3 Cara Membiayai Lebaran Tanpa Mengandalkan THR

Dengan hitung-hitungan matematika, THR-nya keuangan rumah tangga <10 juta per bulan jelas-jelas nggak sanggup membiayai Lebarannya orang Indonesia. Sebetulnya nggak perlu mumet andai THR hanya untuk baju baru, suguhan kue kering, makan istimewa setelah shalat Id dan silaturahim keliling kota di hari pertama dan kedua. Yang bikin nggak pernah cukup itu mudik, salam tempel, bagi-bagi bingkisan Lebaran dan agenda silaturahim dengan ratusan orang di dalam dan luar kota yang dijejalkan dalam 1-2 minggu.

Jadi mari kita berpikir mencari cara membatalkan “kutukan” neraca rumah tangga selalu defisit di bulan Lebaran.

Cara#1: Menyebar biaya Lebaran ke 2-3 bulan gaji

Kalau Idul Fitri jatuh di awal bulan, sebar pembiayaan Lebaran ke gaji bulan Ramadhan dan gaji bulan Lebaran. Kalau Idul Fitri jatuh di tengah bulan, bisa disebar ke 3 bulan gaji: gaji bulan Ramadhan, gaji+THR bulan Lebaran dan gaji bulan setelah Lebaran. Jangan semua dibebankan ke THR. Dengan hitung-hitungan kasar sudah jelas nggak masuk. Percuma ngutak-atik angkanya.

Yang bisa kita lakukan adalah mengalihkan sebanyak mungkin pengeluaran Lebaran yg akan kita rupakan benda seperti kue kering, baju baru, bingkisan lebaran, daging buat rendang, ayam buat opor dll ke gaji sebelum Lebaran. Dengan begitu THR bisa kita alokasikan untuk biaya mudik, salam tempel dan pengeluaran lain yang nggak bisa kita majukan ke Ramadhan atau mundurkan ke setelah Lebaran.

Lebih bagus kalau kita bisa membebaskan gaji di bulan Lebaran dari sebagian pengeluaran rutinnya. Contoh: belanja bulanan di bulan Ramadhan langsung buat 2 bulan sekaligus, beli token listrik langsung buat 2 bulan sekaligus, nyetok daging-ayam-ikan-telur buat 2 bulan dstnya. Dengan begitu tanggungan gaji di bulan Lebaran bisa kita kurangi buat nambah-nambah THR.

Yang kulakukan adalah mengalihkan biaya bingkisan lebaran ke gaji bulan sebelum Lebaran. Saat Lebaran jatuh di tengah bulan, silaturahim ke keluarga besar dari belah ibuku di kampung nunggu gajian bulan setelah Lebaran (suami gajian tanggal 25).

Disclaimer: Hanya bisa dipraktekkan di rumah tangga yang (i) keuangannya tidak bergantung ke hutang kasbon/kartu kredit/Penggadaian atau bantuan orang tua/saudara (ii) sudah bisa men-tetap-kan pengeluarannya; yg tahu sebulannya butuh beras berapa kilo, tagihan listriknya nggak naik-turun, bisa memastikan kalau anggaran jalan-jalannya segini berarti harus ke sana nggak bisa ke sini dstnya. Nggak akan berhasil di rumah tangga yg saat dapat sedikit bisa ngempet tapi saat dapat banyak nggak bisa nggak banca’an.

Cara#2: Menugaskan pemasukan tertentu untuk membiayai Lebaran

Kalau kita mau repot mencatat semua pemasukan darimana pun datangnya, setelah setahun bisa kupastikan kaget-kaget sendiri. Uang mulai pecahan 5 ribu sampai 100 ribu yang dihadiahkan saudara dan temanku untuk Rafi sepanjang tahun kemarin total tembus 2 juta. Sekitar 1.2 jutanya dapatnya pas Lebaran. Pemasukan dari nyewakan rumah selama setahun kemarin total 7.77 juta (kotor). Kalau nggak kucatat nggak akan tahu bisa nyampai segitu karena belum tentu sebulan sekali ada yang nyewa. Selama Februari-Juni malah nggak satu kali pun rumah disewa. Dari menjual barang-barang nggak terpakai di Shopee sepanjang tahun kemarin total dapat 700-an ribu.

Itu belum menghitung pemasukan suami yang selain gaji: ceperan dan uang lelah dari sana-sini yang sayangnya nggak mau dia catat. Juga belum menghitung pemasukanku dari menerjemahkan dan dikasih adikku-suaminya yang nominalnya signifikan. Yang kujadikan contoh di sini hanya pemasukan ‘uang kecil berserak’; nominal per dapat kecil, kurang dari 50 ribu, dapatnya dari puluhan sampai 100-an orang, nggak bisa dijagakno kalau orang Jawa bilang; nggak bisa diandalkan.

Begitu kita bisa mencukupkan gaji untuk kebutuhan dasar rumah tangga (sandang, pangan, papan, transportasi, pendidikan dan kesehatan), relatif gampang mengoptimalkan ‘uang kecil berserak’ tadi untuk kebutuhan bukan-dasar-tapi-perlu seperti biaya sosial. Salah satunya biaya Lebaran.

Yang kulakukan adalah menyalurkan pemasukan ‘uang kecil berserak’ ke rekening yang kusebut Dana Talangan, yaitu simpanan yang kusiapkan untuk kebutuhan dasar yang keluarnya tidak setiap bulan (contoh: beli pompa air, berobat, bensin ke Surabaya) dan kebutuhan bukan-dasar-tapi-perlu (contoh: sumbangan untuk saudara yang opname, membelikan makan untuk tamu, beli baju untuk acara di hotel). Ini rekening di luar rekening gaji dan di luar rekening tabungan. Saldonya naik-turun tapi nggak pernah sampai nol karena sumber transfer masuknya banyak:

  • sisa gaji (gaji dikurangi pengeluaran tetap; setoran tabungan terhitung pengeluaran tetap jadi dipotong di depan bukan diambilkan dari sisa gaji)
  • uang dikasih adik dan suaminya
  • uang hadiah dari sana-sini untuk Rafi
  • honor menerjemahkan
  • bagi hasil menyewakan rumah
  • hasil penjualan barang nganggur di Shopee

Mulai punya dana talangan per bebas hutang Februari tahun lalu. Sudah mulai terasa bantuannya –meski nggak besar– di Lebaran tahun kemarin. Bisa ambil hanya 1 juta dari THR, sisanya kuserahkan suami, bagi tanggung-jawab. Dia yang ngatur pengeluaran untuk dan selama mudik. Lebaran tahun ini aku nggak ngambil THR sama sekali karena sudah terlatih menyebar biaya Lebaran yang kujelaskan di Cara#1. Juga karena saldo dana talangan lebih dari 3 juta. Kuncinya di:

1. Konsisten menyalurkan pemasukan-pemasukan di atas sepanjang tahun ke rekening dana talangan

2. Disiplin hanya menggunakan dana talangan untuk pengeluaran-pengeluaran tertentu

Cara#3: Menabung yang strategis

Ada rumah tangga-rumah tangga yang biaya Lebarannya sangat besar. Mungkin karena mudik sekeluarga harus naik pesawat. Mungkin karena dipandang yang paling sukses di keluarga sehingga ekspektasi orang tua, sanak-kerabat dan tetangga sekampung juga tinggi. Mungkin juga karena terlalu bernafsu membuktikan diri atau terlalu menikmati pamer. Macam-macam lah. Dalam kasus-kasus seperti itu nggak ada cara lain selain menabung dari gaji sejak 11 bulan sebelumnya. Menabung ‘uang kecil berserak’ yang kujelaskan di Cara#2 nggak lagi cukup. Masalahnya kita semua paham lah sulitnya keuangan <10 juta ajeg menabung.

Adakah cara menyiasatinya?

Ada.

Manfaatkan kecenderungan alamiah kita dalam menyimpan dan mengambil uang.

Yang kutemukan dari mengamati suamiku yang sama sekali tidak bisa menabung (dari sananya diprogram nggak bisa nabung nggak suka hutang), kalau setoran tabungan dipotong otomatis di depan sebelum uang gaji masuk ke rekening gajinya (kalau ditransfer) atau sampai ke tangannya (kalau gaji diserahkan tunai) untuk dikumpulkan di tempat yang tidak terlihat matanya, uang bisa ngumpul.

Yang kutemukan dari mengamati diriku sendiri yang selalu bisa menyisihkan tapi yang kusisihkan ini nggak pernah bisa ngumpul-ngendap sampai lebih dari 3 bulan, kalau yang kusisihkan bisa langsung kusalurkan ke tempat-tempat yang nggak bisa kutarik sewaktu-sewaktu –atau kalau toh bisa terlalu merepotkan– tanpa keluar rumah, bisa ngumpul-ngendap sampai bertahun-tahun.

Ajaib nggak tuh?

Jadi kuncinya:

Di suamiku: ambil kebebasannya memutuskan antara menyisihkan atau membelanjakan (aku yang harus “ngejar” menekannya minta koperasi karyawan memotong 200 ribu dari gajinya setiap bulan), antara sekarang atau nanti (potong otomatis di depan), antara menarik atau tidak menarik saldo (jangan ditaruh di rekening ber-ATM karena kartu ATM kelihatan matanya setiap hari atau yang bisa ditarik via kasir Indomaret karena Indomaret kelihatan matanya setiap hari).

Di aku: untuk setor nggak perlu keluar rumah (bisa nyuruh Mbak Dama nyerahkan uangnya ke Pak Kamto atau bandar arisan atau suami yang setor lewat ATM), untuk narik harus keluar rumah, jauh atau antri atau persyaratannya banyak atau melewati prosedur berlapis.

Jeli lah mencari. Kenali diri sendiri dengan sangat baik. Ada yang tabungannya ngumpul kalau dirupakan emas perhiasan. Ada yang ngumpul kalau ditaruh di arisan. Ada yang bisa nabung hanya kalau sembunyi-sembunyi; suami/istri/anak/orang tua/mertuanya nggak tahu. Ada yang bisa nabung kalau caranya dibalik: hutang uang misal 10 juta terus gajinya dipotong 950 ribu selama 12 bulan. Nggak bisa mengumpulkan uang 950 ribu tiap bulan sampai genap 10 juta tapi bisa menjaga uang 10 juta utuh nggak berkurang. Cara “menabung” yang merugikan sebetulnya karena kita harus bayar bunga 1.4 juta kan, tapi kalau memang itu cara yang bisa membatalkan “kutukan” selalu defisit setiap Lebaran, menurutku ya udah lah. Keniscayaan defisitnya dulu yang digarap.

Jangan berhenti berusaha. Jangan letih mencoba. Luruskan aja niat dan sempurnakan ikhtiar. Taruh energi dan waktu di merubah mindset, membangun kebiasaan baru (membuang kebiasaan lama) dan mencari ilmu sehari-hari seperti gimana caranya bikin bingkisan Lebaran @20 ribu yang berkesan-bermanfaat.

Kalau punya atau tahu cara lain yang nggak kusebut di atas, tolong tulis di kolom Comment. Hitung-hitung membantu sesama IRT yang level stresnya ngelunjak tiap menjelang Lebaran.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s