Membeli Rumah Dengan Penghasilan Kecil

Kita bisa kaya dengan penghasilan kecil kalau mau dan bisa ngikuti cara-caranya Dave Ramsey. Kali ini kucoba rumuskan apa yang dia ajarkan tentang membeli rumah. Apa yang dia ajarkan beda sekali dengan apa yang diyakini baik dan benar oleh orang kebanyakan.

Prinsip#1: Tidak terburu-buru membeli rumah

Pastikan kita tuntas di Tugas Pertama Rumah Tangga yaitu:

  • Punya penghasilan tetap yang bisa diandalkan dalam jangka panjang
  • Bisa ngatur cashflow sehingga tidak perlu bergantung pada uang pinjaman dan sistem cicilan (untuk selain rumah)
  • Bisa menyisihkan penghasilan untuk mengumpulkan dana darurat 3 sampai 6 kali pengeluaran tetap per bulan
  • Disambung dengan mengumpulkan DP rumah

Jadi harus terlatih menyisihkan penghasilan dulu. Tuntas di tugas pertama ini yang akan memastikan kita nggak bolak-balik ke Penggadaian selama mencicil rumah; terjaga dari terpaksa menjual rumah karena terlilit hutang.

Prinsip#2: Hindari menjadikan rumah yang kita tinggali sebagai satu-satunya aset, sebagai satu-satunya harta

Penghasilan jangan dipol-polkan buat rumah, yaitu dengan:

  • Naruh DP tidak kurang dari 20% harga beli tunainya.
  • Ambil cicilan tidak lebih dari 25-30% penghasilan tetap.
  • Ambil masa mencicil tidak lebih dari 15 tahun.

Lebih baik punya satu rumah yang nilainya 500 juta tapi punya dana darurat 30 juta tunai daripada punya 1-2 rumah yang total nilainya 1 milyar tapi saat butuh uang 30 juta harus minta tolong Penggadaian.

Dengan logika yang sama, lebih baik punya rumah satu tapi bisa kita lunasi sebelum waktunya demi nabung buat nguliahkan anak dan mantu daripada punya dua rumah tapi yang satu harus dijual sebelum lunas karena butuh uang buat nguliahkan anak dan mantu.

Prinsip#3: Tidak mencari rumah yang kita suka dengan mindset buat ditinggali seumur hidup

Carilah rumah yang gampang dijual lagi dengan harga yang menguntungkan, yaitu dengan:

  1. Bersabar ketika berburu rumah. Survey, bandingkan, pelajari harga-harga tanah dan rumah di kawasan yang kita inginkan, libatkan orang lain yang tahu harga pasar.
  2. Membeli rumah yang nilainya ada di paruh bawah kawasan itu. Makin tinggi harga jual sebuah rumah dibanding harga jual rata-rata rumah di kawasan itu, makin sulit juga menjualnya.
  3. Yang pertama kali harus diperhitungkan adalah lokasinya, bukan bangunan rumahnya. Lihat harga per meter persegi tanahnya. Cari rumah murah (point 4, 5, 6) di tengah kota atau di kawasan pengembangan kota atau di kawasan industri & perdagangan atau di kawasan pemukiman kelas menengah-atas atau di pinggir jalan raya atau di kawasan perbukitan atau di pinggir sungai/telaga/danau/pantai.
  4. Membeli rumah bekas, bukan rumah yang baru dibangun, karena harga rumah yang sudah sekian tahun dihuni selalu di bawah harga rumah baru dibangun.
  5. Pilih rumah yang nampak bagus dilihat dari jalan. Perhatikan halaman depan rumah. Lalu cermati strukturnya (bentuk rumah, tinggi plafon, ketinggian tanah, pembagian ruang, posisi pintu dan jendela, posisi tiang, kekokohan bangunan). Rumah yang strukturnya jelek nggak bisa dibuat bagus.
  6. Kalau beli rumah bekas, hindari memilih berdasarkan tampilan seperti warna cat atau keindahan taman. Cari rumah yang pekarangannya nggak terawat, yang interiornya jelek, yang berantakan. Rumah-rumah seperti itu yang bisa kita dapat dengan harga sangat murah. Meski harus keluar modal untuk membuatnya siap huni, jatuhnya tetap lebih murah dibanding beli rumah yang tidak perlu diperbaiki. Dengan catatan perbaikan di sini perbaikan kecil semisal mengganti handle pintu, menutup plafon yang bolong, bukan perbaikan yang makan biaya besar seperti mengganti jaringan listrik dan jaringan pipa.
  7. Jangan sekali-kali membeli rumah yang dibangun di atas tanah sengketa atau yang sertifikatnya bermasalah atau yang berpotensi bermasalah. Jangan tergiur harga yang sangat murah kalau murahnya karena kerumitan kepemilikan.

Perbedaan mendasar dari apa yang diajarkan Dave dengan keyakinan umum adalah:

Mapan pada hakikatnya hasil dari kemampuan mengatur aliran keluar-masuknya uang, bukan hasil dari punya rumah sendiri.

Gampangnya gini: dengan pola pikirnya Dave, rumah adalah akibat. Dengan pola pikirnya orang awam, rumah adalah sebab.

Kalau kita melihat rumah sebagai sebab, kita cenderung mengabaikan kesiapan keuangan yang kusebut sebagai Tugas Pertama Rumah Tangga di Prinsip#1. Merasa punya penghasilan, sudah berumah-tangga, pinjam sana-sini buat DP, hajar bleh nyicil rumah padahal ngatur penghasilan supaya impas dengan pengeluaran tiap bulannya pun belum bisa apalagi ngatur penghasilan supaya berlebih. Itu yang bikin kaya nggak, kepala cekot-cekot iya.

Bahkan meskipun kita hanya bisa menuruti ajaran DP tidak kurang dari 20% harga beli tunai, cicilan tidak lebih dari 25-30% penghasilan tetap dan ambil masa cicilan tidak lebih dari 15 tahun, sudah sangat membantu mengamankan keuangan rumah tangga di hari tua. Kita sendiri yang diuntungkan kalau sanggup melawan arus; tidak meletakkan harga diri di sudah punya rumah sendiri atau belum.

Tapi harga rumah kan terus naik? Kalau nggak cepat-cepat beli, nggak nekad, nggak akan bisa punya rumah.

Itu juga yang kupikir dulu. Lalu sadar bahwa ketakutan itu berakar dari asumsi kita nggak punya kendali atas keuangan kita. Kalau naik-turunnya, bagus-buruknya, lapang-sempitnya keuangan kita bukan kita sendiri yang tentukan. Akhirnya wajah ini kita hadapkan ke nominal DP dan cicilan yang terus naik, bukan ke kemampuan kita ngatur cashflow yang sebetulnya juga bisa terus dinaikkan. Coba pikir, mana yang lebih menguntungkan –bagi keuangan loh ya, bukan bagi harga diri:

Membeli rumah di tahun ke-2 berumah tangga saat penghasilan 4.5 juta, dengan cicilan 900 ribu, hidup terasa sangat sempit dengan sisa penghasilan yang 3.4 juta karena gaji utuh aja kurang, nggak terlatih di budgeting, pemasukan nggak tetap habis buat blow-out akibat keuangan yang terasa sangat sempit dan buat biaya sosial akibat nggak bisa mengelola ekspektasi diri dan orang-orang sekeliling kita yang rata-rata penghasilannya di atas kita.

Atau,

Membeli rumah di tahun ke-8 berumah tangga saat penghasilan tetap 5.5 juta, dengan cicilan 1.65 juta, sudah pandai mencukupkan dan menyamankan hidup dengan sisa penghasilan yang 3.25 juta, sebagian pemasukan nggak tetap masuk tabungan, sudah tahu orang-orang seperti apa yang harus kita dekati, yang seperti apa yang harus jaga jarak meskipun saudara.

Itu bukan ngarang. Seperti itulah situasiku andai beli rumah di tahun ke-2 dengan andai beli rumah di tahun ke-8.

Yang paling penting adalah tidak diam saja selama kita belum punya rumah sendiri. Isi masa menanti dengan sepintar-pintar ikhtiar di 4 area berikut:

Satu: Melatih diri hidup di bawah tingkat penghasilan. Ini butuh upaya konsisten dalam hitungan tahun. Nggak cukup kalau hitungannya bulan. Karena kita harus merekonfigurasi banyak hal; yang ada di kepala kita, cara, kebiasaan, orang-orang penting kita. Kalau bisa hidup dengan separuh penghasilan, jangan takut, you’ll get yourself a house. Hanya soal waktu. Bersabarlah.

Dua: Menaikkan tingkat penghasilan. Kalau nggak bisa menaikkan penghasilan lewat promosi jabatan, naik pangkat, ganti pekerjaan atau pindah perusahaan, maka lakukanlah lewat usaha sampingan.

Atas dasar inilah kuputuskan tidak membeli rumah di tahun ke-8 walau harus kuat-kuatan menahan keinginan membuktikan diri ke semua orang bahwa aku-suami bisa beli rumah sendiri. Akalku yang bilang, dalam posisiku (ada rumah warisan, suami berpenghasilan UMR, penghasilan tetap hanya dari dia, umur kami berdua sudah kepala 4) yang menguntungkan keuangan kami bukan punya dua rumah tapi punya penghasilan tetap dari paling tidak dua sumber. Lebih bagus kalau salah satunya bisa nerus sampai usia pensiun. Dalam situasiku, punya dua rumah bangga iya tapi kalau menguntungkan jelas nggak.

Tiga: Mengenali rumah seperti apa, di mana, yang kontribusinya signifikan ke upaya kita menaikkan penghasilan dan/atau hidup di bawah tingkat penghasilan. Selama kita belum bisa menggambarkan ‘rumah yang seperti ini, di lingkungan yang seperti ini, di daerah sini, sini atau sini‘, tunda dulu membeli rumah. Jangan asal beli. Jangan ‘pokoknya punya rumah!‘.

Empat: Membangun kemampuan memusatkan hidup di rumah dan membangun keluarga yang kuat. Ada orang-orang yang thriving berkat rumah, ada orang-orang yang merasa dikerangkeng oleh rumah. Kebanyakan orang melihat rumah hanya sebagai syarat, penggugur kewajiban. Aku sadar itu setelah membandingkan kehidupan bapak-ibuku dan kehidupanku-Rafi-suami di satu rumah yang sama: rumah warisanku di Pacet.

Bapak-ibuku sangat bangga bisa punya rumah liburan di kawasan wisata. Tapi kalau dipikir dalam, rumah liburan ini menjauhkan mereka dari anak-cucu. Dan kalau dihitung betul-betul, rumah ini sebetulnya beban bagi keuangan orang tuaku di masa pensiun.

Di tanganku, Rafi dan suami rumah ini jadi pintu rizkiku, Pak Kamto, Mbak Dama dan orang-orang hemat atau lembaga beranggaran mepet yang butuh tempat untuk acara kumpul-kumpulnya. Di rumah ini juga aku melatih diri hidup di bawah tingkat penghasilan mulai dari makan enak modal 3T dan masak sendiri, mendekor rumah dengan barang bekas, mendandani Rafi dengan baju bekas, membuat berbagai sistem to make things work, purging & decluttering, mengorganisasi rumah, menikmati nonton film di TV dengan anak, sepeda motoran bertiga lihat sawah, belanja jajanan di Alfamart lalu makan bakso di Pujasera-nya orang asli Pacet; menciptakan momen-momen merasa kaya dengan apa yang ada dan apa yang kupunya.

Nah, kalau rumah yang sama ngasih output yang sangat berbeda di dua keluarga yang berbeda berarti penjelasannya ada di keluarganya kan bukan di rumahnya. Tergantung orang-orang seperti apa yang menghuni rumah itu. Tergantung makna dan nilai yang kita taruh di rumah. Kalau kutelusuri hingga ke masa kecil, di 9 rumah yang pernah kami tinggali, bapak-ibuku dan kami 4 anaknya nggak pernah merasakan kehidupan rumah seperti yang kurasakan sekarang. Rumah nggak lebih dari tempat pulang-pergi, masak-makan, MCK, tidur, nonton TV, terima tamu dan kumpul-kumpul harta-benda.

Kalau memang nggak bisa melihat rumah sebagai akibat dari kemandirian finansial, bukan sebagai sebab dari kemandirian finansial –yang harus kuakui sangat sulit mengingat yang kelihatan mata orang kan kita sudah punya rumah atau belum, bukan kita punya tumpukan tabungan atau tumpukan hutang– cobalah melihat rumah sebagai alat, sebagai sarana, bukan sebagai tujuan. Pola pikir itu membantu kita untuk nggak bingung dengan sudah punya rumah sendiri atau belum. Otak tetap mutar, nggak “lumpuh”, nggak merasa gagal jadi manusia.

Sebagai alat, apapun yang ingin kita lakukan dengan rumah milik kita sendiri sejatinya bisa kita lakukan dengan rumah kontrakan.

Palingkan wajah dari kepemilikan atas satu rumah atau lebih lalu hadapkan ke kemampuan mengatur aliran keluar-masuk uang. Kalau itu masih sulit, hadapkan wajah ke kemampuan memusatkan hidup di rumah.

Bener yang dibilang Dave, “It’s a stupid house. They’re everywhere… People buy houses when it’s up. People buy houses when it’s down.” Jangan taruh harga diri dan kehormatan di sudah punya rumah sendiri atau belum.

3 Comments Add yours

  1. duniarachda says:

    harus dibaca lagi beberapa kali nih mbak Rinda. setuju dengan yang mbak tulis, dan mungkin akan saya terapkan dalam kehidupan kami, secara kami hingga 8th pernikahan belum punya rumah sendiri. selain faktor pekerjaan yang membuat kami harus jelajah nusantara, masih binggung mau beli rumah di deket keluarga suami atau deket keluargaku? Jadi hingga detik ini rumah mash menjadi impian kami.

    1. Rinda says:

      Aku kenal seseorang yang pingin sekali punya rumah. Berulang kudengar dia bilang, “In sya Allah, suatu hari nanti pasti bisa punya rumah.” Sayangnya cara-caranya dengan uang tidak mensupport keyakinannya itu. Dia nggak pernah bisa bertahan lebih dari 3 bulan kerja untuk orang yang ngasih penghasilan tetap tapi kendor sekali di kerja untuk diri sendiri yang ngasih penghasilan nggak tetap. Jadi udah penghasilannya nggak tetap, di bawah minimum pula. Dia merasa kewajibannya menafkahi istri dan 2 anak, salah satunya minum susu formula, tunai dengan setor 20 ribu tiap hari. Nggak cuma itu. Hutangnya dimana-mana. Dua kali punya kesempatan naruh DP rumah berkat rizki tiban puluhan juta. Dua-duanya habis nggak berupa. Jadi jangan tanya soal tabungan buat DP rumah.

      Pastikan aja cara-cara kita dengan uang mensupport cita-cita kita punya rumah sendiri. Beli rumahnya boleh 10 tahun lagi. Setelah pensiun pun nggak apa. Tapi kesiapan finansial untuk membeli dan membiayai rumah harus dibangun dari sekarang. Dana rumah tetap harus diperhitungkan dalam pengelolaan penghasilan meski beli rumahnya entah kapan. Makin lama kita tunda, dana rumah mestinya makin besar, secara finansial kita makin siap, kebutuhan untuk membeli dengan sistem kredit bisa kita hilangkan.

      Dengan kata lain: kalau penghasilan kita cukup, pengelolaannya bagus, “telat” beli rumah ngasih kita waktu mengumpulkan uang untuk membeli secara tunai atau membangun sendiri.

      1. duniarachda says:

        Matur nuwun mbak. Menginspirasi banget nih.

Leave a Reply to Rinda Cancel reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s