Pedoman Menabung Emas Untuk IRT

“Orang nggak mati kok nggak kredit emas!”

Yang ngomong gitu laki-laki.

Mereka nggak paham kalau bagi perempuan –khususnya IRT– emas bukan sekedar barang bling-bling. Emas ngasih perempuan perasaan aman dan perasaan berharga. Punya suami nggak otomatis membuat seorang perempuan merasa terlindungi dan ada harganya. Karena itu banyak perempuan yang ngoyo demi bisa punya emas atau demi mempertahankan emas-emasannya.

Minggu lalu nggak sengaja baca sebuah status Facebook yang menyatakan beli emas dengan cara menabung di Tabungan Emas Pegadaian tergolong riba. Bagiku Tabungan Emas Pegadaian nggak ngasih perasaan aman dan berharga sih, “cuma” mengamankanku dari banca’an bisikan setan. Pengaruhnya besar sekali ke kesanggupan menjalankan rumah tangga penghasilan satu pintu –kecil pula– dengan optimisme. Lewat perantaraan Tabungan Emas Pegadaian itulah akhirnya bisa ngumpulkan 17 juta.

Jangan tanya gimana rasanya bisa ngumpulkan uang segitu dalam tempo 15 bulan setelah tujuh tahunan berumah tangga frustasi ngelihat saldo tabungan nggak pernah bisa genap 3 juta. Bulan ini nabung 300 ribu, bulan depan narik 500 ribu.

Postingan ini bukan untuk ngajak berhenti menggunakan Tabungan Emas Pegadaian. Aku tidak lebih tahu dari MUI.

MUI Memubahkan Tabungan Emas Pegadaian Syariah

Perbedaan pendapat antar ulama akan selalu ada. Sampai kiamat. Yang paling baik bagi kita yang awam adalah memilih satu ulama atau beberapa ulama dalam satu aliran pemikiran yang sama atau satu lembaga ulama untuk kita ikuti semua pendapatnya. Yang seperti itu lebih membawa kemaslahatan daripada bingung sendiri atau debat kusir antar awam.

MUI sudah bilang boleh. Nggak ngikut MUI, monggo. Di lain pihak, bagi yang ngikut MUI, yang diambil jangan cuma pendapat soal Tabungan Emas Pegadaian. Fatwa MUI banyak. Ikuti semuanya. Sebelum ngajukan KPR, kredit mobil, beli reksadana, beli asuransi, beli emas online, gabung MLM, naruh modal di P2P lending, jualan model dropship, cari dulu fatwa MUI tentang itu.

Having said that, aku ingin menggunakan hadist tadi —transaksi antara emas atau perak dengan apapun itu harus dilakukan secara tunai— sebagai petunjuk soal menabung dalam bentuk emas.

Semua yang kutulis di sini khusus memperhitungkan kontribusi simpanan emas bagi keuangan rumah tangga <10 juta. Harus dibedakan dari apa yang bisa diberikan simpanan emas ke keuangan usaha. Ingat-ingat bahwa keuangan rumah tangga tidak ditujukan untuk menghasilkan laba.

Berhenti Menggunakan Emas Sebagai Sumber Rasa Aman

Rasa aman yang sesungguhnya ada di cashflow yang ngalirnya lancar, yang aliran keluarnya nggak kita pasrahkan ke aliran masuknya.

Tidak bisa menyediakan uang untuk membeli tunai paling sedikit sekeping emas mulia pecahan terkecil yaitu 0.5 gram dalam sekali setor adalah petunjuk jelas bahwa tugas besar kita masih di memperbaiki cashflow.

Begitu juga kalau untuk beli emas perhiasan harus nyicil 2 tahun. Itu artinya kendali kita atas aliran keluar-masuknya uang masih belum optimal. Masih bisa dikuatkan lagi.

Jadi meski Pegadaian dan toko emas ngasih jalan, kalau untuk beli emas 0.5 gram harus nyicil nabung 5000 per minggu atau untuk beli perhiasan yang kita suka harus nyicil 60 ribuan 24×, jangan ngoyo nabung dalam bentuk emas. Kuatkan dulu kendali kita atas uang. Cashflownya dulu digarap.

Wajib Punya Simpanan Uang Tunai Sebelum Menabung Dalam Bentuk Emas

Bisa beli emas sekilo dalam sekali transaksi pun, kalau selama ini polanya ‘bulan ini beli, tiga bulan lagi dijual buat nambal butuh‘ atau ‘sebulan di rumah, setahun disekolahkan di Pegadaian‘ atau ‘sudah 3 tahun disekolahkan nggak tahu lulusnya kapan‘ atau ‘tiada tahun tanpa gadai emas‘, sesungguhnya pertanda kita harus mendahulukan tabungan uang tunai. Sekalipun selama ini bisa nebus. Jadi jangan tanya kalau nggak bisa nebusnya ping bolak-balik.

Menabunglah dalam bentuk emas hanya setelah kita punya simpanan berupa uang tunai yang bisa kita pertahankan saldonya di level aman. Nggak usah banyak-banyak, 3-5 juta cukup, dan nggak usah terus-terusan ditambah saldonya. Yang penting adalah begitu ketarik, segera kembalikan saldonya ke semula. Prioritaskan uang masuk untuk ngembalikan saldo ke level aman setiap kali ketarik.

Jadi latihannya bukan di nabungnya tapi di mengatur aliran keluar-masuk uang di rumah tangga kita.

Putar otak agar saldonya nggak pernah sampai nol. Nol pun jangan sampai berbulan-bulan. Kalau nolnya sampai berbulan, itu artinya kehidupan kita sehari-hari masih di atas tingkat penghasilan atau sama dengan tingkat penghasilan. Untuk bisa menaati hadist yang kusebut di atas, keseharian harus di bawah tingkat penghasilan.

Gunakan Emas Mulia Untuk Program Menabung 5-10 Tahun Atau Lebih

Menabung (=menyisihkan penghasilan) mestinya kita lakukan seumur hidup. Demi memastikan upaya nabung kita sekarang jadi pondasi upaya nabung kita berikutnya, dengan kata lain keseluruhan upaya nabung kita beneran ngangkat keuangan: menabunglah untuk tujuan yang spesifik dalam urutan Hukum Kaya.

Awali dengan menabung untuk keamanan keuangan. Itu tuntas, baru menabung untuk cita-cita dan impian dalam rangka mengupayakan kehidupan yang lebih baik. Terakhir sendiri, silakan menabung untuk investasi yang murni bertujuan mengembang-biakkan uang. Kalau mau kaya lewat jalur menabung, hormati urutan itu.

Konkretnya gini, dulukan menabung yang tujuannya melancarkan cashflow yaitu menabung untuk semua pengeluaran yang bisa dipastikan akal. Walau kitanya nggak ridha ngeluarkan uang untuk itu, selama nggak bisa dihindari kan tetap aja dananya harus disiapkan. Contoh: orang tua/mertua sakit-sakitan atau THR selalu kurang.

Yang penghasilannya minimum apalagi di bawah minimum, setelah punya simpanan untuk kebutuhan darurat kecil, upaya nabung berikutnya harus ditujukan untuk nambah penghasilan. Mungkin nabung buat kuliah atau sertifikasi demi dapat promosi, kenaikan gaji atau ngelamar pekerjaan lain. Bisa juga buat meng-upgrade isi lemari untuk memperbaiki penampilan yang berpengaruh langsung ke penghasilannya mereka yang bidang kerjanya harus berhadapan dengan orang banyak. Atau buat beli laptop untuk cari penghasilan tambahan lewat menulis lepas. Macam-macam. Dulukan yang berpengaruh langsung ke sumber penghasilan kita yang sekarang. Kalau nggak nemu, baru cari penghasilan tambahan atau sampingan yang nggak ada hubungannya dengan penghasilan kita sekarang. Dulukan yang nggak butuh modal. Butuhpun jangan banyak-banyak.

Nah, untuk mendanai tujuan-tujuan yang kusebut tadi, baiknya tidak menabung dalam bentuk emas karena mestinya uangnya sudah ngumpul dalam waktu 1-2 tahun supaya hasilnya sudah bisa kita lihat dalam 2-3 tahun. Kalau butuh lebih lama dari itu, kemungkinan besar game-plan kita untuk nambah penghasilan kelewat ambisius. Semua tabungan yang harus kita pecah dalam tempo kurang dari 5 tahun baiknya tidak dirupakan emas mulia apalagi emas perhiasan.

Intinya adalah yang ngerubah nasib itu bukan nabungnya, tapi kepandaian bikin game plan untuk nambah penghasilan dan keteguhan dalam mengekskusi game-plan itu tadi. Nabung adalah jembatan antara rencana dengan ekskusi.

Maka dari itu, menabunglah dalam bentuk emas mulia hanya untuk tujuan berbiaya besar seperti beli rumah atau tanah, nguliahkan anak, resepsi mantu, dana darurat 6 sampai 12× pengeluaran bulanan, naik haji suami-istri; teruskan sendiri. Rumah tangga berpenghasilan <10 juta pastinya butuh nabung teratur bertahun untuk dana-dana itu.

Kalau Bisanya Membeli Sedikit-Sedikit, Rupakan Emas Perhiasan

Emas mulia sekarang ini per gramnya dihargai 900-an ribu. Kita memang bisa beli pecahan 0.5 gram yang lebih terjangkau, 480-an ribu. Akan tetapi, kalau nggak sanggup beli dalam pecahan 5-10 gram sekali beli, dalam hematku itu petunjuk bahwa aset pakai (emas perhiasan) lebih menguntungkan keuangan timbang aset nganggur (emas mulia) meski nilai jual balik emas perhiasan lebih rendah dibanding emas mulia. Menguntungkan atau nggaknya harus kita ukur dari keuangan rumah-tangga kita: masih di tahap harus mengusahakan keamanan keuangan kah? Sudah di tahap bisa mengupayakan kehidupan yang lebih baik kah? Atau dua itu sudah kita lewati jadi sudah boleh memulai tahap mengejar kekayaan?

Selama kita masih di tahap harus mengusahakan keamanan keuangan (Tahap Bawah), fokuskan upaya menabung untuk tujuan-tujuan jangka pendek. Karena itu baiknya dirupakan uang tunai. Kalau toh ada rizki lebih yang cukup buat beli emas mulia 5-10 gram, lebih baik ambil sebagian untuk membeli segala sesuatu yang bisa bantu-bantu mendatangkan uang masuk atau yang bisa bantu-bantu menurunkan uang keluar, sisanya taruh di rekening tabungan yang bisa ditarik sewaktu-waktu. Belum saatnya menabung dalam bentuk emas mulia.

Giwang Daisy

Gimana kita tahu kita masih di tahap harus mengamankan keuangan?

Gampang niteninya:

  • nggak punya penghasilan yang bisa diandalkan dalam jangka panjang
  • gali lubang tutup lubang
  • harus dibantu orang tua atau saudara untuk nutup kebutuhan pokok
  • hidup dari gaji ke gaji (nggak punya tabungan sama sekali)

Akan tetapi, meski masih di Tahap Bawah, kalau memang sudah punya simpanan uang tunai yang saldonya bisa kita pertahankan di level aman, silakan menabung dalam bentuk emas perhiasan. Jalankan program menabung dengan membeli sesuai uang yang ada di tangan. Begitu masuk toko langsung bilang ke pramuniaganya, “Aku ada uang sekian. Tunjukkan padaku perhiasan yang bisa kudapat dengan uang segitu.” Hindari nilik’i barang setoko satu-satu.

Mulai dengan membeli pecahan kecil; anting atau cincin. Baiknya cari tempat yang melayani tukar-tambah. Ada uang, tukar-tambah ke cincin-anting yang gramnya lebih berat. Ada uang, tukar-tambah ke gelang. Gitu terus. Prinsipnya adalah menambah sedikit-sedikit tapi terus-menerus dalam tempo tahunan. Uang yang bisa kita sisihkan jangan digenjot buat emas-emasan. Prioritas tetap harus ditaruh di simpanan berupa uang tunai.

Cincin Karawang

Kenapa di tahap ini emas perhiasan lebih menguntungkan timbang emas mulia?

Keuangan rumah tangga bukan cuma hitung-hitungan Matematika. Ada dimensi psikologi dan sosial di dalamnya. Seperti yang kubilang di atas, emas bikin perempuan merasa berharga. Masyarakat kita menilai kesuksesan seorang laki-laki salah satunya dari emas perhiasan yang dipakai istrinya. Karena itu, kalau bisanya beli pecahan kecil, rupakan emas perhiasan. Pilih yang menculek mata.

Ketika orang-orang sekeliling kita menilai rumah tangga kita “berhasil”, rumah tangga kita jadi relatif bebas tekanan. Campur tangan orang tua dan mertua, keluarga besar dan omongan nyinyir bisa kita minimalkan. Butuh otonomi untuk bisa membuat keputusan dan mengambil pilihan yang menguntungkan keuangan rumah tangga kita dalam jangka panjang. Emas mulia nggak ngasih efek itu kecuali kalau emas mulianya kita gandholkan di leher.

Yang bahaya itu keyakinan orang Indonesia bahwa emas mulia berapapun jumlahnya pasti punya nilai investasi. Itu keyakinan yang menjerumuskan rumah tangga berpenghasilan kecil. Manfaatkan sentimen orang kita ke emas tapi jangan dijadikan dasar membuat keputusan membeli emas, keputusan menabung dalam bentuk emas mulia dan keputusan gadai atau jual.

Gini:

Satu: Emas mulia punya nilai investasi hanya kalau kita sanggup beli dalam jumlah besar dalam sekali tepuk dan bisa mempertahankannya dalam jangka waktu lama (karena kita nggak butuh uangnya). Pastinya bukan investasi kalau bolak-balik harus gadai.

Dua: Yang bisa mengeluarkan kita dari keuangan pas-pasan, keuangan gali saldo tutup saldo, hidup dari gaji ke gaji apalagi keuangan gali lubang tutup lubang bukan investasi, bukan kumpul-kumpul emas mulia, jelas bukan kalau kumpul-kumpulnya harus ngejen.

IRT harus banyak-banyak belajar membasiskan keputusan/pilihannya pada situasi keuangan rumah-tangganya, bukan pada apa yang diyakini banyak orang tentang nilai investasi emas mulia. Kita pakai diriku lah sebagai contoh biar gamblang.

Bisa ngumpulkan 17 juta dalam 15 bulan yang kusinggung di atas sebetulnya bukan karena “keajaiban” menabung dalam bentuk emas tapi karena aku bisa mempertahankan tingkat pengeluaranku seperti saat hampir separuh gaji kepotong buat cicilan hutang dan premi asuransi. Belum lagi selama hampir 2 tahun itu gaji suamiku tembus 6 juta dan penuh aku yang pegang. Sebulannya bisa setor sejuta ke Tabungan Emas Pegadaian. Angka-angka itu berubah begitu tempat kerja suami memberlakukan 2 shift kerja yang drastis ngurangi uang lembur. Berubah lagi begitu kuputuskan berbagi uang gaji dan tanggung-jawab dengan suami. Berubah lagi karena pandemi. Yang sudah turun makin turun. Sekarang ini sudah nggak bisa rutin setor ke Tabungan Emas Pegadaian.

Nah, nggak bisa rutin setor dalam jumlah yang signifikan per setornya sejatinya petunjuk bahwa penghasilanku-suami nggak cukup untuk program nabung jangka panjang. Prioritas harus kutaruh di simpanan uang tunai (Dana Talangan) untuk nutup kebutuhan-kebutuhan jangka pendek supaya cashflow tetap lancar. Bisa setor pun –karena ada pemasukan selain gaji yang nominalnya di atas sejuta dan hanya bila saldo Dana Talanganku minimal 3 juta– saldo Tabungan Pegadaian tetap harus kubiarkan tunai meski cukup untuk mencetak emas 5 gram karena dengan hitung-hitungan akal bisa kupastikan aku nggak bisa mempertahankan sekeping emas 5 gram itu sampai 5 tahun. Tiga tahun aja nggak sanggup. Ada beberapa kebutuhan berbiaya 5-10 juta yang harus kusiapkan uangnya.

Membangun Koleksi Emas Perhiasan Untuk Menambah Nilai

IRT rumah tangga berpenghasilan <10 juta bisa dibilang nggak punya kesempatan berinvestasi dalam pengertian nggak ngapa-ngapain, cuma naruh uang 10-20 juta, setelah setahun tiba-tiba aja itu uang beranak 1-2 juta. Pertama karena di rumah tangga berpenghasilan <10 juta uang kepakai sampai ke receh. Sulit aja nyediakan uang 10-20 juta. Kedua, makin tinggi imbal-hasil, makin tinggi juga resiko ruginya. Andai toh bisa nyediakan 10-20 juta, rumah tangga berpenghasilan <10 juta nggak sanggup nanggung resiko ruginya. Kalau rugi, yang kepukul hajat hidup sekeluarga. Setback-nya jauh dan menyakitkan.

Akan tetapi:

Kalau kita meluaskan pengertian investasi menjadi menaruh uang-waktu-energi untuk mengembangkan sesuatu yang akan menguntungkan kita secara finansial dalam tempo beberapa tahun, siapapun dengan penghasilan berapapun bisa berinvestasi. Pengetahuan mendalam tentang rumah tangga berpenghasilan kecil adalah investasiku. Pengetahuan mendalam tentang emas perhiasan, antara lain:

  • jenis emas yang nilai jualnya paling tinggi,
  • tempat-tempat yang mau membeli emas perhiasan dengan harga tertinggi,
  • tempat-tempat mendapatkan emas perhiasan dengan harga di bawah pasar,
  • faktor-faktor apa selain berat & karat yang nambah nilai jual emas,
  • emas seperti apa yang diburu kolektor

juga punya nilai investasi. Andaipun nggak tertarik dengan keuntungan uangnya, seorang IRT pasti dapat manfaat luar biasa dari pengetahuan mendalam akan:

  • desain/model anting, kalung, liontin, gelang dan cincin yang ngangkat tampilannya secara dramatis
  • padu-padan baju dan emas perhiasan yang ngasih kesan elegan atau chic atau modern
  • desain yang bikin sebuah perhiasan emas nampak lebih mahal dari harganya

Hampir semua perempuan Indonesia pakai emas tapi berapa banyak yang tampilannya keangkat karenanya? Di kalangan etnis-etnis tertentu nilai estetika emas perhiasan dihajar sama nilai prestisnya; kalung setebal tali tampar, liontin segembok, gelang jejer sampai ke siku, kalau jalan bunyi ‘klenthing, klenthing, klenthing‘.

Gelang Tinju

Seperti yang kubilang berulang,

Semua dimulai di level pikiran.”

Untuk dapat manfaat besar dari menabung dalam bentuk emas, tata-benahi dulu yang ada di pikiran kita tentang penghasilan, menabung, berinvestasi dan kekayaan. Lebih bagus kalau bisa ngoreksi sentimen kita pribadi atas emas khususnya emas mulia.