Cara Bikin Anggaran Demi Program Menabung Agresif

Mungkin lebih tepatnya Cara Bikin Anggaran Demi Program Menabung Agresif Karena Kepepet.

Contoh: sama adik-kakak dikasih waktu setahun ngumpulkan 25 juta buat nyusuk’i rumah warisan yang kita tempati. Kita nggak punya tabungan sama sekali. Selama ini nggak pernah bisa nabung. Tapi kalau kesempatan ini nggak kita ambil, adik-kakak sepakat menjualnya ke orang lain dengan harga pasar, uangnya dibagi. Uang bagian kita nggak akan cukup buat beli rumah lain tunai. Jadi ceritanya ini kesempatan sekali seumur hidup. Kesana-kemari cari hutangan, nggak ada yang mau minjami. Contoh loh ya. Karena sangat sulit menjalankan anggaran satu ini kalau nggak kepepet.

Yang akan kubagi di sini merupakan hasil adaptasi cara bikin anggaran demi melunasi hutang dalam waktu sesingkat-singkatnya yang kupelajari dari Dave Ramsey. Di akhir postingan ini akan kurinci kondisi-kondisi yang mendukung keberhasilannya. Tanpa kondisi-kondisi itu baiknya nggak coba-coba.

Langkah 1: Mulai dengan 4 kebutuhan pokok yaitu Pangan, Papan, Transportasi & Sandang

Empat itu yang harus dianggarkan duluan, dalam urutan yang kutulis, sebelum yang lain-lain. Tentu saja kita harus memastikan angka yang kita anggarkan untuk masing-masing pos pengeluaran ada di titik terendah yang mungkin.

1. Pangan

Masak sendiri. Batasi sumber protein di tahu, tempe, telur dan mungkin ayam. Berhenti makan-jajan di luar atau beli masakan-jajanan jadi. Hindari bahan masakan yang sudah diproses seperti jagung kalengan yang harganya lebih mahal dibanding jagung mentah. Berhenti bikin acara makan-makan atau nraktir.

Yang kerja dan selama ini makan siang di luar, kalau memungkinkan bawa bekal makan siang dari rumah. Begitu juga yang punya anak usia sekolah. Lebih bagus kalau makan dan jajannya di sekolah bawa sendiri dari rumah.

Yang harus minum air mineral, ganti ke air isi ulang. Bikin teh-kopi pakai air keran. Masak juga dengan air keran.

2. Papan

Yaitu cicilan rumah/kontrak/kos, listrik, air & pulsa-paket data.

Masukkan iuran-iuran yang berhubungan dengan operasional rumah seperti tarikan sampah di sini.

Semua tagihan bulanan lain seperti koneksi Internet, TV kabel, layanan telepon pascabayar dll, selama tidak berhubungan langsung dengan kegiatan menghasilkan uang, hentikan.

Smartphone cukup satu untuk sekeluarga. Kalau sudah terlanjur istri pegang sendiri, anak pegang sendiri, “tidurkan” dulu untuk mangkas pengeluaran paket data. Berhenti dulu bermedsos, ber-YouTube dan mengunduh-mengunggah yang nggak berhubungan langsung dengan pekerjaan. Pulsa dan paket data batasi untuk keperluan berkomunikasi via telepon, WhatsApp dan email.

AC-nya libur dulu, ganti dengan kipas angin.

Ada satu keluarga yang ditampilkan di The Dave Ramsey Show yang sampai mutus aliran listrik!

3. Transportasi

Hanya yang berhubungan dengan bepergian demi menghasilkan uang seperti pulang-pergi kerja dan bepergian yang berhubungan dengan bertahan hidup seperti belanja buat masak sendiri buat makan buat tetap hidup.

Kalau bisa beralih ke yang lebih rendah biayanya lebih bagus: motor lebih murah dari mobil, komuter dan bis kota mungkin lebih murah dari motor, bersepeda dan jalan kaki lebih murah dari semuanya.

Yang punya anak usia sekolah, transportasi pulang-pergi sekolah masukkan sini.

Acara jalan-jalan dan rekreasinya libur dulu.

Jangan mikir terlalu panjang untuk menjual mobil/motor yang banyak nganggurnya. Kusuruh bapakku jual mobil Starlet tua peganganku. Mempertahankan 3 mobil = 3 x (pajak + perawatan + perbaikan).

4. Sandang

Yang nggak punya anak kecil sepertinya nggak perlu menganggarkan sandang. Untuk sementara bertahan dulu dengan yang ada. Kecuali artis atau figur publik, normalnya orang bisa menjalani hidup dengan baju dan kelengkapan yang sudah ada di lemari sampai lebih dari setahun.

Mereka yang punya anak usia sekolah, pos pengeluaran sandang ini ganti dengan Keperluan Sekolah. Batasi diri di yang nggak bisa dihilangkan seperti SPP, beli baju seragam dan sepatu yang kekecilan, beli tas yang jebol.

Kegiatan sekolah yang sifatnya nggak wajib seperti les dan ekskul khususnya yang biayanya besar, selama nggak mengkompromikan semangat bersekolah anak, libur dulu.

5. Semua pengeluaran lain yang perlu atau wajib

Nggak ada ukuran mutlak untuk pengeluaran lain yang perlu dan wajib ini. Sepenuhnya tergantung konteks kita dan rumah tangga kita. Jadi silakan masukkan pengeluaran yang nggak disebut di atas. Sebisa mungkin pastikan pengeluaran itu sungguhan membantu kita menabung. Dalam kasusku ART part-time.

Tanpa ART, aku nggak bisa nekan biaya makan. Pasti sering beli masakan jadi dan makan mi instan. Badan dan otakku sudah terlalu capek karena momong, nyapu-ngepel dan cuci-setrika baju. Aku tahu batasku: sanggup lihat barang gemlethak tapi nggak sanggup lihat lantai kotor; sanggup pakai satu daster buat sehari-semalam, 2 hari pun sanggup karena Pacet nggak bikin keringetan seperti Surabaya, tapi nggak sanggup pakai atau lihat daster nggak disetrika.

Memberhentikan Mbak Dama dalam kasusku nggak sama dengan menghemat 550 ribu. Akhirnya kepakai juga buat beli masakan jadi dan laundry baju belum senewennya (aku jadi super cranky kalau kecapekan).

Contoh lain: kalau kita bisa menghasilkan uang tambahan dengan smartphone+paket data, tentu saja 100% oke berlangganan koneksi internet super cepat. Pastikan aja uang tambahan yg kita hasilkan bukan cuma bisa nutup uang yang keluar buat beli smartphone, biaya abonemen koneksi internet dan pengeluaran modal lainnya, tapi betulan menghasilkan laba.

Terakhir, sama sekali tidak tertutup kemungkinan ada pengeluaran-pengeluaran yang mungkin nggak membantu kita menabung tapi menghilangkannya juga nggak mungkin. Contoh: menafkahi orang tua yang pensiun tanpa penghasilan, patungan dengan adik-kakak.

Kalau ini diterapkan di rumah-tanggaku, anggaranku jadinya seperti ini:

Januari 2019

Gaji suami: 6.5 juta

1. Makan: 1.675 juta (Makan suami dan keperluan pribadinya di Surabaya ditanggung uang ceperannya)

  • Sembako, toiletries & produk pembersih: 200 ribu
  • Susu & popok Rafi: 1 juta
  • Gas: 75 ribu
  • Lauk-pauk: 400 ribu

2. Papan: 500 ribu

  • Listrik: 300 ribu
  • Air: 40 ribu
  • Pulsa & paket dataku: 100 ribu (pulsa dan paket data suami ditanggung uang ceperannya)
  • Iuran sampah: 10 ribu

3. Transportasi (Ini bisa kukosongkan karena aku nggak kerja. Transportasi suami ditanggung uang ceperannya.)

4. Sandang (Ini juga bisa kukosongkan karena hampir 95% baju Rafi dapat lungsuran atau dikasih. Aku sendiri sudah >2 tahun cukup dengan yang ada di lemari mengingat aku dah nggak kerja. Beli-beli bajuku, Rafi dan suami hanya untuk keperluan khusus yang belum tentu setahun sekali. Kuserahkan ke THR dan Dana Talangan.)

5. Pengeluaran Wajib & Perlu: 2 juta

  • Mbak Dama: 550 ribu
  • Orang tua: 750 ribu
  • Asuransi: 700 ribu

Sisa Gaji: 2.375 juta

Yang penghasilan per bulannya setara dengan 520 kg beras terhitung wajib membayar zakat penghasilan. Hitung di sini. Ambilkan 2.5% dari penghasilan setelah dikurangi kebutuhan pokok Pangan, Papan, Transportasi dan Sandang. Kurangkan juga hutang kalau ada. Kalau bingung nentukan mana yang tergolong kebutuhan pokok atau bukan, bingung cicilan rumah yang kita kontrakkan, cicilan kartu kredit buat jalan-jalan dihitung hutang atau bukan, ya ambil jalan aman aja, potongkan 2.5% dari 100% penghasilan. Akan tetapi itu lebih karena prinsip kehati-hatian bukan karena memang harus dihitung dari 100% penghasilan. Semua jenis zakat memperhitungkan porsi yang diperlukan untuk men-sustain kemampuan si wajib zakat membayar zakatnya. Titik nol-nya nggak sama dengan titik nol matematika. Atau tanyakan lah ke yang lebih tahu. Pesanku cuma: jangan takut kurang karena zakat. Tunaikan meski kita merasa sangat sempit.

Diterapkan ke rumah tanggaku:

6. Zakat Profesi: (6.5 – 2.125) juta × 2.5% = 110 ribu

Langkah#2: Setelah 4 kebutuhan dasar untuk bertahan hidup selama sebulan dan pengeluaran wajib-perlu (bagi kita) terpenuhi, anggarkan Dana Talangan

Ini bukan tabungan. Ini uang cadangan untuk jaga-jaga. Kita harus siap dengan pengeluaran-pengeluaran yang datangnya satu-beberapa kali dalam setahun atau sewaktu-waktu yang harus segera dibayar. Contohnya banyak: ganti oli dan perbaikan kendaraan yang kita pakai kerja, berobat, memperbaiki kompor gas, ganti pipa air yang bocor dan sebagainya.

Soal berapa yang harus kita siapkan untuk Dana Talangan, nggak ada angka yang pasti. Yang jelas nggak usah banyak-banyak. Dave Ramsey netapkan angka USD1,000. Di Amerika sana penghasilan USD1,000 per bulan tergolong miskin. Jadi mestinya kurang dari sebulan gaji.

Menurutku 3 juta atau bahkan separuhnya cukup. Prinsipnya adalah: pastikan Dana Talangan kita selalu di angka 1.5 juta atau 3 juta. Tergantung mana yang aman di rumah tangga kita (Dana Talangan 1.5 juta jelas nggak cukup bagi yang punya mobil). Begitu terpakai 500 ribu untuk berobat misalnya, segera tutup. Andai seminggu setelah kepakai kita ada rizki lebih 300 ribu, pakai buat nutup. Jangan dipasrahkan ke gajian bulan depan lantas yang rizki lebih 300 ribunya buat rekreasi.

Intinya: Dana Talangan ini saldonya cukup sepertiga sampai separuh gaji, nggak usah terus-terusan ditambah, tapi harus dijadikan prioritas untuk dikembalikan ke saldo awal begitu kepakai meski cuma kepakai 100 ribu. Ini bukan soal berapa-berapanya. Ini soal kemampuan nge-set prioritas. Keseluruhan program menabung kita tergantung sama kemampuan ini.

7. Dana Talangan: 6.5 – (4.125 + 110) = 2.165 juta

Sisa Gaji: habis

Langkah#3: Alokasikan semua sisa penghasilan (setelah dikurangi semua yang tertulis sebelum ini) untuk tabungan

Dalam kasusku, karena Dana Talangan 2.165 juta sudah cukup, bulan berikutnya bisa langsung nabung. Tapi seandainya saldo Dana Talangan masih dirasa kurang (paling sedikit sepertiga gaji), tunggu sampai Dana Talangan ada di titik aman sebelum mulai menabung. Salah satu cara mempercepatnya adalah menyalurkan sebanyak dan sesegera mungkin uang-uang ekstra selain gaji (uang tambahan, uang dikasih, uang warisan dll) untuk Dana Talangan dan kemudian tabungan.

Andai kita harus menabung untuk lebih dari satu tujuan sekaligus, urutkan. Yang paling efektif adalah mengurut berdasar jumlah yang harus kita kumpulkan per tabungannya. Urut dari yang paling kecil ke yang paling besar. Misal aku harus nabung untuk DP rumah dan uang masuk TK Rafi secara bersamaan, urutan prioritasnya jadi:

8. Tabungan

  • Tabungan Uang Masuk TK (target: 7.5 juta)
  • Tabungan DP Rumah (target: 75 juta)

Dari perincian pengeluaran di atas, selama Dana Talangan bisa kupertahankan di angka 2 juta, tiap bulan mestinya bisa nyisihkan 2.165 juta kan. Angka itu bagi jadi dua bagian (tergantung jumlah tabungan). Sebelah sini yang tricky karena harus berapa-berapanya nggak ada patokan pasti. Yang jelas:

1. Usahakan tabungan yang jadi prioritas segera ngumpul dalam waktu sesingkat-singkatnya supaya kita termotivasi untuk “membantai” tujuan nabung berikutnya.

2. Begitu tabungan prioritas genap, uang yang tadinya kita pakai untuk setoran tabungan prioritas tambahkan ke setoran tabungan di bawahnya, jangan dipakai melonggarkan anggaran.

Aku akan bagi 2.165 juta itu jadi 1.5 juta untuk tabungan uang masuk TK (supaya bisa selesai dalam 5 bulan), sisanya yang 765 ribu masuk tabungan DP rumah.

Semua uang ekstra yang kudapat selama 5 bulan itu langsung kumasukkan tabungan uang masuk TK. Kenapa? Supaya selesai dalam waktu kurang dari 5 bulan. Kenapa? Karena begitu kita tahu kita bisa “membantai” perasaan sulitnya menabung yang bercokol di pikiran kita selama ini, ada semacam ledakan energi yang bikin kita merasa sanggup mendaki gunung menyebrang laut. Karena itu sangat, sangat, sangat kusarankan memulai dengan tabungan yang untuk sampai target nggak butuh tahunan.

Oke, sekarang gimana kalau kasusnya seperti nyusuk’i rumah warisan di atas? Cuma butuh satu tabungan tapi waktunya pendek.

Bagi dalam target 3-4 bulanan. Jangan dibagi sama rata. Makin ke belakang buat jadi makin besar. Contoh:

Trimester I: 4 juta
Trimester II: 6 juta
Trimester III: 7.5 juta
Trimester IV: 7.5 juta

Balik lagi ke tabungan uang masuk TK dan tabungan DP rumah. Di bulan Pebruari setorannya:

Peb 2019

Tabungan

  • Uang masuk TK: (1.5 juta/bulan + semua uang ekstra)
  • DP rumah: 765 ribu

Anggap aja tabungan uang masuk TK genap di bulan ke-4, maka anggaran tabungan per bulan Juni jadinya:

Jun 2019

Tabungan

• DP rumah: (765 ribu + 1.5 juta + semua uang ekstra)

Andai di bulan Juni saldo Dana Talangan kepakai bersih, jadikan Dana Talangan prioritas di bulan berikutnya. Seperti ini:

Jul 2019

7. Dana Talangan: (1.5 juta + semua uang ekstra)

8. Tabungan DP rumah: 765 ribu

Ini hanya ilustrasi. Bukan harga mati. Jangan ragu bikin penyesuaian yang perlu selama nggak menentang prinsip-prinsip berikut:

1. Hilangkan (untuk sementara) semua pengeluaran yang tidak berhubungan langsung dengan bertahan hidup dan mencari nafkah dan/atau uang tambahan. Iya, harus muka tembok memang.

2. Untuk semua pengeluaran yang nggak mungkin kita hilangkan, bawa ke titik terendah yang mungkin. Sama, butuh kekuatan mental.

3. Pastikan kita punya Dana Talangan sebelum mulai menabung.

4. Pertahankan saldo Dana Talangan di titik aman. Segera ganti begitu terpakai sebagian. Jangan ragu mem-pause program menabung jika memang perlu demi secepatnya mengembalikan saldo Dana Talangan ke titik aman.

5. Kalau harus menabung untuk lebih dari satu tujuan, bikin prioritas berdasar jumlahnya. Dulukan yang lebih kecil sembari tetap menabung untuk yang lain-lain. Selama uang dan target waktunya memungkinkan, nggak perlu digilir, satu selesai baru menabung untuk yg berikutnya. Tapi pastikan tabungan yg jadi prioritas dapat setoran paling besar+semua uang ekstra.

6. Setelah satu tabungan selesai, uang yang tadinya buat setoran tambahkan ke tabungan berikutnya. Jangan dipakai melonggarkan anggaran. Jadi makin ke sana, setoran tabungan kita makin besar. Ini yang namanya Teknik Bola Salju.

Jadi kapan kita bisa melonggarkan anggaran?

Mestinya ya setelah tujuan bersoro-soro ini tercapai. Dalam kasusku ya begitu DP rumah ngumpul. Dalam kasus nyusuk’i rumah warisan ya setelah 25 jutanya ngumpul.

Akan tetapi, ini bukan cuma aku yang bilang, semua orang yang pernah mencoba menurunkan gaya hidupnya ke tingkat basic demi memperbaiki keuangan dan berhasil:

pasti berubah luar-dalam. Nggak akan betul-betul bisa kembali ke pola pengeluaran yang lama, nggak mau kembali ke gaya hidup yang lama.

Kujamin. Because we’ve known better. Ada yang berubah di tingkatan yang paling dasar dan mendalam. Hampir seperti perjalanan spiritual. Aku nulis sampai tanganku kram pun yang belum pernah ngerasakan nggak akan paham. Harus ngalami sendiri.

Sekarang, kondisi apa yang harus ada supaya budgeting mencekik leher yang kugambarkan di atas bisa berhasil (karena ada juga yang malah bikin suami-istri cerai):

1. Kepepet. Ini bukan sesuatu yang bisa kita lakukan dengan senang hati atau karena penasaran atau karena tertantang atau demi membuktikan diri. Lupakan! Cari tantangan lain. Banyak cara lain untuk membuktikan diri. Jangan edan.

2. Bukan untuk dilakoni dalam jangka waktu lama. Dari segitu banyak contoh kasus di The Dave Ramsey Show dan #debtfreecommunity, nggak ada satu pun yang lewat dari 5 tahun. Yang berhasil adalah yang tuntas dalam waktu 2-4 tahun sebesar apapun hutangnya. Karena nggak cuma modal muka tembok wani soro nekan pengeluaran. Itu cuma titik awal. Begitu kita “membantai” satu demi satu tujuan, seperti orang kesetanan. Ada yang rumahnya dijual, pindah ke rumah lebih kecil. Mobilnya dijual, ganti mobil bekas. Barang-barang nganggurnya dijual. Semua kesempatan lembur diambil. Sudah kerja full-time masih lagi nambah sampai 2 kerja part-time. Ini yang kumaksud dengan ledakan energi tadi.

3. Harus dapat kerjasama penuh suami atau istri. Ini bukan sesuatu yang bisa kita jalani sendiri. Lebih bagus kalau anak-anak bisa diajak ngerti. Tetap bisa jalan tanpa kesukarelaan mereka meski bagi kita orang tua rasanya mungkin ibarat mencabuti kuku sendiri. Tapi mustahil tanpa kerjasama penuh suami atau istri. Titik. Kalau memang sulit dapat kerjasama pasangan, saranku, jangan putus berdoa sambil tetap melakukan yang kita bisa.

4. Kita punya support group. Komunitas Instagram, grup Facebook, anything. Jangan dihadapi sendirian. Cari orang-orang yang dalam perjuangan yang sama. Meski ketemunya cuma di dunia maya tetap sangat berarti di perjalanan ikan Salmon berenang melawan arus seperti ini.

Selama mental dan tubuh sehat, udara yang kita hirup bersih, air bersih tinggal ambil, ada yang dimakan, bisa tidur nyenyak nggak perlu takut tengah malam pintu didobrak orang-orang bersenjata, suami kita diseret, yang perempuan diperkosa, sesungguhnya semua yang penting dan berarti dalam hidup ini sudah di genggaman.

Baiklah, sudah panjang. Aku merasa sudah melakukan semua yang kubisa untuk ngasih gambaran yang sesederhana mungkin dan penjelasan yang segamblang mungkin. Tapi kurasa masih harus dibaca berulang-kali untuk paham. Ya sudahlah, yang jelas jangan sungkan untuk tanya. Kujawab sebisaku asal mau nunggu. Kadang aku butuh waktu berminggu-minggu untuk bisa ngasih jawaban yang mengena, yang bukan asal respon. Mikirnya yang lama.

Oh ya, apa butuh format/template khusus untuk bikin anggaran ini? Menurutku nggak. Kubikinkan template sederhana tapi nyusul. Informasinya dulu yang ku-publish. Informasinya yang penting.

2 thoughts on “Cara Bikin Anggaran Demi Program Menabung Agresif

  1. Makasih banyak mba, detail banget.
    Saya sampai kudu baca berkali-kali sambil dicatat.
    Dan mulai ada bayangan apa yang kudu dilakukan, apa yang dipotong, apa yang dipertahankan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s