[Seri Keuangan IRT] The Why

Sesungguhnya kita dikelilingi IRT-IRT jagoan dalam hal pengelolaan uang. Hanya saja karena kita lebih peduli sama siapa yang mendatangkan uang, skill gandengannya yaitu bisa mengelola uang, luput aja dari radar.

Kuputuskan lah memulai Seri Keuangan IRT yang akan menampilkan IRT-IRT yang kukenal secara pribadi. Mereka memenuhi paling sedikit satu dari syarat berikut. Lebih bagus kalau bisa lebih dari satu.

  1. Bisa menjaga rumah tangganya dari keuangan gali lubang tutup lubang.
  2. Bisa selalu punya simpanan untuk kebutuhan darurat.
  3. Bisa punya rumah tanpa atau dengan sedikit bantuan orang tua.
  4. Bisa berinvestasi.
  5. Porsi terbesar penghasilan bukan untuk belanja konsumsi dan biaya hidup.
  6. Punya dan menjalankan rencana menabung jangka panjang untuk kebutuhan “uang besar” seperti pendidikan tinggi anak, mantu dan masa pensiun.
  7. Bisa “mengantar” anak-anaknya naik ke kelas sosial-ekonomi yang lebih tinggi.
  8. Bisa membuat pada umumnya orang mengira penghasilan suaminya dua kali lipatnya tanpa kartu kredit, tanpa 1001 cicilan.
  9. Bisa memulai dan membesarkan usaha rumahan tanpa hutang ke bank.

Sementara ini 9 itu dulu. Pastinya akan terus berubah seiring waktu. Dua yang sangat penting yang harus kutegaskan di sini.

Satu: Pemahamanku tentang IRT tidak terbatas pada perempuan menikah yang nggak punya pekerjaan tetap atau penghasilan tetap. Nggak harus kerja di luar rumah untuk punya penghasilan tetap. Nggak sedikit juga perempuan bekerja yang menjalankan tugas kerumahtanggaannya tanpa ART. Jadi ijinkan aku milih perempuan menikah yang bekerja untuk kuangkat di seri ini. Mari fokus di kemampuan luar biasa dalam mengelola penghasilan. Soal kerja atau nggak kerjanya nggak penting. Aku nggak ngajak cari bolo [=teman senasib]. Aku ngajak cari ilmu.

Dua: IRT-IRT yang kumaksud di sini adalah mereka yang penghasilannya dan/atau penghasilan suaminya total di bawah 10 juta bermodal pendidikan S1 ke atas. Jadi tolong keluarkan mereka yang berpendidikan SMA atau setara meskipun penghasilannya 6 jutaan. Suamiku selalu bilang gaji+uang lemburnya jauh di atas teman-temannya. Kalau dibandingkan teman-temannya, memang. Dibandingkan teman-temanku? Lain lagi ceritanya.

Konteks keuangan yang kusasar dan kugambarkan di blog ini dan di akun Instagramku adalah konteks pekerja kerah putih, konteks kelas menengah kota. Suamiku memang pekerja kerah biru tapi aku berangkat dari kelas menengah, lingkungan sosialku (sedikit-banyak masih) kelas menengah, ekspektasiku (sedikit-banyak masih) kelas menengah, suamiku pun ingin jadi bagian kelas menengah, jadi pengelolaan keuangan kami sangat dipengaruhi nilai dan gaya hidup kelas menengah. Dengan penghasilan di bawah 10 juta itu artinya kerja keras pengelolaan.

Kenapa kupilih 9 itu?

Bagi yang sudah berumah-tangga, hidup di kota, rata-rata pemasukan per bulannya kurang dari 10 juta, kurasa ngerti sendiri lah gimana sulitnya melakukan 9 yang kusebut di atas. Pada umumnya rumah tangga berpenghasilan di bawah 10 juta di kota-kota besar hidup dari gaji ke gaji; gaji bulan ini habis buat bulan ini juga. Jangankan bisa menyisakan, mencukupkan gaji sampai H-1 gajian aja banyak yang nggak bisa. Kalau sembilan yang di atas harus kujabarkan:

Pain-Point#1: Keuangan Gali Lubang Tutup Lubang

Sampai tahun ke-5 pernikahan, keuangan rumah tanggaku masih gali lubang tutup lubang. Harus hutang untuk biaya-biaya di atas 3 juta, harus bolak-balik narik tabungan untuk pengeluaran sehari-hari. Anggaran yang kubuat untuk memastikan uang yang kupegang bisa nutup semua kebutuhan selalu mbleset, selalu kurang. Uang yang kusisihkan nggak pernah bisa ngumpul. Dulu kukira cuma aku seorang yang punya masalah itu. Setelah intens meng-cover keuangan rumah tangga di Instagram, ternyata banyak temannya!

Dua tahunan ini baru aku sadar: kita nggak bisa mencukupkan penghasilan hanya dengan modal bikin anggaran ‘buat ini nggak boleh lebih dari segini, buat itu nggak boleh lebih dari segitu‘, ‘harus bisa nabung segini‘ dan seterusnya.

Matok batasan-batasan uang keluar seperti itu efektif hanya setelah kita punya gambaran besar yang akurat akan semua biaya yang harus kita keluarkan untuk mempertahankan gaya hidup kita yang sekarang ini.

Review dulu kebiasaan makan, kebiasaan njajan, kebiasaan njajan anak, standar berpenampilan, tempat kita belanja, orang-orang yang kita akrabi, tempat yang kita datangi, pilihan profesi kita, rumah yang kita tempati, peralatan yang kita nggak bisa hidup tanpanya (TV, DVD player, AC, smartphone, tablet, komputer, printer, kulkas, kompor, dispenser, pompa air, mesin cuci dll), ekspektasi dan kelaziman di lingkungan tetangga, tradisi dan norma yang kita junjung tinggi, ritual agama yang nggak bisa kita tinggalkan; semuanya. Lalu sandingkan dengan tingkat penghasilan kita. Sudah sejajar kah antara gaya hidup dan tingkat penghasilan? Karena:

  • ngambil gaya hidup orang tua,
  • ngambil gaya hidup orang-orang sekeliling kita,
  • ngambil gaya hidup orang-orang yang kita anggap sederajat dengan kita (teman sekolah/teman kerja/sepupu/mantan calon suami) sebagaimana yang mereka tampilkan di FB,

jauh lebih “aman” dan nyaman timbang ngambil gaya hidup yang disediakan tingkat penghasilan.

Pain-Point#2: Menyisihkan Untuk Sedia Payung Sebelum Hujan

Jangan berharap bisa menyisihkan sebelum bisa mencukupkan.

Pada umumnya IRT bisa menyisihkan sebagian penghasilan untuk mepekkan rumah [=melengkapi rumah dengan perabotan, peralatan dan pernik-pajangan]. Bukan menyisihkan seperti ini yang kumaksud.

Menyisihkan penghasilan demi sesuatu yang berupa, yang bisa kita nikmati, yang kita sukai, nggak butuh kemampuan pengelolaan luar biasa. Di jaman kita ini apa yang nggak kebeli dengan cara kredit? Dari baby doll sampai kulkas, dari smartphone sampai mobil. Menyisihkan buat cicilan-cicilan kreditan seperti ini difasilitasi dari kiri, kanan, atas, bawah. Cicilan kredit sesungguhnya kan hutang. Yang kumaksud menyisihkan di sini: menyisihkan buat dana cadangan. Ibaratnya ngumpulkan uang buat dianggurkan, buat yang belum tentu terjadi.

Kenapa kebanyakan orang nggak bisa? Apa yang khas, yang unik, yang hanya dilakukan oleh mereka yang bisa yang nggak kita temukan di mereka yang nggak bisa?

Pain-Point#3: Membeli Rumah Bermodal Uang Gaji <10 juta

Makin tahun rumah makin nggak kebeli. Makin lama ditunda, makin mahal. Buat pada umumnya orang it’s a now or never situation. Yang penghasilannya di atas 10 juta pun rata-rata harus dibantu bank untuk bisa punya rumah. Jadi bayangkan sendiri tingkat kesulitannya bagi yang penghasilannya di bawah 10 juta. Ngumpulkan buat DP harus berpacu dengan waktu. Cicilannya sendiri bisa sampai separuh gaji. Sebelum lunas harus sudah mulai kumpul-kumpul buat renovasi. Temanku beli rumah murah antara tahun 2009-10; DP <10 juta, cicilan <1 juta. Nggak sampai 5 tahun temboknya miring. Mikirnya aja pening.

Jadi kupikir mestinya ada cara/trik/sistem/kebiasaan pengelolaan tertentu bagi rumah tangga berpenghasilan kurang dari 10 juta untuk bisa punya rumah (yang temboknya nggak miring dalam waktu kurang dari 5 tahun semenjak dibangun).

Pain-Point#4: Menyisihkan Untuk Berinvestasi

Langsung, singkat dan padat: penghasilan di bawah 10 juta sudah sangat kerepotan dengan biaya hidup sehari-hari dan berbagai cicilan. Investasi rasanya seperti pungguk merindukan bulan. Beda tipis dengan nggak tahu diri.

Itu kalau pengetahuan investasi kita sebatas iklan apartemen, iklan perumahan di kawasan strategis dan iklan bursa efek.

Kalau dipikir-pikir, apa bedanya nyicil mobil 2,5 juta per bulan selama 5 tahun dengan ke mana-mana sepeda motoran supaya 2,5 jutanya bisa kita kumpulkan buat dibelikan tanah sawah atau tanah tambak atau tanah kavling?

Kalau ada yang mendahulukan naik haji dari mobil pribadi, atau mendahulukan pendidikan S2 dari daftar haji, mestinya ada yang mendahulukan beli tanah dari beli mobil dan pendidikan S2. Bedanya cuma di skala prioritas kan?

Yang ingin kucari tahu adalah gimana IRT-IRT teladan ini menetapkan skala prioritasnya. Apa-apa aja yang memudahkan kita menetapkan investasi sebagai prioritas dan apa-apa yang menyulitkan.

Pain-Point#5: Meletakkan Tanggung-Jawab Lebih ke Keuangan Rumah Tangga

Ketika penghasilan kejar-kejaran dengan kebutuhan, tabungan nggak bisa ngumpul, membelanjakan penghasilan demi sesuatu yang tidak kita nikmati sendiri, demi orang yang bukan istri/suami dan anak, terasa sangat tidak pintar. Rutin ngirim buat bantu-bantu biaya makan orang tua kandung berasa melubangi kapal. Jadi mereka yang bisa rutin menyisihkan penghasilan kurang dari 10 jutanya untuk menafkahi orang tua dan/atau mertua, menyekolahkan adik atau ponakan, menampung adik atau ponakan di rumahnya, mengangkat anak padahal anak kandung dah lengkap sepasang, menyantuni tetangga dan saudara yang keuangannya sangat sempit, memutihkan hutang, mensponsori kegiatan-kegiatan RT, menanggung biaya berobat anggota keluarga besar atau bahkan orang yang nggak dikenal, mestinya pengelolaan keuangannya nggak sama dengan pada umumnya orang.

Apa yang bikin mereka sanggup melakukan yang nggak sanggup dilakukan kebanyakan orang?

Pain-Point#6: Menjalankan Rencana Menabung Jangka Panjang

Sekarang kalau menggenapkan gaji sampai H-1 gajian aja nggak bisa, gimana mau bisa menabung? Seperti aku dulu, menabung pun ujung-ujungnya sering kepakai untuk yang bukan tujuannya. Nabung buat memperpanjang kontrak, diambil dikit, diambil lagi dikit, adaaa aja. Begitu kontrak habis, harus hutang untuk memperpanjang.

Pola menabung gali saldo tutup saldo seperti ini umum. Sepertinya khas kelas pekerja. Dulu kukira bisa nggak bisa nabung ditentukan keteguhan hati, kebulatan tekad, disiplin diri. Yang nggak bisa nabung berarti lemah. Ternyata nggak sesederhana itu.

Ada porsi psikologis dan sosial-budaya yang sangat besar dalam keuangan personal.

Jangan samakan dengan keuangan perusahaan. Mungkin lebih mirip keuangan negara yang berat di porsi politiknya. Sejak pemerintahan Gus Dur, otak-otak perekonomian kita mulai berani rasional, realistis. Subsidi BBM sangat memberatkan keuangan negara. Tetap aja untuk menaikkan harga BBM maju-mundur juga kan? Karena berat di biaya politik.

Jadi logikaku, kalau normalnya orang kesulitan ajeg terus nambah saldo tabungannya sampai berpuluh tahun, mereka yang bisa mestinya punya rahasia. Mereka tahu apa yang kita nggak tahu.

Pain-Point#7: Menghasilkan Generasi Unggul Tanpa Sekolah Unggulan

Salah satu klien program conversationku yang dosen ITS bilang, “Perbedaan kelas adalah perbedaan nilai”, bukan sekedar soal perbedaan tingkat pendapatan. Setelah menikah baru aku ngerti.

Ada hal-hal mendasar yang kutemui sehari-hari di rumah orang tuaku yang nggak kulihat di keluarga suami. Salah satunya adalah ekspektasi orang tua ke anak. Makin tinggi kelas sosial-ekonomi seseorang, makin tinggi juga ekspektasinya ke anak-anaknya. Aku sadar betul pentingnya pendidikan bagi kualitas hidup. After all I used to be a teacher. Mau diputar bagaimanapun kualitas hidup manusia nggak bisa dipisahkan dari tingkat kecerdasan dan pengetahuan. Tapi kalau kita berani jujur, pendidikan formal sudah nggak sanggup lagi menjamin masa depan seseorang. Aku contohnya! Di jaman kita ini aja sudah nggak bisa apalagi 20-30 tahun lagi.

Ada yang nggak setuju?

Menurutku jawabannya bukan di memastikan penghasilan kita cukup untuk ngirim anak ke sekolah-sekolah terbaik. Jawabannya ada di rumah.

Apa yang didapat anak dari rumah; yang dia lihat, yang dia amati, kebiasaan-rutinitas yang kita latihkan, nilai-nilai yang kita tanamkan, batasan yang kita buat, ketrampilan yang kita ajarkan, tuntutan yang kita tegaskan, tanggung-jawab yang kita percayakan, standar yang kita tetapkan dan sebagainya.

Dan kalau sudah ngomong soal rumah, peran kunci dipegang perempuan. Pertanyaanku adalah: apa yang dilakukan IRT-IRT yang penghasilan suaminya nggak sanggup membiayai sekolah asrama atau sekolah internasional atau semacamnya tapi anak-anaknya bisa masuk ke kelas sosial-ekonomi lebih tinggi?

Menurutku itu sangat menarik dan luar biasa bermanfaat sekaligus. Silakan bantah di Comment. Agenda pribadiku sejak baligh adalah menjadi generasi yang kuat dan menghasilkan generasi yang kuat. Mau nggak mau, suka nggak suka, itu nunjuk kemampuan ekonomi.

Pain-Point#8: Menciptakan Kesan Mendalam Tanpa Habis-Habisan di Biaya

Contoh paling gampang itu gadis yang tampilannya kelihatan “mahal”. Belum tentu dia tinggal di kawasan perumahan eksklusif kan? Mobil yang dipakainya nggak harus mewah. Bisa jadi ke mana-mana naik motor. Juga sama sekali nggak otomatis penghasilannya tinggi. Beberapa kali aku kenal sendiri gadis-gadis yang penampilannya mahal modal uang saku dari orang tua ditambah kerja part-time.

Berpenghasilan tinggi nggak sama dengan ngasih kesan berpenghasilan tinggi.

Kalau ada gadis yang bisa mengelola uang sakunya sedemikian rupa supaya tampilannya kelihatan mahal, berarti bisa juga IRT mengelola gaji kurang dari 10 juta suaminya supaya tampilan diri-suami dan anak-anaknya kelihatan mahal. Atau rumahnya kelihatan mahal. Atau hajatan-hajatan di rumahnya kelihatan mahal. Atau oleh-olehnya kelihatan mahal.

Yang ini mungkin penting cuma buatku seorang. Wekaka-weka-weka! Pada prinsipnya aku ngefans berat sama segala sesuatu yang murah tapi sebel setengah mati sama segala sesuatu yang murahan.

Pain-Point#9: Meng-Cash-Flow Usaha Rumahan

Dari Robert Kiyosaki aku kenal ide ini: “Kita nggak harus jadi orang kaya untuk punya cash-flownya orang kaya.” Jelasnya gini:

Orang (yang sungguhan) kaya membelanjakan sebagian besar penghasilannya untuk menghasilkan uang lagi. Bukan untuk belanja konsumsi. Bukan untuk dinikmati.

Si Robert itu bikin aku mikir, mempertanyakan fokus pengelolaanku selama ini. Jujur masih berkutat di mengurangi uang keluar demi bisa menabung. Untuk punya cash-flow orang kaya harus kurubah jadi:

Mengurangi uang keluar buat belanja konsumsi/liabilitas demi menambah uang keluar buat belanja investasi/aset.

Nggak cukup hanya dengan ditabung, tapi dipastikan menghasilkan uang lagi. Yang langsung terlintas di kepalaku: usaha rumahan. Emas, reksadana, tanah juga bagus. Hanya saja investasi beresiko rendah umumnya nggak nambah cash-flow, nggak nambah penghasilan.

Akhir-akhir ini aku jadi sangat peka, mencari-cari IRT-IRT yang punya usaha rumahan tanpa atau dengan sedikit modal. Gimana cara mereka memulai? Gimana mereka mengelola keuangan rumah tangganya? Logikaku gini, IRT yang nggak bagus di keuangan rumah tangga nggak mungkin aja bisa mengelola keuangan usaha rumahan. Ujung-ujungnya nggak mungkin usaha rumahannya bertahan apalagi berkembang.

Apa ada perbedaan yang signifikan antara pengelolaan keuangan IRT yang punya usaha rumahan dengan yang nggak? Karena bisa kupastikan beda dengan sekedar menyisihkan penghasilan buat ditabung untuk dibelikan emas.

e747052125771cc52200fe01b90cf8c9919863588.jpg
Foto kucomot dari Pinterest tanpa mau repot mencatat sumber pertamanya. Kupilih yang ini sebagai catatan mental: Semua. Bisa. Jadi. Peranti. Meja. Prasmanan. Nggak perlu ngoleksi pecah-belah khusus hajatan yang dipakainya belum tentu 5 tahun sekali.

Ini sudah hampir 2000 kata, tanpa berpanjang-lebar lagi, IRT pertama yang ku-feature di Seri Keuangan IRT ini bisa dibaca Jumat, 31 Agustus. Sambil nunggu boleh ikuti polahku di Instagram.

image

2 thoughts on “[Seri Keuangan IRT] The Why

    1. IRT pertama sudah ku-publish kemarin, Rosa. IRT berikutnya in sya Allah sebulan lagi. Jadi sebulan seorang.

      Mungkin setahunan ke depan IRT yang kutampilkan masih pilihanku sendiri, yang kukenal pribadi. Pinginnya sih sebelum setahun bisa buka kontribusi tulisan untuk seri ini. Supaya sumbernya lebih kaya, bisa ngasih model pengelolaan untuk tiap-tiap konteks rumah tangga. Cara Anik jelas-jelas nggak bisa dipakai di rumah tangga yang variabel bebasnya banyak.

      Kalau minat, boleh loh masukkan tulisan cara ngatur uang IRT panutan yang kamu kenal dekat jadi bisa rinci nggambarkan pengelolaannya. Tapi kuedit dulu. Aku juga nggak bisa ngasih imbalan apa-apa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s