[Seri Rumah Bahasa] 3 Prinsip Belajar Bahasa Inggris Sebagai Bahasa Kedua

Ada lebih dari satu cara untuk melakukan segala sesuatu. Termasuk cara belajar Bahasa Inggris. Kita mungkin harus melalui debat kusir yang sangat panjang dan melelahkan sebelum bisa menyepakati cara efektif belajar Bahasa Inggris. Malah mungkin harus jambak-jambak’an dulu untuk sepakat tentang definisi “efektif”.

Kebanyakan orang pasti mengartikan cara “efektif” sebagai cara yang paling cepat atau yang paling gampang. Sebagian lagi mungkin mengartikan cara yang paling murah. Nah, pemahaman akan cara “efektif” yang luput dari pemahaman mainstream tentang metode belajar Bahasa Inggris adalah cara yang menjamin kefasihan. Luput karena cara yang satu ini, sayangnya, tidak cepat. Bisa dibuat rendah-biaya tapi nggak bisa dicepatkan.

So, if you’re looking for someone to show you how to master English in 3 months, you’re in the wrong site.

Tapi bagi yang mencari tip belajar Bahasa Inggris rendah biaya yang akan mengantar pada fasih: Welcome to the club!

Berikut adalah tiga prinsip dasar yang harus dipatuhi selama mempelajari Bahasa Inggris kalau yang kita kejar adalah menguasai Bahasa Inggris sebagai bahasa kedua.

Rule#1: Spend more time working on the basic

Yang kumaksud basic di sini: basic grammar dan structure. Tapi tolong: yang kumaksud bukan menghabiskan bertahun-tahun mengerjakan soal basic grammar atau menghapal rumus rupa-rupa tense (yang ngalah-ngalahi jajan pasar) itu.

Struktur dan tata bahasa Indonesia dan bahasa Jawa sama aja. Ketika kita belajar bahasa Jawa, yang kita pelajari hanya kosakata dan yang berkaitan dengan kosakata seperti pelafalan. Untuk bicara dalam Bahasa Jawa cukup dengan mengganti kata-kata bahasa Indonesianya. “Saya mencari anak-anak” jadi “Kulo madhosi lare-lare”; empat kata jadi empat kata juga. Tapi kalau makna itu kita katakan dalam bahasa Inggris, “I’m looking for the kids”, jumlah katanya nambah, jadi enam.

  1. Ada tiga aturan bahasa dalam kalimat itu yang nggak ada dalam bahasa Indonesia:
  • Tense; nyari anak-anaknya kemarin atau sekarang atau tiap hari nggak merubah bentuk kata kerjanya, tetap “mencari”
  • Phrasal verb; “look” kalau ketambahan “for” berubah maknanya; dalam bahasa kita kata depan nggak sebanyak dalam bahasa Inggris dan hanya digunakan dengan kata benda
  • Definite article; kata “si” dan “sang” kurang-lebih bisa lah menggantikan kata “the” tapi hanya dalam konteks tertentu karena dua kata itu nggak punya fungsi menunjuk “the“; “I’m looking for kids” artinya sudah beda dengan “I’m looking for THE kids“.
  1. Ada satu aturan yang beda dengan bahasa Indonesia: untuk menunjukkan jumlah lebih dari satu kita mengulang bendanya, mereka dikasih akhiran “s/es” dan banyak aturan bentuk jamak lain yang kalau dibandingkan dengan aturan bahasa Indonesia tentang tunggal/jamak kesimpulannya cuma ruwet.

Yang harus kita pahami, aturan-aturan ini bukan untuk dihapal melainkan untuk ditanamkan di kepala tanpa sadar. Jadi jangan bosan hari ini baca tulisan pendek tentang habit, besoknya mewawancarai teman tentang hobinya, besok bikin to-do list, besoknya lagi merespon pertanyaan “Tell me about yourself”; sampai 3 bulan mutar aja di situ karena sesungguhnya yang sedang kita lakukan adalah menanamkan aturan-aturan simple present tense tanpa sadar supaya kalimat seperti “I’m study at Airlangga University” nggak sampai keluar dari mulut. Juga supaya nggak perlu loading dulu untuk bilang “I don’t have his address. Does Nita have his number?” Orang yang nggak cukup lama menghabiskan waktu belajarnya di tingkat dasar pasti kesulitan bikin dua kalimat itu tanpa mikir atau tanpa salah. Yang harusnya ‘don’t’ jadi ‘not’ polosan, ‘his’ jadi ‘her’, ‘does’ jadi ‘do‘, ‘do‘ jadi ‘is‘, dan seterusnya.

Jadi bersabarlah, makin lama kita menghabiskan waktu di tingkat dasar (=menjalani latihan yang berbeda-beda yang tingkat variasinya sangat tinggi untuk tiap-tiap satu aturan bahasa), makin mulus juga perjalanan kita ke tingkat mahir.

Tip: Buat catatan harian untuk meaningful drill menerapkan simple present, simple past dan future tense. Jangan mempelajari tense lain sebelum menguasai tiga itu.

Rule#2: Mind your level of exposure

Pernah lihat orang kita dengar presentasi 30 menitnya orang bule via video YouTube dan si orang kita ini bisa menangkap satu per satu kata? Pernah terpikir berapa jam terbang listening-nya untuk bisa sampai ke level itu? Atau seseorang yang menamatkan buku berbahasa Inggris setebal bantal tanpa sekalipun nengok kamus? Pernah terpikir berapa jam terbang reading-nya?

Ditarik ke tingkat yang sangat sederhana, seseorang bisa menguasai sebuah bahasa, mau itu bahasa ibu atau bahasa asing, karena terpenuhinya dua syarat ini di titik tinggi:

  1. The level of exposure>>>tinggi
  2. The need to communicate>>>sama tingginya

Karakteristik umum pembelajar Indonesia adalah kelewat bernafsu ngomong Inggris. Maunya yang ada di kepala bisa langsung “ceprut!” keluar dari mulut. Nggak cukup sabar mengumpulkan jam terbang mendengar dan membaca.

Iya, benar, kemampuan pasif (listening/reading) sebagus apapun nggak ada artinya tanpa kemampuan aktif (speaking/writing) tapi itu sama sekali bukan berarti kalau kita “Hajar Bleh!” ngomong Inggris lama-lama pasti fasih. Cara itu hanya bisa diterapkan kalau kita hidup di lingkungan native di mana respon/feedback yang kita terima atas penggunaan bahasa Inggris kita sifatnya jujur dan segera. Contoh: nggak bisa melafalkan “egg” dengan benar saat naruh pesanan di McD sampai kasirnya hah-heh ya harus siap malu dan siap diomeli orang banyak karena nahan antrian.

Jadi bersabarlah, banyakkan jam terbang membaca dan mendengar sembari melakukan latihan ngomong dan nulis yang terkendali (=yang didasarkan pada apa yang kita baca dan dengar, bukan dari apa yang kita pikirkan atau rasakan). Buku-buku pegangan program General English disusun dengan mengingat prinsip ini.

Tip: Jangan ambil program Conversation sebelum menyelesaikan paling tidak level Intermediate program General English.

Rule#3: Get strategic with your communication

Jangan merasa cukup dengan “pokoknya yang diajak ngomong ngerti”. Untuk bisa ngobrol santai dengan bule nggak perlu bahasa Inggris bagus. Bikin tweet, caption atau status medsos juga nggak perlu fasih. Tapi: untuk bisa “dianggap” sama direktur tingkat Asia-Pasifik yang lagi kunjungan inspeksi di meja meeting perusahaan cabang tempat kita bekerja, haruskah kujelaskan?
Yang sungguhan pingin bisa, cari lah tujuan-tujuan berkomunikasi yang bikin kita pusing.

Lebih jauh soal ini kusimpan untuk postingan berikutnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s