Master-Budget: Bagian II

Hasil brainstorming di Bagian I sesungguhnya hanyalah potongan-potongan kecil berserak dari potret keuangan kita. Seperti potongan puzzle. Nggak ada artinya, nggak nunjukkan apa-apa.

Untuk bisa dipakai “membaca” pola membelanjakan uang –yang nanti akan jadi pedoman kerja mempermak aliran keluar-masuk uang (itu termasuk mengoptimalkan pemasukan, mengendalikan pengeluaran dan menabung)– masih harus disusun dulu menjadi sebuah skema yang menunjukkan nilai-nilai hidup kita.

Pakai kategori pengeluaran kelas menengah kota di bawah ini sebagai bantuan nyusun kategori masing-masing. Definisi per kategori menurutku sudah cukup dijelaskan contoh. Yang merasa perlu uraian penjelasan per kategori, baca di sini.

Biaya Hidup

• Makan-minum • Cicilan rumah yang ditinggali atau uang kontrak atau uang kos • Listrik, air dan telepon • Iuran RT • Transportasi • Pakaian dan kelengkapannya • Perbaikan dan penggantian peralatan rumah-tangga • Perbaikan & renovasi rumah • Pajak, perawatan & perbaikan kendaraan

Gaya Hidup

• Hiburan • Makan di luar • Rekreasi • Liburan • TV kabel • Wifi • Gadget • Fashion & Kecantikan • Hobi & Koleksi • Hewan peliharaan

Kesehatan

• Dokter dan obat • Bidan, perawat, terapis • Layanan klinik/RS • Laboratorium • Vaksinasi/imunisasi • Pijat • Pengobatan alternatif • Obat bebas • Peralatan (kursi roda, pispot dll) • Setoran BPJS atau asuransi

Pendidikan & Pelatihan

• SPP • Iuran • Kursus/Training/Workshop/Seminar/Webinar • Ekskul • Antar-jemput sekolah • Alat & kelengkapan belajar • Buku

Pekerjaan/Penghasilan

• Transportasi • Makan siang • Pulsa & Paket data • Peralatan kerja • Pakaian kerja dan aksesorisnya

Sosial

• Hadiah • Sumbangan • Slametan/Hajatan/Perayaan • Lebaran (angpao, jamuan makan, kue kering, baju baru, mudik, halal-bihalal)

Komunitas/Organisasi

• Transportasi • Iuran anggota • Event • Fellowship (makan-makan, jalan-jalan, rekreasi, liburan bersama)

Agama & Filantrofi

• Membantu orang tua • Zakat, sedekah & infaq • Kurban & aqiqah • Tabungan haji/umrah

Tabungan/Investasi

• Dana Darurat • Tabungan Pendidikan Tinggi • Tabungan Modal Usaha • Tabungan Pensiun • Tabungan (untuk membeli) Aset

Harta-Benda

• Rumah (kalau >1) • Kendaraan (kalau >1) • Tanah • Harta-benda lain yang butuh tempat penyimpanan, perawatan dan perbaikan

Aku yakin ada banyak kategori lain yang nggak tercantum di situ.

Contoh.

Banyak orang yang butuh pertolongan dukun/habib/kyai seperti butuh pertolongan dokter. Aku bukannya nyamakan habib/kyai dengan dukun loh ya! Hanya saja pertolongan yang mereka berikan bisa dibedakan secara tegas dengan pertolongan dokter. Soal melibatkan kekuatan jin atau kekuatan doa orang saleh nggak kuperhitungkan di sini. Perlu kategori terpisah: Sistem Suport Supranatural.

Atau orang Jawa yang takut tertimpa bala kalau nggak melakoni ritual klenik atau slametan. Kalau tiap minggu nyiapkan sajen, sebulan sekali mandi kembang tengah malam, tiap weton kelahiran banca’an bubur merah, juga perlu kategori baru: Ritual Klenik.

Slametannya orang Jawa sangat banyak. Kalau dituruti semua harus dibuatkan kategori tersendiri, terpisah dari Sosial, karena biayanya besar. Butuh perencanaan khusus.

Masukkan satu demi satu pengeluaran dari hasil brainstorming kemarin ke kategori-kategori di atas. Di sini yang butuh kejelian.

Berikut 3 pointer yang harus diperhatikan ketika kita memilah-milah pengeluaran hasil brainstorming di Bagian I dalam kategori-kategori yang menunjukkan nilai hidup kita.

PERHITUNGKAN DAMPAK & KONTRIBUSINYA

Satu pengeluaran yang sama mungkin masuk dalam kategori yang berbeda, tergantung dampak/kontribusinya ke kesejahteraan.

Contoh.

Bagi yang suaminya kerja di luar pulau, pulsa dan paket data termasuk biaya hidup. Bagi yang punya toko online masukkan dalam pengeluaran pekerjaan/penghasilan. Tapi bagi yang memanfaatkan pulsa dan paket data untuk manjangkan silaturahim dengan keluarga besar, dengan teman lama, untuk bermedsos, masukkan dalam gaya hidup. Gimana dengan pecandu self-development sepertiku yang ngandalkan paket data untuk ngembangkan diri? Masukkan dalam pendidikan.

Contoh lain.

Perhatikan bahwa di contoh pengkategorian di atas, yang umum kita pandang sebagai kedermawanan kupisah dalam dua kategori yang berbeda. Yang membedakan adalah dampaknya. Kedermawanan yang tergolong dalam Agama/Filantrofi punya efek menguatkan diri secara spiritual sementara kedermawanan yang tergolong dalam Sosial punya efek membangun hubungan baik, menumbuhkan kasih sayang, mungkin juga meneguhkan status sosial ekonomi. Jadi untuk memutuskan umrah kita yang ke-3 kalinya ini masuk Agama/Filantrofi atau Sosial, cuma kita yang bisa mutusi. Kita yang tahu apa sejatinya yang kita harapkan dari umrah ke-3 kalinya ini. Kalau tujuannya untuk meneguhkan status sosial ekonomi, masukkan dalam kategori Sosial. Kalau yang kita harapkan adalah usaha/dagang yang makin maju, masuk kategori Tabungan/Investasi.

PERHITUNGKAN ARTI PENTINGNYA

Kalau ada dari sub-kategori yang kutulis di atas yang sangat penting atau khusus dalam konteks kita, jadikan kategori baru.

Contoh.

Yang menafkahi orang tuanya. Kalau yang kita bicarakan ini orang tua yang pensiun tanpa pemasukan + tinggal beda kota + tua dan sakit-sakitan jadi harus ada yang nunggu 24 jam + bolak-balik masuk RS, jadikan kategori baru yang terpisah, keluarkan dari agama & filantrofi.

Kenapa?

Pada prinsipnya kategori adalah satu keluarga besar pengeluaran yang kita perhitungkan secara khusus karena arti pentingnya bagi kita. Bisa ditekan dengan menghilangkan satu atau lebih sub-kategorinya tapi karena satu dan lain alasan nggak bisa kita hilangkan semua sekaligus tanpa perubahan radikal dalam kepribadian, dalam sistem nilai yang kita anut dan dalam menjalani hidup. Biasanya ditunjukkan oleh perubahan besar-besaran dalam lingkar sosial dan sphere of influence. Bayangkan perubahannya seseorang yang bergabung dengan gerakan bawah tanah. Se-radikal itu.

Implikasinya seperti ini. Kalau menafkahi orang tua kita masukkan kategori Agama/Filantrofi berarti kita tidak memandang orang tua sebagai tanggungan. Kita pandang sama dengan zakat, infaq, sedekah, kurban. Tapi begitu menafkahi orang tua kita jadikan kategori terpisah, kepala kita akan melihatnya sebagai sama pentingnya dengan pengeluaran Biaya hidup atau pengeluaran Pekerjaan/Penghasilan. Nge-set prioritasnya.

Kategori adalah sekelompok pengeluaran yang secara bersama-sama mempengaruhi kualitas hidup manusia secara fisik, sosial, emosional, intelektual atau spiritual sehingga butuh perencanaan-perhitungan seksama sedangkan sub-kategori (kalau dilihat sendiri-sendiri) nggak.

PERHITUNGKAN SECARA TERPERINCI

Lihat sub-sub kategori sebagai “keluarga besar pengeluaran”. Gabungan berbagai pengeluaran besar-kecil yang saling terkait atau punya hubungan sebab-akibat. Kalau ada pengeluaran X berarti harus siap dengan pengeluaran Y. Ada yang keterkaitannya langsung dan jelas selayaknya ibu-anak, ada yang sifatnya efek samping dan longgar seperti antar-sepupu atau antar-ipar. Contoh paling gampang: makan-minum.

Mari kita runut.

Kalau masak sendiri, untuk bisa makan harus belanja sembako, lauk-pauk, sayur-mayur, bumbu dapur dan gas. Yang punya anak kecil harus ekstra di buah dan jajanan. Kebanyakan orang kota minumnya beli air mineral. Yang belum dilayani PDAM, air buat masak harus beli juga. Yang suami-istri kerja atau punya anak bayi mungkin harus sering beli masakan jadi atau makan di luar (karena nggak sempat masak). Orang kota belanja sembakonya biasanya sebulan sekali di supermarket. Kalau ngajak anak harus siap dimintai makanan-minuman ringan. Mungkin makan di Food Court. Dan nggak mungkin cuma beli sembako kalau belanjanya di supermarket. Berapa orang yang bisa patuh membeli hanya yang tertulis di daftar belanjaannya? Atau mungkin harus kukoreksi: berapa banyak orang yang mau repot bikin daftar belanjaan dulu sebelum masuk supermarket? Maka sesungguhnya sub-kategori makan-minum masih harus dirinci lagi.

Contoh yang lebih kompleks.

Dalam sebulan almarhum ibuku di rumah induk di Sidoarjo selama 1-2 minggu. Sisanya dihabiskan di Pacet (di rumah yang sekarang kutinggali) dan di kampung halamannya. Praktis almarhum ibuku adalah anggota aktif 3 lingkungan tetangga. Mari kita lacak “keluarga besar” pengeluaran dari menjadi aktif di 3 lingkungan tetangga.

  1. Arisan RT dan buwuh mantenan di lingkungan tetangga 1
  2. Transportasi yang masih “beranak” lagi yaitu bensin, tol, upah supir, pengemis-pengamen dan berhenti makan di jalan.
  3. Makan dan jajan selama nginap di lingkungan tetangga 2 dan 3
  4. Buwuh/sumbangan mantenan, lahiran, sunatan, sakit, kematian di lingkungan tetangga 2 dan 3
  5. Jujugan hutangan (yang seringnya nggak dikembalikan) di lingkungan tetangga 2 dan 3
  6. Jujugan dagangan di lingkungan 1, 2 dan 3
  7. Oleh-oleh buat dibawa pulang
  8. Ketempatan arisan di lingkungan tetangga 1 paling nggak 2 tahun sekali
  9. Buka puasa bersama di lingkungan tetangga 2
  10. Reuni tahunan keluarga besar Mbahnya ibuku yang masih beranak lagi yaitu subsidi sewa mobil untuk transportasi saudara-saudara yang pingin datang dan biaya ketempatan sebagai tuan rumah paling nggak sekali dalam 10 tahun
  11. Kumpul-kumpul tahun baruan dengan saudara-saudara dari kampung halaman

Kalau kita perhatikan baik-baik, semua pengeluaran itu:

  • Nggak masuk dalam Biaya Hidup karena praktis 3/4 dari semua pengeluaran di atas otomatis hilang andai ibuku menghabiskan setahun penuh di satu lingkungan tetangga saja
  • Nggak masuk dalam Sosial karena –paling nggak dalam kasus ibuku– aktif di 3 lingkungan tetangga sekaligus adalah pilihan, bukan konsekwensi.
  • Nggak masuk dalam Agama/Filantrofi karena efek sosialnya jauh melampaui efek spiritualnya

Lebih tepat dimasukkan dalam kategori Gaya Hidup karena almarhum ibuku sangat menikmati memberi uang/makanan secara langsung ke orang yang dikenal, membeli dari orang-orang yang dikenal baik (campur nggak enak nolak), bepergian, dikelilingi keluarga besarnya di kampung halaman dan menghabiskan waktu di kawasan pegunungan. Sangat condong ke menyenangkan hati dan menyamankan hidup.

Contoh Penerapan Menyusun Pengeluaran Dalam Kategori

Di Bagian I ku-brainstorm pengeluaran suamiku dengan asumsi dia masih lajang. Di bagian ini daftar pengeluaran hasil brainstorm kemarin jadi seperti ini.

Biaya Hidup

  • Uang kos
  • Pulsa & paket data
  • Toiletries
  • Makan-minum
  • Pakaian & kelengkapannya
  • Bensin
  • Perawatan rutin motor
  • Servis & spare-part motor
  • Pajak motor
  • Perpanjangan STNK & SIM

Gaya Hidup

  • Jajan
  • Jalan-makan dengan teman
  • Tabungan mobil
  • Tabungan home-theater
  • Jalan-jalan ke luar kota sekeluarga (sewa mobil, bensin-tol-parkir, akomodasi, makan)

Kesehatan

  • Obat bebas

Sosial

  • Uang bulanan untuk kebutuhan ibunya
  • Buwuh/sumbangan
  • Tiket bis pulang-pergi nengok orang tua
  • Ngasih adik, mas dan ponakan
  • Uang tip untuk penjaga ibunya
  • Oleh-oleh

Agama & Filantrofi

  • Zakat fitrah

Catatan: Dokter, obat dokter dan layanan RS nggak ada di situ karena ditanggung perusahaan.

Alasanku memakai suamiku sebagai contoh kasus adalah karena orang-orang seperti suamiku lah yang merasakan manfaat segera dari Master-Budget.

  • betul-betul nggak tahu uangnya kepakai buat apa
  • 100% uangnya habis untuk yang nggak berupa
  • berapapun yang didapat, habis, nyaris saat itu juga
  • bisa menjaga diri dari hutang tapi nggak pernah bisa menyisihkan
  • nggak pernah bisa membiayai segala-sesuatu yang butuh biaya lebih dari 1/3 gaji berapapun gajinya

Karena itulah semua yang butuh nabung/nyisihkan penghasilan kutulis dalam huruf tebal.

Dalam kasus suamiku, uang bulanan untuk kebutuhan ibunya akan kukategorikan sebagai Biaya Hidup kalau dia tinggal serumah dengan ibunya (otomatis menjadikan ibunya sebagai tanggungan) atau kalau didorong oleh rasa tanggung-jawab sebagai anak laki-laki. Di sini kukategorikan sebagai Sosial karena berangkatnya dari rasa sayang-kasihan ke adik perempuan yang merawat ibunya. Nggak kukategorikan Agama/Filantrofi karena ibunya selain nggak punya pemasukan juga kondisinya nggak memungkinkan untuk hidup sendiri karena itu terhitung sebagai tanggungan.

Kejelian seperti ini perlu kalau tujuan kita dengan Master-Budget adalah mempermak keuangan yang akan kubahas di Bagian IV sekaligus terakhir.

Di bagian IV nanti akan kupakai diriku sendiri semasa gadis sebagai contoh. Karena dalam kasusku, tanpa Master-Budget pun selalu bisa menyisihkan penghasilan. Untuk non-PNS, khususnya yang penghasilannya tidak tetap, Master-Budget berfungsi sebagai peta membangun hidup.

Bagian berikutnya belum masuk ke mempermak. Masih di bagaimana menggunakan Master-Budget untuk mengoptimalkan uang kita.

Yang masih sangat bingung, bisa kirim hasil brainstorming pengeluarannya ke emailku mz_newconcept@yahoo.com. Kubantu nyusun kategorinya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s