Strategi Masak Untuk Arisan Di Rumah Si-Bukan-Jago-Masak (Plus Printable Ide Menu)

Ada selisih lebar antara bergaul modal kongkow di kafe/rumah makan/mal dengan bergaul modal rumah dan keahlian masak. Karena itu jangan sia-siakan kerja masak kita sehari-hari supaya begitu datang kesempatan masak sendiri untuk menjamu tamu, nggak maju-mundur buat ambil. Bahkan meskipun skill masak kita biasa-biasa aja cenderung kadang-kadang..

Kadang-kadang nggak bisa dimakan

Sebelum masuk ke strateginya, baiknya hindari masak sendiri untuk situasi berikut:

  1. Acaranya seharian.
  2. Harus pakai peralatan masak yg nggak biasa kita pakai masak sehari-hari.
  3. Di antara tamu ada yang suka mencela.
  4. Kerja masaknya bikin nggak tidur, keletihan di hari H.

Lebih baik serahkan ke katering atau beli jadi dari rumah makan. Pilihan lebih murah adalah membayar tukang masak.

Kasih tamu pilihan. Nggak harus pilihan “berat”. Cabe rawit, sambel petis, saos sambel, saos tomat dan mayo kan juga pilihan.

Strategi#1: Mulai kerja perencanaan dengan mengumpulkan informasi tentang tamu dan acara, bukan merencanakan menu.

Pikirkan semua informasi yang sekiranya penting dan perlu dalam menyusun menu:

  • Tamu-tamunya ini siapa?
  • Berapa orang?
  • Ada anak-anak? Banyak?
  • Orang mana? Seetnis dengan kita, beda etnis atau orang asing?
  • Saat mereka datang kira-kira dalam keadaan kenyang, lapar atau lapar sekali?
  • Datang waktu sarapan, makan siang, makan malam atau di antara waktu makan?
  • Di rumah berapa lama?

Sepertinya ini kecenderungan ibu-ibu: yang dipikir dulu menunya, bukan tamunya. Beda loh output merencanakan menu yang berangkatnya dari keahlian kita masak dengan merencanakan menu yang berangkatnya dari memenuhi kebutuhan tamu.

Di hari akad nikahku, ibuku nyiapkan sendiri jamuan makan. Dibantu kru beranggota ada hampir 10 orang (yang nggak tidur 3 malam!). Bapakku orang Aceh, ibuku orang Jawa, bapak mertua orang Madura, ibu mertua juga asli Jawa (yang belakangan kutahu lidahnya sangat Jawa; nggak bisa nelan masakan-bumbu yang nggak biasa dimakannya). Dengan demikian rombongan pengantin laki-laki ini terdiri dari lidah-lidah Jawa dan Madura.

Acara sepenting akad nikah, pagi-pagi, rombongan pengantin laki-laki mana sempat mikir sarapan? Kemungkinan besar mereka datang dalam keadaan perut kosong, nunggu prosesi akad nikah selesai, baru bisa makan. Ini bukan situasi yang tepat untuk mengenalkan kuliner Aceh. Sah-sah aja masukkan masakan Aceh tapi pastikan tersedia menu “aman”; menu yang diterima secara nasional seperti Ayam Goreng Lengkuas, Rendang, Oseng Kecambah, Sop Ayam.

Suatu hari kedatangan rombongan saudara. Waktu merencanakan menu aku nggak ngitung anak-anaknya. Menu yang dapat respon bagus dari anak-anak nggak sama dengan menu yang dapat respon bagus dari orang dewasa. Kalau membedakan menu anak dari menu tamu dewasa terlalu merepotkan, lauk dan sayurnya bisa disamakan. Bedakan camilan dan minumannya. Anak-anak lebih ngerespon jajanan kemasan dan susu coklat dibanding gorengan dan teh. Semangka, melon, nanas dan bengkuang yang dipotong kotak-kotak kecil lalu ditusuk sate lebih sanggup menarik perhatian mereka daripada dipotong biasa.

Anak-anak sangat visual kalau soal makanan. Buat tampilannya beda dari biasanya atau sajikan dalam porsi perorangan dengan wadah yang nggak biasanya.

Strategi#2: Fokus di yang sudah biasa kita masak

Ini bukan saatnya coba-coba resep. Pikirkan masakan yang biasa kita masak buat makan sehari-hari yang sangat disukai keluarga. Yang kita sudah sering bikin lah pada intinya. Kalau khawatir yang disukai keluarga ini terlalu biasa, nggak cukup pantes disuguhkan ke tamu, pikirkan masakan yang dijual abang-abang keliling atau jadi spesialisasi warung atau rumah makan ramai pembeli yang bisa dan biasa kita bikin sendiri di rumah.

Bisa juga dibalik.

Aku saudara tua. Cepat atau lambat harus siap rumahku jadi jujugan di hari pertama Lebaran. Masakanku yang dipuji-puji suami sejak awal nikah itu cuma dan hanya Telur Dadar. Apa aku akan jadi bahan tertawaan gara-gara menjamu adik-ipar-ponakan-sepupu-anak sepupu dengan Telur Dadar? Mungkin. Apa ada cara untuk memastikan aku nggak jadi bahan tertawaan? Ada.

Aku bisa mulai dari YouTube atau Google, mencari dengan kata kunci nasi telur, nasi dadar, egg rice dan omelette. Bukan untuk cari resep tapi mencari outlet mal/rumah makan/streetfood yang spesialisasinya telur dadar. Gimana cara mereka “njual” telur dadar? Gimana cara mereka menyajikannya? Apa yang bisa kutiru dari penyajian mereka?

Dari situ boleh nyambung pencarian ke situs-situs yang menyediakan entertaining blueprint seperti marthastewart.com. Aku ingat pernah baca resep omelette yang disiapkan untuk jamuan brunch. Sama, bukan untuk nyontek resepnya mentah-mentah. Yang ingin kucari tahu adalah cara Bu Stewart mengistimewakan omelette. Karena nggak umum aja disajikan sebagai menu jamuan makan orang Barat meskipun itu jamuan makan rumahan. Cara mengistimewakannya itu yang akan kutiru.

Ditata di piring jadinya nggak istimewa gini.

Strategi#3: Menyusun menu dengan prinsip sensori, unda-undi dan biasa-tidak-biasa

Saat menyusun menu, bayangkan sensasi masing-masing makanan-minuman di lidah. Bayangkan sesuai urutan masuk mulut. Nyusun menunya berdasarkan rasa menu secara keseluruhan, bukan secara satuan. Yang enak sendiri-sendiri belum pasti sama enaknya digabungkan dalam satu menu. Aku nggak suka sayur kecuali Cap Jay. Sewajan bisa habis kugado. Tempe Malang yang dipotong tebal-tebal terus digoreng tapi nggak sampai kering juga kugado. Kadang-kadang Jus Jambu bikin aku ngimpi-ngimpi. Nggak doyan buah kecuali Pisang Susu. Itu semua kesukaanku tapi kalau disajikan sebagai satu menu…

Unda-undi dalam biaya per masakan. Pastikan memasukkan bahan/masakan ekonomis dan bahan/masakan yang lebih mahal dalam menu. Kalau semuanya bahan murah, ngasih kesan pelit. Kalau semuanya mahal, bisa-bisa bikin tamu merasa inferior, hilang nafsu makan. Motif tuan rumah nyiapkan Sup Sirip Ikan Duyung boleh dipertanyakan. Ini mau menjamu (=menyenangkan) tamu atau menyenangkan diri sendiri (=pamer)?

Aku pribadi lebih suka menu yang disusun dari masakan-camilan-minuman biasa tapi dibuat sedikit nggak biasa. Bisa juga biasa-nggak biasanya ini karena perbedaan budaya. Asal bedanya jangan terlalu sulit diterima lidah. Orang India semua masakannya dikasih kunyit. Susah kita nelannya. Orang Barat nggak kolu (=nggak kuat hati) lihat makanan berminyak seperti gorengan. Lihat aja nggak kolu apalagi nelan. Harus peka sama hal-hal seperti ini.

Saranku sih menunya satu aja tapi pastikan lengkap:

  • Nasi & teman makan nasi ATAU satu macam complete meal (Bubur Ayam/Gado-Gado/Bakso/Nasi Goreng/Lontong Sayur/Mi Ayam)
  • Camilan
  • Buah
  • Minuman dingin dan/atau hangat
  • Air mineral

Rupa-rupa-sayur-rupa-rupa-lauk-rupa-rupa-complete-meal yang masing-masingnya sedikit-sedikit bikin meja kelihatan acak-adul, nggak bikin nafsu. Aku sadar setelah mengunduh ribuan foto meja prasmanan:

Meja yang dipenuhi sedikit macam makanan tapi berlimpah di jumlah per makanannya: bikin lapar! Jadi kurangi variasi makanan-minuman, menu cukup satu, tapi buat kelihatan berlimpah dengan cara mengecilkan meja dan/atau memenuhkan peranti sajinya. Bikin seperti makanan-minumannya mau tumpah-tumpah.

Kecilkan mejanya, penuhkan wadahnya.

Perhitungkan keterkaitan/keterdukungan rasa antara lauk-sayur-buah-camilan-minuman. Sayur atau lauk berkuah kaldu meng-complement buah yang nggak terlalu berair seperti pisang. Minuman “berat” yang nggak menghilangkan haus seperti Es Manado atau Es Teler nggak meng-complement gorengan yang bikin tenggorokan kering.

Kalau khawatir kurang meriah hanya dengan menyajikan satu menu:

Bikin 1-2 bar atau station buat tamu untuk milih-milih, meng-assemble sendiri atau bahkan bikin makanan, camilan dan minumannya sendiri (ini di luar meja prasmanan). Khususnya kalau acaranya informal atau berjam-jam.

Ide bar adalah kita sediakan bahan-bahannya (bahan jadi atau siap pakai), tamu ngeracik sendiri. Untuk station yang kita sediakan bahan+alat. Stasiun minuman hangat misalnya: teko listrik atau thermos, cangkir, sendok dan rupa-rupa minuman sachetan.

Kujamin lebih meriah timbang menyiapkan 3 set menu: menu Jawa, menu Indonesia populer dan menu Barat.

Strategi#4: Tambah dengan masakan-jajanan-minuman beli

Jangan ragu nambah masakan-jajanan-minuman beli. Nggak perlu sesuatu yang mahal atau yang adanya cuma di Pacet. Akan tetapi, sebisa mungkin usahakan masakan/jajanan/minuman beli yang otentik, yang bisa jadi dijual di mana-mana tapi yang kita suguhkan ini beda dari kebanyakan. Pikirkan biskuit Roma Kelapa. Sama-sama biskuitnya dengan Khong Guan. Di antara mereka berdua, yang bisa berdiri sejajar (dalam kekhasan rasa; lupakan branding, lupakan kemasan) dengan Marie Regal dan Danish Cookies yang mana?

Suatu kali sepupuku bikin jamuan makan siang di rumahku untuk teman-temannya. Selain menu makan siang, sepupuku pesan Bakso Pecel (sepertinya cuma ada di Pacet) sebanyak jumlah tamu. Tiap tamu langsung disodori semangkok, nggak dikasih pilihan untuk tidak mencoba. Kita harus ingat nggak semua orang suka coba-coba makanan baru. Apalagi makanan hasil persilangan dua makanan lain yang rasa dan tampilannya sudah terlanjur paten di lidah: Bakso dan Pecel. Respon otak pasti: aneh. Bukan yang seperti ini yang kumaksud dengan otentik.

Pikirkan sesuatu yang cukup khas untuk jadi unik tapi bahan dan bumbunya umum. Yang terlintas di kepalaku: Tahu Sumedang vs Tahu Isi, Es Timun vs Es Blewah, Manggis vs Semangka, Plecing Kangkung vs Sop, Bandeng Uap & Sambel Petis vs Ayam Goreng & Sambel Bajak. Yang ditulis tebal-miring itu yang kumaksud otentik, nggak umum, nggak pasaran, belum sangat biasa tapi juga nggak segitunya hingga jatuhnya aneh.

Strategi#5: Taruh kerja ekstra di penyajian dan suasana makan

Daripada berusaha keras bikin tamu terkesan dengan apa yang kita masak, aku lebih suka berusaha keras bikin tamu kenyang dan betah. Yang kumaksud itu penyajian yang bikin tamu pingin nyomot. ‘Eh, apa nih? Kelihatannya kok enak.’

Nggak perlu dekorasi ala mantenan tapi juga nggak cukup kalau semua yang kita masak digelar gitu aja di meja atau tikar. Tampilan manis bisa kita dapat dengan barang dapur sehari-hari. Hanya perlu mengkoordinasikan warna dan ekstra di lingkungan tempat makan.

Sejak awal berumah-tangga membiasakan diri mengkoordinasikan warna+bahan pecah belah dan barang dapur sama aja dengan membebaskan diri dari harus beli-beli pecah-belah khusus untuk acara-acara istimewa.

Suatu hari aku datang ke resepsi mantenan mahal. Salah satu menunya Nasi Pecel. Sekarang mari kita pikir, kenapa hajatan kelas rumahan nggak kepikiran menyajikan Nasi Pecel? Menurutku karena hajatan rumahan sibuk dengan menu. Semua energi, waktu dan biaya habis di masak-masaknya.

Katering profesional sibuk di menu+penyajian.

Di resepsi mantenan yang kudatangi itu nasi, sayuran, lauk, saus pecel dan peyek ditata di peranti tradisional seperti besek, tempeh dan daun pisang. Satu lagi, mereka pilih nasi pecel otentik: Nasi Pecel Pesisir Utara. Lauknya lauk laut seperti ikan goreng, cumi goreng, teri goreng dan ikan asin goreng. Kenapa prinsip kerja seperti ini nggak kita tarik ke jamuan rumahan? Kita buatkan nasi pecel biasa pun, yang lauknya tahu, telur dan ayam, kalau mau ekstra di penyajian, bisa juga bikin nafsu.

Nggak harus yang satu set, nggak harus pecah-belah. Manfaatkan barang yang ada di rumah.

Ini juga kita perlu sadari:

Lingkungan tempat makan dan atmosfir yang diciptakannya bisa jadi faktor penggugah selera yang lebih kuat timbang makanannya sendiri.

Nggak sekali dua aku masuk ke tempat makan yang bikin betah berlama-lama padahal makanannya biasa aja. Tempat-tempat ini punya satu persamaan:

  • kalau bukan interiornya unik-nyaman atau indah-nyaman, bedanya dengan pada umumnya tempat makan sangat kerasa,
  • berarti di tempat terbuka atau semi terbuka yang hijau dan asri.

Rumahku punya keunggulan yang kusebut di bawah. Teras samping luas, terbuka, dengan pemandangan. Separuh penyewa rumahku pasal sewanya ya teras samping itu. Mereka butuh tempat untuk acara kumpul-kumpul informal yang konsumsinya diatasi sendiri. Jadi mereka butuh rumah yang dapurnya berfungsi, yang membetahkan buat jagongan kalau orang Jawa bilang tapi harga sewanya terjangkau. Orang-orang yang masak sendiri pasti menjunjung tinggi prinsip low-cost.

Gimana dengan yang rumahnya kecil? Apa harus ke Pacet nyewa rumahku?

Iklan.


Foto-foto rumah bisa dilihat di page Villa Wijaya 8. Silakan hubungi Pak Kamto di 082229242222 untuk informasi dan booking. Pak Kamto bukan makelar. Yang pegang uang masuk Pak Kamto. Kami pakai sistem bagi hasil tahunan.


Balik ke rumah kecil.

Memang sulit menciptakan suasana makan yang membetahkan di dalam rumah kecil. Tapi bukannya mustahil.

Yang mustahil itu menciptakan suasana makan yang membetahkan di dalam rumah kecil yang sesak dengan barang dan perabotan.

Kalau sering atau rutin bikin jamuan makan di rumah, saran pertamaku adalah kurangi barang di rak, di meja maupun di lantai. Sebisa mungkin semua permukaan sehari-harinya memang sudah clear. Setelah itu, kalau bisa, kurangi perabotan. Bukan cuma ngeluarkan perabotan dari dalam rumah untuk sementara pas ada acara aja. Kurangi untuk selamanya.

Dapur yang bersih, yang nggak pathing-gemlethak, yang nggak penuh-sesak dengan barang, yang barang-barangnya nggak terkesan “semburat” (1001 warna ada), bisa buat nata makanan. Ruang makan dan ruang tamu bisa dioptimalkan untuk duduk dan ngobrol.

Dari situ jadi lebih gampang membagi rumah jadi beberapa seksi/bagian pada saat ada acara. Satu bagian khusus nata makanan-minuman, satu bagian khusus anak-anak (kalau anak-anaknya banyak), satu bagian khusus perempuan, satu bagian khusus laki-laki. Gelar tikar atau karpet. Sediakan bantal (bantal kursi tamu atau bantal kotak jumbo) buat rebahan. Di seksi laki-laki siapkan asbak. Di seksi anak-anak siapkan TV atau buku cerita dan meja khusus snack dan minuman. Beli yang kemasan kalau nggak mau repot. Siapkan spot+wadah khusus di masing-masing ruangan untuk buang sampah dan naruh piring/gelas kotor.

Siapkan paketan seperti ini untuk satu anak satu. Menghindari rebutan sekaligus bikin mereka sibuk. Mama bisa makan dengan tenang.

Beberapa bulan lalu 3 orang teman suami mampir ke rumah. Dari 20-an kali pengalaman nyiapkan acara makan, ini yang bisa dibilang sukses. Detilnya bisa dilihat di highlight story Rumah Barang Tinggalan yang kunamai Dapur 500k. Hari itu kubuatkan Menu Cepat-Ekonomis yang bisa dilihat di sini. Kusertakan juga lima menu lain yang bisa lah kita-kita yang bukan jago masak ini ngatasi. Resep-resepnya bisa dicari di Cookpad. Saranku ambillah resep dari akun-akun besar seperti Xander’s Kitchen.

b864956c6551921473095056368dca8c1656308965.jpg
Yang nggak pe-de memadumadankan pecah-belah dan barang dapur, pakai aja barang yang identik, persis sama. Nggak harus beling atau keramik.

(Semua foto kuambil dari Pinterest)

image

2 Comments Add yours

  1. Inge says:

    Terinspirasi setelah membaca ini. Karena masalah yang dihadapi sama, keterbatasan keahlian memasak namun harus menjamu tamu. Terima kasih mba. Blognya membantu saya.

    1. Rinda says:

      Selama yang kita cari bukan bikin orang memuji-muji masakan kita, bisa kok kita-kita yang skill masaknya biasa-biasa aja cenderung pas-pasan nyenangkan tamu. Malah kulihat kita bisa lebih “tulus” dibanding mereka yang jagoan dapur. Mereka biasanya nafsu sekali pamer. Yang dipikir bukan tamunya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s