Mengatur Pengeluaran Lebaran (Catatan Lebaran 2019)

Ada dua etos kerja Toastmaster yang pengaruhnya besar sekali dalam kehidupan IRT-ku. Satu, selalu melakukan segala sesuatu dengan tujuan spesifik. Cuci piring dengan tujuan mencegah malas masak beda hasilnya dengan cuci piring karena lagi pingin atau karena kewajiban. Dua, selalu melakukan segala sesuatu dalam tiga rangkaian ini: rencanakan, jalankan, evaluasi. Dengan begitu nggak ada yang kita lakukan yang sia-sia meski dunia IRT nggak ada uangnya. Kita akan makin terasah. Makin rajin merencanakan & mengevaluasi Lebaran, makin pandai mengatur pengeluaran Lebaran, makin alus juga Lebaran kita tanpa habis-habisan di biaya.

Berikut evaluasiku atas kerjaku untuk Lebaran 2019.

Tujuh Kerja Lebaran IRT

Kalau tamu Lebaran kita nggak banyak, datangnya satu-satu dalam sekian hari, kenapa harus disajikan dalam kalengnya?

Kerja#1: Sisihkan THR untuk kebutuhan non-Lebaran begitu terima

Ini mungkin nggak bisa diterapkan di semua rumah tangga. Yang menakjubkan di rumah tanggaku adalah: melewati Lebaran dengan sangu 10 juta pasti habis tapi andai hanya pegang 1 juta pun bisa, nggak sampai ngutang. Jadi kupikir, ya udah, nggak usah pusing mengatur keuangan Lebaran supaya nyisa. Langsung aja kusisihkan di depan begitu terima. Toh menghabiskan 10 juta juga nggak bikin aku senang ini. Yang ada lemes karena kita masih harus mengatur keuangan setelah Lebaran. Sesal kemudian kalau dipol-polkan di Lebarannya.

Cuma, Lebaran modal 1 juta ya harus muka tembok karena kami masih harus mudik. Kalau Lebarannya di rumah sendiri mungkin sejuta nggak terlalu kentara sempitnya. Mengatur pengeluaran Lebaran tanpa mudik relatif lebih gampang. Jadi nggak berani muluk-muluk.

• Kusisihkan seporsi kecil aja dari THR, 5-10% dulu. Lebaran berikutnya akan kucoba naikkan

• Kupilih kebutuhan non-Lebaran yang spesifik, bukan sekedar kusimpan

• Kudulukan kebutuhan yang bisa langsung kubayarkan jadi nggak sampai ngendon di rekening dana talangan apalagi rekening gaji suami

Dari THR 3.8 juta, 800 ribu buat servis mobil dan melebihkan zakat penghasilan. Tahun depan kucoba sisihkan untuk dana pendidikan tinggi Rafi dan dana pensiun yang sampai sekarang masih nol besar. Tahun ini kuusahakan buka reksadana. Selain nggak bisa ditarik sekehendak hati, dari yang kubaca sejauh ini, reksadana lebih menguntungkan untuk program menabung di atas 5 tahun dibanding emas dan tabungan berjangka.

Kerja#2: Catat semua pengeluaran sebagai modal mengatur pengeluaran Lebaran tahun depannya

Ini kebiasaan yang kumulai sejak Lebaran 2016. Catatan itu yang membantuku bikin anggaran Lebaran 2018 dan 2019 relatif gampang ditaati. Juga ngasih petunjuk konkret dana sekian untuk pos pengeluaran ini cukupnya buat apa, supaya nggak bengkak aku harus gimana.

Contoh.

Kalau anggaran mudik hanya memperhitungkan bensin mobil dan tol pulang-pergi maka berhenti di jalan untuk makan pasti bikin anggaran mudik bengkak. Jadi kalau memang berhenti makan di jalan nggak bisa dihindari ya alokasi dananya harus ditambah paling nggak 100 ribu sekali makan buat 2 orang. Kalau kita patok 50 ribu sekali makan buat 2 orang, hindari berhenti di rumah makan besar jujugan para pemudik lintas propinsi. Kelihatan dari tempat parkirnya. Pilih rumah makan kecil atau warung yang pembelinya penduduk setempat. Dan seterusnya.

Penting sekali bikin anggaran yang gampang ditaati, yang modalnya bukan cuma matematika, yang nggak kelewat mengandalkan ngempet [=mengekang diri] dan kereng [=galak]. Dengan alasan itu baiknya tidak menggunakan anggaran sebagai alat mengendalikan pengeluaran bagi mereka yang belum terbiasa. Di tahap awal gunakan anggaran untuk dapat sense of control; perasaan bahwa kita tahu pasti uang kita habisnya buat apa aja, buat ini habis sekian buat itu habis sekian, tapi tahunya di depan sebelum uangnya keluar.

Untuk bisa bikin anggaran yang mendongkrak sense of control, yang jadi patokan haruslah semua pengeluaran paling nggak satu Lebaran sebelumnya. Di situ pentingnya mencatat. Hanya setelah kita bisa bikin anggaran yang nggak mbleset-ping-bolak-balik baru kita bisa naik ke tahap yang lebih tinggi. “Baiklah, selama ini habis total 4.8 juta untuk Lebaran. Apa yang bisa kurubah, apa yang harus kulakukan supaya uang yang kami keluarkan tahun ini nggak lebih dari 4.5 juta.” Turunkan sedikit-sedikit. Jangan langsung dipangkas separuh kecuali terpaksa.

Kerja#3: Berbagi tanggung jawab mengendalikan uang keluar dengan suami

Persisnya sejak Lebaran tahun lalu. Nggak dari dulu-dulu karena yakin aja pengeluaran lebih terkendali kalau 100% dana aku yang pegang, semua pengeluaran aku yang putuskan. Keyakinan itu terkoreksi sejak kami hidup pisah kota dan harus berhemat ekstrim demi melunasi hutang 41 juta.

Waktu masih serumah, begitu gajian gajinya diserahkan tunai ke aku. Semua uang keluar lewat aku. Setelah pisah kota yang pegang uang gaji dia. Semua uang keluar lewat dia. Pertama karena aku nggak punya rekening bank, nggak ada kendaraan juga. Kedua karena harga susu dan popok di Surabaya selisihnya sampai 10 ribu per unit dibanding harga Alfamart Pacet. Jadi ganti sistem biar praktis-hemat aja sebetulnya. Gajinya buat apa per posnya berapa tetap aku yang tentukan. Yang nggak kuniatkan: dengan cara itu dia sadar bahwa gajinya yang bagi dia sudah besar (memang di atas rata-rata operator forklift apalagi bagi lulusan STM) ternyata nggak sebesar bayangannya. Yang “dinikmati” istrinya (buat makan) cuma 500 ribu. Jauh di bawah uang ceperan yang dia pegang sendiri.

Semenjak itulah pandangannya ke aku, ke nominal gajinya, ke beban kerja ngatur uang, berubah. Ngatur keuangan rumah tangga jadi entengan karena dapat kerjasama suami. Tanpa kuminta dia pindah ke kamar kos yang 100 ribu lebih murah. Dia beli susu anaknya dan pulsaku dengan uang ceperannya tanpa kuminta. Beberapa kali balik ke Surabaya ninggali 20-50 ribu di tasku –tergantung berapa yang ada di sakunya– karena dompetku kosong-melompong padahal aku nggak ngasih tahu nggak minta juga. Nggak minta karena yang ada di kulkas cukup buat nyambung hidupku sampai gajian.

Berdasarkan pengalaman itu, per Lebaran tahun lalu, pos-pos pengeluaran yang lebih praktis kalau dia yang pegang dananya salah satunya transportasi mudik kuserahkan dia. Kupegangi uang 2.5 juta. Kubuatkan anggaran kasar. Kutanya, “Kurang nggak, Mas? Kalau kurang bilang sekarang. Jangan nanti dah habis baru minta tambah. Atur sendiri biar cukup.”

Tahun ini karena aku nggak lagi mengandalkan THR berkat rekening dana talangan, yang kupasrahkan suami nambah jadi 3 juta. Pos pengeluaran tanggung jawabnya juga kutambah. Dan 3 juta itu bisa nyisa! Ajaib nggak tuh? Andai semua uang aku yang pegang, dia tinggal minta, nggak akan bisa nyisa karena yang berusaha ngendalikan pengeluaran cuma seorang: aku. Dengan berbagi tanggung jawab dan wewenang, yang berusaha ngendalikan pengeluaran jadi dua orang: aku dan dia.

Ambil Lebaran sebagai kesempatan membuka mata suami bahwa kewajibannya menafkahi tidak serta-merta gugur dengan menyerahkan semua uangnya ke kita. Jangan pakai mulut. Pakai anggaran dan pembagian tanggung jawab serta wewenang. Seorang suami juga bertugas memastikan nafkah yang diserahkannya cukup. Bukan berarti dia harus nge-Gojek sepulang kerja demi uang tambahan. Sering yang dibutuhkan istri yang mumet mutar gaji suaminya adalah kerjasama dan pengertian si suami. Dia mau menurunkan ekspektasinya atau mau mengambil posisi ujung tombak menghadapi ekspektasi lingkungan sosial.

Contoh yang menculek-culek mata.

Mertua dan keluarga besar suami menggadang-gadang suami sebagai yang paling sukses, menuntutnya “membuktikan kesuksesan” tiap Lebaran padahal THR-nya bahkan nggak cukup buat transportasi mudik karena harus naik pesawat ditambah gaji per bulannya kepotong banyak buat nyicil rumah. Kita sendiri IRT tanpa penghasilan. Menyerahkan 100% gaji dan THR dalam kasus seperti itu kan jelas nggak cukup. Ekspektasi keluarganya harus diturunkan. Orang yang paling tepat untuk ngomong dari hati ke hati dengan mertua kan suami. Kalau toh itu nggak bisa ngendorkan tuntutan mertua dan keluarga besar, paling nggak kita nggak merasa didudukkan di “kursi panas”. Melihat suami yang ikut mikir dan ambil tindakan meski itu cuma ngomong ke orang tuanya sudah sangat pengaruh ke rasa hormat dan percaya antara kita dan suami. Hal yang sama berlaku andai yang tuntutannya tinggi adalah orang tua dan keluarga besar kita sendiri. Berusahalah untuk nggak diam aja.

Kerja#4: Rencanakan pos-pos pengeluaran “Mata Dunia” sejak jauh-jauh hari

Makin banyak waktu kita bikin perencanaan, makin gampang juga nggak bergantung ke uang. Pendeknya nggak perlu khawatir direndahkan atau dikasihani orang banyak meski yang kita siapkan untuk Lebaran murah-meriah semua atau bahkan nggak beli, nggak serba baru.

Yang kumaksud dengan pos pengeluaran “Mata Dunia” adalah yang kelihatan mata orang, yang umumnya dipakai orang untuk menilai keuangan rumah tangga kita dan/atau kemurahan hati kita. Secara umum ya tampilan rumah khususnya ruang tamu, baju yang kita pakai bertamu dan terima tamu, suguhan di rumah kita, salam tempel dan bingkisan Lebaran.

Kenapa semua pada ngasih jajanan buat bingkisan Lebaran? Ini salah satu alternatif yang sama bagusnya tapi (mungkin) lebih murah dibanding sembako. Kan nggak semua orang bisa kita hadiahi bingkisan sembako.

Lebih banyak soal ini kusiapkan untuk ebook tentang mengatur-kendalikan biaya Lebaran dengan kerangka kerja setahun. Nggak cukup kujelaskan dengan 2-3 paragraf.

Kerja#5: Terapkan prinsip “sekali mendayung dua pulau terlampaui” kapanpun memungkinkan

Konkretnya gini: hindari membeli yang penggunaannya terbatas hanya untuk Lebaran, sesedikit mungkin melakukan sesuatu hanya for the sake of Lebaran. Ini juga nggak cukup kujelaskan dengan 2-3 paragraf. Kujelaskan secara khusus di ebook yang sama.

Kerja#6: Bikin skala prioritas; belanjakan uang berdasar skala prioritas itu

Maksudku tidak berusaha nutup semua pengeluaran yang secara nasional diasosiasikan dengan Lebaran. Keuangan <10 juta kelas menengah kota dah jelas-jelas nggak sanggup. Diputar gimana pun angka-angkanya dah nggak masuk. Karena itu sak-Indonesia sambat THR-nya nggak pernah cukup.

Yang kupelajari Lebaran tahun ini adalah: kalau kita cermat menghitung dampak per pos pengeluaran Lebaran, tahu persis apa yang kita harapkan dari sebuah pos pengeluaran, akan kelihatan jelas kalau nggak semua pos pengeluaran sama nilainya, sama perlunya, sama menyenangkannya, jadi juga nggak harus sama diturutinya. Bisa disaring dengan sikon rumah tangga kita atau dengan harapan-harapan kita sendiri atas Lebaran, bukan harapan nasional apalagi harapan iklan.

Taruhlah kue kering. Kalau harapan kita untuk kue kering Lebaran adalah supaya suasana rumah kita nggak berasa datar sama aja dengan hari-hari biasa, banyak tamu ataupun nol tamu kue kering tetap akan kita beli atau bikin kan? Tapi coba renungkan: begitu harapan untuk kue kering ini kita ganti yaitu untuk menyenangkan tamu, bisa kita pertanyakan, beneran nih kue kering menyenangkan tamu-tamuku? Ponakanku lebih suka Sosis Bakar. Khusus Azka: uang. Adik-adikku lebih suka nasi rendang. Mbak Titik lebih suka mbote rebus!

Soal tidak berusaha melakukan semuanya kuangkat karena ini Lebaran pertama dari 9 Lebaran sejak berumah tangga aku kena “demam” Lebaran. Ternyata ikut-ikutan bikin sebagian uang yang kukeluarkan (nominalnya lumayan) sia-sia.

Gini.

Keuangan kami kan sudah lebih longgar, pwingin Lebaran di rumahku sama seperti di rumah-rumah lain. Katut harapan nasional. Beli lah jajanan buat ditaruh di meja tamu. Beli barang diskonan di supermarket untuk nyiapkan bingkisan Lebaran secara khusus. Beli daging niatnya bikin rendang buat sarapan setelah shalat Ied.

Masalahnya:

Soal kue kering. Tamuku bahkan nggak duduk di ruang tamu!

Soal bingkisan Lebaran. Yang kukasih bingkisan cuma sedikit tapi dari berbagai tingkat penghasilan. Nggak mungkin aja kukasih bingkisan “generik” yaitu bingkisan yang isinya digebyah-uyah sama rata untuk semua orang. Harus kuperhatikan kebutuhan dan preferensi orang per orangnya. Karena itu nggak ada gunanya beli barang grosiran dan diskonan buat bikin paket-paket bingkisan. Dalam kasusku lebih baik ngecer.

Yang paling konyol ya beli daging sekilo buat rendang..

Kami Lebaran di rumah mertuaku. Keluarga suamiku lidahnya Jawa thothok. Buat apa aku mikir sarapan rendang setelah shalat Ied (??) Tentu lebih baik daging itu kubumbu empal, kubawa mudik dalam keadaan siap goreng, buat persediaan lauk di hari ke-2 dan ke-3, meringankan kerja adik iparku yang nggak mentas-mentas dari dapur. Jelas-jelas lebih berdampak dibanding bawa masakan jadi atau jajanan karena di hari-H masakan dan makanan di rumah mertuaku sudah terlalu banyak sementara besoknya pasti masak lagi. Keluarga suamiku nggak suka makan masakan kemarin. Tiap hari harus ganti masakan.

Jadi ini bukan soal beli nggak beli daging atau keluar nggak keluar uang tapi memastikan setiap receh yang kita keluarkan nyampai ke tujuan besar kita.

Kerja#7: Evaluasi semuanya begitu Lebaran usai sebagai modal bikin Master-Plan Lebaran

Ide inti dari proposalku untuk mengatur-kendalikan biaya Lebaran adalah punya yang namanya master-plan.

Kujelaskan dengan bahasa contoh aja.

Kaget nggak kalau turnamen tenis Wimbledon yang kelas dunia itu ternyata yang ngadakan satu tim panitia yang anggotanya (jauh) lebih sedikit dibanding panitia hajatan mantenan orang Indonesia? Waktu baru tahu aku kaget setengah mati. Setelah digembleng program kepemimpinan Toastmaster baru aku paham: kalau kita mau repot dan rajin bikin rencana, menjalankan rencana lalu terakhir bikin evaluasi untuk setiap event yang kita lakukan berulang-ulang setiap kali kita melakukannya, seiring waktu kita akan makin pandai membuat event itu makin efektif, makin efisien, makin berkesan, makin berdampak. Syaratnya cuma satu: segala-sesuatunya harus kita pikir di depan, kita rancang, kita sengaja, kita hitung-hitung. Nggak bisa model dulu gitu, sekarang gitu, besok ya gitu; semua orang gitu, orang tuaku gitu, aku ya gitu.

Dari dulu acaranya turnamen tenis Wimbledon kan gitu-gitu itu, tapi jalannya bisa alus-lancar meski panitianya tim yang sangat kecil. Nggak menghabis-habiskan uangnya tuan rumah seperti Olympiade, tapi tetap aja prestisius. Lebaran kan juga gitu-gitu aja. Kalau setelah 10 kali Lebaran masih mumet, masih kedodoran, masih sambat, masih maksa, masih ngoyo, masih merasa nggak bisa memantaskan diri, keuangan Lebaran masih morat-marit, mestinya ada yang nggak beres di perencanaannya: kita nggak punya harapan apapun atas Lebaran selain because everyone else is doing it. Harapan nggak punya, tujuan nggak ada, rencana jadi nggak perlu, setelah buyar nggak ada evaluasi. Semua berlalu bak batang pisang kintir di kali.

Yang ini juga nggak bisa kujelaskan dengan satu-dua paragraf. Harus baca ebook yang kubilang tadi.

Gratis untuk pelanggan newsletterku.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s