Master-Budget: Bagian IV

PERINGATAN: Ini tulisan hampir 3000 kata yang ruwet. Sepertinya harus baca berulang kali dalam waktu sekian hari. Mungkin juga perlu sekian bulan. Aku sendiri andai disodori ini artikel Juni 2011 nggak sanggup baca sampai habis. Dah pening di Prinsip#1. Tapi setelah jungkir-balik selama hampir 8 tahun berumah-tangga, bisa kupastikan semua yang kuuraikan di bawah ini lah yang bisa merubah nasibku 5-10 tahun kemudian meski jodohku tetap operator forklift, pekerjaanku tetap ngajar Bahasa Inggris tanpa status PNS, orang tuaku nggak ninggali “villa” di Pacet.

Sampai lah kita di tahap yang paling menguji kecerdasan, keteguhan dan etos kerja. Di tahap ini kita akan ngatur pengeluaran demi:

  1. Melindungi diri dan keluarga dari kesulitan keuangan
  2. Menaikkan tingkat penghasilan

Baru bisa sampai di tahap ini kalau kita sudah bisa:

  1. Menyisihkan penghasilan untuk pengeluaran non-rutin yang nggak bisa kita tunda atau hindari. Uang nggak lagi cuma mampir; begitu masuk langsung keluar, begitu dapat langsung habis.
  2. Menjaga diri dari hutang nggak peduli itu hutang ke kartu kredit, Penggadaian, bank, koperasi atau orang tua.

Kupakai daftar pengeluaranku semasa gadis sebagai contoh penerapan karena kurang-lebih per 2008, setahun sejak memutuskan jadi guru lepas, sampai nikah di pertengahan 2011, dengan penghasilan 2-4 juta sebulan sanggup menyisihkan dan lepas dari hutang. Tolong diingat angka segitu itu angkanya lajang yang masih ikut orang tua. Orang tua mapan pula. Bagi yang berumah-tangga butuh beberapa kali lipatnya. Kujadikan contoh karena mau masih lajang atau sudah berumah-tangga prinsip-prinsip pengaturan pengeluaran untuk tahap IV ini sama. Yang akan kuuraikan di sini prinsip-prinsipnya.

Prinsip#1: Membangun pondasi ketahanan keuangan

Dalam kasusku berarti penghasilan tetap + dana darurat + asuransi kesehatan. Tiga itu karena aku pekerja lepas, penghasilan naik-turun dan kerja tanpa jaminan apapun. Tugas pertama adalah men-tetap-kan pengeluaran setiap bulannya meskipun pemasukan nggak tetap.

Berikut langkah-langkahnya.

Satu: mencari angka rata-rata penghasilanku per bulan. Hitung hanya pemasukan yang bisa diandalkan dalam jangka panjang. Uang dikasih orang tua jangan dihitung. Ambil angka rata-ratanya dalam setahun. Lebih akurat. Taruhlah penghasilanku rata-rata 2.5 juta/bulan.

Dua: karena nggak ada tanggungan, masih ikut orang tua, orang tua berlebih-lebih pula, mestinya bisa nyisihkan >10% dari 2.5 juta tadi untuk dana darurat yang jumlahnya paling sedikit 2.5 juta juga. Cukup buat nalangi pengeluaranku selama sebulan. Untuk yang berumah-tangga usahakan ngumpul sampai cukup buat nalangi pengeluaran selama 3-6 bulan. Dana darurat ini harus dipisah dari rekening tabungan.

Tiga: memastikan pengeluaran rutinku di angka yang sama setiap bulan, tidak melebihi 2.5 juta tadi meski di bulan itu dapat kerjaan penerjemah yang bayarannya 5 juta. Di bulan-bulan dapat kurang dari 2.5 juta, ambil kekurangannya dari dana darurat. Dengan catatan: kembalikan saldo dana darurat ke 2.5 juta secepatnya.

Dengan 3 langkah itu bisa punya pola pemasukan karyawan tetap meski kerja lepas, uang masuk seicrit-icrit dari sekian kelas, nggak bisa dipastikan terimanya tanggal berapa, nggak ngajar karena sakit ya nggak dibayar.

Tolong diperhatikan pondasi ketahanan keuangan nggak mutlak sama untuk semua orang atau semua rumah-tangga. Karyawan tetap di perusahaan yang sahamnya dijual di pasar bursa nggak perlu bingung men-tetap-kan penghasilan dan menjamin kesehatannya sendiri. Itu urusan perusahaan. Karyawan kontrak yang sulit dapat kerja ceritanya lain lagi. Begitu juga dengan rumah tangga yang orang tua dan mertua sama-sama mapan. Pondasi ketahanan keuangannya nggak sama dengan rumah tangga yang orang tua dan/atau mertuanya pensiun tanpa penghasilan dan askes.

Ini pengaruh sekali ke pemahaman kita akan segenting apa men-tetap-kan penghasilan, segenting apa punya dana darurat dan berapa yang harus kita kumpulkan untuk dana darurat itu tadi yang pada gilirannya menentukan berapa yang bisa kita belanjakan untuk biaya hidup, kebutuhan non-darurat dan keinginan.

Prinsip#2: Memastikan semua pos pengeluaran berkontribusi ke upaya menambah penghasilan

Nggak harus berkontribusi langsung seperti pengeluaran bensin dan alat bantu ngajar. Mungkin lebih gampang kalau kita berpikir dalam kerangka ini: dari semua pengeluaran, mana yang seandainya dihilangkan pun kita tetap bisa menghasilkan uang? Nah, untuk pengeluaran-pengeluaran yang bisa kita identifikasi dengan kerangka pikir itu, hilangkan atau kurangi.

Nggak pakai ngitung dulu juga bisa kupastikan uang yang kukeluarkan untuk biaya sosial (mantenan, lahiran, menjenguk di RS, kematian, sunatan, ngasih gitu aja tanpa alasan, traktiran, beli jajanan/hadiah untuk menyenangkan orang rumah/saudara/teman/murid) terlalu banyak kalau kita ukur dari kontribusinya ke penghasilan. Kalau diukur dari senangnya hati ya memang kurang.

Lalu pengeluaran demi aktif di Toastmasters. Memang sih dapat kelas dan kerjaan penerjemah berbayaran tinggi dari aktif di Toastmasters. Sayangnya nggak pernah ngitung selisih antara berapa yang kudapat dengan berapa yang harus kukeluarkan. Terasa untung aja karena pengeluarannya sedikit-sedikit sedangkan pemasukannya sekali dapat langsung besar. Kalau nggak dicatat kita nggak akan betul-betul tahu. Yang sedikit tapi sering biasanya jatuhnya lebih banyak daripada segepok tapi sesekali.

Sama sekali bukannya bilang Toastmasters merugikan. Bagi yang sedang membangun karir di bidang public speaking atau di dunia corporate, Toastmasters merupakan investasi tidak ternilai. Di negara asalnya sana program Toastmasters lebih murah dibanding makan di McD. Masalahnya kita ini kan negara dunia ketiga yang menghargai 1 dolar dengan 15.000 mata uang kita sendiri. Toastmasters bukan organisasinya mereka yang penghasilannya 10 juta ke bawah dari bidang-bidang non-public speaking dan non-corporate.

Bagi yang penghasilannya kecil, penting sekali memprioritaskan diri sendiri dan keluarga sebelum yang lain-lain. Aktif di organisasi/komunitas formal atau informal yang didanai secara swadaya bisa sangat membebani keuangan. Perhatikan dua hal ini: tingkat penghasilan orang-orang yang aktif di organisasi tersebut dan seberapa mahal kegiatan-kegiatannya (standar tempatnya, standar konsumsinya, kode berpakaiannya dll).

Prinsip#3: Menyiapkan pos pengeluaran khusus untuk menaikkan tingkat penghasilan

Kita nggak bisa berharap nambah penghasilan tanpa keluar modal sama sekali. Pengertian “modal” di sini beda-beda antara mereka yang penghasilannya dari dagang, dari bekerja di perusahaan besar, dari bekerja di perusahaan kecil, dari bekerja di pemerintah, dari usaha rumahan, dari klien perusahaan/lembaga atau dari klien perorangan sepertiku. Ambil S2 nggak pengaruh ke penghasilan dari usaha rumahan. Meng-upgrade penampilan nggak pengaruh ke penghasilan dari posisi PNS. Punya mobil dan home-office nggak pengaruh ke penghasilan pekerja kantoran.

Mengingat penghasilan kita kecil, sebisa mungkin cari yang tingkat resikonya nol, yang sesegera mungkin menaikkan penghasilan. Hindari ikhtiar tebak-tebak berhadiah seperti:

  • resign untuk buka usaha (minimalkan resiko dengan menjalani dua-duanya untuk sementara waktu supaya keputusan resign nggak dikendalikan perasaan)
  • resign untuk gabung MLM atau jadi agen asuransi semata-mata karena capek jadi karyawan atau merasa diperas dengan jadi karyawan
  • nitip modal di usahanya orang yang menjanjikan untung besar
  • skema kaya-raya mendadak yang semliwer di internet
  • skema menghasilkan uang sambil traveling atau duduk di rumah yang juga semliwer di internet

Selalu jadikan sumber penghasilan kita sekarang + perenungan mendalam tentang kekuatan dan kelemahan kita + mengumpulkan informasi dari orang-orang yang sudah melakoni jalur yang kita pilih sebagai patokan pengambilan keputusan. Pilih satu jalur menaikkan tingkat penghasilan berdasarkan efektifitasnya dan keberlanjutannya. Kuliah lagi kah? Pekerjaan yang sama tapi di lain perusahaan yang bisa menggaji lebih tinggi? Self-employed? All out buka usaha sendiri? Memulai usaha sampingan? Ganti pekerjaan yang sama sekali berbeda dengan pekerjaan yang sekarang? Satu kerja full-time + satu kerja part-time mungkin?

Aku misalnya, kekuatanku di ketrampilan bahasa dan mengajarkannya. Membangun “karir” dari mengajar bahasa Inggris sudah tepat. Mengingat aku ini bukan tipe guru yang cara mengajarnya menyenangkan, sekolah dan kursusan yang pasarnya anak-anak bukan untukku. Ladangku itu bahasa Inggris untuk kebutuhan khusus, yang kebanyakan guru kursusan nggak mau ambil, yang bayarannya nggak sumbut dengan kerja otaknya karena harus bikin materi dan sistem evaluasi sendiri. Yang kubutuhkan kursusan yang mau mempercayakan kelas-kelas khususnya.

Dari pengalaman bisa kupastikan guru kursusan pribumi yang bisa milih kelas hanya yang kualifikasi-kompetensinya tinggi. Jam terbang tinggi + punya gelar S2 yang relevan atau sertifikasi internasional. Pengalaman aja nggak cukup. Dari situ bisa kita putuskan jalur cepat sekaligus jangka panjangku: kuliah lagi demi dapat posisi ngajar di universitas/sekolah tinggi/akademi atau ambil sertifikasi lalu gabung kursusan kelas atas, yang kebutuhannya akan bahasa Inggris bukan karena ujian sekolah. Dua posisi itu yang akan terus mendatangkan murid/klien privat.

Masih dari pengalaman, pasar kelas menengah dan kelas bawah mencintaiku. Entah kenapa nggak pandai aja menempatkan diri di kalangan kelas atas. Nah, kecuali bisa memantapkan hati bergerak di lingkungan kelas atas atau bisa dapat klien-klien perusahaan-ku sendiri, dengan berat hati Toastmasters baiknya kutinggal. Kalau toh memutuskan tetap aktif, dengan catatan tertulis dan terperinci harus kupastikan pemasukan dari aktif di Toastmasters lebih besar dari pengeluarannya. Harus menyiapkan pos khusus. Begitu pengeluarannya nggak bisa diatasi dengan pemasukannya, itu rambu untuk berhenti.

Kalau memang penghasilan kita sekarang nggak memungkinkan punya pos khusus, atau nggak ada yang bisa nambah penghasilan kita dalam waktu cepat, pikirkan segala sesuatu yang bisa kita lakukan sekarang tapi efeknya ke penghasilan kelihatan dalam 1-3 tahun yang relatif nggak butuh biaya. Akun IG dan blog yang digarap sungguh-sungguh bisa naikkan tingkat penghasilan mereka yang kerjanya modal keahlian dan usaha kecil/rumahan tapi ya bukan dalam tempo kurang dari setahun.

Memang berat, tapi tolong diingat semua yang kutulis barusan adalah tiket ke kesejahteraan apapun pekerjaan kita, kerja untuk orang atau usaha sendiri, tanpa status PNS, tanpa suami sukses.

Juga berlaku untuk IRT lho!

Prinsip#4: Memastikan 25-30% penghasilan cukup dan bisa disisihkan untuk membeli rumah

Pertama: ngekos nggak bagus untuk kehidupan berumah-tangga sedangkan untuk ngontrak rumah 2-kamar di Surabaya dan Sidoarjo harus nyisihkan hampir sejuta sebulan. Ada yang kontraknya kurang dari 10 juta per tahun tapi dapatnya susahnya setengah mati atau rumah petak yang nggak beda jauh dengan ngekos atau terlalu jauh dari tempat kerja. Konyol aja lah penghasilan 6.5 juta, sejutanya buat ngontrak, sisanya yang 5.5 juta habis buat biaya hidup jadi nggak bisa nabung buat DP rumah, berpuluh tahun harus ngontrak, anak makin besar rumah makin nggak kebeli. Lebih konyol lagi kalau harus hutang demi ngontrak seperti pengalamanku di tahun ke-2 berumah-tangga.

Lalu biaya perbaikannya. Di Indonesia biaya yang keluar buat tambahan fungsional seperti nambah pintu biar tikus nggak masuk dan perbaikan seperti mengganti engsel pintu rusak selama kita tinggal di rumah kontrakan dibebankan ke kita. Ada yang harus nanggung pajak bumi dan bangunannya. Sama aja dengan membiayai rumah sendiri. Karena itu tinggal di rumah sendiri termasuk salah satu pondasi ketahanan keuangan bagi penghasilan kurang dari 10 juta.

Kenapa nggak kusatukan dengan penghasilan tetap, asuransi kesehatan dan dana darurat di Prinsip#1?

Karena punya rumah sendiri juga bisa jadi beternak kesulitan keuangan. Yang mengantar kita pada poin kedua.

Kedua: non-PNS yang karena satu dan lain alasan penghasilannya nggak bisa mencapai minimal 2x UMR setelah 10 tahun masa kerja maka kesempatannya punya rumah akan terus berkurang setelah berumah-tangga kalau hanya salah satu yang bekerja. Kalau toh bisa harus dibantu orang tua atau subsidi pemerintah dan selama masa nyicil keuangan rumah tangga pasti terasa sangat sempit. Aku bukannya bilang harus beli rumah sebelum menikah. Aku bilang ada beberapa hal yang harus kita upayakan sebelum berumah-tangga yang menurutku merupakan waktu paling tepat buat ngoyo nambah penghasilan + menabung.

Pertimbangkan 3 pertanyaan ini sebelum merasa nyaman di pekerjaan dan penghasilan yang sekarang:

  1. Dengan penghasilan sekarang bisa nggak ngumpulkan DP untuk rumah tipe 36 di wilayah yang jarak tempuhnya nggak lebih dari satu jam dari tempat kerja kita dalam waktu 5 tahun atau kurang?
  2. 25-30% dari penghasilan sekarang ini cukup nggak buat cicilan rumah tipe 36 berjangka 15 tahun di wilayah yang jarak tempuhnya nggak lebih dari satu jam dari tempat kerja?
  3. Bisa nggak hidup aman-tentram secara fisik dan psikologis dengan 70-75% penghasilan yang sekarang? Mutusi bisa-nggaknya harus dengan cara dijalani, nggak bisa dengan hitung-hitungan di atas kertas.

Kalau jawaban untuk No.1 sampai 3 “tidak” semua, lalu kita maksa beli rumah, yang ada cashflow keluarnya lebih deras daripada masuknya. Nyicil rumah sendiri tapi akhir bulan harus kas bon demi beras.

Yang lebih baik daripada ngoyo nyicil rumah adalah mengerahkan energi, waktu dan uang untuk menambah penghasilan dan/atau menyamankan hidup dengan paling banyak 70-75% penghasilan. Semua orang kalau kepepet juga bisa tapi nggak semua orang bisa hidup nyaman, merasa longgar, dengan 70-75% penghasilannya.

Betul-betul manfaatkan masa lajang atau masa belum ada anak bagi yang sudah berumah tangga untuk nata keuangan baik dalam hal pemasukan maupun pengeluaran. Jangan bingung dengan punya rumah dulu. Bingung lah di mendesain gaya hidup di bawah tingkat penghasilan, di nambah kualifikasi mengkilaukan CV, membangun keahlian yang dihargai tinggi, memperluas jaringan kerja, merintis usaha sampingan; semua yang bisa menaikkan tingkat penghasilan.

Satu Tip Penting: Strategi Subtitusi Dan Kompensasi

Menjalankan anggaran yang dirancang untuk melindungi diri-keluarga dan menaikkan tingkat penghasilan harus siap “dihalangi” dari kiri, kanan, atas, bawah. Pasti adaaa aja. Berasa ‘me against the world’. Orang jadi nyinyir ketika kita nggak royal atau murah hati ke teman-tetangga-saudara khususnya bila kita dipandang mampu oleh lingkungan sosial. Hukumnya seperti ini: makin lebih kita di mata orang, harus makin royal juga. Supaya anggaran di tahap ini bisa jalan, kita harus punya strategi berkenaan “mata orang” dan “teman-tetangga-saudara”. Sangat nggak kusarankan maju terus pantang mundur modal muka tembok.

Yang diajarkan pengalaman pribadi sejauh ini:

Keep a low profile. Hindari menjadi menonjol karena materi kecuali kalau itu bisa menambah tingkat penghasilan kita. Contoh: guru les yang kompetensinya biasa-biasa aja tapi alat transportasinya mobil bisa matok tarif 2-3 kali lipatnya guru yang kompetensinya di atas rata-rata tapi ke mana-mana sepeda motoran. Merayakan ultah anak dengan pesta bukan untuk penghasilan di bawah 10 juta tapi lain lagi ceritanya kalau misal kita sedang merintis usaha event organizer.

Di sisi lain, bantu orang-orang menaruh hormat ke kita dan keluarga. Kita nggak bisa berharap orang nggak nyinyir atau ngeremehkan semata-mata karena kita nggak nyinyir atau ngeremehkan mereka. Sudah nggak mempan. Berlaku untuk orang asing maupun yang bertalian darah, untuk yang kenal dekat maupun yang cuma kenal nama. Yang kumaksud adalah menghormati standar yang berlaku umum di lingkungan sosial tempat kita hidup dan bekerja. Kalau memang semua teman sekolah anak merayakan ultah dengan pesta lalu kita memutuskan nggak merayakan ultah anak supaya dananya bisa buat yang lain, pastikan kado-kado yang kita siapkan untuk setiap pesta ultah teman-temannya berkesan, pastikan anak tampil istimewa tiap diundang ke pesta ultah temannya. Itu minimal. Tentu lebih bagus kalau kita juga merayakan dengan pesta. Kecilkan skalanya untuk nekan biaya. Yang penting berkesannya. Atau merayakan setiap 5 tahun sekali. Kalau sangat kesulitan menghormati standar lingkungan sosial yang sekarang, artinya cuma satu: harus ganti lingkungan sosial.

Di sisi satunya lagi, taruh energi dan waktu demi menjadi menonjol karena sebanyak mungkin sebab-sebab non-materi. Pilihannya banyak. Aku punya teman yang bisa mempertahankan reputasi bintang pelajar dari TK sampai S2. Kalau kupikir-pikir bukan karena dia segitu pintarnya tapi karena dia pekerja keras bintang lima belas. Sejak kecil aku sudah punya reputasi di karakter. Sebelum kenal medsos ya terbatas di orang-orang dekat. Begitu ngajar sedikit melebar ke teman kerja dan murid. Sekarang, kalau kupikir-pikir, blog dan akun IG-ku bisa berkembang (meski lajunya ngalah-ngalahi bekicot) ya karena kekuatan karakterku itu.

Lengkapi dengan kekayaan intelektual yang dirupakan dalam bentuk fisik, yang kelihatan mata, lebih bagus kalau bisa dipegang. Manfaatkan kekayaan intelektual ini sebagai modal bermurah-hati. Kita pakai bahasa contoh aja. Orang kalau dengar kata kekayaan intelektual dah lemes duluan.

Selama aku ngajar, karena yang kupegang kelas-kelas khusus, terbiasa bikin materi sendiri. Di mana-mana kursusan cuma nyediakan materi General English. Nggak sekali dua kali didatangi teman kerja yang butuh hand-out atau bahkan nggak tahu harus ngasih materi apa untuk kelas-kelas tertentu atau harus ngapain selama 90 menit sesi conversation privat dengan bapak-bapak. Bukan karena mereka nggak layak ngajar tapi karena nggak punya pengalaman.

Meski pakai buku kumpulan soal yang dibuat bule, setelah sekian kali pegang kelas persiapan TOEFL mini-nya LPIA (3 jam non-stop atau 3 sesi @1.5 jam), bisa menstandarkan materi yang bikin orang berpikir “Oh, ternyata gitu ya TOEFL.” Bukan karena saking hebatnya aku tapi melakukannya berulang-ulang membuatku tahu pain-point-nya orang kita tuh di mana, bisa baca pola soal, nemu soal-soal yang bikin orang yang skornya <500 langsung paham tentang kelemahan tipikalnya sendiri. Itu semua bisa kurupakan lembar silabus, lesson plan tertulis, buku kerja, lembar kerja, pedoman evaluasi hasil belajar, rekaman suara, rekaman video lalu ku-file rapi jadi perpustakaan.

Aduh, kok jauh amat, bisa bikin lembar yang isinya informasi thok aja dah jadi kekayaan intelektual. Coba pikir lembaran kertas A4 yang isinya informasi 10 film box office untuk belajar frase-frase standar di dunia perkantoran atau 10 situs terbaik sumber daya gratis belajar bahasa Inggris dan seterusnya. Menu MPASI yang disusun rapi berdasar kebutuhan khusus seperti alergi protein atau sumber protein non-daging-dagingan kan juga kekayaan intelektual.

Kalau itu ketinggian:

Dengan koleksi sampahku bisa bikin pusat bungkus repurpose dan daur ulang. Kalau semua barang sampah itu kujadikan bentuk siap pakai lalu kutata ala toko lengkap dengan contoh-contoh jadinya biar kelihatan mata, orang melihatnya sebagai harta-benda, bukan koleksi sampah lagi. Apalagi begitu mereka tahu nggak kujual, kusediakan buat siapapun yang mau ambil. Jadi harta karun.

Terakhir, jangan berharap bisa bermurah hati hanya dengan non-materi. Semua yang kuomongkan di atas bukan demi memastikan uang kita nggak kalong [=berkurang]. Rasulullah hartanya habis demi orang lain. Akan selalu ada orang-orang yang membutuhkan kemurah-hatian berupa materi. Yang bisa kita lakukan adalah menyeleksi pos-pos pengeluaran murah hati kunci, yaitu yang sebaiknya ditutup dengan uang. Mindset yang sangat membantuku nyortir: “Aku nggak ngasih salam tempel ke semua orang supaya bisa ngasih A, B dan C sekian, setiap bulan, selama aku atau mereka masih hidup.” Sedikitkan jumlah posnya tapi ajegkan, rutinkan, jangka-panjangkan, buat jadi bisa diandalkan oleh penerima kemurah-hatian kita.

89e4cd75e22b4188c4afff46a296881cfeaab501 (1)
Rumah yang penataannya memfasilitasi acara-acara informal skala kecil seperti pertemuan dan workshop atau rumah belajar atau kafe rumahan juga bisa jadi modal bermurah-hati.

Adakah tahap budgeting yang lebih tinggi dari ini?

Ada. Tahap di mana kita ngatur pengeluaran untuk membangun aset, mengumpulkan harta-benda yang nilainya terus naik seiring waktu dan/atau yang ngasih penghasilan pasif. Yang harus kutekankan, kita harus ada di tingkat penghasilan tertentu dan nyaman hidup di bawah tingkat penghasilan kita sebelum bisa sampai ke tahap itu.

Jadi untuk sementara ini, yang penghasilannya masih di bawah 10 juta atau mungkin sudah tembus 10 juta tapi masih aja gali lubang tutup lubang atau gali saldo tutup saldo, jangan mikir aset dulu, jangan maksa beli rumah, jangan maksa beli mobil.

Cashflow dulu digarap: naikkan tingkat penghasilan dan/atau nyamankan hidup dengan 70-75% penghasilan.

Master-budget yang kubuat berdasarkan prinsip-prinsip di atas untuk daftar pengeluaranku semasa gadis dengan penghasilan rata-rata 2.5 juta per bulan bisa dilihat di sini.

Ada banyak hal yang di sini cuma kusinggung yang sepertinya harus kujelaskan lagi. Kucicil sedikit demi sedikit dengan email dan mungkin video + story di Instagram sepanjang tahun ini. Jadi ya harus langganan newsletter-ku dan ngikuti di Instagram. Terlalu makan waktu kalau semuanya kutaruh di blog. Kurang nyanthol juga.

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s