Menata Rumah Demi Berhemat

Menjalani hari demi hari dengan budget itu berat. Budget yang kumaksud di sini yang berorientasi jangka panjang, bukan yang sekedar memastikan gaji bulan ini cukup buat bulan ini.

Ya bayangkan aja sendiri, tiap bulan sebelum gajian, uang belum di tangan, sudah harus kita bagi-bagi sekian buat ini, sekian buat itu, sebagian buat yang nggak bisa kita nikmati sekarang, sebagian buat yang belum tentu kejadian. Begitu uang sampai tangan hitungannya dah habis dah. Harus selalu mendulukan kebutuhan (yang adaaa aja) dari keinginan (yang nggak habis-habis). Dan bukan sebulan-dua bulan seperti itu. Bertahun. Ya namanya juga budget berorientasi jangka panjang.

Di situ yang berat.

Karena itu lah kuncinya bukan mati-matian mengekang keinginan.

Kuncinya di pandai menyibukkan pikiran dan tangan dengan segala sesuatu yang memuaskan diri yang sekiranya nggak butuh uang.

Atau kalau pun butuh, nggak banyak.

Bagi rumah tangga berpenghasilan kurang dari 10 juta, kerajinan tangan seperti decoupage yang biayanya nggak sedikit jelas bukan salah satunya. Kecuali kerajinan decoupage-nya buat dijual. Praktek resep-resepnya Tintin Rayner juga bukan. Kecuali kita terima pesanan kue.

Di postingan ini aku pingin ngajukan satu kesibukan nol rupiah yang bisa bikin kita lupa sama keinginan-keinginan yang nggak habis-habis itu:

Menata rumah.

Bukan demi rapi. Bukan demi sedap dipandang. Bukan demi menyalurkan hobi ndekor.

Menata rumah demi efisiensi ruang. Demi efisiensi gerak dan waktu para penghuninya. Demi efisiensi sistem penyimpanan. Demi mengurangi beban kerja kita bersih-bersih dan beres-beres.

Pakai diriku sendiri aja lah sebagai contoh.

Pada umumnya aku merasa aku ‘ni pintar. Kecuali saat:

• Pulang ngajar ngebut ke loket PDAM. Takut keburu tutup karena dah siang. Mumpung lagi di luar rumah. Pikirku sekalian kan. Begitu sampai di parkiran loket PDAM, baru sadar, nggak bawa tagihannya..

• Gajian. Langsung belanja bulanan. Pikirku sebelum uang terpakai untuk yang nggak penting. Eh, paginya mau bikin Ayam Kecap buat sarapan suami, baru ingat, kecapnya habis. Semalam nggak beli. Lupa..

• Ingat hari ini ada undangan manten, ingat jamnya, lokasinya yang nggak tahu. Butuh peta yang terlampir di undangan, tapi dimana persisnya kusimpan undangannya, lupa. Kalau nggak di kotak penuh kertas, ya di kotak satunya yang juga penuh kertas. Dah siap mau berangkat harus mbongkar 2 kotak penuh kertas dulu. Karena carinya keburu-buru, isi 2 kotak besar berhamburan ke lantai..

Rasanya pingin ngunyah rumput…

Setelah mempelajari puluhan ribu foto rumah orang Barat, baru lah nyadar, semua masalah yang bikin aku pingin ngunyah rumput itu bisa diatasi dengan:

Sudut khusus dekat pintu keluar-masuk rumah.

(Foto dari bhg.com)

Ditata sedemikian rupa untuk menyimpan segala sesuatu yang kubutuhkan setiap keluar rumah seperti kacamata dan kunci kendaraan. Tambah wadah untuk Kertas Masuk (buat naruh pengumuman RT, brosur, surat, kupon dll sebelum diputuskan disimpan atau dibuang) dan Kertas Keluar (semua kertas yang harus kubawa untuk menyelesaikan urusan seperti undangan manten dll).

Begitu masuk pintu rumah sepulang bayar tagihan, tanda-terima bulan kemarin masukkan ke Kotak Masuk untuk di-file (simpan tagihan-tagihan 6 bulan terakhir yang sekiranya perlu buat ngajukan KPR-BTN atau kredit lain). Tanda terima bulan ini taruh di Kotak Keluar. Dengan begitu waktunya bayar tagihan bulan depan tinggal ambil.

Lebih bagus lagi kalau lengkap dengan tempat nyimpan sepatu/sandal, payung, topi, jaket, tas, slayer dan sarung tangan bagi yang sepeda motoran. Yang memorinya sudah mbah-mbah sepertiku bisa nambah kalender, alat tulis dan kertas/papan untuk nulis reminder. Atau papan untuk nempel sticky notes. Biar nggak lupa beli kecap. Wadah koin sepertinya perlu juga. Menghilangkan kebiasaan dan buang waktu lari-lari mutar rumah cari uang receh tiap ada pengemis. Hebat kalau bisa nambah charging station buat smartphone. Yang kabelnya mapan, tertutup rapi, tinggal tancap. Nggak ada lagi acara setengah jam keliling rumah cari charger atau colokan tiap kali smartphone low-batt.

Bayangkan berapa banyak waktu yang bisa kuhemat hanya dengan men-set up sudut entryway ini? Berapa banyak ketololan (seperti mengerahkan orang serumah cari kacamataku di menit-menit terakhir sebelum berangkat) yang bisa kuhindari dalam setahun?

Itu baru satu.

Setahunan aku ngopeni 2 ponakan umur SD yang nggak bisa rapi. Semua yang mereka buka, nggak ditutup lagi. Nggak pernah ngembalikan barang ke tempatnya. Barang mereka berserak di sepenjuru rumah. Cuma kamar mandi yang slamet.

Upayaku merubah kebiasaan mereka nggak ngasih hasil. Dengan standar kerapian yang begitu tinggi, aku bisa gila harus mbereskan ke-berantakan-nya minimal 2 kali sehari. Kalau kubiarkan sampai berminggu-minggu apalagi berbulan-bulan:

Budhe milih ngekos..

Dengan pribadi messy seperti itu, menyiasati penataan ruang lebih mendukung kesehatan mental kita daripada merubah kepribadian si target-subyek.

Ini yang kulakukan.

Tiap pulang sekolah dua ponakanku langsung nggeletakkan barang-barang sekolah mereka di ruang pertama yang mereka masuki. Mulutku capek nyuruh mereka bawa ke kamarnya. Jadi tangan ambil alih: kusiapkan Drop & Collecting Point untuk nampung tas dan barang-barang sekolah di ruangan pertama yang mereka masuki sepulang sekolah setiap harinya yaitu ruang tamu.

Kusiapkan satu keranjang cucian per anak. Yang sekiranya cukup buat nampung barang mereka yang terakumulasi di sepenjuru rumah selama seminggu. Saat beres-beres, kutaruh barang-barang mereka yang berceceran di keranjang masing-masing. Kalau sudah penuh kuminta mereka ngosongkan keranjang masing-masing dengan membawa ke kamarnya. Frekwensi nyuruhnya turun jadi kurang-lebih satu minggu sekali. Mulut nggak seberapa capek.

(Foto dari apartmenttherapy.com)

Begitu pindah ke rumah kontrakan dan mereka ikut aku, ruang kecil panjang dengan pintu masuk sendiri di samping ruang tamu kujadikan Sentra Siap-Siap. Lemari, kaca rias, aksesoris, rak sepatu kutaruh di situ semua. Untuk siap-siap berangkat sekolah bisa diselesaikan di satu ruangan. Karena:

Mengurangi Lalu-Lintas Keluar-Masuk Beberapa Ruangan Untuk Menyelesaikan Satu Fungsi = Mengurangi Ceceran Barang + Lupa

Semua yang mereka butuhkan untuk siap berangkat sekolah ada di ruangan itu. Hanya buku dan alat tulis yang tersimpan di kamar mereka.

Sayangnya yang berikut belum sempat kupraktekkan karena setelah 5 bulanan denganku di kontrakanku mereka kembali ke rumah mama-papanya.

Yang kumaksud lemari; jam 7 pagi acak-adul nggak berupa, jam 10 pagi rapi tertata, nggak sampai besoknya sudah acak-adul lagi.

Rasanya pingin ngunyah rumput di kamar kos..

Rencanaku waktu itu:

Pakaian masuk keranjang atau kotak tanpa tutup. Satu keranjang atau kotak untuk satu tipe pakaian. Nggak dicampur. Celana dalam di satu wadah, nggak usah dilipat karena nanti pasti di-odhol-odhol. Kaos kaki sendiri, kaos dalam sendiri. T-shirt dan baju rumah jangan dilipat, gulung dan ikat dengan karet, biar nggak kusut meski di-odhol-odhol. Lalu masukkan keranjang/kotak ini ke lemari. Satu-dua keranjang/kotak di satu shaf. Jangan ditumpuk. Baju pergi, baju pesta dan seragam digantung.

(Foto dari bhg.com)

Bisa bayangkan betapa berkurangnya senewen dengan memfokuskan ikhtiar pada penataan ruang dan barang alih-alih mengoreksi kepribadian? Memang lebih repot. Mengoreksi penataan butuh kerja otak + kerja tangan. Lebihnya adalah: nggak menguras energi mental sebanyak merepet, ngomel atau berak-berok mengulang-ulang perintah yang sama s-e-t-i-a-p h-a-r-i.

Sejauh ini sudah dapat dua contoh tata-toto yang efeknya sampai ke kedamaian jiwa. Sekarang mari kita telaah dapur.

Pusat kehidupan pada umumnya IRT.

Sejak tinggal di Pacet ini aku banyak menghabiskan waktu di dapur. Ternyata:

1. Meja dapur dan kulkas yang penuh barang bikin males masak.

2. Stok bahan masakan (berlaku juga untuk jenis barang lain) yang nggak terorganisasi, asal simpan, ujung-ujungnya banyak nggak kepakai dan/atau terbuang.

3. Penataan meja kerja-keran air-kompor-alat masak-wadah bumbu yang nggak memperhitungkan gerak kerja saat masak bikin dapur sangat berantakan. Terasa sekali kalau dapurnya sempit seperti dapurku.

Sejauh ini yang kulakukan baru menghilangkan rak piring. Mengingat sempitnya dapurku, rak piring baiknya nempel tembok. Gitu juga dengan wadah bumbu.

(Foto dari apartmenttherapy.com)

Karena tujuan kita adalah efisiensi, kerja otaknya berat dan lama. Prosesnya kurang-lebih seperti ini:

tata — evaluasi — kurangi & pindah-pindah barang — evaluasi — perbaiki — evaluasi lagi,

Terus. Jelasnya nggak akan selesai dengan satu-dua kali kerja atau 1-2 minggu. Aduh, 1-2 minggu, I’m not done even after 2 years! Gimana nggak sibuk coba?

Apalagi yang kerja natanya bertujuan ekstra-spesifik seperti aku gini:

1. Natanya untuk kenyamanan tamu, buat “dijual”.

2. Supaya kerja simpan-simpan barang-barang pribadiku untuk bikin rumah check-in ready bisa kuselesaikan dalam kurang dari 30 menit.

3. Supaya kerja packing keperluanku-Rafi selama di hotel bisa selesai dalam kurang dari 30 menit.

4. Supaya mengembalikan rumah seisinya ke kondisi semula setelah tamu check-out nggak makan lebih dari 2 jam (kecuali tamunya extremely kemproh).

Inilah salah satu penjelasan ketahananku –yang notabene di atas rata-rata normalnya orang khususnya perempuan– menjalani hari tanpa jiwa harus menahan “siksa” 1001 rupa keinginan semacam njajan, makan di luar, beli kerudung, beli pernik rumah, jalan-jalan dan kawan-kawannya.

There’s basically no space left in my brain for wants, impulsive buyings and retail therapy.

Begitulah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s