Seri Keuangan IRT: 3 Agenda IRT Biar Nggak Ngenes

Kali ini nyalahi kebijakan editorial yang kutetapkan sendiri untuk Seri Keuangan IRT. Nggak bisa berhenti mikir sejak dengar curhatan 2 orang IRT Amerika di The Dave Ramsey Show. Sangat mengganggu kedamaian jiwa(ku).

Ada di situasinya IRT di 2 video itulah persisnya ketakutan terbesarku jadi IRT. Aku nggak takut suamiku kesana-kemari selingkuh atau nikah lagi atau menelantarkanku atau memperlakukanku dengan buruk. Kepribadianku yang tegas dan teguh sudah “ngusir” tipe-tipe lelaki-sumber-derita-perempuan dengan sendirinya. Aku mau pun mereka yang nggak sudi.

Akan tetapi: sumber derita perempuan bukan cuma suami yang nggak setia/berakhlak buruk/tanggung-jawabnya tipis. Nggak bisa melakukan sesuatu yang benar, penting dan perlu (bagi kita) karena dihalangi suami juga sumber derita. Contoh: merasa berkewajiban melunasi hutang bapak-ibu yang buat biaya kuliah kita tapi nggak bisa karena harus pakai penghasilan suami, dan suami –secara terang-terangan atau nyindir-nyindir– keberatan. Atau mau melunasi hutang kita sendiri buat biaya kuliah kita dulu tapi nggak bisa karena harus pakai penghasilan suami dan suami tegas-tegas nyuruh kita nunggu orang tua mati padahal ini hutang berbunga. Dia nyuruh kita bayar dengan uang warisan kita sendiri yang entah dapatnya kapan!

Dengarnya aja dadaku sesak..

Kita harus berani mengakui bahwa dengan masuk dalam angkatan kerja IRT, kita sedikit-banyak melepas kesempatan menjadi mandiri secara finansial. Itu bukan cuma melepas kesempatan punya penghasilan tetap yang bisa diandalkan tapi juga melepas kebebasan memilih dan berkehendak. Jangan masrahkan hidup ke ideal: kebebasan memilih dan berkehendak datangnya bukan dari kebaikan hati dan cinta suami, bukan dari undang-undang pernikahan, bukan dari pengadilan agama, bukan juga dari PBB. It is not a given.

Kutulis ini bukan untuk mewanti-wanti ‘jangan berhenti kerja!’, ‘perempuan harus punya penghasilan!’ atau menggugat ‘buat apa sekolah tinggi-tinggi kalau akhirnya di rumah aja?!?’, endebrai, endebrai.

Bukan.

Tujuanku mbuka pikiran:

Jadi IRT sarjana di jaman emansipasi dan kesetaraan ini butuh lebih dari keyakinan dan niat baik. Biar nggak ngenes. Harus belajar mengelola konflik. Ya konflik internal dengan diri sendiri maupun konflik dengan sesama manusia khususnya orang-orang dekat seperti suami/mertua/orang tua dan lingkungan sekitar.

Nggak usah bingung cari uang sendiri. Fokus aja di 3 Agenda berikut.

Agenda#1: Terus memperbaiki posisi tawar-menawar

Pertama: usahakan punya simpanan atau harta-benda yang sepenuhnya jadi hak-milik kita, yang ibaratnya andai kita serahkan semuanya ke gelandangan yang lagi lewat pun suami nggak bisa ngelarang.

Pertanyaannya: gimana kita bisa punya simpanan seperti itu kalau nggak punya penghasilan?

Uang dan barang berharga yang kita kumpulkan sebelum nikah? + Mas kawin? + Seserahan? + Hadiah uang dari teman-teman kita saat nikah? + Uang dan barang berharga pemberian orang tua? + Uang dan barang berharga pemberian saudara dari pihak kita sendiri (bukan dari pihak suami)? + Uang dan harta warisan bapak-ibu sendiri (bukan mertua)? + Uang tambahan dari terima pesanan kue atau jualan kerudung di Facebook? Meski masuknya seicrit-icrit, selama kita bisa mencukupkan gaji suami untuk menjalankan rumah-tangga, apa lama-lama nggak jadi “sesuatu” juga?

Yang suaminya murah hati suka mbelikan hadiah, ambil sebagai kesempatan mbangun inventaris. Kumpulkan barang-barang yang bisa dijual lagi dengan harga jauh di atas harga barang preloved. Kalau perhiasan pastinya emas. Tas branded punya harga preloved paling tinggi di antara semua produk fashion. Aku baru tahu harga preloved tas Hermes lebih tinggi daripada harga preloved tas Gucci. Harga preloved arloji Rolex ternyata bukan yang paling tinggi. Peralatan masak seperti double pan atau food processor lebih gampang dijual dibanding pecah-belah. Pelajari pasar preloved.

Kedua: Jadilah perempuan yang tahan banting sekaligus adil dengan uang

(Catatan: “adil” bukan persamaan kata “nggak matre”)

Aku dididik bapak-ibuku pantang minta-minta. Kelas 2 SD pingiiin es krim. Harganya Rp75 (tahun 1983-84). Uang jajanku Rp25 per hari. Nggak njajan 3 hari demi beli es krim. Jangankan minta orang tua, bilang pingin es krim aja nggak. Juga ingat berangkat ke sekolah dengan sepatu jebol di bagian jempol, diam nunggu dibelikan, nggak merengek-rengek atau mogok sekolah. Waktu adik perempuanku nikah duluan dan bapak-ibuku tanya aku minta apa buat syarat ngelangkahi (normanya orang Jawa), kujawab aku nggak minta apa-apa. Akhirnya dibelikan satu set perhiasan emas sama Ayah. Sepertinya sih ibuku yang nyuruh karena ibuku yang orang Jawa. Sifat pantang minta ini kubawa sampai sekarang.

Waktu suami dapat 50 juta dari ibunya di tahun ke-2 setelah nikah, aku minta buat cabut gigi (setelah berbulan-bulan nahan ngilu karena gigi berlubang), beli pakaian dalam dan beberapa setel baju buat jadi panitia konferensi karena aku nggak punya tabungan sama sekali. Waktu dia dapat lagi 70 juta baru-baru ini, aku nggak minta apa-apa. Aku bahkan nggak minta dia nutup cicilan smartphoneku. Tetap kucicil dengan uang gaji yang sepenuhnya di bawah pengelolaanku. Ketika aku yang giliran dapat uang warisan 70 juta, suami mana yang berani mempertanyakan keputusanku minjamkan hampir 60 juta ke saudara, kemungkinan nggak balik?

Sifat pantang minta itu yang ngasih aku kekuatan tawar-menawar luar biasa setelah berumah-tangga; di rumah tanggaku sendiri meski secara finansial sepenuhnya bergantung ke suami maupun di rumah tangga orang tuaku meski aku cuma guru les. Terasa setelah mereka meninggal, dalam pengelolaan harta-benda peninggalan orang tua dan dalam pembagian warisan.

Yang ingin kukatakan adalah: punya penghasilan sendiri bukan satu-satunya jalan menjaga diri dari posisi tawar-menawar yang lemah dengan suami (dan mungkin dengan keluarga besarnya atau dengan keluarga besar kita sendiri).

Menjadi pengelola yang adil dan tahan banting juga.

Ketiga: bring something to the table.

Jadikan diri pemecah masalah suami, penolong, penyedia informasi berharga yang tidak tergantikan, unggul di fungsi hidup yang sangat menyulitkan suami. Intinya: jangan merasa cukup dengan menjadi istri yang baik dan ibu yang baik untuk anak-anaknya. Go the extra mile. Cari yang wajib-perlu-penting bagi suami tapi dia sangat kesulitan mengatasinya sendiri. Pilih satu, nggak perlu semuanya. Jadilah resource dan back-up-nya di yang satu itu.

Kukasih ilustrasi yang menculek-culek mata. Fiksi sih tapi on point. Kudapat dari novel tentang kehidupan para perempuan di istana kekaisaran Cina.

Si tokoh utama yang selir kaisar punya kasim yang ngoroknya kenceng sekali. Awal dia masuk istana nggak bisa tidur karena suara ngorok kasimnya itu. Tapi seiring waktu, setelah berulang-kali si kasim ini menghindarkannya dari konsekuensi fatal salah satunya hukuman mati karena kejamnya persaingan antar-perempuan di istana dengan menjadi sumber informasi dan penasehat utama dalam pengambilan keputusan si selir, si selir ini akhirnya sampai di satu titik dimana dia nggak akan bisa tidur kalau nggak dengar suara ngorok kasimnya.

Pada akhirnya, posisi tawar-menawar kita di hadapan suami akan ditentukan oleh seberapa signifikan peran kita (di balik layar) dalam kehidupannya di luar rumah. Mungkin juga di keluarga besarnya. Bukan seberapa mandiri kita secara finansial. Juga bukan seberapa pandai kita menyenangkan hatinya.

Agenda#2: Batasi diri hanya di yang menambah nilai

Maksudku yang nambah nilainya seorang ibu rumah tangga. Kenali betul kegiatan harian kita yang paling banyak menghabiskan waktu dan/atau energi dan/atau uang. Lalu jawab pertanyaan ini: apakah yang paling banyak makan waktu/energi/uangku ini sungguhan nambah nilaiku? Apa cuma bikin hati senang sambil menghabiskan waktu dan uang? Dan yang kumaksud dengan “sebagai IRT” adalah satu atau lebih dari yang berikut ini:

1. Pendidik anak

2. Perancang interior, penghias dan penata rumah (kebersihan rumah kuanggap termasuk di dalamnya)

3. Personal stylist keluarga dan pendamping dalam fungsi sosial-seremonial yang harus ekstra di penampilan (terasa di rumah tangga yang jam publiknya tinggi atau yang lingkungan sosialnya kelas atas)

4. Penanggung-jawab urusan perut

5. Pengelola keuangan keluarga

6. Pengambil keputusan dan caretaker di masalah keluarga yang butuh kepandaian mengelola informasi yang serius seperti anak-anak berkebutuhan khusus, penyakit menahun, penyakit langka, penyakit mematikan dan gangguan kejiwaan

7. Pemilik dan pengelola usaha rumahan

Satu yang harus kutegaskan: pastikan menambah nilainya ini di mata sebanyak mungkin orang, bukan cuma di mata individu suami/ipar/mertua atau di mata kita pribadi. Yang akan memastikan kesibukan kita sebagai IRT selama berpuluh tahun sungguhan nambah nilai adalah dengan tidak melakukan sesuatu semata-mata demi nyenangkan hati atau demi membuktikan diri ke siapapun itu. Hadapkan wajah ke menjadi sebesar-besar manfaat bagi rumah tangga sendiri sekaligus rumah tangga orang banyak. Pengakuan dan penghargaan itu ngikut.

Aku terlalu sering lihat IRT sarjana yang sibuk dg No.1 sampai 4 tapi kelihatan sekali motifnya buat dapat pengakuan dan penghargaan untuk dirinya sendiri. Ini yang langsung kutangkap dari kasus curhatan IRT di video yang kusebut di atas.

Dia meng-homeschool anaknya. Itu yang dia jadikan tameng pembenaran atas pilihannya nggak kerja ketika kuliahnya menghabiskan biaya ratusan ribu dolar, uang hutang, sebagian jadi tanggungan penghasilan suami (sudah lunas), sebagian jadi tanggungan bapak-ibunya yang di kemudian hari bercerai jadi terpaksa ditanggung ibunya seorang diri.

Ibunya yang umur 50-an kewalahan ngatur penghasilannya buat butuhnya sendiri dan cicilan hutang buat kuliah anaknya dulu. Mengeluh dan ngungkit-ngungkit ke si anak. Ya bayangkan sendiri gimana perasaan kita sebagai ibu, ambil hutangan demi ngirim anak ke universitas dan jurusan mahal pilihan si anak, lalu sekarang kita ibunya, cerai, si bapak lepas tangan, harus kerja untuk menafkahi diri sendiri sekaligus nyicil itu hutang, sementara anak yg kita belani duduk di rumah, merasa kewajiban moral “mengembalikan” investasi pendidikan tinggi ratusan ribu dolarnya tertunaikan dengan menjadi homeschool-mama.

Gimana nggak dihujat se-internet..

Yang ingin kukatakan adalah: ada situasi dimana menghabiskan waktu-energi (dan mungkin uang) untuk meng-homeschool anak bukannya nambah nilai kita sebagai IRT sarjana tapi malah bikin kita jadi bulan-bulanan.

Aku nggak nampik sistem pendidikan modern sekarang ini jauh dari ideal tapi juga nggak segitu buruknya sampai-sampai homeschool dijamin hasilnya pasti lebih bagus. Kehendak luar biasa membuktikan kapabilitas kita sebagai pendidik anak menurutku bukan motif yang cukup sakti untuk menjadikan pilihan meng-homeschool sebagai nilai tambah. Motifnya harus lebih besar dari itu.

Dalam pendapatku, semua pilihan yang sifatnya anti-maistream, kecuali kita bisa menempatkan diri sebagai salah satu thought leader di yang anti-mainstream itu, baiknya nggak dikejar.

Agenda#3: Investasikan waktu-pikiran-tenaga untuk membangun support system dan social safety net

Kesalahan terbesar perempuan yang ngotot menikah dengan laki-laki yang tidak disukai keluarganya khususnya bapak-ibunya (apalagi yang ramai-ramai ditentang) adalah menganggap suami sebagai penolong No.1 dan menganggap keluarga suami otomatis akan sebaik keluarga kita sendiri.

Pembacaku yang masih gadis, catat ini: pertolongan keluarga kita sendiri khususnya orang tua dan saudara laki-laki (dan saudara perempuan yang mandiri secara finansial) akan makin terasa artinya justru setelah kita menikah. Jangan pernah menggantungkan harapan ke mertua dan ipar sebaik apapun mereka.

Kesalahan No.2 perempuan bersuami adalah berasumsi orang tua dan khususnya saudara-saudara kandung otomatis mendukung penuh semua pilihan dan keputusan kita, siap-siaga menolong dalam segala cuaca.

Sesayang apapun orang tua, begitu kita bersuami, ada garis yang harus mereka hormati. Sedekat apapun kita dengan adik-kakak, begitu masing-masing berumah-tangga, ada garis yang harus dihormati bersama. Kasarnya gini, pinjam kata-katanya ibu mentorku, “Ketika orang sudah dewasa, ngapa-ngapain pakai kalkulator. Ngitung dulu.” Situasinya sudah nggak sama dengan waktu masih kecil, masih ikut orang tua atau masih sama-sama lajang.

Yang paling baik adalah masuk ke pernikahan dengan kesadaran penuh bahwa orang yang paling bisa diandalkan dan paling peduli sama kepentingan kita dan anak adalah:

1. Diri kita sendiri

2. Orang-orang yang merasa tertolong oleh kita setelah kita menikah

Bisa jadi orang tua/mertua/adik-kakak/ipar adalah salah satu dari orang-orang yang kusebut di No.2. Yang harus diperhatikan: kesiapsediaan mereka membantu/menolong/mendukung/membela bukan karena ikatan darah, bukan karena saking baiknya mereka, tapi karena mereka merasa tertolong/terbantu oleh kita. Never take it for granted.

Apa yang ingin kukatakan?

Bagi perempuan IRT, cobalah untuk nggak sibuk dengan orang-orang yang dari awal sudah bisa kita pastikan nggak bisa atau nggak mau bantu saat kita dalam kesulitan. Perhatikan rekam-jejaknya dalam membantu orang lain. Orang. Lain. Jangan cuma membantu kitanya yang dihitung. Sebesar apapun budi yang kita tanam di seseorang, kalau dia bukan tipe orang yang mau membantu orang yang sedang dalam kesulitan, jangan berharap kita bisa datang ke dia minta bantuan di saat kita kesulitan.

Aku bukannya bilang mutus hubungan dengan mereka semua loh ya. Yang kubilang: jangan sibuk. Kita bisa menjaga hubungan baik tanpa perlu menghabis-habiskan waktu, energi dan uang. Dengan siapapun itu.

Tapi untuk bisa mengkonversi hubungan baik tadi –dengan siapapun itu (kecuali mungkin orang tua kandung)– menjadi support system dan social safety net yang bisa kita andalkan di saat sulit, entah itu dalam kesulitan kecil seperti nggak bisa nandangi pekerjaan rumah tangga di hari-hari pertama haid karena dilep yang menyiksa atau dalam kesulitan besar seperti diusir suami, kita harus mau investasi waktu, energi dan uang.

Kasarnya mau kerepotan, mau mbandani, mau berkorban, mau mbelani orang-orang yang bisa kita andalkan bantuannya di kesulitan kecil (support system) dan kesulitan besar (social safety net).

Jadi IRT di jaman emansipasi dan kesetaraan ini harus pintar-pintar memenej konflik (dan ekspektasi).

Buat dua Daftar Orang.

Satu daftar orang yang bisa kita titipi anak selama 2-4 jam karena kita harus ke Kantor Polisi, yang mau bantu masak-masak dan bersih-bersih saat rumah ketempatan arisan, tetangga yang mau dititipi rumah saat kita keluar kota sampai seminggu, teman yang mau dengar curhatan berlinang air mata kita tanpa menghakimi, saudara/tetangga yang tanpa diminta ngajak anak-anak kita ke rumahnya begitu dengar kita perang mulut dengan suami, orang yang bisa-mau membela atau paling nggak bisa menahan dirinya dari ikut-ikutan menggunjingkan kita di belakang kita; tahu lah maksudku.

Satu lagi daftar orang yang bisa kita titipi anak selama beberapa hari untuk cari kerja, orang yang mau minjami uang tanpa tanya buat apa dan ngasih kelonggaran kapan harus kita kembalikan, orang yang mau menampung kita dan anak di rumahnya sampai kita dapat kerjaan/penghasilan atau dapat kontrakan, orang yang jadi langganan dagangan kita atau yang merekomendasikan jasa-barang kita ke keluarga dan teman-temannya; tahu lah maksudku.

Sibuk lah untuk mereka. Siap-sedia untuk mereka. Membantu tanpa diminta. Menolong sampai batas kemampuan kita. Kalau kita nggak bisa pakai uang untuk melakukan semua itu, masih ada waktu, tenaga, keahlian, barang, pengaruh, koneksi, rumah, apapun yang kita punya.

Lakukan dari sekarang saat rumah tangga kita adem, ayem, tentrem.

Karena kita nggak akan pernah tahu.

Cobaan bukan kita yang njadwal..

4 Comments Add yours

  1. kiki says:

    Hai mbak salam kenal, nyasar nih k sini tapi g rugi ketemu blognya. aku baca postingan mbak dari awal (walau lompat-lompat maklum sambil gawe) bersyukur nemu blog yang ngajarin buat iriiitttt secara q paling g bisa irit apalagi nabung. semoga dengan inspirasi real (kalau d artikel pembahasannya global g ada contoh nyata gitu) yang mbak bagi dsini bisa jadi motivasi q lebih baik. sekarang aku sedang menjajah IG nya buat nyari tips lain yang juga bisa q pakai hehehe

    1. Rinda says:

      Itulah kelebihan blog: personal. Aku berusaha senyata dan serinci mungkin supaya yang baca punya gambaran konkret harus apa dan gimana, dari action ini-itu apa hasilnya. Juga supaya yang baca bisa bikin penyesuaian yang perlu.

      Aku sangat menganjurkan pembacaku berpikir kritis. Konteks rumah tanggaku seperti apa kubuka seterang-terangnya. Yang kutulis di sini nggak semua bisa diterapkan di tingkat penghasilan >20 juta.

      Semoga bermanfaat.

  2. Gak rugi begadang baca postingan di blog ini mba.
    Btw, saya kok merasa gak punya satu orang pun yang bisa diandelin ya mba huhuhu

    1. Rinda says:

      Kalau yang kita cari satu orang, ya nggak bakalan nemu. Sama juga, kalau kita carinya orang-orang yang melakukan segalanya demi menolong kita seperti bapak-ibu waktu kita masih kecil, juga nggak bakalan nemu.

      Aku sangat dekat dengan salah satu mbak sepupu. Kami sama-sama bawa DNA baik hati dari nenek moyangnya mbah. Untuk orang-orang seperti ini aku nggak eman. Begitu bisa bawa mobil 20 tahun lalu, siap antar-jemput tanpa diminta. Diminta ke rumahnya buat bantu-bantu, datang. Ngantar anaknya daftar polisi sambil bawa memo bapakku. Memperlakukan ibunya seperti ibuku sendiri. Kulakukan tanpa niat nagih minta balas budi. Dari kepribadiannya + hubungan baik kami berdua, aku tahu bisa ngungsi dan tinggal di rumahnya sampai berbulan-bulan pas butuh, tahu dia dengan senang hati nanggung makanku-Rafi, tapi aku juga tahu nggak bisa minta bantuannya kalau itu soal pinjam uang besar atau mencarikan pekerjaan misalnya. Untuk itu harus ke adik ipar.

      Yang ingin kukatakan adalah: jangan mengandalkan satu orang untuk semua kesulitan. Pecah, bagi-bagi, sebar. Dan jangan mulai dengan pikiran “gimana dia bisa membantuku”. Mulai dengan “gimana aku bisa membantu dia”. Apakah seseorang bisa kita harapkan dan pertolongan seperti apa yang bisa kita harapkan dari dia akan kelihatan seiring waktu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s