Seri Keuangan IRT: Faktor Konstan & Keterandalan

Aku dan Anik sama-sama ngajar di New Concept selama 2004-8. Pertama ketemu –waktu dia masukkan surat lamaran– kami langsung ngobrol ada kalau satu jam. Dia resign dari kursusan 4-5 tahunan lalu. Disusul resign dari sebuah SMP swasta 2 tahunan lalu. Suaminya yang minta. Meski gamang harus menggantungkan rumah tangga ke satu penghasilan, nurut juga dia.

Kuputuskan untuk nggak blak-blakan dengan angka meski Anik ngasih tahu. Dari pengalamanku jujur brutal di blog dan IG, menghilangkan angka adalah cara efektif memfokuskan pikiran kita bersama ke prinsip kerja. Kalau kukasih angka-angkanya otak biasanya langsung ngerespon dengan “studi banding angkamu dan angkaku”. Yang jelas penghasilan suaminya di bawah suamiku (dengan uang lembur sekarang ini rata-rata 6 juta).

Aku terus-terang dari awal: Anik bukan tipe IRT yang pintar dandan atau pintar nata rumah. Kekuatannya ada di melebihkan yang sedikit. Dengan anggaran mepet pun selalu bisa under-budget! Setelah berhenti ngajar masih bisa nyisihkan.

Yang kutulis di sini hasil wawancara via WhatsApp yang kuolah lagi. Kupilih informasi yang menurutku bisa menjelaskan gimana dia bisa menyisihkan penghasilan kurang dari 10 juta dengan dua anak (satu usia sekolah dasar) sembari mencicil rumah 900 ribu per bulan. Di bagian akhir artikel kucoba menjelaskan kekuatan Anik dalam mengelola uang dan kondisi-kondisi apa yang harus terpenuhi dulu untuk bisa sukses niru cara-caranya.

BUDGETING

Mulai Dengan Pengeluaran Bulanan Yang (Bisa di)Fixed(kan)

Anik punya 11 pos pengeluaran tetap. Semuanya bisa dia jaga di angka keluar yang sama.

  1. Donasi Panti Asuhan
  2. Cicilan rumah
  3. Listrik
  4. Air
  5. Pulsa & Paket Data
  6. Iuran RT & Pungutan Sampah
  7. Anak-Anak (belanja bulanan keperluan anak seperti susu-madu-popok-snack, uang SPP, iuran ekskul kungfu, tabungan dan upah pengasuh part-time)
  8. Bensin
  9. Beras & Gas
  10. Belanja Bahan Kering (tepung-tepungan, agar-agar, bumbu dapur)
  11. Belanja Lauk-Pauk

Total 4 juta lebih sedikit.

Ini pengeluaran yang dia dulukan, diambilkan dari gaji suami. Dia nggak banyak tukar-menukar, silang-menyilang. Maksudku kalau ada over-budget di satu pos pengeluaran lantas diambilkan dari pos pengeluaran lain. Bisa disiplin di prinsip “when it’s gone, it’s gone”. Kalau uang yang dianggarkan untuk satu pos pengeluaran tertentu dah habis, ya udah, berhenti mengeluarkan uang di pos itu.

Dengan tidak membeli sekaligus di depan untuk sebulan, dia bisa memastikan pos pengeluaran pulsa dan token listrik selalu under-budget. Token listrik misalnya, yang biasanya 100k per minggu, di minggu ke-4 dipangkas jadi 50k dengan perhitungan meteran nyanyi pun masih cukup untuk 2-3 hari. Isi dua amplop itu yang dia jadikan “buffer”, buat jaga-jaga, memastikan ada uang tunai paling nggak 50k sampai hari gajian.

Sistem Amplop

Uang untuk 11 pos pengeluaran tetap tadi dia masukkan di 11 amplop terpisah. Ini yang harus dicatat: bukan cuma Anik yang bisa patuh menggunakan uang yang ada dalam tiap amplop sesuai tujuannya; kalau habis, berhenti. Suaminya juga. Aku pernah coba sistem ini. Aku dan suamiku nggak bisa. Amplop lauk-pauk selalu habis sebelum waktunya. Akhirnya belanja diambilkan dari amplop bensin. Pas butuh beli bensin, terpaksa ke ATM.

Uang Tambahan

Per resign Anik terima les pelajaran sekolah di rumahnya. Murid-muridnya dari lingkungan tetangga. Setelah setahunan ngumpulkan murid bisa dapat uang tambahan sampai 1,5 juta. Yang mantan guru les pasti paham 1,5 juta itu nggak tetap. Juga jualan pulsa dan es batu. Sebulan untungnya bisa mencapai 100 ribu. Ini juga harus dicatat: Anik memisahkan tempat penyimpanan uang masuk dari les, dari pulsa dan dari es batu. Nggak dicampur aduk jadi satu meskipun uang masuknya receh.

Setiap Sumber Uang Masuk Punya Tugas Sendiri-Sendiri

Gaji suami dialokasikan untuk pengeluaran tetap yang 11 di atas. Dari uang tambahan yang dia hasilkan, 500 ribu dia anggarkan untuk rekreasi. Sisanya masuk ke rekening tabungan. Rekening ini yang menanggung pengeluaran tidak tetap dan darurat yang butuh lebih dari sejuta seperti servis mobil-motor, biaya nengok mertua di luar kota, nyangoni mertua.

Sejak menutup outlet jajanan franchise ber-fee 600 ribu per bulan karena terus merugi, tiap bulan Anik bisa nyisihkan sejutaan dengan catatan nggak ada pengeluaran darurat seperti perbaikan pompa air atau AC di bulan itu.

Merencanakan & Menabung Untuk Belanja Konsumsi Seperti Baju

Aku belum pernah nemu orang impulsif yang pintar ngelola uang. Anik juga bukan. Waktu kutanya gimana dia ngatur pengeluaran seperti baju yang nggak setiap bulan beli tapi nggak mungkin juga nggak beli sama sekali (kecuali magnet barang lungsuran sepertiku), jawabnya: dia nyicil nabung sejak 2-3 bulan sebelumnya. Jadi beli bajunya nggak cuma 1-2 helai pas lagi pingin atau butuh-butuh insidentil. Direncanakan jauh-jauh hari, beli sekaligus banyak. Dengan membandingkan harga dan beli sekaligus banyak, Anik dapat tempat belanja baju yang ngasih selisih lumayan dibanding tempat lain.

BELANJA, MASAK, MAKAN & NJAJAN

Mengurangi Frekwensi Belanja

Seperti yang bisa dilihat di 11 pos pengeluaran tetapnya di atas, Anik punya 3 pos belanja. Belanja sembako dan bahan kering dia jadwal sebulan sekali, belanja lauk-pauk seminggu sekali.
Sebagaimana halnya dengan pos-pos pengeluarannya, daftar belanjanya relatif tetap. Beras sekian kilo, minyak sekian liter, tepung terigu/kanji/beras sekian kilo, bawang-cabe sekian kilo, popok sekian bal, susu sekian dus, snack yang diminta anak-anaknya relatif sama dari bulan ke bulan, selalu sedia tahu-tempe di kulkas, belanja lauk-pauk pun yang dibeli relatif tetap. Pendeknya, kalau itu menyangkut masak, makan dan jajanan bikinan sendiri, variasinya dia taruh di hasil jadi, bukan di bahannya.

Milih Tempat Belanja Berdasarkan Perbandingan Harga

Karena belinya sekaligus buat sebulan atau seminggu, selisih harga 100-500 per item atau per kilo jadi terasa. Dan karena yang dia beli relatif tetap, mbanding-mbandingkan harga per kategori belanjaan juga gampang.

Anik punya tempat belanja yang ngasih harga paling murah untuk tiap jenis belanjaannya. Lauk-pauk dia beli di tukang sayur langganan yang bukan tukang sayur keliling perumahannya. Harga tukang sayur langganannya bahkan lebih murah dibanding pasar dekat rumah. Tempe di penjual tempe keliling; ikan di Tempat Pelelangan Ikan; tepung-tepungan dan agar-agar di agen kiloan dekat rumah; daging di Superindo; deterjen, minyak goreng, toiletries dan bumbu dapur yang awet seperti kecap, gula, garam di supermarket yang pakai strategi diskon seperti Giant. Sengaja cari yang lagi didiskon. Kecuali minyak goreng SunCo, Anik dan keluarganya pakai merk yang berbeda-beda, tergantung apa yang lagi diskon. Karena belanjanya sebulan dan seminggu sekali, disambi ngantar-jemput anaknya sekolah, nggak seribet di bayangan kita.

Merencanakan Menu & Dijatah Sebelum Masuk Kulkas

Anik tidak merencanakan menu sepertiku. Dia sudah sangat tahu selera keluarganya, sudah sangat tahu berapa banyak yang dia butuhkan buat makannya sekeluarga selama seminggu, perbendaharaan resepnya juga jauh 3-u [jaUUUh] di atasku, jadi perencanaannya dibalik.

Konkretnya gini: dia lihat dagangan tukang sayur langganannya, milih-milih sambil mentalnya merencanakan menu. Mungkin ini yang perlu dicatat: begitu sampai rumah, Anik membagi belanja lauk-pauknya menjadi beberapa rencana menu dan beberapa porsi, satu porsi untuk sekali masak.

Menurutku perencanaan menu yang langsung di-follow up dengan Sistem Penjatahan ini salah satu faktor yang menjelaskan kemampuan Anik selalu bisa under-budget di belanja. Semua contoh kasus yang dia kasih kumasukkan sini biar nancep.

Contoh#1: Beli daging 50 ribu di Superindo (dapat setengah kilo lebih katanya), pulang langsung dipotong-potong, dibagi jadi 4 porsi (berarti 4 kali masak), disebar buat sebulan. Daging dia olah jadi Lapis Daging, Kare, Rawon atau Soto untuk memastikan sekali masak cukup buat 2 hari. Selalu dia masukkan bahan-bahan tambahan seperti kentang, tahu, tempe atau yang lainnya ke dalam olahan dagingnya.

Contoh#2: Beli bandeng sekilo di Tempat Pelelangan Ikan, pulang langsung dibersihkan dan dipotong-potong, dibagi jadi 3 porsi, juga disebar buat sebulan. Seporsi untuk digoreng (disimpan di kulkas dengan bumbu, ikan dalam posisi tegak), seporsi untuk dimasak Bumbu Kuning, seporsi untuk dimasak Bumbu Bali atau yang lain.

Contoh#3: Di hari Anik kuwawancarai via WA dia baru belanja mingguan di tukang sayur langganannya. Ini yang dia beli:

  • udang kecil 3 bungkus
  • ikan patin 2 bungkus
  • bakso sebungkus
  • cecek [bagian dalam kulit sapi]
  • kacang panjang ½ kg
  • kangkung-bayam 4 ikat
  • singkong ½ kg

Total: 40 ribu

Belanjaan itu (ditambah stok daging, tahu, tempe yang selalu ada di kulkas) langsung dia bagi jadi 3 rencana menu. Per menunya untuk makan dua hari kecuali sayur. Sehari Anik biasa masak sayur 2 kali, pagi dan sore.

  1. Sambel Goreng (cecek+bakso+tahu+tempe) & Sayur Bening
  2. Rawon & Tempe Goreng
  3. Patin Bumbu Rujak & Sayur Kelor (daun kelornya metik tanah kosong sebelah rumah)

Udang kecil dia sisihkan untuk menu minggu depannya. Singkongnya buat camilan.

Perhatikan bahwa Anik masak satu macam lauk dan 1-2 macam sayur atau masakan berkuah buat makan 2 hari. Perhatikan juga pilihan olahannya: resep ekonomis dari bahan ekonomis.

Bumbu dapur dia beli sebulan sekali. Bawang merah-putih dan kemiri masing-masing sekilo. Cabe juga, 1 ons buat sebulan. Keluarganya nggak suka masakan pedas. Bahkan daun salam dan daun jeruk juga belinya sebulan sekali. Kok tahan sebulan? Karena tiga itu dia simpan dalam freezer! Ini aku baru tahu. Diajari Google katanya.

Buat catatan, Anik sekali masak buat dua hari bukan demi ngirit. Suaminya makan di rumah hanya saat sarapan. Dari pengalamannya, masak tiap hari akhirnya selalu berlebih-lebih, selalu mbuang. Waktu kutanya bisa nggak dia masak tiap hari tanpa nambah anggaran belanja, dia jawab, “Bisa, Mbak.”

Kemampuan Anik menekan biaya makan nggak hanya dijelaskan dengan masak sendiri dan prinsip kerjanya dalam berbelanja. Anik bisa memusatkan urusan makan dan njajan keluarganya di rumah. Dia bisa bikin berbagai macam penganan dari bahan-bahan ekonomis. Anaknya yang SD bawa bekal makan siang dari rumah, nggak dikasih sangu. Si Rizki ambil jajanan yang dia mau pada saat belanja bulanan di supermarket tapi nggak dikasih uang jajan harian. Jajanannya ya yang beli bulanan dan yang dibikinkan mamanya.

Kemampuannya mengkondisikan anak untuk nggak njajan di luar akan kucoba jelaskan di bagian akhir tulisan ini.

Rekreasi

Kalau kita hidup di kota dan punya anak kecil, seperti kata Anik, harus ada anggaran untuk rekreasi meski cuma makan bakso. Kurasa setelah dia resign Anik menerapkan kebijakan baru demi memastikan anggaran rekreasi 500 ribunya cukup buat acara jalan-jalan sekali seminggu. Dia menghindari tempat-tempat makan. Jalan-jalan ke pusat perbelanjaan seperti Giant disambi dengan belanja bulanan. Jadi jajanan yang diminta anaknya nggak diambilkan dari anggaran rekreasi.

Dia cari tempat ramah-piknik seperti Kebun Binatang Surabaya atau Kenjeran. Anak-suaminya ditanya pingin makan apa. Dia masakkan. Dimakan bareng di sana. Selisihnya jauh dengan makan di restoran meski paket hemat restoran fast-food juga.

BIAYA SOSIAL

Kurasa aku terobsesi dengan biaya sosial. Aku pribadi merasa perlu tahu gimana dia ngaturnya. Meski konteks Anik nggak sepenuhnya sama denganku, ada beberapa caranya yang menurutku patut kita coba.

Yang pertama: Dia jadi donatur panti, tiap bulan ngasih beras ke yang momong anaknya (sebagai sedekah, di luar upah) dan punya agenda tetap bagi-bagi barang atau uang ke orang-orang yang sama. Yang aku tahu pasti Lebaran. Dia selalu nyiapkan 10-20 paket barang. Nggak tiap bulan mengirimi mertua (bapak-ibunya sendiri sudah meninggal) tapi setiap kali mudik pasti ninggali.

Menurutku kuncinya ada di merutinkan/menetapkan. Daripada berusaha memenuhi semua “tuntutan” nyumbang/bagi-bagi/nyangoni seperti aku, dia milih hanya beberapa tapi yang beberapa ini dibikin ajeg. Menyediakan dirinya untuk dijagakno kalau orang Jawa bilang. Semua yang keluarnya rutin/tetap memudahkan perencanaan dan pengaturan. “Yang rutin meski sedikit lebih baik daripada banyak tapi sesekali [nggak bisa dipastikan]”

Kedua: Jelas sekali kalau Anik lebih memilih pemberian berupa barang timbang uang. Dengan prinsip belanja perbandingan harganya, biaya sosial bisa ditekan dengan mengganti pemberian berupa uang menjadi barang. Apalagi Anik bisa bikin macam-macam penganan. Lebaran tahun ini dia merasa paket jajanannya “bolong” kalau cuma ngandalkan jajanan pabrikan yang dia beli, jadi dia tambah dengan jajanan bikinannya sendiri yang ternyata bikinnya gampang, bahannya murah pula, tapi entah kenapa nggak akan terlintas aja di otakku!

Kekuatan Anik & Syarat Meniru

Di mana kekuatan Anik? Apa yang bikin dia selalu bisa under-budget dan menyisihkan?

Menurutku bukan di hal-hal teknis seperti sistem amplop, belanja lauk-pauk seminggu sekali atau sekali masak buat 2 hari. Ada hal-hal mendalam yang aku nggak punya yang bikin effortless aja bagi Anik melakukan hal-hal teknis di atas. Kalau kutiru mentah-mentah, harus ngoyo untuk bisa konsisten, nggak akan bertahan lama.

Kesanggupan Membangun Kehidupan Yang Konstan & Self-Reliant

Kujelaskan dengan Bahasa Contoh aja.

Waktu masih sama-sama ngajar dulu Anik adalah salah satu guru yang hampir nggak pernah ijin, hampir nggak pernah telat. Kualitas yang susah nemunya di guru les-lesan. Begitu nikah, keterandalannya nggak kurang. Setelah punya anak dan paginya ngajar di sebuah sekolah swasta pun angka ijin dan telatnya tetap hampir nol. Semua pekerjaan rumah dia atasi sendiri kecuali momong bayinya selagi dia ngajar.

Setelah resign dari kursusan+sekolah, tetap bangun jam 3 pagi buat masak. Suaminya pulang dari shalat Subuh di masjid, sarapan dan makan sehari termasuk bekal makan siang anak pertamanya sudah siap. Keterandalannya bukan cuma di menaati jadwal yg dia buat sendiri dan yang dibuat orang lain tapi juga di get things done. Kerjanya cepat. Sat, set, ditandangi sendiri, beres.

Lantas apa hubungannya dengan uang?

Kita bandingkan denganku yang bedanya menculek-culek mata.

Semasa ngajar dulu aku sering ijin. Bukan karena tanggung-jawab yang tipis tapi sering sakit, kecapekan dan urusan keluarga meski masih gadis. Nggak tahu lah, rasanya adaaa aja yang harus kuselesaikan demi meringankan atau atas perintah orang tua. Nggak ngajar kan nggak dibayar. Jangan suruh aku pagi-siang ngajar di sekolah, sore-malamnya di kursusan. Sama aja dengan mendoakanku mati muda.

Itu dari sudut uang masuk.

Sifat Anik yang self-reliant dan keterandalannya dalam get things done meminimkan ketergantungan Anik ke orang. Waktu dia kebagian jadi tuan rumah arisan tempat kami ngajar, dia masak-masak sendiri, biayanya ditanggung sendiri. Pas aku yang jadi tuan rumah, harus kupasrahkan ke ibuku. Ibuku selalu ndatangkan paling nggak 3 orang saudara dari kampung tiap kali bikin acara makan-makan.

Dari situ aja sudah kelihatan pengaruhnya ke uang keluar. Belum lagi biayanya ditanggung ibuku semua. Sama aja dengan menghilangkan kendaliku atas penetapan standar arisan di rumahku. Standar ibuku jelas-jelas nggak kebeli dengan penghasilanku sebagai guru les. Makin ambles setelah jadi pengangguran, istri operator forklift. Untuk neruskan standar ibuku harus ngoyo tapi nurunkan juga nggak gampang. Yang belum ngalami sendiri nggak akan paham.

Ditarik ke level pengambilan keputusan, ketergantunganku ke ibuku dalam hal pembiayaan sudah pasti ngurangi kebebasanku berkata “Tidak!” atas kemauan-kemauan ibuku di urusan-urusan lain. Gitu juga dengan kebaikan saudara yang mau dijemput dari kampung buat masak-masak untuk acaraku. Bikin aku merasa “berhutang” sekaligus tergantung ke mereka.

Sudah ketangkap maksudku dengan kesanggupan menciptakan kehidupan yang konstan dan self-reliant?
Perhatikan imbasnya ke pola Anik ngeluarkan uang: dia bisa merencanakan dan menetapkan pengeluarannya tanpa intervensi orang, tanpa pengaruh variabel lain selain kebutuhan rumah tangganya sendiri dan tingkat penghasilannya sendiri. Ditambah trampil di Dapur Ekonomis, kekuatan fisik mengerjakan banyak pekerjaan (kecuali momong anaknya yang masih bayi) sendiri dan disiplin diri.

Soal suaminya yang mau diajak pakai sistem amplop dan anaknya yang nggak minta uang jajan:

Kalau kita punya istri atau ibu yang kerjanya begitu keras, tiap hari bangun sebelum Subuh buat masak dan nandangi pekerjaan rumah tangga. Pagi-pagi berangkat ngajar di sekolah. Tengah hari pulang lanjut nandangi pekerjaan rumah tangga dan istirahat sebentar. Jam 3 sore berangkat lagi ngajar di kursusan sampai jam 8-9 malam. Trampil di dapur, ngantar-jemput anak sekolah, selalu bisa get things done, nggak mood-moodan, nggak pernah ngeluh, secara alamiah kita akan menaruh respek yang dalam dan manut sama pengaturannya.

Yang punya penjelasan lain boleh tulis di Comment.

Pertanyaan berikutnya adalah apakah cara Anik ngatur uang bisa ditiru?

Bisa!

Yang kepribadiannya sama self-reliantnya dengan Anik, yang disiplin dirinya sama tinggi, yang hidupnya sama relatif minim variabel bebas, kupastikan nggak kesulitan ambil cara Anik mentah-mentah.

Tapi bagi yang jelas-jelas nggak memenuhi 3 syarat itu, baiknya nggak ambil mentah-mentah. Biar nggak frustasi. Pilih yang sekiranya nggak terlalu sulit bagi kita menjaga konsistensinya.

Aku misalnya, nggak akan coba sistem amplop (lagi). Gagal total. Setelah 2-3 tahunan trial-&-error, nemu cara lain. One that works for me. Tapi prinsip belanja perbandingan harga Anik bisa kucoba.

Dulu cara belanja Anik nggak akan bisa ngurangi pengeluaran belanjaku karena sampai tahun ke-5 berumah tangga aku masih mindless saat belanja dan masak, nggak pakai mikir. Sekarang aku sudah:

  • bisa men-tetap-kan daftar belanjaan
  • bisa mutar menu sehari-hari dari bahan-bahan yang itu-itu aja
  • terbiasa dengan meal prep
  • tahu berapa banyak sembako/bumbu yang kubutuhkan dalam sebulan
  • tahu berapa banyak ayam dan buah apa yang kebeli dengan anggaranku

Karena sudah tahu dan sudah bisa itu, ada banyak yang bisa kubeli sekaligus buat sebulan.

IMG_9707
Memusatkan urusan makan dan njajan keluarga di rumah” (kalau nggak salah foto kudapat dari bhg.com)

Terakhir, tulisan ini sama sekali bukan pernyataan bahwa cara Anik ngatur uang adalah cara ideal atau cara yang benar. Dalam pengelolaan keuangan personal nggak ada yang salah atau benar. Yang ada: cara yang mensejahterakan dan cara yang memiskinkan.

Cara yang memiskinkan pun nggak bisa langsung kita putusi pasti jelek. Ada nama-nama yang dipuji-puji dalam Quran yang berangkatnya orang kaya atau dari keluarga kaya tapi matinya dalam keadaan miskin.

Tulisan ini juga bukan pernyataan bahwa semua IRT harus seperti Anik. Kita punya konteks kita sendiri-sendiri. Cara Anik bisa kupastikan tidak menjawab tantangan IRT yang suaminya menjabat. Entah itu di pemerintahan atau organisasi sosial-politik.

Tulisan ini untuk menunjukkan bahwa menyisihkan penghasilan yang mepet itu mungkin. Pelajari prinsip kerja Anik. Ambil yang bisa.

Aku punya daftar nama IRT yang di mataku punya kemampuan luar biasa di pengelolaan keuangan rumah tangga. Bukan cuma Anik. Akan ku-feature satu-satu. Sebulan satu orang. Sebagian besar dari mereka kukenal secara pribadi dan bisa kupastikan nggak akan mau kisah hidupnya dibaca ribuan orang asing. Rencanaku adalah tetap menulis tentang cara-cara mereka dengan uang. Tanpa. Ijin. Tulisan tentang mereka ini akan kupagar dengan password yang akan kusebar via email.

Kalau suka seri ini, masuklah dalam email list-ku. Isi aja form ini.

image

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s