Keluar Dari Keuangan Sempit Dengan 4 Kerangka Pikir Ini

Setelah 3 tahunan menampung curhatan di Instagram, WhatsApp dan email, kulihat-lihat IRT yang terbebani keuangan rumah tangga yang sempit punya kerangka berpikir yang sama.

Kubagi jadi tiga golongan.

Golongan pertama menunjuk sifat boros di dirinya sendiri atau orang lain sebagai gara-gara. Seringnya nggak sesederhana itu. Berulang membeli barang yang kita tahu nggak sanggup kita beli atas tekanan-tuntutan orang tua bukan boros. Itu perkara otonomi.

Golongan kedua menunjuk sekian faktor sebagai biang kerok. Boros bisa jadi salah satu di antaranya. Yang jelas semua faktor adanya di luar dirinya. Ini nutup pintu ke keadaan yang lebih baik dengan sendirinya. Keadaan yang lebih baik dalam hal apapun, bukan hanya dalam keuangan sempit.

Golongan ketiga melihat sempitnya keuangan sebagai akibat langsung nggak langsung dari satu kejadian beberapa tahun lewat. Biasanya juga, di kepala mereka peristiwa itu didorong/dipicu/dilakukan orang lain tapi mereka yang harus makan getahnya.

Secara umum penilaian golongan ketiga ini ada benarnya. Ada satu kejadian yang memukul keuangan rumah tangga. Ada yang suaminya melepas pekerjaan tetap tanpa persiapan dan perencanaan seksama. Ada yang atas tuntutan bapak hutang puluhan juta demi diangkat jadi PNS tapi nggak tembus maka hutang tadi harus dilunasi dengan gaji suami. Ada yang suaminya buka usaha dengan teman lalu hutang ke kartu kredit demi kebutuhan usaha. Sayangnya usaha merugi. Eh kok ya si teman lepas tangan. Macam-macam.

Shits happen. Dalam kasus-kasus seperti itu, kalau respon kita nggak cepat-tanggap, akibatnya ke keuangan rumah tangga bakal nerus sampai sekian tahun setelahnya.

Ini yang harus kita ingat-ingat:

Masa lalu membentuk masa sekarang. Masa sekarang membentuk masa depan.

Menghadapkan wajah ke masa lalu nggak akan merubah apapun. Yang bisa kita lakukan adalah mengutak-atik masa sekarang bermodal empat kerangka berpikir di bawah ini.

Kerangka Pikir#1: Mulai Dari Diri Sendiri

Di mana posisi kita dalam situasi sempit ini? Ingat, selalu menyalahkan diri sendiri sama buruknya dengan selalu mencari kambing hitam. Bila kita memang korban dari keputusan-pilihan-sifat-kebiasaan buruk suami atau orang tua/mertua atau saudara/ipar atau mereka semua, menempatkan diri sebagai seseorang yang sama sekali tidak berkontribusi dalam rangkaian peristiwa yang akhirnya menempatkan rumah tangga kita dalam keuangan yang sempit sama saja dengan memutuskan bahwa kita nggak bisa apa-apa bahkan sebelum berikhtiar.

Whether you say you can or you can’t, you’re right.

Gini:

Sempit atau lapangnya keuangan sebuah rumah tangga tidak terjadi dalam semalam. Selalu ada proses yang mengantar kita ke sana. Proses ini bisa dimulai oleh satu peristiwa besar yang diikuti oleh keputusan/pilihan nggak pintar yang terus-terusan. Bisa juga sekian banyak pilihan buruk kecil-kecil –dilihat secara satuan nggak ada ruginya– yang baru kelihatan betapa buruk rupanya setelah sekian tahun. Orang Jawa bilang ‘mbendhol mburi‘.

Contoh.

Menghabiskan tabungan hasil kerjaku selama 7 tahun untuk modal buka kursusan franchise satu bulan sebelum pernikahanku dengan laki-laki yang bukan cuma berpenghasilan UMR tapi juga nggak pernah bisa menabung adalah pilihan sembrono.

Diperburuk dengan pilihan menghabiskan tabungan dari uang buwuhan pernikahan kami dan simpanan wajib koperasi suami yang cair karena mengundurkan diri untuk mengunjungi saudara di Kuala Lumpur 5 bulan setelahnya.

Akhirnya untuk memperpanjang uang kontrak rumah petak setahun setelah menikah harus gadai emas.

Honor lumayan besar dari in-company training yang harusnya bisa buat dana darurat kepakai buat nebus dan bayar bunga.

Karena nggak punya dana darurat, upaya nabung selama 4 tahun berikutnya –buat ngontrak– nggak pernah bisa ngumpul. Adaaa aja. Uang 50 juta dikasih mertua di tahun ke-2 yang kueman-eman buat DP rumah berkurang hampir separuh untuk ngontrak rumah. Sisanya ketarik sedikit demi sedikit buat nambal butuh. Di tahun ke-4 uang 50 juta itu habis. Setelahnya dua kali harus nggadaikan emas. Waktunya memperpanjang kontrakan uangnya nggak ada, nggadaikan emas pun nggak cukup.

Yang harus digarisbawahi, aku tidak melihat sempitnya keuangan rumah tanggaku di 6 tahun pertama sebagai akibat dari perbuatan teman yang ngajak buka kursusan franchise. Murni “hasil” pilihan-pilihanku pribadi.

Karena kutempatkan diri di pusat situasi, yang kupikir apa yang harus dan bisa kulakukan untuk keluar dari situasi ini dan bukan apa yang harus dan bisa dilakukan orang lain (suami, keluarganya, keluarga besarku, teman yang ngajak buka kursusan franchise). Tanpa kerangka pikir ini nggak akan terlintas untuk pindah ke Pacet dan mengoreksi cara-caraku dengan uang.

Ini kutaruh paling atas karena ini yang akan menentukan bisa nggaknya kita berpikir dalam tiga kerangka berikutnya.

Kerangka Pikir#2: Menghormati Batasan

Yaitu mengutak-atik hanya yang adanya dalam kendali kita. Pastikan juga upaya mengutak-atik ini menghormati batasan-batasan kita sendiri. Hanya karena kita benar nggak lantas berarti pihak yang salah mau kita “utak-atik”. Hanya karena kita korban yang sudah sangat sabar nggak lantas berarti orang-orang di sekitar kita siap-sedia mendukung dan bekerjasama. Apalagi kalau kita berurusan dengan orang-orang yang posisinya di atas kita. Hubungan suami-istri, anak-orang tua, mertua-mantu, antar ipar, sesungguhnya hubungan kekuasaan yang di jaman kita ini ditentukan siapa yang keuangannya di atas, siapa yang di bawah.

Konkretnya gini, posisi tawar-menawar IRT jelas-jelas di bawah suaminya yang menyediakan nafkah. Laki-laki yang nggak bisa ngasih kemapanan aja merasa di atas angin di hadapan istrinya yang IRT apalagi yang ngasih kemapanan. Dalam konteks yang seperti itu, soal suami benar atau salah jadi nggak relevan. He does because he can. Kita tidak dalam posisi membuatnya menjadi ‘he does not because I see to it that he can not‘.

Kalau dah tahu gitu, walau seisi alam manusia dan jin sepakat biang sempitnya keuangan rumah tangga kita sekarang ini suami, mengerahkan energi dan waktu untuk merubah suami sama aja dengan minta putus asa.

Yang juga harus dihormati adalah keterbatasannya satu kepala. Jangan bertingkah seperti Rambo. Manusia seperti Rambo cuma ada di film. Kita tetap butuh orang lain untuk mengeluarkan diri sendiri dari kesulitan. Cuma bukan sembarang orang. Yang kita butuhkan bukan penyelamat, bukan pendengar setia keluh-kesah, juga bukan pembenar pilihan-kehendak-reasoning kita.

Kita butuh mentor untuk nunjukkan jalan keluar. Kita butuh orang-orang dalam perjuangan yang kurang-lebih sama untuk saling menyemangati. Kita butuh orang yang mau/bisa ngingatkan begitu ikhtiar kita mulai kendor atau melenceng.

Kita harus siap ditegur, dikritik, diingatkan. Kalau sepupuku Mbak Umi bilang siap “diumbah“.

Kerangka Pikir#3: Sambung-Menyambung

Sesungguhnya ada keterkaitan antar satu peristiwa dengan peristiwa lain dalam hidup kita. One thing leads to another. Hanya saja keterkaitan ini nggak selalu ketangkap mata. Sebagian orang malah nggak bisa lihat sama sekali.

Kujelaskan dengan Bahasa Contoh.

Setelah nganggur hampir 2 tahun –tanpa satu pun lamaranku dijawab– kuturunkan ekspektasi. Yang tadinya mantengi iklan lowongan 1/4 sampai 1/8 halaman di koran, ganti mantengi iklan mini. Yang tadinya cari posisi management trainee, staf administrasi dan guru sekolah internasional, ganti cari posisi guru bahasa Inggris les-lesan. Baru bisa nutup masa nganggur dan mulai babak baru; ngajar paruh waktu di kursusan nggak terkenal dengan honor 700-an ribu selama tahun pertama. Di tahun ke-3 honorku naik sejutaan.

Meski honorku di atas upah minimum Sidoarjo kala itu, tetap aja jauuuh dari harapan sarjana lulusan perguruan tinggi negeri. Ibuku nggak suka. Bagi ibuku lebih baik aku di rumah momong ponakan daripada kerja untuk orang dengan bayaran segitu. Ada hari-hari ibuku nggak bisa nahan marah lihat aku berangkat ngajar, ninggal ibuku sendirian dengan ponakan. Kututup telinga, kerja dengan kesungguhan hati, nunjukkan kemampuan di atas rata-rata. Begitu kursusan itu dapat in-company training pertamanya, aku yang disuruh pegang.

Dari pengalaman itu aku tahu kelas-kelas in-company traininglah yang bisa naikkan honor dan “ngangkat derajat” guru les-lesan. Jadi meski bikin stres karena tingkat kesulitannya tinggi, sejak saat itu nggak pernah nolak tawaran in-company training. Aku nggak peduli dengan bayarannya.

Di in-company training ke-3, demi bisa bikin program bahasa Inggris yang bermutu untuk klien high-profile, aku ambil program kepemimpinan dan komunikasi asal Amerika, Toastmasters, dengan biaya sendiri. Sama, kujalani program self-paced itu dengan sungguh-sungguh. Di situ namaku beredar dari mulut ke mulut sampai suatu hari, persisnya 5 tahun sejak mulai ngajar, lewat sesama Toastmaster, ditawari kerjaan interpreter dengan honor 700 ribu sehari selama 7 hari. Almarhum bapakku yang selalu khawatir akan masa depan non-PNS anaknya mbrebes mili dengar aku dibayar segitu. Di titik itu ibuku mulai merasa bangga. Aku ingat ibuku suatu hari bilang, “Kalau kita punya keahlian, uang datang sendiri ya, Kak.”

Iya, nggak semua yang terjadi dalam hidup kita akan mengantar kita ke tempat yang lebih tinggi, ke keadaan yang lebih baik, tapi secara umum itulah yang berlaku atas keputusan dan pilihan besar-kecil yang kita buat dengan kesungguhan hati (memberikan yang terbaik apapun keadaannya) dan kesadaran penuh (kita yang bertanggung-jawab atas hidup kita sendiri). Bedanya kentara sekali dengan cara berpikir impulsif (nuruti dorongan sesaat yang perginya secepat datangnya) dan cara berpikir acak-semburat (melakukan segala sesuatu tanpa niatan dan tujuan yang jelas).

Kerangka Pikir#4: Mengumpulkan

Ada orang-orang yang posisinya sangat lemah. Untuk berpikir seperti yang kugambarkan di atas mereka bukannya nggak mau. Memang nggak bisa. Kita juga harus mengakui ada situasi-situasi yang sangat pelik. Keluar dari pernikahan yang abusive –baik yang melibatkan kekerasan verbal, fisik, seksual maupun finansial– mensyaratkan pertolongan dan perlindungan pihak luar. Kita nggak boleh nyuruh seorang perempuan keluar dari situasi itu –dengan ataupun tanpa cerai– bermodal kekuatannya sendiri. Yang nyuruh longor.

Kalau kita kesampingkan situasi-situasi serupa itu lalu menghadapkan wajah ke situasi sulit yang lebih lazim kita temui dalam kehidupan sehari-harinya orang kebanyakan, kelihatan bahwa pada umumnya orang merasa tidak berdaya bukan karena mereka sungguhan tidak berdaya tapi karena mereka, satu, takut. Takut disalahkan, takut dicela, takut diremehkan, takut dijauhi, takut nggak dianggap, takut dimarahi, takut turun derajat, takut kehilangan dan 1017 macam takut lain. Dua, menafsirkan merubah keadaan sebagai membalik keadaan lewat satu tindakan thil. Dalam keuangan nggak ada perubahan yang terjadinya dalam sekali tepuk seperti makeover ala beauty blogger.

99%-nya melibatkan perubahan di sekian orang, dalam sekian hal, selama satu kurun waktu yang pastinya bukan hitungan bulan apalagi hari.

Tapi oke, baiklah, anggap aja untuk keluar dari keuangan sempit kita butuh satu tindakan dari satu orang sementara kita sendiri nggak punya daya, apa yang bisa kita lakukan?

Mulailah kumpul-kumpul di dalam situasi sulit tadi. Kita tidak berusaha merubah apapun. Kita hanya mengumpulkan. Kuncinya ada di apa yang kita kumpulkan.

Setelah ibuku meninggal (kuputuskan melepas kelas privatku yang sisa 2-3 karena ibuku bolak-balik masuk RS), nggak punya kekuatan untuk kembali ngajar. Selain mentalku ambruk, juga karena suamiku membuatnya menjadi sangat sulit.

Kekuatan mental yang nyaris di titik nadir bikin aku nggak bisa lihat pilihan selain kembali ngajar seperti masih gadis demi menghasilkan 2-4 jutaan sebulan demi keluar dari keuangan rumah tangga yang makin hari sempitnya makin menjadi. Di kepalaku waktu itu kalau sempit ya harus nambah uang masuk. Nggak ada jalan lain.

Cuma, beda dengan kebanyakan perempuan dalam situasi yang sama, aku nggak menghabiskan waktu menyesali takdir berjodoh dengan suami. Ada orang-orang yang “nampung” keluh-kesahku tapi tolong bedakan dengan curhat kesana-kemari khususnya di ruang publik seperti medsos dan status WA. Blast nggak kepikiran minta bantuan orang merubah suami. Juga nggak memaksakan diri terima pesanan jajanan atau jadi reseller baju muslim yang jelas-jelas aku nggak bisa.

Jangan salah, bukannya aku menghabiskan waktu belajar masak, berkebun dan membaca buku. Aku nangis tiap hari. Tiap hari. Berbulan. Ada hari-hari nggak kuat bangun dari tempat tidur. Ada hari-hari yang dari bangun tidur sampai tidur lagi kerjaku cuma nyusur newsfeednya Facebook. Di satu titik suami yang nggak nyadar istrinya depresi nanya, “Sampeyan kepingin kerja lagi tha?” Pertanyaan yang nggak kujawab karena butuh lebih dari sekedar ijinnya untuk bisa menghasilkan uang dari ngajar lepas. Dia harus ngatasi insecurities-nya dan aku tahu dia nggak akan bisa.

Kalau masa 2 tahun setelah ibuku meninggal dilihat secara keseluruhan, kalau dirata-rata, selama 15-30 menit sehari aku nyeret jiwa-raga:

  1. Nyortir dan nata barang-barang bekas tinggalan orang tua dan lungsuran saudara
  2. Bikin bungkus dari barang sampah
  3. Berusaha menjual barang yang nggak kupakai (saking banyaknya barang) secara langsung ke teman dan saudara lalu lewat Facebook yang kemudian kupindah ke Instagram dan Shopee

Nggak ada yang kulakukan dengan riang gembira. Itu tadi: nyeret jiwa raga. Kalau dilihat hari per harinya, apa yang kulakukan nggak ngefek. Uang yang kudapat dari garage sale selama masa itu juga nggak ngasih dampak apa-apa. Habis nggak tahu buat apa. Tapi nyeret jiwa raga seperti itu tetap lebih baik daripada doing random things to escape atau berandai-andai. Karena setelah dua tahun, mau nggak mau aku jadi punya kemampuan khusus dengan barang bekas dan barang sampah kan. Ya kemampuan memanfaatkannya, ya kemampuan menguangkannya.

Di masa dua tahun berikutnya baru terasa pertolongannya. Dengan kemampuan itu bisa bikin rumahku layak sewa tanpa beli-beli perabotan, nurunkan tingkat belanja baju sampai nyaris nol dan dapat uang yang cukup buat makanku seminggu dari barang bekas acak. Kemampuan ini ditambah kemampuan budgeting dan kemampuan ngatur lalu-lintas uang yang baru kupelajari sejak hidup di Pacet lah yang pada akhirnya mengeluarkanku dari keuangan sempit.

Studi Kasus: Lia

Kasus seseorang bernama Lia ini kudapat dari @parentalk.id di Instagram. Nggak sengaja. Aku nggak ngikuti akun itu. Seorang follower nyebut namaku di kolom komentar.

Keuangan sempitnya seperti apa nggak kurinci di sini. Langsung aja ke bagaimana menerapkan kerangka pikir di atas dalam kasusnya Lia.

Di kepala Lia, masalah selesai dengan satu kali tepuk: suaminya giat mencari nafkah yang dalam hal ini ngojek online. Karena dalam kepala Lia itulah satu-satunya solusi, ikhtiarnya memperbaiki keadaan selama ini mutar di “menyadarkan” suami dengan berbagai cara:

  • tidak menuntut suami mencari pekerjaan tetap
  • menghabiskan penghasilannya sendiri untuk kebutuhan rumah tangga
  • berusaha bersyukur dengan uang makan 25 ribu per hari yang dikasih suami
  • membangunkan dan mengingatkan suami untuk berangkat ngojol
  • menutupi “cacat kepemimpinan” sang suami dari mertua
  • menangis di hadapan suami mengharapkan dia berubah karena kasihan
  • bersabar menghadapi bentakan suami yang nggak terima diingatkan istrinya soal kewajibannya sebagai kepala rumah tangga

Akan tetapi:

Kalau mikirnya pakai Kerangka Menghormati Batasan, kita harus mencoret solusi “menyadarkan” suami. Rasa tanggung-jawab suaminya yang minus itu ada di luar kendalinya Lia. Juga di luar kendali orang tuanya. Jadi jangan itu yang diutak-atik. Coret saran ngadu ke mertua. Seperti yang kubilang di atas, mengutak-atik yang adanya di luar kendali kita sama aja dengan minta putus asa.

Lalu ada keyakinan yang sangat menggangguku yang umum kulihat di perempuan:

Keyakinan bahwa kita bisa merubah seseorang dengan terus-menerus berkorban. Kita kumpulkan seolah nabung, nanti kalau sudah dapat banyak kita “setor” ke mukanya si orang yang ingin kita sadarkan tadi. Kalau dia nggak berubah juga berarti dia yang kebangetan dan itu jadi surat ijin kita untuk meninggalkan atau mengabaikannya.

Toxic.

Secara biologis perempuan disiapkan untuk berkorban demi orang-orang yang dicintainya. Tapi berpikir bisa “memahat” karakter orang-orang yang kita cintai dengan Tabungan Pengorbanan bikin perhitungan kita mbleset semua. Cuma bikin jarak antara harapan dan kenyataan makin lebar. Kalau berkorban ya berkorban aja. Nggak usah ikut ngatur imbalan kita harus dari siapa, dalam bentuk apa, kapan “cairnya”. Serahkan itu ke Allah.

Dalam kesulitan apapun, aku akan selalu mulai dengan Kerangka Pikir#1. Kalau kita ngelihat situasi ini dari apa yang bisa dilakukan si Lia untuk memperbaiki keadaan bermodalkan diri dan kekuatannya sendiri, dia harus memutuskan apa yang akan dia garap dulu:

Keuangan rumah tangga yang masih harus dibantu mertua sampai tahun ke-6 pernikahan.

Atau:

Perkawinan yang menyiksa batin akibat suami yang “cacat kepemimpinan”.

Masing-masing butuh proses yang berbeda. Terlalu melelahkan kalau digarap bersamaan. Dua proses itu bisa saling mendukung tapi tetap masing-masing. One does not fix the other. Baiknya sih keuangan rumah tangga yang digarap dulu karena keuangan yang sempit bikin semua masalah lain terasa berlipat-lipat beratnya.

Sejujurnya, dalam pembacaanku, kalau mertua nggak mempertanyakan kenapa mereka masih harus dibantu untuk beli susu, kurasa si Lia nggak sangat seterbebani seperti sekarang. Jadi kalau dia bisa nyukupi kebutuhan susu anaknya dari penghasilannya sendiri, itu sudah bisa ngangkat separuh beban berat di pundaknya walaupun nggak akan menyelesaikan masalah perkawinannya. But it’s a start.

Dalam posisinya aku akan berhenti “ngoleksi” pengorbanan dan mulai:

  • hidup dengan anggaran
  • mempertimbangkan ganti merk susu
  • mencari kontrakan yang lebih murah begitu yang sekarang habis masa kontraknya
  • berterus-terang ke ibu sendiri tentang ikhtiarku untuk berhenti minta uang susu dari mertua, lihat reaksinya, kalau positif uang bulanan untuk ibu kukurangi atau kuhentikan sementara
  • memastikan uang 25 ribu per hari dari suami cukup untuk belanja lauk-pauk 1-2 hari
  • mencari pekerjaan lain yang gajinya lebih tinggi atau mencari kesempatan dipromosikan di tempat kerja yang sekarang
  • kalau penampilanku menarik, gabung Oriflame untuk jualan kosmetika ke teman-saudara-tetangga atau jadi reseller baju atau tas

Satu-satu aja. Cari yang paling dekat, yang paling gampang. Baca lagi Kerangka Pikir#3 dan 4.

Terakhir, dalam posisi Lia aku nggak akan membagi masalahku dengan akun berfollower ratusan ribu yang kemudian menjadikannya postingan untuk dikomentari ratusan sembarang orang yang nggak tahu rasanya ada dalam posisiku. Orang yang serius berusaha memecahkan masalahnya tidak akan melakukan itu. Maafkan aku, di mataku Lia tidak sedang berikhtiar. Dia minta orang banyak memvalidasi niatannya bercerai.

Kalau serius berikhtiar:

  1. Cari seorang guru dalam hal keuangan atau perkawinan tergantung mana yang ingin digarap dulu. Rendahkan diri, dengarkan kata-kata si guru
  2. Cari barisan mentor; orang-orang yang cara-caranya mengatasi masalah keuangan atau masalah perkawinan mereka sendiri bisa kita tiru. Nggak harus orang yang kita kenal. Seseorang yang sudah mati pun bisa jadi mentor walau yang masih hidup lebih baik
  3. Cari orang-orang yang ujian hidup dan perjuangannya kurang-lebih sama dengan kita

Muliakan dirimu,