Menabung Agresif Dengan Penghasilan Kecil

Dapat pertanyaan tentang menabung yang bikin mikir berhari-hari.

Gini.

Seorang pembaca berusaha mengatur penghasilan suaminya dengan rasio 50/30/10/10.

  • 50% penghasilan untuk biaya hidup
  • 30% tabungan DP rumah
  • 10% tabungan lain-lain
  • 10% biaya sosial.

Yang ternyata sulit mencukupkan dengan rasio itu. Jatuhnya nggak bisa nabung.

Ada 5 pengetahuan yang harus ada di kepala sebelum bisa menyisihkan penghasilan demi nabung apapun rasio yang kita jadikan patokan.

Pengetahuan#1: Standar kelayakan di wilayah hidup kita dan di lingkungan pergaulan kita

Yang paling gampang UMR.

UMR adalah perhitungan terperinci atas pemenuhan kebutuhan hidup layak di suatu daerah. Hitung-hitungannya obyektif, nggak dimuati status atau prestis, untuk 1 kepala. Karena itu menekan biaya hidup keluarga –yang pastinya anggotanya paling sedikit 2 kepala– di bawah UMR bisa dibilang menurunkan standar layak yang bisa diterima secara umum. Bisanya bisa tapi selama tujuannya bukan demi membebaskan diri dari jeratan hutang berbunga, saranku jangan. Lebih baik realistis dengan upaya menabung kita daripada mati-matian nekan biaya hidup demi target nabung.

Mungkin harus kutegaskan. Khusus penghasilan <10 juta (yang sebetulnya nggak sanggup membiayai gaya hidup populer yang dipromosikan media massa dan media sosial), bisa menabung adalah kepandaian pengelolaan yang kutaruh di urutan No.2.

Nomor satunya: kepandaian mencukupkan sekecil apapun penghasilan.

Bisa jaga diri dari hutang untuk semua kebutuhan yang bisa dipastikan akal. Ngatur penghasilan bulan ini bukan cuma untuk pengeluaran bulan ini. Mutar otak supaya semua pengeluaran yang bisa kita pastikan butuhnya sampai setahun ke depan bisa ditanggung penghasilan tetap. Pajak motor, memperbaiki pompa air dan bawa anak ke dokter karena diare nggak perlu kasbon atau pinjam tetangga. Kerja kerasnya di situ dulu.

Yang ingin kukatakan adalah: nggak semua kasus nggak bisa nabung dijelaskan oleh nggak pandai ngatur uang keluar. Banyak kasus penghasilan <10 juta yang untuk bisa nabung, uang masuknya harus dinaikkan dulu.

Catatan Tambahan: Pertimbangkan penghasilan rata-rata orang dekat dan orang penting kita yaitu teman/tetangga/saudara yang kita gauli rapat. Jangankan 50%, kupastikan sulit mempertahankan biaya hidup pas di 100% penghasilan bila kita dikelilingi orang-orang yang penghasilannya di atas kita.

Pengetahuan#2: Makin rendah penghasilan, harus makin strategis juga upaya menabung

Jangan cuma mikir berapanya atau gimana caranya supaya bisa nabung. Evaluasi juga tujuan kita nabung. Pastikan upaya menabung kita berkontribusi langsung dan segera ke naiknya penghasilan. Kalau memperbaiki tingkat penghasilan sangat sulit, paling nggak pastikan berkontribusi langsung dan segera ke turunnya pengeluaran. Hindari menabung demi sesuatu yang nggak membantu kita naikkan penghasilan atau minimal nurunkan pengeluaran. Kenapa? Makin rendah penghasilan, pengorbanan kita demi bisa menabung ini bukan lagi harus mengorbankan keinginan tapi sudah harus mengorbankan kelayakan. Jadi pintar-pintar lah memilih tujuan.

Ambil aku sebagai contoh. Aku blak-blakan aja; malu pakai mobil warisan merk APV keluaran 2005, penyok di 3 tempat, tergores di sana-sini, interiornya dah berubah warna karena umur dan noda. Adikku mobilnya lebih dari satu, mewah semua. Adikku satu lagi mobilnya beli baru tahun lalu. Akan tetapi: menabung demi bisa ganti mobil nggak akan nambah penghasilan kami. Harusnya malah mobil warisan itu kujual. Biaya pajak, perawatan dan perbaikannya lebih baik buat nambah fasilitas rumah yang sekiranya bisa menarik lebih banyak penyewa. Nggak kujual karena nggak mau dikasihani. Kalau kujual, larinya pikiran 2 adikku pasti “hidup Kakak sulit sampai-sampai mobil warisan harus dijual“.

Bukannya ngorbankan keinginanku punya mobil lebih baru. Hanya saja nggak sekarang. Sabar dulu. Tunggu sampai penghasilan kami bisa dengan enteng membiayai mobil (bensin, perawatan, perbaikan dan pajaknya) dan tunggu demi bisa beli tunai. Yang bekas aja. Hitung-hitungan Dave Ramsey untuk mobil adalah harga belinya nggak lebih dari separuh penghasilan per tahun. Setahunnya penghasilan tetap suamiku 75 juta. Separuhnya berarti 37.5 juta. Beli APV keluaran 2005 seperti yang kupunya sekarang ini loh nggak cukup. Itu artinya penghasilan kami belum cukup utk membeli dan membiayai mobil meskipun perasaanku + suami + dealer mobil + FIF berkata lain.

Pengetahuan#3: Ketika baru mulai dengan budgeting, kerja kerasnya jangan ditaruh di matok angka lalu mengendalikan uang yang keluar

Itu yang kusebut Budgeting Harapan vs. Kenyataan. Ada yang lebih baik: Budgeting Sebab vs. Akibat.

Taruh kerja otak di mengenali semua jenis pengeluaran rumah tangga kita untuk kemudian mengenali hubungan sebab-akibat antara jenis pengeluaran-pengeluaran rumah tangga kita itu tadi dengan nilai/mindset/cara/kebiasaan/ekspektasi/tujuan hidup/gaya hidup/keputusan kita. Untuk sementara, lupakan dulu rasio, lupakan dulu target menabung.

Catat setiap receh uang keluar. Setelah 3 bulan coba kelompokkan dalam kategori-kategori dan perinci pos-pos pengeluaran di masing-masing kategori.

Contoh:

Ketika setiap receh pengeluaran yang jadi tanggungan uang di dompetku selama 4 bulan berturut-turut kucatat, ternyata nggak cuma buat makan.

  • belanja lauk-pauk di warung tetangga
  • belanja bulanan di toko kelontong
  • pijat bayi
  • posyandu
  • penthil botol susu
  • dokter dan obat
  • obat bebas
  • laundry sprei dan bedcover
  • upah Mbak Dama bersihkan rumah setelah disewa
  • iuran masjid
  • gamezone Pasar Pacet
  • mainan

Harus diklasifikasi dulu untuk bisa dievaluasi. Jadinya seperti ini:

1. Biaya Makan & Housekeeping

• Sembako
• Lauk-pauk
• Gas
• Toiletries & pembersih
• Penthil botol

2. Biaya Kesehatan

• Dokter & obat
• Obat bebas & suplemen
• Pijat bayi (upah pijat+ongkos ojek)
• Posyandu (vaksinasi+ongkos ojek)

3. Biaya Rekreasi

• Gamezone
• Mainan
• Jajan penthol
• Parkir

4. Biaya Uang tambahan (dari menyewakan rumah)

• Upah bersih-bersih Mbak Dama
• Laundry sprei & bedcover

5. Komunitas RT

• Iuran masjid

Dari sini baru kelihatan.

Penthil botol misalnya. Kalau aku bisa menghentikan kebiasaan Rafi nggigit penthilnya begitu susunya habis disedot, hematnya sampai 80 ribu sebulan karena tiap 2-3 hari harus ganti penthil baru. Ngelatih Rafi minum susunya dari gelas mungkin? Atau begitu susu di botolnya habis dia sedot langsung ganti penthilnya dengan yang sudah hancur dia gigiti?

Atau laundry + upah Mbak Dama bersih-bersih yang paling sedikit 100 ribu (12.5%-20% harga sewa) per kali rumah disewa. Mungkin harus kunaikkan sewanya? Berhenti menyediakan bedcover buat penyewa untuk ngurangi laundry-an?

Sekali pergi ke “Gamezone” Pasar Pacet berarti harus siap Rafi minta naik Odong-Odong (karena posisinya persis berhadapan dengan Gamezone-nya) dan beli mobil-mobilan (karena posisi toko mainan persis di pintu masuk pasar). Oh ya, parkirnya. Belum kebiasaanku nunggui Rafi main sambil njajan penthol sunduk’an. Kalau Rafi bisa kubawa ke toko mainan di luar pasar (karena yang dia tunggu-tunggu itu beli mobil-mobilannya bukan Gamezone atau odong-odongnya), uang yang keluar bisa kuturunkan 15-25 ribu.

Begitu kita punya gambaran yang akurat dan menyeluruh akan pos-pos pengeluaran rumah tangga kita, baru bisa mulai mikir action plan untuk menurun-kendalikan uang keluar. Hanya setelah punya gambaran akurat itu kita bisa mengidentifikasi kebiasaan apa yang harus kita ganti dengan kebiasaan baru, orang-orang/tempat-tempat/lingkungan mana yang harus kita jauhi, yang mana yang harus kita dekati, harta yang mana yang cuma jadi beban bagi keuangan, yang mana yang sungguhan bikin kaya, cara/cita-cita/tujuan/keputusan kita yang mana yang menguntungkan keuangan dalam jangka panjang dan yang mana yang merugikan. Kalau kita cuma berkutat dengan angka-angkanya, lebih banyak stresnya daripada hasilnya.

Pengetahuan#4: Selalu mulai program menabung dengan menyiapkan Dana Talangan terlebih dahulu

Penjelasannya sangat sederhana. Pengeluaran yang sifatnya wajib, yang nggak bisa kita hindari, tunda atau hilangkan sesungguhnya bisa dibagi jadi 4 macam:

1. Pengeluaran rutin yang angka keluarnya relatif tetap, misalnya tagihan listrik-air-telepon, zakat profesi dan uang SPP

2. Pengeluaran rutin tapi angka keluarnya nggak tetap atau bisa dengan sengaja dinaikturunkan, misalnya belanja lauk-pauk, rekreasi dan paket data

3. Pengeluaran rutin tapi bukan tiap hari, tiap minggu atau tiap bulan misalnya pajak, Lebaran dan uang sumbangan/hadiah untuk kelahiran, sakit yang butuh opname, pernikahan dan kematian

4. Pengeluaran nggak rutin dalam artian nggak bisa kita jadwal, sewaktu-waktu, tapi nggak bisa kita tunda atau hilangkan misalnya berobat, ganti lampu rumah yang putus dan perbaikan kendaraan yang kita pakai kerja.

Dana Talangan adalah simpanan yang kita siapkan untuk pengeluaran No.3 dan 4. Supaya saat butuh kita nggak perlu:

• hutang atau kasbon
• menarik tabungan atau mengurangi setoran tabungan atau nabung mode Senin-Kamis-bulan-ini-nabung-3-bulan-depannya-libur (di tahap awal, konsistensi nabung lebih penting daripada jumlah yang bisa kita tabungkan)
• pakai uang belanja
• pusing
• stres
• ngomel

Pengeluaran No.3 dan No. 4 sama wajibnya dengan pengeluaran No.1 dan No.2. Uangnya harus kita siapkan. Tapi karena butuhnya nggak setiap hari atau setiap bulan, jangan ditaruh di dompet. Kalau ditaruh di dompet, kalau di bulan itu ternyata nggak butuh, kita menganggapnya sebagai lebihan gaji yang bisa dibelanjakan nyenangkan hati. Juga jangan ditaruh di rekening tabungan. Alasannya sama. Kalau ternyata di bulan itu nggak terpakai, kita menganggapnya sebagai lebihan penghasilan yang bisa ditabungkan buat cita-cita. Padahal nggak. Itu uang yang lagi “nunggu” hari-H. Jatah dana untuk pengeluaran wajib yang sama primernya dengan makan hanya saja keluarnya tidak setiap hari/minggu/bulan.

Pengetahuan#5: Gunakan rasio untuk matok tingkat tabungan hanya setelah kita tahu batas kesanggupan kita menekan biaya hidup

Kalau kita bertahun-tahun bawa mobil yang sama lalu suatu hari harus bawa mobil pegangannya orang, meski sama-sama sedannya, pasti butuh waktu untuk “kenal”. Beberapa kali pertama pindah gigi mungkin tarikan gasnya nyentak-nyentak atau mesin bolak-balik mati. Butuh waktu trial & error untuk dapat titik imbang antara nekan pedal gas dan ngelepas pedal kopling supaya pada saat naik-turun gigi, tarikan gasnya halus, mesin nggak mati.

Seperti itulah ketika keuangan kita berubah dari mengelola penghasilan untuk diri sendiri karena masih ikut orang tua ke mengelola penghasilan untuk menjalankan rumah tangga. Kasih diri sendiri waktu trial & error. Bukan trial & error di rasionya tapi trial & error di mencari tahu batas paling rendah yang kita tahan (bukan nyaman) untuk semua pengeluaran yang nggak sanggup kita hilangkan.

Contoh.

Bisa kah anggaran lauk-paukku yang 500 ribu kuturunkan? Bisa. Dengan hanya mengkonsumsi tahu dan tempe, telur pun nggak, bisa turun separuhnya. Apa aku sanggup makan hanya dengan lauk tahu-tempe setiap hari selama sebulan? Nggak. Batas minimalku adalah tahu, tempe dan telur. Aku nggak sanggup hidup tanpa telur. Dari situ bisa kupastikan bisa kuturunkan tapi nggak banyak karena selama ini beli lauk non-3T-nya nggak sampai 100 ribu.

Bisakah aku hidup tanpa paket data? Nggak. Yang akhir-akhir ini 150 ribu per bulan bisa diturunkan? Bisa tapi harus non-aktif di Instagram dan berhenti lihat video di YouTube. Browsing-nya terbatas di artikel dan foto. Upload hanya untuk nge-listing barang di Shopee. Sanggup? Kalau terpaksa ya sanggup.

Dan seterusnya. Cari batas minimal untuk semua pengeluaran yang nggak sanggup kita hilangkan. Dari situ kita akan tahu batas kesanggupan kita menekan biaya hidup sehingga angka yang kita patok untuk tabungan nggak cuma modal harapan. Karena pijakannya nyata, lebih terjangkau.

Peluang keunggulan bagi mereka yang berpenghasilan kecil: kreatif dan basic-at-its-best (foto kucomot dari Pinterest)

Berhati-hatilah dalam menetapkan tujuan atau matok target. Kalau nggak kesampaian, ada energi yang kesedot. Kalau terus-terusan gagal, daya juang juga surut atau bahkan hilang. Bisa-bisa depresi. Perlakukan pengelolaan penghasilan <10 juta sebagai lari maraton, bukan lari 100 meter.

Kembali ke pertanyaan pembaca yang kusebut di awal, kalau memang karena satu dan lain alasan kita harus agresif menabung, yang kusarankan adalah metode budgeting demi melunasi hutang-nya Dave Ramsey yang menurutku bisa didaptasi jadi budgeting demi menabung agresif. Bukan, patokannya bukan rasio. Bisa dibaca di sini.

4 thoughts on “Menabung Agresif Dengan Penghasilan Kecil

  1. Selalu menunggu tulisan2 mba. Mba, bahasan toko insta lagi mba. Biar saya boleh dapat pencerahan mengenai seni menghasilkan uang dari barang preloved. Terima kasih mba.

    1. Aku sangat kesulitan nulis tentang sesuatu yang nggak kulakoni sendiri. Di Notes-ku ada hutang postingan tentang biaya makan ekonomis berorientasi gizi sama dua konsep kaya yang lebih pas buat penghasilan kecil dibanding konsep kaya yang umum berlaku di masyarakat kita sekarang ini. Dua-duanya mangkrak berbulan-bulan karena bukan sesuatu yang kupraktekkan sendiri. Terus-terang aja aku nggak perhatian sama soal gizi. Juga belum bisa njadikan rumah tanggaku sebagai contoh salah satu dari 2 konsep kaya yang nggak lazim itu. Apalagi nulis tentang sesuatu yang sudah kutinggalkan seperti toko insta. Ada sih niat me-revisi ebook Cara Menguangkan Barang Nganggur tapi tetap via Shopee yang sistem kerjanya beda jauh dengan jualan di Instagram.

  2. mb Rinda makasih ya atas tulisannya, bagus2 semua dan menginspirasi, aku ni agak susah nabung, padahal uang Alhamdulillah ada dan tidak ada hutang, tapi seringnya kepake karena “pengen” beli ini itu, pengen coba ini itu, alhasil, tabungan nda pernah ada. Sekarang saya sedang mulai ingin menabung, rencana mau buka tabungan di bmt gt, tp sama suami nda boleh krn menurut beliau, narik uangnya susah, akhirnya buka tabungan deposito yg tinggal klik2 aja di mobile banking. Sekali lagi makasih ya mb atas tips2nya, semoga ku biaa istiqomah mempraktekkannya, aamiin

    1. Alhamdulillah. Hatiku rasanya adem tiap kali ada yang bilang tulisanku bermanfaat, bisa nunjukkan jalan untuk keuangan yang lebih baik tanpa nambah penghasilan secara dramatis. Terbayar susah-payahku mikir. Jadi mungkin aku yang harus berterimakasih, Mbak Suci.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s