15 Oleh-Oleh Umrah/Haji 15-25 Ribu

Kupilih angka 15 ribu karena sulit dapat barang <15 ribu yang nggak kentara sekali murahnya. Kubatasi 25 ribu karena “oleh-oleh” umrah-haji yang dipatok >25 ribu per orang –dengan asumsi kita harus menyiapkan paling sedikit 100 biji– bukan untuk tingkat penghasilan <10 juta.
Oleh-oleh kutulis dalam tanda kutip karena kalau tujuan kita rendah biaya sekaligus bermanfaat, belanja oleh-olehnya harus di tanah air. Juga mesti berani menyalahi kelaziman; milih barang-barang yang tidak berkaitan dengan ibadah. Lihatlah seperti ini, kebanyakan orang sudah punya lebih dari satu Quran, sajadah, sarung, rukuh, kerudung dan peci. Jadikan pilihan hanya kalau kita sanggup membeli yang harga ecernya >50 ribu.

Berikut 15 barang pilihanku.

1. Clutch

Tiga foto di bawah ini kudapat dari toko Shopee yang sama. Belanja di toko online harus pintar-pintar. Yang harus kita lihat itu tokonya, bukan barangnya. Toko online seperti Tas Anyaman Jogja kuperhatikan secara khusus; toko yang jualannya terspesialisasi dan/atau yang berstatus Star Seller. Andai ada toko Shopee lain yang menjual produk persis sama dengan harga lebih murah, kalau bukan Star Seller, jualannya acak dan omzet penjualannya masih sangat sedikit, tetap kupilih Tas Anyaman Jogja yang berpengalaman melayani pembelian dalam jumlah besar.


Yang di mataku paling istimewa yang warna emas. Berkesan mewah. Akan tetapi, seleraku nggak umum. Kalau mau aman, pilih aja yang warna hitam.

2. Tas Tangan

Kupilih produk-produk untuk perempuan dengan satu alasan: yang judgemental itu perempuan. Yang nunggu-nunggu oleh-oleh biasanya perempuan. Uang buat beli minyak, gula dan mi keluarnya dari dompetnya perempuan. Yang bingung oleh-olehnya nggak cukup pantas dibagi-bagikan perempuan. Laki-laki sih nggak peduli sama hal remeh-temeh seperti oleh-oleh. Maka, memilih sesuatu yang disukai perempuan bisa sangat membantu kita memenangkan hati orang dan menenangkan hati sendiri yang sama artinya dengan memudahkan kita taat anggaran.




Favoritku Foto 1. Semua kudapat dari Shopee. Sayangnya nggak nemu satupun toko yang bisa meyakinkanku beli secara online. Kalau kubandingkan harga dan tampilan barang di fotonya, mestinya ini buatan RRC. Murah sekali. Penilaianku ke barang-barang RRC negatifnya maksimal. Wajib menyentuh bahan, lihat bagian dalam dan kerapian jahitannya sebelum memutuskan membeli.

3. Tas Lain-Lain

Tas jadi pilihan utamaku karena agak sulit nebak harga tas. Pada prinsipnya yang kuburu barang-barang 15-25 ribuan yang bisa kelihatan 10 ribu lebih mahal. Yang kutembak bukan selisih antara harga ecer dengan harga grosir tapi kesan mahal yang diciptakan oleh bahan, warna dan desain.

Yang terbuat dari bahan alami seperti kulit dan kain-kainan nggak kelihatan murahan meski murah. Beda sekali dengan bahan buatan khususnya plastik. Begitu juga dengan warna-warna dasar polos dan desain yang sederhana. Yang kumaksud dengan tas lain-lain adalah segala macam tas yang terbuat dari kain. Kalau pilihannya kulit atau kain, untuk tas kupilih kulit. Tapi kalau pilihannya kain atau plastik, meski yang plastik ini merk Channel, tetap kupilih yang kain.




Trik dengan tas berbahan kain adalah memilih tas selain tas tangan; yang fungsinya bukan sebagai pelengkap penampilan kaum perempuan. Untuk tas tangan selalu pilih kulit asli atau sintetis tapi tas belanjaan, tote, tas bekal seperti Foto 1, tas lipat, segala macam pouch, yang terbuat dari serat kain kelihatan istimewa meski murah.

4. Dompet

Menurutku penting milih barang yang ukurannya lebih besar dari telapak tangan. Yang mini seperti gantungan kunci is a big no-no. Pengecualian hanya akan kuberikan ke dompet.




Tiga dompet di atas ini kudapat dari tiga pengrajin lokal jadi sangat kurekomendasikan. Salah satunya Minaz Store, Star Seller berbasis di Bandung yang produknya tas dan dompet trendy. Foto-foto listingannya kelihatan sekali nyomot. Mereka bikin produk-produknya sendiri tapi jelas nampak njiplak desain Korea. Nggak apa. Bagiku. Aku sih lebih suka beli, pakai dan bagi-bagi produk KW lokal daripada produk ori impor.

5. Mug Atau Cangkir

Kalau sungguh-sungguh nggak mau atau nggak bisa membagikan oleh-oleh yang sama sekali nggak ada hubungannya dengan Arab dan Tanah Suci, barang pecah-belah kugolongkan sebagai pilihan paling aman. Dengan syarat ditambah makanan atau minuman khas Arab. Mug atau cangkir misalnya, tambahkan minuman sachet di dalamnya. Kurma orang sudah pada tahu tapi Sirup Kurma atau kopi dengan rasa jahe-kapulaga atau Sobyah sepertinya masih pengalaman baru bagi kebanyakan orang kita. Sandingkan kacang Pistachio bakar dengan peranti saji; bumbu Nasi Biryani dengan piring makan; bumbu Sop Arab dengan mangkok makan; Teh Arab dengan teko.

Kesulitannya mungkin di menemukan makanan-minuman khas Arab dalam kemasan sachet. Waktu umrah tahun 2017 aku nggak lihat supermarket, minimarket atau toko kelontong di sekitar Masjidil Haram. Bertebaran toko-toko oleh-oleh tapi yang dijual ya yang populer di kalangan orang-orang non-Arab. Kita harus cari tempat-tempat jujugan belanjanya orang Arab sendiri. Mungkin bisa coba cari di Kampung Arab di sekitar Masjid Sunan Ampel.

6. Piring Makan Atau Mangkok Makan

Semua barang yang fotonya kutaruh di sini kudapat dari Shopee. Sama sekali bukan berarti aku menganjurkan membeli secara online. Kucari di Shopee karena Shopee yang bisa ngasih foto+harga. Yang paling baik menurutku tetap membeli secara langsung dan secara lokal meski harganya selisih. Ukuran barang di foto selalu nampak lebih besar dari aslinya, warnanya nggak pernah sama persis dengan di foto. Lebih-lebih untuk barang-barang berat dan beresiko pecah di tangan kurir. Beli online sama dengan buang uang. Yang terbuat dari keramik pasti mahal di ongkos kirim. Yang terbuat dari beling resiko pecahnya terlalu besar.

Kalau harus beli dari toko online, pilih barang pecah-belah dari enamel atau melamine. Nah, dua bahan itu cenderung kelihatan murahan. Untuk dua bahan itu aku hanya akan memilih peranti saji. Untuk piring makan dan mangkok makan baiknya pilih yang terbuat dari keramik atau beling.Tiga-tiga mangkok yang kutaruh di sini kudapat dari Dapur Ny. Bun. Sama seperti Toko Anyaman Jogja, jualannya terspesialisasi. Kalau aku tinggal di Jakarta, jadi barang bisa dikirim via Grab Same Day, nggak mikir dua kali beli dari Dapur Ny. Bun. Barang-barangnya nggak pasaran.

7. Piring Saji Atau Mangkok Saji

Selalu ada resiko ditertawakan orang memilih item-item sehari-hari yang nggak ada bau-bau Arabnya sama sekali. Kita bisa melakukan satu dari tiga hal untuk meminimalkan resiko jadi olok-olokan se-RT. Yang pertama, membagikan oleh-oleh berupa peralatan makan-minum yang dilengkapi makanan-minuman khas Arab. Yang kedua, memilih peranti makan-minum yang boleh pasaran dalam hal bahannya tapi istimewa dalam hal warna+desain. Cara ketiga kusimpan untuk pos lain supaya bisa kujelaskan dengan contoh. Yang jelas melibatkan hadist atau doa yang relevan dengan oleh-oleh kita dan berhubungan dengan pengemasan.Bagi yang tinggal di Surabaya dan sekitarnya, kudengar dari sepupuku, Pasar Bong di daerah Kapasan, Surabaya punya banyak pilihan barang-barang dapur berbahan melamine yang dijual dengan harga grosir.

8. Pitcher Atau Ceret Beling

Aku hanya akan membeli barang pecah-belah berbahan keramik dan beling dari toko online kalau dikirim dalam peti kayu yang harus diangkat 4 orang. Hanya itu yang bisa memastikan barang nggak dilempar-dibanting sama pekerja kurir.Sekali lagi kuingatkan, semua barang yang kutaruh di sini ada dalam kisaran harga 15-25 ribu (pada saat post ini terbit 14 Februari 2020). Sebagian toko menggratiskan ongkos kirimnya tapi jelas bukan barang-barang berat yang gampang pecah. Harga 15-25 ribu untuk barang berbahan keramik dan beling sudah pasti belum termasuk ongkos kirim dan bubble wrapping.

9. Toples Beling

Barang dari beling bening nggak bisa kelihatan murahan. Pilih yang desainnya klasik.

10. Rantang

Kuhindari barang-barang berbahan plastik. Sayangnya rantang yang bisa dijinjing yang harganya 25 ribu ke bawah pasti berbahan plastik. Rantang kupilih karena ukurannya yang besar. Ini yang kuamati: orang-orang dari kelas bawah menilai oleh-oleh kita dari ukuran. Makin besar, makin bagus.


11. Wadah Penyimpanan Makanan

Barang plastik dikelilingi aura murahan yang menculek mata. Tapi tetap ada kan barang-barang plastik yang kita tidak bisa hidup tanpanya. Di situ trik membagikan oleh-oleh barang plastik: pilih yang fungsinya sulit ditandingi barang yang sama yang terbuat dari beling, aluminium, keramik, enamel, melamine, kaleng atau bahan lainnya. Yang langsung terlintas di kepalaku: wadah menyimpan makanan khususnya untuk ditaruh di kulkas. Pilih yang satu set (dapat lebih dari satu biji) seperti Foto 1. Lebih bagus kalau ukurannya bervariasi (nggak nemu yang harganya 25 ribu ke bawah di Shopee). Kalau merasa wadah kotak seperti itu terlalu biasa, pilih wadah plastik bertutup klep.

12. Handuk

Dari segi warna pilihanku handuk di Foto 1. Itu warna-warna mahal. Tapi dari segi ukuran dan ketebalan, handuk buatan RRC di Foto 2 yang lebih unggul. Mana yang kupilih tergantung orang-orang seperti apa yang menerimanya. Kalau keluarga besarku dari belah ibu di kampung dan tetangga-tetanggaku di Pacet, kupilih handuk yang besar meskipun daya serapnya nggak bagus. Warna dan motif nggak penting. Kalau teman-teman kerjaku, kupilih yang ukurannya lebih kecil, saputangan handuk atau keset handuk pun nggak apa, tapi harus yang daya serapnya bagus. Kalau harus memilih satu handuk yang sama untuk mereka semua, kupilih handuk yang nggak gampang didapat seperti handuk di Foto 3.

13. Taplak

Nggak nemu taplak meja makan dari kain yang harganya 25 ribu ke bawah di Shopee. Ada taplak meja tamu berbahan kain tapi fotonya sangat tidak mewakili. Pilihannya juga sedikit sekali. Taplak di Foto 1 terbuat dari plastik PVC. Menurutku bagus-bagus aja di meja tamu berbahan kayu.Kalau harus membeli barang buatan RRC, kupilih taplak meja makan. Taplak meja makan di dua foto di bawah terbuat dari plastik. Di Pacet sini pun ada yang jual taplak meja makan plastik meteran tapi  sulit cari motif kotak-kotak dan kembang-kembang kecil dalam warna-warna mahal seperti buatan RRC yang bertebaran di Shopee.



Di kategori barang dapur, Kedaung, Freemir dan Maspion menyediakan pilihan yang bisa bersaing tapi di luar kategori itu barang-barang buatan RRC nyaris nggak menghadapi kompetisi lokal yang berarti. Kain batik bisa sangat istimewa sebagai tas dan baju. Kalau harganya bukan dalam kisaran 15-25 ribu. Sayangnya kain batik di mataku sangat biasa kalau nggak bisa dibilang jelek sebagai taplak, sprei dan sarung bantal meskipun harganya mahal. Jadi walau sepupuku bilang Pasar Bong Surabaya menyediakan banyak pilihan taplak, sprei dan sarung bantal batik, sejujurnya, I wouldn’t bother.

14. Sarung Bantal

Mestinya sekarang sudah kebaca dengan sangat jelas apa yang kumaksud dengan “yang kutembak bukan selisih antara harga ecer dengan harga grosir tapi kesan mahal yang diciptakan oleh bahan, warna dan desain”. Selama kita pandai di 3 elemen itu, apapun barang pilihan kita, berapapun anggarannya, tetap berkesan mahal.


15. Kemewahan Kecil

Yang kuperhitungkan ketika memutuskan beli ini atau itu buat oleh-oleh haji-umrah: pertama pastinya anggaranku berapa. Kedua, orang-orang yang akan kukasih ini siapa. Kuukur dari kedekatannya denganku atau dari kelas sosial-ekonominya.

Sepertinya melebihkan pemberian untuk orang-orang dekat berlaku secara universal. Nggak perlu kujelaskan. Nah, percaya nggak percaya, kelas sosial-ekonomi seseorang mempengaruhi caranya menilai sebuah pemberian. Barang dapat gratis yang dinilai tinggi oleh kelas bawah bisa jadi nggak ada harganya di mata kelas menengah. Dan sebaliknya.

14 barang yang kusebut di atas tidak akan kuberikan ke mereka yang secara sosial-ekonomi ada di atasku. Untuk mereka kupilih barang-barang yang meski sama 15-25 ribunya dengan barang-barang tadi, ukurannya jauh lebih kecil (bisa digenggam tangan), memanjakan mata dan harus sangat ekstra di pengemasannya. Kelas bawah nggak begitu peduli sama kemasan.








On second thought …

Kalau dipikir-pikir, membagi-bagikan oleh-oleh untuk ratusan orang sebetulnya kesempatan emas mempromosikan produk atau dagangan saudara/teman/tetangga atau usaha kecil di daerah kita. Mantan manajerku jualan produk pembersih curah seperti sabun cair, sabun cuci piring dan pewangi cucian yang mutunya setara dengan merk-merk yang mendominasi pasar dengan harga selisih. Aku nggak keberatan ngulang-ngulang ke ratusan orang, “Teman baikku buka usaha jual produk pembersih curah. Kalau cocok, bisa beli langsung di dia. Nomornya ada di dalam.” Atau, “Ini bikinan adikku sendiri. Dia terima pesanan. Nomornya ada di dalam.”

Yang paling bagus memang produk yang orang belinya berulang seperti produk pembersih mantan manajerku tadi, roti-rotian, kue kering atau makanan beku. Tapi dalam hematku, apapun barangnya, orang nggak bakal nyinyir begitu tahu oleh-oleh kita yang nyleneh itu demi saudara, teman atau tetangga. Orang-orang kita kan sangat sosial.

Dan kalau dipikir lebih dalam lagi, didatangi ratusan orang sepulang haji-umrah bisa jadi kesempatan emas menguji pasar bagi yang ingin mulai jualan tapi takut jualannya nggak laku. Khususnya bagi mereka yang target pasarnya adalah keluarga, saudara, teman dan tetangga. Aku sendiri pingin sekali noko di rumah. Salah satu barang yang kupertimbangkan adalah daster selera orang Arab. Sulit sekali nemu daster yang bukan batik, berlengan panjang, yang kainnya nggak nerawang, supaya bisa dipakai di luar rumah.




Tiga-tiganya kudapat dari toko Instagram. Beda dengan barang-barang lainnya, khusus yang satu ini nggak kukasih link-nya (ketuk foto untuk link masing-masing barang). Kita harus sangat berhati-hati membeli secara online tanpa jaminan seperti yang disediakan Shopee.
Post ini akan ku-update begitu sudah kubuktikan sendiri toko ini bukan toko online abal-abal dan barangnya nggak beda jauh dengan fotonya. Persis sama jelas nggak mungkin.

UPDATE: Sudah kubuktikan dengan membelinya sendiri. Laporanku kutuliskan di Daster Arab: Bukan Review Produk Biasa.

Yang kumaksud dengan uji pasar adalah melihat respon orang yang kukasih daster-daster ini. Kalau banyak yang nanya aku belinya di mana, akan kupertimbangkan jadi reseller eceran.

Satu yang harus diperhatikan, baiknya bagikan dalam tas yang bagusnya cukup untuk diperlakukan sebagai a gift on its own seperti tas kertas yang kulisting di toko Shopee-ku supaya orang nggak mencap kita oportunis. Kultur kita bukan kultur wirausaha. Orang-orang yang nilai sosialnya kuat nggak suka diperlakukan sebagai pasar oleh seseorang yang mereka kenal dekat.

Ada yang punya ide oleh-oleh lain yang harus kumasukkan di sini? Selain paket kurma, air Zam-Zam, tasbih dan kacang-kacangan Arab. Salah satu followerku membagi-bagikan payung dan dapat respon bagus.


Botol minuman mungkin?


Ayo, menabung buat daftar haji.