[Pos Pendek] Saat Merasa Bernasib Buruk

Hari-hari yang bikin pingin nangis sesenggukan di pojok kamar.

Sejak 2 hari lalu tiap buka keran harus jalan nembus hutan rumput di pekarangan belakang buat ndodog saklar otomatis pompa air padahal pompanya baru beli. Belum genap sebulan.

+

Selasa-rabu dilep nahan sakit kepala dan nyeri kram perut yang perut nggak bisa ditekuk, nggak bisa banyak gerak, harus dibantu obat pereda nyeri, kamisnya langsung disambung nahan perih titik-titik bernanah di sekujur kulit leher karena tomcat. Hari ini titik-titik nanahnya makin banyak.

+

Mesin cuci meledak-ledak sambil ngeluarkan percikan api selagi dipakai. Bejat. Beyond. Repair.

+

Baru tahu minggu lalu. Nilai tunai asuransi jiwaku di Prudential yang genap 10 tahun per September ini ada di angka 14-sekian juta. Andai tiap bulan naruh jumlah yang sama (di luar biaya asuransi, setoranku 300 ribu per bulan, yang diinvestasikan 200 ribuan) di bawah bantal, dalam 10 tahun ngumpul 24 juta.

Ngumpulkan di bawah bantal, tanpa bunga tanpa bagi hasil, bisa dapat 10 juta lebih banyak dibanding diserahkan ke perusahaan asuransi untuk diinvestasikan (???)

Satu dari sederet upayaku berinvestasi sejak punya penghasilan sendiri yang lagi-lagi gagal total.

Kita semua ngalami hari-hari seperti itu. Mungkin sebagian orang lebih sering dari yang lain.

Jangan biarkan hari-hari seperti ini ngendap di pikiran, mengkristalkan keyakinan bahwa kita bernasib buruk.

Pagi tadi waktu badan rasanya lemes nggak ada kekuatan buat ngapa-ngapain, kuambil buku catatan dan mulai nulis.

Alhamdulillah:

1. Bisa paham omongannya Seth Godin tanpa bantuan subtitles

2. Nyeri perut dah hilang

3. Kepala dah nggak terasa berat

4. Bisa menikmati secangkir kopi meski kulit leher perih

5. Ada yang namanya obat generik. Gampang dapat salep buat luka tomcat.

6. Allah nurunkan ilmu kedokteran. Luka lepuh karena tomcat bisa dicegah dari berkembang menjadi infeksi serius yang perihnya luar biasa.

7. Ada internet dan YouTube. Belajar dari para master seperti Seth Godin bisa dari pojokan gunung yang namanya Pacet.

Alhamdulillah, alhamdulillah, alhamdulillah.

Nemu 7 hal yang sangat kusyukuri aja efeknya dah luar biasa. Buku catatan kututup, ganti nyalakan komputer, mulai nulis sambungan postingan tentang belajar bahasa Inggris berorientasi fasih yang di-share 170 orang di Facebook. Kutunda-tunda sejak setahun lalu. Sore ini belum selesai tapi poin-poin besarnya sudah dapat.

Perkakas Upik Abu bisa jadi pajangan di tangan orang yang tepat. Rentetan kesulitan bisa jadi Kawah Candradimuka untuk naikkan kelas.

Bertahun-tahun lalu kudengar dari supir taksi:

“Hidup ini sesungguhnya perjalanan dari satu masalah ke masalah yang lain.”

Dulu ketawa dengarnya. Dulu ada orang tua. Orang tua mapan pula. Setelah berumah tangga baru aku paham maksud pak supir. Nggak ada hidup yang mulus-lempeng seperti jalan tol baru buka.

Mungkin yang perlu kutambahkan:

Beda antara satu orang dengan orang lain adalah gimana dia membawa dirinya berjalan dari satu masalah ke masalah berikutnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s