Daster Arab: (Bukan) Review Produk

Akhirnya kubeli juga daster Arab yang kusebut di rekomendasiku untuk suvenir 15-25 ribuan.

Rendanya renda murah. Kelihatan. Tapi bener-bener manis di kain berwarna gelap; hitam, biru dongker atau hijau botol.

Tahu daster Arab dari Instagram tapi kuputuskan beli di Shopee meski harga ecernya 30-50 ribuan lebih mahal. Pertama, selisih harganya terlalu jauh. Beli grosir malah lebih nggak masuk akal. Jatuhnya 25 ribu per biji! Kedua, kuhindari transaksi jual-beli online yang hanya melibatkan nomor WhatsApp. Aku harus lihat situs (bukan sekedar landing page) dan akun Instagram yang digarap sungguh-sungguh. Kalau sudah ngiklankan diri padahal postingannya baru hitungan jari, itu jelas nggak niat. Atau postingannya banyak tapi dikebut seminggu. Ketiga, akun berfollower 10 ribu yang angka rata-rata like per posnya kurang dari 50 biasanya followernya dapat beli. Akun bisnis yang beli follower nggak peduli sama reputasi. Kalau tingkahnya dah nggak butuh reputasi gitu, jangan mengharapkan jual-beli yang saling menguntungkan.

Sempat serius mempertimbangkan beli emas lelang Pegadaian lewat akun-akun Instagram. Kan banyak tuh. Kuikuti beberapa. Setelah 1-2 bulan nyimak postingannya baru sadar mereka ini pihak-pihak yang nggak ada hubungannya dengan Pegadaian tapi bawa-bawa diri sebagai akun resmi PT Pegadaian. Hati-hati ajalah bertransaksi online. Di jaman kita ini umat manusia lebih takut mati nggak punya uang daripada mati sangu dosa. Selalu dulukan unit-unit usaha yang tindak-tanduknya terpuji meski harganya lebih mahal. Pembeli yang selalu mencari harga termurah sejatinya rakus.

Mereka juga punya model baby doll tapi aku hanya akan membeli model dress. Kuhindari dress yang “lucu”.

Jujur aja daster Arab kugolongkan sebagai mahal untuk kelas daster. Aku beli dua, dengan ongkir dan ongkos motongnya (kepanjangan), total habis 280 ribu. Yang hitam harusnya kukembalikan. Bagian dadanya nggak simetris. Yang kuning kunyit, ujung lengannya nggak dijahit mati sebelum ditimpa renda. Benangnya semburat tiap kali dicuci. Itu kalau orang Jepang yang kulak’an, yang defect satu, sak container dikembalikan.

Akan tetapi:

Pertama kali pakai, nggak ganti daster sampai tiga hari berturut-turut. Rafi anakku yang umurnya empat tahun nanya, “Mama suka baju itu?”

Bahannya memang lebih tebal dibanding daster Bali dan daster batik Pekalongan meski nggak cukup tebal untuk dipakai di luar rumah tanpa dalaman. Bukan itu yang bikin aku betah berhari-hari dalam daster Arab.

Bahannya istimewa di kulit. Nggak cuma menyerap keringat. Bener-bener nggak berbau meski kupakai sampai tiga hari. Kita memang nggak berkeringat di Pacet. Asal nggak mencangkul sawah aja. Seumur-umur nggak pernah punya daster yang nggak berbau blast paling nggak di bagian punggungku setelah dua hari dipakai terus-terusan. Begitulah, kalau ada baju yang sangat kusuka, nggak ganti sebelum bau.

Bukan itu juga yang bikin aku nerbitkan “review produk” daster Arab. Dia contoh sempurna untuk beberapa prinsip penting akan barang (dan kepemilikan) yang sebetulnya sudah kuanut sejak punya penghasilan sendiri. Hanya saja dulu aku nggak tahu kalau prinsip-prinsipku akan barang (dan kepemilikan) sangat berbeda dengan normalnya orang. Pikirku bedanya cuma soal selera.

Kucari yang nggak sangat ndaster jadi bisa dipakai keluar rumah tapi potongan dan aksennya nggak berlebihan (atau menyulitkan) untuk dipakai masak sambil cuci piring.

Aku biasa dengar pujian untuk barang-barangku. Suatu kali, waktu lagi di perpustakaan kampus, ada mahasiswi junior menghampiri hanya untuk bilang, “Maaf, Mbak, saya perhatikan sepatunya dari tadi. Beli di mana?” Kelihatan sekali dia malu tapi bener-bener nggak tahan nggak nanya. Makin tambah umur, pujian makin sering kudengar dan merambah ke perabotan, pajangan, penampilan Rafi, pecah-belah, tanaman. Nah, si daster Arab ini, tiap kali kupakai keluar rumah (dengan rok panjang), mesti ada yang noleh. Yang kuning kunyit, kalau aku lewat di depannya, suamiku namati sampai lehernya mutar 180 derajat!

Mungkin harus kukasih tahu, barangku sedikit sekali. Yang ngikuti aku di Instagram pasti tahu. 99% barang di rumahku tinggalannya ibu-bapakku, lungsuran saudara atau dikasih. Bajunya Rafi semuanya lungsuran dan dibelikan saudara. Yang beli sendiri tiga potong. Tanaman di rumahku tumbuhnya liar, cuma kupindah ke pot atau kupindah tempat, nggak beli kecuali Bougenville yang sekarang jadi pagar hidup dan Kamboja. Dasterku delapan. Yang beli cuma dua daster Arab itu tadi. Sisanya dikasih.

Sempat mempertimbangkan beli yang ini. Kuurungkan karena mataku protes keras lihat aksen renda putih di bagian kaki itu. It ruins everything.

Kami bisa “berlebih-lebih” dengan penghasilan UMR suamiku dan penghasilanku yang nggak nyampai sejuta per bulan ya karena beli-beli yang hampir nggak pernah. Begitupun, semua yang kusebut tadi bukan halangan untuk memantaskan tampilanku, anakku dan rumahku. Itu yang ingin kubagi di sini. Prinsipku ini nggak hanya berlaku untuk daster tapi bisa diterapkan ke segala macam barang:

Membeli dan menyimpan hanya yang dicinta; yang dicinta hanya yang menambah nilai.

Bagi suamiku yang bagus itu yang bau toko. Ibuku juga gitu. Baju misal, soal pantes dan nggaknya di postur dan warna kulit nggak dihitung. Pokoknya baru. Kepakai nggak kepakai pokoknya baru. Bagi adikku, yang namanya bagus itu nggak cukup hanya baru, harus branded, nggak terjangkau oleh kebanyakan orang. Barang seartistik apapun, kalau nggak ngasih nilai prestis nggak bisa aja kelihatan bagus di matanya. Jangan tanya penilaiannya ke barang bekas. Kulihat ada dua hal yang bikin barang kelihatan bagus di mata WNI, kalau nggak prestisius ya lagi nge-tren.

Prinsip-prinsipku tentang barang menentang semua normal itu. Makin tambah umurku, makin pilih-pilih. Sekarang ini yang kubeli hanya yang –dalam skala 1 sampai 10– kubiji 10. Kalau ada barang yang nilainya kurang dari itu tapi kok ada di rumahku, itu biasanya nggak beli (lungsuran atau dikasih), berfungsi baik dan aku butuh. Dan makin tambah umurku, makin tahu kenapa sebuah barang kubiji 10. Aku dah kenal ciri-cirinya. Nggak mungkin semua kudaftar di sini tapi secara umum:

Satu, ada ketertarikan luar biasa yang nggak bisa kujelaskan mengapanya ke barang-barang berwarna dasar putih, hitam, merah, coklat dan biru dongker. Bukannya nggak suka warna lain. Mataku senang lihat merah muda dan hijau dalam berbagai gradasi tapi berhenti di suka, nggak sampai cinta. Dan yang polosan. Kalau ada barang bermotif yang nangkap mataku, kalau nggak kembang-kembang, garis-garis ya polkadot. Udah, tiga itu thok.

Dua, desainnya klasik, teruji waktu, garis-garisnya sederhana tapi nggak biasa, nggak pasaran. Yang seperti itu kucari di semua barang. Mulai dari bulpen sampai ke mobil. Tapi desainnya harus fungsional. Bentuk dan rupanya dibuat seperti itu demi menunjang fungsi. Aku sebel lihat barang yang didesain semata-mata demi tampil beda, supaya lain daripada yang lain.

Tiga, hatiku lumer lihat barang-barang yang terbuat dari bahan-bahan alami seperti kayu, beling dan serat alam. Aku benci plastik. Bukan karena butuh beratus tahun untuk hancur tapi karena di mataku barang-barang plastik kelihatan jelek aja.

Empat, mata dan kulitku peka sama kualitas. Barang berkualitas tinggi menculek mataku. Dari lubuk hati yang paling dalam sumpah terkesan sama merk kelas dunia seperti Louis Vitton, Porsche, Channel. Kelihatan mereka nggarapnya niat, dipikir sampai ke detil yang nggak kelihatan mata. Sugih sak mblawah gitu barangku branded semua. Cuma mungkin bedanya dengan pemuja brand berkewarganegaraan Indonesia, aku nggak peduli sama nilai prestis barang-barang branded, nggak butuh status sosial yang dipinjamkannya. Bukannya aku nggak butuh status. Minta bala kalau kita cari status sosial dengan barang. Carilah dengan profesi, keahlian dan kontribusi.

Lima, pegambil keputusan tertinggi dalam proses pilih-memilih barang, baik itu milih barang yang akan kubeli atau milih barang lungsuran/dikasih yang akan kusimpan, adalah bisa nggaknya itu barang ngangkat nilaiku. Jadi pada akhirnya yang mutusi bukan perasaan. Kalau baju, bikin aku kelihatan lebih langsing, kulitku lebih bersih, wajahku seolah kecipratan darah Arab. Kalau perabotan, bikin rumahku lebih bagus dalam artian barang-barangnya biasa tapi secara keseluruhan jadinya nggak biasa. Tiap kategori barang punya syaratnya sendiri-sendiri. Buku misalnya, isinya harus bisa kutarik ke kehidupan sehari-hari. Karena itu nggak nyimpan dan beli novel kecuali yang bikin gaya berbahasa Indonesiaku enak didengar. Aku nggak akan beli hanya karena plot dan konfliknya.

Itu lima ciri yang pada gilirannya sangat menguntungkan keuangan. Nggak ada tren, iklan, influencer atau sales yang bisa mempengaruhiku membeli sesuatu. Aku nggak bisa diiming-imingi foto atau promosi diskon 100%+5%. Kalau sebuah barang nggak bisa nangkap mataku secara langsung, nggak ada foto yang bisa bikin dia kelihatan bagus di mataku. Aku bisa lihat barang bagus di antara barang-barang bekas dan barang-barang sampah. Aku tahu apa yang harus kucari dari barang-barang murah supaya murahnya nggak menculek-culek mata. Aku juga bisa dapat barang-barang berkualitas dengan harga terjangkau. Branding itu mahal. Kampanye marketing itu mahal. Unit usaha yang mengandalkan kualitas dalam menjual produknya, tanpa branding, kampanye marketingnya pakai jalan-jalan tikus, selalu bisa ngasih harga jauh lebih murah.

Seiring naiknya penghasilanku, bisa leluasa beli-beli, semoga bisa lebih banyak ngasih contoh brand-brand lokal seperti itu. Sekarang belum bisa karena andalanku masih barang bekas dan barang dikasih. Daster Arab jelas bukan salah satunya. Garapannya pakai prinsip kejar setoran. Dari segi desain juga nggak blast untuk standarku. Dari segitu banyaknya model, yang masuk kualifikasi sederhana-tapi-nggak-biasa cuma 5%-nya. Milih-milihnya bak mencari jarum di tumpukan jerami. Menangnya di warna dan bahan. Daster Arab ngasih lebih banyak pilihan warna polos dibanding daster Bali dan daster batik Pekalongan. Bahannya adem, nyerap keringat (baunya sekalian) dan nggak gampang robek.

Aku bukannya nyuruh pada ganti selera loh ya. Juga bukannya bilang yang suka warna ramai atau yang suka bahan bermotif atau yang suka barang plastik nggak bisa berhemat di urusan beli-beli barang. Atau nggak bisa memantaskan diri. Atau nggak bisa bikin barang-barangnya kelihatan bagus.

Tolong.

Ada orang-orang yang bisa bikin warna ramai, bahan bermotif dan barang plastik enak dilihat. Mereka dan aku punya persamaan penting. Mereka bener-bener cinta ke barang-barang mereka. Sama seperti aku cinta ke barang-barang pilihanku. Lalu cintanya ini datangnya dari dalam. Bawaan lahir. Sama sekali bukan karena faktor-faktor luar seperti ngikuti tren atau niru idola atau gila brand atau demi puja-pujinya orang.

Pada prinsipnya, kalau kita bisa membatasi diri membeli dan menyimpan hanya yang kita cinta dan bisa mengenali ciri-ciri barang yang dapat cinta kita, meski yang dicinta ini sangat berbeda denganku, pengaruhnya ke keuangan dan kepantasan/kebagusan menurutku tetap sama.

Jadi silakan dicoba. Kabari aku hasilnya.