Budgeting Dasar: Daftar Pengeluaran Rumah Tangga

Aku bersaksi:

Beda sekali output antara ngatur penghasilan berdasarkan pemahaman mendalam akan pintu-pintu keluarnya uang di rumah tangga kita dengan ngatur penghasilan berdasarkan cicilan, tagihan dan belanja buat makan.

Postingan ini adalah follow-up dari Tantangan Rajin Mencatat di Instagram. Kubuat berdasarkan pengalaman pribadi dua tahunan ini khusus untuk mereka yang niat memperbaiki keuangan rumah tangganya tanpa nambah penghasilan. Paling nggak bukan nambah secara dramatis.

Langsung aja.

Cara Membuat Daftar Pengeluaran Rumah Tangga

Langkah#1: Tuliskan semua pengeluaran yang bisa kita pastikan setiap bulan atau hampir setiap bulan

Pikirkan semua pengeluaran yang harus kita siapkan sebulan sekali, seminggu sekali dan setiap hari. Contoh: tagihan bulanan seperti langganan antar-jemput sekolah anak, acara mingguan nge-mal sekeluarga lalu makan di Food Court dan beli air mineral untuk minum-masak. Kebanyakan orang ketika ditanya soal pengeluaran hanya memperhitungkan pengeluaran golongan ini.

Berpikirlah sedikit lebih keras ketika menuliskan semua pengeluaran yang berdasar pengalaman selama ini keluarnya hampir setiap bulan. Biasanya pengeluaran non-tagihan dan sangat dipengaruhi kepribadian masing-masing orang. Lihat daftar yang kubuat di sini (bagian-1) dan di sini (bagian-2) untuk membantu brainstorming.

Langkah#2: Tuliskan semua pengeluaran yang terjadwal setahun satu atau beberapa kali

Pikirkan semua pengeluaran yang tanggal dan/atau berapanya bisa kita pastikan jauh-jauh hari. Dalam kasusku:

  • Pajak mobil dan motor
  • PBB
  • Iuran Agustusan
  • Lebaran

Perpanjangan SIM-STNK masukkan di sini. Meski nggak tiap tahun butuh, tanggal butuhnya bisa kita pastikan sejak 5 tahun sebelumnya. Atau biaya masuk TK/SD/SMP/SMA. Begitu juga dengan pengeluaran hajatan yang lazim seperti:

  • Pesta ultah anak
  • Sunatan
  • Khataman
  • 1001 slametannya orang Jawa (kecuali Tahlilan 1-7 Hari & 40 Hari)

Mestinya bisa kita pastikan paling nggak beberapa bulan sebelumnya kan? Baik sebagai pihak yang punya hajat maupun sebagai kerabat dekat yang punya hajat. Pengeluaran biasanya ekstra di hajatannya saudara. Ngasihnya, kontribusinya, biasanya lebih dibanding ketika diundang orang-orang yang nggak punya pertalian khusus dengan kita.

Contoh pengeluaran lain yang bisa dipastikan sekian bulan sebelumnya:

  • Melahirkan & kebutuhannya
  • Perlengkapan bayi
  • Kebutuhan tahun ajaran baru

Langkah#3: Tuliskan semua pengeluaran yang tidak terjadwal tapi bisa kita pastikan setahun paling sedikit sekali

Ini yang biasanya luput. Pikir baik-baik semua pengeluaran yang berdasar

(i) pengalaman
(ii) akal sehat

bisa dipastikan butuhnya (kalau kaget berarti kecerdasan kurang) paling sedikit setahun sekali meski bulan apa dan berapanya nggak bisa kita pastikan. Contohnya banyak.

Satu: Yang punya mobil dan motor harus siap uang perawatan (ganti oli dan filter oli) dan perbaikan. Kalau toh pegangan kita mobil keluaran terbaru yang kecil kemungkinannya masuk bengkel karena mogok, jangan terlalu yakin. Beret? Penyok? Lampu pecah karena nyundul? Ban sobek? Tilang? Jangan nunggu kejadian baru nyiapkan uangnya.

Dua: Aku pingin kenal keluarga yang nggak pernah sekalipun dalam setahun nggak butuh dokter. Keluarga yang menanggung anak kecil dan lansia harus ngitung layanan rumah sakit dan laboratorium. Jangan nunggu sakit dulu, pingsan dulu, kejang dulu baru mikir dananya.

Tiga: Ada peralatan rumah tangga yang kalau rusak bikin hidup kacau. Yang masak sendiri untuk makan tiap hari: kompor gas. Yang rumahnya di perumahan baru di kawasan coret: motor buat mama, kulkas dan pompa air. Yang kerjanya online: laptop, smartphone, peranti Wifi, printer. Yang punya anak bayi: mesin cuci. Yang hidup di kawasan sumuk seperti Surabaya: AC dan kipas angin. Harus siap uang untuk perbaikan dan ganti baru. Jangan nunggu rusak dan bejat untuk nyiapkan dananya.

Empat: Yang tinggalnya di rumah murah dan rumah tua harus siap anggaran perbaikan kecil yang bisa diatasi sendiri atau yang butuh tukang. Misal:

  • Konslet
  • Pipa bocor
  • Genteng atau plafon bocor
  • Gagang pintu lepas
  • Kayu keropos
  • Bak mandi ngerembes
  • Lantai keramik ngembung
  • Tembok rontok
  • Pasang pagar
  • Bikin garasi, dapur atau nambah kamar
  • Ngecat
  • Paving

Langkah#4: Tuliskan semua yang ingin kita beli atau biayai yang butuh kurang dari sebulan gaji

Pikirkan keinginan yang relatif terjangkau, yang nggak butuh biaya besar. Fokus di keinginan, bukan kebutuhan. Semua yang tergolong kebutuhan mestinya sudah tercover di Langkah#1 sampai 3. Nggak usah bingung dengan cukup nggak cukupnya gaji. Juga jangan pusing harus nganggarkan berapa-berapanya. Di tahap ini tujuan kita adalah punya gambaran tertulis akan semua pengeluaran yang penting bagi kita. Biar mata dan pikiran mbuka.

Contoh: bagi keluarga yang tiap tahun merayakan ulang tahun anak, dana pesta ultah mestinya sudah ketulis di Langkah#2. Bagi keluargaku yang nggak ikut kelaziman itu tapi pingin bikin syukuran tuntasnya proses adopsi Rafi yang dipaskan dengan ulang tahun ke-3, nuliskannya di langkah ini.

Contoh lain: anak yang masuk usia belasan minta dibelikan motor. DP motor baru atau beli motor bekas tunai mestinya bisa dengan dana sebulan gaji. Atau minta dibelikan gadget. Atau kita sendiri yang pingin punya laptop baru sekaligus printer. Sebagai pengurus RT sesekali butuh buat ngetik surat undangan acara RT mungkin. Biar nggak perlu ke warnet.

Langkah#5: Tuliskan semua yang ingin kita beli atau biayai yang butuh nabung lebih dari setahun

Ini mungkin harus ekstra mikirnya karena pada umumnya karyawan sangat terbiasa dengan pola pengaturan jangka pendek “penghasilan bulan-ini-buat-pengeluaran-bulan-ini“, nggak terlatih mikir dalam jangka panjang. Mungkin juga nggak berani mikir jauh-jauh karena merasa nggak bisa nabung.

Ini mungkin bisa ngasih ide:

  • DP rumah
  • Mobil
  • Kuliah pasca-sarjana
  • Naik haji/umrah
  • Kurban sapi
  • Tabungan pensiun
  • Modal buka toko
  • Tanah kavling
  • Uang masuk universitas anak
  • Keliling Eropa (baiklah, contoh ini agak kemaruk untuk penghasilan <10 juta)

Jangan takut nuliskan cita-cita yang sekarang ini mungkin terasa sangat pungguk merindukan bulan. Sekali lagi:

Tujuan kita mbuka mata dan pikiran, mengeluarkan semua yang kita pahami tentang uang kita yang selama ini adanya sepotong-sepotong di pikiran dan yang terpendam di angan.

Jangan takut nuliskan impian di Langkah#4 dan 5. Bisa jadi titik awal mempermak keuangan. Ini dapur impianku. (Foto: DeVol Kitchens)

Buat contoh. Coba tanyakan ke suamiku apa aja pengeluarannya. Yang bisa kupastikan akan dia sebut:

(i) makan
(ii) bensin

Karena dua itu yang paling sering dia bayar jadi di memorinya ada di dua urutan teratas. Karena njawabnya modal catatan mental, cuma dua itu yang kehitung. Bandingkan dengan hasil brainstorming berdasarkan 5 langkah di atas.

Pengeluaran suami, operator forklift yang nge-kos di Surabaya dengan asumsi dia masih lajang:

Langkah#1

  • Uang bulanan utk kebutuhan ibunya
  • Uang kos
  • Pulsa & paket data
  • Toiletries
  • Makan-minum
  • Jajan
  • Bensin
  • Tolak Angin, minyak angin & balsem
  • Tiket bis pulang-pergi Probolinggo
  • Buwuh/sumbangan
  • Oleh-oleh
  • Jalan-makan dengan teman

Langkah#2

  • Pajak motor
  • Perpanjangan STNK
  • Perpanjangan SIM
  • Zakat fitrah

Langkah#3

  • Ganti oli motor
  • Servis motor & ganti spare-part
  • Pakaian & kelengkapannya
  • Bantu adik dan masnya
  • Ngasih penunggu ibunya
  • Dokter dan obat dokter

Langkah#4

  • Home theater
  • Traveling ngajak ibu, adik dan keluarga masnya

Langkah#5

  • Mobil

Banyak kan? Utuh mungkin lebih tepat. Bahkan meskipun kita nggak tahu angka-angka keluarnya, daftar pengeluaran yang menyeluruh seperti itu bikin kita lebih hati-hati dalam membelanjakan uang. Juga lebih obyektif dalam menilai besar-kecilnya penghasilan termasuk gawat-darurat nggaknya nambah penghasilan.

Kalau kita tahunya cuma pengeluaran kos, makan dan bensin motor, penghasilan UMR Surabaya terasa besar. Dengan gaji 4.2 juta berasa mampu ngekos di kamar ber-AC 1.2 juta sebulan. Tapi begitu kita bandingkan dengan semua pengeluaran kebutuhan apalagi kalau ditambah keinginan, baru nyadar, meski ngekos di kamar sumuk sekotak korek 500 ribu sebulan pun, 4.2 juta masih ngepas. Untuk bisa mewujudkan niat nyenangkan keluarga dengan perjalanan ke luar kota di libur Lebaran yang butuh sejutaan untuk sewa mobil dan makan di jalan harus cari-cari pengeluaran yang bisa dikorbankan. Kelihatan nggak efek dominonya?

Pertolongan daftar pengeluaran seperti itu terasa berlipat-lipat di keuangan rumah tangga. Tuliskan, tetapkan, rencanakan angka-angkanya hanya setelah kita pegang daftar pengeluaran menyeluruh seperti di atas. Yang uangnya jelas-jelas nggak ada seperti tabungan DP rumah karena selama ini penghasilan nggak pernah bisa nyisa, kosongkan dulu. Yang kita nggak tahu persis total angka keluarnya sebulan berapa, seperti jajan, pakai angka kira-kira dulu. Bulan depannya bandingkan dengan catatan pengeluaran njajan selama sebulan kemarin. Pasti kaget. Pelajari lagi catatan kita; seberapa sering njajan, di mana, apa yang kita beli, belinya berapa banyak. Tajamkan kerja mencatat kita atas pengeluaran njajan di bulan berikutnya. Berusahalah mencatat sambil menjawab pertanyaan yang lebih sulit seperti apa kebiasaan njajan ini karena sering merasa lapar, nggak nafsu makan, mendadak pingin setelah lihat foto/gambar/iklan, karena apa?

Seperti yang kubilang di Tantangan Rajin Mencatat, tahu persis uang kita larinya ke mana saja, habisnya buat apa saja, harus lewat tekun mencatat pengeluaran. Kalau hanya pakai catatan mental atau perasaan atau nota pasti banyak mblesetnya. Mencatatnya nggak perlu seumur hidup. Hanya sampai kita dapat informasi menyeluruh tentang pos-pos pengeluaran rumah tangga kita dan angka total per bulan atau per tahunnya.

Bagi yang masih sering bingung sendiri uangnya habis kepakai buat apa aja, PR-nya itu dulu, bikin anggaran bulanan lalu mencatat semua pengeluaran selama bulan itu untuk dievaluasi di akhir bulan. Evaluasi itu yang akan jadi bekal kita memperbaiki anggaran bulanan. Bikin anggaran bulanan, catat, evaluasi, perbaiki anggaran bulanan, catat lagi, evaluasi lagi, perbaiki lagi anggaran bulanan; gitu terus sampai angka-angka di anggaran dan angka-angka di catatan kurang-lebih sama. Nggak harus sama persis. Yang penting, satu, over-budgetnya nggak terlalu besar, dua, nggak ada lagi “biaya tidak terduga”. Tanpa informasi yang cukup, mengendalikan pengeluaran pasti terasa sangat sulit. Bikin anggaran bulanan terasa nggak ada gunanya.

Semua kujelaskan lengkap di Tahap 1-4 Tantangan Rajin Mencatat di Instagram. Cari dengan hashtag #TantanganRajinMencatat.

Jangan sungkan tanya-tanya.

2 Comments Add yours

  1. Inge says:

    Saya semakin paham, karena setelah penjelasan seabregabreg ada contoh di akhirnya mba. Kalau boleh bagian dua nanti juga ada contohnya mba. Biar lebih dapat gambaran. Terima kasih.

    1. Rinda says:

      Iya. Di tiap bagian kupastikan ada contohnya. Bahasa contoh lebih memfasilitasi rencana-kerja. Pinginku pembaca blogku nggak berhenti di mbaca.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s