pengeluaran rutin yang besarnya tetap dan sifatnya primer. Khususnya yang keluarnya sebulan sekali seperti cicilan rumah/mobil, asuransi, tabungan pensiun, tabungan dana darurat, uang belanja sembako.

Pakai penghasilan nggak-tetap untuk pengeluaran yang bisa dinaik-turunkan dan sifatnya sekunder seperti uang lauk, uang jajan, uang pulsa, uang shopping, uang jalan-jalan dan makan di luar. Sesuaikan dengan uang yang ada. Bulan ini bisanya beli pulsa 20 ribu, belilah 20 ribu. Jangan ditetapkan pulsa tiap bulan harus 100 ribu. Bulan ini penghasilan nggak-tetap hanya cukup buat lauk-pauk, ya libur dulu nge-mal-nya.

Jalan Pintas#3: Satu Hari Satu Amplop

Setelah gaji bulanan dikurangi pengeluaran bulanan seperti cicilan dan tagihan termasuk tabungan, bagi sisanya sesuai jumlah hari dalam bulan itu, masuk-masukkan dalam amplop.

Pengeluaran per hari harus bisa di-cover oleh satu amplop.

Kalau pos pengeluaran harian ada banyak, bukan cuma uang belanja lauk–ada uang makan dan bensin suami, uang jajan dan bensin anak misalnya–siapkan satu amplop untuk satu anggota keluarga. Masing-masing bertanggung-jawab memastikan pengeluaran hariannya nggak melebihi uang yang ada dalam amplop.

Jalan Pintas#4: Selalu punya minimal satu rekening tabungan berjangka atau tabungan emas + satu rekening kas rumah tangga

Begitu berumah tangga (lebih bagus kalau sejak masih gadis, begitu punya penghasilan sendiri), langsung buka paling sedikit satu rekening tabungan berjangka paling pendek 3 tahun atau tabungan emas Penggadaian. Berapa rekening tabungan berjangka atau tabungan emas yang harus kita punya tergantung berapa banyak kebutuhan jangka menengah dan jangka panjang rumah tangga kita. Di antaranya mungkin dana darurat, dana DP rumah, dana DP mobil, dana pensiun, dana naik haji, dana pendidikan anak dan dana mantu.

Sesuaikan jangka tabungan dan besar setoran per bulan dengan kemampuan dan kebutuhan. Tabungan DP rumah misalnya, jangan pilih setoran 300 ribu per bulan selama 1 tahun. Mana cukup? Atau anak perempuan kita masih umur 6 bulan. Nggak perlu lah buka tabungan berjangka 20 tahun dengan setoran per bulan 1 juta buat dana mantu.

Kalau membuka beberapa tabungan berjangka sekaligus nggak memungkinkan, buka satu saja per waktu tapi buat skala prioritas. Begitu satu kebutuhan terpenuhi, buka lagi tabungan berjangka lain untuk kebutuhan berikutnya dalam skala prioritas kita. Contoh: setelah DP rumah terpenuhi, langsung sambung dengan buka tabungan berjangka untuk DP mobil misalnya.

Idenya adalah: begitu terima gaji, rekening-rekening itu kita isi duluan berapapun dapatnya gaji. Nggak nunggu rizki lebih, nggak nunggu gaji bersisa.

Uang gaji yang tersisa setelah dikurangi setoran untuk rekening-rekening di atas sebisa mungkin sisihkan seporsi untuk dimasukkan ke rekening kas rumah tangga. Rekening ini bukan rekening tabungan melainkan dana siap tarik sewaktu-waktu yang akan membiayai pengeluaran-pengeluaran nggak-rutin (tidak setiap hari/minggu/bulan), nggak-terduga, tapi pas butuh nggak bisa ditunda. Contoh pemanfaatan uang kas rumah tangga yang langsung terlintas di kepalaku: biaya dokter dan obat. Rekening ini yang akan memastikan kita bisa ke dokter dan beli obat tanpa berhutang yang lantas dibebankan ke gaji bulan depan, tanpa mengurangi uang belanja, tanpa menginterupsi program menabung.

Uang kas rumah tangga ini nggak sama dengan dana darurat. Dana darurat disiapkan untuk situasi kehilangan penghasilan karena PHK, karena terpaksa resign atau karena pencari nafkah cacat tetap atau meninggal dunia. Jadi nominalnya besar. Idealnya dana darurat cukup buat biaya hidup selama paling nggak 6 bulan, ngasih kita waktu mencari sumber nafkah lain dengan kepala jernih, nggak perlu kesana-kemari cari hutangan buat makan, hidup dari belas-kasihan sanak-saudara, anak nggak perlu berhenti kuliah. Kita relatif bisa menjaga pikiran dan hati dari kekalutan dan kegalauan yang sangat tidak mendukung pengambilan keputusan yang menguntungkan dalam jangka panjang. Dari pengalamanku, uang kas 3 juta aja sudah sangat membantu mutar gaji.

Seperti yang bisa dilihat dari uraianku untuk jalan pintas budgeting No.4 yang jauh lebih panjang-lebar daripada nomor 1-3, aku memang lebih cenderung ke No.4. Alasannya sederhana: budgeting nomor 1 sampai 3 hanya memastikan gaji cukup buat kebutuhan sebulan. Kemungkinan besar cuma memperhitungkan cicilan-cicilan, tagihan PLN-PDAM-Telkom, iuran-arisan RT, belanja bulanan dan harian, uang jajan anak, uang bensin dan semacamnya. Budgeting No.4 memaksa kita menyesuaikan pengeluaran-pengeluaran tipikal rumah tangga yang kusebut tadi dengan tujuan keuangan jangka menengah dan panjang.

Kita dituntut untuk berpikir bukan lagi dalam kerangka gimana-caranya-gaji-cukup-buat-sebulan tapi dalam kerangka gimana-caranya-gaji-nggak-habis-cuma-buat-pengeluaran-bulan-ini.

Itu bedanya besar sekali lho bagi rumah tangga kita. Khususnya rumah tangga non-PNS, yang bekerja cuma suami, penghasilannya kurang dari 10 juta.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s