Tampil Mahal Dengan Scarf Dan Selendang

Hidup di bawah tingkat penghasilan nggak terasa menyiksa bila kita punya yang kusebut Ilmu Ngangkat Derajat;

Ilmu membuat segala sesuatu kelihatan lebih mahal dari aslinya, membuat segala sesuatu yang kita ‘pegang’ kelihatan lebih bagus dari awalnya.

Aku nggak akan ngaku-ngaku master di bidang ini. Di lingkungan kelas atas ya kebanting. Kebanting dengan tanda seru. Hukum ‘ada harga ada rupa’ tetap berlaku. Tapi di lingkungan kelas menengah-bawah (bayangkan lingkungan bersepeda motor atau bermobil satu, sekelas Xenia, belinya bekas), kalau nggak kukasih tahu orang nggak akan tahu barangku 90%-nya lungsuran, suamiku pekerja kerah biru dengan bayaran UMR (uang lembur+ceperan+jaminan kesehatan).

Sejak gadis sebetulnya orang sudah muji barang-barangku (‘bagus-bagus!’) dan gayaku berpakaian (‘sederhana tapi anggun’). Masalahnya dulu itu modal barang-barang baru hasil beli sendiri, milih-milih sendiri. Ada yang dibelikan tapi tetap aku yang milih. Tingkat kesulitannya nggak bisa disamakan dengan bagus modal barang lungsuran atau barang baru pilihan orang. Lima tahunan ini mulai sering kudengar pujian untuk interior rumahku dan tampilan Rafi. Jadi maafkan kalau sombong merasa punya Ilmu Ngangkat Derajat level intermediate.

Semoga dalam 3 tahun ini bisa naik ke level advance…

Terinspirasi dari kerudung sisa oleh-oleh umrah dan selendang almarhum ibuku yang kulisting seharga 15-45 ribu di Shopee, pingin merapikan isi kepala tentang gimana scarf dan syal (yang pada prinsipnya sama saja dengan selendang) bisa bikin baju murah-meriah kelihatan mahal, baju biasa kelihatan istimewa.


Tengok tokoku di Shopee untuk “semua yang bagus tapi harganya miring karena preloved, repurposed atau obralan yang dikumpulkan satu demi satu dengan jiwa kurator. Harga di bawah 50 ribu (kecuali barang koleksi, branded dan impor).”


Kerudung segi empat berbahan tipis ini misalnya.

Yang terlintas di kepala perempuan berkerudung bisa kupastikan hanya buat kerudung.

Gini, yang pingin tampilannya kelihatan mahal dengan penghasilan UMR:

Prinsip#1: Hanya memakai bahan polos berwarna netral seperti putih, coklat susu, biru dongker atau hitam untuk baju.

Prinsip#2: Tambah warna-warna pastel yang ringan seperti merah muda, hijau dan biru untuk kerudung tapi tetap hanya bahan polos. Pilih yang bikin kulit kelihatan bersih, yang bagus dipadankan dengan warna netral pilihan kita. Contoh: baju biru dongker kan nggak masuk dipadankan dengan kerudung hijau.

Prinsip#3: Setelah punya tas-sepatu-arloji dalam satu warna netral putih atau hitam atau coklat, boleh tambah warna-warna berani seperti merah, hijau pupus atau oranye. Warna ‘berani’ favoritku datangnya dari alam: tembaga dan emas. Sama: batasi diri di bahan polos. Nggak apa bertekstur atau bermotif timbul asal satu warna jadi dari jauh terlihat polos.

Dengan kata lain hindari bahan bermotif untuk baju, kerudung, tas dan sepatu.

Dengan Ilmu Ngangkat Derajat level intermediate-ku ini kerudung segi empat bercorak seperti di foto di atas nggak kupakai sebagai kerudung. Lebih ngangkat penampilan kalau dipakai sebagai aksesoris.

Mungkin harus kutekankan. Kerudung kusamakan dengan blus, kubedakan dari rambut dan topi. Nilainya ada di menutup dan nyamannya, bukan di kemampuannya menghias kepala. Kerudung 1001-gaya gadis hijabers bikin tampilan trendi memang. Cuma, yang kelihatan mahal itu tampilan elegan, klasik, tidak berbatas waktu, tidak berbatas umur. Semua yang trendi sejatinya penuh batasan.

Gaya elegan “mainnya” bukan di baju (kerudung termasuk di dalamnya) tapi di aksesoris. Bagi yang berhijab itu berarti bros, cincin, gelang & arloji, kalung berantai panjang, scarf-selendang dan mungkin kacamata hitam.

Kubilang mungkin karena kacamata hitam pemakaiannya terbatas dan ngasih kesan angkuh-sombong di tempat-tempat tertentu seperti di kota kecil.

Yang masih belum teryakinkan scarf dan selendang bisa ngangkat penampilan, perhatikan foto-foto yang kutemu di Pinterest ini.

Gaya#1: Dipakai sebagai choker

Atau rapat mengikat leher. Perhatikan gimana biasanya bajunya. Scarf-nya itu bikin tampilan ini secara keseluruhan naik kelas dari biasa ke gaya.

Gaya#2: Dipakai sebagai kalung

Ada 1001 gaya memakai scarf-selendang sebagai kalung. Yang di foto ini belum pernah kulihat sebelumnya. Tinggal nambah kalung untuk ‘cincin’ yang akan mempertemukan ujung selendang dari sebelah kiri dan kanan. Ini ide pemanfaatan selendang polos + kalung/gelang manik plastik (yang kesan murahnya menculek-culek mata) yang brilian!

Gaya#3: Dipakai sebagai dasi

Suka sekali lihat ini karena scarfnya bukan scarf simbol status seperti Hermes. Scarf polkadot seperti ini sih bisa beli di Pasar Gedongan. Beli kainnya terus bawa ke tukang jahit untuk diobras.

Ngefans berat ke gaya monokromatis; dari atas ke bawah satu warna khususnya warna netral seperti putih, hitam, coklat dan biru dongker. Cuma gaya monokromatis memang kelihatan monoton di kita yang berwajah dan tubuh dekat dengan nggak ideal. Scarf ini obat penawarnya.

Kenapa aku melebihkan aksesoris?

Ketika kita berusaha tampil istimewa modal baju thok, kita cenderung milih baju yang terdiri dari 2 potong lebih, baju yang penuh-rame hiasan, baju yang detil hiasannya rumit. Pendeknya baju-baju yang nggak bisa sering-sering kita pakai karena nggak nyaman dan terlalu berlebihan untuk kegiatan sehari-hari. Istimewanya kita taruh di harganya, di bajunya itu sendiri, bukan di kemampuannya ngangkat kita.

Satu kunci hidup di bawah tingkat penghasilan adalah membatasi jumlah barang pribadi.

Supaya nggak kelihatan seperti orang susah, sedikitnya barang ini harus diciptakan oleh multifungsinya. Itu berlaku juga untuk isi lemari. Sebisa mungkin per potongnya nyaman dipakai sehari-hari tapi bisa dibuat pantes untuk kegiatan bukan sehari-hari. Pendeknya bisa diupgrade dengan aksesoris dalam hal ini scarf dan selendang. Jadi pilih baju yang minimal detil/hiasan, yang sederhana dari segi model, tapi bangun koleksi aksesoris yang bisa bikin baju-baju kita tampil isimewa. Yang seperti itu lebih rendah-biaya daripada ngoleksi berbagai macam model dan warna baju.

Misal:

Contoh#1: Padankan blus polos berpotongan sederhana dengan scarf dan kalung berantai panjang atau tebal atau berliontin besar untuk tampilan smart-casual yang pantes untuk acara seminar di hotel berbintang.

Contoh#2: Padankan dengan baju warna gelap yang ngasih kesan formal untuk tampilan mewah. Pakai sebagai luaran gantinya jaket atau cardigan (pilih yang lebar dan berbahan halus-licin). Pantes buat naik Air Asia ke Kuala Lumpur. Biar nggak dikira TKW. Nggak berlama-lama di loket imigrasi di bandara.

Contoh#3: Padankan dengan blus berbahan licin-halus. Pilih scarf yang juga berbahan licin-halus, yang mengandung warna yang sama dengan bawahannya (di sini hitam). Pantes buat kondangan di hotel berbintang.

Terus-terang aksesoris yang satu ini menguntungkan mereka yang tidak berhijab. Setelah kupikir lama, dengan beberapa catatan, gaya pemakaian di bawah ini mungkin bisa dicoba untuk mengupgrade gaya berpakaian berhijab dengan scarf dan selendang.

Sebagai kalung panjang

Catatan#1: Pilih baju 1-2 potong bergaris lurus sederhana seperti gamis dan baju kurung. Menurutku tampilan keseluruhannya nggak bagus kalau celana panjang+blus+hijab masih ditambah lagi dengan scarf atau selendang. Andai harus pakai celana, pilih celana panjang berpotongan pipa, padankan dengan tunik yang panjangnya hampir selutut. Andai harus pakai celana dan blus sepinggang, padankan dengan celana kulot.

Sebagai “latar” kalung panjang berliontin besar

Catatan#2: Kaku di gaya monokromatis. Jadikan warna baju dan hijab sama persis atau paling nggak senada. Scarf dan selendangnya boleh beda warna tapi pastikan kalau baju warna pekat, scarf-selendangnya juga pekat meski beda warna. Begitu juga kalau baju warna muda, pilih scarf-selendang yang juga muda meski beda warna. Kalau scarf-selendang bercorak, pastikan warna baju-hijab adalah salah satu warna di scarf-selendang. Lebih bagus kalau warna dominan scarf-selendang = warna baju. Biar nggak rebutan cari perhatian mata.

Selendang yang dibiarkan menjulur, dipakai dengan kalung panjang

Catatan#3: Pastikan bahan scarf-selendang punya “berat” yang sama dengan bahan baju. Scarf dari sutra yang berkesan ringan jangan dipadankan dengan baju berbahan tebal seperti denim yang berkesan berat. Biar nggak saingan.

Scarf segiempat besar yang dilipat lebar lalu dibiarkan menjulur, sekilas seperti rompi panjang

Catatan#4: Aku pribadi kurang suka lihat gaya berkerudung Inneke Koesherawati yang dibelitkan ketat di leher atau dimasukkan ke dalam baju. Dengan scarf dan selendang pun tetap kuhindari gaya berkerudung seperti itu. Yang lebih bagus di mataku adalah yang ujungnya dibiarkan sedikit menjuntai. Tapi bagaimanapun scarf dan selendang nggak ada gunanya dipakai dengan hijab yang menjulur sampai menutup pinggul.

Gaya berhijab yang ngasih ruang untuk gaya pemakaian scarf dan selendang seperti 4 foto di atas menurutku yang seperti ini:

Ringan, berpotongan sederhana (supaya nggak kuat-kuatan dengan scarf-selendangnya), menjulur tapi berhenti sedikit di bawah dada dan di pundak. Sekali lagi: pastikan baju-kerudung satu warna.

Di toko Shopee-ku ada yang bahannya kurang-lebih seperti yang di foto ini:

Ini dia:

Paling nggak sama bagian pinggirnya: nggak diobras. Kujual murah aja, 15 ribu. Ini baru dalam artian belum pernah dipakai. Bukan aku yang beli. Dari dulu yang kubeli sendiri hanya kerudung berbahan polos. Sisi baliknya berwarna biru. Beli satu seolah dapat dua scarf yang berbeda.


Tengok tokoku di Shopee untuk “semua yang bagus tapi harganya miring karena preloved, repurposed atau obralan yang dikumpulkan satu demi satu dengan jiwa kurator. Harga di bawah 50 ribu (kecuali barang koleksi, branded dan impor).”


Terakhir, yang bertanya-tanya siapa ibu anggun yang fotonya kusalahgunakan di sini, aku nggak tahu namanya. Kalau kita menjelajah topik scarf di Pinterest, foto ibu ini bertaburan. Kulacak dan akhirnya ketemu di Mai Tai Collection di Instagram. Rupanya dia tinggal di Prancis dan jualan insert tas branded (kurang-lebih liner untuk melindungi bagian dalam tas). Dia jenius scarf dan syal!

Pingin lebih sering menghasilkan postingan praktis seperti ini. Yang berikutnya di catatan mentalku: gimana ngasah kemampuan bahasa Inggris modal novel bekas. Ada 10-an novel impor 25-55 ribu yang kulisting di Shopee.

Karena hidup di bawah tingkat penghasilan nggak bisa modal ngempet. Harus pintar-pintar. Ibarat naik mobil, beli-belinya diturunkan ke gigi satu tapi skill-buildingnya dinaikkan ke gigi empat kalau takut nubruk dengan gigi lima.

Setuju?

One Comment Add yours

  1. Reyne Raea says:

    Keren dan lucu mba tampilannya.
    Kalau saya, fashion adalah apa yang saya rasa nyaman dipakai.
    Jadi.. kadang apa yang saya pakai ga sesuai menurut orang, tapi kalau saya merasa nyaman dan suka ya saya pakai saja hahaha.
    Saya sering niru2 fashion kekinian, yang menurut pakar lagi in.
    Adanya saya merasa aneh dan ga nyaman.
    Tapi, lepas dari segalanya, saya sangat setuju, hidup dengan penghasilan pas2an atau di bawahnya itu, wajib banget lebih kreatif 🙂

Leave a Reply to Reyne Raea Cancel reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s