Gantinya Shopping

Temanku kuliah ada bilang, “Kalau dah berumah-tangga, beli lipstick aja nggak bisa..

Aku dah berhenti beli kosmetik sejak gadis. Tetap kurasakan juga yang diomongkan temanku itu.

Gadisku dulu enteng jalan ke mal dengan teman, beli tunik yang setelah didiskon jadi 150 ribuan di Matahari, pulangnya sambang Hokben dulu.

Sekarang mau beli Nasi Bebek 2 porsi di warung kaki lima dekat rumah aja mikir. Sepatu cuma ada satu, sol-nya mangap. Smartphone nggak bisa lepas dari charger sampai casing-nya retak karena baterainya kembung, ada panggilan masuk pun dah nggak berdering, bisu.

Kuabaikan..

Selalu ada kebutuhan yang lebih besar, lebih penting, lebih mendesak..

Bahkan untuk perempuan yang nggak hobi shopping sepertiku, pulang membawa barang-barang baru yang kita suka tetaplah sangat menyenangkan. Jadi menurutku sebaiknya nafsu belanja kita ini jangan di-repress. Apapun yang ditekan terus-menerus selama bertahun akan jadi bom waktu. Tinggal tunggu meledak.

Cari kompensasinya.

Yang ngasih kepuasan kurang lebih sama dengan belanja.

Dari jungkir-balikku sejak berumah-tangga, kupelajari bahwa otak kita sesungguhnya gampang diperdaya. Kalau titik kepuasan kita adanya di punya barang baru (bukan di punya uang untuk beli-beli), jangan takut!

Punya barang baru nggak harus beli.

√ Barang lama yang kita rubah tampilannya bisa mengelabui otak. Otak akan melihatnya sebagai barang baru.

√ Barang yang sudah kita punya tapi kita rubah fungsinya juga dipersepsi otak sebagai barang baru.

√ Barang-barang lama yang nggak kelihatan mata setiap hari lalu kita taruh di tempat yang terlihat mata setiap hari juga gitu.

√ Barang-barang yang tadinya semburat di sepenjuru rumah lantas kita kumpulkan, kita satukan dengan memperhatikan keserasian warna untuk melayani satu fungsi kujamin ngasih kepuasan batin yang hampir sama dengan belanja.

Inilah salah satu alasan kuhabiskan 75% waktuku menata dan mengorganisasi seisi rumah. Memutar dan mengganti barang yang terlihat mata sambil menginventaris semua barang yang kupunya. Demi mengkompensasi nafsu belanjaku.

Makanya aku sanggup lebih dari satu tahun bertahan dengan satu pasang sepatu mangap dan smartphone bejat yang dah bisu.

(Foto cover dari Apartment Therapy)

2 thoughts on “Gantinya Shopping

    1. Suer, Cit, itu konsep yang menyembuhkan jiwa.

      Gimana ya, para pakar keuangan cuma nyentuh masalah teknisnya. Belum nemu yang juga memperhitungkan psiko-nya. Belanja bikin hati senang. Konsumtif bikin lupa ruwetnya hidup. Hemat dan budget nggak. Itu Hukum Alam. Kalau kita lihat keuangan murni sebagai perkara matematika, yang ada frustasi. Sama juga, kalau dalam berhemat dan budgeting yang main di kepala kita cuma angka, pasti capek. Harus cerdik, ngakali, banyak-banyak cari jalan mutar.

      It’s a marathon, not a sprint.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s