Yang Bisa Kita Lakukan Saat Merasa Bernasib Buruk

Mungkin karena 100% kesulitan pribadiku berkenaan uang selama ini adanya di level psikis, bukan fisik, jadi sangat peka ke faktor-faktor psikologis dalam keuangan rumah tangga. Kusebut level psikis karena situasiku bukannya harus nahan lapar atau tidur di pinggir jalan. Jauh lah dari ujian berat serupa itu. Tapi di level psikologis pun tetap aja “melumpuhkan”.

Mungkin cerita ini bisa ngasih gambaran.

Temanku punya teman baik. Gadis cantik. Yang naksir banyak. Sampai bingung milih. Ketika dia sudah menjatuhkan pilihan meski tanpa cinta yang berkobar-kobar, masuklah laki-laki kedua. Celakanya si No.2 ini bisa bikin dia jatuh cinta. Kemakan cinta, rencana pernikahan dengan laki-laki No.1 yang sudah dia terima lamarannya dia batalkan sepihak. Menikah lah dia dengan pilihan perasaannya.

Dan hidup berumah-tangga dengan laki-laki yang dia cintai ternyata nggak seindah harapan. Gaji suaminya ngepas buat hidup di Jakarta. Buat ekspektasi seorang perempuan yang gadisnya bisa dibilang jadi rebutan? Kurang banyak. Dia jadi pemarah. Senyumnya hilang. Ditambah laki-laki No.1 di kemudian hari ternyata ada di posisi finansial yang lebih tinggi dibanding suaminya. “Deritanya” nampak sekali di wajahnya.

Derita kutulis dengan tanda kutip karena buat sebagian orang mungkin konyol mengingat suaminya karyawan BUMN.

Dengar cerita itu waktu masih gadis. Yang langsung terlintas di kepalaku, “Salah sendiri, Mbakyu.” Tapi setelah ngerasakan sendiri hidup berumah tangga, harus berjuang menurunkan ekspektasi kelas menengahku, nyalahi ekspektasi lingkungan sosial demi kebaikan rumah tanggaku, aku bersimpati padanya. The struggle is real. Yang nggak ngalami nggak akan paham.

Aku bukannya membenarkan keputusannya membatalkan pinangan demi cinta. Juga bukannya membenarkan sikapnya yang menganggap (penghasilan) suaminya sebagai biang kesengsaraan. Simpatiku karena dalam posisinya sangat sulit untuk tidak merasa hidup kita penuh derita. Kenyataan yang sangat jauh dari ekspektasi sendiri + ekspektasi orang banyak sungguhan terasa sebagai siksaan.

Kabar baiknya, realita nggak berdiri sendiri. Realita bukan variabel bebas. Ada hubungan saling mempengaruhi antara realita dan pikiran. Ya pikiran kita sendiri, ya pikirannya orang-orang penting kita, ya pikirannya orang banyak. Dalam posisi lemah (=unfavorable) seperti posisinya si mbak di atas, kemampuan pikirannya mempengaruhi realitanya sendiri juga ikut lemah. Dalam kasusnya mungkin lebih tepat disebut hilang sama sekali. Bukan lemah lagi. Deritanya makin menjadi-jadi. Itu yang kumaksud melumpuhkan.

Akhir-akhir ini sering mikir, kenapa keuangan rumah tanggaku di Pacet beda jauh dengan di Surabaya. Nggak mungkin aja kalau penjelasannya cuma karena di Pacet nggak ada mal. Juga pastinya bukan karena penghasilan suamiku naik tajam atau karena orang rebutan nyewa rumahku. Yang bisa kupastikan berubah drastis itu pikiranku.

Dengan pindah ke Pacet, keputusan yang menunjukkan keberanian luar biasa ke orang-orang sekitar, kuambil kendali penuh atas pikiran dan ekspektasiku sendiri. Dari situ mulai berani dan bisa membatasi pengaruh pikiran dan ekspektasi orang. Terasa sekali loh. Aku yang sekarang bukan lagi anak manis penurut yang berusaha menyenangkan orang. Bukannya nggak ada harganya. Aku yang sekarang nggak punya teman. Normalnya orang merasa sangat nggak nyaman dengan orang-orang “aneh” sepertiku. Hidupku betul-betul back to basic di segala bidang. Nggak apa. Itu harga yang harus kubayar demi bisa menciptakan realitaku sendiri. Aku ya emoh jalan hidupku seperti jalan hidupnya si mbak di atas. Emoh mati dengan 1001 penyesalan.

Yang ingin kukatakan adalah: kalau selama ini sangat kesulitan megang kendali atas pengeluaran, nggak bisa berhenti merasa jadi bola ping-pong hidup, jiwa gelisah karena begitu banyak yang nggak kesampaian, begitu jauh harapan dari kenyataan, jawabannya mungkin bukan di cara kita yang buruk dengan uang tapi di lemahnya kendali kita atas pikiran kita sendiri. Bisa jadi kalah sama perasaan seperti mbak di atas tadi. Bisa juga kalah sama pikiran orang lain dan/atau pikirannya orang banyak seperti aku pra-Pacet.

Nggak perlu ambil tindakan drastis untuk bisa merubah keadaan asal kita nggak minta hasil instan. Yang ada di pikiran dulu digarap. Minggu Kelabu dalam hidupku yang akan kuceritakan di bawah ini mungkin bisa ngasih gambaran tentang apa yang kumaksud dengan “menggarap pikiran”.

Sudah 2 hari tiap buka keran harus jalan nembus hutan rumput di pekarangan belakang buat ndodog saklar otomatis pompa air padahal pompanya baru beli. Belum genap sebulan.

Ditambah:

Persis sebelum Sanyo rewel, dua hari harus nahan sakit kepala dan nyeri kram perut karena dilep yang perut nggak bisa ditekuk, nggak bisa banyak gerak, harus dibantu obat pereda nyeri. Bersamaan dengan hari Sanyo mulai rewel, langsung disambung nahan perih titik-titik bernanah di sekujur kulit leher karena tomcat. Hari ini titik-titik nanahnya makin banyak.

Ditambah:

Mesin cuci meledak-ledak sambil ngeluarkan percikan api selagi dipakai. Bejat. Beyond. Repair.

Ditambah:

Baru tahu minggu lalu. Nilai tunai asuransi jiwaku di Prudential yang genap 10 tahun per September ini ada di angka 14-sekian juta. Andai tiap bulan naruh jumlah yang sama (di luar biaya asuransi, setoranku 300 ribu per bulan, yang diinvestasikan 200 ribuan) di bawah bantal, dalam 10 tahun ngumpul 24 juta.

Ngumpulkan di bawah bantal, tanpa bunga tanpa bagi hasil, bisa dapat 10 juta lebih banyak dibanding diserahkan ke perusahaan asuransi untuk diinvestasikan (???)

Satu dari sederet upayaku berinvestasi sejak punya penghasilan sendiri yang lagi-lagi gagal total.

Penting sekali untuk tidak membiarkan hari-hari kelabu seperti itu numpuk-ngendap di pikiran, mengkristalkan keyakinan bahwa kita bernasib buruk. Pagi tadi waktu badan rasanya lemes nggak ada kekuatan buat ngapa-ngapain, kuambil buku catatan dan mulai nulis.

Alhamdulillah:

1. Bisa paham omongannya Seth Godin tanpa bantuan subtitles

2. Nyeri perut dah hilang

3. Kepala dah nggak terasa berat

4. Bisa menikmati secangkir kopi meski kulit leher perih

5. Ada yang namanya obat generik. Gampang dapat salep buat luka tomcat.

6. Allah nurunkan ilmu kedokteran. Luka lepuh karena tomcat bisa dicegah dari berkembang menjadi infeksi serius yang perihnya luar biasa.

7. Ada internet dan YouTube. Belajar dari para master seperti Seth Godin bisa dari pojokan gunung yang namanya Pacet.

Alhamdulillah, alhamdulillah, alhamdulillah.

Nemu 7 hal yang sangat kusyukuri aja efeknya dah luar biasa. Buku catatan kututup, ganti nyalakan komputer, mulai nulis sambungan postingan tentang belajar bahasa Inggris berorientasi fasih yang di-share 170 orang di Facebook. Kutunda-tunda sejak setahun lalu.

Perkakas Upik Abu bisa jadi pajangan di tangan orang yang tepat. Rentetan kesulitan bisa jadi Kawah Candradimuka untuk naikkan kelas.

Bertahun-tahun lalu kudengar dari supir taksi:

“Hidup ini sesungguhnya perjalanan dari satu masalah ke masalah yang lain.”

Dulu ketawa dengarnya. Dulu ada orang tua. Orang tua mapan pula. Setelah berumah tangga baru aku paham maksud pak supir. Nggak ada hidup yang mulus-lempeng seperti jalan tol baru buka.

Mungkin yang perlu kutambahkan:

Beda antara satu orang dengan orang lain adalah gimana dia membawa dirinya berjalan dari satu masalah ke masalah berikutnya.

One Comment Add yours

  1. Tika says:

    Bener banget, mbak Rinda. Kadang musuh terbesar kita itu ya diri kita sendiri. Perjuangan yang pasti menguras emosi, apalagi kalau sudah ada bisik2 dari syaithon. Tapi gimana pun juga kita gak boleh mundur kalau mau memenangkan pertarungan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s