Menghemat Belanja Bulanan

Menghemat belanja bulanan pernah kusinggung sedikit sebelumnya. Di postingan kali ini akan kujelaskan secara rinci.

Kita mulai dengan penyesuaianku di belanja bulanan saat harus berhemat ekstrim setahun lalu. Setelah itu baru penyesuaian saat berhemat moderat sekarang ini.

Tolong, moderat di sini kalau diukur dengan standarku. Yang moderat bagi penghasilan 5 jutaan mungkin terasa ekstrim bagi penghasilan 10 jutaan, terasa royal bagi penghasilan kurang dari 3 juta.

Okeh.

Sejak gadis dulu sudah punya agenda belanja bulanan. Beli butuhku sendiri yaitu toiletries, pembalut dan kopi. Tambah jajanan buat nyenangkan orang-orang rumah. Habis 100-150 ribu. Setelah nikah tapi masih kerja, belanja bulanan habis 400-500 ribu. Setelah nggak punya penghasilan, bisa kuturunkan ke 300-400 ribu. Setelah pindah ke Pacet baru aku tahu, standar kujongkrokkan ke jurang pun, belanja bulanan+makan nggak akan kekejar dengan anggaran 500 ribu (ini di luar popok dan susu yang 750 ribu per bulan). Satu-satunya cara memastikan 500 ribu peganganku ini cukup buat makanku, nggak harus hutang ke warung kelontong tetangga demi bisa makan di minggu ke-4 adalah dengan:

• beli ngecer,
• beli hanya saat yg di rumah sudah habis,
• beli sebanyak yg kita butuh atau sebanyak uang yang bisa dibelanjakan (prinsipnya nggak nyetok),
• tapi yang paling ngefek adalah menghindari tempat-tempat belanja bulanan kebanyakan orang yaitu supermarket dan minimarket.

Pasar sekalipun.

Saat berhemat ekstrim tujuan kita bukan cari tempat yang ngasih harga termurah melainkan cari tempat yang bikin uang males keluar dari dompet. Tempat seperti apa itu? Yang nggak ngasih banyak pilihan, yang nggak ngasih kesempatan lihat-lihat terus milih-milih, yang bikin kita pingin cepat-cepat pulang. You get the idea lah.

Juga sudah kusinggung soal menurunkan standar dan menghilangkan barang non-esensial di postingan yang sama. Kali ini kutulis daftar barang yang sebelumnya kubeli sekaligus buat sebulan yang kemudian kualihkan jadi ngecer saat berhemat ekstrim:

1. Beras tanpa merk
2. Minyak goreng Hemart
3. Gula tanpa merk
4. Kopi Nescafe sachet
5. Deterjen so-Klin
6. Sabun colek Wings Biru
7. Sabun batangan aroma buah-buahan (nggak pernah bisa ingat merk-nya) atau sabun bayi batangan Johnson & Johnson
8. Odol Pepsodent
9. Shampoo Sunsilk sachetan
10. Pembalut ekstra panjang Charm

That’s it.

Kopi harusnya ada di No.10 karena itu yang biasanya kukorbankan. Kubeli 3-5 sachet aja per beli. Buat tombo pingin. Konyol aja kalau lebih milih kopi daripada beras.

Iya, berhenti beli minyak telon dan bedak bayi. Waktu Rafi belum setahun, aku yang pakai sabun bayi. Rambut Rafi tipis dan cuma separuh kepala, keramasnya dengan sabunnya. Setelah umurnya setahun lebih sedikit, ganti Rafi yang pakai sabunku. Setelah rambutnya lebih tebal, keramasnya dengan shampoku, kuencerkan dengan air. Air pel-pelan kukasih deterjen sedikit supaya lantai nggak bau. Cuci piring dengan sabun colek. Kadang dengan deterjen. Pembalut kupakai di hari-hari pembalut kain (kupakai popok kain bayinya Rafi) nggak ngatasi. Ada hari-hari aku hanya makan mi dan telur karena untuk makan nasi harus hutang beras.

Aturan Emas: Jangan nutup kebutuhan primer, rutin, dasar dengan cara kasbon atau dengan cara hutang kecuali kebutuhan yang berhubungan dengan kesehatan.

Yang kulakukan di atas mungkin nggak terbayangkan buat sebagian orang. Terasa sangat berat. Dan memang berat. Berat psikologis. Kita nggak akan mati karenanya.

Akan tetapi:

Satu, seberat-beratnya berhemat, percayalah, lebih berat hidup gali lubang tutup lubang. Orang bisa bunuh diri gara-gara kebelit hutang. Tanpa semua pengorbanan itu, aku nggak bisa mencukupkan sisa gaji yang 3 juta kurang sedikit. Kalau nggak bisa mencukupkan sisa gaji, mana bisa melunasi total hutang 41 juta lebih cepat?

Dua, masa berhemat ekstrim yang kelihatan sangat menyengsarakan itu secara dramatis menaikkan kesanggupanku memilah keinginan dari kebutuhan. Karena sudah ngalami sendiri: “Oh, ternyata bisa ya hidup tanpa sabun cair.” Maka sewaktu hutang lunas dan kemudian gaji suami stabil di angka 6 juta berkat uang lembur, aku nggak balik ke kebiasaan belanja bulanan yang lama.

Berikut penyesuaianku setelah keuangan kami lebih longgar.

Satu: Tetap tidak belanja bulanan di supermarket/mal di Mojokerto sambil jalan-jalan sekeluarga seperti harapan terpendam suami. Jadi dia tetap belanja susu-popok di supermarket di Surabaya tanpaku (harga susu-popok di Surabaya selisih 5-10 ribu per unit dengan harga Pacet). Anggarannya yang kunaikkan dari 750 ribu ke 1 juta. Ngasih suami ruang untuk bela-beli (=membuatnya merasa bahagia karena dia pribadi spender). Aku belanja sembako, toiletries dan produk pembersih di toko kelontong koko-koko di Pacet.

Dua: Anggaran 500 ribu kulonggarkan. Yang tadinya buat semua kecuali susu-popok, per bebas hutang Februari lalu hanya untuk gas, lauk-pauk dan pengeluaran kecil random seperti kapur semut, iuran masjid dan ongkos ojek. Sembako, toiletries dan produk pembersih punya anggaran terpisah yaitu 100 ribu.

Tiga: Karena selisih harga antara Warung Mbak Ari langgananku (yang sangat membantuku berhemat ekstrim) dengan toko kelontong ternyata 500-1500 per item, aku berusaha beli hanya lauk dan sayur di Mbak Ari. Bumbu dapur kubeli buat sebulan di toko kelontong. Gitu juga dengan bahan masakan yang nggak cepat busuk seperti kentang.

Empat: Karena nambah bumbu dapur dan bahan makanan tahan lama, anggaran belanja bulanan 100 ribu nggak cukup. Jalan tengahku: kutambah 100 ribu tapi kuambilkan dari yang 500 ribu tadi. Dengan demikian 200 ribu untuk belanja bulanan, 400 ribu untuk gas+lauk-pauk+pengeluaran kecil random.

Dan. Aku. Kesulitan. Untuk. Taat. Anggaran.

Belanja bulanan cenderung merembet ke mana-mana begitu kita belanja di toko yang macam barang dan pilihan merk-nya jauh di atas warung rumahan, belinya buat persediaan sebulan sekaligus. Jangan tanya kalau di supermarket khususnya yang pakai strategi diskon.

Sebulanan ini kucatat semua yang kumasak dan semua yang kubeli dari Mbak Ari. Kusimpan juga catatan belanjaan bulananku di toko kelontong. Di akhir bulan ku-inventaris yang masih ada di kulkas dan rak pantry khususnya yang masih sisa banyak atau nggak kepakai sama sekali.

Catat-mencatat lalu bikin evaluasi di akhir bulan mungkin akan kuteruskan sampai 2-3 bulan ke depan.

Tujuanku:

Satu: Punya Master List Masakan/Jajanan/Minuman yang dalam sebulan bikinnya lebih dari sekali. Bahan dan bumbu yang di-stok hanya yang dibutuhkan untuk masakan/jajanan/minuman tersebut. Ditambah membatasi diri nyetok hanya bahan masakan/jajanan yang Rafi mau dan bisa makan. Yang dia belum tentu mau dan yang jelas-jelas nggak bisa dimakannya baiknya tetap ngecer. Lebih bagus kalau dihilangkan dari menu keluarga sekalian.

Dua: Punya Master List Belanja Bulanan yang isinya hanya yang rutin kita pakai. Bisa yang makainya tiap hari atau 2-3 kali seminggu. Lengkap dengan perkiraan akurat akan berapa banyak yang kita habiskan dalam sebulan per itemnya. Masukkan juga barang random yang kita harus sedia setiap saat seperti lilin dan –di rumahku– kapur semut. Tiap masak aku pasti pakai merica dan penyedap Royco, belum tentu pakai ketumbar/kemiri/gula merah/asam Jawa. Jadi yang belum tentu ini baiknya nggak masuk daftar belanja bulanan. Berapa sachet Royco dan merica bubuk persisnya kebutuhanku sebulan yang harus kucari tahu.

Tiga: Bermodal Master List Masakan dan Master List Belanjaan harusnya bisa kubuat Master List Kebutuhan Rumah & Dapur yang menyeluruh dan akurat yang bisa jadi acuanku belanja sampai bertahun-tahun ke depan. Karena tertulis jadi bisa terus-menerus:

di-update; menghilangkan item-item yang nggak ngefek, yang bisa kuganti dengan produk multi-purpose, yang bisa kudapat tanpa beli atau yang belinya perlu dijadwal khusus di tempat khusus seperti belanja obat-obatan basic yang harus selalu ada di rumah di apotik
di-evaluasi; pengalaman belanja dan masak bulan ini jadi modal memperbaiki kerja belanja dan masak bulan depannya

Seperti biasa, nggak kucatat foto ini kudapat dari mana. Seingatku http://www.bhg.com. Btw, yang dalam toples itu bukan tepung. Itu deterjen.

Ruwet sekali ya cuma demi hemat 50-100k?

Small things add up.

Selain itu, dilihat dari angkanya sedikit memang. Tapi kalau kita lihat pola membelanjakan uang yang ada di baliknya, baru kebayang besarnya pengaruhnya ke keuangan.

Bagi rumah tangga berpenghasilan kurang dari 10 juta, demi bisa membiayai tujuan keuangan jangka panjang, pengeluaran rutin yang sifatnya konsumtif jangan diatur dari 100% penghasilan. Atur dari 70%-nya atau 50%-nya atau berapapun yang kita sanggup asal jangan 100%-nya.

Ratio yang kupakai selama 2 tahunan ini adalah 50% gaji untuk pengeluaran rutin-konsumtif, 50% untuk kebutuhan dan tujuan jangka panjang.

Mari kita lihat.

Anggaran susu-popok, belanja bulananku dan lauk-pauk total 1,6 juta. Dibandingkan gaji suami yang rata-rata 6 juta memang kelihatan masih sisa banyak. Karena itu aku nggak mbleyer dengar suami secara tidak langsung menggugat “Kenapa sih belanja bulanan dan makan harus di-pres gitu?? Uangnya kan ada??” Karena dia ngitungnya dari 100% gaji. Istrinya yang notabene adalah otak pembiayaan keluarga nggak gitu ngitungnya.

Ratio gaji yang kuusahakan cukup untuk pengeluaran rumah tangga yang sifatnya konsumtif kan 50%. Itu berarti 3 juta. 1,6 juta sudah separuhnya. Masih ada listrik-air-paket data, gaji ART part-time, uang kos suami dan pengeluaran random rumah tangga yang harus kupikir. Dihitung pakai caraku, nggak bisa nggak nge-pres belanja bulanan dan makan, karena uangnya terhitung sudah nggak ada.

Namun demikian, alasanku berepot-repot serupa ini di belanja bulanan+makan (mem-fixed-kan belanja bulanan setelah mem-fixed-kan yang biasa kita makan dalam sebulan) bukan cuma demi menghemat pengeluaran.

Gini.

3-5 tahun dari sekarang berharap bisa mangkas waktu yang kupakai merencanakan belanjaan dan masak. Mangkas banyak. Kalau bisa malah hilang sama sekali. Maksudku tugas belanja dan masak buat sebulan bisa kuselesaikan tanpa mikir supaya waktu dan brainpower yang nggak sedikit itu bisa kupakai buat yang lain. Sejauh ini sih sudah bisa ngurangi waktu merapikan rumah dan nyapu-ngepel.

Bukankah sangat menyenangkan kalau umur kita nggak habis buat pekerjaan rumah tangga?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s