Strategi Goal-Setting IRT (Plus Printable Worksheet)

Kenapa IRT butuh strategi khusus?

Satu: Waktu, tenaga dan pikiran seorang IRT bukan milik dirinya sendiri. Apalagi kalau anak masih kecil-kecil, nggak ada ART. Mencapai tujuan selain meladeni anak dan suami harus melewati tingkat kesulitan berlapis-lapis.

Dua: Makin besar tujuan, makin penting juga punya rutinitas. Dunia domestik nggak bisa dijadwal. Kita yang harus sangat lentur. Pada umumnya IRT harus menjalani kehidupan IRT-nya selama beberapa tahun dulu, membaca dan membentuk pola keseharian berumah-tangga sebelum bisa bikin rutinitas harian yang relatif tetap dan teratur.

Tiga: Dunia domestik miskin reward. Yang bisa kita andalkan cuma reward yang datangnya dari diri sendiri; diproduksinya hormon bahagia oleh perasaan berprestasi, bisa mencapai tujuan yang kita tetapkan sendiri. Catatan pinggir: aku merasa sangat berprestasi kalau setrikaan nggak sampai nginap di meja setrika.

However, if there’s anything I learned from staying at home, as difficult as it may get, you’ve got to set long term goals for yourself. At least yearly goals. Otherwise, you’ll spend the rest of your life feeling inadequate, unworthy, insignificant, unaccomplished; all the life-draining feelings which sooner or later will put your self-esteem into a downright coma.

Ada satu hal berkenaan goal-setting yang menguntungkan IRT. Tujuannya dunia-akhirat lahir-batin Senin-Kamis terserah kita. Mau tujuan ambisiusnya Miss Universe menciptakan-perdamaian-dunia atau tujuan membuminya Lek Ni semua-pekerjaan-rumah-tangga-termasuk-nyiapkan-dagangan-Nasi-Pecel-buat-besok beres sebelum sinetron prime-time di TV mulai, terserah. Nggak ada yang ngatur tujuan kita harusnya ini atau itu, nggak ada yang nguber-nguber tujuan kudu tercapai sebelum Lebaran, nggak ada yang melotot kalau kita kendor. Kendali sepenuhnya di tangan kita.

Kebebasan ini mungkin malah menghambat bagi orang yang kesulitan memotivasi diri sendiri. Tapi tolong jangan mikir tujuan pungguk merindukan bulan, yang butuh motivasi diri yang segitu kuatnya sampai cukup buat nggeser Gunung Merapi agak ke Barat. Bisa menghasilkan baju bersih yang wanginya tahan lama tanpa habis-habisan di Molto kan juga tujuan.

Mulai dari yang kecil, yang di depan mata, yang gampang

Meski nggak bisa dibilang self-driven seperti Agnez Mo, pilihanku ngajar freelance dan training mandiriku di Toastmaster International menempaku melakukan segala sesuatu dengan tujuan. Tapi di dua alam itu nggak ada orang yang berhak atas raga, energi, pikiran dan waktuku seperti suami, dan sekarang, anak.

Maka yang harus kita perhitungkan:

1#Utamakan tujuan yang secara langsung menguntungkan seluruh anggota keluarga

Begitu berhenti ngajar, yang bisa kupikir cuma gimana caranya dapat uang dari rumah. Suamiku pekerja kerah biru bergaji UMR, karyawan kontrak pula. Sewaktu kami masih sama-sama kerja pun, dari empat kali ngontrak rumah, sekali harus hutang, sekali berkat dikasih uang orang tua. Gimana nggak bingung pemasukan berkurang hampir separuh?

Yang aku nggak sadar waktu itu: suami tidak melihat berkurangnya penghasilan kami sebagai masalah. Pertama ya karena bukan dia yang mumet mutar penghasilan. Kedua karena setelah menikah gajinya terus naik, kehidupan ekonominya secara keseluruhan membaik. Jadi ketika selama setahun pertama jadi IRT kerjaku kalau nggak murung ya uring-uringan karena ternyata cari uang dari rumah itu nggak gampang apalagi buatku yang nggak punya keahlian bikin kue atau semacamnya ditambah nggak nyaman dengan direct selling, rasanya seperti “me against the world”. Suami gagal paham sama jungkir-balik emosionalku mbabat alas cari uang dari rumah. Waktu itu ada Mbak Tin, belum ada anak. Karena aku nggak cuci-setrika nggak masak nggak momong, yang dia lihat istri yang sibuknya nggak jelas. Dia nggak merasa diuntungkan dengan “sibuk”ku.

Semuanya jadi sangat berbeda ketika hampir 2 tahun kemudian kutetapkan tujuan “punya dapur hemat yang masakannya nggak itu-itu aja”.

Kali ini kami nggak tinggal serumah. Aku di Mojokerto sementara suami di Surabaya yang makan harus beli, yang dia harus mutar ceperannya supaya cukup buat makannya sendiri. Dia gagal paham gimana aku bisa makan dengan anggaran 500 ribu sebulan. Nggak masuk aja di otaknya tapi lihat aku kok masih hidup nggak kelaparan malah tambah gendut. Dia sudah sangat berterima-kasih aku nggak minta tambahan uang belanja dari ceperannya. Apalagi setelah dia merasa masakanku sekarang nggak lagi munyer di Tumis Kangkung, Dadar Telur dan mi instan.

Intinya, ketika kita baru mulai menerapkan goal-setting untuk mendesain rutinitas harian (artinya: hidup sehari-hari bukan lagi sekedar demi menggugurkan kewajiban atau melakukan ini-itu semata-mata karena pingin atau suka), tunda dulu tujuan yang sifatnya pribadi, yang sekiranya cuma memuaskan diri sendiri.

Rumah indah misalnya.

Dalam kasusku itu tujuan pribadi. Suami bukan pecinta keindahan sepertiku. Rafi yang belum genap 3 tahun juga nggak butuh rumah indah (semoga aja belum butuh). Demi kesehatan mentalku sendiri tujuan rumah indah ini baiknya kuminggirkan dulu. Sementara ini baiknya merasa cukup dengan rumah yang bersih, yang barangnya nggak pathing gemlethak.

2#Kenali diri sendiri dengan baik; manfaatkan kekuatannya, berdamailah dengan kelemahannya

Kunci keberhasilan pencapaian tujuan kita sepenuhnya ada di kemampuan kita mengenali diri sendiri. Dari dulu aku menolak bergantung pada yang namanya disiplin-diri dan tekad baja. Mungkin karena nggak punya dua kualitas itu. Mungkin juga karena kecenderunganku yang sangat kuat untuk nggak ngoyo dalam hal apapun. Salah satu prinsip hidupku adalah “kalau belum apa-apa sudah terasa sangat sulit berarti bukan untukku”.

Maka sebelum menetapkan aku harus begini aku harus begitu, aku mau begini aku mau begitu, aku pingin begini aku pingin begitu, sebelum kita menghadapkan wajah ke ekspektasi atau impian, sangat kusarankan merenungkan sejarah hidup dulu. Coba kilas balik pengalaman hidup kita: kritikan dan pujian yang berulang kita terima, di apa-apa kita relatif berhasil, di apa-apa kita gagal, apa-apa yang terasa sangat gampang yang bisa kita lakukan tanpa diajari dan apa-apa yang terasa sangat sulit, yang meski kita merasa sudah jungkir-balik hasilnya tetap aja Belanda masih jauh.

Lembar corat-coret untuk membantu proses berpikir mengidentifikasi kekuatan pribadi bisa diprint dari sini.

Diterapkan ke diriku sendiri:

Sejak gadis pingin sekali jadi perempuan yang sedap dipandang: kulit bersih-bercahaya, baju-bajunya bagus, rambut halus-lembut, badan lencir, make-up halus nempel sempurna di kulit, tapi sadar betul terlalu banyak di dalam diriku sendiri yang menyulitkan tercapainya tujuan itu.

  • Dari sananya sudah nggak suka membelanjakan uang untuk segala sesuatu yang sifatnya artifisial. Dipecut pun nggak tega ngelepas uang buat peranti make-up.
  • Kalau buat facial, creambath atau kosmetik perawatan sebetulnya nggak eman, tapi karena kulit wajahku ini POM bensin, rambut tebal-kaku, untuk bisa jadi bersih-bercahaya dan halus-lembut, keluar uangnya ya harus ekstra. Di situ yang aku mau tapi (masih) eman uangnya.
  • Kutelusuri sampai ke masa kecil, nggak ada yang memujiku cantik, modis atau pintar dandan. Tidak. Satu. Kali. Pun. Yang bolak-balik kudengar kritikan (sampai sekarang di umur 42!). Wajahku kusam lah, culun-polosan, baju itu-itu aja. Adikku sendiri tegas-tegas bilang aku ni jelek. Semua laki-laki yang naksir, nggak ada yang naksir karena tampilanku.

Karena itu menetapkan “jadi IRT yang ayunya ngalah-ngalahi perawan” sebagai tujuan, dalam kasusku, bisa dibilang sama aja dengan cari gagal. Terlalu banyak yang harus dirubah. Berat di energi, waktu dan biaya.

Di sisi lain,

  • Sejak kecil jadi jujugannya adik-adik saat mereka takut atau punya masalah.
  • Itu berlanjut sampai besar. Melebar ke teman, saudara, bahkan bapak-ibu. Pernah ada teman kerja yang bilang, kalau dia lagi bingung (karena urusan kerja), lihat mukaku aja bisa bikin dia tenang.
  • Suamiku nggak sekali bilang, “Sampeyan ini menenangkan.” Karena itu dia berani melamar dan keluar dari dua perusahaan untuk mencari perusahaan lain yang mau membayarnya lebih tinggi.
  • Aku hampir selalu bisa menemukan solusi. Kalau toh nggak nemu solusinya, keberanianku menghadapi kesulitan dan kemampuanku bertahan dalam situasi sulit sudah jadi solusi di dalam dirinya sendiri. Ini mungkin kekuatan terbesarku yang sama pembacaan wetonku digambarkan sebagai “betah menderita”.

Sehingga waktu kutetapkan “menjadi ahli keuangan rumah tangga satu-penghasilan di bawah 10 juta” sebagai tujuan, energi-waktu-biaya-nya nggak sebesar tujuan “menjadi IRT yang ayunya ngalah-ngalahi perawan”.

Dalam kasusku lho ya.

Menjalani hari dengan tujuan mestinya kita lakukan seumur hidup biar umur nggak sia-sia. Tapi kalau kita nggak terbiasa bikin kalkulasi cerdas akan peluang keberhasilannya sebelum menetapkan tujuan, cepat atau lambat kita akan sampai di Titik Pasif, yaitu titik ketika kita merasa ikhtiar nggak ada gunanya. Atau merasa jadi anak tiri nasib. Di lain pihak energi pasti bertambah setiap kali tujuan kita tercapai. Nggak peduli itu tujuan kecil atau besar. Karena itu aku berani bilang:

Tujuan-tujuan yang berangkatnya dari kekuatan pribadi kita akan jauh lebih menguntungkan dalam jangka panjang dibanding tujuan-tujuan yang berangkatnya cuma modal impian atau pingin.

3#Konsistensi lebih penting daripada hasil

Sama sekali bukan bermaksud membatasi hak asasi kebebasan menetapkan tujuan. Goal-setting ini ibarat pedang bermata dua. Kalau kita nggak hati-hati, nggak bikin kalkulasi, ujung-ujungnya bisa jadi lebih buruk daripada hidup tanpa tujuan.

Gini.

Orang yang hidup tanpa tujuan, selama dia dikelilingi orang-orang yang hidupnya tertata, yang akhlaknya baik, yang agamanya bagus, terjaga juga hidupnya dari kesemrawutan meski dia sendiri hidup bak batang pisang kintir di kali.

Tapi ketika kita merasa sudah berjuang, berikhtiar sekuat tenaga, berenang melawan arus tapi tujuan kita nggak ada yang tercapai, hidup terasa sangat jauh dari harapan: pikiran dan hati jadi banca’an bisikan setan. Karena pintu masuknya dari dalam, orang-orang di sekeliling nggak lagi bisa jadi benteng.

Yang bisa memastikan kita tidak sampai di situasi itu adalah menghadapkan wajah di kesanggupan kita melakukan sesuatu dalam jangka waktu paling sedikit setahun. Jangan menghadapkan wajah ke hasil. Atau ke senangnya hati.

Ilustrasinya seperti ini: akan sangat menguntungkan blogku andai bisa menggenapkan follower di Instagram jadi 10.000. Karena yang kubutuhkan orang-orang yang secara rutin datang ke blog, nggak bisa pakai strategi asal follow atau follow for follow.

Pertanyaannya, sanggupkah diriku, selama setahun konsisten:

  • Menghasilkan 1-3 postingan feed + minimal 5 postingan Story setiap hari?
  • Membalas semua komentar dan DM masuk hari itu juga?
  • Me-like minimal 25 postingan follower setiap hari?
  • Mengomentari minimal 3 postingan follower setiap hari?
  • Mengomentari minimal 3 postingan followee setiap hari?
  • Mem-follow dan mengomentari minimal 3 akun baru yang profilnya cocok dengan profil pembaca blogku setiap hari?
  • Me-like, mengomentari dan/atau mem-follow minimal 3 akun yang menggunakan hashtag yang sama denganku setiap hari?
  • Berpartisipasi dalam “event-event” komunitas online di Instagram?
  • Membangun koneksi dengan akun-akun top di kalangan IRT?

Jawabnya: nggak sanggup! Terlalu menyita waktu. Jangankan setahun, tiga hari berturut-turut aja nggak sanggup.

Kalau sudah tahu seperti itu, meski nambah jumlah follower di Instagram akan sangat menguntungkan, bahkan mungkin perlu, lebih baik menetapkan tujuan lain yang sekiranya juga bisa nambah traffic ke blog tapi kebutuhan konsistensinya lebih “terjangkau”.

Contoh:

Selama 3 tahun berblogging, rata-rata dapat dua postingan blog sebulan. Padahal kalau bisa ajeg satu postingan aja per minggu sudah terasa sekali ke traffic karena sumber pertama traffic-ku Google. Makin sering kita menghasilkan postingan, Google makin senang. Nggak sulit lah bagiku nulis 300 kata dalam kurang dari sejam asal sudah ada poin-poin besarnya. Yang kubutuhkan cuma duduk dan ngetik 1-2 jam setiap hari. Toh dua-tiga bulanan ini sudah nulis hampir setiap hari.

Intinya, tujuan menghasilkan satu postingan blog per minggu jauh lebih feasible, terjangkau bagiku timbang tujuan punya 10k follower di Instagram meskipun tujuan 10k follower ini jauh lebih menguntungkan.

Kuulangi lagi. Sebelum menetapkan tujuan:

  1. Perhitungkan kepentingan anak dan suami.
  2. Perhitungkan kekuatan dan “modal” kita.
  3. Perhitungkan kesanggupan kita mempertahankan konsistensi menjalankan rutinitas-mencapai-tujuan selama paling sedikit setahun.

Punya tujuan yang nggak berani diomongkan ke orang lain? Tulis di Comment di bawah ini. Keluarkan dari angan-angan. Put it out here. Kuaminkan. Omongan dan tulisan itu doa loh. Meski cuma tulisan 2-3 kalimat di kolom Comment di blognya orang yang kenal pun nggak.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s