Mengatur Keuangan Rumah Tangga Dengan Amplop

Kita mulai dengan mengapanya dulu. Mengapa IRT perlu tahu Sistem Amplop. Setelah itu baru kujelaskan cara kerja Sistem Amplop. Terakhir, apa yang harus diperhatikan agar sistem ini nggak bikin frustasi.

Mengapa Sistem Amplop

Alat utama membangun kekayaan adalah penghasilan. Kalau gaji suami kita yang pegang dan/atau kita sendiri punya penghasilan, berarti alat membangun kekayaan ada di tangan kita kan. Pertanyaannya:

Sudahkah kita optimalkan?

Setiap orang pastinya punya idenya sendiri-sendiri tentang mengoptimalkan penghasilan atau tentang membangun kekayaan. Buat salah satu budheku yang berjiwa pendidik, penghasilannya optimal kalau bisa nyekolahkan sebanyak-banyaknya anak berprestasi yang nggak mampu. Budheku yang lain mengoptimalkan penghasilan dari usaha rumahannya untuk ngumpulkan tanah+emas dan umrah-haji satu keluarganya. Pendidikan bukan prioritas. Sah-sah aja. Yang penting kita sanggup membayar “harganya” karena setiap pilihan punya “biaya”.

Sekali lagi, nggak ada pilihan yang salah. Yang ada pilihan yang buruk yaitu memilih yang nggak sanggup kita “beli”, yang nggak sanggup kita tanggung resikonya, yang nggak mau kita jalani konsekwensinya.

Buat nambah wawasan, membangun kekayaan juga berarti melindungi diri dan keluarga dari situasi-situasi yang menempatkan kita sekeluarga dalam posisi tidak berdaya atau tidak punya pilihan.

Contoh yang bikin takut: kehilangan penghasilan mendadak akibat PHK atau pencari nafkah cacat tetap/meninggal dunia. Yang non-PNS pasti tahu gimana gentingnya situasi mendadak di-PHK. Contoh yang bikin semangat: tekad “mengantar” anak ke kelas sosial-ekonomi yang lebih tinggi dengan pendidikan-pelatihan bernilai tinggi di dunia usaha dan/atau dunia kerja.

Ketika kita mengoptimalkan penghasilan untuk tujuan besar-jangka panjang seperti dua yang kusebut di atas, caranya nggak bisa disamakan dengan mengoptimalkan penghasilan untuk bayar tagihan-cicilan dan nyenangkan hati. Kita butuh rencana berupa budget yang memperhitungkan pemasukan-pengeluaran dengan seksama, yang setiap rupiah yang keluar keluarnya demi mengemban tugas. Boleh jadi salah satu yang kita tugaskan ke penghasilan adalah menyenangkan hati atau menyenangkan keluarga tapi berapa-berapanya kita tetapkan setelah tugas perlindungan diri dan keluarga. Traveling-nya setelah kita menyisihkan untuk dana darurat.

Karena itu Sistem Amplop sesungguhnya adalah sistem pengendalian pengeluaran yang akan memastikan setiap rupiah yang keluar dari dompet/rekening kita keluarnya sesuai tugas yang kita tetapkan untuknya.

Cara Kerja Sistem Amplop

Pertama: Sebelum terima gaji harus sudah siap dengan budget bulanan

Latih diri untuk tidak melihat gaji satu bulan sebagai 100%. Bagi jadi dua atau tiga bagian. Satu-dua bagian utk masa sekarang, sisanya utk masa depan.

Yang buat masa sekarang berapa, yang buat masa depan berapa, sesuaikan dengan kondisi dan kemampuan (=tingkat penghasilan) masing-masing. Jangan lihat orang.

Ratio yang menurutku nggak kelewat berat tapi juga nggak kelewat nyantai adalah 70/30. Semua pengeluaran di bulan itu termasuk cicilan-cicilan dan pengeluaran tabungan jangka pendek seperti biaya Lebaran dan pajak mobil usahakan nggak lebih dari 70%. Sisa yg 30% untuk tabungan jangka panjang (pengadaan rumah, dana darurat, pendidikan tinggi anak, dana pensiun, naik haji) dan investasi (menafkahi orang tua, sedekah, zakat, kurban dan wakaf kugolongkan sebagai investasi; investasi akhirat). Kalau ada hutang atau cicilan yang ingin dilunasi lebih cepat, ambilkan dari 30% ini.

Jangan berkecil hati kalau kita sanggupnya 90/10 atau 95/5 atau bahkan 100/0. Mereka yang penghasilannya 10 juta ke bawah, hidup di kota besar dengan 2 anak usia sekolah, harus menanggung orang tua yang nggak punya asuransi kesehatan ditambah nyicil rumah pastinya sangat kesulitan nyisihkan. Bagi yang penghasilannya kecil, fokus lah di bebas hutang. Pastikan aja 100% itu cukup tanpa bantuan kas bon, Penggadaian atau orang tua. Nggak usah bingung dengan nabung demi masa depan.

Kedua: Otomatiskan sebanyak mungkin kewajiban pembayaran seperti tagihan listrik-air dan setoran tabungan lalu siapkan amplop sebanyak jenis pengeluaran yang nggak bisa diotomatiskan dan yang nggak bisa dibayarkan dengan cara transfer via ATM atau e-banking

Makin banyak yang didebet otomatis dari rekening gaji, makin sedikit yang kita pegang tunai. Makin sedikit yang kita pegang tunai, makin sedikit amplop. Makin sedikit amplop, makin enteng kerja mengendalikan pengeluaran. Bayangkan pegang 20 amplop. Lihatnya aja pening.

Dari contoh budget bulanan di bawah ini misalnya:

  1. Zakat profesi (transfer)
  2. Uang saku orang tua (transfer)
  3. Asuransi jiwa (transfer)
  4. Tabungan haji (debet otomatis)
  5. Tabungan pajak mobil (debet otomatis)
  6. Tabungan Lebaran (debet otomatis)
  7. Dana talangan (transfer)
  8. Cicilan smartphone (debet otomatis)
  9. Tagihan listrik (transfer)
  10. Tagihan air (tunai)
  11. Iuran sampah (tunai)
  12. Iuran RT (tunai)
  13. Gaji ART (tunai)
  14. Belanja bulanan (tunai)
  15. Belanja lauk-pauk (tunai)
  16. Lain-lain (tunai)

Berarti harus siap 7 amplop karena hanya 7 jenis pengeluaran yg dibayar tunai.

Makin lama kita memakai sistem amplop, biasanya jumlah amplopnya akan makin sedikit.

Ketiga: Disiplin menjalankan prinsip “when it’s gone, it’s gone

Andai uang di amplop rekreasi habis di minggu ke-2 misalnya, sampai gajian berikutnya rekreasinya di rumah aja dulu. Nonton VCD sambil makan gorengan.

Andai kita tetapkan angka 1 juta untuk belanja bulanan susu, popok, sembako, toiletries dan produk pembersih, bikin daftar belanja yang akurat untuk kebutuhan sebulan. Perhitungkan yang masih ada stoknya di rumah biar belinya nggak dobel-dobel. Menghindari situasi di akhir bulan punya minyak goreng 4 liter tapi nggak ada uang tunai buat beli gas.

Kalau ternyata sejuta kurang? Turunkan standar. Biasanya popok Mamy Poko, turun ke Sweety. Biasa sabun cair, turun ke sabun batangan, dstnya.

Kalau masih kurang juga? Berarti ada yang harus dicoret dari daftar belanjaan. Yang nggak esensial seperti pewangi cucian, obat pel, pelicin setrikaan, conditioner, obat kumur, baby oil, hair lotion, coret dulu.

Prinsipnya adalah lakukan yang perlu demi belanja bulanan nggak lebih dari sejuta. Utak-utiknya di per amplopnya, bukan di budget bulanannya. Jadi jangan karena sejuta kurang lantas setoran tabungan Lebaran kita hilangkan demi nambah anggaran belanja bulanan. Khususnya kalau selama bertahun-tahun penghasilan di bulan Lebaran selalu defisit. Nggak bisa putar otak di per amplop berarti nggak akan pernah bisa mutus siklus gali lubang tutup lubang atau gali saldo tutup saldo.

Begitu kita bisa mengendalikan uang yang keluar sehari-harinya sesuai budget bulanan, mengelola penghasilan untuk membangun kekayaan nggak lagi terasa seperti pungguk merindukan bulan. Gaji bukan lagi cuma bisa buat bertahan hidup sebulan, uang tambahan nggak lagi habis untuk kebutuhan sehari-hari.

Sampai lah kita di poin terakhir yang paling penting.

Apa hanya butuh disiplin diri untuk sukses ngatur pengeluaran dengan Sistem Amplop?

Nggak.

Pertama, gunakan sistem amplop hanya setelah kita tahu persis semua jenis pengeluaran rumah-tangga kita.

Hitungannya bukan lagi jenis pengeluaran dalam sebulan tapi semua jenis pengeluaran minimal dalam satu tahun. Kalau yang kita hitung cuma pengeluaran sebulan, ada begitu banyak yang luput. Antara lain:

  • biaya penggantian & perbaikan peralatan rumah tangga (magic jar, kompor gas, AC, smartphone, Sanyo dll)
  • perbaikan kendaraan
  • perbaikan kecil rumah (genteng bocor, lampu putus, kunci rusak dll)
  • biaya sosial (iuran Agustusan, sumbangan slametan, sumbangan hajatan, tilik bayi, bezuk, takziyah)
  • biaya dokter+obat

Tanpa tahu persis berapa banyak jenis pengeluaran rumah tangga kita, sangat sulit untuk patuh. Harus ke dokter, karena nggak nyiapkan amplop dokter, akhirnya pakai uang di amplop belanja bulanan. Kekurangan belanja bulanan kita ambilkan dari amplop lauk-pauk. Sini kurang, ambil dari sana. Sana kurang, ambil dari sini. Terasa seperti lingkaran setan.

Kedua: pastikan kita punya paling nggak satu rekening yang dananya kita siapkan khusus untuk semua pengeluaran yang nggak punya amplop

Ini fungsi Dana Talangan. Dana yang kita siapkan khusus untuk darurat kecil. Artinya pengeluaran yang nggak rutin setiap bulan atau setiap minggu atau setiap hari yang nggak bisa kita tunda atau hindari. Contohnya ya pengeluaran-pengeluaran yang sering luput dari perhitungan yang ku-list tadi. Dana utk nalangi pengeluaran-pengeluaran seperti ini jangan dipegang tunai. Baiknya pisahkan dari rekening gaji dan dari rekening tabungan.

Ketiga: gunakan sistem ini hanya untuk:

1. Pengeluaran yang bisa kita pastikan dan tetapkan

Yaitu pengeluaran yang bisa kita perkirakan sebulannya habis berapa. Contoh: pengeluaran belanja bulanan. Setelah setahunan berumah-tangga mestinya sudah bisa bikin daftar belanja bulanan yang bisa dipakai terus, sudah bisa memastikan habisnya berapa. Kalau toh perkiraan kita meleset, nggak terlalu jauh dan nggak terus-terusan meleset. Kalau sampai setahun terus-terusan mbleset berarti anggaran belanja bulanan kita harus dikoreksi dulu, daftar belanjaan harus direvisi dulu, kebiasaan belanja harus dirubah dulu, sebelum Sistem Amplop bisa efektif.

2. Pengeluaran yang sedikit-sedikit tapi terus-menerus, yang sifatnya harian atau mingguan

Pengeluaran seperti ini yang dapat manfaat paling besar dari Sistem Amplop. Yang keluarnya tiap hari atau sering baiknya kendalikan per minggu. Lebih gampang. Dana satu bulannya bagi lagi dalam 4-5 amplop sejumlah minggu dalam bulan itu.

Kalau mengendalikan per minggu masih juga selalu habis sebelum waktunya, coba kendalikan per hari, pakai amplop harian. Istri teman kerjaku menerapkan sistem amplop harian untuk suami dan anaknya. Satu amplop berlaku utk semua pengeluaran mereka selama satu hari (transport+jajan utk anaknya; bensin+parkir+makan siang+rokok utk suaminya).

3. Pengeluaran yang relatif bebas dari campur-tangan dan/atau penilaian orang

Pengeluaran yang bagi kita menyangkut harga diri bukan untuk Sistem Amplop. Begitu juga dengan pengeluaran yang “disetir” pihak luar. Malah bikin frustasi.

Pengeluaran apa yang termasuk dalam pengeluaran harga diri pastinya beda-beda di tiap keluarga. Ada yang di penampilan, ada yang di slametan/hajatan, macam-macam lah. Dalam kasus ini baiknya siapkan dana khusus di luar Dana Talangan. Begitu juga dengan pengeluaran yang “disetir” pihak luar.

Mestinya ada yang mbatin, “Gimana bisa punya dana khusus kalau nyisihkan penghasilan nggak bisa???

I get it.

Yang bisa kita lakukan adalah memastikan penghasilan tetap/gaji bisa nutup semua kebutuhan rumah tangga termasuk rekreasi dan selalu punya Dana Talangan 1-3 juta. Dengan begitu pemasukan selain gaji seperti uang tambahan yang masuknya dari kita, ceperan dan bonus tahunan suami, uang dikasih/hadiah dan uang warisan nggak habis terpakai untuk senang-senang, nutup butuh, nutup defisit atau ngelunasi hutang.

Alternatif lain adalah menjual harta benda atau menahan diri dari membeli aset atau berinvestasi. Kesehatan mental kita dan ketentraman rumah tangga lebih penting daripada harta-benda dan aset. Salurkan ke rekening Dana Taktis atau mungkin bisa juga disebut Dana Waras atau Dana Penangkal Gugatan Cerai.

Prinsipnya adalah kalau kita memang sangat kesulitan mengendalikan pengeluaran tertentu maka siapkan dana khusus, ambilkan dari pemasukan selain gaji, pengelolaannya harus terpisah dari belanja rumah tangga.

Akan tetapi yang menurutku lebih baik adalah duduk dan me-review orang-orang di sekeliling kita. Pastikan kita tidak dikelilingi (=bergaul rapat dengan) orang-orang yang tingkat penghasilannya di atas kita atau yang penghormatannya ke otonomi kita-suami memprihatinkan yang seringnya justru orang-orang terdekat seperti orang tua, mertua, adik-kakak dan ipar. Belajar lah menarik batas, bersikap tegas.

Kalau kita sudah dikelilingi orang-orang yang tingkat penghasilannya sama dengan kita atau bahkan di bawah kita, kita-suami independen dalam mengambil keputusan, tapi masih juga sangat kesulitan mengendalikan pengeluaran-pengeluaran tertentu, berarti harus duduk untuk merenungkan apa yang sesungguhnya kita cari dalam hidup ini.

Kalau amplopnya seperti ini, uang di dalamnya mungkin nggandhol kalau dikeluarkan. (Foto nyomot dari Pinterest)

Postingan ini kututup dengan pertanyaan:

Pernahkah menghitung berapa persen dari penghasilan tiap bulan yang kita siapkan untuk masa depan keluarga?

2 Comments Add yours

  1. kie says:

    Loving this post. Numpang ngamus Mbak Rinda, antara dana talangan dan asuransi jiwa mana yg harus didahulukan? Yg harus diasuransikan cuma suami aja ya, sbg sole bread winner?

    1. Rinda says:

      Kalau betul-betul hanya bisa menyisihkan untuk salah satu: Dana Talangan. Nggak usah banyak-banyak. Di keuangan <10 juta per bulan dana 1-3 juta mestinya cukup. Kita harus selalu punya simpanan yang bisa ditarik sewaktu-waktu. Tanpa itu akan sangat sulit hidup dengan anggaran.

      Iya, asuransi jiwa untuk pencari nafkah aja. Aku ambil asuransi jiwa buat jaminan kesehatan. Waktu itu belum ada BPJS. Kebanyakan perusahaan asuransi nggabungkan asuransi apapun dg asuransi jiwa. Yang dijual terpisah biasanya preminya mahal.

      Ada beberapa hal penting tentang asuransi yang aku baru tahu setelah mendalami ajarannya Dave Ramsey. Kusimpan untuk Live/Story di Instagram.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s