Melapangkan Penghasilan UMR Dengan Pemahaman Rizki

Uang yang kita hasilkan dari bekerja dan berniaga hanya sebagian dari rizki yang diajarkan Islam. Konsep rizki sangat berbeda dengan konsep penghasilan dalam ilmu keuangan. Pada prinsipnya rizki adalah segala sesuatu yang menyokong kehidupan. Langsung atau nggak langsung. Uang tidak menyokong kehidupan dalam dirinya sendiri. Beda dengan misal air bersih dan oksigen. Lihat dulu uang itu dipakai buat apa.

Dengan mengingat rizki tidak hanya berupa uang, sembari merujuk pada Kebutuhan Hidup Layak yang ditetapkan pemerintah yang kuomongkan kemarin, berikut lima hal yang bisa membesarkan penghasilan UMR tanpa harus menambah nominalnya:

Pikiran Di Luar Kotak

Perhatikan lagi anggaran belanja perorangan yang dibuat pemerintah. Asumsinya kan semua kebutuhan hidup layak yang tercantum di situ harus beli atau bayar. Kalau beli, belinya baru, dengan harga pasar. Lihat satu-satu pos pengeluaran lalu bikin sesi brainstorm, “Mana yang bisa kuusahakan terpenuhi tanpa mengeluarkan uang atau di bawah harga pasar?”

Bahasa Contohnya:

Satu: Di rumah petak yang kutinggali dengan suami begitu nikah –waktu itu orang tuaku masih ada– kulkas, kipas angin, kasur matras sak bantal-bantalnya bawa dari rumah orang tua. Barang dapur cukup dengan hadiah mantenan. TV dan lemari pakai punya suami. Motor buat suami kerja pinjam motor tua bapakku yang nganggur. Sekarangpun baju-bajuku, Rafi dan suami, 90%-nya dikasih. Ada yang dikasih baru. Kebanyakan dikasih bekas. Begitu juga dengan handuk, sprei dan korden. Pakai punya almarhum ibu.

Dua: Temanku tidur di rumah kontrakan lembaga tempatnya kerja (yang difungsikan sebagai kantor) selama rumahnya sendiri dibangun. Dengan begitu dia nggak perlu ngekos, nggak perlu keluar uang buat transportasi. Karena kantornya dekat kampus, bertebaran penjual masakan-jajanan-minuman yang harganya di bawah pasar. Biaya makan bisa ditekan tanpa harus masak sendiri.

Tiga: Temanku yang lain sangat gigih ngejar cita-cita. Profesi impiannya melenceng dari jurusan yang dia ambil semasa kuliah. Untuk membangun skillnya secara otodidak, dia harus mengandalkan buku dan praktek langsung di lapangan. Dia melalap habis buku-buku tentang public speaking di perpustakaan almamaternya dan perpustakaan pribadi kenalannya yang pengusaha yang juga menaruh minat kuat di public speaking.

Makin terlatih kita berpikir di luar kotak, makin pandai juga memenuhi kebutuhan tanpa mengandalkan uang.

Orang tua itu rizki. Kantor itu rizki. Kemampuan membaca itu rizki. Perpustakaan itu rizki.

Pengeluaran Modal

Kebutuhan Hidup Layak –yang menjadi dasar penetapan UMR– tidak didesain untuk menaikkan tingkat penghasilan. The thing is: untuk menghasilkan uang kita harus mau keluar uang. Berlakunya nggak terbatas di mereka yang hidup dari uang laba. Sama berlakunya di mereka yang hidup dari uang gaji, honor, upah dan komisi. Bedanya di apa yang terhitung sebagai ‘pengeluaran modal’. Bagi seorang pedagang dan pengusaha jelas kelihatan: biaya kulakan dan biaya produksi atau biaya operasional. Bisa langsung hitung-hitungan. Bagi seorang karyawan atau buruh harus mikir dulu. Mikirnya gini: “Apa yang membuatku makin dicari-cari, makin dibutuhkan, makin berharga bagi orang yang mempekerjakanku, bagi orang yang membayarku?” Jangan eman mengeluarkan uang untuk segala sesuatu yang bisa menjawab pertanyaan itu.

Bahasa Contohnya.

Satu: Anak sepupuku mulai sebagai SPG di Sogo. Di pekerjaannya itu semua pengeluaran untuk “ngangkat” penampilan terhitung sebagai pengeluaran modal. Ditambah kepribadiannya yang menyenangkan, setelah beberapa tahun, dia dipromosikan sebagai sekretaris.

Dua: Aku sendiri baru tahu kalau operator forklift punya semacam SIM yang dikeluarkan Depnaker. Namanya Surat Izin Operasi (SIO). Untuk punya SIO dan memperpanjangnya secara berkala butuh biaya 1-3 jutaan. Jangan segan membiayainya sendiri, hitung sebagai pengeluaran modal. Tetap ambil SIO, tetap perpanjang, meski perusahaan yang mempekerjakan sekarang tidak mensyaratkannya. SIO menaikkan peluang kita dipekerjakan perusahaan yang mengutamakan keselamatan kerja –yang biasanya sanggup menggaji di atas UMR. Juga menurunkan resiko di-PHK saat restrukturisasi.

Tiga: Satu temanku yang sesama guru les murid-murid privatnya anak-anak kelas atas, sekolah di sekolah internasional (betulan), rumahnya terkonsentrasi di Surabaya Utara. Di kawasan itu kita nggak lihat sepeda motor sliweran. Guru les lulusan akademi nggak dikenal yang berangkat-pulang ngajar bawa mobil beda tarifnya dengan guru les lulusan Sastra Inggris universitas negeri yang bawa motor. Dalam kasus temanku itu mobil terhitung sebagai pengeluaran modal.

Hilangkan atau kurangi pengeluaran yang oleh pemerintah ditetapkan sebagai kebutuhan hidup layak tapi sedikit sampai nol pengaruhnya dalam upaya yang efektif menaikkan tingkat penghasilan di konteks kita. Contoh: konsumsi daging dan susu.

Penampilan menarik dan kepribadian menyenangkan itu rizki. Trampil mengoperasikan alat itu rizki. Kepandaian memantaskan diri itu rizki.

Waktu, Ruang & Barang

Cara-cara orang berpenghasilan tinggi memperlakukan waktu, ruang dan barang sama sekali berbeda dengan cara-caranya orang-orang berpenghasilan kecil. Nah, ‘cara’ ini nggak ada hubungannya dengan uang. Lebih ke soal nilai hidup. Artinya gini: andai seorang berpenghasilan tinggi dan seorang berpenghasilan kecil dikasih waktu-ruang-barang yang persis sama, apa yang mereka lakukan dengan waktu-ruang-barang tadi akan sangat berbeda.

Bahasa Contohnya.

Satu: Seorang teman yang sangat kukagumi tidak pernah menjalani hari tanpa tujuan harian yang dia taruh di to-do list. Dia nggak akan melakukan yang nggak ada di to-do list-nya sampai to-do list-nya itu selesai, nggak akan berhenti meski harus melek’an sampai jam 12 malam. Dengan cara itu dia bisa kuliah sambil kerja demi membiayai kuliahnya, pendidikan diploma dan S1-nya selesai dengan IPK tertinggi seangkatannya, dapat beasiswa master ke Amerika Serikat nggak lama setelah lulus.

To-do list ini salah satu yang sangat membedakan orang miskin dan orang kaya.

Dua: Rumahku lebih dari sekedar tempat buat tidur, MCK, masak-makan dan menyimpan harta-benda. Bukan karena rumahku luas nan mewah tapi karena semua ruangan di rumahku kupastikan berfungsi, berfungsi baik dan sebisa mungkin berfungsi ganda. Semua kamar tidur siap ditiduri dan layak ditiduri tamu. Satu kamar yang kualihfungsikan sebagai gudang menyimpan hanya barang yang terpakai sehingga bisa kufungsi-gandakan sebagai home-office. Ruang tengah tempat nonton TV kukosongkan dari perabotan untuk jadi kamar tidur ekstra dan ruang main Rafi. Garasi motor kukosongkan dari barang acak, kuisi pot-pot tanaman, bisa dijadikan tempat kongkow kalau perlu, cukup tambah meja-kursi

Orang-orang berpenghasilan tinggi sangat memperhatikan fungsi and efisiensi.

Tiga: Amy Landino yang menulis Vlog Like A Boss dan Good Morning Good Life punya cara khusus dengan buku. Sejak hidup dari wirausaha dia hanya membaca non-fiksi. Dia menganjurkan menjadwalkan waktu khusus untuk membaca. Setiap hari dia baca 3 buku yang berbeda; satu di samping tempat tidurnya, satu di tasnya dan satu di Kindle-nya. Pokoknya di saat-saat yang orang normal nyahut smartphone, dia nyahutnya buku. Sambil baca dia corat-coret bikin catatan di pinggir buku. Setelah selesai, dia baca lagi catatannya. Dari situ dia milih satu hal dari buku itu untuk dia praktekkan, untuk “ditarik” ke kehidupan nyata. Karena itu dia hanya membaca buku non-fiksi.

Kebiasaan membaca –dan apa yang dibaca– juga salah satu yang sangat membedakan orang miskin dan orang kaya.

Belajarlah jeli mengamati cara. Wajah jangan dihadapkan ke harta-benda dan nominal. Kebanyakan orang hanya bisa melihat hasil. Perhatikan cara-cara orang berpenghasilan tinggi memanfaatkan waktu-ruang-barang, tiru yang nggak terlalu sulit buat kita untuk niru.

Kecenderungan bisa jadi rizki. Kebiasaan bisa jadi rizki. Sistem, cara dan teknik bisa jadi rizki.

Orang-Orang Pilihan

Kualitas hidup kita dipegang pikiran-prilaku kita sendiri dan pikiran-prilakunya orang-orang di sekitar kita. Makin dekat kita ke seseorang, makin kuat juga pengaruh pikiran-prilaku orang itu ke pikiran-prilaku kita sendiri. Makin dekat kita ke orang-orang tertentu, makin kenceng juga upaya kita menyamakan diri dengan mereka. Karena itu “berkumpullah dengan orang-orang saleh”.

Bahasa Contohnya.

Karena gumbul #debtfreecommunity di Instagram aku sadar kalau mau bebas hutang kita harus mau sengsara dulu sementara waktu. Mulailah aku niru mereka mem-posting keseharian yang harus hemat ekstrim demi bebas hutang. Apalagi setelah kenal Dave Ramsey. Dia dan acara radionya membuatku melihat kesengsaraan demi bebas hutang untuk kemudian menjaga diri dari hutang –termasuk kartu kredit dan membeli dengan cara mencicil kecuali membeli rumah– sebagai keberanian, keteguhan, kegigihan. Lama-lama kok aku malah bangga hidup seperti orang susah. Dengan mindset itu jelas aja aku jadi sangat tegas –dan keras– ke mereka yang nggak mau ngerti keuanganku yang UMR setelah menikah. Ketegasan yang aku nggak punya sebelum kenal Dave Ramsey.

Kalau kebutuhan hidup layak yang ditetapkan pemerintah kita pahami secara kualitatif, jelas kelihatan hidup layak-nya UMR jauuuh dari hidup layak di pikiran kita yang lahir dan tumbuh besar di kelas menengah. Maka dari itu, yang penghasilannya kurang dari 10 juta, kelilingi diri dan keluarga dengan orang-orang yang:

  • Penghasilannya nggak habis dimakan cicilan
  • Kalau toh punya kartu kredit cuma punya satu, tagihannya dibayar penuh sebelum jatuh tempo
  • Asik aja bawa mobil atau motor bekas
  • Menikmati rumah, kalau ketemuan lebih suka ketemuan di rumah, bukan di cafe
  • Makannya masak sendiri, masakannya enak, kerja bawa bekal, rekreasi bawa bekal
  • Melihat telur, tempe dan tahu sebagai sama lauknya dengan daging dan ayam
  • Melihat pisang dan nanas sebagai sama buahnya dengan anggur dan kiwi
  • Rekreasinya kembali ke alam atau kemananya nggak penting asal dengan keluarga
  • Ke mal belum tentu sebulan sekali
  • Harga dirinya ditaruh di kemampuan, kompetensi, keahlian, bukan di merk smartphone
  • Smartphone-nya nggak dipenuhi selfie
  • Medsosnya isinya bukan cuma acara jalan dan makan

Orang-orang dengan ciri-ciri itu yang akan membantu kita melapangkan penghasilan kita yang kecil karena –meski penghasilannya di atas kita– mereka nggak akan menekan-menuntut kita menjalani gaya hidup mainstream yang jelas-jelas bukan untuk keuangan rumah tangga kurang dari 10 juta.

Hindari gumbul dekat, bergaul akrab dengan orang-orang yang cirinya berkebalikan dari yang kusebut di atas meski mereka ini saudara, satu tempat kerja, satu sekolah, satu kos jadi sering ketemu, runtang-runtung bareng. Mereka hanya akan membuat kita merasa selalu kurang, merasa sempit, meski mereka sama sekali nggak bermaksud seperti itu. Aku bukannya nyuruh putus hubungan loh ya. Kita nggak perlu gumbul, nggak perlu dekat, nggak perlu akrab, nggak perlu runtang-runtung bareng untuk menjaga hubungan baik.

Orang-orang yang bikin kita pingin atau merasa tertantang menjadi manusia yang lebih baik itu rizki. Orang-orang yang bisa memotivasi kita memperjuangkan sekaligus menunjukkan jalan menuju kehidupan yang lebih baik itu rizki.

Niat & Kesungguhan Menafkahi

Ini mungkin kedengaran sangat aneh. Baca dulu sampai habis.

Yang diajarkan dalam Islam adalah: setiap jiwa lahir membawa rizkinya sendiri. Rizki ini sudah ditetapkan. Kalau masih hidup, meski lumpuh nggak bisa ngapa-ngapain, berarti rizki belum putus. Itu berarti anak bayi yang nggak bisa kerja nggak bisa dagang punya rizkinya sendiri. Begitu juga dengan istri IRT yang “di rumah saja”.

Seperti yang kubilang di awal tadi, rizki bukan penghasilan. Jauh lebih luas dari itu. Yang kita dapat dari bekerja atau berdagang hanya sebagian dari rizki yang ditetapkan untuk kita. Selama itu menyokong kehidupan dan keberlangsungan hidup, itulah rizki.

Yang harus kita terima dengan kerendahan hati: rizki bisa datang lewat berbagai sebab (bukan hanya karena bekerja/berdagang), dari mana saja, kapan saja dan dalam berbagai bentuk serta rupa. Jangan disamakan dengan gajian yang pasti berupa uang, sebabnya jelas, di tanggal yang sama, si Fulan dapat sekian, si Falun dapat sekian.

Maka:

Kalau ingin rizki dilapangkan, jadikan diri pintu rizki orang lain, yaitu dengan bersungguh-sungguh dalam urusan menafkahi. Karena lewat menafkahilah kita menyokong kehidupan.

Bahasa Contohnya.

Sewaktu kami menikah, suamiku berstatus karyawan tetap di PT Siantar Top. Sepuluh tahun dia kerja di sana. Gajinya pas UMR 2011 sampai ke receh: 1.257 juta, nggak ada uang makan, nggak ada uang lembur. Yang ada THR dan Jamsostek.

Hasil kerjanya habis bersih untuk butuhnya sendiri; kos, makan dan bensin. Hartanya cuma sepeda motor, lemari kecil Ligna, TV tabung 14″ dan koleksi tag baju. Jadi tiap beli baju tag-nya digantung di handle lemari Ligna-nya. Bisa punya sepeda motor karena kemurahan hati seorang paman yang punya sepeda tua nganggur. Dia boleh nyicil 200 ribu sebulan. Kalau nggak nyicil nggak bisa punya sepeda. Nyicil yang bekas bukan karena suamiku pribadi hemat tapi karena nggak bisa nabung buat DP motor baru. Yang ajaib dari suamiku: bisa nyisihkan 200 ribu sebulan buat bayar hutang tapi nggak bisa nyisihkan 20 ribu sebulan buat nabung.

Hanya dalam hitungan hari setelah kami nikah, dia masukkan lamaran ke perusahaan lain. Masih di bulan kami menikah, dia mulai bekerja di perusahaan itu dengan status karyawan kontrak. Gaji pokoknya masih UMR tapi ada uang makan dan uang lembur. Yang dia bawa pulang tiap bulannya hampir 2 kali lipat bayarannya di tempat kerja lama.

Waktu itu kami sama-sama kerja, penghasilanku sama 2 jutaannya. Dengan penghasilan kami berdua kami bisa ngontrak rumah petak, bisa nyisihkan 500 ribu sebulan untuk orang tua, bisa nyisihkan 700 ribu sebulan untuk asuransi kami berdua (catatan: dua-dua polis kujual pertengahan 2019 karena akhirnya sadar asuransi yang dikelola swasta bukan untuk penghasilan <10 juta).

Per 2013 penghasilanku yang sudah mulai turun sejak menikah makin nggak ketolong turunnya sampai akhirnya berhenti ngajar pertengahan 2014. Ada masa paceklik kurang-lebih setahun. Kalau kupikir-pikir lagi, masa paceklik akibat hilangnya penghasilan tetap seperti itu, meski nggak bisa dihindari, nggak harus terasa sangat menyiksa dan menakutkan yaitu kalau kita terbiasa hidup dengan anggaran. Anyway, setelah setahunan paceklik itu suamiku diterima sebagai karyawan kontrak di salah satu perusahaan yang jadi incaran operator forklift karena pemasukan ceperannya. Aku nggak tahu berapa persisnya ceperannya karena dia pegang sendiri.

Kurang dari setahun setelah kami mengadopsi Rafi, suamiku diangkat jadi karyawan tetap. Gaji pokok nggak naik tapi disediakan asuransi kesehatan untuk kami bertiga. Naiknya dari uang lembur. Ditambah uang makan dan uang ceperan (yang aku cuma bisa kira-kira jumlah dapatnya sebulan), kuperkirakan suamiku menghasilkan 6-9 jutaan per bulan.

Dengan penghasilannya itu –ditambah pemasukan nggak tetap dariku yang rata-ratanya sekitar sejutaan per bulan– kami melunasi hutang 41 juta. Begitu hutang itu lunas kami bisa nyisihkan 750 ribu sebulan untuk orang tua, bisa menabung untuk kurban dan daftar haji dalam kondisi dua dapur; suamiku ngekos di Surabaya, aku dan Rafi tinggal di rumah warisanku di Pacet.

Gimana harus menjelaskannya?

Okelah, kenaikan dari 1.257 juta sebulan ke 6-9 juta sebulan bisa dijelaskan dengan kenaikan tahunan UMR dan ganti tempat kerja. Tapi bagaimana kita menjelaskan “kenaikan” dari penghasilan yang habis nggak berupa untuk biaya hidupnya sendiri ke penghasilan yang bukan cuma bisa membiayai hidupnya tapi juga seorang istri dan anak, membantu orang tuanya yang pensiun tanpa penghasilan, melunasi hutang 41 juta 5 bulan lebih cepat, kurban kambing 3 tahun berturut-turut dan daftar haji?

Kalau berpegang pada kebutuhan hidup layak yang ditetapkan pemerintah yang tidak menyediakan tunjangan istri dan tunjangan anak apalagi tunjangan orang tua, menikah lalu punya anak dan membantu orang tua seolah mencelakakan diri sendiri kan?

Ada rizkiku, rizki Rafi dan rizki ibunya dalam penghasilan suamiku. Dan kalau kita melihatnya tidak dari berapa nominal penghasilan suamiku tapi dari penghasilannya itu bisa jadi apa, makin gampang untuk terima bahwa rizki bukan cuma uang. Kelebihan suamiku di mekanika, ketahanan fisiknya bekerja hingga hampir 20 jam, kesanggupannya melakukan hal yang sama dari hari ke hari tanpa bosan memungkinkannya punya penghasilan tetap dari pekerjaan yang high-demand. Gampang buat suamiku dapat kerja. Rizki suamiku itu di tetapnya penghasilannya. Yang sedikit tapi tetap lebih sanggup menyokong kehidupan daripada banyak tapi nggak bisa dipastikan dapatnya kapan. Dengan menikah rizkinya itu ketambahan rizkiku istrinya di (i) bisa menyisihkan berapapun yang kudapat dan (ii) kesungguhanku mengelola uang demi kesejahteraan bersama. Dua itu yang nggak ada saat suamiku masih lajang.

Pertanyaannya adalah: gimana pemahaman rizki menjelaskan kemiskinan?

Ada Titik Kurang, batas minimum, yang sifatnya universal yang harus dihormati bersama. Bersama. Itu artinya ada prakondisi yang minta ikhtiarnya orang banyak. Kita harus bisa membedakan kemiskinan yang sebabnya ada di level individu (seperti segala macam bentuk kecanduan) dari kemiskinan yang sebabnya ada di level sistem (seperti kemiskinan di kalangan minoritas atau kaum pengungsi).

Kalau nggak ada yang sangat nggak beres di sistem tapi anak-anak kita jelas-jelas kekurangan gizi, untuk makan harus hutang, harus hidup serumah dengan 2-4 keluarga lain, suami-istri-anak laki-anak perempuan yang sudah baligh tidur bercampur di satu ruangan karena “rumahnya” cuma satu ruangan itu dan kondisi-kondisi nggak layak lainnya, coba minta penilaian orang lain atas kesungguhan-kecerdasan ikhtiar kita dalam menjemput rizki selama ini.

Kalau orang banyak pun menilai ikhtiar kita sudah lebih dari cukup tapi kita selalu kurang, selalu merasa sempit, saranku tiga.

Satu: Jujur mempertanyakan kesungguhan diri dalam menafkahi baik menafkahi orang-orang yang menjadi tanggung-jawab kita secara hukum maupun yang kita jadikan tanggung-jawab kita secara sukarela. Kualitas hidupnya orang-orang yang mencari uang demi menafkahi sangat berbeda dengan mereka yang mencari uang demi mengumpulkan harta-benda atau demi status sosial ekonomi atau demi mengejar impiannya pribadi. Perasaan lapang-sempit sejatinya datang dari kualitas hidup, bukan dari uang.

Dua: Belajar menghormati Titik Cukup yang sifatnya universal, berlaku untuk semua bangsa di semua jaman. Jangan cukupnya kita sendiri yang dijadikan patokan. Bagi bapakku tahu-tempe nggak cukup buat lauk tapi tahu-tempe kan sumber protein yang sama bagusnya dengan daging. Kalau nggak percaya tanya WHO. Bagi Syahrini punya baju 10 stel seperti aku gini jelas nggak cukup. Tapi untuk fungsi menyokong kehidupan yaitu menutup aurat, melindungi tubuh dari terik matahari dan udara dingin, kalau yang satu kotor ada baju ganti sampai baju yang kotor itu siap dipakai lagi, ada baju yang pantas untuk kesempatan istimewa, baju 10 stel kan cukup. Makin obyektif kita dalam hal Titik Cukup, makin gampang merasa lapang.

Tiga: Lakukan dengan ilmu. Membelanjakan uang ada ilmunya. Setinggi apapun penghasilan kalau separuhnya habis buat cicilan kreditan ya tentu saja kurang. Setinggi apapun penghasilan, kalau nggak membiasakan diri merencanakan pengeluaran ya tahu-tahu aja uang habis, nggak tahu habisnya buat apa, pas butuh harus pinjam, punya banyak aset pun cepat atau lambat pasti habis kejual untuk biaya hidup.

Bersungguh-sungguh dalam mengupayakan kesejahteraan bersama, gampang merasa cukup, belanjakan uang dengan ilmu. In sya Allah, keuangan berasa lapang, kita terjaga dari kesulitan keuangan. Dengan upah minimum sekalipun.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s