Perencanaan Keuangan Bukan Cuma Soal Menabung & Investasi

Perencanaan keuangan bukan soal 30/50/20, bukan soal bikin anggaran, bukan soal nabung, bukan soal investasi, bukan soal 1001 cara berhemat. Semua itu sesungguhnya potongan-potongan berserak dari sebuah perencanaan keuangan.

Satu: Pemahaman kita akan apa itu perencanaan keuangan berpengaruh langsung ke keberhasilan kita memilih rencana keuangan yang peluang keberhasilannya paling besar di kita. Jangan cari model perencanaan yang sama efektifnya di semua org. Nggak akan nemu. We are wired differently.

Aku memahami perencanaan keuangan sebagai satu set aturan yg secara konsisten kita berlakukan dalam menghasilkan dan menggunakan uang. Jadi bukan cuma dalam mengatur pengeluaran tapi juga dalam mengikhtiarkan pemasukan.

Lek Ni-ku nggak lulus SD, tahu angka tapi nggak bisa baca tulis, paham konsep nabung tapi nggak paham konsep investasi. Dia punya aturan untuk menghasilkan uang (yaitu jangan pernah nolak kerjaan/kesempatan menghasilkan uang cepat selama itu halal dari menjual waktu/tenaga/barang dan menutup pintu menghasilkan uang dari skill/usaha/kepakaran karena uangnya tidak cukup cepat) dan untuk menggunakan uang (yaitu berapapun yang didapat sisihkan sebagian, simpan untuk kebutuhan uang besar seperti rumah, pasang listrik dan untuk kulakan yang artinya menyaring ketat pengeluaran konsumtif). Kalau kita pakai pemahamanku akan perencanaan keuangan, Lek Ni merencanakan keuangannya dan berhasil dalam konteksnya. Tapi kita nggak akan nemu model perencanaan keuangan perempuan kampung buta huruf seperti Lek Ni tertulis rapi di buku best-seller atau dipromosikan akun bisnis jasa financial planning berfollower >100k kan?

Kupilih rencana keuangan yang dirumuskan Dave Ramsey karena sudah sangat membantuku tanpa harus membayar/membeli apapun. Nonton The Dave Ramsey Show di YouTube bagiku sama dengan konsultasi pribadi gratisan. Rencana keuangannya bukan terobosan. Dia sendiri yang bilang. Itu cara orang-orang dulu ngatur uang sebelum ada pasar saham, sebelum ada reksadana. Dia hanya merumuskannya menjadi 7 langkah yang actionable, mempopulerkannya dan menyediakan dirinya sebagai resource. Alm. bapakku pakai prinsip-prinsip old school yang sama untuk ngatur keuangannya tapi kalau ditanya mengapa begini mengapa begitu Ayah nggak akan bisa ngasih reasoning seperti Dave gitu.

Aku nggak akan mbantah kalau ada yang bilang rencana keuangan Dave nggak bisa diterapkan ke semua orang. Memang nggak bisa. Kita nggak akan nemu orang-orang yang sedang merintis jalan menjadi bintang film, musisi, penyanyi atau atlet terkenal di komunitasnya Dave. Aturan/prinsip menghasilkan uang masuk yang mendasari perencanaan keuangannya (yaitu penghasilan tetap bermodal pendidikan tinggi/pelatihan profesi) mengeluarkan orang-orang seperti itu dengan sendirinya.

Hal yang sama berlaku untuk semua model perencanaan keuangan. Perencanaan keuangannya Lek Ni jelas mengeluarkan perempuan bergelar S1 sepertiku dengan sendirinya. Tapi itu sama sekali bukan berarti perencanaan keuangan Lek Ni jelek atau salah.

Dua: Kemampuan kepemimpinan kita, bagus-nggaknya sistem pengambilan keputusan kita, berpengaruh langsung ke keberhasilan kita menjalankan sebuah rencana keuangan.

Bagi yang pernah diserahi tugas yang ada targetnya (atau ada tujuan spesifiknya) pasti paham vitalnya sebuah rencana. Tanpa rencana, apa lagi namanya kalau bukan bingung.com???

Bagi yang pernah berusaha menjalankan rencana apapun itu pasti tahu rencana sebagus-sedetil apapun bukan cetakan kue. Juga pasti tahu segala sesuatu yang adanya di luar diri kita bukan adonan kalis-elastis yang bisa dilempar, dibanting, ditekuk-tekuk, dilempengkan untuk kemudian dibentuk sesuai cetakan pilihan kita tadi.

Rencana keuangan apapun itu lebih tepat diibaratkan sebagai Google Map. Alat yang ngasih tahu kalau mau ke Pacet dari Surabaya harus lewat mana. Tapi begitu sampai di Pacet, supaya bisa nyampai rumahku tanpa harus mutar-mutar dulu ngabiskan bensin, jangan tanya Google Map, pakai ancer-ancer yang kukasih. Kalau bingung, turun lah dari mobil, tanya jalan ke Sumber Air Panas ke orang lewat.

Pakai Bahasa Contoh aja.

Kalau aku bimbang antara beli Nasi Pecel atau bikin Nasi Sambel Kecap Tahu Goreng buat sarapan, nggak ada gunanya tanya Dave Ramsey. Rencana keuangan yang dia buat scope-nya terlalu besar untuk memecahkan kebimbangan remeh-temeh serupa itu. Yang bisa membantuku memutuskan adalah anggaran makanku. Andai hari itu ada saudara yang nginap, kuputuskan berdasarkan jawaban atas pertanyaan ini: mana yang lebih menyenangkan tamuku atau mana yang lebih cepat terhidang di meja.

Sama, kalau mau ke Pacet dari tengah-tengah Samudra Pasifik sana jangan tanya Google Map.

Telan gengsi supaya bisa berlapang dada mengakui: mainstream keuangan personal didominasi Barat. Kalau dipikir ilmu apa sih yang mapan, yang tersebar luas, yang datangnya bukan dari Barat atau tidak didominasi Barat (selain Ilmu Agama dan Ilmu Pengobatan Alternatif)? Itu artinya apa yang secara umum dipahami tentang perencanaan keuangan sangat dipengaruhi nilai-nilai hidup orang Barat yang tidak sama dengan nilai-nilai hidup kita. Jadi jangan kaget kalau dalam menjalankan rencana keuangannya Dave Ramsey atau Scott Pape (The Barefoot Investor) atau rencana keuangan yang kita buat sendiri berdasarkan ajarannya Robert Kiyosaki atau dengan bantuan salah satu financial planner Jouska kita akan berkali-kali ada di titik di mana kita harus memilih antara:

● “Mempermak” lingkungan/sikon/orang atau bahkan diri kita sendiri supaya rencana keuangan tadi bisa jalan

● Merubah/memodifikasi rencana atau bikin penyesuaian kecil atau besar yang perlu supaya rencana tadi bisa tetap jalan

● Mem-pause rencana karena situasi-kondisi kita tidak menguntungkan/memungkinkan tapi bisa dipastikan akal “badai ini pasti berlalu”

● Mengganti rencana keuangan yang kita pakai sekarang dengan rencana lain mungkin karena tujuan hidup kita berubah atau karena kita merasa rencana lama nggak menunjukkan hasil atau karena kita harus pindah ke Negeri Awan yang badainya permanen

Pakai Bahasa Contoh aja.

Anggap aja aku ada di Step#7 rencana keuangan Dave Ramsey. Itu artinya aku nggak punya hutang/cicilan apapun, rumah dah lunas, dana pendidikan tinggi anak dan dana pensiun dah siap. Di langkah terakhir ini penghasilan kupakai membangun aset dan portofolio investasi dengan tujuan murni demi kaya, bukan buat nguliahkan anak atau buat sangu pensiun.

Lalu Allah mengujiku.

Rafi, suami atau aku sendiri didiagnosa dengan penyakit mematikan yang bisa diobati tapi biaya pengobatannya menguras pundi-pundi harta kami. Kami harus menjual semua aset dan investasi. Kalau aku ngotot menjalankan rencana, yang sakit dibuat senyaman mungkin sambil nunggu matinya karena itu yang biayanya lebih rendah, bisa di-cashflow jadi nggak sampai menguras aset/investasi yang sekarang, mestinya ada yang konslet di kepalaku. Bener nggak?

Buat kebanyakan orang itu mungkin contoh ekstrim. Kalau kita pakai pemahamanku tentang perencanaan keuangan, bukan, itu bukan contoh ekstrim. Itu contoh yang dengan jelas-gamblang menunjukkan kapan sebuah rencana keuangan (apapun itu) sampai di breakdown point-nya, tidak lagi bisa membantu kita memutuskan harus bagaimana karena scope-nya kekecilan.

Hidup manusia kan bukan cuma soal uang. Kalau kita menghitung semua yang penting-berharga di alam semesta ini, yang bukan hanya mempengaruhi kenyamanan hidup orang per orang tapi mempengaruhi kemanusiaan, akal kita dan semua yang dihasilkan akal manusia (diantaranya media sosial dan bidang ilmu personal finance) ibarat kapal kecil di laut lepas. Kita butuh kompas atau konstelasi bintang, bukan Google Map, supaya nyampai ke pesisir Timur Pulau Jawa. Kita butuh pedoman yang lebih tinggi. Ada orang yang menemukan pedoman lebih tinggi itu di rasa cinta. Ada yang menemukannya di Ilmu Klenik/Astrologi. Aku menemukannya di agama.

Hanya karena di jaman kita ini nggak ada yang nggak butuh uang bukan lantas berarti hidup kita yang cuma satu kali bisa disederhanakan menjadi sebuah perencanaan keuangan. Juga bukan lantas berarti semua keputusan/pilihan bisa kita pasrahkan ke rencana keuangan.

Aku melihatnya seperti ini:

Demi menjadi sebesar-besar manfaat di jaman modern kita perlu merencanakan keuangan meski uang kita hanya cukup buat bertahan hidup. Seperti yang kubilang di atas, perencanaan keuangan bukan soal pengeluaran, bukan soal nabung, bukan soal investasi. Itu potongan berserak. Lihat perencanaan keuangan sebagai panduan mengambil keputusan, membuat pilihan, menuntun tindakan dalam menghasilkan dan menggunakan uang. Kalau kita melihatnya seperti itu, yang butuh merencanakan keuangannya bukan cuma yang uangnya berlebih-lebih, yang bingung harus diinvestasikan di mana.

Ada banyak rencana keuangan di luar sana. Ada yang luar-dalam sama sekali berbeda, ada yang didasarkan pada prinsip kerja yang sama, ada yang sama persis cuma kemasannya beda. 7 Baby Step Dave Ramsey dan The Barefoot Blueprint menurutku masuk dalam golongan ke-3. Bedanya rencana ini dengan rencana itu di mana, miripnya di mana, yang ini keunggulannya di sebelah mana, yang itu cacatnya di mana, menurutku nggak penting. Yang penting itu kita milih satu (atau bikin punya kita sendiri seperti Lek Ni) and stick with it sampai kita bisa memastikan rencana pilihan/bikinan kita tadi nggak ngasih hasil maka harus ganti rencana. Jangan berlama-lama dengan rencana yang nggak ngasih hasil nyata dalam waktu di bawah 3 tahun.

Consistency and immediate actions.

Titik-titik di mana aku harus memilih antara tanya Google Map, tanya orang lewat atau tanya kompas itulah yang kushare hanya dengan mereka yang berlangganan newsletterku.

2 Comments Add yours

  1. Ahmad K. G. says:

    Terima kasih sudah banyak menulis di blog ini. Lumayan jadi teman saya kerja shift malam. Sejak saya follow di Instagram saya suka mengobrak-abrik tulisan di sini dan di Instagram. Soalnya perencanaan keuangan di sini terasa membumi dan pas sama kondisi saya, tidak seperti akun keuangan ternama yang tips-tipsnya urban middle class sekali (atau untuk kaum panjat sosial yang besar gaya daripada tiang). Semoga terus rajin menulis.

    1. Rinda says:

      Tiap tingkat penghasilan punya standar hidup dan tugas keuangannya sendiri. Tujuan menabung dan berinvestasi penghasilan kecil beda dengan penghasilan menengah apalagi tinggi. Yang disasar financial planner profesional dan akun-akun finansial komersial pastinya tingkat penghasilan tinggi karena mereka yang sanggup bayar jasa financial planner. Yang penghasilannya 10 juta ke bawah mana sanggup (meski sebetulnya golongan ini yang paling butuh jasa financial planner). Jadi menurutku kesan tidak membumi itu datang dari kepentingan komersial. Kita yang harus ngerti sendiri dan pintar-pintar mencari resource centers perencanaan keuangan yang memang ditujukan untuk tingkat penghasilan kita, yang tujuan besarnya pendidikan, bukan komersial.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s