Standar Layak Yang Menguntungkan Penghasilan Kecil

Kita nggak akan betul-betul tahu kehidupan seperti apa yang disiapkan tingkat penghasilan kita sampai ambil tanggung-jawab penuh atas kebutuhan pangan, sandang, papan, transportasi dan kesehatan kita sendiri. Pendeknya lahir-batin lepas dari orang tua. Kita juga nggak akan betul-betul tahu sepenting apa kerja otak mengatur-kendalikan pengeluaran dan menaikkan penghasilan sampai kita berumah tangga.

Here’s the thing: ketika kita tidak betul-betul sadar penghasilan kita ini sebetulnya tergolong kecil, kita merasa bisa melakukan apa yang dilakukan kebanyakan orang. Semua pada punya smartphone, kita juga. Semua pada jalan dan makan di mal, kita juga. Semua pada belanja bulanan di supermarket, kita juga. Semua pada tidur di springbed, kita juga. Semua pada nyicil rumah di perumahan, kita juga. Semua pada naik mobil Jepang, kita juga. Jadi lupa men-check in standar layak kita dengan tingkat penghasilan sendiri. Sibuk aja dengan layak yang dibiasakan orang tua, yang dianut lingkungan sosial kita, yang dicekokkan media massa dan yang semliwer di media sosial.

Here’s one other thing: setiap tingkat penghasilan punya tugas dan standar kelayakannya sendiri. Bukan kehendak dan perasaan kita yang tentukan meskipun itu uang-uang kita sendiri.

Tugas penghasilan kecil itu dua:

  1. Menjaga diri dari hutang
  2. Menaikkan penghasilan

Bukan:

  1. Mengumpulkan harta-benda
  2. Ikut-ikut orang banyak

Aku bukannya bilang yang penghasilannya kecil nggak boleh punya mimpi/kehendak loh ya. Tolong. Mimpi itu perlu. Berkehendak berarti hidup. Hanya saja, pastikan yang kita kejar-kejar impian bebas hutang, impian menaikkan tingkat penghasilan, impian rumah tangga yang mandiri lahir-batin. Impian-impian lainnya nyusul.

Investasi –selain investasi di diri sendiri–bukan tugasnya penghasilan kecil. Tujuan menabungnya penghasilan kecil beda dengan tujuan menabungnya penghasilan menengah apalagi dengan tujuan menabungnya penghasilan tinggi. Ngoyo mengumpulkan harta-benda/aset/simbol status dan menyamankan hidup dengan penghasilan kecil artinya cuma satu: sengsaranya tinggal nunggu.

Di pos ini mari kita terang-benderangkan Kebutuhan Hidup Layak (KHL) yang ditetapkan pemerintah. Ketetapan itu yang dipakai menentukan upah minimum. Tapi sebelumnya:

Berapa Itu Penghasilan Kecil?

Membandingkan penghasilan kita dengan upah minimum lah yang paling bisa menjawab penghasilan kita sekarang ini sebetulnya tergolong kecil atau nggak. Kalau pakai asas “kembali ke pribadi masing-masing” ya lebih banyak mblesetnya. Yang bagiku kecil jelas besar bagi Lek Ni yang seumur hidupnya tinggal di kampung, terbiasa mencukupkan penghasilan yang jauh lebih kecil dari gaji suamiku, nggak tetap pula. Yang bagi istri kecil bisa jadi besar bagi suami karena bukan suami yang harus mumet –ibarat usus kebunthel suwal– mencukupkan. Pada umumnya suami bahkan nggak tahu harga-harga sembako. Akan tetapi, se-qona’ah-qona’ahnya orang, batas minimum itu betulan ada. Kalau kita serahkan ke orang per orang memang nggak bakalan ketemu. Mari pakai patokan minimum yang mempengaruhi hajat hidupnya orang banyak: UMR.

Tolong diingat: UMR dihitung berdasarkan kebutuhan satu orang dewasa, kebutuhan lajang, bukan kebutuhan rumah tangga apalagi rumah tangga yang harus menanggung anak lebih dari satu dan orang tua yang pensiun tanpa penghasilan. Dari situ mestinya langsung kelihatan penghasilan kita tergolong kecil atau nggak. Kalau memang tergolong kecil, lanjutkan dengan pertanyaan berikutnya:

“Seberapa jauh jarak antara standar hidup layak di kepalaku, yang kuusahakan kelakon dengan penghasilanku yang kecil ini, dengan standar hidup layaknya pemerintah?”

Memahami Perbedaan UMR

UMR ditetapkan per kabupaten. Kenapa jatuhnya beda-beda? Kenapa rangenya bisa sangat lebar padahal masih satu propinsi yang kalau dipikir-pikir harga-harga kebutuhan pokoknya nggak selisih jauh? Aku yakin harga ayam sekilo di Surabaya nggak selisih jauh dengan di Malang tapi selisih UMR dua kota itu tembus sejuta.

Rupanya yang menentukan UMR bukan cuma harga-harga kebutuhan pokok di wilayah itu tapi juga produktifitas dan pertumbuhan ekonomi wilayah tersebut. Karena itu UMR wilayah yang sektor industrinya maju seperti Surabaya, Gresik, Sidoarjo, Pasuruan dan Mojokerto ada di lima teratas sementara UMR wilayah yang ekonominya masih sangat bergantung ke pertanian ada di kelompok bawah, 1 juta 760 sekian ribu.

Dari situ bisa kita simpulkan, UMR yang bisa dibilang hanya memperhitungkan harga-harga kebutuhan pokok adalah UMR kabupaten yang sektor industrinya nggak maju. Dari situ kesimpulan bisa kita teruskan: untuk hidup layak di kota-kota kabupaten Jawa Timur butuh paling sedikit 1.76 juta per satu orang dewasa. Untuk rumah tangga tanpa anak tinggal dikalikan dua. Untuk rumah tangga dengan satu anak bayi yang nutrisinya disuplai susu formula dan 24 jam pakai popok kertas, tambah paling nggak 500 ribu. Rafi yang minum susu soya SGM (paling murah di pasaran) dan pakai popok ekonomis merk Sweety butuh 750 ribu sendiri sebulan. Angka itu tidak berkurang dengan bertambahnya umur anak. Kebutuhan susu dan popoknya ganti kebutuhan makan, baju dan sekolahnya.

Dengan demikian rumah tanggaku butuh paling sedikit (1.76 juta × 2) atau 3.52 juta untuk hidup layak dengan standar pemerintah. Itu Rafi dihitung makannya diambilkan dari jatah makan kami, nggak minum susu, nggak pakai popok dan nggak sekolah. Gaji suamiku sejak Lebaran tahun ini (setelah tempat kerjanya menerapkan 2 shift kerja demi menghemat pengeluaran upah lembur) kembali ke rata-rata 5.5 juta per bulan. Lebihan yang hampir 2 juta nggak lantas mengeluarkan rumah tanggaku dari golongan rumah tangga berpenghasilan kecil karena ada begitu banyak pengeluaran yang tidak digolongkan sebagai kebutuhan hidup layak oleh pemerintah yang sayangnya di dunia nyata sulit sampai nggak mungkin aja kita cuekin. Contoh: buwuhan/sumbangan untuk saudara, teman dan tetangga yang mantenan, lahiran, sunatan, opname dan meninggal. Kebutuhan sekolah anak? Kendaraan roda dua? Uang bulanan orang tua?

Hidup Layak Versi Pemerintah

Sudah siap tertohok? Aku sih merasa ditunjek. Tapi pengetahuan KHL ini yang menjejakkan kakiku ke bumi. Jadi betulan paham apa-apa yang secara perasaanku layak tapi secara akal tidak terjangkau tingkat penghasilan suamiku yang gajinya UMR+uang makan siang+uang lembur.

Hidup layak menurut pemerintah RI:

Ngekos atau ngontrak rumah petak yang menyediakan tempat buat masak. Tidur di dipan berkasur busa, ada lemari, ada meja berkursi 4 tapi nggak ada TV. Yang diperhitungkan pemerintah sebagai kebutuhan hidup layak itu radio 4 band atau bahan bacaan. Disuruh milih salah satu. TV dan smartphone nggak.

Masak sendiri, bukan makan di warung apalagi di restoran. Daging, ikan dan telur digolongkan sebagai kebutuhan hidup layak tapi konsumsinya dibatasi masing-masing 3/4 kilo, 1.2 kilo dan 1 kilo. Sebulan. Nasi, tahu-tempe dan sayur yang kita kenyang makan; berasnya 10 kilo, tahu-tempe 4.5 kilo, sayur 7.2 kilo sebulan. Mengingat tahu-tempenya dijatah 4.5 kilo, aku yakin yang dimaksud dengan ‘daging’ di sini bukan daging sapi tapi daging ayam. Buah juga digolongkan sebagai kebutuhan hidup layak tapi terbatas di pisang dan nanas atau yang setara dengan itu. Jelasnya bukan buah impor. Minyak gorengnya minyak curah, 2 kilo sebulan. Masak nasi dengan rice cooker. Disuruh minum susu 0.9 kilo. Gula lebih dari cukup: 3 kilo. Disuruh ngeteh atau ngopi di rumah kos 2× sehari, bukan di warung kopi. Kebutuhan gas dibatasi 2 tabung 3 kiloan per bulan. Itu semua hitung-hitungan per satu orang dewasa.

Penampilan yang layak nggak perlu tas, arloji, anting-kalung, pelembab, bedak, lipstick, dan pewangi. Sisir dan deodorant cukup. Beli baju dan kelengkapannya termasuk kelengkapan shalat, sprei dan handuk rata-rata dua bulan sekali. Belinya satu-satu.

Cuci baju dan setrika sendiri, nggak diburuhkan ke orang apalagi nggaji ART. Cuci baju dengan tangan, cuci piring dengan sabun colek. Lupakan itu pewangi cucian dan pewangi setrikaan.

Kendaraan pribadi –meski kelas roda dua– tidak digolongkan sebagai kebutuhan hidup layak. Transportasi hanya pulang-pergi kerja. Naik angkutan umum.

Sehat dengan mandi dan sikat gigi dua kali sehari. Rupanya yang digolongkan sebagai biaya kesehatan oleh pemerintah itu toiletries dan pembalut atau alat cukur. Bukan obat, bukan dokter, bukan layanan rumah sakit.

Rekreasi dalam kota. Dua kali. Setahun. Yang tinggalnya di Surabaya ya berarti Tahun Baru ke Kenjeran, Lebaran ke KBS, bukan ke Pacet, bukan ke Malang. Apalagi ke Jogja atau Bandung. Bulan-bulan selain Januari dan bulan Lebaran rekreasinya bercengkrama dengan tetangga.

Nyisihkan 2% buat tabungan. Mengingat ada begitu banyak kebutuhan yang tidak bisa kita hindari di dunia nyata tapi dianggap nggak ada sama pemerintah –seperti buwuh/sumbangan tadi– nyisihkan 2% dari penghasilan jangan berharap bisa ngumpul.

Terakhir, pemerintah RI setuju pendidikan perlu untuk hidup layak selama itu pendidikan yang disediakan radio atau bacaan. Oh ya, tambah bulpen/pensil buat nyatat “pelajaran” dari radio atau bacaan tadi. Entah bacaan apa yang dimaksud. Kalau buku jelas nggak kebeli. Nggak tahu lagi kalau belinya bekas. Nyatatnya di tembok karena buku tulis nggak dihitung.

Good Gracious God…

Kalau mau lihat sendiri daftar lengkapnya, lihat di sini.

Apa yang ingin kukatakan? Apa yang penghasilannya kecil nggak boleh punya standar layak sendiri, harus nurut standar layak pemerintah?

Bukan. Bukan itu yang ingin kukatakan. Yang ingin kukatakan adalah:

Satu: Kalau aku sangat kesulitan menjalankan rumah tanggaku dengan 3.52 juta sebulan di Surabaya/Sidoarjo, itu bukan karena aku istri nggak becus, bukan karena aku nggak bisa pegang uang. Dari deskripsi kualitatif UMR di atas jelas kelihatan UMR tidak disiapkan untuk gaya hidup kelas menengah kota. Gitu juga kalau dengan gaji suami yang rata-rata 5.5 juta kami harus hidup sengsara demi bisa nyicil rumah. Itu bukan karena rumah tanggaku isinya pribadi-pribadi boros. Dari deskripsi kualitatif UMR di atas jelas kelihatan UMR tidak disiapkan untuk membangun kehidupan yang lebih baik melainkan sekedar untuk punya energi buat kerja di pabrik yang nggak butuh pelatihan khusus. Maka dari itu berasnya dijatah 10 kilo per orang (porsi kuli angkut pelabuhan), pendidikannya cukup dengan radio 4 band dan tabloid, tingkat tabungannya cukup 2%. UMR bahkan tidak disiapkan untuk menikah dan punya anak.

Dua: Bagi yang penghasilannya 10 juta atau kurang, hitung betul-betul keputusan mencicil. Entah itu mencicil rumah yang kita tempati sendiri atau motor/mobil yang kita pakai sehari-hari atau aset/investasi. Pastikan sisa penghasilan bulanan setelah dikurangi total cicilan –itu termasuk cicilan hutang di Penggadaian, kartu kredit, smartphone, springbed dll meskipun bunga 0%– tidak kurang dari jumlah anggota keluarga dikali upah minimum terendah di propinsi domisili kita supaya nggak ngejen ngaturnya, nggak mengorbankan kesehatan mental. Kuingatkan sekali lagi: upah minimum dihitung berdasarkan kebutuhan pokok satu orang dewasa. Aku misalnya, karena Rafi belum sekolah, kebutuhan makannya juga nggak banyak, biaya hidupnya belum perlu dihitung sebagai satu orang. Gaji suamiku kan rata-rata 5.5 juta, maka uang yang bisa kupakai nyicil ini-itu:

5.5 juta – (2 orang dewasa × UMR terendah Jatim) = 5.5 juta – (2 × 1.76 juta) = 1.98 juta

Okelah, buat cicilan bisa kugenapkan 2 juta. Kalau harus ngirim uang bulanan ke orang tua atau punya setoran asuransi, harus kukurangkan dari yang 2 juta itu. Intinya, uang yang kupegang buat nyambung hidup sebulan jangan kurang dari 2× upah minimum. Aku kelewat sering disambati IRT dan istri bekerja yang pusing mencukupkan gaji yang sisa kurang dari 5 juta karena gaji kemakan separuh atau bahkan lebih buat 1001 cicilan khususnya cicilan rumah dan/atau mobil. Yang tingkat penghasilannya UMR berusahalah membeli hanya yang bisa kita beli secara tunai. Hindari cara nyicil kecuali untuk beli rumah yang kita tempati sendiri.

Tiga: Rumah tangga yang tingkat penghasilannya UMR, suami-istri sebaiknya bekerja. Kalau sama-sama bekerja di luar rumah tidak memungkinkan karena ada anak kecil dan dihitung-hitung di atas kertas istri berhenti kerja malah lebih hemat daripada membayar pengasuh, harus siap hidup di bawah standar layak yang kugambarkan di atas. Begitu juga dengan mereka yang penghasilannya terhitung habis kemakan cicilan. Kalau nggak sanggup menurunkan standar hidup layaknya pemerintah yang sudah rendah itu, artinya cuma satu, penghasilan harus naik. Entah suami cari penghasilan tambahan di luar rumah (menambah beban kerjanya) atau istri cari penghasilan tambahan dari rumah (juga menambah beban kerjanya). Atau dua-duanya. Nggak ada gunanya mengutak-atik angka-angka di anggaran rumah tangga sampai lecek.

Empat: Para suami bergaji UMR, tolong egonya ditundukkan. Sesungguhnya yang menanggung beban paling berat dari rumah tangga berpenghasilan kecil itu istri. Kalau tidak mengijinkan istri bekerja di luar rumah atau istri nggak mau/nggak mampu bekerja di luar rumah, wahai kepala keluarga, naikkanlah kapasitas menghasilkan uang. Itu bagian dari job-desc-nya seorang kepala keluarga. Kalau ikhtiar sudah nothok tapi penghasilan tetap di situ-situ aja, bantu istri menurunkan pengeluaran (berhenti merokok, berhenti makan di luar, makan siang mbontot, enak nggak enak yang dimasak istri dimakan), ringankan beban kerja istri supaya dia punya waktu-tenaga cari uang tambahan dari rumah, turunkan ekspektasi dilayani dan, terakhir tapi penting, tunjukkan rasa terima kasih biar mental istri tetap sehat. Itulah kepala keluarga sejati.

Lima: Yang beruntung dapat UMR tinggi berkat produktifitas dan pertumbuhan ekonomi di daerah tempat kerjanya, penghasilan jangan dipol-polkan buat ngikut gaya hidupnya orang kota. Tetaplah hidup dalam standar layak pemerintah yang kugambarkan di atas supaya UMR kita yang 2.5x lipat kabupaten sebelah bisa ngasih kehidupan yang lebih baik dalam jangka panjang; bisa beli motor bekas tunai (hari Minggu bisa dipakai buat nge-Gojek) atau beli smartphone bekas tunai buat jualan online, bisa menafkahi orang tua, bisa nyicil rumah bersubsidi atau melakukan segala sesuatu yang perlu –misal sekolah lagi– demi mendapatkan pekerjaan atau tempat kerja lain yang lebih mampu menjamin kesejahteraan keluarga.

Meja berkursi empat dihitung sebagai kebutuhan hidup layak. Baiknya tidak dikorbankan. Kalau dana yang dianggarkan nggak cukup untuk meja-kursi yang kita inginkan, pikirkan cara dapat meja-kursi lain-dari-yang-lain tanpa mengeluarkan uang. Keterbatasan itu temannya kecerdikan.

Terakhir: Manfaatkan standar layak pemerintah yang kusebutkan di atas sebagai panduan membuat pilihan/keputusan yang ngasih apa yang namanya the best bang for your buck. Kujelaskan dengan konsep ‘rizki’ di tulisan ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s