Membangun Gaya Hidup Sesuai (Atau Di Bawah) Tingkat Penghasilan Dengan Medsos

Berikut 3 aturan/kebijakan yang menentukan apa yang ku-share di medsos. Tiga ini yang justru menjadikan medsos pilar kekuatanku hidup sesuai tingkat penghasilan, mengkonfrontasi ekspektasiku sendiri akan uang dan gaya hidup ideal termasuk ngasih kekuatan nolak nuruti ekspektasi orang.

Aturan#1: Niat mendulang like tapi yang tanpa perlu “mbayar”

Yang kumaksud bukan beli follower dan like. Tegasnya gini: andai medsos diharamkan, semua yang ku-posting selama ini tetap aja kulakukan. Semuanya kan keseharian, berpusat di rumah. Nggak akan bayar tiket 55 ribu-nya Claket Adventure Park (10 menit dari rumah) yang didirikan khusus untuk foto-foto instagrammable.

Mengertilah ‘like’ medsos punya kekuatan luar biasa.

Bagi IRT terisolasi sepertiku, like yang kita dapat harian bisa jadi satu-satunya penghargaan/pengakuan, satu-satunya yang membuat diri-IRT kita merasa berharga. Tanpa sadar, pelan tapi pasti, kita akan terus nambah porsi segala sesuatu yg gampang-banyak dapat like. Kalau itu selfi, ya makin sering selfi. Kalau itu traveling, ya makin sering traveling. Kalau itu pernik yang kita beli, ya makin sering beli. Kalau itu makan di luar, ya makin sering makan di luar. Kalau itu status supermom ya makin ngoyo jadi supermom. Karena itu lah aku hampir nggak pernah nge-post selfi, makan di luar, trip/traveling/rekreasi atau beli-beliku.

Bisa dibilang aku memanfaatkan para follower. Cari pengakuan dan penghargaan dari follower. Akan tetapi: ini yang nyalahi tren, membatasi diri hanya mencari pengakuan dan penghargaan atas kerja dan keseharianku sebagai IRT yang sekiranya bermanfaat untuk orang lain. Supaya semangat menjalani hari, dapat kepuasan hidup, merasa fulfilled, dari jadi IRT. Aturan ini juga yang memastikan 3-4 jam online per hari nggak cuma buang-buang waktu; nge-scroll tanpa tujuan, nge-stalk orang-orang dari masa lalu, membanding-bandingkan hidupku dengan hidupnya orang.

Kalau ada yang mbatin, “Tapi nggak ada yg istimewa dari keseharian dan kerja IRT-ku. Nggak bisa nulis seperti kamu. Nggak berani blak-blakan seperti kamu gitu,” kujawab dengan Kebijakan No.2 dan No.3.

Aturan#2: Selalu ngomong soal bagaimana atau mengapa

Maksudku di caption. Juga Story.

Ngomong soal bagaimana atau mengapa bikin receh jadi content.

Mereka yang tampilannya seperti Sophia Latjuba, nge-share postingan lagi jongkok di depan tiang listrik pun dikeplok’i orang sak-Indonesia. Yang bukan Sophia apalagi yang hari-harinya memang jongkok di depan tiang listrik jangan berharap efek yg sama. Karena nggak ngasih nilai ke dirinya sendiri, ke follower apalagi.

Nge-share soal Pacet yang hijau, upload foto-foto rumahku yang halamannya luas, sudah bisa menarik perhatian orang kota yang hidupnya desak-desakan, kemana pun mata memandang yang dilihat tembok. Akan tetapi: bandingkan dengan nge-share tentang kenapa pindah dari kota metropolitan seperti Surabaya ke kota kecamatan seperti Pacet, caraku nata rumah supaya kelihatan seolah nggak ditinggali biar orang mau nyewa dan seterusnya. Pikir sendiri mana yang ngasih nilai ke diriku sendiri sekaligus follower.

Aturan nge-share yang ini kurasa bisa menjelaskan dirinya sendiri. Kalau masih kurang, boleh lihat postingan #bukanjagomasak (30-40 postingan terbawah yang ditampilkan). Awal tahun lalu caption 30 postingan masak harianku selama Nopember 2016 kutulis ulang. Tiga puluh tiga puluhnya. Makan hampir 2 minggu. Dari apa yang kumasak hari itu kutulis ulang jadi apa yang kulakukan demi ngurangi makan-jajan di luar dengan anggaran mepet dan ketrampilan masak pas-pasan.

Kebijakan nge-share ini yang bikin Impression-ku (berapa kali postingan Feed dan Story kita dilihat) tinggi. Dua sampai lima kali lipat Reach (berapa orang lihat postingan kita). Itu artinya postingan-postinganku dilihat-baca berulang-ulang.

Yang merasa nggak bisa ngajari apapun ke siapapun:

Sejatinya ngajar atau bagi-bagi ilmu bukan soal nunjukkan kelebihan kita sendiri atau soal kita ngatur orang tapi soal “ngangkat” orang lain. Siapapun yang niatnya tulus ngangkat orang –bukan ngangkat dirinya sendiri– punya kemampuan ngajar via medsos. Mikirnya jangan ngajari orang sekabupaten. Jangan membatasi diri di ilmu mentereng seperti Rekayasa Genetika atau ilmu komersial seperti cara cepat cari uang dengan Instagram. Selalu ada yang bisa kita share untuk ngangkat orang. Akan selalu ada orang yang bisa belajar dari page kita. Syaratnya cuma feed yang kompak dan terarah, yang dibangun dengan kebijakan editorial. Berhubungan dengan aturanku No.3.

Aturan#3: Mau korban waktu-pikiran memastikan akun kita berkontribusi ke gaya hidup hemat

Nggak harus gaya hidup hemat. Ini khusus yang pingin membangun kekuatan mental demi mengatur-kendalikan pengeluaran.

Kita nggak bisa memperbaiki keuangan (tanpa nambah penghasilan secara dramatis) tanpa kekuatan mental.

Pertanyaan berikutnya: haruskah jadi master gaya hidup hemat untuk berkontribusi?

Seperti yang dibilang Pak Mario Teguh: “Semakin kita menempel ke suatu masalah, semakin jelas jalan keluarnya“. Nggak harus mumpuni dulu di pergayahiduphematan. Hanya perlu mau repot nggak dibayar. Pelan tapi pasti akun kita akan jadi magnet masalah (tempat tanya, curhat, “sandaran jiwa”, sasaran skeptis, ragu sampai sebel) sekaligus solusi (bank ide, cara, informasi) dalam pergayahiduphematan.

Prosesku mungkin bisa lebih menjelaskan.

Akun Instagramku mulainya dari garage sale. Mulai dengan 200 kurang dikit follower yang kudapat secara otomatis karena mereka teman Facebook. Lebih dari 100-nya meng-unfollow begitu feed kubombardir dengan foto barang-barang yang kujual.

Setelah pindah ke Pacet, barang dah banyak yang laku, nggak kenal siapa-siapa di Pacet, harus bertahan dengan pegangan 500 ribu per bulan (nggak termasuk listrik, susu-popok, gaji Mbak Dama), Instagram jadi temanku mikir, bukan teman curhat. Sama Instagram dikenalkan ke akun-akun Barat (karena yang ku-follow akun-akun Barat). Kupilih akun desain dan akun yang content-nya gaya hidup hemat. Yang pertama ku-follow dan pengaruhnya besar sekali: @jordanpage (dulu @funcheaporfree).

Ini yg menarik.

Makin aku mendalami (=mencoba) cara-cara berhematnya ditambah kenal akun-akun #debtfreecommunity lewat @anorganizedlife dan kemudian @daveramsey, pikiranku jadi makin kritis ke gaya hidup hemat orang Barat, makin pandai menggali ide/cara, nutup bolong-bolongnya supaya bisa diterapkan di konteks IRT negara dunia ke-3.

Contoh:

Jordan memang 2 tahunan hidup soro demi nyaur hutang tapi dia dan rumah tangganya bisa seperti sekarang lebih karena usaha suaminya sukses besar. Penghasilan mereka naik drastis dalam waktu 5 tahunan. Yang dia tawarkan adalah gaya hidup hemat di konteks tingkat penghasilan kelas atas negara dunia ke-1 pula. Tingkat kesulitan hematnya tingkat penghasilan tinggi nggak bisa disamakan dengan tingkat penghasilan pas-pasan. Ada begitu banyak pertanyaan yg dia nggak punya jawabannya.

Bisa aja bohong kutulis “Alhamdulillah, akhirnya bisa bikin puding lapis”. I won’t. Ini yang akan kutulis: “Baru tahu alpukat jadi pahit kalau dididihkan dengan agar-agarnya. Oh well, paling nggak yang lapisan coklatnya bisa dimakan. Dan nambah stok foto. Dan sekarang tahu untuk mencoba hanya resep yang dilengkapi tip-&-teknik di Cookpad. “Guru dapur” yang niat pasti mewanti-wanti alpukatnya jangan dimasak.”

Aku tahu ini kedengaran sangat aneh: memanfaatkan medsos untuk membangun kekuatan mental.

Kenapa nggak?

Share the battle, not the fear. Share the fight, not the pain.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s