Mengeluh Untuk Detox

Setelah menikah baru kulihat kelemahan tidak mengeluh karena terlahir dengan sifat menerima bak samudra (=dilempari apa aja ditelan) dan tidak mengeluh karena merasa nggak berdaya. Bukan berarti mereka yang nggak pernah mengeluh karena dua sebab itu nggak bisa menginginkan keadaan yang lebih baik lho ya. Tapi biasanya berhenti di pingin. Daya juangnya nggak ada. Dan yang disayangkan, meski jauh dari sifat suka mengeluh, pola pikir pasif seringnya sepaket dengan keyakinan diri yang tipis.

Sekilas orang sepertiku kelihatan sangat nggak pandai bersyukur. Keluhanku berderet-deret panjang. Ujungnya nggak kelihatan. Hanya saja, karena umur yang sudah kepala 4, lebih pandai milih tempat, orang dan media. Nggak crut!, yang ada di kepala keluar bulat-bulat dari mulut. Yang baru-baru ini aja kusadari: keluhan yang nggak putus-putus sesungguhnya datang dari kehendak luar biasa.

Kehendak luar biasa mendekatkan kenyataan dengan harapan.

Dengan kata lain: memperbaiki keadaan. Maka dari itu berani kusimpulkan, keluhan yang nggak putus-putus bisa jadi pertanda kuatnya energi mental kita. Butuh energi mental luar biasa untuk bisa merubah keadaan. Dengan kata lain, mengeluh bisa jadi pertanda bagus.

Berkat pemahaman ini, pandanganku tentang mengeluh berubah. Ada mengeluh yang produktif, yang berfungsi sebagai detox, menjernihkan pikiran, supaya kerja kita memperbaiki keadaan optimal. Gampang ternyata mengenalinya:

Ciri#1: Mengeluh ke orang yang sangat berpengalaman

Biasanya seseorang yang jauh lebih tua. Karena mengeluhnya punya tujuan: melihat sumber keluhan dari sudut pandang orang lain. Kalau anak gadis umuran SMA mengeluh tentang wajah nggak cantiknya ke perempuan umur 30-40-an yang (mestinya) sudah lebih memahami cara kerja dunia ini, dia bisa membuka mata si anak SMA. Bahwa daya tarik banyak macamnya. Nggak cuma fisik.

Ciri#2: Mengeluh ke seseorang yang sudah melalui cobaan yang sama

Tujuannya cari masukan, solusi, pencerahan karena dia sudah menyelesaikan perjalanannya, kita belum. Dia bisa membagi apa yang dia lakukan dan apa yang dia tahu. Seseorang yang bisa mempertahankan pernikahannya setelah berulang-kali diterjang badai tentu lebih berbobot masukannya bagi kita yang sering ribut dengan suami daripada masukannya manten baru yang lagi kasmaran. Apalagi masukannya seorang lajang sebijak apapun dia.

Ciri#3: Mengeluh tanpa bercerita secara detil-kronologis

Ini menunjukkan bahwa kita bisa fokus di pemecahan masalah, bukan di derita emosional yang kita rasakan. Kalau sampai merasa harus menceritakan rangkaian peristiwa secara kronologis dan sangat mendetil saat mengeluh, itu artinya kita butuh simpati atau pembenaran atau menuntut persetujuan dan dukungan. Pendeknya kita cari validasi. Biasanya juga nggak mau disela karena niatnya memang bukan cari masukan. Bisa-bisa marah kalau yang kita dapat selain simpati/pembenaran/dukungan. Ciri lainnya: nggak cukup mengeluh satu kali ke satu orang.

Mereka yang nggak bisa berhenti mengeluh, yang dikeluhkan itu-itu aja, ngeluh ke semua orang under the sun tanpa menunjukkan upaya sungguh-sungguh mengatasi sumber keluhannya adalah orang-orang yang sangat merugi. Nggak akan dapat apa-apa selain capek. Yang ada hidup makin ruwet karena akar masalah dibiarkan menghujam dalam. Lha gimana, sibuknya bukan buat yang memperbaiki keadaan? Dah gitu dijauhi orang pula. Siapa yang mau terus-terusan dijadikan “bak sampah”?

Versi yang lebih halus tapi nurunkan derajat: mengeluh ke orang-orang yang kita “suruh” memecahkan masalah. Mendesain keluhan sedemikian rupa agar si pendengar keluh-kesah kita ini merasa bersalah, merasa bertanggung-jawab atas “penderitaan” kita. Ada kepribadian (dan sayangnya biasanya perempuan) yang menggunakan perasaan bersalah orang lain sebagai alat. Mengeluh adalah bagian dari strategi. Silakan aja sih. Sepertinya lumayan efektif juga. It’s just that respectable women don’t play victim.

Ciri#4: Mengeluh tanpa mencari pendengar

Perempuan adalah makhluk perasaan. Apa yang nggak dihitung sebagai “derita” oleh otak bisa jadi “siksa” bagi perasaan. Jadi wajar kalau kita relatif lebih gampang mengeluh dibanding laki-laki. Makin matang kita, makin gampang mengenali “derita” yang harus kita keluarkan dari sistem tubuh sebelum jadi racun tanpa harus melibatkan orang lain.

Contoh: segala macam keluhan yang sumbernya dari kelelahan mengasuh anak sendirian, nggak ada nenek atau ART yang bisa diajak gantian. Mengeluh capek ke bapaknya anak-anak baiknya nggak tiap hari. Sesekali aja. Pada umumnya laki-laki nggak akan ngerti karena mereka nggak tahu rasanya. Bisa-bisa malah direspon dengan “kuliah” tentang kodrat perempuan. Atau kita dibanding-bandingkan dengan ibunya yang meski beranak setengah lusin nggak pernah ngeluh. Apa nggak makin sesak dada?

Emosi negatif dalam situasi-situasi seperti ini baiknya dikeluarkan dari hati-pikiran lewat shalat dan doa-doa kita sambil bercucuran air mata. Atau: lewat terapi menulis.

Dua Teknik Menulis Untuk Men-detox Pikiran

Pikiran kita menciptakan realita yang kita jalani. Kalau kepala ini isinya cuma sambatan di berbagai bidang kehidupan, mau diputar bagaimanapun tetap aja hidup kita berasa seperti pare, pahit. Jadi yang ada dalam kepala ini harus di-setting dulu, di-tune in dulu, baru bisa ngomong soal memperbaiki keadaan.

Aku paham betul gimana rasanya punya 1017 keluhan. Dunia terasa sempit, menjalani hari ibarat nyeret jiwa-raga. Masalahnya, kalau kupikir dalam, 99% dari keluhanku yang 1017 itu nggak lain nggak bukan adalah resiko dan konsekwensi dari pilihan-pilihan yang kubuat sendiri. Ngeluh yang kugambarkan di atas nggak bisa dipakai. Akal yang nggak terima. Di saat-saat seperti ini yang bisa kita lakukan adalah mengelola keluhan secara internal, dengan diri sendiri. Berikut dua teknik menulis yang menurutku sungguhan membantu men-detox pikiran dari “racun”nya keluhan.

Teknik Curhat

Kudapat dari situs rumah dan gaya hidup Apartment Therapy 3-4 tahun lalu. Sangat efektif ketika yang kita butuhkan adalah meredam kekecewaan dan kemarahan yang meletup-letup.

1. Ambil selembar kertas dan bulpen atau pensil

2. Setel Timer di 5-10 menit (baiknya nggak lama-lama biar nulisnya nggak dikendalikan setan)

3. Mulai lah mencurahkan semua kekesalan di atas kertas. Tanpa sensor. Tuliskan kata-kata makian sepuas hati. Jangan berhenti menulis sebelum waktunya habis. Nggak usah dikasih tanda baca, nggak usah ditulis indah, nggak usah bingung dengan EYD, keluarkan semua di atas kertas (=mengeluarkan bisikan setan dari pikiran). Yang harus diperhatikan adalah:

4. Begitu waktu habis, lepaskan bulpen/pensil. Tulisan curhatan kita tadi nggak usah dibaca. Ambil napas, minum air, ambil wudhu; terserah. Kasih diri sendiri beberapa menit untuk menenangkan diri.

5. Setel lagi Timer. Kalau tadi 5 menit, sekarang juga 5 menit. Kalau tadi 10 menit, sekarang juga 10 menit.

6. Mulailah menulis lagi. Kali ini pakai tanda baca. Tulis berkah tersembunyi atau peluang dalam situasi yang bikin kita sambat ini. Kalau kemarahan kita dipicu satu orang tertentu, tulis kelebihannya, kebaikannya ke kita. Pokoknya segala sesuatu yang sekiranya bisa mengalihkan fokus pikiran kita dari negatif ke positif.

Aku ingat pakai teknik ini waktu lagi kesal setengah mati ke suami karena dia nggak segera nanggapi permintaanku membersihkan saluran air dari bak cuci piring yang mampet. Acara cuci piring terpaksa pindah ke kamar mandi. Cuci tangan dan cuci bahan masakan yang tetap di tempat cuci piring. Air bekasnya dialirkan ke ember. Aku harus bolak-balik ke kamar mandi membuang air kotor. Seperti itu berhari-hari. Sampai suatu hari, Azka numpahkan air tampungan. Air kotor seember besar menggenang di seluruh dapur. Aku ngeringkan lantai sambil nangis. Depresi karena nggak punya penghasilan + mangkel karena permintaanku nggak ditanggapi.

Aku duduk lalu mulai nulis selama 5 menit. Tulisan ronde pertama nggak kutulis di sini. Yang jelas nggak ada kata-kata makiannya. Sumpah. Tulisan ronde ke-2 aja yang kutaruh sini buat contoh penerapan. Kurang-lebih seperti ini:

“Udah, malu gitu aja nangis. Seperti nggak pernah kena masalah aja. Bagus tho bolak-balik ke kamar mandi bawa air kotor seember. Olahraga. Biar badan gerak. Nggak glundang-glundung di kasur seperti batang pisang. Lagian bukannya suamimu nggak mau tahu. Laki-laki lain mana mau sebelum berangkat kerja, dah rapi berseragam, repot-repot buang air kotor seember mbantu istrinya.

Telpon Pak Rosidi. Biar dia yang bersihkan saluran air. Nggak usah nunggu suami. Gitu aja kok nggak ngatasi.”

Langsung saat itu juga sumpekku hilang!

Teknik Magnet

Pernah dengar buku The Secret? Terus-terang nggak begitu paham sama isinya. Terlalu abstrak buatku. Yang kutangkap adalah pikiran kita bekerja seperti magnet.

Tahu kan gimana magnet ke semua yang terbuat dari logam? Seperti itulah pikiran kita ke barang-peristiwa-orang. Kalau isi pikiran kita positif, barang-peristiwa-orang yang kita tarik masuk dalam hidup kita juga positif. Isi pikiran negatif, yang masuk juga negatif. Isi pikiran kita bagus+mahal, yang masuk juga bagus+mahal. Isi pikiran kita murahan+soro, yang masuk juga murahan+soro.

Jadi yang harus kita lakukan adalah mengenali keluhan-keluhan yang sifatnya persistent, yang bercokol di pikiran (biasanya menyangkut hal-hal besar dalam hidup seperti perekonomian, pekerjaan dan pasangan hidup) lalu membalik keluhan-keluhan ini menjadi in-line, in-tune, dengan yang ingin kita tarik masuk dalam hidup kita.

Teknik ini kudapat dari blog keuangan personal Perfect Cents Living. Pertama baca di postingannya. Baru paham setelah dia ngasih penjelasan yang lebih teknis di live-nya di Instagram. Kucoba praktekkan di sini.

Langkah#1: Tulis keluhan-keluhan terbesar kita

Menurutku yang paling efektif adalah konsentrasi di keluhan-keluhan yang berakar dari satu sumber dulu. Satu-satu. Dalam kasusku, sumber keluhan terbesarku sejak berumah-tangga adalah keuangan. Salah satunya:

Kenapa sulit sekali buatku punya penghasilan dari rumah?!

Langkah#2: Rubah “pikiran-sambat” tadi jadi “pikiran-magnet”

Di sini yang harus mikir. Merubah pikiran yang sudah tahunan bercokol, yang diteguhkan pengalaman, sama sekali nggak gampang. Nggak akan berhasil kalau pikiran-sambat soal sulitnya punya penghasilan dari rumah tadi kuganti gitu aja dengan:

Gampang buatku punya penghasilan dari rumah.”

Pasti di-resist, ditentang sama pikiranku sendiri, karena pengalamanku 4 tahunan ini meneguhkan yang sebaliknya. Kalau sudah seperti ini yang harus kulakuķan adalah mengkilas-balik semua pengalamanku cari uang dari rumah, mengumpulkan semua pengalaman positif dalam hal ini, sekecil apapun itu.

Ini yang langsung terlintas di kepalaku:

  • Content yang kuhasilkan yang berhubungan dengan belajar bahasa Inggris diminati orang.
  • Page FB sudah mendatangkan 2 penyewa (tanpa Pak Kamto bisa dapat 1.8 juta).
  • Total yang kukumpulkan dari njuali barang nganggur, lungsuran dan tinggalan sejak 2014 dah tembus 30 juta.

Itu semua kenyataan. Merumuskan pikiran-magnet dari pengalaman-pengalaman positif ini jauh lebih gampang diterima alam pikiranku sehingga kekuatannya menangkis pikiran-sambat juga berlipat-lipat.

Kalau pengalaman-pengalaman positif itu harus kurumuskan jadi pikiran-magnet, kemungkinannya:

  • Produk belajar Bahasa Inggris yang kuhasilkan punya daya jual tinggi.
  • Aku punya prospek di online marketing.
  • Barang bekas punya nilai jual di tanganku.

Dari tiga alternatif itu, yang langsung diterima alam pikiranku tanpa setitik pun keraguan adalah yang pertama. Itu yang daya magnetnya paling kuat, yang paling sanggup meng-counter kenapa-sulit-sekali-buatku-punya-penghasilan-dari-rumah.

Penting sekali untuk cari yang daya magnetnya paling kuat. Tujuannya adalah agar kali berikutnya kenapa-sulit-sekali-buatku-punya-penghasilan-dari-rumah terlintas di kepalaku, alam pikiranku sendiri langsung meng-auto-counter dengan produk-belajar-Bahasa-Inggris-yang-kuhasilkan-punya-daya-jual-tinggi. Itu akan memulai train of thoughts yang hasilnya beda jauh dengan pikiran sambat. Pikiran-sambat larinya ke nyalahkan orang/ngasihani diri sendiri/nyerah, pikiran-magnet larinya ke evaluasi diri/membakar semangat/berjuang. Pelan tapi pasti pikiran-punya-penghasilan-dari-rumah-sulit akan kalah, tenggelam.

Gimana? Tertarik untuk mencoba?

7 Comments Add yours

  1. Monika Oktora says:

    Mbak Rindaaaa… tulisannya ini super banget. Cocok buatku yang sering punya pikiran pesimis. Memang harus di-counter dengan pikiran magnet yang Mbak Rinda bilang. Kadang berhasil, tapi kalau lagi down, balik lagi deh pikiran pesimis/ngeluhnya.. Gimana tu Mbak? Apa cukup sekali aja merumuskan pikiran magnetnya? Gimana biar pikiran positif kita tetep awet?

    1. Rinda says:

      Sepertinya efektifnya awet hanya kalau difollow-up dengan action, Mbak Monik. Actionnya juga harus berkelanjutan. Jadi memfungsikan pikiran sebagai magnet – action – feedback/hasil – balik lagi ke pikiran; terus seperti itu. Pikiran kita sibuk dengan rencana – ekskusi – evaluasi – bikin rencana lagi – ekskusi – evaluasi lagi.

      Saranku jangan bikin action plan yang muluk-muluk, yang berat. Toh kita nggak butuh action yang bisa ngatasi semua keluhan dalam one single strike (nggak tahu lagi kalau aku misalnya dalam kesulitan keuangan yang serius). Asal itu action yang meneguhkan pikiran magnet, meskipun kecil, dah cukup. Pastikan aja keberlanjutannya.

      Dalam kasusku, nggak realistis kalau lantas bikin rencana nulis ebook ttg belajar bahasa Inggris buat kujual. Terlalu berat. Bisa-bisa malah depresi. Lebih baik neruskan yang dah pernah kulakukan seperti nulis postingan ke-2 (postingan pertama hampir setahun lalu) untuk blog yang sudah kusiapkan khusus untuk content Bahasa Inggris. Berusaha menghasilkan satu post per minggu. Setelah beberapa bulan mungkin bikin ebook 10-20 lembar buat ngumpulkan email peminat content-ku sambil nawarkan jasa konsultasi via email. Setelah terkumpul 100 nama mulai mikir bikin ebook untuk dijual. Itu semua lebih “terjangkau” karena nggak ada yang sama sekali baru buatku. “Modal”nya dah ada semua termasuk pasarnya. 90% friends-ku di FB kenal aku karena Bahasa Inggris.

      Intinya jangan lah kita membebani diri sendiri, Mbak Monik. Pikiran magnetnya ringan-ringan aja supaya actionnya nggak butuh komitmen luar biasa. Luar biasanya baiknya kita taruh di konsistensi menjalankan dan menambah tingkat kesulitan satu action ke action berikutnya.

      1. Monika Oktora says:

        Makasih mbaaak sarannya.. mbantu bangeeet😍 barakallah

  2. Inge says:

    Bagian ini perlu dibaca berulang dan dipraktikkan biar berat badan ga menyusut karena ga detox. Hhhh. Terima kasih mba.

    1. Rinda says:

      Iya, prakteknya yang penting. Mulai dari yang kecil-kecil aja. Sekecil apapun lama-lama jadi “sesuatu” kalau kita bisa njaga konsistensinya.

  3. ervinamela says:

    Pikiran magnet itu harus yg in line dg apa yg jadi problem kita saat itu ya mba? Misal mengeluh soal penghasilan maka dijawab dg success story yg bisa membuktikan kemampuan kita sehubungan dg penghasilan. Gitu kah mba?

    1. Rinda says:

      Mungkin lebih tepatnya in line dg keinginan-keinginan terbesar kita dalam hidup, Mbak Ervina. Jadi sifatnya besar dan jangka panjang. Yang sekiranya menentukan kepuasan dan kebahagiaan hidup dalam jangka panjang.

      Aku pakai contoh penghasilan karena itu menyangkut nilai pentingku dalam hidup: kemandirian dan keberdayaan-diri.

      Mungkin harus kutegaskan konsep pikiran magnet ini bukan untuk memecahkan masalah sih. Lebih untuk “mengkondisikan pikiran” supaya lebih responsif sama peluang dan lebih kedap sama kendala. Kalau pikiran kita dikuasai keluhan, jadinya kebalik: lebih responsif sama kendala, lebih kedap sama peluang. Karena itu akan terasa efeknya kalau yang kita lihat jangka panjang, hidup kita secara menyeluruh di titik manapun, bukan terbatas di saat ini.

      Ini sangat abstrak sih memang, Mbak. Susah juga dinalar. Tapi aku dah lihat di 2 orang. Aku sempat dekat dengan laki-laki yang merasa semua yang masuk dalam hidupnya itu yang terbaik. Udah, modalnya cuma yakin. Dan aku lihat sendiri gimana dia dapat segala sesuatu (pekerjaan, promosi, penghasilan yang di atas rata-rata orang di tempat kerja yang sama, penampilan di atas rata-rata, S2 sampai istri) tanpa usaha, nggak perlu perjuangan. Mencolok sekali bedanya dengan aku dan satu lagi sesama asisten manajer. Kami berdua harus jungkir-balik dalam segala hal. Contoh satu lagi suamiku. Dia merasa segala sesuatu akan terjadi dengan sendirinya. Ya begitulah jadinya: dilihat dari sudut pandangnya segala sesuatu ya memang terjadi dengan sendirinya.

      Dari situ baru aku mulai (agak) paham sama The Secret: pikiran kita nge-set hidup kita secara keseluruhan, kerjanya seperti peta, yang nunjukkan jalan. Karena itu penting sekali isinya sungguhan in line dengan harapan-harapan terbesar kita. Biar kita juga nyampainya di tempat yang kita inginkan.

Leave a Reply to Inge Cancel reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s