10 Persiapan Menghadapi Penghasilan Turun Karena Resesi

Wabah CoViD-19 pasti berlalu. Kapannya yang kita belum tahu. Daripada nunggu-nunggu, toh adanya di luar kendali kita, lebih baik mulai menyingsingkan lengan menyiapkan keuangan rumah tangga menghadapi masa lesu ekonomi (resesi) yang sudah bisa dipastikan akal datangnya.

Berikut 10 hal yang pertolongannya luar biasa di saat penghasilan turun:

1. Punya simpanan (Dana Talangan)

Pisahkan dari rekening tabungan dan rekening gaji, nggak harus rekening bank tapi harus bisa ditarik sewaktu-waktu. Uang ini yang akan jadi obat kalut di masa sempit uang. Berusahalah mengumpulkan paling sedikit biaya rumah tangga sebulan. Lebih bagus kalau 3-6 bulan. Yang pokok-pokok aja. Dalam situasi normal rumah tanggaku butuh 3 juta tapi kalau menghitung hanya pengeluaran pokok, 2 juta sebulan cukup. Selama masa resesi gunakan uang hanya untuk pengeluaran pokok.

Uang yang ada di rekening ini bukan untuk dieman-eman. Ini bukan tabungan. Pakai untuk bertahan hidup secara bermartabat selama penghasilan turun atau selama merintis penghasilan tambahan/baru. Akan tetapi, pertama, pastikan total pengeluaran sebulan tidak melebihi batas yang kita tetapkan. Dalam kasusku berarti tidak lebih dari 2 juta. Kedua, usahakan terus ada aliran uang masuk ke rekening ini. Kujelaskan di No. 2-4.

2. Sisihkan sebagian pemasukan untuk rekening dana talangan tadi

Yang punya gaji, sisihkan sebagian begitu terima untuk disetor ke rekening dana talangan. Yang sumber pemasukannya lebih dari satu, pilih satu atau lebih yang kita khususkan untuk dana talangan. Aku misalnya, pemasukan di rumah tanggaku bukan hanya gaji suami. Ada honorku nerjemahkan, ngelesi online, menyewakan rumah. Belum tentu tiap bulan dapat dan dapatnya sedikit-sedikit. Semua pemasukan tidak tetap, icrit-icrit, dari sana-sini, kutaruh di rekening dana talangan tadi. Dengan begitu, meskipun ditarik sampai nol, nolnya nggak sampai 2 bulan.

3. Tentukan harta-benda yang bisa diuangkan dengan cepat

Yang penghasilannya turun banyak atau terancam kehilangan penghasilan, pikir dari sekarang apa yang bisa dijual. Pikirkan juga calon-calon pembelinya dari sekarang. Atau harus dijual di mana. Jangan nunggu kepepet. Menjual apapun dalam keadaan kepepet dapatnya pasti lebih sedikit. Orang kepepet nggak bisa disuruh mikir pilihan. Ada barang-barang yang Penggadaian nggak mau yang laku dijual. Aku dapat 450 ribu dari 6 mangkok es krim jadul tinggalan ibuku.

Begitu dana talangan menipis dan uang yang masuk bahkan nggak cukup buat makan, segera lepas harta-benda yang gampang diuangkan, setor uangnya ke rekening dana talangan. Dana talangan ini harus jadi prioritas No. 3 setelah (No.1) Kebutuhan pokok yaitu makan-listrik-air dan (No.2) Kebutuhan untuk mencari nafkah.

4. Kumpulkan barang-barang tidak terpakai di sepenjuru rumah untuk di-garage sale mulai sekarang

Semua rumah pasti punya barang nganggur. Meski bagus, mahal, kesayangan, kalau memang nggak terpakai di rumah kita, jangan digandholi. Melepas harta benda lebih baik daripada berhutang. Asal dijual murah, segala macam barang ada yang mau beli. Lebih banyak soal menguangkan barang nganggur dengan garage sale kutulis lengkap di ebook Menguangkan Barang Nganggur.

5. Optimalkan akun media sosial, akun Shopee dan status WhatsApp untuk cari uang

Aku bukan ahli soal ini. Cuma pingin ngingatkan, di masa resesi daya beli banyak orang turun. Utamakan menjual produk atau jasa yang sifatnya primer atau yang bisa kita jual di bawah harga pasar (membantu orang berhemat) atau yang memecahkan masalah. Kalau yang kita jual selama ini produk premium atau produk non-primer, gunakan masa resesi untuk membangun rasa percaya dan kredibilitas.

Persiapan 6-10 lebih tentang mengatur pengeluaran. Kujelaskan dengan contoh kasus.

Anggap aja Bu X. Penghasilan suaminya terus “turun”. Kutulis dalam tanda kutip karena turunnya bukan karena resesi. Turunnya karena terlilit cicilan dan hutang. Kelilitnya bukan karena boros tapi karena pengaturan bulanannya nggak pakai perhitungan.

Maksudku gini: penghasilan per bulan nggak pernah nyisa. Dihabiskan untuk berbagai macam cicilan. Akhirnya, walau total penghasilan suaminya 17 juta sebulan, butuh 500 ribu pun harus hutang. Maka begitu mertua bolak-balik masuk RS atas tanggungan suami Bu X, nggak ada jalan lain selain hutang ke 5 orang teman yang harus segera dilunasi.

Waktu Bu X minta saranku, kuminta dia nyerahkan daftar pengeluaran tetapnya.

  1. Cicilan kartu kredit
  2. Cicilan koperasi-1
  3. Cicilan koperasi-2
  4. Cicilan rumah
  5. Cicilan motor-1
  6. Cicilan motor-2
  7. Listrik
  8. Iuran kompleks
  9. WiFi & TV kabel
  10. SPP sekolah
  11. Katering sekolah
  12. ART part-time utk ibu
  13. Uang bulanan mertua
  14. BPJS mertua

Angkanya nggak akan kurinci. Yang jelas setelah dikurangi semua pengeluaran di atas, penghasilan suami sisa 4 juta. Uang segitu harus cukup untuk makan, bensin, uang saku suami saat dinas keluar kota (tiap bulan keluar kota), semua pengeluaran harian lain dan pengeluaran darurat seperti ganti aki motor, anak berobat ke dokter, mertua masuk RS.

Kembali ke persiapan menghadapi turunnya penghasilan.

6. Tentukan pos-pos pengeluaran tetap yang harus atau bisa dihilangkan

Dalam kasus Bu X, ngotot mempertahankan 14 pos di atas hanya akan membuat keuangan yang sudah sempit semakin sempit, lubang hutang yang sudah dalam semakin dalam. Itu pasti. Mati-matian menekan semua pengeluaran lain supaya cukup dengan 4 juta –apalagi ditambah bisa bayar hutang ke teman– nggak ada gunanya. Nggak akan bisa. Harus ada pengeluaran tetap yang dihilangkan.

Aturan emasnya: makin turun penghasilan kita, harus makin “kejam” menghilangkan pos-pos pengeluaran tetap. Hentikan semua pengeluaran tetap yang tidak berhubungan langsung dengan bertahan hidup dan mencari nafkah. Kalau terasa sangat berat, yakinkan diri sendiri ini hanya sementara.

Kusarankan ke Bu X untuk:

  • menjual satu motor –kalau bisa dua-duanya
  • berhenti membayar upah ART part-time ibunya.

7. Turunkan standar

Untuk pos-pos pengeluaran yang sulit dihilangkan, kurangi yaitu dengan cara menurunkan standar. Turunkan standar kita sebagai rumah tangga kelas menengah, standar makan sehari-hari, standar anak/menantu yang baik, standar berobat, standar sekolah anak, merk-merk yang biasa kita pakai, dan seterusnya.

Kusarankan ke Bu X untuk

  • mengganti Wifi dan TV kabel dengan paket data prabayar
  • memindahkan anaknya ke sekolah negeri
  • membagi biaya hidup mertua dan biaya RS mertua dengan dua ipar yang relatif mampu.

8. Atur pengeluaran dengan anggaran tertulis

Bu X nggak betul-betul tahu sisa gaji yang 4 juta persisnya habisnya buat apa saja. Dia merasa segitu cukup. Tapi kalau dilihat dari hutang-hutangnya, jelas kelihatan 4 juta sebulan sebetulnya nggak cukup tapi nggak terasa karena dia ngatur pengeluaran rumah tangganya bukan dengan anggaran tertulis.

Setiap awal bulan, sebelum uangnya masuk, tulis semua yang harus kita siapkan uangnya selama sebulan ke depan. Jangan cuma pengeluaran sebulan sekali. Tulis juga pengeluaran harian seperti lauk-pauk. Mengingat ini masa resesi, kuulangi lagi, batasi penggunaan uang hanya untuk yang berhubungan langsung dengan bertahan hidup dan mencari nafkah. Lalu tetapkan uang yang ada untuk masing-masing kebutuhan.

Bagi yang belum terbiasa ngatur pengeluaran dengan anggaran tertulis, bulan-bulan pertama pasti banyak mblesetnya. Nggak apa. Bikin anggaran dengan angka-angka yang (agak) ngawur, lalu catat semua pengeluaran selama sebulan, pakai catatan tadi untuk bikin anggaran bulan depannya. Gitu terus sampai dapat anggaran bulanan yang nggak lebih besar pasak daripada tiang sekaligus relatif gampang kita taati.

9. Makmurkan rumah dengan dapur ekonomis

Meski penghasilan turun banyak, kalau tiap hari makan enak, hidup nggak terasa seperti orang susah. Kuncinya adalah memastikan yang keluar dari dapur kita hanya yang disukai keluarga dan rajin bikin camilan anget.

Kita bisa memastikan biaya makan-camilan tetap rendah dengan membatasi diri di bahan-bahan ekonomis. Adikku laki dan ponakanku seleranya jelas nggak ekonomis. Mereka suka sekali daging. Tapi tetap ada masakan ayam, tahu dan telur yang mereka suka. Fokuslah di masakan ekonomis yang sekeluarga suka. Soal jajanan, asal anget, tinggal makan, apapun itu pasti disuka.

10. Sibukkan diri dan keluarga dengan kegiatan (fisik) yang menurunkan pengeluaran atau yang “mengundang” pemasukan

Menekan pengeluaran serendah-rendahnya terasa jauh lebih ringan kalau pikiran dan tangan kita sibuk. Halaman rumahku luas. Berkebun sayur bukan cuma bantu-bantu ngurangi pengeluaran lauk-pauk tapi juga menyibukkan anakku Rafi yang sangat menikmati ngejar-ngejar kodok. Di dalam rumah waktunya habis buat YouTube, TV, VCD dan membongkar isi rumah.

Meski kutaruh di nomor buncit sendiri, kepandaian menyibukkan pikiran dan tangan seluruh anggota keluarga menentukan berhasil-nggaknya, berat-entengnya, upaya kita di No.1 sampai 8.

Aku paham sekali tekanan di pundak IRT sarjana yang suaminya nggak mapan. Kita merasa harus menghasilkan uang dari rumah. Lebih-lebih di masa resesi ketika penghasilan suami yang sudah nggak mapan ini turun pula.

Bila sangat kesulitan menghasilkan uang dari rumah:

Aku sama sekali bukannya mengharuskan semua IRT mencari uang tambahan. Lihat kekuatan kita di mana: di berhemat atau di menghasilkan uang. Jarang sekali yang kuat di dua-duanya. Kalau kekuatan kita jelas-jelas di berhemat, kerahkan waktu-tenaga di situ. Di mana kekuatan kita, itu yang paling bisa ngasih hasil. Sejak kuputuskan fokus di pengeluaran –bukan di pemasukan– keuangan rumah tanggaku mbalik 180°.

Kalau memang harus mencari uang karena penghasilan turun banyak atau hilang sehingga buat makan pun kurang, yang kuanjurkan untuk IRT adalah segala sesuatu yang dilakukan secara online. Kalau bisa yang nggak butuh modal. Coba jadi reseller atau terima pesanan.

Satu yang kupelajari soal jualan online. Konsistensi mengunggah dan kepandaian mempresentasikan diri+produk secara online lebih penting daripada bakat khusus menciptakan produk. Andai jual masakan, yang diperlukan sebetulnya bukan bakat masak. Butuh bakat masak kalau yang kita jual buku resep. Meski masakan/jajanan sederhana, kalau tampilannya cantik-lucu-unik dan nggak gampang didapat, ada aja yang mau beli.

Dua adik temanku jual apa yang di keluarga besar mereka disebut Lontar Papua. Pada hakikatnya pie susu. Tapi karena nama yang unik, didukung papa mereka asli Papua dan resep yang mereka pakai ini resep turun-temurun keluarga yang teknik pembuatannya beda dengan resep-resep pie susu di Cookpad, pie susu versi mereka jadi punya nilai jual.

Lalu soal kepandaian mempresentasikan diri+produk secara online. Kita harus mengunggah satu produk yang sama atau yang berkaitan dengannya secara terus-menerus tapi dalam konteks dan “kemasan” yang berbeda-beda. Lebih bagus kalau kepribadian dan keseharian kita menambah nilai produk yang kita jual.

Contoh: ebook-ku tentang garage sale. Waktu ku-publish dan kuworo-woro di Instagram, yang nengok cuma sedikit. Meski 7 hari berturut-turut membombardir Facebook, Instagram dan WhatsApp, ngasih tahu aku punya ebook yang bisa diunduh gratis, jumlah orang yang berminat nggak akan nambah. Tapi, setelah-setelahnya, tiap kali ku-share kerjaku mendeclutter barang dan tiap kali aku bicara soal barang-barang yang akan ku-listing di Shopee, pasti ada yang mampir ke blog untuk mengunduh itu ebook.

Yang ingin kukatakan adalah: kita nggak bisa berharap mengunggah foto produk hari ini, laku besok. Kita juga nggak bisa berharap bisa menarik pembeli hanya dengan mengunggah foto produk 17× sehari.

Jadi yang sangat kesulitan mencari penghasilan tambahan, nggak punya barang berharga yg bisa dijual, juga nggak punya cukup barang utk garage sale, pesanku:

Investasikan waktu dan tenaga di memakmurkan rumah dengan dapur ekonomis dan menyibukkan diri dan keluarga dengan kegiatan (fisik) yang tidak membutuhkan uang.

Bila sangat kesulitan berhemat:

Jangan mengandalkan tekad. Nggak cukup. Ada hal-hal non-tekad yang bikin kita tahan bersusah-susah demi berhemat. Antara lain:

  • Berhenti gumbul dengan orang-orang –khususnya orang-orang dari masa lalu– yang nggak bisa atau nggak mau ngerti keuangan kita.
  • Berhenti gumbul dengan orang-orang yang penghasilannya jelas-jelas di atas kita.
  • Jaga jarak dari orang-orang yang keuangannya sama pas-pasannya tapi nggak nyadar.
  • Bikin yang namanya circle of influence. Cari guru dan teladan. Ikuti orang-orang yang mempraktekkan gaya hidup hemat.
  • Menyibukkan pikiran dengan apa yang jadi passion kita.
  • Menyibukkan tangan dengan uji coba resep berbahan ekonomis, decluttering, mengorganisasi seisi rumah, meng-efisienkan penataan ruang dan men-deep clean.
  • Bikin system, routine dan berbagai list & plan untuk men-support upaya kita berhemat.

Memulai gaya hidup hemat memang butuh tekad tapi untuk bisa mempertahankannya butuh strategi dan “ilmu”. Keberhasilanku dijelaskan oleh keteguhan mencari strategi yang efektif di aku dan terus-menerus menambah “ilmu” dengan learning by doing. Gagal, coba lagi. Mbleset, diperbaiki. Gitu terus nggak putus selama 3.5 tahun.

Sesungguhnya, kalau dipikir-pikir, resesi yang sedang berjalan mendekati kita ini nggak bisa diatasi hanya dengan mencari penghasilan tambahan ataupun dengan menggencet pengeluaran. Ada faktor wabah yang membuat banyak orang terkurung di rumah. Kalau harus kusimpulkan, yang paling “berkilau” di masa resesi kali ini sebetulnya bukan IRT yang pandai cari uang dari rumah, juga bukan IRT jenius berhemat, melainkan IRT kreatif yang kenal keluarganya dengan sangat baik.