Produk Yang Kuhapus Dari Belanja Bulanan (Selamanya)

Sejak awal nikah sebetulnya sudah berusaha mangkas anggaran belanja bulanan tapi yang bisa kuhemat nggak banyak. Baru terasa selisihnya setelah kerja berhematku lebih sistematis:

  1. Menurunkan standar (menghindari merk-merk yang menguasai pasar).
  2. Untuk produk-produk tertentu beralih ke yang tanpa merk.
  3. Berhenti membeli produk non-esensial.
  4. Mencoret produk yang pemakaiannya kurang dari sekali seminggu dari daftar belanja bulanan.
  5. Menghindari tempat belanja yang merotasi produk yg didiskon.

Setelah 7 tahunan trial-&-error akhirnya punya daftar produk yang bisa kucoret dari daftar belanjaan bulananku sekarang dan selamanya. Untuk tiap produk yang kucoret berarti ada produk lain yang kerjanya jauh lebih baik. Contoh menculek-culek mata: pewangi cucian, pewangi setrikaan dan pengharum ruangan. Parfum yang bagus jauh lebih wangi dan lebih awet wanginya dibanding 3 produk itu digabung sekaligus.

Memang produk yang kerjanya jauh lebih baik harga belinya juga pasti jauh lebih mahal. Tapi kalau kita hitung harga per pemakaian, biasanya nggak semahal kelihatannya karena umur pemakaiannya lebih panjang. Pakai sedikit aja dah ngefek. Aku pribadi lebih milih berhemat di belanja bulanan dengan nggak beli 3 produk pewangi yang kusebut di atas supaya bisa nabung buat beli parfum bagus sekalian.

Foto kuambil dari artikel tentang bedanya parfum murah dan mahal dari Reader’s Digest. Foto ini ku-link-kan ke artikel itu.

Secara umum prinsip kerjaku di belanja bulanan adalah:

Membeli yang hasilnya nyata, yang nggak bisa digantikan produk lain, sebisa mungkin yang multifungsi, yang dipakainya lebih dari sekali seminggu dan mencari merk yang mengandalkan keunggulan kompetitif (bukan branding).

Berikut daftar lengkapnya.

1. Sabun cair

Kelebihan sabun cair cuma di wanginya. Body lotion kerja wanginya lebih baik. Merk tertentu seperti favoritku Enchanteur bisa bikin harum seluruh kamar tempatku dandan. Juga ninggal aroma yang khas di kulit (karena bercampur dengan aroma tubuh kita sendiri) kalau rutin dipakai dua kali sehari.

2. Sabun cuci tangan

Sabun cuci piring Sunlight kerjanya lebih baik. Sepersekian tetes sanggup menghilangkan lapisan minyak di sekujur tangan dan bau bandel terasi dan ikan asin. Kudulukan produk-produk yang multifungsi, membelakangkan produk yang pemakaiannya terbatas atau terspesialisasi.

3. Conditioner

Untuk kulit kepala berminyak sepertiku bukan cuma nggak ngefek tapi juga bikin ketombean. Anggaranku lebih longgar pun lebih milih creambath sebulan sekali di salon. Meski murah, kalau nggak ngasih hasil nyata, tentu lebih baik nggak beli.

4. Pelembut & pewangi cucian

Jujur iri sama orang yang rumah dan bajunya selalu wangi berkat pelembut dan pewangi cucian. Setelah sekian tahun mengamati, kusimpulkan produk ini kerjanya bagus di kain-kain tertentu dan mesin cuci tertentu. Kalau kain-kainan kita kebanyakan dari serat sintetis dan dicuci dengan mesin cuci bukaan atas atau dicuci tangan, wanginya hanya selagi cucian masih basah.

5. Pewangi dan pelicin setrikaan

Bikin kerja setrikaku jadi lebih lama karena harus semprot-semprot. Di bagian-bagian yang kena semprotan harus kena panas setrika beberapa detik lebih lama demi mengeringkan percikan airnya. Menghemat 5-10 menit di kerja setrika jauh lebih berharga bagiku yang ngapa-ngapain lelet soro. Harus kuhindari semua produk yang bikin kerjaku makin lama.

6. Tisu

Aku lebih puas dengan kanebo, lap kain, air dan saputangan. Tisu jadi kebutuhanku saat bepergian jauh atau lama yang nggak bisa ke kamar mandi atau ke keran bak cuci piring sekehendak hati. Atau saat Rafi masih bayi yang sangat merepotkan kalau harus membersihkan poop-nya dengan air mengalir. Seingatku Rafi sudah nggak pakai tisu basah/kering sejak umurnya belum genap setahun. Begitu dia bisa tengkurap jadi bisa kuposisikan nungging di tangan kiriku, kubawa ke kamar mandi. Kalau lagi pilek, hidungnya kupencet dengan tanganku tanpa tisu. Tanganku kubersihkan dengan air keran.

7. Pengharum ruangan

Wangi dari pengharum ruangan terasa sekali artifisial-nya. Minyak esensial yang diteteskan ke air lantas dididihkan lalu di-shimmer jauh lebih menyenangkan hidungku meski wanginya nggak sekuat yang artifisial. Sirkulasi udara rumahku bagus kecuali dapur, nggak butuh pengharum ruangan. Untuk mengatasi bau nggak sedap yang sangat tajam, kupakai kopi bubuk.

8. Pengharum lemari

Karena bajuku, baju rafi dan kainan-kainan lainnya nggak banyak. 90%-nya keluar lemari buat dipakai lantas dicuci dalam jangka waktu kurang dari 2 minggu. Gitu juga dengan sprei, sarung bantal, bedcover dan selimut. Perputarannya cepat karena setelah rumah disewa dan tiap mau disewa harus ganti sprei-bedcover.

9. Pengharum lantai

Memang bikin lantai wangi tapi hanya sesaat. Sudah kucoba ngepel hanya dengan air. Ada bau nggak sedap yang menganggu selama lantai belum betul-betul kering. Kucoba cara ibuku mengatasi lantai berminyak: air pel-pelan dibubuhi sejumput deterjen (kalau banyak lantai jadi sangat licin-berbusa, jadinya nyuci lantai, harus disiram air untuk menghilangkan busanya). Manjur menghilangkan bau nggak sedap dari ngepel tanpa pengharum lantai.

Lauren dari An Organized Life mengganti banyak produk pembersih dan produk kecantikan sehari-harinya dengan yang bikinan sendiri demi berhemat. Kalau serius tertarik ngganti produk-produk pembersih dan kecantikan dengan produk bikinan sendiri, coba lihat One Good Thing by Jillee. Aku belum sampai ke level kerajinan itu.

View this post on Instagram

{Frugality & Simplicity} This morning I’m sharing my super easy, super simple recipe to clean glass and mirrors 🤗 All you need is: 🌿 A spray bottle . 🌿 1/2 cup rubbing alcohol . 🌿 1/2 cup white vinegar. 🌿 Water Combine the rubbing alcohol and vinegar in a spray bottle, and then top with water! Shake and spray on mirrored or glass surfaces and wipe off with a microfiber cloth. Currently I’m using old dish clothes to clean shiny surfaces and it’s working perfectly! Easy, simple and natural alternative to store bought products 🤗 . (You can find the spray bottles that I use in the “shop: home management” section of the website! And the cleaning labels can be found on the “printables” page!) . #cleaning #naturalcleaning #cleanhome #homemaker #sahm #wahm #frugal #frugalliving #frugallife #budget #budgeting #budgetfriendly #organized #anorganizedlife #ceoofourhome #aolcommunity #glassandmirror #debtfreecommunity #motherhood #momcommunity #frugalcommunity

A post shared by Lauren Tucker (@an_organized_life) on

10. Bumbu instan pabrikan

Kupakai produk industri rumahan seperti merk Machmudah yang nggak dijual di toko atau minimarket. Kupakai hanya bumbu masakan berbasis santan, rawon dan soto karena aku masih kesulitan menentukan komposisi kunyit dan kluwek. Bumbu buatan pabrik kuat sekali rasa “pabrik”nya. Setelah (agak) berpengalaman di dapur, berani kusimpulkan semua bumbu instan pabrikan hampir sama dengan ngeracik bumbu sendiri ditambah penyedap Royco. Take it from me: meracik bumbu tempe goreng, ikan goreng, ayam goreng, perkedel, sop dan sayur asem nggak sulit. Soal menghemat waktu masak, meal plan-&-prep lebih efisien daripada bumbu instan. Paling nggak di dapurku.

11. Tepung bumbu pabrikan

Alasannya sama dengan bumbu instan pabrikan: rasanya nggak beda jauh dengan ngeracik bumbu sendiri ditambah penyedap Royco. Begitu aku tahu perbedaan efek tepung terigu/beras/maizena, kekentalan adonan dan teknik menyalut tepung di hasil gorengan, hilang sudah kebutuhanku akan tepung bumbu.

12. Saos tomat & saos sambal

Di rumahku konsumsinya belum tentu seminggu sekali. Lebih baik kumasukkan dalam belanja mingguan yaitu setelah kupastikan minggu itu akan masak sesuatu yang butuh saos tomat. Lain lagi andai keluargaku sangat suka makan apapun dengan cocolan saos tomat dan saos sambal.

13. Jajanan pabrik

Nyetok jajanan pabrik membantuku ngendalikan nafsu jajan di luar. Juga sangat mengurangi pening kepala saat ketamuan tanpa persiapan. Dengan syarat: belinya, penyimpanannya dan penyajiannya pakai sistem. Beli-belinya baiknya kusendirikan. Nggak dibarengkan dengan belanja bulanan. Seminggu sekali atau 2-3 kali sebulan supaya bisa kuatur kesalingmelengkapinya dengan jajanan-minuman bikinanku sendiri. Yang paling efisien di biaya sekaligus efektif di nafsu njajan adalah kalau kita menyeimbangkan jajanan-minuman beli dengan yang bikin sendiri.

14. Mi instan

Aku nggak anti mi instan. Dalam sebulan pasti makan paling nggak sekali. Masalahnya: nyetok mi instan bikin aku malas meal-prep. Kalau dah malas meal-prep, malas masaknya jadi sering. Padahal siapa yang mau makan mi instan dua hari berturut-turut? Akhirnya terpaksa beli lauk jadi atau makan di luar. Kuganti beli di warung Mbak Ari hanya pada saat mau bikin. Tingkat konsumsi mi instan langsung drop. Dulu makan mi paling sedikit seminggu sekali.

15. Wadah plastik

Niatnya ambil wadah plastik buat bumbu, tahu-tahu aja merembet ke wadah kecap, wadah minyak dstnya. Toh dapurku bukan studio acara masak-masak TV ini, kebutuhan akan wadah plastik bisa kuatasi dengan yang nggak perlu beli. Selama kemasan refill-nya bisa berdiri, nggak kutuang ke wadah permanen.

Berikut daftar produk yang kualihkan ke yang tanpa merk:

  1. Beras
  2. Gula
  3. Tepung terigu

Setelah mencoba menurunkan standar semua produk yang rutin kupakai, harus kuakui ada merk-merk yang tidak tergantikan.

1. Sabun cuci piring Sunlight

Aku mau meng-endorse Sunlight tanpa dibayar. Sungguhan mangkas waktu dan tenaga. Bukan cuma waktu-tenaga untuk mencuci piring dan alat masak kotor tapi juga menghilangkan bau amis ikan (sirkulasi dapurku sangat jelek), menghilangkan minyak di lantai/tembok/meja dapur dan ngusir lalat gede-gede yang sepertinya ngadakan rapat akbar di dapurku tiap kali rumahku disewa! Sudah kucoba sabun colek, deterjen dan sabun cuci piring merk lain. Nggak ada apa-apanya dibanding Sunlight.

2. Pembersih keramik Porstex

Sudah kucoba pembersih keramik merk lain. Nggak nemu yang bisa mengatasi kerak dan noda kekuningan di keramik sebaik Porstex.

3. Kecap Bango

Mungkin yang satu ini lebih menyangkut selera. Yang paling pas di lidahku ya kecap satu ini. Kecap lain ada yang terlalu manis di lidahku, ada yang mengandung sentuhan pahit, ada yang warnanya terlalu gelap. Beda juga jatuhnya di rasa dan tampilan makanan.

4. Penyedap Royco

Rasanya lebih kaya dibanding MSG biasa seperti Sasa dan Miwon tapi ringan, nggak terasa berempah seperti merk lain. Sangat membantu “nutupi” racikan bumbuku yang masih banyak bolongnya. Masakanku jadi punya rasa rumahan, jaminan kemakan, meski bumbunya “tebak-tebak berhadiah”.

5. Saos Tiram Botolan

Saos tiram menciptakan rasa enak yang lebih halus, yang lebih blended-in dengan bawang-bawangan dan bumbu daun dibanding penyedap Royco. Khususnya di masakan-masakan yang nggak mengandalkan rempah seperti olahan tumis dan masakan berbasis kaldu. Dengan kata lain, dapurku butuh. Kucoba pakai saos tiram sachetan yang jauh lebih murah. Rasa MSG-nya kelewat mendominasi. Dengan atau tanpa bawang nggak terasa bedanya. Aku nggak fanatik dengan merk tertentu asal botolan beling, bukan yang sachetan.

6. Mentega Blue Band

Sudah kucoba mentega ecer. Di lidah ya memang lebih enak Blue Band. Tapi bukan itu yang bikin aku balik ke Blue Band. Bahkan aku yang suka minyak pun nggak sanggup lihat lemak mentega eceran. Sisa-sisanya di wajan nggak ada bedanya dengan gajih.

Sekarang, buat apa aku nulis 2000 kata tentang belanjaan bulanan?

Kerja berhemat yang sangat terasa bagi keuangan dalam jangka panjang adalah yang ditaruh di pengeluaran yang sifatnya rutin.

Yang keluarnya setiap hari, setiap minggu, setiap bulan, setiap tahun. Berhemat di pengeluaran nggak rutin seperti beli perabotan atau hajatan yang belum tentu setahun sekali bisa menjaga saldo tabungan dari terkuras habis dalam sekali tarik (dengan catatan: kita bukan orang yang mengandalkan hutang untuk uang besar atau cara kredit untuk pembelian non-rutin) tapi nggak bisa nambah porsi yang bisa kita sisihkan. Karena itulah IRT bisa punya kontribusi luar biasa ke keuangan rumah tangga meski nggak mendatangkan penghasilan. Karena perempuan yang biasanya pegang kendali atas pengeluaran rutin rumah tangga. Posisi IRT mengijinkan kita mengoptimalkan pikiran-waktu-tenaga untuk:

  • Menghilangkan pengeluaran rutin yang nggak perlu misal memberhentikan ART karena anak-anak dah bisa diajak berbagi pekerjaan rumah tangga.
  • Menghilangkan pengeluaran rutin yang bisa kita kompensasi dengan selain uang misal mencari orang yang mau bersih-bersih dengan imbalan ngekos gratis.
  • Menurunkan jumlah uang yang keluar dari pengeluaran rutin misal mengganti ART full-time yang tidur di rumah kita dengan ART part-time yang rumahnya di kampung sebelah perumahan kita.
  • Menambah nilai uang yang keluar dari pengeluaran rutin (nominal uang yang keluar sama tapi nilai yang kita dapat lebih; bisa dalam artian kualitas, kuantitas maupun fungsi) misal mencari ART paruh-waktu yg bisa masak besar. Nekan biaya konsumsi saat jadi tuan rumah arisan/buka puasa bersama/pengajian. Tetap kita kasih upah di luar gaji bulanannya. Jatuhnya masih lebih murah dibanding beli di restoran atau pesan di katering.

Berhemat bukan cuma bisa dihasilkan oleh memilih yang murah.

Berhemat juga dihasilkan oleh paham betul akan yang kita butuhkan dan paham betul akan yang sungguhan efektif-efisien di kita.

Iklan dan industri retail punya kepentingannya sendiri. Makin independen kita dari mereka, makin bagus.

Ambil berhemat di belanja bulanan sebagai latihan pemanasan. Setelah bisa nurunkan uang keluar di belanja bulanan, cari pengeluaran rutin lain untuk “digarap”.

3 thoughts on “Produk Yang Kuhapus Dari Belanja Bulanan (Selamanya)

    1. Hahaha.. Pinginku sih juga gitu. Belum waktunya. Yang kutahu dan kepraktekkan belum cukup. Suatu hari nanti. In sya Allah. Makasih ya, Gita!

  1. Ramuan citrid acid + sabun cuci piring cair + sedikit air bisa gantikan cairan pembersih kerak, mbak.

    Komposisi: citrid 1 sachet, sabun pounch paling kecil, air sedikit biar cairan bisa disemprot ke tembok atau lantai.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s