[Pos Pendek] Benarkah Semua Akan Indah Pada Waktunya?

Ada banyak “musim” dalam hidup kita. Selama ini aku salah: menilai “musim-musim” itu dari seberapa membahagiakannya sebuah “musim”, dari seberapa gampang hidupku di “musim” itu, dari seberapa bagus penilaian orang tentangku di “musim” itu. Akhirnya selalu dalam perjalanan mencari-cari, menunggu-nunggu saat manakala segala sesuatunya terasa indah.

Adakah yang namanya “indah pada waktunya”?

Dulu kukira gitu.

Sadar kalau salah berkat tomcat.

Semingguan lalu terasa gatel-gatel di sekujur leher. Kukira karena kalung. Kupikir beres dengan nyopot kalung yang selalu kupakai. Dua hari kemudian, nampak dari ruam merahnya, baru paham gatel-gatelnya karena tomcat. Sudah telat. Lajunya menuju luka lepuh bernanah nggak bisa kucegah dengan salep generik gentamicin. Dalam 4-5 hari ruam merah jadi luka bernanah, menjalar. Jangan tanya perihnya. Harus minum paracetamol 3× sehari. Kalau nggak gitu nggak bisa ngapa-ngapain apalagi tidur. Ini luka nanah di kulit leher yang ketekuk-tekuk dan terlipat-lipat saat tidur. Jadi kira-kira aja sendiri.

Di hari ke-5 adik ipar telepon. Tanya bisa nggak nitip Azka dan Jihan, adiknya yang umur 11 bulan dan masih nenen, selagi dia dan adikku ke Bandung semalam. Kuiyakan nggak pakai mikir karena sayang ponakan khususnya Azka. Yakin penuh sama kemampuan paracetamol mengurangi rasa perih di leherku.

Sabtu sampai jam 3 siang Jihan masih baik-baik aja. Nggak rewel cari mamanya. Makan tetap banyak. Dua kali tidur siang setelah kugendong.

Begitu dia bangun jam setengah limaan baru terasa. Nggak mau diturunkan. Meski nggak nangis terus-terusan, ada momen-momen tangis Jihan tiba-tiba meledak. Kelihatan sekali sangat stres.

Makin kewalahan setelah Rafi diantar pulang Mbak Dama. Rafi nggak biasa berbagi perhatian. Kok ya pas suami yang biasanya sudah nyampai rumah tiap Sabtu sebelum Isya, sabtu kemarin harus lembur sampai tengah malam. Nggak ada bantuan buat ngalihkan perhatian Rafi supaya aku bisa nidurkan dan ngeloni Jihan.

Praktis nggak turun dari gendongan sejak jam lima sore sampai akhirnya dia bisa tidur setelah Rafi akhirnya tidur jam 10-an. Dan tiap 2 jam dia bangun nangis cari nenen. Tiap 2 jam budhe harus nggendong, berdiri sambil ngayun-ayun sampai dia tidur lagi. Sampai jam 6 pagi.

Dalam semua kekacauan itu Azka yang sekarang umur 8 tahun yang biasanya sangat nggaplek’i kalau disuruh tahu-tahu aja sangat kooperatif. Nurut kusuruh ambil makan sendiri, mandi dan sikat gigi, shalat bahkan mau kusuruh jaga adiknya selagi kugorengkan sosis kesukaannya. Malamnya saat ada Rafi, meski dengan cara yang counter-productive, Azka berusaha menjauhkan Rafi dariku yang lagi berjuang nidurkan adiknya. Malamnya dia tidur nempel ke aku seperti kena lem. Besoknya dia lapor ke mama-papanya, “Budhe sampai bingung harus [ngopeni] Jihan atau Rafi.”

Harus paham cerita latarnya dulu.

Sampai umur 6 tahunan Azka lebih dekat ke aku timbang ke mamanya. Waktu mau pindah ke Pacet dia merengek-rengek memintaku nggak pindah. Andai waktu itu ada uang untuk neruskan ngontrak, nggak harus ngutang, aku nggak akan pindah ke Pacet. Nggak langsung pindah ke Pacet begitu ibuku meninggal ya juga karena dia.

Selama depresi 4-5 bulan setelah bapak-ibuku meninggal + kehilangan penghasilan, cuma Azka yang bisa bikin aku tertawa dan ngasih energi menjalani hari. Tiap hari dia datang ke rumah kontrakanku yang satu perumahan dengan rumah adikku. Setelah aku di Pacet, tiap Sabtu Pak Puh datang ke rumahnya ambil mobil dan pulang ke Pacet, merengek-rengek minta ikut. Jujur aja aku lebih nunggu-nunggu kedatangan Azka daripada kedatangan suami.

Lalu Jihan lahir.

Tiba-tiba aja Azka nggak lagi lengket. Nangis kalau disuruh nginap di Pacet.

Mendadak sontak “musim” kedekatanku dengan ponakan yang satu itu usai, tamat, game-over. Jangan tanya gimana sedihnya budhenya. Kalau bisa tentu “musim” itu sudah kuulang lagi, kuulang lagi. Kemarin itu baru mataku terbuka:

Azka memang nggak lagi lengket seperti kecilnya dulu tapi budhe akan selalu jadi orang istimewanya. Kesan yang kutinggalkan di benaknya selama musim kedekatan kami akan selalu terpatri di benaknya. Makin bercokol di kepalanya setelah dia lihat sendiri perjuanganku menenangkan adiknya sehari-semalam; perjuanganku nahan capek, nahan uring-uringan, nahan marah ke 3 anak kecil.

Apa arti sebuah “musim” dalam hidup kita bukan di seberapa bahagianya kita, seberapa beruntungnya kita, seberapa nyamannya hidup atau seberapa bagus penilaian orang. Arti sebuah “musim” ada di seberapa banyak yang bisa kita bawa dari musim itu sebagai bekal menuju musim berikutnya.

Waktu di mana segala sesuatunya terasa indah nggak akan pernah datang. Nggak ada yang terjadi dengan sendirinya, tanpa upaya, tanpa mengambil resiko. Yang mampu bikin indah itu bukan waktu tapi kita. Aku bisa aja nolak dititipi tapi pikiranku melihatnya seperti ini: ketitipan atau nggak, kewalahan atau nggak, kerepotan atau nggak, tetap aja harus nahan nyeri di leher. Kalau dengan menolak dititipi ponakan nyeriku bisa hilang tentu sudah kutolak. Ini kan nggak. Nolak atau terima tetap aja nyeri.

Dengan mau repot ketitipan, hari Sabtu kemarin nggak habis cuma buat nunggu-nunggu datangnya saat luka lepuhku mengering dan nyeriku hilang. Kupilih memanfaatkan waktu menunggu dengan berepot-repot menunjukkan ke Azka betapa sayangnya aku ke dia, ke adiknya dan ke Rafi. Dan hari ini, hari di mana luka lepuhku mengering, yang kudapat bukan cuma lega bebas dari nyeri tapi juga bangga bisa jadi budhe yang bisa diandalkan.

Setelah kupikir-pikir lagi:

Selama 19 bulan “musim” hemat ekstrim demi nyaur hutang, yang kulalukan bukan menunggu-nunggu hari saat hutang lunas. Musim itu kumanfaatkan untuk belajar keuangan, belajar masak. Dan lihat manfaatnya di musim hidupku yang sekarang! Jadi buat apa aku nunggu-nunggu hari manakala:

1. Rafi tumbuh besar jadi anak ganteng berprestasi yang bikin seluruh dunia kagum sama mamanya. Gimana kalau dia nggak tumbuh besar seperti harapanku? Sekarang aku sudah sangat senang kalau dia bisa pipis-poop di kamar mandi. Ya udah, garap itu. Bisa kupastikan aku dan Rafi akan sangat menikmati saat-saat dia bisa mengendalikan fungsi tubuhnya sendiri. Jadi kenapa harus nunggu-nunggu anakku dikagumi orang?

2. Followerku di Instagram mencapai 10k. Kalau mau bikin ebook buat dijual bikin aja sekarang. Takut nggak ada yang beli? Memangnya kenapa kalau nggak ada yang beli? Apa kalau follower tembus 10k berarti PASTI ada yang beli ebook-ku?

3. Rumahku layak masuk majalah. Apa hari itu tidurku akan lebih nyenyak? Ngopi terasa lebih enak? Apa nggak ada yang bisa bikin aku senang dengan rumahku dalam keadaannya yang sekarang? Bisa duduk sambil ngopi di depan kamar pavilyun sepertinya asik sekali tuh. Ya udah, cari meja-kursi kecil buat teras kamar pavilyun.

Dan seterusnya.

Berhentilah menunggu-nunggu tibanya saat semua terasa indah.

Carpediem: Seize the day. Jangan serahkan ke waktu. Taruh waktu di tangan, bukan di angan-angan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s