Filsafat Spongebob

Sudah bertahun-tahun berhenti nonton TV. Persisnya sejak kerja. Per 2001 nonton TV hanya buat nemani Hilda (ponakanku yang pertama), nemani suami (yg nggak bisa hidup tanpa TV), nemani Azka (ponakanku nomor 4) dan sekarang nemani Rafi. Padahal dulu mataku lengket ke layar TV. Terutama setelah TVRI bukan lagi satu-satunya saluran TV dan saluran-saluran TV swasta ini pada mutar sitcom laris dari AS.

Aku sendiri heran, tanpa perlu usaha, bisa dibilang mendadak-sontak, putus hubungan gitu aja dengan TV. Nggak berhenti di situ, sekarang ini suara TV sangat mengangguku. Yang bisa kutolerir hanya film anak-anak. Yang betulan kutonton, bukan nonton sambil lalu, hanya Upin-Ipin, Si Kancil yang bijak dan Spongebob. Khusus yang terakhir ini, meski mata nggak lihat layar TV, telingaku nyimak.

Sejak kali pertama nonton lebih dari 10 tahun lalu, sudah ngerasa Spongebob bukan material tontonan anak-anak. Pesannya terlalu berat buat anak-anak khususnya anak-anak yang dibesarkan dalam budaya Timur yang nggak segitunya ke individualisme. Humornya juga kelewat sarkastis untuk anak-anak. Dan pernah dengar, meski nggak lihat sendiri adegannya, Spongebob disisipi pesan keragaman orientasi seksual.

Lepas dari semua itu, Spongebob lah yang sudah membantuku melewati dua tahun pertama pernikahan di rumah petak kontrakan sekotak korek.

Tiap pagi setelah selesai menyiapkan sarapan suami dan melepasnya berangkat kerja di lantai bawah yang merangkap kamar mandi-dapur, aku naik ke lantai atas dengan se-mug kopi putih, duduk di atas matras bergambar Upin-Ipin persis di depan TV 14″ harta suamiku di masa jokonya, siap mendengarkan Filsafat Spongebob.

Filsafat Spongebob…

Dia kerja untuk orang paling pelit dan paling murahan sedunia, Mr. Crab, dengan upah di bawah minimum. Jadi tukang bikin burger (bukan koki lho ya!) di restoran fast-food kecil yang nggak akan membawanya kemana-mana. Mau seumur hidup dia habiskan di Krusty Krab ya tetap aja jadi tukang bikin burger. Melakukan hal yang sama setiap hari, day in and day out.

Tapi Spongebob sangat menghormati bosnya dan mencintai pekerjaannya.

Ia kerja dengan Squidward yang nggak bisa berhenti mengeluh, ketus, kasar, nggak peka, nyaris anti-sosial, sombongnya bikin mual dan–di atas semua itu–sangat membencinya. Mereka bukan cuma teman kerja tapi juga bertetangga. Pintu rumah Squidward tertutup untuk Spongebob.

Tapi Spongebob melihat dan memperlakukannya sebagai sahabat dan selalu siap menolong, sebagai teman kerja dan sebagai tetangga.

Sahabat terbaiknya adalah pengangguran yang bodohnya nggak bisa diungkapkan dengan kata-kata (sepertinya isi kepala Patrick sebesar dua biji kacang).

Tapi Spongebob nggak pernah menghina, nggak pernah meremehkan, nggak pernah merendahkan, nggak pernah menertawakan, nggak pernah memanfaatkan ketololan Patrick. Ia sangat menyayangi sahabatnya itu.

Ia murid abadi di Boating School yang dikelola Mrs. Puff. Puluhan kali ambil ujian SIM. Selalu gagal.

Tapi ia nggak pernah menyerah atau membenci belajar dan sekolah.

Kalau kita lucuti kembang-kembang yang hanya mungkin di layar tivi, kita akan lihat filsafat hidup yang luar biasa.

Bahwa manusia bisa menjadi variabel independen dalam hidupnya. Lepas dari pengaruh segala sesuatu yang adanya di luar dirinya. Sepenuhnya mengandalkan keyakinan ketika berpikir, berbicara dan bertindak.

Gampangnya: nggak perlu nunggu pekerjaan impian, gaji tinggi atau promosi untuk bekerja sebaik yang kita mampu. Nggak perlu dibaiki lebih dulu untuk baik ke orang lain. Nggak perlu terkesan dulu untuk menghormati dan menghargai seseorang. Nggak perlu diuntungkan dulu untuk menyayangi sepenuh hati. Terakhir, nggak perlu menunggu upaya kita mulai menunjukkan hasil dulu untuk bersungguh-sungguh menjalani prosesnya.

Untuk nilai-nilai hidup itu aku sangat berterimakasih pada Spongebob dan segenap penghuni Bikini Bottom.

4 thoughts on “Filsafat Spongebob

  1. Woowww… sukaaa mbak. Makasih yaaa sudah membagi filosofi seindah ini dari sebuah film kartun yg selalu aku pandang sebelah mata, dan gak pernah kutonton.

    1. Sepertinya aku memang sangat terlatih lihat yang luput aja dari mata kebanyakan orang. Beginilah orang yang hobinya korat-koret. Hobi kok melas men, Rin, Rin..

    1. Kalau nggak disimak memang nggak ketangkap, Mbak Nanta. Yang nonton sekilas pasti ngira Spongebob sama aja dengan kartun anak-anak pada umumnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s