Master-Budget Bagian III: Kerja Matematika

Mari mulai mengutak-atik angkanya. Langsung praktek aja. Kita pakai pengeluaran suamiku dengan asumsi dia masih lajang. Pengeluaranku semasa gadis kusimpan untuk Bagian IV. Di bagian akhir postingan kutulis kapan cara ngatur pemasukan seperti yang akan kuuraikan di bawah ini efektif, kapan bisa dipastikan gagal.

Langkah#1: Sisihkan Dulu, Belanjakan Sisanya

Ini berarti merubah urutan keluarnya uang. Yang tadinya pengeluaran tetap Biaya Hidup (uang kos dan belanja toiletries di supermarket/minimarket) keluar duluan sebelum yang lain-lain menjadi:

  1. Tabungan Home-Theater
  2. Tabungan Silaturahim Sekeluarga ke Madura
  3. Tabungan Mobil

Mengingat ketidakmampuan suamiku nabung, nggak apa tujuan nabungnya buat pengeluaran Gaya Hidup. Harus merasakan dulu manfaat bisa menabung sebelum bisa/mau bersoro-soro menabung demi ketahanan keuangan (DP rumah, Dana Darurat, asuransi kesehatan dan Dana Pensiun).

Masih mengingat ketidakmampuannya menabung tadi, menyisihkan penghasilan untuk 3 tujuan sekaligus kemungkinan besar bikin males-gamang memulai atau gampang putus di tengah jalan. Baiknya satu aja. Pilih yang paling cepat kesampaian. Kalau bisa nggak lebih dari 1 tahun. Lebih bagus lagi kalau paling cepat kesampaian+paling nyenangkan hati karena akan nge-boost motivasi mencapai tujuan nabung berikutnya. Juga motivasi nambah setoran tabungan per bulannya.

Perhitungkan kecenderungan kita saat menentukan berapa yang akan kita sisihkan tiap bulan, cara nyisihkannya dan harus diambilkan dari uang apa.

Yang sangat kesulitan nyisihkan:

  1. Ambil dari pemasukan tetap seperti gaji.
  2. Ambil tabungan yang setorannya dipotongkan secara otomatis atau yang kita malu kalau nggak setor seperti arisan.
  3. Ambil tabungan yang nggak bisa ditarik sewaktu-waktu seperti tabungan berjangka.
  4. Mulai dengan setoran bulanan 5-10% gaji. Terus naikkan seiring waktu. Kalau bisa sampai 30% gaji. Yang masih lajang dan nggak nanggung orang tua bisa lebih dari 30% asal kuat mental.

Sekali lagi, perhitungkan kecenderungan masing-masing. Ada yang tabungannya “aman” kalau dirupakan emas perhiasan. Ada yang justru lebih gampang menyisihkan penghasilan nggak tetapnya karena harus sembunyi-sembunyi dari istri/suami. Cari yang paling efektif di kita. Pasti ada. Cari sampai ketemu.

Langkah#2: Untuk Semua Yang Bisa Dipastikan Jauh-Jauh Hari, Rencanakan

Dalam kasus suamiku: pajak motor dan perpanjangan SIM/STNK. Latih diri tidak memasrahkan pengeluaran-pasti seperti ini ke gaji/pemasukan di bulan jatuh tempo meskipun bisa.

Maksudku gini, gaji suamiku sekarang rata-rata 6.5 juta per bulan. Pajak motor, perpanjangan STNK dan memperbaharui SIM masing-masingnya nggak sampai 750 ribu. Nggak berat lah diambilkan dari gaji di bulan jatuh tempo. Nggak sampai harus hutang. Masalahnya: kalau untuk kebutuhan yang bisa ditutup dengan 1/5 gaji aja kita nggak bisa merencanakan jauh-jauh hari, gimana dengan yang berkali-kali lipat gaji seperti DP rumah?

Mulailah nyisihkan paling nggak beberapa bulan sebelum jatuh tempo. Dalam kasus suamiku yang bisa kupastikan nggak akan bisa, langsung aja ditotal setahun itu butuh berapa untuk pajak dan/atau perpanjangan SIM/STNK, bagi 12 bulan, ketemunya berapa lalu minta koperasi karyawan motong otomatis sejumlah itu dari gaji setiap bulannya, terus, jangan putus, selama motor masih ada. Kalau ada mobil ya potongkan juga sekalian. Sebisa mungkin uang gaji yang diterima suamiku tiap bulannya net, bersih, hanya sebanyak yang bisa dihabiskan di bulan itu.

Langkah#3: Penghasilan Nggak Tetap Untuk Pengeluaran Tetap

Pemasukan suamiku selama aku kenal dia bukan cuma gaji.

  • ceperan harian
  • bonus tahunan
  • THR
  • bagi hasil koperasi karyawan
  • uang lelah (dari membantu teman/kerabatnya dengan nyupir, cari-kirim barang, angkat-angkut barang dll)
  • hadiah/warisan

Bagi suamiku semua sama saja, sama-sama uangnya, buat dibelanjakan. Dan dalam kasus suamiku bisa dipastikan larinya kalau bukan buat nyenangkan diri sendiri ya buat nyenangkan orang lain. Pendeknya habis bersih buat semua yang ingin dan senang dia lakukan tapi nggak bisa dibiayai gaji karena gajinya dapat, habis, dapat, habis.

Yang lebih baik adalah menyiapkan tugas khusus untuk tiap-tiap pemasukan selain gaji di atas. Dulukan untuk pengeluaran tetap yaitu pengeluaran yang normalnya diambilkan dari gaji.

Contoh.

Ceperan harian tugaskan untuk membiayai makan sehari-hari dan bensin. Dengan demikian gaji bebas dari 2 pengeluaran rutin. Tingkat tabungan/investasi dan sedekah bisa kita naikkan.

Karena bonus tahunan dan bagi hasil koperasi karyawan masing-masing dapatnya setahun sekali, tugaskan untuk pengeluaran yang setahun cukup 1-2 kali seperti belanja baju-kelengkapannya atau beli peralatan rumah tangga. Tapi pastikan tugas itu lepas sepenuhnya dari tanggungan gaji. Andai kita tetapkan baju-kelengkapannya sebagai tugas bonus tahunan, beli lah baju untuk kebutuhan setahun seperti baju kondangan, nyetok pakaian dalam dan kaos kaki termasuk baju Lebaran dengan uang itu. Bebaskan gaji dan THR dari beli-beli baju kecuali yang sifatnya darurat misal ada hajatan keluarga yang kita harus pakai seragam kemeja batik dan harus beli celana panjang warna putih buat padanannya karena nggak punya.

Uang lelah dapatnya kan sedikit, 100-300 ribu, dan sewaktu-waktu. Untuk pemasukan seperti ini yang paling baik dikumpulkan untuk pengeluaran setahun sekali seperti pajak/SIM/STNK tadi, biaya Lebaran atau kurban. Akan tetapi, mengingat suamiku nggak akan bisa ngumpulkan, langsung aja dibelanjakan dengan catatan untuk yang sekiranya bisa ngurangi beban gaji. Paket data yang masa berlakunya setahun? Token listrik? Stok balsem, minyak angin, tolak angin Sido Muncul dan obat-obatan bebas untuk batuk, pilek dan demam? Stok sabun, shampoo, odol, sikat gigi, minyak rambut dan deodorant? Terserah. Yang penting adalah pengeluaran itu bisa dihapus dari tanggungan gaji.

Dalam kasus suamiku THR pasti habis buat Lebaran. Kebanyakan dari kita malah nggak cukup. Yang serius pingin keuangannya membaik tanpa nambah penghasilan:

Tantangan#1: Pastikan THR cukup. Kalau Lebaran jatuhnya di tengah apalagi awal bulan, sisihkan cukup uang untuk makan sampai gajian berikutnya. Jangan ditaruh di rekening. Pasti amblast.

Tantangan#2: Kalau sudah bisa mencukupkan THR, nggak defisit di bulan Lebaran, naikkan tingkat kesulitannya: belanjakan sebagian THR, sebelum mudik, untuk kebutuhan selain kebutuhan Lebaran.

Tantangan#3: Kalau itu sudah bisa, naikkan tingkat kesulitannya: sisihkan sebagian THR untuk tabungan jangka panjang seperti DP rumah.

Tantangan#Akhir: Pencapaian tertinggi adalah bisa menyisihkan 100% THR untuk tabungan jangka panjang. Lha biaya Lebarannya gimana? Cicil dengan gaji atau tabung dari pemasukan nggak tetap.

Gaji kita kurangi bebannya sedikit demi sedikit dengan mengoptimalkan penghasilan/pemasukan nggak tetap untuk pengeluaran tetap.

Itu jalan pintas naikkan kemampuan menyisihkan.

Langkah#4: Semua “Darurat” Yang Bisa Dipastikan Akal Harus Disiapkan Dananya

Taklukkan mindset “yang penting sehat; uang bisa dicari“. Tetap berlaku dalam kasus suamiku yang biaya dokter dan obat ditanggung perusahaan. Karena harus ditalangi dengan uang sendiri dulu. Sama perusahaan diganti bulan depannya. Tetap aja: jangan kasbon, jangan hutang, meskipun kita bisa langsung bayar bulan depannya. Logikanya itu tadi: kalau untuk pengeluaran yang nggak sampai 1/5 gaji harus dibantu, gimana bisa punya rumah? Gimana bisa bantu orang tua yang pensiun tanpa penghasilan tanpa Askes? Gimana bisa nguliahkan anak? Gimana bisa berkurban? Gimana bisa naik haji?

Sekarang ini, kalau aku dengar omongan “yang penting sehat“, kuamati pengeluaran yang bersangkutan. Kalau uangnya habis buat sedekah menolong mereka yang kesulitan dan mendanai perjuangan/pergerakan untuk kemaslahatan, kuaminkan. Tapi kalau uangnya habis buat biaya hidup, gaya hidup, biaya sosial, ngejar mimpi atau usaha yang merugi, cara orang tersebut dengan uang adalah pelajaran.

Pelajaran. Untuk. Tidak. Dicontoh.

Simpanan untuk pengeluaran darurat ini sifatnya harus disegerakan. Bagi penghasilan di bawah 10 juta, simpanan 1-3 juta mestinya cukup. Ini yang kusebut Dana Talangan. Dalam kasus suamiku yang nggak bisa nabungnya parah, harus dipotongkan otomatis dari gaji. Langsung potong 500 ribu – 1 juta sebulan supaya genap 3 juta dalam 3-6 bulan. Harus dipaksa. Toh uang makan dan bensin bisa diambilkan dari ceperan, nggak harus “puasa”.

Bagi yang relatif bisa menabung, optimalkan pemasukan nggak tetap yang icrit-icrit dan sewaktu-waktu seperti uang lelah suamiku untuk memastikan saldo simpanan darurat ini nggak kurang dari 1-3 juta meski bolak-balik ditarik. Satu lagi: meski 1-3 juta cukup, alangkah baiknya kalau bisa digenapkan sebesar satu bulan gaji.

Bagi yang non-PNS apalagi karyawan kontrak, penting sekali punya Dana Darurat sebesar 3-6 bulan gaji. Ini di luar Dana Talangan. Dana Talangan kita siapkan untuk darurat kecil seperti dokter-obat, ganti ban motor, memperbaiki kompor gas dan semacamnya. Dana Darurat kita siapkan untuk nyambung hidup saat kontrak kerja habis dan nggak diperpanjang atau mendadak di-PHK. Supaya cari-cari pekerjaan lain bisa dengan pikiran tenang. Anak-istri tetap bisa makan, tetap bisa bayar cicilan motor.

Belajar lah untuk nggak ikut arus pola pengelolaan gaji 10 juta ke bawah: gaji habis buat cicilan dan biaya hidup, penghasilan/pemasukan-nggak-tetap habis buat senang-senang, beli-beli, nyenangkan hati dan/atau nambal defisit.

Langkah#5: Belanjakan Sesuai Batas Yang Kita Tetapkan Sendiri

Jangan dipasrahkan ke berapa yg kita dapat. Pas dapat banyak: banca’an, pas dapat sedikit: puasa. Itu pola pengeluarannya anak TK. Usahakan uang yang keluar stabil, dalam batas yang kita tetapkan sendiri mau itu dapat sedikit ataupun banyak, dapat kurang dari biasanya ataupun lebih dari biasanya.

Langkah#5 ini harusnya kutaruh di atas. Selama kita nggak bisa mematuhi batas yang kita tetapkan sendiri, melakukan 4 langkah yang kusebut sebelum ini pasti sulitnya luar biasa. Kalau nggak bisa dibilang mustahil.

Berdasar Ilmu Titen, berikut akar-akar dari sangat sulitnya seseorang menetapkan batas untuk dirinya sendiri:

Satu: Nggak tahu dan nggak mau tahu pemasukan-pengeluarannya. Maka yang serius pingin bisa patuh anggaran: pahami betul pemasukan kita dari mana aja dan berapa, pengeluaran kita buat apa aja dan berapa. Catat. Kita nggak akan betul-betul tahu sampai kita menjadikan aliran keluar-masuk uang kita tertulis. Jangan kira-kira, jangan modal Catatan Mental. Angka-angkanya harus akurat.

Dua: Pergaulannya sangat luas. Bukan cuma dalam artian jumlah orangnya tapi juga wilayah geografisnya. Maka yang serius pingin bisa patuh anggaran: kurangi pergaulan dan pusatkan kehidupan di rumah. Aku bukannya nyuruh jadi anti-sosial, ngurung diri di rumah. Belajar lah membangun dan menjaga hubungan baik dengan orang-orang yang tepat, untuk alasan/kepentingan yang tepat, dengan cara-cara yang tidak mengandalkan uang.

Tiga: Sangat dipengaruhi pemikiran/penilaian orang tentang dirinya. Aku nggak bisa nawarkan solusi apapun untuk akar yang satu ini.

Empat: Harus banyak ngempet, selalu mengalah, terus-menerus berkorban, kehendak-kehendak terbesarnya nggak kesampaian. Aku juga nggak bisa ngomong apa-apa tentang akar yang satu ini.

Masih berdasar Ilmu Titen, berikut yang kulihat memudahkan seseorang menetapkan batas untuk pengeluaran-pengeluarannya sendiri dan mematuhinya:

  1. Kreatif dan skillful
  2. Cinta rumah dan keluarga
  3. Punya tujuan hidup dan/atau passion

Kalau tiga itu terlalu berat, coba yang 3 berikut ini. Kuterapkan ke suamiku buat ngasih gambaran yang gamblang harus apa dan bagaimana untuk bisa hidup dengan budget ketika mengatur-kendalikan pengeluaran terasa sangat sulit bagi kita.

1. Mengganti kebiasaan

Suamiku sangat menikmati belanja di minimarket/supermarket. Melihat jajaran barang teratur rapi di rak, bisa milih-milih, membandingkan berbagai produk, membuatnya bahagia. Yang dia nanti-nanti di awal bulan adalah belanja keperluan mandinya kalau bisa di supermarket. Minimal di minimarket. Dalam seminggu 2-3 kali ke minimarket.

Ini kebiasaan mahal. Pertama, profit margin minimarket/supermarket lebar. Selisihnya dengan toko kelontong –khususnya milik orang keturunan Tionghoa– jauh. Kedua, di tempat-tempat belanja yang mengandalkan strategi pemasaran diskon, kita cenderung membeli yang kita nggak butuh. Berangkat niatnya beli apa, pulang bawa apa. Tapi aku tahu persis suamiku nggak akan bisa mindah tempat belanjanya ke toko kelontong apalagi pasar. Nggak bisa aja. Dia terlalu menikmatinya.

Dalam situasi seperti ini, pikirkan untuk mengganti “kebiasaan-kebiasaan kecil” dalam kebiasaan besar yang sangat sulit kita ganti/rubah tadi. Biasanya begitu gajian, coba ganti hanya setelah semua tagihan kita bayar. Biasanya hari Minggu, ganti sepulang kerja. Biasanya yang mau dibeli dipikir di tempat, ganti mikirnya sebelum berangkat. Biasanya pakai catatan mental, ganti bawa catatan. Biasanya apa aja dibeli, ganti hanya membeli barang-barang tertentu. Biasanya berangkat sewaktu-waktu, ganti hanya setelah kenyang makan-minum.

2. Membatasi dengan menteraturkan

Masih contoh yang sama. Secara umum mengatur-kendalikan yang teratur, rutin, berkala, nggak terasa terlalu berat.

Siapkan pos pengeluaran Indomaret/Alfamart di master-budget. Karena di sini kita berasumsi suamiku masih bujang, pos belanja bulanan alihkan untuk ini. Jangan ditulis “belanja bulanan” karena suamiku butuh seringnya.

Catat untuk dapat data akurat sebulan ke minimarket berapa kali, rata-rata sekali datang habis berapa, yang dibeli apa aja. Setelah punya informasi itu jadwalkan per minggu nggak lebih dari sekian kali ke minimarket, per datang nggak menghabiskan lebih dari sekian rupiah.

3. Master-list

Yaitu daftar tertulis yang kita buat dengan cara trial & error seiring waktu. Pada dasarnya kita mengumpulkan informasi. Setiap kali nemu sesuatu yang bisa membantu kita di aktivitas yang sama di kali berikutnya, tulis. Sesederhana itu. Kekuatannya ada di tertulisnya. Pakai bahasa contoh aja.

Master-List I yang isinya barang-barang yang sangat kita sukai atau butuhkan yang adanya cuma di Indomaret/Alfamart. Membantu kita melemahkan pengaruh diskon.

Master-List II yang isinya barang-barang yang jatuhnya lebih menguntungkan kalau belinya di Indomaret/Alfamart. Membantu kita membatasi diri hanya membeli barang-barang tertentu.

Master-List III yang isinya semua kegiatan yang sangat kita nikmati seperti kita menikmati belanja di Indomaret/Alfamart. Membantu kita untuk nggak cuma ngempet andai harus ngurangi atau bahkan berhenti belanja di Indomaret/Alfamart.

Pendeknya master-list mengumpulkan informasi berharga yang menguntungkan kita (dalam hal ini membantu kita mengatur-kendalikan pengeluaran).

This would literally send my husband off to the moon! (Photo credit: http://www.lifewire.com)

Terakhir.

Pertama: pengaturan seperti ini efektif untuk keuangan gali saldo tutup saldo atau yang nggak pernah bisa nabung tapi relatif bisa menahan diri dari berhutang. Nggak akan ngaruh di mereka yang keuangannya gali lubang tutup lubang atau yang harus dibantu untuk bisa makan dan bayar tagihan air-listrik. Entah itu “dibantu” kartu kredit, Penggadaian, bank, koperasi, orang tua, anak, tetangga; apapun dan siapapun. Jadi yang kumaksud di sini sebetulnya bukan harus dibantu karena penghasilannya di bawah garis kemiskinan tapi “harus dibantu” karena nggak bisa/mau hidup sesuai tingkat penghasilannya sendiri.

Kedua: ada batasan-batasan Matematika yang harus kita hormati. Pengeluaran kebutuhan dasar pangan, papan, transportasi dan papan jangan ditekan mati-matian di bawah UMR. Ngorbankan kelayakan.

Khusus untuk non-PNS:

Kalau punya cicilan kreditan, totalnya jangan lebih dari 30% penghasilan. Lebih dari itu pasti gali lubang tutup lubang. Harga beli mobil jangan lebih dari 6 bulan gaji. Lebih dari itu pasti nggak bisa nabung buat kesejahteraan jangka panjang (dana darurat, pendidikan tinggi anak dan masa pensiun). Jangan beli rumah dulu sebelum punya simpanan untuk kebutuhan darurat dan ngelunasi semua cicilan+hutang lain. Ambil yang cicilan per bulannya nggak lebih dari 30% penghasilan tetap. Hindari masa cicilan lebih dari 15 tahun. Sama dengan mobil tadi, melanggar batasan-batasan itu berarti mengorbankan kesejahteraan jangka panjang. Terasanya nanti setelah anak-anak masuk usia kuliah terutama begitu pencari nafkah masuk usia pensiun.

Master-budget yang kubuat untuk ngatur pengeluaran suamiku (dengan asumsi dia masih lajang) berdasar 5 langkah di atas bisa dilihat di sini. Yang kupakai bukan penghasilannya sekarang tapi penghasilannya sebelum kami nikah (UMR tanpa uang makan, uang lembur dan ceperan).

Kenapa?

Untuk bisa sampai di penghasilannya sekarang dia harus pindah kerja 3 kali, melepas posisi karyawan tetap. Dapat posisi tetap lagi setelah 6 tahunan jadi karyawan kontrak. Itu butuh keberanian yang dia nggak punya sebelum menikah. Maka sebagai lajang kemungkinan besar penghasilannya di bawah sekarang. Andai pun penghasilannya sama seperti sekarang, bisa kupastikan separuh atau bahkan lebih habis untuk cicilan motor, mobil atau dua-duanya. Juga bisa kupastikan milih kamar kos 1.5 juta per bulan. Yang ada AC-nya.

Yang harus kutekankan, berapapun penghasilannya, angka-angkanya sesungguhnya tidak lebih penting dari:

  1. Pengeluaran apa aja yang kita masukkan dalam master-budget
  2. Urutan ngeluarkan uang
  3. Per pengeluarannya diambilkan dari uang apa
  4. Yang harus dikumpulkan dulu dan yang harus “diamankan” dari tangan kita sendiri harus disimpan di mana, dalam bentuk apa.

Wow! Postingan ini padet sekali informasinya. Aku yang nulis aja harus baca berulang-kali dan belum hapal-hapal juga.

Jangan sungkan untuk tanya-tanya. Kalau nggak mau dibaca orang banyak, kirim ke mz_newconcept@yahoo.com.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s