#Dapur500k: 5 Prinsip Kerja Menghemat Biaya Makan

Setelah gumbul dengan akun-akun #debtfreecommunity di Instagram, ada satu tren yang kulihat tersebar rata: pos pengeluaran yang pertama kali digarap adalah yang berhubungan dengan makan. Mereka yang berusaha membebaskan diri dari jeratan hutang & cicilan pasti beralih ke masak sendiri, berhenti mengandalkan bahan-bahan processed pabrikan dan menghentikan kebiasaan makan dan jajan di luar termasuk ngopi di cafe.

Setelah beberapa lama ngamati, baru paham kenapanya. Rupanya, begitu kita sanggup menghemat biaya makan, porsi yg bisa kita sisihkan dari penghasilan naik tajam. Hutang lunas pun, porsi penghasilan yg bisa kita sisihkan ini relatif tetap besarannya karena kita sudah berhasil menekan pengeluaran pokok yang berhubungan langsung dengan bertahan hidup.

Pendek kata kita lulus dari training membedakan keinginan dari kebutuhan.

Yang kutulis di sini adalah prinsip-prinsip dasar menurunkan biaya makan. Pertama dengan menghemat belanjaan. Kedua dengan mengurangi –mungkin juga menghilangkan– makan beli dan makan di luar. Entah karena nggak sempat/capek/males masak sendiri atau karena sering bingung mau masak apa. (Iya, kalau tiap masak harus peras otak dulu, pasti akhirnya sering beli masakan jadi.) Nggak penting apakah tujuan kita menurunkan ke 500 ribu atau ke 2 juta.

Prinsip-prinsip ini berlaku untuk kelas menengah yang pasti punya kulkas. Nggak efektif di mereka yg sering makan di luar karena nggak suka masak atau nggak suka masakan rumahan atau jarang di rumah karena tuntutan pekerjaan. Juga nggak efektif di mereka yang masak-masaknya jauh di atas yang perlu. Entah karena hobi masak, suka bagi-bagi masakan atau sering bikin acara makan-makan.

5 Prinsip Kerja Menghemat Biaya Makan

Prinsip#1: Eat through your fridge

Merubah kerangka berpikir dari “Makan apa ya hari ini?” ke “Bisa masak apa ya dari yang ada di kulkas supaya kalau bisa nggak belanja?”. Ini kerangka pikir yg cermat memperhitungkan bahan-bahan yang sudah kita punya tiap akan belanja. Punya kunyit keriput misalnya, beli santan, jadi Nasi Kuning.

TOP TIP: Usahakan kulkas nggak penuh-sesak dan selalu tertata. Menginventaris isi kulkas dan pantry jadinya cukup dengan sekali longok. Lalu bikin rencana menu 3-7 hari berdasarkan bahan yg ada sebelum belanja. Ketika kulkas kosong sekalipun, belanja dg bekal rencana menu seminggu (dibanding belanja tanpa rencana menu) sangat meng-cost-efficient-kan pengeluaran makan. Kita hanya membeli yg akan kita olah, tahu persis mau diolah jadi apa dan beli hanya sejumlah yg diperlukan. Tingkat buang-buang bahan masakan langsung turun tajam.

View this post on Instagram

25 Hari Menuju Gajian: Hari 7 . Kerjaku tiap Senin setelah ketamuan Mbak Titik adalah me-round up semua makanan/bahan masakan/buah yg masuk. Memilah-milah: . (1) yg lebih manfaat di rumah Mbak Dama . (2) yg harus segera diolah/dimakan . (3) yg tahan lama . (4) yg bisa buat suguhan tamu . Lalu bikin daftar masakan/camilan/minuman yg bisa kubuat dari apa yg ada. Yg ditandai asterix kudulukan karena semua bahannya siap. . Kerja ngumpulkan, nyimpan di tempatnya sendiri-sendiri lantas nulis sambil mikir apa yg bisa kubuat memastikan nggak ada yg terbuang karena busuk atau lupa. Sangat bermanfaat kalau kulkas penuh yg nggak mungkin aja semua kelihatan mata. Juga mendorongku mencari-cari cara pemanfaatan/resep yg bisa buat berhari-hari. . #25harimenujugajian #hari7 #blogngirit #bloggayahiduphemat #bloggerperempuan #emak2blogger #emakirit #emakpintar #baitijannati #kerjairt #kerjarumahtangga #dapur500k

A post shared by Keuangan IRT (@rindasukma_) on

Prinsip#2: Beli sekaligus banyak

Belanja sekaligus banyak pastinya lebih murah dibanding ngecer. Dengan catatan: perbendaharaan resep kita banyak, sudah sukses “membentuk” selera keluarga, tahu betul berapa yg kita butuhkan dalam sebulan dan, yg paling penting, mau repot mem-prep belanjaan sebelum masuk kulkas. Karena itu beli ayam sekaligus 2 kilo sama sekali nggak membantuku nekan uang belanja di 5 tahun pertama nikah. Ayam Kecap lagi, lagi-lagi Ayam Kecap… IRT pemula yang skill masaknya masih terbatas di goreng-goreng, sop dan sayur bening, PR-nya nambah perbendaharaan resep dulu.

TOP TIP: Bagi bahan dalam porsi sekali masak sebelum masuk kulkas. Kalau bisa langsung rencanakan per porsinya akan dimasak apa. Misal ada uang lebih, beli lah daging 1 kilo sekaligus buat sebulan. Bagi jadi 8 porsi masak. Dua porsi potong tipis-tipis untuk 2 lauk tumisan, 2 porsi cincang halus untuk campuran Tahu Isi atau Lumpia Kentang, 2 porsi potong dadu untuk sop dan soto, 2 porsi biarkan dalam bonggolan untuk olahan suwir yang dagingnya harus direbus dulu. Keluarkan 2 porsi per minggu. Dengan begitu kita menjamin asupan protein dari daging merah 2 kali seminggu dengan satu kali belanja.

View this post on Instagram

Selama karirku jualan barang bekas, kadang ada suara kecil di belakang kepala yg bilang, "Ini jangan dijual," padahal nganggur. Sekarang minum air putih aja aku milih yg anget. Buat apa nyimpan tiga cetakan es kan? . Tetap aja kuturuti suara di belakang kepala tu. Setelah Rafi mulai makan baru kepikiran, cetakan es bisa buat mbekukan kaldu dan daging bahan nasi tim Rafi. . Beli daging, rebus dengan bawang putih untuk dapat kaldunya, dagingnya cincang, bagi rata di cetakan es, siram kuah kaldu, simpan di freezer. Tinggal ambil dua cubes untuk nasi tim 2-3 kali makan. Beli daging 1/4 kilo bisa buat sebulan, gantian dengan tahu-tempe. Sama dokter disuruh ngasih itu aja dulu demi mengendalikan alerginya. . #blogngirit #bloggayahidup #emakblogger #dapur500k

A post shared by Keuangan IRT (@rindasukma_) on

Prinsip#3: Bahan, resep & menu ekonomis

Selama Great Depression (1929-39) di AS yg berjuta-juta orang di-PHK, bermunculan resep dan menu yang mutar di kentang, telur dan tepung. Karena 3 bahan itu yang paling murah. Di Makassar ikan mungkin lebih murah dibanding tahu-tempe. Bagi penghasilan >10 juta, ayam setara dengan tempe bagi penghasilan <10 juta. Idenya adalah: kalau kita bisa konsen dan konsisten di bahan/resep/menu ekonomis, biaya makan akan turun dan tetap rendah dengan sendirinya.

TOP TIP: Buat master-list resep-menu ekonomis favorit keluarga. Tambah terus koleksi resep otentik berbahan murah seperti kol/kubis dari seluruh Indonesia. Lengkapi dengan resep otentik-ekonomis dari seluruh dunia seperti Okonomiyaki-nya orang Jepang. Sesuaikan dengan lidah keluarga, skip bahan-bahan yg susah didapat/non-ekonomis. Yang disukai keluarga masukkan master-list. Master list ini yang akan memastikan dapur kita “selera bintang lima, biaya kaki lima”.

View this post on Instagram

25 Hari Menuju Gajian: Hari#22. . Makin tua bulan, biasanya aku makin nggethu di dapur. Ada perasaan berdaya yg nggak bisa kugambarkan kalau tetap bisa makan enak, tetap bisa nyamil di tanggal tua, 90-100% modal apa yg ada. . Ini kebiasaanku yg sangat membantu me-max-out-kan dapur di tanggal tua: tiap lihat bahan masakan, yg kupikirkan adalah diolah jadi apa ini si jamur supaya bisa buat teman makan nasi. Kalau lihat makanan siap makan seperti Telur Asin, yg kupikirkan adalah masakan apa yg paling ngangkat itu si Telur Asin. Yg terlintas di kepalaku Nasi Rawon dan Nasi Pecel. Nggak kupilih dua-duanya karena nggak punya bahannya, harus belanja. Kucari yg paling dekat. Nasi Pecel menurutku dekat lah dengan nasi keringan. Jadilah Nasi Gurih (semua bahannya ada kecuali Lengkuas) dg Telur Asin dan Jamur Crispy. Dua-duanya dari Mbak Titik. . Itu 3 pulau sekali mendayung: . (1) menghindari hutang atau kasbon demi bisa makan di tanggal tua . (2) mengosongkan kulkas karena akhir pekan ini rumah mau disewa . (3) mengalihkan pikiran dari kegalauan klasik di tanggal tua yg sering bikin pikiran merembet ke mana-mana. . #dapur500k

A post shared by Keuangan IRT (@rindasukma_) on

Prinsip#4: Freezer meal

Hajatan di kampung biasanya kalau nggak masak Rawon ya Soto. Itu bukan cuma karena alasan kelaziman. Ada alasan efisiensi di dalamnya. Masak satu macam sekaligus banyak jatuhnya lebih cost-efficient daripada masak rupa-rupa sedikit-sedikit ala meja prasmanan (atau masak berkali-kali). Ditarik ke kerja masak sehari-hari jadinya seperti ini: dobel jumlah/takaran sekali masak lalu bekukan separuh utk dimakan lain hari. Khususnya masakan-masakan yang bikinnya lama dan yang uenak karena terbuat dari daging-dagingan, kaldu dan santan.

TOP TIP: Pembekuan relatif tidak merubah rasa. Kalau punya microwave, semua bisa dibekukan. Panas microwave nggak merubah tekstur makanan seperti panas kompor. Jordan dari Fun, Cheap or Free, IRT beranak 6, membekukan semua. Telur Orak-Arik aja dia bekukan! Kalau takut masakan berubah rasa dan tampilannya setelah dipanasi, pilih masakan yg makin sering dipanasi makin enak seperti Gudeg, Lodeh, Kalio dan semua masakan Padang berbasis santan yang santannya dibiarkan pecah.

View this post on Instagram

. . TIP#3 . Masakan beku atau simpan kulkas nggak mengeluarkan aroma sewangi masakan yg baru diolah saat dipanaskan. Padahal itu yg paling membangkitkan nafsu makan. Jadi, kalau menu hari itu masakan beku atau masakan yg kusimpan dalam kulkas, ada cara-cara taktis utk memastikan dapur mengeluarkan aroma wangi masakan yg bikin lapar. . 1. Selain masakan beku/simpan kulkas, tambah satu macam masakan baru dalam menu. Utamakan gorengan karena wanginya relatif kuat dan awet. Dadar Telur ja dah cukup sakti. . 2. Gorengan sisa kemarin bisa "diperbaharui" aromanya saat digoreng ulang yaitu dengan cara disalut kocokan telur sebelum dicemplungkan wajan. Itu yg kuterapkan ke sisa-sisa Martabak, Dadar dan Otak-otak Bandeng yg sudah berhari-hari di freezer dan kulkas pagi tadi. Suamiku yg nyaris anti makan masakan kemarin pun jadi lapar kena aroma telur nyemplung minyak panas. . 3. Selain gorengan, yg bikin wanginya masakan ke mana-mana itu bumbu yg ditumis. Rajangan bawang merah, bawang putih, lengkuas, sereh dan daun salam aja dah sangat wangi. Gorengan ayam, daging, ikan-ikanan yg sudah berhari-hari di kulkas kusuwir lantas kutumis. Nggak kugoreng ulang gitu aja. Tampilannya berubah, wanginya dapat. . 4. Utk masakan beku/simpan kulkas berupa tumisan sayur atau yg agak berkuah, tambah dg rajangan bawang merah/bawang putih yg ditumis dulu saat manaskan. Mungkin tumisan bawang-bawangannya bisa ditambah udang atau jamur biar makin wangi atau ditambah penthol dan sosis biar makin "makmur". . Repot ya? . Well, bagiku, ada kepuasan yg nggak bisa kugambarkan dg kata-kata kalau masakan nggak ada yg terbuang, kalau bisa nggak belanja sampai kulkas-freezer kosong melompong. Itu latihanku ngasah otak. . Tip#1, 2 dan 4-nya ada di Story. . #dapur500k

A post shared by Keuangan IRT (@rindasukma_) on

Prinsip#5: Menu berantai

Membuang masakan atau bahan makanan pastinya membengkakkan biaya. Buang-buang bahan karena dibiarkan terlalu lama di kulkas dan buang-buang masakan karena nggak laku bisa kita tekan dengan menyusun rangkaian menu yang bahan dan/atau bumbunya relatif sama. Sambel Tomat bikin banyak sekalian. Sebagian buat Pindang Bumbu Merah. Sop yang nggak habis bisa diolah-ulang jadi Cap Cay.

TOP TIP: Sign-up di Cookpad. Kita bisa cari resep modal kata kunci bahan dan bumbu. Dari bahan-bumbu yg sama bisa dapat 1001 resep masakan yang beda-beda. Dari Cookpad ekspansi ke YouTube. Boros di pemakaian data tapi sangat menolong pemula karena visual. Asal betulan buat praktek, nggak cuma ditonton, data nggak terbuang percuma. Dengan nambahnya jam terbang di dapur, kita akan makin pandai nyusun menu berantai kita sendiri.

View this post on Instagram

Lupa ini kerja dapur tanggal berapa. Yg jelas Hari Banca'an Bubur Ayam. Nggak ada yg jual di Pacet. Ini salah satu masakan olahan ayam/daging/ikan suwir jagoan karena feed a crowd (=modal sedikit jadinya buanyak) dan make ahead (=masaknya bisa dicicil). Juga bisa jadi masakan cemplang-cemplung buat menghabiskan bahan-bahan sisa. Yg kubuat ini ayamnya dari Ayam Ungkep masakan minggu lalu, kacangnya sisa kacang buat Sayur Asem Betawi, juga masakan minggu lalu. Kuah kaldu sop yg kubekukan terpakai buat membuburkan nasi. . Kerangka kerjaku dalam merencanakan menu adalah ekonomisnya dan efisiensi kerja/waktunya. Terus-terang aja aku nggak begitu perhatian sama diversifikasi bahan atau komposisi gizinya. Sulit memastikan dua itu dg anggaran <1 juta. Kalau punya kebutuhan sama denganku, maka memasukkan Sayur Asem Betawi, Ayam Ungkep, Tahu Bumbu Ungkepan Ayam, Sop dan Bubur Ayam dalam rencana menu seminggu akan sangat menghemat waktu, tenaga dan bahan. . Waktu kubilang masaknya bisa dicicil, itu termasuk buburnya. Bukan cuma ngurangi waktu nunggui kompor di Hari Banca'an Bubur Ayam tapi juga bikin bubur tahan seharian, nggak berair, teksturnya lembut-kenyal yg nggak akan kita dapat dg merebus nasi masak berjam-jam meski airnya terus-terusan ditambah. . Bubur Nasi Tahan Sehari . Cara Membuat: 1. Masukkan beras dg takaran air sebagaimana biasanya masak nasi ke magic jar. 2. Setel magic jar di mode 'WARM'! 3. Biarkan semalam (setelah 24 jam air mestinya kering tapi nasi masih setengah mentah). 4. Tambahkan air kaldu ke nasi setengah mentah tadi lalu masak dg api sedang. 5. Kecilkan api begitu air mendidih. 6. Lanjutkan memasak dg api kecil. Tambahkan air beberapa kali hingga kekentalan yg diinginkan. . Tip: 1. Menambahkan air beberapa kali selama proses pembuburan ngasih hasil yg lebih kenyal dibanding memasukkan air buanyak satu kali saja pada saat naik kompor. 2. Utk ngurangi waktu nunggui kompor, pembuburannya bisa kita lakukan dua kali dalam dua hari. . Kasih tahu aku via comment kalau pingin aku nge-share lebih banyak resep cost-&-time-efficient seperti ini. . #dapur500k

A post shared by Keuangan IRT (@rindasukma_) on

Lima prinsip tadi berdiri sendiri-sendiri. Kita terapkan semua sama rata bisa, pilih konsen di satu aja juga bisa. Freezer-meal misalnya. Masakan hangat tetap lebih menggugah selera. Tanpa microwave, nggak banyak bantu. Tapi bagi yang sangat sibuk atau anaknya masih kecil-kecil, freezer meal is a life saver! Seperti yang sudah kubuktikan sendiri, punya masakan beku di freezer menghilangkan dorongan makan beli atau makan di luar selama 1-2 hari sepulang luar kota yang badan masih sangat capek, kerjaan rumah numpuk, nggak sanggup aja kalau harus masak.

Prinsipnya adalah: find what works for you. Cari yg paling pas di kita. Yang jelas kelima prinsip itu berkaitan langsung dengan meal-plan & meal-prep:

Membiasakan diri mikir untuk kerja masak beberapa hari sekaligus dan mengoptimalkan kulkas untuk menyimpan bahan siap olah dan siap makan.

Catatan Penutup

#dapur500k bukan kampanye mengajak IRT se-Indonesia Raya menurunkan uang belanjanya ke 500 ribu. Juga bukan untuk pamer betapa rendahnya biaya makanku. Uang lauk-pauknya Mbak Tin ya segitu itu. Yang makan 4 orang dewasa dan 2 anak. Mbak Dama uang belanja segitu buat lauk sak sembakonya.

Mereka yang penghasilannya 10 juta, hidup di kota besar, nggak punya tanggungan cicilan, juga bukannya harus menafkahi 17 janda dan anak yatim tapi ngotot nurunkan biaya makannya ke 500 ribu harus siap dengan konsekwensi serius dalam jangka panjang. Bisanya bisa tapi kupastikan ngerusak respek dan kepercayaan orang-orang dekat. Kehidupan sosial dan hubungan interpersonalnya nggak bermutu. Buat apa?

Akan tetapi, andai karena satu dan lain hal kita nggak punya pilihan lain selain mangkas semua pengeluaran termasuk biaya makan, nggak perlu khawatir kelaparan atau gizi buruk dengan uang belanja 500 ribu. Berikut gambaran besarnya (makin banyak anggota keluarga, makin ketat juga 8 aturan ini dan sebaliknya):

  1. 500 ribu tidak termasuk beras, minyak goreng dan gas.
  2. Lauk terbatas di tahu-tempe, telur, rempelo-ati, pindang dan ayam atau ikan-ikanan yang harganya setara dg ayam.
  3. Masak ayam/ikan dibatasi 1 kali per minggu. Kalau mau lebih sering dari itu harus diolah menjadi bervolume yaitu berkuah, diolah dalam bentuk suwir/potongan kecil atau diolah dengan tahu-tempe.
  4. Satu macam lauk dan satu macam sayur untuk paling sedikit 2 kali makan.
  5. Buah terbatas di buah ekonomis seperti pepaya, nanas dan pisang.
  6. Yang dimakan anak sama dengan yang kita makan.
  7. Bikin jajanan yang direbus, dikukus atau digoreng dari bahan-bahan masakan yang belinya di tukang sayur atau warung rumahan, bukan bahan-bahan yang dijual di toko bahan kue.
  8. Bisa bikin jajanan oven atau kukus yg butuh susu-mentega-(satu) telur asal pakai produk sachetan, nggak lebih dari sekali seminggu.

Sekarang ini aku lagi konsentrasi di resep-menu ekonomis dan membangun master-list. Lebih banyak research resep di YouTube timbang Cookpad karena butuh belajar teknik masak. Beberapa bulan terakhir secara khusus ngamati Xander’s Kitchen, Umi Halim dan Bunda Didi di Instagram.

Kupilih Xander’s Kitchen karena dia yang paling kaya resep otentik dan street-food. Yang kumaksud resep otentik: resep yang nggak jelas siapa yang bikin karena dah ada dari dulu, biasanya dikembangkan etnis tertentu atau khas daerah tertentu. Sedangkan street-food: umum dijual di warung, jalanan atau gerobak keliling. Aku nggak bisa njelaskan tapi dua itu jatuhnya selalu lebih ekonomis daripada resep-resep ciptaan koki profesional. Ngikuti Umi Halim karena masak-masaknya modal belanja sekaligus buat sebulan, betulan buat makan keluarganya, bukan buat kejar setoran postingan. Yang kuamati tingkat variasinya; gimana dia memvariasikan olahan satu bahan yang sama untuk beberapa kali masak dalam seminggu. Nggak ada alasan khusus ngikuti Bunda Didi. Aku cuma merasa resep-resepnya praktis, gampang dipraktekkan, sangat rumahan. Bahan-bahannya juga relatif ekonomis.

Yang mencoba menurunkan biaya makan keluarga dengan sebagian atau semua prinsip tadi, tolong aku dikabari hasilnya. Tinggalkan aja komen di sini atau DM aku di Instagram. Link ke Instagramku kelengketkan ke fotoku yang lagi nggendong Rafi di bawah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s